04. Akulah Gembala yang Baik

5/6/2011

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Seri Eksposisi Perkataan “Ego Eimi” (4)

Nats: Yohanes 10:11-30

 

Hanya karena prilaku segelintir gembala-gembala yang tidak bertanggung jawab menyebabkan persepsi orang mengenai pekerjaan gembala pada masa Tuhan Yesus menjadi satu pekerjaan yang tidak terlalu mulia dan tidak indah bagi orang lain. Pada masa itu banyak tuan tanah mempekerjakan gembala-gembala upahan, yang karena hanya seorang upahan dan bukan pemilik, para gembala itu bisa berbuat semaunya terhadap domba-domba yang dipercayakan kepada mereka. Bisa saja selama berminggu-minggu mereka membawa domba-domba itu ke padang mencari rumput. Lalu saat kembali mereka mengatakan kepada pemiliknya bahwa di tengah perjalanan pulang beberapa domba mati dimakan serigala. Siapa yang bisa membuktikan perkataan mereka benar atau tidak? Di tengah perjalanan bisa saja gembala upahan itu mencuri dan menjual beberapa domba dan melaporkan domba-domba itu hilang, pemilik tidak bisa mengecek kebenaran perkataannya. Itu sebab maka persepsi mengenai gembala menjadi negatif di dalam era jaman Tuhan Yesus. Mereka dianggap suka menipu, mereka dianggap orang yang tidak bisa dipercaya perkataannya. Sehingga di dalam tradisi agama Yahudi pada masa Tuhan Yesus profesi gembala dalam masyarakat dimasukkan dalam “kelompok orang berdosa,” bukan karena mereka berdosa secara moral tetapi berdosa sebab pekerjaannya, dan orang-orang seperti ini tidak berhak memberi kesaksian di hadapan pengadilan agama karena kesaksian mereka dianggap tidak benar adanya. Beberapa pekerjaan lainnya yang dianggap “berdosa” antara lain pekerjaan penyamak kulit atau tukang gali wc.

Maka sangat menarik sekali, Tuhan sengaja menyuruh malaikat menyampaikan berita mengenai kelahiran Mesias kepada para gembala. Lalu Injil Lukas mencatat ketika para gembala itu masuk ke kota dan menceritakan kabar kelahiran itu, reaksi orang menjadi bertanya-tanya. Kenapa? Karena mereka tidak percaya akan perkataan gembala. Maka pada waktu Yesus mengatakan kalimat, “Aku adalah Gembala yang Baik, dan Aku bukan gembala upahan,” ini menjadi kalimat yang sangat intriguing dan menarik.

Tetapi kalau kita membaca dan membandingkan di Perjanjian Lama, kita akan menemukan begitu banyak ayat yang bicara mengenai Tuhan memakai lambang simbol gembala ini begitu indah. Hal ini dikarena di dalam era Perjanjian Lama belum ada konsep mempekerjakan orang sebagai gembala upahan, sehingga yang menggembalakan kambing domba itu sudah pasti adalah pemilik sendiri. Jadi kita harus memperhatikan perbedaan ini dengan era Perjanjian Baru. Di dalam Perjanjian Lama pekerjaan gembala merupakan sesuatu hal yang tidak gampang dan tidak mudah. Menjadi seorang gembala memerlukan kesabaran dan ketelatenan, kesediaan hati untuk berkorban, dsb. Dan domba adalah binatang yang gampang sekali tersesat. Dalam Yesaya 40:11 Tuhan Allah memakai lukisan yang menjadi keindahan Tuhan sebagai seorang gembala yang menuntun dombaNya, menggendong anak domba dengan lembut dan hati-hati. Dengan gambaran lukisan Allah memelihara dan menggembalakan kita demikian. Di tengah padang gurun di daerah Palestina yang begitu terjal domba-domba itu mengenal suara gembalanya memanggil mereka sehingga tidak tersesat. Itulah gambaran yang diberikan oleh Tuhan Yesus, “domba-dombaKu mengenal suaraKu…” (Yohanes 10:27). Relasi itu terjalin karena domba-domba digembalakan oleh satu orang dengan lama sekali. Pada waktu ada sungai yang deras yang harus diseberangi, maka gembala akan menggendong anak domba yang paling muda ke seberang, maka induk dari anak domba itu juga akan segera menyusul ke seberang dan segera semua domba yang lain akan menyusul dia.

Gembala di dalam Perjanjian Lama paling tidak selalu membawa tiga senjata. Yang pertama, senjata seperti yang dipakai oleh Daud membunuh Goliat yaitu ali-ali atau sling. Yang kedua, tongkat yang bengkok di ujungnya, untuk menarik leher domba yang jatuh ke jurang. Yang ketiga adalah gada, untuk memukul serigala dan binatang buas yang hendak menyerang domba-domba. Itulah yang digambarkan di dalam Mazmur 23 dimana Allah menggembalakan kita dengan tongkat dan gada.

Tuhan Yesus berkata, “Akulah Gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawaNya bagi domba-dombaNya” (Yohanes 10:11). Kalimat ini membuktikan kepada kita bahwa cara Tuhan menyelamatkan kita adalah satu cara yang mungkin tidak bisa dimengerti oleh orang-orang Yahudi pada masa Tuhan Yesus. Walaupun di dalam Perjanjian Lama konsep mengenai “Hamba Allah yang Menderita” sudah muncul di dalam Yesaya 53, tetapi orang Yahudi tidak bisa menerima konsep ini.

Dalam satu senjang masa 400 tahun boleh kita katakan orang-orang Yahudi tidak hidup di dalam kemerdekaan, mereka silih berganti terus dijajah tidak habis-habis. Tahun 568 BC mereka dijajah oleh bangsa Asyur, yang memusnahkan Kerajaan Utara yang ada di atas. Kemudian tahun 721 BC kerajaan Babel menghancurkan Kerajaan Yehuda dan membawa seluruh perkakas Bait Allah ke Babel dan juga membawa orang-orang muda, seperti Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Lalu Babel runtuh dan kerajaan Persia dan kemudian Yunani menguasai dunia. Selanjutnya bangsa Yahudi yang pulang ke Yerusalem dari pembuangan kemudian mengalami tekanan dan penjajahan Romawi. Dalam 400 tahun sebelum Yesus lahir, begitu banyak perang dan pemberontakan yang terjadi. Semua ini tidak ada di dalam Alkitab tetapi merupakan satu catatan sejarah yang ditulis dengan teliti oleh Josephus.

Selama masa itu bangsa Yahudi terus-menerus mengalami penjajahan dan kita bisa memahami mentalitas dari bangsa yang selalu dijajah, betapa keinginan untuk merdeka, keinginan untuk satu hari muncul seorang raja yang mampu mengusir penjajah itu, seorang mesias yang mengalahkan segala sesuatu, dan itu berulang-ulang muncul pada masa sebelum Kristus datang. Itu sebab dalam Yohanes 10:8 Tuhan Yesus mengatakan, “Semua yang datang sebelum Aku adalah pencuri dan perampok…” Ayat ini jangan dimengerti bahwa Yesus sedang mengatakan nabi-nabi dalam Perjanjian Lama itu salah; yang Yesus maksudkan di sini ialah Dia berbicara soal orang-orang yang datang mengaku sebagai mesias. Yesus dengan begitu jelas mengatakan semua mereka bukan mesias yang asli sebab mereka datang bukan menyerahkan nyawa mereka melainkan menimbulkan pemberontakan yang menyebabkan banyak orang Yahudi mati hanya demi untuk memimpikan kerajaan Israel merdeka, tetapi sampai jaman Tuhan Yesus mereka tetap di bawah pemerintahan Romawi. Begitu banyak orang mengikuti mesias-mesias palsu yang menggunakan cara kekerasan memakai perang untuk mengusir penjajah, akhirnya semua gagal. Maka ini perbandingan yang muncul antara Yesus, Mesias yang sejati dengan mereka. Mesias yang sejati mati memberikan nyawaNya bagi domba-dombaNya. Ini adalah konsep yang begitu sulit dipahami oleh orang Yahudi, bahkan hingga hari ini mereka tidak bisa terima.

Di dalam 1 Korintus 1:23. Paulus mengatakan, “Tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan; untuk orang-orang Yahudi satu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan.” Seorang sejarawan bernama Martin Hengel mengatakan kematian di kayu salib itu bukanlah kematian yang biasa, tetapi itu adalah satu kematian yang sangat memalukan sekali. Hanya penjahat besar, hanya orang-orang yang melakukan kesalahan besar di masyarakat, yang hidupnya sudah tidak ada lagi rasa malu, orang-orang seperti inilah yang dipaku di kayu salib. Tetapi Yesus mengambil cara mati seperti ini, bukan saja supaya Dia dipermalukan untuk kita tetapi sekaligus pada waktu kita melihat salib, orang yang ditebus, orang yang percaya kepada Tuhan Yesus melihat itu dan berkata, “Ya Tuhan, sepatutnyalah aku yang dipaku di situ.” Salib yang memalukan bagi Yesus membuat kita berpikir, “Ya Tuhan, itu adalah hal yang memalukan yang sepatutnya bagi aku.”

“Akulah Gembala yang baik.” Darimana buktinya?

Yesus memberikan point yang pertama ini, Gembala yang baik memberikan nyawaNya bagi domba-dombaNya. Kalimat ini mengajar kepada kita bagaimana orang Kristen mengerti konsep penebusan dosa itu sebagai satu penebusan Kristus menanggung dosa kita, menggantikan posisi kita. Kita yang seharusnya mati di kayu salib itu, tetapi Kristus mati mengganti kita. Di dalam teologi itu disebut “Penal Substitutionary Atonement.” Kematian Yesus Kristus di kayu salib menebus kita bersifat mengganti. Apa yang diganti? Penalty dosa kita. Roma 3:23 berkata upah dosa adalah maut. Tetapi Allah tidak ingin domba-dombaNya menerima upah dosa itu, maka dalam 2 Korintus 5:21 Paulus berkata, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” Yesus tidak sepatutnya mati di kayu salib sebab itu melanggar prinsip Allah sendiri. Apa prinsip Allah? Upah dosa adalah maut. Ibrani 4:15 mengatakan selama Yesus hidup di dalam dunia, Ia tidak melakukan dosa. Maka Yesus mati di kayu salib jelas bukan karena dosaNya. Ini penting sekali untuk dimengerti. Maka kematian Kristus di kayu salib itu adalah kematian sebab Ia mengambil tindakan ini, menjadi pengganti engkau dan saya. Dan pada waktu Ia menggantikan kita, 2 Korintus 5:21 mengatakan itulah saatnya Ia yang tidak berdosa menjadi berdosa. Kapankah hal itu terjadi? Hampir semua teolog setuju dengan apa yang dikatakan oleh Martin Luther, momen dimana Yesus menjadi berdosa sesaat di kayu salib adalah momen pada waktu Ia berseru, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Setiap kali Yesus berdoa kepada Allah, Ia selalu menyebutnya “Bapa.” Pada waktu Yesus berada di atas kayu salib, kalimat pertama yang Ia ucapkan adalah, “Bapa, ampunilah mereka…” Bahkan di akhir penyaliban, ketika Yesus menghembuskan nafas terakhir, Ia berseru, “Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu…” Tidak ada sesaat pun di dalam hidupNya, Yesus Kristus tidak memiliki relasi begitu intim antara Bapa dan Anak, kecuali di satu momen yang sangat penting di atas kayu salib, Yesus tidak memanggil Allah Bapa, hanya satu kali, dan kali itu adalah pada waktu Ia menanggung dosa kita. Itu sebab Ia berseru, “AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Ia yang tidak berdosa dijadikan berdosa pada momen ini, tepat jam 12 matahari berhenti bersinar dan kegelapan memenuhi tempat itu. Dengan seruan nyaring Yesus memanggil, “Allahku…” Itu adalah prinsip Alkitab yang benar, sekalipun Ia adalah Anak, tetapi pada saat Ia menanggung dosa kita Ia terhitung sebagai sinner, dan reaksi Allah yang suci kepada orang berdosa adalah memalingkan wajahNya, karena mata Tuhan terlalu suci untuk melihat dosa. Sehingga pada waktu Allah berbalik meninggalkan AnakNya, itu adalah momen yang paling menyedihkan bagi Yesus Kristus, karena tidak ada bagian di dalam hidupNya Ia berpisah sejenakpun dengan Bapa. Pada saat Bapa membalikkan diri, Yesus berseru dengan seluruh kepedihan hati. Tetapi hal yang paling menyedihkan itu Yesus ambil sepenuhnya karena Ia yang mengambil keputusan itu, menanggung dosa engkau dan saya. Itulah bukti kalimat, “I am the Good Shepherd.” Itulah bukti “Akulah Gembala yang baik.”

Engkau bertanya, Tuhan, bagaimana saya tahu keselamatan itu terjadi bagiku? Yesus mengatakan, Aku menyerahkan diriKu bagi dosa-dosamu. Kita tidak mungkin bisa tanggung sendiri dosa kita, sebab dosa kita terlalu dalam adanya. Yesaya 64:6 mengatakan perbuatan baik apapun yang kita lakukan itu bagaikan kain kotor yang tidak mungkin bisa membersihkan hal yang sudah kotor. Dosa kita terlalu dalam, siapa yang bisa menggantikan kita? Kecuali Yesus Kristus datang mati bagi dosa-dosa kita.

Dosa tidak boleh dimengerti karena kita ignorant, dosa tidak boleh dimengerti karena kita unfortunate, itu nasib buruk, itu karena kita ambil keputusan yang salah akhirnya susah. Mari kita melihat dengan perspektif yang jelas. Berdosa bukan karena kurang pendidikan; berdosa bukan karena dia miskin; berdosa bukan karena dia lahir dalam lingkungan yang unfortunate; berdosa bukan karena dia lahir dari satu budaya yang tidak mengerti benar dan salah. Berdosa bukan karena hal-hal itu. Alkitab dengan jelas sekali berkata, manusia berdosa karena manusia dengan sengaja memberontak kepada Tuhan. Roma 1:21 berkata “Sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak mau memuliakan Dia sebagai Allah dan mengucap syukur kepadaNya. Sebaliknya, pikiran mereka menjadi sia-sia, dan hati mereka menjadi bodoh dan gelap…” Dan selanjutnya inilah dua reaksi manusia di dalam sikap keberdosaannya, Roma 1:23, “mereka mengganti Allah…” dan Roma 1:28 “mereka merasa tidak perlu mengakui Allah…” Tindakan “mengganti” berarti mereka mengakui Allah itu ada tetapi tidak mau mengakui yang benar, itu sebab bikin yang palsu. Itulah idolatry, penyembahan berhala. Allah yang sejati tidak diakui oleh manusia, dan sebaliknya manusia menyembah allah yang dibikin sendiri, allah yang bisa diatur seturut dengan konsep dan kemauan sendiri, sehingga manusia tidak perlu merasa bersalah di dalam hidup ini. Manusia membuat allah yang bisa diperintah, allah yang tidak menyulitkan dan tidak perlu menuntut sesuatu dariku. Dalam Yesaya 40:19 Tuhan berkata, “Patungkah Aku sehingga engkau membuatKu dengan emas?” Kenapa manusia bikin patung? Kenapa manusia bikin berhala? Sebab manusia ingin membikin allah seturut dengan konsepnya. Allah yang baik, allah yang selalu memberi, allah yang kalau kita hormati dia akan memberi berkat dengan kelimpahan, allah yang selalu melindungiku dari mara bahaya, allah seperti ini yang dibikin. Jadi kata “mengganti” mewakili satu konsep tindakan manusia memberontak kepada Allah yang sejati dengan menciptakan allah berhala.

Yang kedua, Roma 1:28 “manusia merasa tidak perlu mengakui Allah.” Itu adalah Ateisme. Sejarah membuktikan inilah dua cara manusia untuk tidak mau menerima Allah yang sejati. Jalur “idolatry” dan jalur “atheism.” Dua ayat ini dengan begitu akurat mengatakannya. Inilah dua sikap manusia tidak mau memuliakan Allah, dengan menggantikan dengan allah yang palsu, itulah idolatry. Allah kita mungkin bukan patung, allah kita mungkin bisa sesuatu yang tidak kelihatan: uang, materi, masa depan, kekuatan, keperkasaan, power, kesanggupan kita mengatur segala sesuatu, itu adalah berhalamu. Kedua, manusia merasa tidak perlu ada Allah, bukan karena Allah itu tidak ada, tetapi mereka menjadi allah bagi diri mereka sendiri, itulah ateisme. Aku berdosa bukan karena aku tidak tahu, tetapi itulah sifat manusia yang berontak kepada Tuhan.

Maka domba-domba yang tersesat itu dibawa dan dipanggil pulang oleh Gembala yang Agung itu. Hanya mereka yang mendengar suaraNya, yang mengenal Dia dan percaya kepadaNya, akan kembali sebab Dia datang mengganti dan menebus mereka dari dosa-dosanya. Dia datang membawa engkau dan saya kembali ke kandangNya, supaya Ia jaga dan pelihara kita. Itulah jalan yang Ia beri kepada kita, sang Gembala yang baik.

Yang kedua, janjiNya sebagai Gembala yang Baik adalah janji memelihara kita kekal sampai selama-lamanya. Itu bedanya gembala yang baik dengan gembala upahan. Gembala upahan begitu melihat ada marabahaya, dia akan lari menyelamatkan diri sendiri. Gembala upahan begitu melihat ada sesuatu yang tidak menguntungkan, dia akan lari meninggalkan domba-dombanya. Puji Tuhan, ayat ini menjadi penting, sebab itu mulai dari awal Kekristenan Gereja Mula-mula memakai istilah “gembala” itu sebagai pelayan Tuhan. Kata “pastor” di dalam bahasa Latin kalau diterjemahkan adalah “shepherd,” untuk mengingatkan itulah tugas dari pelayan-pelayan Tuhan. Maka mereka yang melayani Tuhan, melayanilah bukan sebagai seorang gembala upahan. Dia harus ada di depan, dia harus rela menerima segala kesusahan dan kepahitan, kesulitan supaya dia bisa membawa domba-dombanya dengan baik. Gembala yang baik adalah gembala yang memberi makan domba-dombanya rumput yang sehat dan segar dan menuntun mereka yang terluka.

Yesus berjanji menjadi Gembala yang memimpin domba-dombaNya sampai kekal. Itu adalah jaminan keselamatan yang kita terima. Mari kita mengerti ayat ini berarti ketika kita percaya dan terima Tuhan, Yesus berkata engkau telah berpindah dari maut kepada hidup. Engkau sudah pindah dari kematian kepada hidup yang kekal. Kenapa bisa jaminan keselamatan itu menjadi kekal selama-lamanya? Sebab Dia yang mati di kayu salib itu memiliki hidup yang tidak terbatas, demikian kata penulis Ibrani. Yesus Kristus bilang, Aku memberikan mereka di dalam perlindungan tangan BapaKu yang lebih besar daripada segala-galanya. Tidak ada satupun yang bisa merebut anak-anak Tuhan dari tangan Bapa.

Yang terakhir, Tuhan Yesus berkata, “Aku datang supaya mereka memiliki hidup dan memilikinya di dalam segala kelimpahan…” (Yohanes 10:10) “Aku memberikan hidupKu kepada Bapa dan akan menerimanya kembali…” (Yohanes 10:17). Menerima Kristus sebagai Gembala yang Agung di dalam hidupmu berarti kita menerima Dia mengganti hidup kita. Menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat berarti Dia memberi hidup yang kekal, jaminan keselamatan bagi kita. Menerima Dia berarti menerima janji Dia, hidupmu yang ditebus olehNya adalah hidup yang berkelimpahan. Sayangnya, ada banyak orang Kristen salah mengerti dan salah menafsirkan ayat ini, mereka pikir ayat ini bilang berarti orang Kristen akan lebih kaya, lebih makmur, lebih banyak segala-galanya dengan berkelimpahan. Kita harus memahami ayat ini kaitannya dengan ayat 17, hidup itu Aku beri dan Aku akan mengambilnya kembali, mengiangkan kalimat Tuhan Yesus yang penting, “Barangsiapa yang menyerahkan nyawanya bagi Aku, dia tidak akan pernah kehilangan nyawanya” (Matius 10:39). Mau hidup yang berkelimpahan? Hidup yang berkelimpahan tidak boleh lepas dari cara yang diberi oleh Tuhan Yesus, barangsiapa yang berkorban memberikan hidupnya bagi Aku, dia tidak akan kehilangannya, tetapi dia akan menerimanya kembali dengan kelimpahan.(kz)