07. Akulah Pokok Anggur yang Benar

26/6/2011

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Seri Eksposisi Perkataan “Ego Eimi” (7)

Nats: Yohanes 15:1-8

 

“Akulah pokok anggur yang benar dan BapaKulah pengusahanya. Setiap ranting yang tidak berbuah dipotongnya dan setiap ranting yang berbuah dibersihkanNya supaya ia lebih banyak berbuah” (Yohanes 15:1-2).

“Sebab kebun anggur Tuhan Semesta Alam ialah kaum Israel dan kaum Yehuda. DinantiNya keadilan tetapi hanya ada kelaliman; dinantiNya kebenaran tetapi hanya ada keonaran” (Yesaya 5:7).

Yesaya 5 merupakan sebuah syair yag mengungkapkan kekecewaan dan kemarahan Allah terhadap bangsa Israel yang Ia gambarkan sebagai kebun anggurNya. Kebun anggur yang disayangi, kebun anggur yang dipelihara, kebun anggur yang boleh menjadi berkat puji-pujian bagi bangsa yang lain. Dan dengan dijaga, dipelihara, dilindungi, supaya Tuhan ingin melaluinya ada kebenaran, namun yang dijumpaiNya bukan kebenaran melainkan keonaran. Tuhan mau dari kebun anggurNya ada hal yang adil, namun yang muncul adalah kelaliman. Itu menjadi latar belakang yang kontras untuk kita mengerti makna Yesus Kristus mengatakan, “Akulah Pokok Anggur yang benar” itu. Yesus tidak hanya mengatakan “Aku adalah Pokok Anggur,” tetapi Ia mengatakan “Akulah Pokok Anggur yang sejati, Pokok Anggur yang benar adanya.”

Banyak janji yang Tuhan berikan bagi bangsa Israel di dalam Perjanjian Lama. Banyak hal-hal yang Tuhan mau berikan kepada umat Tuhan ini. Tuhan Allah salah satunya menjanjikan umat Tuhan yang seperti pasir di laut dan bintang di langit banyaknya sebagai keturunan Abraham. Tetapi di dalam sepanjang perjalanan sejarah sampai kepada jaman Tuhan Yesus, bahkan sampai sekarang ini engkau dan saya mungkin akan bertanya, bagaimana mungkin bangsa Israel yang menjadi keturunan Abraham mempunyai jumlah seperti pasir di laut dan bintang di langit? Secara darah dan daging jumlah mereka saat ini tidak banyak, bukan? Sehingga kita mungkin bertanya apakah janji Tuhan ini bisa digenapi? Betulkah umat Tuhan akan begitu indah dan banyak adanya? Orang Yahudi memiliki satu kesalahan pengertian melihat janji ini. Di dalam perjalanan sejarah Tuhan memilih mereka sebagai kebun anggur Tuhan, menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain tetapi akhirnya mereka tidak menjadi berkat, malah menjadi eksklusif, sehingga mereka pikir karena mereka mendapatkan hukum Taurat maka mereka adalah umat Tuhan dan sebagai umat Tuhan mereka menganggap rendah bangsa lain sebagai bukan umat Tuhan, dsb. Konsep ini sudah dikoreksi oleh rasul Paulus, namun betapa sulit luar biasa untuk mereka pahami dan mengerti. Dalam Roma 4 Paulus mengatakan, Abraham dibenarkan sebelum disunat dan sebelum mendapat hukum Taurat. Sesudah ia dibenarkan, barulah sunat dilakukan sebagai bukti pembenaran; sesudah dipilih Tuhan menjadi umat barulah hukum Taurat diberi. Prinsip ini tidak boleh dibalik: Orang Israel mendapat hukum Taurat itulah sebabnya mereka disebut umat Tuhan, itu keliru.

Dalam Galatia 3:14 Paulus berkata, “…di dalam Yesus Kristus berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.” Ayat ini berarti: Kristus menggenapi janji Tuhan kepada Abraham. Yang kedua, di dalam janji itu kita menerima Roh yang dijanjikan. Untuk memahami konsep ini, mari kita tarik ke belakang dulu, melihat kepada janji-janji yang diberikan Tuhan kepada Abraham. Ada tiga janji Tuhan kepada Abraham. Pertama, Tuhan berjanji akan memberikan Abraham keturunan sebanyak bintang di langit dan pasir di tepi laut. Yang kedua, seluruh negeri yang Abraham lihat dari timur ke barat, utara dan selatan, semuanya akan diberikan Tuhan kepadanya dan keturunannya. Yang ketiga, oleh Abraham bangsa-bangsa lain akan memperoleh berkat. Allah yang berjanji tidak akan mungkin bersalah. Allah yang berjanji pasti akan menggenapkan janjiNya. Sekarang menjadi unik luar biasa, janji ini nampaknya bersifat “fisik”: tanah, keturunan darah dan daging. Tetapi di dalam Galatia 3:14 Paulus memberikan pernyataan dari aspek yang berbeda, Yesus Kristus menggenapi janji Tuhan bagi Abraham dan barangsiapa menerima janji itu, ia akan menerima Roh yang dijanjikan itu. Bukankah Tuhan tidak berjanji memberikan Roh? Berarti sekarang kita harus mendapatkan satu pengertian yang penting. Pertama, melalui Kristus janji Tuhan kepada Abraham ini digenapi dan janji ini digenapi melalui datangnya Roh Kudus. Kedua, berarti sekarang janji mengenai keturunannya pasti tidak bersifat fisik keturunan darah dan daging bangsa Israel. Ketiga, berarti setiap orang yang dilahirkan oleh Roh Kudus, itulah keturunan Abraham. Dan keempat, berarti janji soal tanah perjanjian tidak boleh hanya dimengerti mereka masuk ke tanah Kanaan. Di dalam Ibrani 4:8 firman Tuhan berkata, “Sebab andaikata Yosua telah membawa mereka masuk ke tempat perhentian, pasti Allah tidak akan berkata-kata kemudian tentang suatu hari lain…” Maksudnya di sini kalau janji Tuhan memberikan tanah Kanaan, tanah perjanjian itu sudah final waktu Yosua membawa bangsa Israel masuk, Tuhan tidak akan berbicara lagi mengenai suatu hari lain janji membawa mereka ke tempat perhentian. Berarti masuk ke tanah perjanjian secara fisik oleh Yosua itu hanya mengantisipasi satu tanah perjanjian yang bersifat spiritual. Maka kita menarik ayat ini kepada Galatia 3:14 tadi, Yesus Kristus menggenapi janji berkat Abraham, kita terima melalui iman Roh yang dijanjikan itu. Dari sini, Roh Kudus melahir-barukan kita sehingga kita disebut sebagai anak-anak Tuhan. Melalui kedatangan Kristus, satu kali kelak kita akan mendapatkan satu tanah perjanjian yang baru, bukan berpikir kepada Israel yang sekarang tetapi tanah perjanjian rohani yang Tuhan beri kepada kita.

Kita masuk kepada argumentasi yang kedua, orang Yahudi mengatakan apa buktinya Yesus menjadi penerima berkat Abraham? Dalam Galatia 3:16 Paulus mengajar kita bagaimana membaca dengan cara “Alkitab menafsir Alkitab,” pada waktu ia membaca Perjanjian Lama caranya berbeda dengan orang Yahudi. Bagi orang Yahudi Tuhan berjanji kepada Abraham untuk keturunannya, yaitu mereka. Dalam Yohanes 8:39 dan 44 Yesus pernah mengatakan dengan tegas kepada mereka, “Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. Iblislah yang menjadi bapamu.” Mereka yakin mereka adalah keturunan Abraham karena mereka punya silsilah, dsb. Tetapi Paulus mengatakan, “Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan kepada keturunan-keturunannya, tetapi hanya kepada satu orang yaitu kepada ‘keturunannya.'” Pada waktu Allah memberikan janji ini kepada Abraham dan keturunannya, itu bukan berbentuk plural melainkan singular, dan Paulus mengatakan keturunan Abraham di situ adalah Yesus Kristus. Galatia 3:28-29 menjadi kesimpulan Paulus “Jikalau kamu adalah milik Kristus maka kamu adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji itu.” Maka siapakah Israel yang sejati itu? Israel yang sejati adalah engkau dan saya, semua orang percaya di dalam Kristus. Kenapa saya boleh bilang “I am the true Israel” walaupun saya bukan lahir sebagai orang Yahudi? Karena saya beriman dan percaya kepada Kristus dan Kristus itulah yang dijanjikan menerima segala berkat Abraham, sebab Dialah Pokok Anggur yang sejati dan benar itu. Yesus Kristus menggantikan posisi bangsa Israel yang sudah dipilih Allah sebagai umat Allah untuk menggenapi janji Allah, menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain, membawa keselamatan bagi bangsa-bangsa lain. Israel telah gagal menjadi kebun anggur Allah. Allah mencari keadilan tetapi yang keluar adalah kelaliman, Allah mencari kebenaran tetapi yang keluar adalah keonaran, Allah mencari buah yang manis tetapi yang keluar adalah buah yang asam dari kebun anggur itu. Maka pada waktu kita mendengar kalimat Tuhan Yesus, “Akulah Pokok Anggur yang benar,” di sini ada satu kesadaran penuh dari Tuhan Yesus Dialah Israel yang sejati. Sehingga semua orang yang beriman dan percaya kepada Kristus dia disebut sebagai ‘the true Israel,’ karena apa arti kata ‘Israel’? Israel adalah the Prince of God. Ia adalah yang dicintai oleh Allah. Engkau dan saya menjadi Israel-Israel yang sejati, yang dicintai oleh Allah.

Yang kedua, Tuhan Yesus melanjutkan, “Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku tidak mungkin bisa menghasilkan buah…” Semua ranting yang seolah-olah menjadi ranting dari Pokok Anggur itu padahal bukan, satu kali kelak dia akan menjadi layu, kering dan hilang selama-lamanya. Kita bandingkan Yohanes 15:3 “Kamu memang sudah bersih karena firman yang Kukatakan kepadamu…” dengan Yohanes 13:10 Yesus mengatakan “Kamu sudah bersih, hanya tidak semua…” itu merujuk kepada Yudas Iskariot yang akan mengkhianati Yesus. Maka selanjutnya dalam Yohanes 14 Yesus bicara khusus kepada murid-muridNya sudah tidak ada lagi Yudas di situ.

Maka kalimat Tuhan Yesus, “Ranting yang tidak bertaut denganKu dan ranting yang bertaut kepadaKu,” tidak ada konotasi dengan soal kita yang sudah selamat dan percaya Tuhan bisa kehilangan keselamatan. Karena Yesus memberikan keyakinan kepada kita, “Kamu semua sudah bersih oleh firman…” Engkau dibersihkan oleh firman Tuhan, engkau yang percaya kepadaKu engkau sungguh-sungguh adalah ranting yang benar yang ada dengan Aku. Maka kalimat “ranting yang tidak tinggal di dalam Aku” satu kali kelak akan dibuang dan dicampakkan ke dalam api untuk dibakar, tidak bicara soal orang yang sudah lahir baru bisa hilang keselamatannya, tetapi itu bicara soal orang yang seperti Yudas Iskariot, mengaku sebagai orang Kristen, mengaku sebagai orang percaya tetapi akhirnya memang sama sekali terbukti ia tidak pernah percaya kepada Yesus Kristus.

Alkitab menyebutkan sejenis orang yang “murtad.” Apa sesungguhnya arti kata murtad ini? Kita cenderung berpikir orang yang murtad adalah orang yang pergi meninggalkan gereja. Namun kata murtad di dalam teologi Reformed tidak mempunyai pengertian orang yang sudah lahir baru dan sungguh-sungguh sudah percaya Tuhan bisa hilang keselamatannya. Murtad bicara tentang orang yang sudah dengar Injil, sudah mengerti Kekristenan tetapi sama sekali tidak pernah beriman dan percaya kepada Tuhan Yesus, itulah kategori dari orang yang murtad, hanya memiliki hal-hal yang bersifat eksternal saja (band.Ibrani 6:4-6). Sebaliknya, orang yang belum pernah dengar Injil bisa diilustrasikan seperti orang yang dalam keadaan sakit parah, tidak pernah dengar nama satu obat yang bisa menyembuhkan sehingga waktu orang datang menawarkan obat itu kepada dia, bisa jadi dia menolak obat itu. Berulang-ulang diberitahu hanya obat ini yang sanggup menyembuhkannya, selama dia menolak di dalam ketidak-mengertiannya, tidak berarti dia kehilangan kesempatan dan pengharapan. Satu kali kelak, akhirnya dia mengerti dan menerimanya. Tetapi berbeda dengan orang yang digambarkan dalam Ibrani 6:4-6 ini, ini adalah orang yang ada di dalam Kekristenan, sudah ikut ke gereja, sudah pernah dibaptis, sudah pernah melayani, sudah ikut perjamuan kudus, bisa diilustrasikan seperti orang yang sudah tahu obat ini satu-satunya yang sanggup menyembuhkan tetapi dengan sengaja menghina dan tidak mau menerima obat itu. Pertanyaannya, apa lagi yang sanggup bisa menyembuhkan dia? Yudas Iskariot sudah ikut Tuhan tiga tahun lamanya, selalu ada di dekatNya, mendengar semua perkataanNya, melihat segala mujizatNya, tahu Dia adalah Tuhan dan Juruselamat, tetapi sampai akhir tidak percaya kepadaNya, maka Kristus sendiri bilang tentang dia “di antaramu ada yang tidak bersih.”

Maka bagi saya yang sangat menakutkan murtad bukanlah bicara mengenai orang yang tidak pernah mendengar Injil, mengenai orang yang melawan Kekristenan, mengenai orang yang melakukan penganiayaan kepada kita, karena satu kali kelak dia ada kesempatan bisa percaya Tuhan seperti rasul Paulus. Tetapi ini bagi orang yang sudah berada di dalam lingkungan Kekristenan. Maka pada waktu Yesus bicara mengenai Pokok Anggur yang benar, sekaligus menjadi penghiburan bagi kita karena Dia sumber yang memberikan makanan bagi kita dan kalau kita tidak bertaut kepadaNya kita tidak mendapatkan apa-apa. Ini sekaligus menjadi satu peringatan karena Dia berkata, hanya ranting yang berada di dalamKu ia akan hidup, berbuah dan tumbuh dengan baik. Tetapi ranting yang tidak berada di dalam Aku satu kali kelak dia akan menjadi kering dan dibuang orang.

Dalam 2 Korintus 13:5 Paulus mengajak setiap kita untuk menguji diri kita sendiri apakah Yesus Kristus ada di dalam diri kita, karena jika tidak demikian kita tidak tahan uji. Peristiwa lahir baru adalah pekerjaan Roh Kudus yang secara misterius dan ajaib merubah kehendak manusia yang tadinya memberontak kepada Tuhan, melahir-barukan orang yang mati rohani, sehingga memampukan mereka bisa berespons kepada panggilan Injil sehingga mereka percaya dan bertobat. Orang yang berdosa dengan kekuatan sendiri, dengan kemampuan sendiri tidak mungkin bisa percaya Tuhan sebab di dalam keberdosaan, keinginan yang ada di dalam diri orang berdosa cuma satu, yaitu memberontak dan melawan Tuhan. Tetapi begitu Roh Kudus bekerja maka kelahiran baru terjadi, sehingga dia bisa berespons kepada Tuhan. Dalam Yohanes 3 Yesus berkata kepada Nikodemus, proses lahir baru itu seperti angin bertiup, kita tidak bisa lihat darimana dia datang kemana dia pergi, tetapi kita bisa merasakannya. Akibat kelahiran baru akan menciptakan sesuatu yang baru di dalam hati orang sehingga dia bisa berespons beriman dan bertobat. Waktu seseorang menyadari dan mengakui segala dosanya di hadapan Tuhan, bertobat dan berseru memohon pengampunan kepada Tuhan, itu adalah reaksi eksternal yang bisa kelihatan. Orang itu berubah, orang itu hidup sungguh-sungguh mau mencintai dan mengasihi Tuhan. Maka 2 Korintus 13:5 merupakan pertanyaan refleksi yang penting, selidiki diri sendiri apakah engkau sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan? Uji dirimu sendiri, apakah Yesus Kristus ada di dalam hatimu atau tidak? Kalau ternyata tidak, kata Paulus, satu kali kelak orang itu tidak tahan uji. Bagaimana saya tahu saya ada di dalam Kristus dan Kristus ada di dalam aku? Hanya diri kita sendiri dan Tuhan yang tahu. Orang lain tidak bisa tahu.

Tuhan Yesus berkata, “Setiap ranting yang berbuah dibersihkanNya sehingga ia lebih banyak lagi berbuah…” Kata yang dipakai Tuhan Yesus di sini akrab dengan orang yang suka berkebun yaitu “pruning.” Kalau memakai kata ‘disiplin’ gampang kita tahu disiplin diberikan karena ada sesuatu yang salah atau keliru di dalam diri kita lalu Tuhan koreksi. Ibrani 12 mengatakan anak-anak Tuhan dididik oleh Tuhan. Kalau kita tidak dengar-dengaran, kita tidak setia, kita akan dipukulNya. Ketika kita menghadapi tantangan dan kesulitan karena kita tahu Tuhan mendisiplin kita, maka kita datang kepadaNya mengaku salah. Tetapi ‘pruning’ merupakan satu tindakan Tuhan yang tidak ada kaitannya dengan salah dari ranting itu. Pruning adalah tindakan yang harus dilakukan oleh Tuhan sehingga ranting itu lebih banyak lagi berbuah. Maka waktu seseorang mengalami pruning dari Tuhan, mungkin ia akan menjadi bingung dan bertanya-tanya pada waktu ia tidak tahu apa yang menjadi salah. Itulah sebabnya ayat ini merupakan satu penghiburan yang penting. Ranting yang ada padaKu, Aku pruning dia, Aku bersihkan dia. Kenapa harus dipruning? Tidak ada cara lain. Orang yang belajar tanaman tentu tahu, satu pohon yang lebat daunnya akan menghambat pohon itu berbuah banyak. Maka dia perlu memotong daun-daun itu sehingga makanan yang diserap akar akan menghasilkan buah yang baik dan banyak.

Kadang-kadang ada situasi-situasi khusus, situasi-situasi yang sudah berjalan lancar dan baik di dalam hidup kita, dan adakalanya Tuhan menginginkan situasi itu diambil dan dicabut dari diri kita, bukan dengan tujuan untuk mendisiplin atau mengkoreksi kita, atau mempersalahkan kita. Tujuannya adalah supaya di depannya kita lebih berhasil, lebih berbuah, lebih indah bagi Tuhan. Itu mungkin kehilangan finansial, itu mungkin kehilangan kesempatan bekerja di satu tempat, mungkin itu adalah sakit yang datang kepada kita. Semua ini harus kita belajar lihat sebagai cara Tuhan mem-pruning hidup kita lebih indah dan lebih baik. Dengan cara pruning seperti ini Tuhan mau ada banyak buah-buah yang indah dan manis keluar dari diri kita.

Maka ini merupakan pertanyaan yang sangat penting bagi setiap kita. Kalau betul kita adalah milik Tuhan, kalau betul kita adalah ranting yang ada di dalam Dia, pertanyaan selanjutnya adalah buah apakah yang kita hasilkan? Kadang-kadang kalau kita lihat di dalam kehidupan sehari-hari banyak hal kita sadari, ternyata buah-buah yang tidak terlalu bagus atau hal-hal yang tidak terlalu baik selalu tumbuh lebih cepat daripada yang baik, bukan? Mana yang lebih cepat tumbuh buahnya, rendah hati atau sombong? Mana yang lebih cepat tumbuh buahnya dalam hidup kita, marah atau sabar? Mana yang lebih cepat tumbuh, bersandar diri atau bersandar Tuhan? Sdr dans aya setuju, lebih cepat kita sombong daripada kita rendah hati, lebih cepat kita marah daripada sabar, lebih cepat kita bersandar diri daripada bersandar kepada Allah. Buah-buah seperti apa yang Tuhan ingin tumbuhkan dalam hidup kita? Kadang-kadang buah yang sulit, yang susah, yang lama bertumbuh itu memerlukan pruning ketelatenan yang baik dari “Ahli Kebun” kita itu supaya kita bisa menghasilkan buah-buah manis dalam hidup kita. Maka Kristus adalah Pokok Anggur, dan barangsiapa yang tinggal di dalam Dia, Ia menginginkan kita berbuah, bertumbuh indah dan lebat. Potong banyak hal yang cepat tumbuh tetapi tidak penting dan tidak berguna, dan berbahaya bagi kita. Dia ingin menghasilkan buah yang indah, matang dan baik di dalam hidup setiap kita. Maka walaupun kadang-kadang kita tidak mengerti apa yang terjadi di dalam hidup kita, walaupun mungkin di tengah kelancaran kesuksesan tiba-tiba ada satu “u-turn” yang mengagetkan hidup kita, mari kita lihat semua aspek ini sebagai sesuatu cara Tuhan dan sikap kita adalah taat dan rela dibentukNya. Kita hidup bersandar dan percaya kepada Tuhan, kita mengetahui Tuhan adalah Pokok Anggur kita yang setia dan baik adanya. Biar kita tidak menjauh dari Tuhan sebab pada waktu kita tidak tinggal teguh dan tetap di dalam Dia, kita tidak akan menghasilkan buah yang indah dan banyak. Pada waktu kita menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan di dalam hidup, kita belajar bersandar, beriman dan percaya Tuhan yang baik tidak berusaha memangkas apa yang indah di dalam hidup kita, melainkan Tuhan hanya ingin memangkas apa yang tidak perlu dalam hidup kita supaya kita lebih menghasilkan buah lebih indah lebih banyak. Kiranya Tuhan memimpin hidup setiap kita.(kz)