17. Sehati Sepikir dalam Tuhan

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Filipi (17)
Tema: Sehati Sepikir dalam Tuhan
Nats: Filipi 4:1-5

Kita dicipta Tuhan sebagai mahluk sosial, tidak ada satu pun di antara kita yang sanggup untuk hidup seorang diri, hidup hanya bagi diri sendiri, memenuhi kebutuhan diri sendiri, dan tidak perlu orang lain. Kita perlu berinteraksi dengan manusia yang lain; kita adalah mahluk yang dicipta Tuhan dengan keterbatasan; kita tidak bisa sustain hidup kita pada diri kita sendiri. Hanya Tuhan Allah yang Alkitab katakan “God is self-sustaining God,” Allah kita adalah Allah yang mencukupkan diriNya sendiri. Dengan singkat kita bisa mengatakan Ia adalah Allah yang sebetulnya tidak membutuhkan siapa pun di luar diriNya, termasuk kita manusia; Ia tidak membutuhkan ciptaanNya untuk memuliakan Dia. Tetapi di dalam kepenuhan dan kelimpahanNya, Ia menciptakan dan menginginkan mahluk ciptaanNya, khususnya kita umat tebusanNya, mengerti dan menikmati betapa baiknya Tuhan itu di dalam hidup kita.

Dalam Filipi 4:1-5 Paulus memberikan tiga perintah singkat yang memakai kata “en Kurio,” “in the Lord” atau “dalam Tuhan” : berdiri teguh dalam Tuhan, stand firm in the Lord (ayat 1); sehati sepikir dalam Tuhan, agree in the Lord (ayat 2); bersukacitalah dalam Tuhan, rejoice in the Lord (ayat 4).

Tiga perintah singkat ini berbicara mengenai tiga relasi kita yang harus disustain dengan kekayaan yang kita miliki di dalam Kristus, melihat tiga hal itu di dalam perspektif Tuhan kita dan mengalami itu semua di dalam segala kelimpahan yang Tuhan beri kepada kita. Jika tidak ada dasar seperti itu kita akan cape, kita akan kesal, kita akan marah dan mungkin kita tidak sanggup bisa menjalankan tiga relasi itu.

Pada waktu Paulus mengatakan berdirilah teguh dalam Tuhan, dia berbicara soal bagaimana relasi kita dengan hal yang di luar. Konteks kehidupan kita sangat dipengaruhi dengan bagaimana situasi di lingkungan kita. Kalau keadaan kita baik, kita senang dan sukacita. Kalau situasi dan keadaan kita berat dan sulit, itu pasti akan mempengaruhi hidup kita. Tantangan dan kesulitan itu sanggup bisa menggoyahkan hidup kita karena terlalu berat adanya. Hati kita menjadi kecil dan kecewa. Itu sebab di dalam relasi dengan hal-hal yang ada di luar, Paulus tidak mengatakan bahwa terpaan itu harus berlalu, keadaan menjadi lancar lebih dulu, tetapi yang terpenting adalah soal apakah kita teguh berdiri di dalam Tuhan. Kita seringkali berdoa minta Tuhan agar hidup kita selalu berjalan lancar, jangan ada tantangan kesulitan. Tetapi mari kita lihat dalam aspek pertama ini, bukan itu yang kita doakan; kiranya kita berdoa agar Tuhan memberi kita kekuatan untuk menghadapi dan menanggung segala tantangan yang datang ke dalam hidup kita.

Yang kedua, firman Tuhan memanggil kita untuk sehati sepikir dalam Tuhan, agree in the Lord. Itu adalah relasi kita dengan orang lain yang ada di sekitar hidup kita. Menghadapi orang-orang di luar dirimu, suami atau isteri, anak atau kolega, teman dan rekan pelayanan, mari kita sehati sepikir dalam Tuhan. Yang ketiga, bersukacita dalam Tuhan adalah bagaimana relasi kita dengan diri kita sendiri, relasi dengan hati kita, ada satu perasaan yang harus senantiasa ada dan perlu dengan puas diri yaitu bersukacita senantiasa.

Hari ini secara khusus kita akan membahas perintah Paulus yang kedua, sehati sepikir dalam Tuhan. Dalam Filipi 4:2 Paulus secara spesifik menyebut nama Euodia dan Sintikhe, nama dua orang wanita di dalam jemaat Filipi dalam konteks kelihatannya ada konflik dan pertengkaran terjadi di antara mereka. Ada nada sedih dan prihatin Paulus berkata, “I plead with Euodia, I plead with Syntyche…” Entah sejak kapan peran dan posisi wanita perlahan-lahan tidak lagi memiliki posisi yang prominent, yang dihargai dan dihormati di dalam pelayanan. Kita melihat di dalam gereja nampaknya yang mendapat hormat dan posisi memimpin dalam pelayanan mayoritas adalah kaum pria. Pendeta pria, penatua pria, pengurus hampir semua pria. Padahal para wanita di belakang tirai bekerja keras tidak mau ambil posisi, pujian dan jabatan. Tetapi waktu masuk ke dapur, yang ada para ibu yang sigap dan pandai masak. Guru Sekolah Minggu, sebagian besar adalah para wanita. Kalau kita lihat dan baca di Alkitab, Gereja Mula-mula memperlihatkan peranan wanita dalam pelayanan begitu penting luar biasa. Mulainya gereja di Filipi adalah dari seorang wanita yang percaya Tuhan bernama Lidia yang membuka rumahnya untuk memulai gereja (Kisah Rasul 16:13-15). Euodia dan Sintikhe, siapakah mereka ini? Tidak terlalu jelas. Beberapa penafsir mengatakan mungkin mereka adalah dua isteri pendeta yang sedang ribut; atau mungkin mereka adalah home-church leaders kepala gereja rumah. Paulus bicara secara indah, dengan imbang dan tidak memihak kepada siapa, “Hai Euodia, hai Sintikhe, sehati sepikirlah dalam Tuhan.” Lalu Paulus lanjutkan, “bahkan kuminta kepadamu Sunsugos kawanku yang setia, tolonglah mereka…” (Filipi 4:3). Dalam terjemahan Indonesia seolah menunjukkan ini adalah nama seseorang. Tetapi dalam terjemahan Inggris lebih mengacu kepada arti dari kata “sunsugos” yaitu my true companion, temanku yang setia, bukan kepada nama seseorang. Entah siapa teman yang Paulus minta untuk menjadi penengah di antara dua wanita ini. Ada yang menafsir itu adalah Timotius atau Epafroditus yang membawa surat Filipi ini, atau kepada orang yang lain. Dan ada nama seorang yang lain yang disebut Paulus di sini yaitu Klemens. Alkitab tidak menutup-nutupi bahwa di dalam gereja Tuhan, di antara sesama anak-anak Tuhan juga bisa terjadi pertengkaran dan perselisihan. Paulus tidak bicara di sini untuk membela pihak siapa, dan Paulus juga tidak membicarakan apa yang menjadi persoalan di antara mereka. Tetapi Paulus berbicara tentang satu stand point yang penting dan perlu, bukan stand point Euodia, bukan stand point Sintikhe, tetapi Paulus mengajak mereka di dalam disagreement dan konflik itu berdiri di dalam satu stand point yang indah dan benar yaitu stand point “agree in the Lord.”

Dalam Filipi 3:20-21 Paulus berkata, “Karena kewargaan kita adalah di dalam surga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus…” Paulus mengingatkan satu kali kelak kita akan bertemu dengan Yesus Kristus, panggilan kita adalah suatu panggilan surgawi, kewargaan kita ada di surga, mari kita lihat yang di atas, kita memiliki harta surgawi yang di atas. Lalu di Filipi 4:3 Paulus bicara mengenai aspek “nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan.” Kemudian di Filipi 4:5 “Tuhan sudah dekat.” Mengapa Paulus terus membawa jemaat untuk memikirkan soal Yesus akan datang kembali? Dalam dunia ini, dalam hidup kita sehari-hari jangan fokus kepada hal-hal yang ada di sini. Jangan hati kita tertarik kepada apa yang di sini. Jangan menilai hidup kita itu dipenuhi dengan apa yang ada di sini, karena satu kali kelak semua ini akan dinilai dari atas. Let your eyes focus on the heavenly calling. Jangan kita kukuh dan ngotot mengejar dan memegang apa yang ada di sini. Bisa jadi pada waktu kita berdiri di hadapan Tuhan, semua itu tidak ada lagi. Barangsiapa yang terus memegang apa yang ada di dalam dunia yang sementara ini satu kali kelak pada waktu bertemu Tuhan semua itu akan habis lenyap. Tuhan Yesus mengingatkan, simpanlah hartamu di surga, di sana ngengat dan karat tidak akan merusaknya dan pencuri tidak akan mencurinya. Dimana hartamu berada, di situ hatimu berada.

Hal kedua yang menarik di sini, Paulus menyebut nama Euodia, nama Sintikhe, nama Klemens, dan setelah itu “dan kawan-kawanku sekerja yang lain…” Apa yang kita belajar dari sini? Paulus tidak menyebut satu-persatu siapa mereka. Kalau kita adalah orang-orang itu, apa tidak tersinggung? Memangnya tidak sama susahnya, sama beratnya, sama capenya, sama perjuangannya dengan Klemens? Kenapa cuma nama dia yang disebut, namaku tidak? Yang harus menjadi perhatian kita adalah kalimat selanjutnya “yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan.” Dari situ kita dapat sedikit menebak-nebak kemungkinan pertengkaran di antara Euodia dan Sintikhe bicara dan berebut soal jasa, pujian, hormat atas apa yang mereka kerjakan di dalam dunia ini. Euodia mungkin menuntut untuk mendapatkan porsi kehormatan lebih banyak daripada yang lain; Sintikhe juga mungkin menuntut hal yang sama. Kemuliaan, arogansi, ingin mendapatkan pujian, reward dan hormat bagi diri, mau menjadi yang lebih utama daripada yang lain, dan mau menjadi yang lebih dihormati daripada yang lain, itu menjadi penyebabnya.
Maka di sini seolah Paulus mau mengingatkan jangan bicara soal itu, karena sampai di surga yang paling penting, adakah namamu tercantum dalam kitab kehidupan itu? Namamu mungkin terlewat tidak disebutkan waktu selesai satu pelayanan, jangan itu membuat hatimu tersinggung. Yang terpenting, adakah namamu tercantum di sana? Daripada nama kita disebut-sebut, dipuji-puji, dikenal di sini, tetapi sampai di sana tidak ada. Mau yang mana?

Kepada dua orang ini Paulus memanggil mereka untuk satu hati di dalam Tuhan. Paulus memuji mereka “telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil” dan bukan hanya mereka, masih begitu banyak orang-orang, teman-teman sekerja yang sama-sama berbagian dalam pekabaran Injil dengan mereka juga. Nama mereka tidak Paulus sebutkan satu-persatu karena ada banyak sekali. Jangan ada di antara kita yang sampai mengatakan kita lebih hebat, lebih berkorban, lebih cape daripada rekan-rekan yang lain, dan akhirnya menjadikan hatimu kecewa dan pahit karena tidak mendapatkan penghargaan yang sepatutnya engkau harapkan. Karena satu hari kelak bahagia dan sukacita melihat namamu tercantum dalam kitab kehidupan Tuhan itu jauh lebih indah dan sukacita seperti itu terus memenuhi hatimu selama-lamanya. Pada waktu kita tidak melihat aspek itu, hati kita bisa menjadi sempit. Mari kita melihat sekeliling, begitu banyak orang yang berbagian dalam pelayanan, ada kawan-kawan sekerja yang lain yang mungkin diam-diam bekerja di belakang panggung. Mereka yang melakukan hal-hal yang kelihatan kecil dan remeh, mereka yang berlutut berdoa, mereka yang mengajak dan menemani, semua itu mungkin tidak mendapatkan penghargaan dan pujian di dunia ini, jangan sampai itu mengganggu hatimu. Karena yang lebih utama, nama-nama orang-orang seperti itu tercantum dalam kitab kehidupan Allah.

Yang kedua, dalam relasi dengan orang-orang yang terdekat dalam hidup kita, firman Tuhan memanggil kita untuk memegang prinsip yang sama, sehati sepikir dalam Tuhan. Efesus 5:21 “…dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus” adalah sebuah ayat yang unik ditempatkan di antara dua tema. Kalau menjadi ayat terakhir dari bagian atas bisa menjadi satu kesimpulan bagaimana hidup orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus, orang itu adalah orang yang saling merendahkan diri satu sama lain di dalam Kristus, menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri. Kalau itu diletakkan di bagian selanjutnya, bisa menjadi sebuah ayat yang menuntun bagaimana relasi yang indah di antara suami isteri, orang tua dan anak, tuan dan budak, rekan pelayanan diawali dengan relasi yang beres dengan Tuhan yaitu kita menghormati Kristus akan menghasilkan sikap hati yang merendahkan diri dalam relasi horizontal satu dengan yang lain. Ayat ini memanggil kita bagaimana secara praktis “agree in the Lord” diwujudkan dengan saling merendahkan diri di dalam takut akan Tuhan.

Relasi antara suami isteri, relasi antara orang yang dekat, tidak lepas dari disagreement dan hal-hal yang berbeda pendapat, kesulitan dalam komunikasi, dsb. Relasi dengan anak, relasi dengan orang tua, relasi dengan rekan, akan menghadapi hal-hal yang berbeda dan bisa menciptakan disagreement bahkan bisa tereskalasi menjadi suatu konflik yang besar. Di dalam hidup kita bergereja kita juga bisa akan mengalami disagreement dan konflik yang sama seperti itu. Rev. Tim Keller mengatakan hambatan terbesar sebuah relasi menjadi baik dan sehat adalah adanya hati yang egois dan self-centred. Kita adalah manusia berdosa yang selalu hanya mau melihat kepentingan diri sendiri. Kalau tanya kepada suami isteri kapan mulainya cekcok dan pertengkaran, karena suami yang egois, direspons dengan sikap dingin oleh isteri, lalu mulai marah dan menyindir dengan kata-kata. Suami jadi irritated, lalu keluar kata-kata yang kasar. Intinya karena kita mau dilayani dulu, diperlakukan lebih utama dulu. Alkitab mengingatkan yang sebaliknya, mulai dari diri kita, hormati dan hargai orang lain ketimbang menuntut orang lain menghormati dan menghargai kita. Lakukan hal itu lebih dulu, bukan karena orang itu lebih dulu melakukan hal itu kepadamu. Semua itu berlandaskan karena kita mencintai Tuhan. Kita akan cinta orang kalau lebih dulu kita cinta Tuhan. Maka bagi Euodia dan Sintikhe, Paulus memanggil mereka untuk “agree in the Lord,” bukan tunggu Euodia baik dulu dengan Sintikhe, baru Sintikhe baik kepadanya. Atau mungkin dia pernah tidak baik kepadamu, jangan sampai urusan seperti itu menjadikan kita self-centred dan pasif menunggu orang lebih dulu bertindak bagi kita. Kita harus melihat bagaimana Tuhan itu mencintai dan mengasihi kita jauh sebelum kita mencintai dan mengasihi Tuhan. Alkitab mengatakan, saat kita masih menjadi musuh Tuhan, benci Tuhan, Dia sudah mengasihi kita.

1 Korintus 13:4-8a sering menjadi ayat-ayat yang dibacakan pada acara pemberkatan nikah orang Kristen. Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, kasih tidak cemburu, tidak sombong dan tidak mementingkan diri. Itu adalah natur dari kasih yang berkorban. Lawannya adalah sikap yang self-centred. Tidak sabar, mudah tersinggung, hanya mencari kepentingan diri sendiri, kurang belas kasihan, tidak ada kebaikan, self-centeredness suka membongkar kesalahan orang, hanya bicara mengenai diri sendiri. Self-centeredness menyimpan dendam dan iri atas keberuntungan orang lain. Semua kita, hambatan keindahan relasi dengan orang-orang terdekat di sekitar hidup kita adalah hati yang self-centeredness. Kenapa Paulus membicarakan soal relasi itu dimulai lebih dulu dengan dasar saling menghormati dan merendahkan diri satu sama lain di dalam takut akan Tuhan? Itu tidak akan bisa ada di dalam hidupmu kalau engkau dan saya tidak dipenuhi oleh Roh Kudus. Karena natur dari kasih yang berkorban hanya datang dari atas. Kalau itu datangnya dari kita, kita akan bilang seperti Petrus, “Tuhan, berapa kalikah aku harus mengampuni saudaraku? Tujuh kalikah?” karena kasih kita terbatas. Biar kasih Tuhan lebih dulu memenuhi hati kita. Engkau tidak bisa mencintai isterimu dengan sacrificial love sebelum bank cinta kita itu dipenuhi oleh Roh Kudus. Engkau tidak bisa mencintai teman dan orang yang tidak ada relasi hubungan darah kalau itu bukan dari Tuhan. Apalagi kalau harus mencintai musuh dan orang yang membenci kita, tanpa kasih dari Tuhan sulit luar biasa. Kecuali kalau Roh Allah memenuhi hati kita.

Selama kita memusatkan kepada diri sendiri, bukan saja kita menuntut orang menghargai dan menghormati kita, kita juga akan terjatuh kepada rasa self-pity dan mempersalahkan orang lain atas kesulitan kita. Setiap pertengkaran dan cekcok yang terjadi antara suami isteri umumnya selalu dimulai dengan kalimat “gara-gara dia…” Maka sebelum kita mengatakan orang itu bersalah, kita perlu introspeksi diri kita lebih dulu barangkali kita telah berbagian dalam kerumitan persoalan di antara kita.

Film “A Beautiful Mind” menceritakan kisah hidup seorang professor matematika John Nash yang sangat genius tetapi sekaligus menderita Paranoid Schizophrenia. Di saat-saat tertentu dia akan mengalami halusinasi seolah ada 3 orang yang muncul di sekitarnya yang sebenarnya tidak exist dan orang lain tidak pernah melihat mereka. Orang-orang ini hanya ada di otaknya. Sampai akhir, penyakit schizophrenia ini tidak pernah bisa disembuhkan dan tiga orang yang selalu muncul tidak pernah meninggalkan benaknya, tetapi Prof. Nash mengatakan selama dia tidak “feed” them, let them weak and starve. Acuhkan dan jangan pedulikan, maka dia tidak akan terganggu dengan kehadiran mereka. Ini prinsip yang baik. Selama hati dan pikiran kita terus kita “feed” dengan mengingat-ingat kesalahan orang, dengan menyimpan kemarahan dan sakit hati kepada orang, kita akan sulit menjadi seorang yang penuh dengan kasih. Pikiran negatif akan menjadi gemuk dan kuat dan sulit untuk dikalahkan, dia akan mengontrol dan menguasai hati kita. Itu yang Tuhan ingatkan kepada Kain, pada waktu hatinya penuh dengan iri dan marah kepada Habil. “…dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya” (kejadian 4:7). Jangan biarkan dia menguasai hatimu, membuat hatimu dipenuhi oleh marah, benci, iri, pahit dan mempersalahkan orang lain atas hidupmu. Jangan sampai hati kita penuh dengan kedengkian, kurang sabaran dan sering marah terhadap kelemahan orang, mementingkan diri sendiri, menuntuk dihargai dan dihormati.

Bagian ini mengajak kita membawa hati kita di dalam Tuhan. Apa yang Tuhan sudah beri kepada kita, segala kekayaan dan rahmatNya, jadikan itu sebagai kekayaan rohani yang selalu berlimpah di dalam hati kita. Mari kita pulang, kita restore hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita dengan sacrificial love itu. Tidak tunggu dua party baru mesin itu bisa berjalan, hanya mulai dari satu orang yang rela bekerja dan menggerakkan mesin itu sudah bisa jalan. Jangan tunggu pihak lain yang memulai, mari kita lebih dulu yang memulainya.

Kiranya Bapa kita di surga menolong setiap kita untuk dituntun dengan indah dan benar di dalam kasih Tuhan yang penuh pengorbanan supaya kita boleh mengisi dengan kaya dan limpah rasa hormat dan cinta kepada Tuhan, dengan mengingat kasih Tuhan yang begitu besar, pengorbanan Tuhan yang dalam, itu boleh menjadi harta yang tidak habis-habisnya memenuhi hati kita. Bersyukur karena apa yang kita kerjakan meskipun tidak terlihat orang, yang kita kerjakan dengan penuh cinta dan berkorban bahkan kalau sampai kita harus memberikan nyawa kita bagi Tuhan, semua itu tidak akan pernah hilang dengan sia-sia. Kelak pada waktu buku kehidupan itu terbuka, kita percaya nama kita ada tertulis di situ, itu lebih daripada segala-galanya, itu lebih dari cukup, itulah kekayaan kita.(kz)