19. Set Your Mind on the Right Things

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Filipi (19)
Tema: Set Your Mind on the Right Things
Nats: Filipi 4:4-9

Kita percaya bahwa firman Tuhan yang kita baca dan kita dengar setiap minggu dalam ibadah adalah firman yang hidup dan firman yang membekali setiap kita serta menuntun perjalanan hidup kita masing-masing. Di tengah begitu banyak tantangan dan kesulitan serta pergumulan yang kita alami, kiranya firman Tuhan senantiasa menjadi kekuatan bagi setiap kita. Surat Filipi adalah rangkaian firman Tuhan yang begitu indah yang diberikan oleh rasul Paulus kepada jemat Filipi, bukan sekedar kata-kata yang tidak mempunyai makna; bukan sekedar kata-kata penghiburan yang keluar dari mulut seseorang yang pada dirinya sendiri tidak pernah mengalami apa yang namanya kelaparan, apa yang namanya aniaya, apa yang namanya kesulitan, apa yang namanya kehilangan segala sesuatu di dalam hidup ini. Kalimat ini disampaikan bukan dari orang yang sehat kepada orang yang sakit yang dibesuknya. Tetapi kalimat ini justru disampaikan oleh seseorang yang berada di dalam penjara kepada orang bebas yang ada di luar penjara. Kalimat-kalimat ini disampaikan oleh seorang yang sedang menanti vonis, yang kita tahu dia tidak lagi mempunyai kesempatan keluar dari penjara itu. Demikian kita mengerti betapa indah kalimat-kalimat yang keluar dari rasul Paulus ini.

Wajar di tengah menjalani hidup yang kitahu apa yang akan terjadi di depan, itu bisa menimbulkan hati yang gelisah dan takut. Namun hal itulah yang begitu gampang menghilangkan sukacita di dalam hidup kita, yang begitu gampang membuat kita kehilangan damai sejahtera dalam hati kita. Kuatir akan menyebabkan kita tidak memiliki kemungkinan dan kesempatan untuk boleh melihat kesulitan orang lain. Kita pasti lebih gampang dan lebih mudah melihat problem dan kesulitan kita sendiri. Kita lebih ingin segera orang itu menolong dan membantu kita bagaimana menyelesaikan dan menghilangkan perasaan kuatir dan takut kita itu.

Kalau boleh kita akui dengan jujur rasa kuatir itu seperti lubang yang tidak ada dasarnya. Kita akan mengalami kekecewaan yang sangat jika kita hanya bersandar kepada uang, kepada kekayaan, kepada kemampuan hidup kita untuk menutupi rasa kuatir yang tidak habis-habisnya itu. Dan juga kita tidak mungkin bisa mendapatkan kekuatan dan pertolongan yang selama-lamanya dari orang lain. Maka di tengah-tengah situasi kondisi seperti itu, rasul Paulus mengajak kita melihat ke atas, membawa itu semua di dalam doa kepada Tuhan. Doa menjadi sarana yang Tuhan berikan bagi kita sama-sama, di dalam rumah yang mewah maupun di rumah yang sederhana, di pembaringan kita di rumah maupun di ranjang rumah sakit, Tuhan memberi kita semua akses dan availability Allah melalui doa-doa kita kepadaNya. Doa bukanlah berkaitan dengan soal berapa panjang atau berapa pendek; doa bukanlah berkaitan dengan soal apa yang kita doakan berapa penting atau berapa sepelenya persoalan yang kita alami. Doa itu adalah bicara soal berapa percayanya kita akan kuasa doa dan berapa trust kita kepada Tuhan. Di situlah kita tahu Allah kita bukan Allah yang pasif, Ia adalah Allah yang aktif. Allah kita adalah Allah yang care, Ia berjalan mendahului solusi yang mungkin kita pikirkan ke depan. Itulah yang membuat hati kita bisa tenang dan lepas dari kekuatiran.

Pada waktu ada kesedihan dan kedukaan yang melanda di tengah jemaat di Tesalonika, rasul Paulus memberikan nasehat ini, “Janganlah berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan…” (1 Tesalonika 4:13). Sebagai orang Kristen bukan berarti kita tidak boleh bersedih pada waktu orang yang kita kasihi meninggal dunia, tetapi dukacita kita tidak boleh sampai seperti orang yang tidak beriman yang tidak mempunyai pengharapan. Banyak hal dalam hidup kita itu datang dan pergi silih berganti, tidak pernah menetap dengan permanen karena kita hidup di dalam dunia memang “dalam perjalanan.” Tetapi pada waktu di dalam perjalanan kita sehat dan lancar, lalu kita mengalami sakit selama satu bulan, sakit yang satu bulan itu tidak boleh memupus habis segala kebaikan dan keindahan yang harus kita “cherish” dari apa yang Tuhan beri kepada kita selama puluhan tahun yang penuh dengan kebaikan. Itulah sebabnya kalau kita terus kuatir, berarti semua hal negatif, semua problema itu terus ada di dalam pikiranmu. Kita tidak punya kekuatan untuk terus menahan semua itu, oleh sebab itu bawalah semuanya kepada Tuhan. Serahkanlah kepadaNya. Hari itu juga kita percaya bahwa memang persoalan itu mungkin tidak hilang dalam hidup kita tetapi kita tahu kita sudah serahkan kepada Tuhan lalu hal yang paling penting, sekarang isi pikiran kita itu dengan segala hal yang indah dan positif ini. Di situlah segala sukacita dan damai sejahtera Allah berlimpah memenuhi hati kita. Sukacita itu datang sebab Allah aktif bekerja. Tetapi sukacita itu juga terjadi sebab kita juga berespons dengan menaruh banyak hal dalam pikiran kita.

Tetapi pada saat yang sama, firman Tuhan ini menuntut kita jangan menjadi orang yang pasif.
Paulus berkata, “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang, Tuhan sudah dekat” (Filipi 4:5). Apa yang menjadi dasar panggilan Paulus untuk kita menyatakan kebaikan hati kita diketahui semua orang? Dasarnya adalah “Tuhan sudah dekat.” Saya berbuat baik bukan supaya orang itu membalas berbuat baik kepada saya. Saya berbuat baik bukan supaya dipuji orang. Saya menyatakan kebaikan hatiku kepada semua orang karena Tuhan sudah dekat. Dengan selalu ingat Tuhan akan datang setiap saat, kita senantiasa sadar bahwa yang kita kerjakan dan lakukan di dunia ini di hadapan Allah adalah sesuatu yang tidak terhilang dan dilupakan begitu saja.

Betapa sayang, banyak orang Kristen yang mempunyai kekeliruan memahami konsep kedatangan Tuhan Yesus dan mengkaitkannya dengan hal-hal yang sensasional. Baru-baru ini peristiwa “bulan merah” dikaitkan dengan nubuat Yoel 2:28-32 “bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan…” Pertanyaan saya, kalau memang peristiwa ini adalah penggenapan dari Yoel 2, lalu apa implikasinya? Dalam Kisah Rasul 2, Petrus di dalam kepenuhan Roh Kudus sudah mengatakan peristiwa Pentakosta merupakan penggenapan dari Yoel 2 itu. Kita tidak bisa lepas dari kesimpang-siuran yang beredar lewat media sosial mengenai hal-hal seperti ini. Tetapi saya memanggil engkau agar tidak ikut-ikutan mudah menerima apa saja yang dikirimkan kepadamu, apalagi ikut mengedarkannya kepada orang-orang lain. Ada baiknya sebelum menyebarkan hal-hal seperti itu kita menahan diri, jangan terlalu cepat “copas” tanpa kita berpikir baik-baik apakah isi berita atau gambar itu hanya “photoshop” belaka. Hal-hal seperti itu tidak akan me-reinforced kepastian Tuhan Yesus memang akan datang kembali untuk kedua kali. Kita percaya dan yakin Tuhan memang akan datang kembali. Pengalaman hidup kita tidaklah lebih membenarkan kebenaran firman Tuhan. Dan hal-hal yang tidak kita alami di dalam hidup kita pun tidak menjadi hal-hal yang mengecilkan kebenaran dari janji firman Tuhan. Itu hal yang harus kita pegang. Firman Tuhan itu “ya dan amin,” terjadi dan dilaksanakan tidak berkaitan dan tidak bergantung dengan apa yang terjadi dengan hidup kita. Terjadi dan dilaksanakan bergantung kepada kehendak, kedaulatan dan janji Tuhan ya dan pasti adanya.

“Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang, Tuhan sudah dekat.” Dalam keadaan kuatir, jangan simpan itu bagi dirimu sendiri. Dalam kesulitan, jangan sampai itu membuat hidup kita tidak menjadi berkat bagi orang lain. Apa yang akan kita lakukan hari ini kalau besok Tuhan Yesus datang kembali? Mungkin kita akan bergegas memberi tahu orang-orang yang kita kenal yang masih belum percaya Tuhan untuk bertobat dan memanggil nama Tuhan Yesus. Mungkin kita akan memakai waktu yang ada hari ini untuk memeriksa diri apakah kita siap bertemu Tuhan? Paulus ingin mengajak kita untuk tidak boleh kendor, kita tidak bisa kehilangan passion dan fokus akan hal itu. Itulah artinya hidup yang berbijaksana kalau kita tahu Yesus akan segera datang. Kebaikan hati kita harus diketahui oleh semua orang, harus dialami oleh semua orang, harus dinikmati oleh semua orang. Tetapi tujuan daripada semua itu bukan supaya orang memuji kita, juga bukan supaya kita mendapatkan balasan dari orang. Walaupun keuntungannya dirasakan oleh orang itu, selalu ujungnya adalah Tuhan dimuliakan, nama Tuhan diagungkan oleh setiap kita. Mereka yang melakukan sesuatu demi dipuji oleh orang, kata Tuhan Yesus, dia sudah mendapat upahnya dari situ. Tetapi kalau engkau melakukan itu untuk Bapa yang di surga, Ia akan mengingat dan membalasnya satu kali kelak. Dengan sikap seperti itu kita tidak akan kecewa ketika kita tidak mendapatkan balasan dari manusia, dan ketika kebaikan kita tidak mendapat pujian dan penghargaan dari orang. Dan dengan demikian kita tidak kehilangan kekuatan belajar di tengah semua kesulitan kita untuk senantiasa menyatakan kebaikan hati kita kepada orang lain.
Kata “kebaikan hatimu” yang dalam bahasa Yunani adalah “epieikeia” dalam beberapa versi bahasa Inggris diterjemahkan dengan kata “gentleness” (NIV), “moderation” (KJV), “patience” (Wycliffe), “softness” (Tyndale), “the patient mind” (the Geneva Bible), bahkan ada terjemahan yang mengatakan “magnanimity.” Dari situ kita bisa melihat kata yang Paulus pakai di sini memiliki arti yang luas dan dalam. Kata “moderation” menunjukkan aspek keadilan, berarti waktu kita melakukan sesuatu, kita melakukannya dengan adil. Sedangkan kata “gentleness” dan kebaikan hati lebih bicara kepada hasil akhirnya itu pleasing bagi orang lain. Paulus sedang mengajar kita bagaimana memberi bukan saja dengan limpah, tetapi senantiasa memberi dengan “thoughtful” untuk orang lain.

Kita harus akui paling susah untuk memberi kado yang “thoughtful” bagi seseorang, bukan? Kita ada hati ingin memberi sesuatu kepada orang, tetapi sangat sulit memilih sesuatu yang benar-benar kita tahu apa yang betul-betul berkesan baginya. Dan kita tahu, pemberian yang thoughtful bukan soal kado yang mahal. Betapa bahagia hati kita kalau mendapat sesuatu yang seperti itu, yang mungkin pernah kita mengobrol sepintas saja tetapi orang itu ingat. Kita sangat kepingin akan sesuatu lalu tahu-tahu orang itu memberikannya kepadamu. Mari kita kembangkan hati yang belajar memberi, belajar memperhatikan orang lain di sekitar kita. Namun lebih daripada itu kita juga harus menambahkan kualitas yang mendalam dari kata “kebaikan hati” itu.

William Barclay memberikan tafsiran untuk kata ini dimana unsur keadilan dari kebaikan hati menjadi bagian yang penting dengan ilustrasi ini: di satu kelas ada dua orang murid menghadapi ujian yang sangat penting. Dua murid ini belajar dengan sangat giat mempersiapkan diri, dari 10 soal yang diberikan, murid yang satu berhasil menjawab dengan sempurna semuanya sehingga guru memberinya nilai 100. Namun murid yang satu lagi hanya bisa menjawab 5 dari 10 soal yang ada, karena dia tidak bisa berkonsentrasi saat menjalani ujian itu. Sepanjang malam sebelumnya dia berjaga di pembaringan ibunya yang masuk rumah sakit sehingga pagi hari itu dia tidak bisa maksimal menghadapi ujiannya. Berapa nilai yang guru berikan bagi dia? Kalau patokannya pokoknya apa yang ada di atas kertas, berdasarkan berapa soal yang dijawab dengan benar, nilainya hanya 50 dan berarti dia gagal ujian. Tetapi kalau nilai itu diberikan berdasarkan “the best effort” yang murid yang satu mempersiapkan dengan baik dan akhirnya lulus, sedangkan anak yang satu yang juga mempersiapkan dengan baik tetapi akhirnya pas pada hari itu terjadi hal seperti itu, apakah guru perlu mempertimbangkan untuk memberinya kesempatan untuk mengulang ujian untuk “the best effort” dia? Jadi walaupun salah 5 soal, tidak serta-merta itu membuatnya tidak lulus. Kira-kira itu ilustrasi yang dipakai untuk membantu kita mengerti apa arti kata “epieikeia” yaitu saya mengasihi, mencintai dan menyatakan kebaikan hati kita kepada orang lain walaupun dalam situasi kita itu dalam keadaan yang kurang condusive. Kita berbuat baik bukan karena kita berkelebihan; kita berbuat baik bukan karena kita mau dipuji orang. Sesuatu kekuatan yang penting adalah karena kita punya Tuhan yang hidup adanya.

Sekarang, langkah selanjutnya apa yang perlu dan harus kita isi di dalam pikirankita? Paulus mengatakan “semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu…” (Filipi 4:8). Memang hal-hal yang Paulus sebutkan di sini juga ada di dalam etika dan budaya Yunani dan saya percaya itu juga menjadi sesuatu yang ada di dalam budaya hidup kita masing-masing. Namun kita dipanggil hidup sebagai orang Kristen tidak boleh kurang daripada bijaksana yang ada di tengah masyarakat kita. Walaupun kita mengalami kesulitan, walaupun kita hanya minoritas, walaupun kita sedang mengalami tekanan menjadi orang Kristen, walaupun kita menghadapi prejudice dan ketidak-sukaan orang kepada kita, kita tidak boleh memiliki hidup etika dan moral yang kurang daripada masyarakat di sekitar kita.

Penuhilah hati kita hari ini dengan pikiran yang indah, itu panggilan Paulus. Dengan kalimat ini kita harus tahu banyak hal yang terjadi dalam hidup kita tidak lain dan tidak bukan semua keluar dari dalam, dari hati dan pikiran kita. Yesus sendiri berkata, “Semua yang keluar dari mulut orang meluap dari hatinya” (Lukas 6:45). Dan jikalau container hati kita penuh dengan enam hal yang indah ini, kata Paulus, yang keluar dan memancar dari hidup kita pastilah hal-hal yang indah dan memuliakan Tuhan. Pertama, “semua yang benar,” hal-hal yang baik, hal-hal yang otentik dan konkrit. Di dunia ini banyak hal yang deceptive dan illusory, tetapi kita tidak boleh terbawa melakukan sesuatu yang menipu dan ilusi belaka. Artinya jangan kita hanya sekedar janji di mulut saja tanpa menyatakan itu dalam bentuk yang konkrit dalam kelakuan. Maka hal yang otentik, hal yang sungguh-sungguh konkrit kita kerjakan bagi orang lain. Kedua, kata “honourable,“ respek, hormat, selalu melihat hal yang indah dan mulia dan yang kita hargai pada diri orang. Demikian juga di dunia ini terlalu banyak hal-hal yang tidak sopan, hal-hal yang murahan, dan hati kita jangan sampai tertarik kepada semua itu. Bawa hati kita memikirkan hal-hal yang mulia, hal-hal yang dalam dan bemartabat. Ketiga, kata “adil” berarti kita mengerti dan mengetahui apa yang menjadi kewajiban kita kepada Tuhan, kewajiban kita kepada sesama dengan mempertimbangkan banyak aspek dan kita memperlakukan dan memberi dengan seadil-adilnya. Keempat, kata “pure” hal kemurnian dalam aspek moral dan seksual. Bersih dari kekotoran. Ini semua harus penuh dalam pikiran kita. Terlalu gampang kita bisa terseret dan terbawa kepada hal-hal yang memuaskan nafsu, kesenangan dan jalan yang mudah. Kelima, kata “semua yang manis” atau lovely, ini bukan bicara soal makanan tetapi soal ucapan atau kata-kata. Pikiran orang Kristen sepatutnya dipenuhi oleh hal-hal yang indah, kebaikan, bersimpati dan memikirkan kebaikan orang. “Semua yang sedap didengar” adalah kata-kata yang membangun dan menguatkan orang, bukan kritikan yang tajam menusuk, pahit, penuh kebencian dan merusak. Bukan kata-kata yang mencemooh dan yang negatif mencari-cari kesalahan orang. Yang terakhir, segala hal yang “noble” atau yang berharga atau virtue. Dalam ibadah saat kita menghadap Tuhan, apa yang menjadi sikap dan kata-kata yang sepantasnya kita nyatakan kepada Tuhan, itu juga yang sama harus kita lakukan dan katakan di luar. Sebelum mengeluarkan kata-kata kepada orang lain, mari kita pikirkan apakah kata-kata yang sama itu sepantasnya kita ucapkan di hadapan Tuhan? Pantas atau tidak? Bernilai atau tidak? Baik atau tidak? Jadikan pikiran kita penuh dengan segala keindahan seperti ini, hari demi hari, maka itulah yang menjadikan orang memiliki semua itu menyatakan keindahan itu keluar dari hidupnya.

“Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar, dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu” (Filipi 4:9). Paulus memanggil setiap kita biar apa yang kita kerjakan menjadi contoh teladan yang dilihat orang lain. Itu terjadi dalam hidupnya. Bukan Paulus membangga-banggakan dirinya sendiri pada waktu dia berkata dia memiliki pikiran Kristus, tetapi dia menyatakan itu untuk membuat dirinya boleh menjadi contoh teladan. Saya harap setiap kita juga memiliki keinginan yang sama. Jadilah contoh teladan bagi keluarga, bagi orang yang ada di sekitar kita.

Terakhir, “Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu…” Allah sumber dari shalom itu. Sekarang kita ketemu orang boleh dikatakan kita terbiasa menyapa dengan kata “shalom” menjadi satu frase orang Kristen yang indah. Peace, damai sejahtera. Shalom bukan sesuatu yang pasif, shalom adalah sesuatu yang aktif. Pada waktu kita datang, pada waktu kita bersalaman dengan orang, kita membawa segala kebaikan kepada orang ini. Kenapa? Paling tidak pada waktu kita membaca dalam bagian ini, kita melihat semua sentralitasnya kepada Allah.
Kenapa kita harus berbuat baik kepada semua orang dan kebaikan hati kita dikenal semua orang? Sebab Allah kita adalah Allah yang kaya dengan rahmat, kasih dan damai sejahtera kepada kita semua. Biar firman Tuhan ini meneduhkan hati kita. Paulus seolah-olah ingin mengakhiri surat ini sampai di sini, karena dia mengatakan “Finally…” (ayat 8) dengan membawa dan mengajak kita untuk membawa segala sesuatu dalam hidup kita berakhir dengan satu “shalom” dari Tuhan.

Bersyukur kepada Tuhan yang baik, di tengah hati kita yang mengalami kesedihan, ketakutan dan kekuatiran, kita memikirkan banyak hal yang tidak sepatutnya kita pikirkan, hal-hal yang selalu mendatangkan ketakutan dan ketidak-damaian. Kita selalu cenderung melihat hal-hal yang tidak baik, mencoba mempertanyakan mengapa hal-hal yang tidak menyenangkan terjadi dalam hidup kita, dan menjadikan semua yang tidak baik itu menekan hati kita. Sehingga kita lupa untuk selalu memikirkan dalam sepanjang hidup kita akan semua hal yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, semua yang sepatutnya kita pikirkan dan lakukan dalam hidup kita. Kiranya Tuhan memenuhi pikiran kita dengan firmanNya pada hari ini.(kz)