05. Akulah Kebangkitan dan Hidup

12/6/2011

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Seri Eksposisi Perkataan “Ego Eimi” (5)

Nats: Yohanes 11:1-16

 

Di tengah tantangan kesulitan yang kita alami tersendiri, tidak ada penghiburan yang paling indah selain ketika ada teman yang dekat yang selalu memberi kekuatan dan support kepada kita. Di dalam Yohanes 11 ini kita menemukan keindahan muncul dari tiga orang bersaudara, Marta, Maria dan Lazarus yang menyatakan komitmen mencintai dan mengasihi Tuhan. Tetapi yang lebih indah adalah ketiga orang saudara ini mendapatkan balasan cinta yang sama dari Kristus Tuhan yang sungguh mengasihi mereka. Ini kisah yang indah, sekaligus juga mengajak kita untuk mengerti lebih dalam dan lebih konkrit apa artinya kita mencintai dan mengasihi Tuhan. Terlalu gampang dan terlalu mudah kita mengeluarkan kata mencintai dan mengasihi, tetapi tidak gampang kita menyatakannya dengan konkrit kepada orang yang kita cintai. Pada bagian ini kita melihat ketiga saudara ini mencintai dan mengasihi Tuhan dinyatakan dengan rumah mereka selalu available dan terbuka kapan saja bagi Tuhan Yesus untuk datang. Di dalam bagian lain di Alkitab kita beberapa kali Yesus datang dan bertamu di rumah Lazarus, Marta dan Maria di Betani (Lukas 10:38-42, Yohanes 12:2). Bukan saja rumah mereka terbuka untuk Tuhan, Alkitab mencatat cinta Maria kepada Yesus dibuktikan dengan ia memecahkan minyak narwastu yang begitu berharga dan mahal, yang sesungguhnya dia simpan untuk persiapan pernikahannya, dipakai untuk meminyaki kaki Tuhan Yesus dan menyekanya dengan rambutnya (Yohanes 12:3). Puji Tuhan, kalau kita adalah orang-orang yang mencintai dan mengasihi Tuhan. Tetapi seberapa dalamkah cinta kita kepada Tuhan? Seberapa besar kita memberikan bukti konkrit cinta kita kepadaNya?

Tetapi kisah yang dicatat dalam Yohanes 11 juga memperlihatkan satu fakta realita orang yang mencintai dan mengasihi Tuhan tidak berarti hidupnya lepas dari kesulitan dan sakit-penyakit. Lazarus dicintai oleh Tuhan, namun tidak berarti hidupnya terbebas dari sakit (Yohanes 11:1). Ada banyak orang-orang yang dicintai Tuhan tidak berarti hidup mereka lancar. Ada banyak orang-orang yang dikasihi Tuhan perjalanan hidupnya tidak mulus, penuh dengan sakit-penyakit, penderitaan, kegagalan dan kesulitan. Namun adanya sakit-penyakit, penderitaan, kegagalan dan kesulitan datang di dalam hidupmu tidak berarti Tuhan tidak cinta engkau lagi. Biar kita melalui kisah ini mendapat kekuatan dan penghiburan, ada orang yang sungguh dicintai Tuhan dan dia sedang menderita sakit.

Alkitab tidak memberi penjelasan apa sakit yang sedang Lazarus derita, tetapi sudah pasti sakit yang Lazarus alami adalah sakit yang keras, sakit yang begitu serius dan dari hari ke hari mungkin kondisinya terus memburuk. Marta dan Maria saudara perempuannya sudah pasti berusaha semampunya untuk merawat dan memelihara dia, tetapi kelihatan tidak ada kemajuan. Kedua saudara ini sangat concern dengan situasi yang mereka hadapi namun mereka tidak berdaya mengatasinya. Maka mereka menyuruh seorang utusan untuk memberi kabar kepada Yesus, “Tuhan, dia yang Engkau kasihi sakit” (Yohanes 11:3). Waktu berita ini sampai kepada Tuhan Yesus, walaupun mungkin implicitly Marta dan Maria menginginkan Yesus menyembuhkan Lazarus, tetapi kalimat itu tidak keluar dari mulut mereka. Tidak ada kalimat, “Datanglah segera, Tuhan, sembuhkanlah dia.” Ini menjadi hal yang unik, sehingga banyak penafsir mengatakan mereka hanya menyatakan fakta bahwa Lazarus sedang sakit dan sakitnya itu cukup parah. Walaupun mungkin ada keinginan untuk Tuhan sembuhkan, tetapi waktu kalimat itu disampaikan kepada Tuhan Yesus, hanya kalimat itu yang muncul, “Orang yang Engkau kasihi sakit.” Dan dari kacamata mereka, sakit itu sangat parah dan mungkin tidak bisa disembuhkan lagi.

Tetapi cerita ini berlanjut lagi, bukan saja orang yang dicintai Tuhan bisa sakit, di dalam keadaan sakit dan sangat membutuhkan pertolongan, Yesus sengaja tidak datang memberikan pertolongan pada waktunya. Yesus sengaja menunda perjalanannya. Alkitab dengan jujur menuliskan, “Namun setelah didengarNya bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat dimana Dia berada” (Yohanes 11:6). Dan akhirnya empat hari sesudah Lazarus mati, Yesus baru sampai di Betani. Kenapa Tuhan Yesus sengaja tidak datang segera? Kenapa Tuhan sengaja tidak memberikan pertolongan tepat pada waktunya? Gampang kita jawab pertanyaan ini, sebab di dalam peristiwa ini kita bertemu fakta pihak yang sengaja tidak datang segera itu adalah Tuhan. Tetapi kalau dalam hidup kita sekarang, ada dokter yang sengaja tidak datang segera, kita bisa marah setengah mati. Kita tidak sanggup bisa melihat peristiwa seperti yang dicatat oleh Yohanes 11 ini yaitu Yesus sengaja berlambat datang, Dia tetap punya kontrol untuk menyembuhkan Lazarus. Kita mungkin bertanya, kenapa Tuhan tidak datang tepat pada waktunya? Mengapa sesudah aku berdoa kepadaMu, pertolonganMu itu tidak kunjung tiba? Mungkin kita bisa kecewa, mungkin iman kita bisa menjadi lemah, tetapi kita hanya baru bisa melihat setelah kita berjalan sekian waktu lamanya lalu kita melihat ke belakang.

Tuhan sengaja berlambat datang. Waktu itu Marta dan Maria mungkin memiliki pikiran yang sama dengan kita. Tetapi dari kalimat Yesus di sini kita menemukan beberapa konsep penting muncul. Pertama, Yesus sengaja tidak datang segera supaya Ia melakukan perkara mujizat yang jauh lebih besar. Bukan membuat yang sakit menjadi sembuh dan sehat, tetapi membangkitkan yang mati menjadi hidup. Itu sebab melalui peristiwa kematian Lazarus, Allah akan dimuliakan dan Anak Manusia akan menyatakan perkara yang lebih besar. “Lazarus sudah mati, tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu sebab demikian lebih baik bagimu supaya kamu dapat belajar percaya” (Yohanes 11:15).

Kedua, kita melihat bagaimana Yohanes menulis peristiwa mujizat Tuhan Yesus selalu disertai dengan kalimat, “WaktuKu belum tiba.” Ingatkan, pada waktu Maria meminta Yesus melakukan mujizat di Kana ketika minuman anggur sudah habis, Yesus menjawab, “…waktuKu belum tiba.” Tetapi kemudian Ia akhirnya juga melakukan mujizat merubah air menjadi anggur. Intinya adalah “waktuKu belum tiba,” soal Aku mau melakukan mujizat atau tidak, itu tidak boleh ditentukan, dipaksa dan didorong oleh keinginan dan kemauan dari manusia. Maka prinsip kedua muncul, ini prinsip teologis yang penting bagi kita, Allah adalah Allah yang tidak boleh dipaksa; Allah adalah Tuhan yang tidak boleh diperintah oleh orang supaya melakukan sesuatu seturut yang diinginkan oleh manusia. Walaupun Tuhan selalu care dengan kebutuhan kita, pada waktu kita datang berdoa kepadaNya, kita tahu Dia sanggup melakukan sesuatu bagi kita, tetapi Dia akan melakukannya seturut dengan waktuNya dan sesuai dengan kebaikan dan kehendakNya bagi kita. Dia adalah Tuhan, kita tidak boleh menjadikan Tuhan yang kita sembah sebagai berhala yang kita bisa setir untuk melakukan apa yang kita inginkan dan kehendaki di dalam hidup ini.

Kenapa Yesus menunda dua hari untuk datang ke Betani? Sebab dengan menunda dua hari, lalu menghabiskan waktu perjalanan dua hari, maka genaplah itu empat hari Lazarus mati (Yohanes 11:17). Menurut tradisi orang Yahudi, itu benar-benar sudah mati. Sebab konsep orang Yahudi waktu seseorang meninggal selama tiga hari rohnya masih ada di sekitar situ mau mencoba masuk ke tubuhnya lagi, tetapi pada hari keempat waktu melihat mukanya sudah berubah dan rusak akhirnya dia tidak mau lagi dan pergi. Sudah empat hari lewat, orang Yahudi tahu tidak ada kemungkinan sama sekali orang itu bisa hidup kembali. Maka ketika Lazarus bangkit, itu membuktikan hanya Yesus yang mampu membuatnya bangkit dan hidup kembali. Itu arti kata sengaja di sini.

Ada beberapa hal yang menarik dari bagian ini. Yohanes 11:7 nampaknya terjadi secara kebetulan dalam dialog ini tetapi ada sesuatu kontras, Yesus bilang, “Mari kita kembali ke Yudea,” tetapi murid-muridNya berkata, “Guru, baru-baru ini orang Yahudi hendak melempariMu, masihkah Engkau mau kembali ke sana?” Faktor apakah yang akhirnya membawa kita tidak bisa terelakkan menuju kepada kematian? Di dalam dunia kedokteran ada tiga faktor. Faktor pertama adalah trauma. Trauma itu adalah satu penyakit psikologis yang ada di dalam diri manusia yang bisa men-“shut down” apa saja. Walaupun tubuhnya masih sehat, orang yang trauma tidak lagi punya kegairahan dan keinginan untuk hidup. Jadi ini bukan hanya mati di dalam pengertian nafas tidak ada lagi. Yang kedua, kematian terjadi karena proses penuaan. Ketiga, selain faktor penuaan, ada faktor lain yang bisa mengakibatkan kematian yaitu faktor penyakit. Lazarus sakit, sakit itu pasti akan membawa dia kepada kematian. Tetapi sebaliknya ada satu kontras di sini, murid-murid tidak mau lagi datang ke Yudea sebab takut mati, takut menderita, takut dilempari batu. Ada fakta yang pasti akan membawa kita kepada kematian. Banyak orang tidak menolak faktor-faktor itu dan menyadari cepat atau lambat kita akan menuju ke situ. Tetapi kenapa ada orang enggan menuju ke situ? Sebab ada satu faktor lain yaitu ketakutan akan kematian lebih menakutkan daripada kematian itu sendiri.

Yesus bilang, mari kita pergi. Murid-murid bilang, tidak mau. Kenapa? Kalau sampai di sana kita dilempari batu, bagaimana? Penderitaan, kesulitan, ketakutan akan kematian menyebabkan murid-murid tidak mau datang. Ini dua kontras muncul. Selain Yesus bicara mengenai fakta kematian yang akan datang kepada Lazarus, dalam bagian ini Ia juga bicara mengenai bagaimana mengatasi faktor perasaan ketakutan akan kematian yang muncul di dalam diri murid-murid seperti ini. Kita yang akan tua tahu yang sanggup mengakhiri hidup kita adalah proses penuaan dan penyakit. Tetapi banyak anak muda walaupun tubuhnya sehat dan kuat pun bisa ditimpa proses kematian karena mereka tidak punya keberanian untuk melakukan sesuatu apa-apa di dalam hidup ini, selalu takut gagal dan tidak berhasil. Murid-murid bisa takut, murid-murid tidak berani pergi; kita bisa takut, kita bisa tidak berani ke situ, tetapi Tuhan Yesus di dalam bagian ini mengatakan kalimat yang penting, “Hari siang hanya dua belas jam, malam hanya dua belas jam. Tidak ada orang yang diberi lebih dan tidak ada orang yang diberi kurang daripada itu. Dan waktu siang itu kita pakai untuk mengerjakan sesuatu, selebih daripada itu kita tidak bisa kerja lagi ketika malam datang” (Yohanes 11:9-10). Ketakutan akan kematian menyebabkan murid-murid tidak berani untuk melakukan apa-apa. Ketakutan akan resiko di dalam hidup ini menyebabkan kita mungkin tidak berani untuk mengerjakan apa-apa. Ada hal-hal yang kadang-kadang membuat kita tidak berani berkorban, tidak berani mengerjakan dan melakukan sesuatu sebab kita hidup penuh dengan ketakutan dan kekuatiran. Tetapi Yesus ingin memberitahukan murid-murid, engkau takut mati, engkau kuatir, apakah itu akan memperpanjang atau memperpendek waktumu? Yesus pernah berkata, “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (Matius 6:27). Kadang-kadang kita kuatir terlalu banyak, kadang-kadang karena ketakutan akan hidup ini kita akhirnya menyimpan segala sesuatu hanya untuk diri kita sendiri dan tidak berpikir bagaimana apa yang kita punya bisa menjadi berkat bagi orang lain. Kita perlu mengambil sikap seperti apa yang dikatakan Tomas di bagian ini, walaupun banyak orang mengatakan Tomas itu peragu, tetapi ada satu hal yang sangat menarik dari kalimat Tomas yang indah di sini, “Kita ikut Tuhan ke mana Ia pergi. Mati pun aku rela” (Yohanes 11:16). Tetapi sebelum itu Yesus bilang, “Aku pergi ke Yudea, dilempari batu, itu tidak masalah. Akan menghadapi tantangan dan kesulitan di situ, itu tidak menjadi masalah, sebab Aku akan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan BapaKu di situ.” Jangan sampai ketakutan yang belum tentu terjadi membuat kita tidak bisa mengerjakan apa-apa di dalam hidup ini.

Yohanes 11:33-35 ada satu kata yang Alkitab tuliskan, “Yesus masygul, Yesus mengangis.” Allah di dalam pikiran orang Yunani tidak memiliki konsep emosi yang lemah. Filsuf Yunani Aristotle menyebut dengan istilah “God is Unmoved Mover.” Dia adalah sumber yang menggerakkan segala sesuatu tetapi Dia sendiri tidak bergerak. Kita percaya Allah itu tidak berubah dari dahulu sekarang hingga selama-lamanya itu benar adanya, Allah kita memiliki ratio, tetapi Allah kita juga adalah Allah yang memiliki emosi. Sekali lagi, pengertian ini harus jelas, emosi Tuhan tidak dimengerti seperti emosi manusia. Sehingga pada waktu dikatakan Allah itu murka, tidak boleh dimengerti murkanya Tuhan itu seperti murkanya kita. Kita murka sebab kita diperlakukan tidak adil, kita yang murka ingin melakukan pembalasan merugikan orang lain. Tetapi murkanya Allah adalah murka yang menegakkan keadilanNya. Itu adalah perbedaan yang luar biasa. Kasih kita kadang-kadang tidak balance dan tidak seimbang, sehingga kasih kita itu memiliki motif tertentu di dalamnya. Kasih kita tidak sama dengan kasihnya Allah. Tetapi bagian ini memberitahukan kita Yesus, Anak Allah, Tuhan yang kita sembah, mengeluarkan air mata. Kontras kesengajaan seolah-olah Allah tidak care, kesengajaan tidak datang seolah-olah dia membiarkan kita tersendiri mengalami penderitaan dan kesulitan hidup. Tetapi Yesus menangis berarti Dia simpati bersama orang-orang yang mengalami penderitaan dan kesulitan. Kontras ini mengingatkan kepada kita Allah itu betul-betul begitu penuh perhatian terhadap anak-anakNya yang mengalami kesulitan dan penderitaan. Tuhan betul-betul mengerti betapa berat dan betapa sulitnya apa yang kita alami.

Di sini LAI menerjemahkan “…masygullah hati Yesus.” Ini satu kata di dalam bahasa Yunani yang tiga kali pernah dipakai oleh Injil di tempat lain yang diterjemahkan sedikit berbeda, “Yesus menegur dengan keras.” Itu sebab kata ini di sini pengertiannya bagaimana? Sehingga di dalam terjemahan bahasa Inggris yang lama ada terjemahan yang mengatakan “Jesus outraged by anger.” Maria menangis, orang-orang di sekitarnya menangis, lalu Yesus bereaksi ‘outraged by anger.’ Apakah Yesus marah kepada orang-orang yang menangis? Atau apa? Ini adalah satu kata yang banyak membuat penafsir berpikir lebih dalam apa yang sedang terjadi di sini. Orang-orang yang menangis itu sebagian memang menangis karena mereka sedih Lazarus mati, tetapi ada yang menangis secara ‘profesional’. Tukang nangis yang profesional bisa menangis melolong dengan menyayat hati. Saya lebih cenderung, Yesus marah kepada situasi fakta realita yang sangat menyedihkan dan menyayat hati manusia akibat kejatuhan di dalam dosa kematian itu tidak bisa terhindarkan. Berapa besarnya kehilangan yang disebabkan oleh kematian? Berapa dahsyatnya perpisahan yang dihasilkan oleh kematian? Betapa tidak adanya kekuatan manusia yang begitu tidak berdaya untuk bisa lepas dari cengkeraman kematian? Melihat Maria dan Marta menangis, dan mungkin sekali Lazarus umurnya tidak jauh berbeda dari Tuhan Yesus, sedih luar biasa melihat orang yang dicintai menangis, sedih luar biasa melihat adik-adik menangisi saudara yang begitu dikasihi mati, karena itulah Yesus menyatakan emosi kemarahan yang begitu besar, bukan kepada orang melainkan kepada kematian. Yesus marah dan Yesus menangis, mengetahui ini adalah kebutuhan manusia yang paling dalam dan paling penting: siapakah yang bisa melepaskan kita dari kesedihan yang tidak akan habis akan kematian yang datang ke dalam hidup kita? Tetapi lebih daripada itu, Alkitab mengingatkan kita jangan takut kepada kematian yang memisahkan tubuh dari jiwa kita, tetapi takutkah kepada sesuatu yang lebih besar dan lebih berat, sesudah kita mati kita akan berjumpa dengan Tuhan, bagaimana jaminan hidup kita? Kepada situasi yang seperti ini Yesus mengeluarkan kalimat yang begitu menguatkan ini kepada Maria dan Marta, “Akulah Kebangkitan dan Hidup. Orang yang sudah mati akan hidup kembali dan Aku akan membangkitkan dia sehingga dia tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” (Yohanes 11:25-26). Maria dan Marta memiliki kepercayaan yang masih tradisional seperti di Perjanjian Lama, mereka percaya Tuhan akan melakukan kebangkitan itu pada akhir jaman dimana semua orang percaya akan dibangkitkan semuanya. Itu pula konsep yang kita percayai. Tetapi sekarang perspektif kita sebagai orang Kristen sudah berbeda adanya sebab kita percaya kepada Yesus Kristus yang adalah Kebangkitan dan Hidup, yang menjadi jaminan bahwa sesudah kematian ini hidup kita aman selamat di dalam tanganNya. Yesus memakai dua kata secara khusus dan unik, “kebangkitan dan hidup.” Dalam Injil Lukas pada waktu murid-murid datang ke kubur Yesus, malaikat berkata, “Mengapa engkau mencari yang Hidup di antara orang mati?” (Lukas 24:5). Ibrani 7:16 mengatakan, “…berdasarkan Hidup yang tidak dapat binasa.” Yesus berkata, “Akulah Kebangkitan dan Hidup.” Jaminan ini menjadi ya, amin dan pasti sebab Kristus memiliki hidup yang seperti ini, hidup yang tidak tidak mungkin dicengkeram oleh kebinasaan. Yesus Kristus berhak menjadi Imam Besar kita, mati hanya satu kali di atas kayu salib dan tidak perlu berulang lagi sebab Imamat Yesus Kristus bukan seperti imamat orang Lewi yang selalu membawa kambing domba sebagai korban penghapus dosa berulang-ulang kali terus-menerus, membuktikan darah kambing domba tidak mungkin bisa menghapus dosa kita sekali untuk selama-lamanya. Kristus mati mencurahkan darahNya kenapa hanya satu kali namun Dia sanggup mengampuni dosa semua kita, sebab yang mati di kayu salib itu memiliki hidup yang tidak terbatas dan tidak dapat binasa. Puji Tuhan, dengan kalimat ini Yesus membangkitkan Lazarus dan memberikan bukti yang memberi kekuatan dan janji yang luar biasa. Selain Dia menjadi Tuhan atas hidup kita sekarang, Dia juga menjadi Tuhan yang pelihara hidupmu sampai kepada kesudahannya. Inilah Tuhan Yesus yang kita sembah, inilah Tuhan yang menang atas maut dan kematian dan inilah Tuhan yang juga meminta engkau dan saya yang sudah ditebus dan dibayar lunas, bagaimanakah kita menjalani hidup kita. Pada waktu ada kematian, pada waktu ada sakit, dan pada waktu ada proses penuaan yang datang ke dalam hidup kita, kita tidak akan pernah takut sebab kita tahu di tanganNyalah hidup kita berada. Kalau kita seringkali menjadi kuatir dan takut menghadapi kesulitan dan mara bahaya di dalam hidup kita, biar melalui segala janji firman Tuhan ini memberi kita kekuatan dan keberanian. Kita pegang janji Tuhan, kita bersandar kepada Tuhan, Dia akan pelihara kita sampai kepada kesudahan.(kz)