01. Akulah Roti Hidup

15/5/2011

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Seri Eksposisi Perkataan “Ego Eimi” (1)

Nats: Yohanes 6:25-36, 60-66, Yesaya 55:1-13

 

Ada tujuh pernyataan yang penting mengenai siapa diriNya keluar dari mulut Tuhan Yesus yang dicatat oleh Injil Yohanes.

  1. “Akulah Roti Hidup” I am the Bread of Life (Yohanes 6:48)
  2. “Akulah Terang Dunia” I am the Light of the World (Yohanes 9:5)
  3. “Akulah Pintu” I am the Door for the Sheep (Yohanes 10:9)
  4. “Akulah Gembala yang Baik” I am the Good Shepherd (Yohanes 10:11)
  5. “Akulah Kebangkitan dan Hidup” I am the Resurrection of Life (Yohanes 11:25)
  6. “Akulah Jalan, Kebenaran dan Hidup” I am the Way, the Truth, and the Life (Yohanes 14:6)
  7. “Akulah Pokok Anggur yang Benar” I am the True Vine (Yohanes 15:1)

Dan ada satu perkataan “Akulah” atau yang dalam bahasa Yunani “ego eimi” selipan yang tidak ditambah dengan predikat dalam Yohanes 8:56-59 ketika Yesus berdebat dengan orang-orang Yahudi yang melawan Dia. Yesus dengan tegas berkata, “Sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada,” before Abraham was, I AM (Yohanes 8:58). Pernyataan ini menjadi satu pernyataan yang sangat penting di dalam Kristologi karena ini menjadi bukti bahwa Kristus memiliki kesadaran penuh, Dia tahu diriNya adalah Tuhan yang kekal. Pernyataan Yesus ini menjadi satu kontroversi yang luar biasa yang dianggap sebagai satu “scandalous” oleh orang-orang Yahudi yang mendengarnya saat itu. Mereka sangat marah dan murka karena mereka langsung mengerti apa yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus, maka mereka mengambil batu untuk merajamNya. Kenapa mereka begitu marah? Ada dua alasannya. Pertama, karena di sini Yesus langsung memperbandingkan diriNya dengan Abraham, Bapa leluhur mereka. Bukan saja pada waktu Abraham ada, Yesus ada; tetapi sebelum Abraham ada, Yesus sudah ada dan sesudah Abraham tidak ada, Yesus tetap ada. Itu sebab Yohanes memakai perbedaan tenses di sini, “Before Abraham was, I am.” Orang-orang Yahudi itu mengerti bahwa pada saat itu Yesus menyatakan diri sebagai Allah yang sudah bereksistensi dari dulu, sekarang dan selama-lamanya. Kalimat Yesus dalam Yohanes 8:58 ini mengiangkan kalimat dari Tuhan Allah sendiri dalam Keluaran 3:14, pada waktu Musa bertanya kepadaNya, “Siapakah namaMu?” Tuhan Allah menjawab, “I AM THAT I AM,” yang menyatakan bahwa TUHAN itu adalah Allah yang kekal, yang sudah ada dari dulu, sekarang dan selama-lamanya, Allah yang menciptakan segala sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Orang Yahudi sangat mengerti bahwa kata “I AM” hanya bisa diberikan kepada Tuhan Allah sendiri dan kata itu sekarang dipakai oleh Tuhan Yesus, “Before Abraham was, I AM.” Dengan demikian Yohanes ingin menyatakan satu kebenaran yang penting: Kristus adalah Tuhan dan Dia boleh menjadi jaminan bagi kita dengan pernyataan siapa Dia sesungguhnya. Puji Tuhan!

Apa gunanya engkau menerima satu cek yang kosong dan engkau boleh isi sejumlah berapa saja yang engkau mau, kalau yang memberikan cek itu bukan orang yang memiliki uang yang berkelimpahan? Tidak ada gunanya, bukan? Tetapi jikalau yang memberikannya kepadamu adalah orang yang memang mampu memberikan seberapa banyak engkau menulis angka di cek itu, barulah itu menjadi berguna, karena dia sendiri yang menjaminnya.

C.S. Lewis dalam bukunya “Mere Christianity” mengatakan kalau Yesus mengaku diriNya adalah Tuhan, hanya ada tiga kemungkinan siapa Dia sesungguhnya, kata C.S. Lewis. Yang pertama, mungkin Dia adalah seorang lunatic, seorang yang tidak waras. Hanya orang-orang yang tidak waras mengaku dirinya adalah tuhan dan kita yang mendengarnya hanya senyum-senyum saja. Orang yang gila mengeluarkan kalimat itu tetapi dia tidak sadar bahwa kalimat itu tidak benar adanya. Tetapi aneh sekali, kalau Yesus memang gila, mengapa begitu banyak orang percaya dan mengikuti Dia? Kalau Yesus benar adalah orang gila, maka kita adalah orang gila yang bodoh karena kita percaya pengakuan Dia.

Yang kedua, Dia adalah seorang penipu yang ulung, seorang pembohong. Engkau dan saya akan berkata bahwa ini tidak konsisten dengan seluruh kepribadian Tuhan Yesus, karena dengan kuasa dan mujizat yang dilakukanNya Dia memperlihatkan diriNya bukan seorang pembohong dan penipu.

Maka hanya ada satu pengakuan, jikalau Yesus Kristus menyatakan diriNya adalah Tuhan, maka kita percaya pengakuanNya itu benar adanya. Dia adalah Tuhan, Allah yang berkuasa, yang ada dari kekal hingga kekal. Yesus Kristus bukan seorang yang gila karena begitu banyak orang mengikut Dia, begitu indah khotbah dan perkataanNya, dan tidak gampang untuk menyembunyikan diri jikalau Dia seorang gila, seorang pembohong atau seorang penipu. Seulung-ulungnya seorang penipu, mungkin dia bisa menipu satu dua orang, tetapi tidak mungkin dia bisa menipu orang sebanyak-banyaknya dan selama-lamanya. Sehebat-hebatnya dia menyembunyikan tipuannya, satu kali kelak pasti akan ketahuan.

Yesus Kristus sadar dalam hatinya sedalam-dalamnya pada waktu Ia mengatakan kalimat ini, “Ego eimi, Aku adalah…” Yesus Kristus berkata, “Akulah Roti Hidup. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya” (Yohanes 6:51). Pernyataan ini adalah menjadi satu hal yang paling penting bagi hidup kita, sebab tidak ada yang paling dibutuhkan oleh manusia yaitu roti yang menjadi lambang sesuatu yang memenuhi kebutuhan hidupnya.

Yesaya 55:1-13 merupakan satu bagian retorika yang begitu indah dari Tuhan bertanya kepada umatNya, apa sesungguhnya yang mereka cari  di dalam hidup ini, sekaligus menyadarkan manusia apa yang paling bernilai dan apa yang tidak bernilai di dalam hidup ini. “Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! (ayat 1). Tuhan memanggil umatNya untuk datang kepadaNya, untuk memperoleh satu kekayaan yang sejati dariNya, yang semua itu dapat manusia peroleh tanpa perlu membayar adanya. Tetapi ayat 2 membukakan satu fakta yang ironis, “Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan?” Engkau memakai begitu banyak uang dan resources hanya untuk membeli sesuatu yang tidak pernah mengenyangkan hidupmu? “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepadaNya selama Ia dekat!” (ayat 6). Kalimat ini menjadi panggilan yang indah dan penting sekali, sebab seolah kita bisa mendengar gema panggilan yang sama dari Yesus kepada orang-orang Yahudi yang datang mengikuti Dia. Sangat ironis sekali, tidak semua orang yang datang mengaku percaya kepada satu kepercayaan berarti dia percaya kepada kepercayaan itu dengan sungguh-sungguh. Berapa banyak orang berkata dia percaya kepada satu kepercayaan, dengan tidak pernah memikirkan dengan dalam-dalam apakah yang dia percayai itu sesuatu yang benar adanya? Berapa banyak orang mengaku beragama ini atau itu, hanya karena nenek moyangnya menganut agama itu? Berapa banyak orang tidak pernah mempertanyakan dengan dalam apa sebenarnya yang dia percayai, sebab sejujurnya karena memang banyak orang hanya menerima satu kepercayaan bulat-bulat dan bahkan menjadi seorang pengikut yang fanatik, namun tidak pernah memikirkan benar salahnya kepercayaan itu dan kepercayaan itu tidak pernah menjadi sesuatu yang memenuhi kebutuhan dia? Apa alasan seseorang mengaku percaya kepada Tuhan? Apa yang memotivasi seseorang menyembah Tuhan? Kalau kita menanyakan hal itu sedalam-dalamnya, kita akan menemukan mungkin ada dua kategori negatif di sana. Yang pertama, orang datang mencari Tuhan mungkin atas dasar keingin-tahuan, curiosity. Banyak orang datang ikut Yesus karena ingin tahu. Yang kedua, orang datang mengikuti Tuhan karena Tuhan itu adalah Tuhan yang memenuhi kebutuhan dia. Itu sebab banyak orang ikut Yesus dengan iming-iming Yesus akan memenuhi semua kebutuhannya, bahkan Yesus  akan berikan apa saja yang dia minta. Kalimat Tuhan Yesus sangat menyengat hati kepada orang-orang yang datang, “Sesungguhnya kamu mencari Aku bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang” (Yohanes 6:26). Engkau datang mencari Aku bukan karena percaya Aku sudah melakukan tanda yang ajaib dari Allah, engkau datang mencari Aku karena kamu telah makan roti dan karena roti itu saja. Kalimat ini langsung memisahkan sedalam-dalamnya motivasi orang mencari Tuhan. Karena memang mereka tidak pernah belajar memikirkan lebih dalam makna dari peristiwa mujizat yang Tuhan Yesus lakukan memberi makan 5000 orang yang terjadi sebelumnya (Yohanes 6 :1-13). Kalimat Tuhan Yesus itu begitu penting untuk mengingatkan kita, Yesus melakukan mujizat memiliki tujuan yang lebih penting daripada sekedar mujizat itu saja. Kalau memang yang penting adalah mujizatnya, lalu melalui mujizat yang ‘wah’ supaya orang banyak percaya Tuhan, saya mau bertanya, mana sebenarnya mujizat yang lebih ‘wah,’ yang bisa membuat orang lebih banyak datang kepada Tuhan, manna turun dari langit ataukah Yesus memecahkan roti lalu jadi banyak? Itulah yang Yesus diskusikan dengan orang-orang ini. Mereka berkata, “Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, roti dari surga…” (Yohanes 6 :31). Kalimat itu menjadi satu kalimat yang sangat menarik, dan dari kalimat itu Yesus tahu memang mereka tidak percaya kepada Dia. Dari kalimat itu memperlihatkan mereka tidak melihat mujizat Yesus ini merupakan satu tanda yang penting luar biasa. Dan dari situ Yesus tahu mereka datang mencari Dia sampai kemana-mana tidak lain tidak bukan sebenarnya mereka mau memperalat Yesus supaya kebutuhan fisik mereka bisa dipenuhi.

Kita memang manusia yang dicipta Tuhan begitu unik dan berbeda dengan ciptaan yang lain. Manusia yang dicipta Tuhan memiliki satu keinginan menyimpan untuk kebutuhan ke depan. Dan di sinilah sisi keinginan pemenuhan kebutuhan dan sekuritas bagi kenyamanan ke depan menjadi sesuatu yang memotivasi manusia menjadi satu kerakusan.

Kesulitan ekonomi yang ada sekarang ini memperlihatkan betapa orang yang kaya terus menjadi makin kaya dan membuat orang yang berada di bawah garis kemiskinan menjadi makin miskin dan susah. Itu sebab persoalan ekonomi dunia tidak akan selesai jika kita tidak menyelesaikan sifat kerakusan hati itu. Socrates bilang cinta uang adalah penyebab peperangan. Robert Kiyosaki mengatakan akar segala kejahatan adalah kurang uang. Tetapi Alkitab mengatakan bukan kurang uang melainkan cinta akan uang adalah akar dari segala kejahatan (1 Timotius 6:10). Ini menjadi satu panggilan yang perlu kita ingat baik-baik sebagai orang Kristen. Kita mungkin tidak sanggup bisa merubah dunia ini menjadi lebih indah dan lebih baik dengan kekuatan kita sendiri. Kita perlu melatih diri dan belajar menyadari dan mengetahui dengan sungguh-sungguh bahwa sikap kerakusan dan ketamakan manusia untuk mendapatkan sesuatu lebih dan lebih lagi adalah hal yang tidak pernah membahagiakan manusia, dan itu pasti akan menghancurkan hidupnya, dan cepat atau lambat akan merusak kehidupan orang lain. Sikap kerakusan dan cinta akan uang bagaikan lubang yang tidak ada dasarnya, berapa banyak engkau berusaha memenuhinya, itu tidak akan pernah mendatangkan kepuasan bagimu.

Tetapi berapa banyak orang justru memperalat Tuhan demi hal ini, bukan? Itulah yang ingin dibongkar dan diterobos oleh Tuhan Yesus dengan kalimat yang begitu penting, “I am the Bread of Life.” Datang kepadaKu, bukan untuk mencari pemenuhan kebutuhan fisikmu. Datang kepadaKu, engkau akan mendapatkan makanan yang tidak akan pernah membuat engkau menjadi lapar lagi. Kalau engkau datang mencari Tuhan hanya untuk supaya engkau dipuaskan dan segala kebutuhan hidupmu Dia penuhi, itu adalah hal yang tidak benar. Engkau sudah memperalat Tuhan menjadi berhala di dalam hidupmu. Sama seperti orang-orang Yahudi yang datang mencari Yesus supaya perutnya dikenyangkan oleh roti. Yesus melihat motivasi itu dan Yesus bilang, “Engkau datang mencari Aku hanya untuk itu.”

Apa yang kita perlu, apa yang kita mau di dalam dunia ini adalah sesuatu yang tidak akan pernah memuaskan kita. Sebaliknya, apa yang Tuhan kasih adalah sesuatu yang pasti akan memuaskan kita. Tuhan kita bukan Tuhan yang tidak mengetahui kebutuhan fisik kita, tetapi saya rindu untuk memberikan satu keseimbangan yang penting supaya kita jangan sampai jatuh kepada sisi yang lain. Filipi 4:19 menjadi janji Tuhan yang kita pegang baik-baik, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus.” Bukan Dia tidak bisa, bukan Dia tidak sanggup, bukan Dia tidak mampu memberimu apa yang engkau butuhkan. Dia bisa, Dia sanggup, Dia mampu, sebab Dia adalah Allah yang penuh dengan kekayaan. Tetapi kalimat ini penting karena Paulus mengatakan Dia sanggup memenuhi segala keperluanmu, bukan segala keinginanmu. Itu dua hal yang berbeda. Saya ingin ini, saya ingin itu. Tuhan bilang belum tentu yang kamu ingin adalah hal yang penting dan kamu harus ingat baik-baik di dalam keinginan, keinginan itu akan membawa kita menuju kepada satu keinginan yang tidak akan pernah ada batasannya di dalam hidup kita. Tuhan tidak akan pernah mau diperalat menjadi Tuhan yang terus memenuhi keinginan orang. Tuhan tidak ingin diperalat menjadi Tuhan yang membereskan semua persoalan hidup kita. Tuhan tidak ingin diperalat menjadi Tuhan supaya apa yang kita rasa perlu di dalam dunia ini Tuhan beri kepada kita. Tidak berarti Tuhan tidak tahu apa yang kita perlu dan kita mau, tetapi Tuhan mau membuat dan membawa kita lebih tinggi dan lebih dalam lagi untuk mengerti manusia hidup bukan dari roti saja. Kebutuhan yang kita perlu selama hidup kita bukanlah hanya semata-mata soal makan dan minum saja, sebab roti yang kamu makan sebentar akan membuatmu lapar lagi. Itu sebab kita terus beli dan beli roti lagi. Roti yang kita beli adalah roti yang hanya bisa memenuhi kepuasan hidupmu yang sementara, tetapi hidupmu tidak dibatasi sampai di situ. Yesus memanggil kita untuk datang kepadaNya sebab Dia adalah Roti Hidup, barangsiapa yang datang dan percaya kepadaNya ia akan kenyang dan tidak akan mati untuk selama-lamanya. Ia memberikan jawaban bagi kebutuhan manusia.

Manusia membutuhkan sesuatu yang lebih penting daripada sekedar kebutuhan fisik makan, minum, sehat, kaya, lancar di dalam dunia. Manusia perlu satu kepuasan yang lebih dalam yaitu kepuasan atas kehausan dahaga dari hidup rohani yang tidak akan pernah bisa dipuaskan dengan berapa banyaknya uang yang kita miliki di dalam dunia ini, yang tidak akan pernah bisa dipuaskan dengan berapa banyaknya kekayaan yang kita dapat dari apa yang ada di atas muka bumi ini. Itulah sebabnya Kristus mulai dengan kalimat ini, “Akulah Roti Hidup.”

Reinhold Niebuhr waktu merenungkan bagian ini mengeluarkan satu kalimat yang menyentuh hati. Dia seorang teolog yang baik walaupun banyak hal saya tidak setuju dengan apa yang dia ajarkan, tetapi kalimat ini menjadi refleksi dia yang begitu indah, “Too many people do unlimited devotions to achieve limited values.” Betapa banyak orang melakukan pengejaran yang tidak ada habis-habisnya terhadap nilai-nilai hidup yang terbatas. Begitu malam kita tidur sudah begitu cape, ada telpon berdering, “Datang jam enam pagi ini ya, ada kangtao 1 juta dollar menunggu.” Akhirnya kita tidak bisa tidur lagi semalam-malaman. Terlalu banyak orang do unlimited devotions kepada limited values. Tetapi lebih ironis, terlalu banyak orang Kristen melakukan limited devotions kepada unlimited values dari Tuhan.

Sulit bagi kita untuk belajar mendefinisikan apa itu cukup kalau hanya berdasarkan apa yang kita butuh. Dan kita pasti akan debat tidak habis-habisnya, sebab apa yang kita rasa cukup sesuai kebutuhan kita belum tentu cukup di dalam sudut pandang orang lain. Kita perlu memahami kata “cukup” dari mengerti perbedaan mana yang bernilai kekal, yang tidak mungkin akan hilang dari dunia dari tanganku, itu yang aku kejar. Mana yang tidak bernilai, yang sementara dan yang terbatas, aku rela hal itu lepas dari tanganku. Banyak orang berpikir uang dan kekayaan itu merupakan hal yang paling penting di dalam dunia ini. Setelah kita kejar sampai di situ barulah kita sadar dia tidak akan pernah akan menjadi yang terutama dan yang memuaskan hidup kita.

Itu sebabnya Tuhan menanyakan pertanyaan yang ironi ini, “Kenapa engkau membelanjakan semua hartamu untuk sesuatu yang tidak akan pernah memuaskan hidupmu?” Kalimat itu begitu menusuk hati sanubari sedalam-dalamnya. Mengapa engkau mengeluarkan begitu banyak harta membeli sesuatu yang tidak akan pernah memuaskan hidupmu? Hari ini biar kalimat Tuhan Yesus ini mengundang kita kembali menyadarkan kita apa yang menjadi prioritas hidup kita, apa yang menjadi kebutuhan hidup kita. Tuhan kita bukan Tuhan yang tidak tahu kita butuh apa-apa. Tuhan hanya ingin mengingatkan kita kebutuhan kita bukan melulu yang fisik ini, kita juga punya kebutuhan rohani. Jangan hanya cari Tuhan hanya untuk memenuhi kebutuhan fisik ini. Jangan hanya mengejar dan percaya Tuhan hanya untuk motivasi apa saja yang engkau mau Dia penuhi dan berikan. Cari, kejar dan dapatkan Tuhan yang bukan saja sanggup di dalam kekayaanNya memberi apa yang engkau perlukan, tetapi juga adalah Allah Tuhan yang sanggup berkata, “Akulah Roti Hidup. Datang kepadaKu, maka engkau tidak akan lapar selama-lamanya.”

Apakah engkau lapar secara rohani pada hari ini? Apa yang membuat rohani kita lapar? Jawabannya singkat dan sederhana, selama kita mengisi hidup rohani kita dengan sesuatu yang tidak akan pernah memuaskannya, dia akan terus lapar dan dahaga. Kita pikir keamanan keselamatan hidup kita, kekayaaan sukacita, rumah yang besar, itulah yang bisa mengenyangkan rohani kita? Bukan. Pada hari ini Yesus berkata, “Akulah Roti Hidup. Datang kepadaKu, engkau baru akan mendapatkan kekenyangan yang sungguh bagi rohanimu dan tidak akan pernah lapar lagi.”

Kita bersyukur Kristus Tuhan adalah Allah yang tidak pernah berubah, dahulu, sekarang dan selama-lamanya. Itu sebab kita boleh percaya dan bersandar kepada apa yang Dia janjikan dan beri kepada kita adalah sesuatu yang tidak pernah berubah dan kekal selamanya. Tuhan mengisi hidup rohani kita dengan Roti Hidup yang sejati. Hanya Tuhanlah yang sanggup mengisi hidup kita dan tidak ada yang lain yang sanggup mengenyangkan hidup kita. Biar kita mengaku dan minta pengampunannya kalau terlalu banyak waktu, terlalu banyak energi di dalam hidup kita kita habiskan hanya untuk mencari apa yang kita mau dan perlukan untuk mengejar sesuatu yang terbatas adanya. Biar kita datang mengejar nilai-nilai yang tidak terbatas dari Tuhan dan hidup kita dipuaskanNya.(kz)