18. Bersukacita dalam Tuhan

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Filipi (18)
Tema: Bersukacita dalam Tuhan
Nats: Filipi 4:4-7

Sebagai anak-anak Tuhan tidak sedikit di antara kita yang menghadapi hidup yang begitu keras, penuh dengan tantangan, kesulitan dan air mata. Tantangan yang susah dan sulit bisa datang bertubi-tubi bagaikan terpaan badai topan yang silih berganti, bergiliran tidak henti-hentinya. Sakit-penyakit bisa datang kapan saja; kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian bisa datang mendadak; harta benda bisa lenyap tanpa ada tanda-tanda. Di dalam relasi kita terhadap hal-hal yang keras dan sulit terjadi di luar, firman Tuhan memberikan panggilan untuk kita berdiri teguh dalam Tuhan, stand firm in the Lord. Kuatkan dan teguhkan hatimu, tidak tergantung soal berapa besar dan berapa sulitnya terpaan dari badai topan itu, hanya dengan bersandar kepada Tuhan engkau tidak akan tercabut, terangkat dan terlempar karena akar kita tertanam teguh dan kuat di dalam Tuhan kita.

Kita juga seringkali cape dan lelah, kesal dan jengkel, terutama dalam menjalani relasi dengan orang yang dekat dengan kita. Mungkin itu suami, isteri, anak, atau papa atau mama. Keluar dari rumah sudah mumet terlalu banyak kesulitan, ketemu boss di kantor juga sedang “bete.” Ketidak-harmonisan di dalam relasi dengan orang tidak ada habis-habisnya karena ada pressure ini dan itu. Kadang kita harus berada dalam posisi bersabar dan mengalah dan berinisiatif untuk menenun hubungan dengan orang-orang yang sama di sekitar kita, suka atau tidak suka. Berbeda dengan situasi dan orang-orang di luar, kita tidak bisa lari dan menghindar kalau orang-orang itu adalah anggota keluarga kita sendiri. Problem itu akan selalu ada. Menghadapi relasi dengan orang-orang yang dekat, Tuhan memanggil kita untuk sehati sepikir dalam Tuhan, agree in the Lord. Banyak hal mungkin kita tidak setuju, banyak hal mungkin kita berbeda pendapat dan pandangan, tetapi pada waktu kita membawa itu semua di hadapan Tuhan mari kita sehati sepikir dalam Tuhan. Rasul Paulus mengatakan nasehat ini di tengah konflik dan problem yang terjadi di dalam jemaat Filipi. Ada Euodia dan Sintikhe yang berseberangan dan tidak sehati sepikir karena ada konflik kesulitan terjadi dalam relasi mereka. Situasi itu mungkin menjadi situasi yang tidak enak di antara jemaat yang lain yang ada pada waktu itu. Paulus memanggil mereka untuk sehati sepikir dalam Tuhan.

Tetapi pada waktu kita bicara soal “peace” damai sejahtera, seringkali kita hanya berpikir bagaimana saya ada damai, bagaimana saya ada sejahtera dengan orang lain, namun hari ini kita akan renungkan dari aspek yang mungkin tidak pernah kita pikirkan, bagaimana kita berdamai dengan diri kita sendiri. Banyak orang berpikir bahwa ketenangan dan damai itu terjadi pada waktu situasi di luar tenang dan damai. Terlalu banyak ketidak-damaian terjadi di luar kita, bisa jadi semua persoalan itu timbul karena kita tidak pernah berdamai dengan diri. Firman Tuhan di bagian ini bicara mengenai hal ini. “Bersukacitalah dalam Tuhan, sekali lagi kukatakan bersukacitalah!” lalu di bagian terakhir “Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal akan memelihara hati dan pikiranmu…” Damai sejahtera yang dari Allah itu akan memenuhi hati dan pikiran kita, damai yang melampaui akal dan pemahaman kita.

Kita akan terpana menjumpai seseorang yang dalam keadaan sulit tetapi hidupnya penuh dengan sukacita, ada ketenangan dan kedamaian yang bagi kita seolah mustahil ada padanya di tengah segala prahara dan kesulitan yang dia alami. Rumahnya habis terbakar, seluruh hartanya habis, anak-anaknya tidak terselamatkan, dia sendiri sedang mengidap kanker stadium akhir. Tetapi pada waktu engkau bertemu dengannya, tidak tersirat sedikitpun kepahitan dan kemarahan, sebaliknya damai sejahtera dan ketenangan yang memenuhi wajahnya dan kata-kata yang keluar dari mulutnya begitu menghibur dan menguatkan kita.

Itulah damai yang Alkitab katakan melampaui pikiran biar damai sejahtera itu memerintah hatimu. Let that peace guard your heart and mind in Christ Jesus. Berdamai dengan hati kita sendiri? Dapatkah kita memerintahkan emosi kita? Dapatkah kita mengatur emosi kita? Kita merasa tidak mungkin emosi itu kita perintah, dia seolah independent sendiri. Bahkan makin diperintah untuk bersukacita, sdr makin tidak ada sukacita. Itu sebab kita sekarang sedikit mengerti kenapa Paulus mengulang sampai dua kali memerintahkan, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan, sekali lagi kukatakan, bersukacitalah!” Sulit sekali. Bagaimana bisa bersukacita? Bukankah emosi kita itu sangat dipengaruhi dari luar? Bukankah emosi kita itu sangat dipengaruhi dari reaksi orang? Bagaimana saya bisa bersukacita di saat saya sedang ada kesulitan, ada problem? Kita sudah hidup di dalam dunia dimana emosi kita yang mengontrol diri kita.

Di dalam relasi dengan diri sendiri, firman Tuhan mengatakan biarlah damai sejahtera Allah memelihara hati dan pikiran kita di dalam Tuhan. Di situlah kita menemukan peace and joy in Christ Jesus. Inilah rahasia hidup yang tidak bisa direbut dan tidak bisa diganti oleh agama dan kepercayaan yang sudah salah dalam kacamata dunia barat. Dunia barat mengatakan agama yang bisa memberikan damai sejahtera dan ketenangan itu adalah agama timur dan Buddhism. Tidak. Alkitab mengatakan damai sejahtera dan sukacita yang sejati, yang melampaui akal ada di dalam Yesus Kristus. Agama timur menawarkan hidup yang penuh dengan kedamaian dan lepas dari kekuatiran dengan cara melarikan diri dari semua keinginan sehingga pembicara-pembicara yang laku untuk tema itu adalah Dalai Lama dan Deepak Chopra. Transcendental meditation dianggap cara untuk mendapatkan hal-hal seperti itu.

Tetapi sejujurnya, banyak orang sudah ikut Tuhan sekian lama, belum pernah mengalami apa yang namanya damai sejahtera yang sesungguhnya. Kenapa kita kehilangan mutiara yang berharga itu, yang Tuhan Yesus sudah janjikan dan berikan bagi kita? “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahteraKu Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia. Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yohanes 14:27). Kenapa kita tidak menikmati peace yang Tuhan Yesus sudah janjikan dan berikan bagi kita?
Rasul Paulus memberikan perintah agung ini, “Rejoice in the Lord all the time; and all the time rejoice in the Lord.” Ingatkan, kalimat ini keluar dari mulut seorang rasul yang bukan hanya mengatakannya di mulut saja tetapi nyata dari apa yang terjadi di dalam hidupnya.

Pada waktu dia babak belur dipukuli di dalam penjara, sukacita itu tidak hilang dan sirna. Itu menjadi daya atraktif yang kuat luar biasa. Dalam peristiwa itu Paulus dan Silas sedang dalam keadaan terbelenggu oleh rantai besi yang kuat, dengan penjaga penjara sekeliling mereka. Namun mereka dengan sepenuh hati menyanyi memuji Tuhan, dan narapidana lain mendengarkan mereka. Tiba-tiba oleh kuasa Tuhan, terjadi gempa yang merobohkan tembok-tembok penjara dan semua rantai belenggu mereka terlepas. Betapa mengherankan, tidak ada satupun dari narapidana itu yang melarikan diri. Semua dengan tenang duduk di sekitar Paulus dan Silas (Kisah Rasul 16:23-28). Inilah hal yang kita miliki di dalam Tuhan, yang tidak boleh tidak ada di dalam diri kita. Mengapa damai dan sukacita seperti itu tidak ada di dalam hidup kita dan kalaupun ada, gampang sekali hilang?

Bagian ini juga memberitahukan kepada kita ada satu hal yang bisa mencekik hidup spiritual kita, seperti asap tebal yang mengganggu pernapasan kita, yang menjadi onak duri yang menjerat hati kita dan membunuh sukacita kita. Filipi 4:6 “Janganlah kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Kekuatiran bisa membunuh sukacita kita. Kekuatiran menjadi tema yang terus diulang oleh Tuhan Yesus. Dalam Matius 6:25 Yesus bicara soal the anxiety of life. Kuatir itu seharusnya bukan hal yang dimiliki anak-anak Tuhan. Maka Yesus menegur dengan keras, “Engkau berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah” (Matius 6:31-32). Yesus mengatakan, “Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Jangan membawa kesusahan itu sampai besok. Orang yang tidak kuatir bukan berarti hidupnya lancar; orang yang tidak kuatir bukan berarti tidak ada kesusahan dalam hidupnya; orang yang tidak kuatir adalah orang yang tahu dan mengerti bahwa kesusahan itu harus dimulai dimana, berhentinya dimana. Orang yang tidak kuatir adalah orang yang tahu di tengah-tengah semua kesusahan itu walaupun tidak punya jalan keluar, dia tahu ada kekuatan di luar dirinya yang sanggup menjawab dan menyelesaikan, itu sebab hatinya tidak kuatir.

Yesus bicara soal kesusahan hidup, Yesus bicara apa yang di luar daripada kesusahan itu, yaitu ada Bapamu yang di surga yang tahu apa yang engkau butuhkan dan perlukan. Mengapa engkau kuatir akan semua itu? Dengan membahas topik ini, Tuhan Yesus tahu kita adalah manusia yang tidak bisa lepas dari perasaan anxiety and worry itu.

Dalam Matius 13 Yesus memberi perumpamaan tentang penabur yang menaburkan benih firman di pinggir jalan, yang dengan segera habis dimakan burung; ada yang ditabur di tanah yang berbatu, segera benih itu tumbuh tetapi karena tanahnya tipis waktu terkena panas matahari dia menjadi layu dan kering; ada benih yang jatuh di antara semak duri, makin besar semak itu lalu menghimpit tanaman itu sampai mati. Dan ada benih yang jatuh di tanah yang subur yang tumbuh dan berbuah. Benih yang jauh di tepi jalan menjadi lambang orang yang hatinya begitu keras menghina dan melawan Tuhan, si Jahat akan merebut apa yang ditabur di hati orang itu. Orang itu tidak pernah menghargai firman dan dia menolak firman yang berharga itu. Benih yang jatuh di tanah yang tipis menjadi lambang orang yang mendengar firman dan menerima dengan sukacita, tetapi saat menghadapi tantangan dan kesulitan, segera dia meninggalkan imannya. Benih itu tidak tumbuh dan berbuah. Benih yang jatuh di semak duri dengan segera tumbuh, tetapi kekuatiran dunia ini menghimpit dan mencekiknya sehingga tidak bertumbuh. Yesus memberikan ilustrasi ini untuk menggambarkannya seperti onak duri yang mencekik, firman Tuhan itu akhirnya tidak bertumbuh dan berbuah di dalam hidup orang itu. Sekali lagi Yesus mengingatkan aspek kekuatiran dari dunia ini.

Kenapa kita bisa kuatir? Jawabannya sederhana, sebab kita adalah manusia yang terbatas, dibatasi oleh ruang dan waktu, dibatasi oleh banyak aspek dalam hidup kita, tetapi kita tahu ada sesuatu dalam diri kita yang kekal adanya, yang tidak bisa dibatasi. Di situlah persoalannya. Yang tidak bisa dibatasi itu seperti lubang yang tidak ada dasarnya, dan apapun yang kita coba isi ke dalam lubang itu terbatas, dan waktu yang kita punya untuk mengisinya juga terbatas, itulah yang membuat kita menjadi worry and anxiety karena lubang itu tidak pernah penuh. Bagaimana bisa penuh karena lubang itu tidak bisa dipenuhi oleh hal-hal yang terbatas, lubang itu hanya bisa dipenuhi oleh yang tidak terbatas adanya. Itu adalah Allah kita yang tidak terbatas. St. Augustine berkata, “Thou hast made us for Thyself, O Lord, and our heart is restless until it finds its rest in Thee.” Engkau telah membuat kami bagi diriMu sendiri, ya Tuhan, dan hati kami akan senantiasa gelisah sampai mendapatkan ketenangan di dalam Engkau. Hidup kita diciptakan hanya bisa diisi oleh Tuhan. Tidak bisa diisi dengan uang, tidak bisa diisi dengan harta, tidak bisa diisi dengan kesuksesan, tidak bisa diisi oleh apapun di luar Tuhan. Itu sebab kita pasti akan selalu worry dan anxiety kalau kita terus berusaha mengisinya dengan hal-hal yang ada di dunia ini.
Setiap orang memiliki kekuatiran yang berbeda-beda. Orang miskin dalam kemiskinannya mengira kalau dia kaya, dia tidak akan memiliki kekuatiran lagi. Dia belum tahu orang kaya di dalam kekayaannya menghadapi kekuatiran yang lebih banyak. Kekuatiran orang miskin berbeda dengan kekuatiran orang kaya; kekuatiran orang miskin adalah tentang sandang, pangan, papan. Apa yang bisa dia makan, apa yang dia pakai, dimana dia bisa tinggal. Kekuatiran orang kaya adalah soal eksistensi diri. Gelisah kalau orang tidak mengenal dan menghargainya, kalau dia tidak menjadi sentral dan pusat perhatian orang. Sehingga kalau orang miskin kuatir soal bisa pakai baju atau tidak, orang kaya kuatir soal apakah bajunya cukup “kinclong” menarik perhatian orang atau tidak. Bahkan kesulitan dan penyakit orang miskin berbeda dengan kesulitan dan penyakit orang kaya. Penyakit orang miskin itu adalah borok, panu dan malnutrisi. Penyakit orang kaya itu kolesterol, serangan jantung.

Bagaimana jalan keluarnya? Sdr datang konsultasi dengan pendeta, sdr konseling minta pendeta membereskan persoalanmu. “Bagaimana saya tidak kuatir, pak, anak saya nanti bagaimana sekolahnya? Bagaimana kalau dia tidak mendapat pekerjaan?” Seratus jemaat dengan seratus persoalan, semua mengeluh dan mencurahkan kekuatirannya kepada pendeta. Apakah pendeta bisa menolongmu? Maafkan, pendeta tidak bisa menolong engkau lepas dari kuatirmu. Bahkan pendeta tidak bisa mencari jalan keluar bagi persoalanmu. Gereja juga tidak bisa menolongmu. Sdr tidak perlu kecewa, kenapa gereja tidak tolong saya? Kenapa orang kaya di dalam gereja tidak bisa tolong saya? Mereka tidak bisa menolong engkau karena mereka juga punya kuatirnya sendiri. Orang miskin bisa memberitahukan kekuatirannya kepada orang kaya, apakah orang kaya bisa memberitahukan kekuatirannya kepada orang miskin? Jangan pikir orang kaya bisa menolongmu, tidak ada siapapun yang bisa menolong. Puji Tuhan! Firman Tuhan berkata, “Janganlah kuatir tentang apapun juga, tetapi bawalah semua itu dalam doa kepada Allah” (Filipi 4:6). Dialah satu-satunya yang bisa menolong kita.

Pertanyaan saya adalah “Do you believe in prayer?” Percayakah engkau akan kuasa doa? Jika engkau tidak percaya akan kuasa doa, semakin kuatir hatimu, semakin penuh kecemasanmu. Engkau bisa tidak percaya kepada gereja; engkau bisa tidak percaya kepada pendeta; engkau bisa tidak percaya kepada orang kaya, karena semua itu tidak akan sanggup bisa melepaskanmu dari kesulitan dan kekuatiranmu. Tetapi problem yang lebih serius, apakah engkau percaya akan kuasa doa? Yang kedua, apakah engkau mengucapkan doa yang penuh keyakinan? Do you say a believing prayer? Jangan jadikan doamu menjadi jampi-jampi yang tidak ada artinya. “Doa orang benar bila dengan yakin didoakan sangat besar kuasanya” (Yakobus 5:16). Percayakah engkau kepada firman Tuhan? Do you believe the word of God? Do you believe the power of worship to God? Tuhan tahu apa yang kita perlu; bahkan Tuhan Yesus berkata sebelum kita ucapkan Tuhan sudah tahu semua yang engkau butuhkan. Tuhan tahu apa yang menjadi kesulitan kita. Masalahnya adalah kita mungkin tidak percaya akan doa, dan kita tidak mengucapkan doa yang penuh dengan keyakinan. Paulus katakan itulah jalan keluar bagi hati kita yang kuatir, kesulitan hidup kita dan katakan itu semua kepada Tuhan.

Bagaimana ada sukacita kalau kita terus berputar dengan kesulitan hidup kita? Bagaimana ada damai sejahtera kalau kita memenuhi pikiran dengan persoalan hidup kita? Terus- menerus kita kuatir, sampai akhirnya semua itu mencekik hidup kita. Paulus berkata, bawa semua itu dalam doa kepada Tuhan. Percayalah, dengan membawa semua di dalam doa kepada Tuhan, hatimu yang mumet dan butek akan menjadi clear, engkau akan mengalami peace beyond understanding. Kadang-kadang kita kehilangan aspek mendoakan doa yang kita percayai, karena kita telah kehilangan kuasa mempercayai doa itu sebagai satu komunikasi yang dalam dengan Tuhan kita. Tidak ada persoalan yang terlalu besar bagi kuasa Allah untuk menolongmu. Dan juga tidak ada persoalan yang terlalu sepele bagi kepedulian Allah. There is no problem too big in your life that beyond God’s power to help you. And there is no trivial thing in your life that God does not care about. Masakah Yesus harus mengatakan rambut di kepalamu terhitung semuanya (Matius 10:30)? Di dalam doamu ingatlah selalu akan kasih Allah yang begitu baik, yang senantiasa mempunyai keinginan untuk memberikan hal yang baik bagimu. Di dalam doamu ingatlah selalu akan bijaksana Allah yang tahu memberi dan mengatur semua bagimu. Di dalam doamu ingatlah kuasa Allah yang sanggup menolong dan menjawab doamu. Di situlah kalimat firman Tuhan ini akan berlaku, “The peace of God that beyond understanding will guard your heart and mind.” Hidup orang Kristen menjadi damai dan penuh sukacita, menjadi teguh dengan diri sendiri. Sukacita itu tidak pernah menjadi palsu dan tidak akan pernah berlalu dari hidupmu. Di dalam keadaan apapun, setiap saat, tidak ada lagi problem kesulitan di luar yang seharusnya mempengaruhi sukacita kita. Kita pun bersukacita bukan karena di balik awan gelap ini kita menantikan cahaya terang itu. Bukan itu. Kekuatannya adalah di dalam Tuhan yang sudah memberikan segala-galanya. Jangan biarkan kuatir itu mencekik hidup kita. Tuhan memberikan kita satu sarana dan tidak ada sarana yang lain. Bring all of your problems in prayer, with supplication, with thanksgiving to the Lord.

Kita bersyukur kepada Tuhan karena semua yang kita mohon, kita harap dan kita minta, yang kita panjatkan kepadaNya, Tuhan mendengar doa anak-anakNya sebab kita membawanya dengan hati yang percaya Tuhan mendengar doa kita. Kita bawa semua permohonan kita kepada Tuhan karena kita percaya di dalam kuasa doa itu kita ingat kepada Tuhan Allah yang baik, Tuhan Allah yang bijak, Tuhan Allah yang berkuasa, Allah yang kaya dengan rahmat, Allah yang tetap bekerja dan berkarya dalam hidup kita.(kz)