Bercermin Sebuah Introspeksi Diri

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Bercermin sebuah Introspeksi Diri
Nats: Efesus 6:10-20

Hari ini saya mengajak kita bagaimana melihat hidup kita dengan cermin yang merefleksikan siapa diri kita sebagai orang percaya. Yakobus berkata, “Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, dia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja dia memandang dirinya, dia sudah pegi atau dia segera lupa bagaimana rupanya” (Yakobus 1:23-24). Fiman Tuhan adalah satu-satunya cermin yang begitu jujur memberikan pantulan refleksi siapa diri kita yang sesungguhnya. Namun selain itu ada cermin-cermin lain yang menjadi pantulan dari pihak orang-orang di luar, yang dengan tulus dan jujur memberitahukan bagaimana wajah kita. Mungkin pandangan yang diberikan oleh orang itu sedikit menyakitkan hati kita, sebab dia bisa memberitahukan ada kerut-merut, ada kotoran dan coreng-moreng di muka kita tetapi itu perlu bagi kita. Sebagai anak-anak Tuhan, kita perlu tahu bagaimana orang luar melihat gereja, bagaimana tetangga kita melihat hidup kita sebagai orang Kristen, meskipun tidak selalu pandangan mereka objektif dan benar, meskipun pandangan mereka terlalu kritis dan menyakitkan, tetapi biar itu menjadi cermin yang kita perlu untuk mawas diri dan mengoreksi diri kita.

1 Korintus 12:12-27 berbicara mengenai apakah itu gereja dalam terang Perjanjian Baru. Jelas sekali di situ Paulus berbicara gereja itu lebih daripada sebuah gedung atau bangunan fisik, tetapi kita, orang-orang percaya adalah bait-bait Allah. Gereja bukanlah gedungnya, bukan suatu benda mati, tetapi hidup setiap orang percaya adalah gereja, karena Roh Allah tinggal di dalam kita. Kita telah ditebus dan dibayar dengan darah yang mahal yaitu oleh darah Yesus Kristus (1 Korintus 6:19-20). Dalam 1 Korintus 12 itu Paulus tidak berbicara gereja hanya bersifat singular, satu, masing-masing individu, tetapi bicara mengenai kita, engkau dan saya sebagai satu gereja dengan banyak anggota, dan itu adalah tubuh Kristus. Dengan menyatakan itu sebagai satu tubuh, berarti tidak ada satu orang pun yang bisa mendominasi semua. Dengan menyatakan itu sebagai satu tubuh, berarti semua kita dipanggil untuk berbagian di dalamnya. Itu hal yang sangat penting sekali di tengah begitu banyak orang Kristen yang kebablasan mengkultuskan satu orang, satu tokoh, seolah-olah tanpa orang itu gereja tidak jalan. Firman Tuhan mengatakan setiap orang percaya, meskipun dia hanya menjadi satu anggota tubuh yang paling kecil dan sederhana, tetap dia merupakan satu bagian yang perannya tidak akan pernah boleh diremehkan dan diabaikan dari mekanisme yang teratur dan indah dari sebuah tubuh yang sehat. Anggota tubuh yang terkecil sekalipun, masing-masing ada fungsinya, masing-masing ada perannya dan masing-masing tidak boleh menghina atau minder satu kepada yang lain. Meskipun tiap-tiap anggota tubuh mempunyai keterbatasan dan limitasi, tetapi masing-masing kita saling membutuhkan dan saling memerlukan satu dengan yang lain. Dan pada waktu ada anggota tubuh yang merasa malu dan merasa kurang bersumbangsih, dia harus di-encouraged untuk melihat hidupnya bisa berguna dan lebih efektif ketimbang mundur dan mengambil sikap pasif.

Gereja Filipi di tengah kesulitan, tantangan dan kemiskinan, ikut memikirkan pelayanan rasul Paulus, menyisihkan sebagian dari uang yang mereka miliki untuk menunjang dan mendukung kebutuhan hidup Paulus, bukan saja pada waktu Paulus ada di tengah-tengah mereka, tetapi pada waktu Paulus melanjutkan perjalanan misi ke kota-kota lain, tetap mereka mengirim orang untuk membawakan uang dan barang-barang yang Paulus perlukan, dan itu bukan hal yang gampang dan mudah di dalam konteks pada masa itu. Gereja Efesus juga memberikan dukungan dari aspek yang berbeda daripada gereja Filipi, yaitu dengan senantiasa berdoa untuk Paulus (Efesus 6:19).

Tidak ada gereja dan tidak ada seorang pun yang boleh melihat pelayanan itu semata-mata hanya dari faktor eksternal: berapa kuat finansial keuangan kita, berapa banyak jemaat kita, berapa megah gedung gereja kita, berapa banyak program dan aktifitas kita, berapa teraturnya organisasi gereja kita, berapa banyak resources yang kita miliki. Semua itu harus ditaruh menjadi hal-hal yang sekunder dan tidak boleh menjadi hal yang paling utama. Kalau kita menaruh semua aspek-aspek eksternal itu menjadi hal-hal yang paling utama, kita akan bergeser dari fokus panggilan Tuhan kepada kita sebagai gereja Tuhan, kita akan “miss out our war.” Kita bukan perusahaan. Perusahaan akan memfokuskan visinya untuk menjadi besar kalau dia punya modal lebih banyak; perusahaan akan memfokuskan visinya untuk menjadi besar kalau dia punya karyawan lebih banyak; perusahaan akan memfokuskan visinya untuk menjadi besar kalau dia bisa ekspansi lebih banyak; kita bisa melihat hal-hal seperti itu dalam menjalankan perusahaan. Tetapi di dalam menjalankan pelayanan dan pekerjaan Tuhan tidak boleh kita lihat aspek-aspek itu sebagai faktornya. Dalam Efesus 6:18 Paulus berkata, “Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tidak putus-putusnya untuk segala orang kudus…” Mengapa Paulus mengatakan itu titiknya dari doa dan lutut kita? Sebab peperangan itu adalah peperangan yang bukan melawan darah dan daging. Setiap pelayanan ministry apa pun yang kita kerjakan adalah pelayanan yang bersifat peperangan rohani. Jikalau itu adalah suatu peperangan rohani, maka kita harus tahu siapa musuh kita, dan kita harus tahu bahwa musuh kita itu tidak akan pernah tinggal diam. Musuh kita adalah Setan itu sendiri, yang tidak akan pernah tinggal diam dan akan selalu aktif berjuang menghancurkan kita. Paulus memanggil setiap orang percaya untuk mengenakan seluruh senjata Allah karena peperangan kita adalah suatu peperangan yang bersifat rohani. Sebagai gereja, kita perlu memperlengkapi diri, mengenakan semua senjata Allah dengan lengkap. Jangan sampai ada bagian-bagian yang terekspose dan terbuka untuk bisa diserang dari luar. Kalau ada yang seperti itu, kita tidak bisa efektif dan produktif; kita tidak akan bisa menang dalam peperangan itu; kita tidak akan bisa melakukan perjuangan kita dengan baik. Hal ini penting sekali kita sadari.

Itulah sebabnya hari ini kita perlu merenungkan delapan pertanyaan yang tough, keras dan kritis, tetapi itu semua adalah pertanyaan-pertanyaan yang penting karena pertanyaan-pertanyaan itu pasti akan menyehatkan gereja kita. Pertanyaan-pertanyaan yang penting karena pertanyaan-pertanyaan itu akan membuat kita melapisi, membentengi, menguatkan bagian-bagian dari hidup kita yang masih perlu kita kuatkan dan benahi satu persatu sebelum kita menghadapi peperangan itu. Pertanyaan-pertanyaan yang penting karena pertanyaan-pertanyaan itu menjadi suatu diagnosa yang jujur untuk dari situ kita memperbaiki dan menata diri.

“The Unchurched Next-door” ditulis oleh Thom Rainer, satu buku standar yang sangat baik oleh karena buku ini ditulis berdasarkan hasil riset dari tim dia yang turun ke jalan berjumpa muka dengan muka dengan orang-orang yang belum pernah menginjakkan kaki di gereja, bukan hanya ditulis di belakang meja. Buku ini memiliki satu kerinduan bagaimana gereja dan anak-anak Tuhan boleh menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi orang-orang yang belum percaya Tuhan yang ada di dekatnya. Sebagai sebuah gereja lokal dan sebagai orang percaya, sebagai umat Allah mari kita memikirkan hal itu.

Pertama, bagaimana dengan kehidupan doamu? Pertanyaan ini mengingatkan doa sebagai suatu sentralitas yang tidak boleh bergeser. Mungkin kita tidak punya cukup waktu untuk berdoa sama-sama sebagai sebuah komunitas, tetapi kita tidak boleh mengabaikan sebuah hidup yang berdoa. Pada waktu hidup doa kita itu menjadi indah, itu akan menjadi hal yang indah mengalir kepada orang lain. Peperangan rohani kita tidak akan pernah bisa kita jalankan dengan baik jikalau kita tidak mulai mendisiplin diri dengan hal berdoa ini. Paulus memanggil anak-anak Tuhan untuk berdoa dalam segala doa dan permohonan yang tidak putus-putus dalam segala waktu bagi saudara seiman. Berdoa kepada Tuhan dalam kuasa Roh Kudus bagi pelayanan Injil. Berdoa supaya kiranya hamba Tuhan ini diberi keberanian untuk memberitakan Injil sebagaimana seharusnya (Efesus 6:18-20).

Thom Rainer berkata, “We cannot expect to reach our unchurched friends and family members if we are not men and women of prayer.” Tidak ada pelayanan yang kita kerjakan dan lakukan bisa berhasil kalau kita tidak berangkat dengan satu konsep ini adalah sebuah peperangan rohani. Peperangan rohani itu hanya bisa dilakukan dengan senjata rohani, dan satu-satunya senjata yang penting dan kita perlukan terlebih dahulu membekali hidup kita adalah berdoa. “Tuhan, aku tidak kuat dan tidak sanggup. Aku membutuhkan Engkau di dalam hal ini, beri aku kekuatan.” Karena doa itulah satu moment dimana kita bertemu Tuhan dan berdiri di hadapanNya dan doa menjadi pintu paling awal dalam hidup kita. “Tuhan, ijinkan hari ini saya bertemu seseorang dan berkesempatan untuk menyatakan kasih Kristus kepadanya.” Kesempatan belum ada, waktu belum bisa, tetapi dengan berdoa seperti ini kita menyisihkan ruang hati kita dan mulut bibir kita bagi orang lain. Kedua, adakah engkau menceritakan tentang Yesus kepada seseorang hari ini? Pertanyaan ini muncul oleh sebab kita lihat dari sisi orang non Kristen melihat kita, orang Kristen. Kita tidak boleh lupa, dulu kita adalah orang-orang yang terhilang, dulu kita mungkin orang yang sinis terhadap Kekristenan, dulu kita mungkin juga adalah orang yang menentang Injil, dulu kita mungkin juga adalah orang yang menentang Yesus Kristus, dulu kita adalah orang yang tidak ke gereja, dulu kita mungkin juga adalah orang yang tidak menganggap keselamatan di dalam Kristus itu sebagai sesuatu yang kita hargai. Kita dulu seperti itu sampai Tuhan datang merubah hati kita. Tuhan memanggil kita untuk memperkenalkan Kristus kepada orang yang belum percaya. Alkitab berkata, ada yang Tuhan pakai menanam, ada yang Tuhan pakai untuk menyiram, ada yang Tuhan pakai untuk menabur, ada yang Tuhan pakai untuk menuai. Itu semua menjadi mata rantai yang sambung-menyambung. Jangan ada yang boleh bilang rantai yang terakhir lebih penting daripada rantai yang pertama. Tetapi rantai itu tidak boleh tidak ada karena saling terkait satu dengan yang lain. Yang berhak mendapatkan kredit, pujian dan syukur adalah Allah Roh Kudus yang bekerja merubah hatinya di belakang semua proses itu.

Seorang hamba Tuhan bernama Kel Richards mengatakan sangat disayangkan, rata-rata setelah seseorang menjadi percaya Tuhan, dalam dua tahun saja dia sudah memutuskan hubungan dengan teman-teman yang tidak percaya Tuhan dan hanya mau berteman dengan orang-orang gereja saja. Akhirnya orang Kristen rata-rata hidupnya menjadi eksklusif. Kita tidak boleh mempunyai sikap seperti itu, karena siapa lagi yang bisa menjadi orang yang dia trust yang bisa memberikan satu perspektif lain pada waktu orang itu sakit dan tidak mempunyai pengharapan, kalau bukan kita yang memperkenalkan Yesus Kristus kepada orang itu? Dan kita juga tidak boleh berteman hanya karena supaya orang itu terima Injil dan kalau dia tidak mau, lalu kita menjauhi dia. Seringkali kita memberi alasan, saya tidak mau dianggap orang fanatik, saya tidak mau offend dengan orang itu, saya takut ditolak, orang itu tidak tertarik bicara soal Tuhan dan agama. Itu semua alasan-alasan yang membuat kita tidak pernah memperkenalkan Yesus Kristus kepada seseorang selama hidup kita.

Ketiga, bagaimana dengan kehidupan keluargamu? Waktu keluarga orang Kristen kacau-balau, hal itu akan merusak citra dan kesaksiannya terhadap orang yang belum percaya. Orang luar akan menyaksikan dan melihat bagaimana hidup keluarga dan rumah tangga kita, bagaimana perlakuan kita kepada isteri, suami dan anak-anak kita. Jadikanlah hidup rumah tanggamu indah dan baik sehingga orang luar melihat. Strategi Setan yang paling efektif adalah mengacau-balaukan hidup rumah tangga orang Kristen dan hamba-hamba Tuhan, yang mungkin menggunakan kesibukan pelayanan yang akhirnya justru membuat rumahnya terbengkalai, relasi dengan isteri dan anak-anak menjadi dingin, dan tidak heran justru anak-anak pendeta dan majelis banyak yang menjadi orang-orang yang paling benci Kekristenan karena orang tuanya telah melupakan aspek kehidupan keluarga.

Keempat, apakah anda perlu berdamai dengan seseorang dalam keluargamu atau gerejamu di sini? Yesus mengatakan, ibadah yang sejati bukan hanya dalam aspek menjalankan aturan-aturan ibadah dan pelayanan, tetapi Tuhan sangat mementingkan aspek relasi ini. “Pada waktu engkau hendak memberikan persembahan di mezbah dan engkau teringat kepada saudaramu, tinggalkan persembahanmu dan berdamailah dengan dia…” (Matius 5:23-24). Sebagai bagian dari gereja Tuhan kita tidak boleh menyimpan kemarahan, kepahitan dan sungut-sungut satu sama lain. Gereja ini harus bersatu, gereja ini harus cinta satu sama lain, karena orang luar akan melihat bagaimana relasi hidup dalam rumah Tuhan. Ada kesulitan, ada kesalah-pahaman, ada miskomunikasi, semua itu adalah hal yang wajar dan bisa terjadi karena tidak ada orang yang sempurna di dunia ini. Tetapi kita tidak boleh simpan dan terus-menerus mengatakan, membicarakan, atau menjelek-jelekkan saudara seiman. Dengan demikian berarti kita tidak mempunyai hati yang bersifat rekonsiliasi dan mencintai mengasihi orang itu, padahal kita sudah lebih dulu dicintai dan dikasihi oleh Kristus Tuhan kita. Kita mungkin merasa kurang diperhatikan orang, mari melalui doa kita pada hari ini kita mulai membalikkan posisi melihat mungkin orang itu yang memerlukan perhatianmu. Orang lain akan melihat cinta kasih kita, perhatian kita satu sama lain menjadi suatu daya tarik bagi orang-orang itu.

Kelima, apakah engkau menangani keuangan dan hartamu dengan prinsip Alkitab? Bolehkah orang Kristen berhutang? Boleh, asal hutang itu dibayar, itu prinsipnya. Bagi orang non-Kristen melihat cara orang Kristen menangani keuangan dan bisnisnya sebagai suatu skandal yang berat luar biasa. Alkitab berbicara soal di dalam semua itu kita melakukannya dengan tanggung jawab dan kejujuran. Status hidup kita tidak ditentukan oleh harta yang kita miliki, orang tidak perlu menghina diri kalau dia tidak punya banyak harta dan tinggal di rumah yang sederhana. Tetapi orang akan menghina kita jika kita menumpukkan kekayaan dengan cara menipu, memperalat dan memakai segala cara memakan keuntungan dengan cara-cara yang tidak benar adanya. Sebaliknya orang akan hormat dan respek kalau di dalam kesederhanaan dan kekurangan kita masih mau berbagi dengan orang yang kurang daripada kita, itu menjadi sesuatu hal yang indah. Apakah kita orang yang murah hati, yang memberi dengan sukacita? Apakah kita meletakkan Allah menjadi prioritas yang lebih penting di atas daripada hal-hal materi yang kita miliki?
Keenam, adakah engkau berkomitmen kepada gerejamu? Gereja lokal adalah gereja yang penting karena mengingatkan kita adalah manusia yang terbatas. Benar, Tuhan kita itu tidak terbatas adanya, Tuhan boleh pakai gereja mana saja. Tuhan kita itu ajaib, Tuhan tetap bekerja dan berkarya di dalam gereja sepanjang jaman. Kita terbatas oleh ruang dan lokasi, kita hanya bisa ada di satu tempat dan hanya bisa menjadi berkat di dalam sebuah gereja lokal. Tetapi tidak berarti kita hanya memikirkan gereja kita dan tidak memikirkan gereja-gereja yang lain; tetapi sebaliknya tidak berarti kita tidak pkir bagaimana berbagian dalam hidup gereja lokal kita sama-sama.

Thom Rainer melihat satu hal yang menyedihkan begitu banyak orang Kristen yang mempunyai hati seperti consumer terhadap gereja. Ada bedanya antara “ministry” dan “service.” Service itu soal “take and give,” how well you serve me, I am a happy customer. Apakah kebutuhanku di gereja ini terpenuhi atau tidak? Kalau itu yang menjadi mentalitas seseorang terhadap gereja seperti mendatangi sebuah restoran, atau klub, atau barbershop, saya merasa kebutuhanku tidak terpenuhi, jam kebaktian tidak cocok, tempatnya jauh, gereja ini tidak punya program yang memenuhi kebutuhanku, “so, good bye.” Kalau kita memiliki hati yang mau melayani satu dengan yang lain, satu sikap hati yang rela berkorban, bagaimana kita keluar dari hati yang self-centered dan mulai melihat kepada kebutuhan orang lain dan berbagian dalam pelayanan itu, hati kita bersyukur, hati kita sudah penuh di hadapan Tuhan dan kita memakai tempat dimana kita bertemu dengan saudara-saudara seiman kita sebagai saluran berkat memenuhi kebutuhannya. Betapa indahnya jikalau hal itu menjadi mentalitas setiap kita di dalam hidup gereja kita.

Ketujuh, apakah engkau mengasihi orang lain tanpa pamrih? Banyak orang yang dulunya sangat menentang Kekristenan, dari tidak suka, dari jengkel, akhirnya percaya Tuhan karena ada orang-orang Kristen yang terus mengasihi orang itu dan “never give up.” Dari situ dia tahu orang ini mengasihi dia demi Tuhan dan tidak demi kepentingan dirinya. Mungkin engkau besuk temanmu, dia marah. Datangi lagi, perhatikan dan doakan dia, dst. Itulah yang dikatakan orang-orang ini, saya jadi percaya Tuhan karena ada orang ini yang sungguh mengasihi saya tanpa pamrih.
Terakhir, apakah engkau memiliki jiwa yang penuh dengan syukur dan menghargai? Itu yang dilihat orang yang tidak percaya dari gereja dan dari hidup kita. Tidak ada di antara kita yang hidup tidak punya kesulitan, tetapi mulai hari ini mari kita belajar untuk tidak melulu menyatakan kesulitanmu saat berbicara dengan orang lain. Dengan bersyukur, tidak berarti susahnya jadi hilang; dengan bersyukur, tidak berarti orang akhirnya menjadi baik kepadamu, tetapi di situ ucapan kita yang penuh syukur di tengah kesulitan itu bisa menghasilkan efek yang berbeda dari orang yang mendengarnya. Kita tidak tunggu sampai hidup kita penuh berkat dan lancar baru kita bisa menjadi berkat dan kesaksian bagi orang lain, lalu orang bisa percaya Tuhan. Sekalipun hidup kita susah, berat dan sulit, kita menyatakan kalimat-kalimat yang penuh dengan gratitude karena itu bisa menjadi bekas yang mendalam di hati orang yang mendengarnya. Kiranya kita boleh memikirkan dan mengolah semua yang kita dengar hari ini dengan baik dan memikirkan pertanyaan-pertanyaan penting yang patut kita tanyakan kepada hidup kita masing-masing.(kz)