16. Berdiri Teguh dalam Tuhan

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Filipi (16)
Tema: Berdiri Teguh dalam Tuhan
Nats: Filipi 4:1-4

Filipi 4:1-4 merupakan bagian yang indah luar biasa dimana tiga kali Paulus memberi panggilan perintah yang agung kepada jemaat dengan pemakaian kata yang spesifik “di dalam Tuhan.” Berdirilah teguh dalam Tuhan, stand firm in the Lord (ayat 1); sehati sepikir dalam Tuhan, agree in the Lord (ayat 2); bersukacitalah dalam Tuhan, rejoice in the Lord (ayat 4).
Dalam Alkitab salah satu kata yang begitu banyak muncul diberikan kepada kita adalah “phobos,” jangan takut, jangan kuatir, berkali-kali muncul dalam berbagai variasi penerjemahan. “Jangan kuatir, jangan takut, teguhkanlah hatimu.” Kepada Abraham, Tuhan mengatakan hal itu. Kepada Musa, Tuhan mengatakan hal itu. Kepada Yosua, Tuhan mengatakan hal itu. Kepada nabi Yesaya, Tuhan mengatakan hal itu. Kepada Nehemia, Tuhan mengatakan hal itu. Kepada rasul Petrus, Tuhan mengatakan hal itu. Kepada rasul Paulus, Tuhan mengatakan hal itu. Kepada jemaat Tuhan hari ini Tuhan juga mengatakan hal itu. Pada waktu kita dipanggil oleh Tuhan, kuatkanlah hatimu, teguhkanlah hatimu, itu berarti engkau dan saya dipanggil untuk tidak tergoda dan bergeming terhadap godaan dan pencobaan yang ada di dalam perjalanan kita mengikut Tuhan. Itulah arti dari kata ‘stand firm in the Lord.’

Paulus berkata, “Karena itu, berdirilah dengan teguh dalam Tuhan…” (Filipi 4:1). Kenapa muncul kalimat ini, ‘stand firm in the Lord’? Pertama-tama, mari kita lihat konteksnya. Paulus telah mengingatkan jemaat, “Karena kewargaan kita adalah di dalam surga dan dari situ juga kita menantikan Tuhan kita Yesus Kristus sebagai Juruselamat yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini sehingga serupa dengan tubuhNya yang mulia…” (Filipi 3:20-21). Kewargaan kita sudah kita dapatkan di dalam Kristus. Mata kita sekarang tertuju di situ, kita jalani hidup dengan perspektif seperti itu. Maka hidupku sekarang di dalam dunia, kata rasul Paulus, aku mau ikut Tuhan, aku mau merasakan persekutuan di dalam penderitaan bersama Yesus Kristus, supaya nanti aku bisa menikmati kebangkitan bersama-sama dengan Kristus. Semua yang aku miliki sekarang di dunia ini tidak ada artinya pada waktu aku bandingkan dengan kekayaan yang aku miliki di dalam Yesus Kristus, itu menjadi prinsip yang harus kita pegang erat-erat. Tetapi di dalam perjalanan seperti ini seringkali kita bisa gampang tergoda dan mata kita tidak fokus adanya.

Di dalam konteks jemaat Filipi, khususnya di dalam konteks pelayanan pada waktu itu, sangat besar kemungkinan mereka sedang dalam keadaan goyah dan “confused” dalam iman. Melihat perbandingan pelayanan dari kelompok-kelompok orang yang menjual Injil dalam nama Tuhan Yesus yang secara fenomena begitu berhasil dan sukses, mereka menjadi gamang, menjadi bingung dan menjadi goyah karena sebaliknya melihat hamba-hamba Tuhan yang mencintai Tuhan seperti rasul Paulus kenapa justru dipenjara? Yang mencintai Tuhan, yang mengutamakan kepentingan Tuhan, kok pelayanannya “tidak sukses”? Sedangkan kelompok-kelompok orang ini, yang Paulus katakan bagaikan anjing-anjing yang menggerogoti pelayanan gerejawi seolah begitu sukses, pengikut mereka begitu banyak, pelayanan mereka begitu berhasil dan diberkati Tuhan?

Paulus perlu meneguhkan hati jemaat yang sedang goyah dan gulana itu. Paulus mengatakan, siapakah pengikut Yesus Kristus yang sejati itu, siapakah yang melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh? Lihatlah contoh Epafroditus, lihatlah contoh Timotius, mereka melayani demi untuk kepentingan Kristus; begitu berbeda dengan orang-orang ini. Bedanya dimana? Yang mereka cari hanya untuk kepentingan diri, untuk kepentingan sesaat, menjual nama Yesus, menginjili orang demi untuk kepentingan kekayaan mereka semata-mata.

Adoniram Judson adalah seorang hamba Tuhan yang mengambil keputusan untuk pergi mengabarkan Injil ke Burma. Hampir empat puluh tahun lamanya dia melayani, sepuluh tahun pertama begitu sedikit orang Burma yang bertobat dan percaya Tuhan. Bayangkan hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun dilewati oleh seorang yang begitu yakin dalam hatinya Tuhan mengutus dia melayani ke sana, dia memberikan yang terbaik dan rela menderita bagi Tuhan dan sampai akhir hidupnya melayani dengan setia. Dia sempat dipenjara selama 20 bulan lamanya dengan perlakuan tentara Burma yang begitu bengis dan kejam, sebelum akhirnya dibebaskan. Dan tidak berapa lama setelah pembebasannya, isterinya yang sangat dia kasihi dan anaknya yang masih bayi meninggal dunia. Tetapi kasihnya kepada orang Burma tidak pernah padam. Dengan teliti hari demi hari mempelajari bahasa Burma. Dia selesai menerjemahkan Alkitab PL dan PB ke dalam bahasa Burma, membuat kamus Burma-Inggris dan separuh jalan membuat kamus Inggris-Burma sebelum akhirnya meninggal dunia. Itu adalah beberapa hasil sumbangsih dari Adoniram Judson yang diakui dan dihargai oleh pemerintah Burma sampai hari ini. Di tengah-tengah berbagai kesulitan, tragedi dan penderitaan penganiayaan yang dialaminya wajar dia mungkin bisa goyah. Tuhan, betulkah ini pelayanan yang Tuhan mau bagiku? Betulkah Tuhan menyertai dan memberkati pelayanan ini?

Tidak sedikit di antara kita yang mungkin setelah ikut Tuhan hidupmu malah lebih susah dan mengalami kesulitan lebih berat. Paulus mengingatkan apa yang menjadi penghiburan dan kekuatan bagi kita, arahkan mata kita ke atas, karena harta kita di surga, di situlah mata kita melihat, di situ kita berjalan. Paulus menyebut jemaat Filipi “sukacitaku dan mahkotaku” berarti satu hari kelak di sana baru kita lihat bahwa ini adalah hasil pelayanan dari hidup kita yang tidak akan pernah bisa direbut oleh siapapun, stand firm, jangan goyah. Itu juga kalimat yang Paulus katakan kepada jemaat Korintus, “Karena itu, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Korintus 15:58).

Tetapi dari sisi konteks hidup kita, apa yang bisa membuat hati kita goyah? Seringkali kita gampang goyah sebab kalau kita lihat cara Setan bekerja, khususnya dari tiga pencobaan yang Setan berikan kepada Yesus di padang gurun, selalu memiliki pola mencobai orang untuk mendapatkan sesuatu dengan cara yang mudah, mendapatkan sesuatu tidak perlu bayar harga, dan asal tinggal menyembah dia maka segala sesuatu akan dia berikan kepadamu (Matius 4:1-10). Itu yang menjadi cara dan tawaran Setan. Engkau dan saya juga bisa gampang goyah pada waktu mata kita tidak fokus melihat di hadapan Tuhan akan prinsip ini. Kadang-kadang kita merasa kenapa kita tidak begitu kaya, kita tidak memiliki segala sesuatu yang di dalam Tuhan itu. Kita pikir yang di dalam dunia dan jalan yang ditawarkan di dalam Setan itu kita bisa dapat lebih banyak. Pencobaan akan terus datang ke dalam hidup kita hari demi hari, kita tidak immune dari hal-hal seperti itu.
Kenapa kita bisa goyah? Karena kita seringkali akan terus diterpa oleh pencobaan di dalam hidup ini. Di kantor, engkau bisa goyah dengan kolega dan orang-orang di kiri kanan yang mempunyai konsep nilai yang berbeda, metode yang berbeda untuk naik jenjang karir, memakai segala cara termasuk menyodok, menggeser dan memfitnah sekalipun kalau diperlukan. Dan kita menjadi bingung dan gamang karena melihat jalan mereka begitu lancar dan kesuksesan selalu menyertai mereka. Dalam hal inilah firman Tuhan harus mengingatkan kita sekali lagi, jangan hanya karena mau mengambil keuntungan sesaat, kita lupa kepada harta kita yang tidak akan pernah hilang di dalam Kristus. Jangan hanya karena mau menjalani hidup yang cepat, yang mudah dan lancar akhirnya kita menggantikan itu dengan harta yang bernilai dan begitu berharga kita miliki di dalam Kristus. Engkau sudah melayani Tuhan dan mengorbankan banyak hal dalam hidupmu, meskipun engkau tidak melihat hal yang lebih berhasil di dalam pelayananmu, jangan sampai jatuh kepada godaan seperti itu.

Yang kedua, panggilan Paulus mengingatkan kaki kita bisa menjadi lemah dan goyah karena kita mengalami sakit secara rohani, yang baru saja ditimpa sakit, yang mengalami berbagai kesulitan. Ibrani 12:12-13 mengatakan, “Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah, dan luruskanlah jalan bagi kakimu sehingga yang pincang jangan terpelecok tetapi menjadi sembuh.” Firman Tuhan ini diberikan karena kita baru saja habis sakit; kita baru saja diterpa badai, sedang dalam keadaan sakit dan lemah. Di ayat sebelumnya (Ibrani 12:5-11), penulis Ibrani mengatakan jangan anggap penderitaan itu sebagai hukuman tetapi lihatlah itu sebagai disiplin Tuhan. Anak-anak yang sejati justru adalah anak-anak yang didisiplin oleh Tuhan. Pendidikan itu bukan menjadi sesuatu yang menyusahkan kita dan ingin membuat kita gagal, tetapi justru Tuhan memberikan kita melewati kesulitan seperti itu supaya kita menjadi semakin kuat di dalam Tuhan. Di dalam proses itu kita mungkin bisa goyah karena kerasnya didikan Tuhan kepada kita. Itulah sebabnya penulis Ibrani mengatakan, kuatkanlah sekarang kakimu, teguhkan hatimu, berjalan sekarang ikut Tuhan. Seringkali di dalam kelemahan kita berkata kepada Tuhan, untuk apa saya ikut Tuhan? Semakin ikut Engkau aku tidak merasa mendapatkan udara yang segar dan melegakan kita. Kenapa ikut Tuhan seperti seorang yang dilatih berenang tanpa mendapat kesempatan mengambil nafas. Keluar sedikit dari air, kepala sudah langsung ditekan masuk lagi ke dalam air. Akhirnya kita merasa tidak ada kekuatan lagi untuk menjalani pelatihan Tuhan, kita mundur dan berhenti di tengah jalan karena kaki kita goyah dan capai.

Firman Tuhan hari ini memanggil kita sekali lagi, be strong, take courage. Kita tidak punya kekuatan pada diri kita sendiri. Kekuatan itu baru kita dapatkan pada waktu kita kembali lagi kepada Tuhan. Kita tahu Tuhan tidak pernah memberikan sesuatu dengan maksud dan tujuan untuk mencelakakan kita. Kita harus berjalan dengan Dia apapun kesulitan dan tantangan yang kita alami tidak pernah menjadi tujuan akhir Tuhan dan tidak pernah menjadi hukuman dari Tuhan kepada kita. Itulah sebabnya kita harus berdiri teguh dan berjalan terus maju. Hati tetap teguh berjalan menghadapi kesulitan meskipun kesulitan itu tetap sama, tidak berbeda dengan hari kemarin, dan juga tidak menjadi janji hari ke depan akan berbeda.

Terakhir, arti kata ‘jangan takut, teguhkanlah hatimu di dalam Tuhan’ itu mempunyai pengertian hanya dengan cara itu kita akan bertumbuh di hadapan Tuhan.
Satu perasan yang paling mempengaruhi hidup kita, sadar tidak sadar, termasuk bayi yang masih kecil sekalipun, sampai nanti kita tua menjelang akhir hayat, perasaan itu tidak akan pernah lepas dari hidup kita yaitu perasaan takut. Tetapi kita perlu menghadapi rasa takut itu, karena setelah kita melewatinya membuat kita bertumbuh kepada level kedewasaan. Waktu seorang anak baru bisa berdiri dan mulai belajar berjalan, ada rasa takut yang membuat dia tidak berani berjalan sendiri. Tetapi dia perlu melewati pengalaman jatuh, untuk bisa melewati tahap bisa berjalan dengan konfiden. Setelah itu dia akan penuh keberanian berjalan kesana kemari. Sama dengan pengalaman belajar hal-hal yang baru, dari takut masuk ke air sampai kemudian bisa berenang, dia perlu melewati proses itu. Demikian juga waktu pertama kali pergi sekolah, rasa takut itu akan datang lagi, takut ketemu orang baru, takut dengan suasana baru, dsb. Dia akan menangis, dia akan pakai segala cara supaya engkau tidak meninggalkan dia sendirian di sana, bukan? Demikian proses ini berulang, selesai sekolah, masuk ke tempat pekerjaan, rasa takut muncul lagi. Sampai kita tua masihkah ada rasa takut itu? Ada. Kita takut meninggal. Sesudah meninggal, masih ada rasa takut? Ada. Kita takut ketemu Tuhan. Rasa takut menjadi sesuatu yang menyelimuti perjalanan hidup kita.

Itu sebab, puji Tuhan, kenapa firman Tuhan ‘jangan takut, teguhkanlah hatimu’ selalu muncul di Alkitab, karena itu adalah proses yang Tuhan pakai untuk mendewasakan rohani kita. Kita perlu memiliki perasaan hati yang bisa membedakan antara apa artinya takut yang didasarkan oleh rasa tidak percaya dengan berani berjalan di tengah situasi yang tetap sama tetapi justru menjadikan hati kita melihat itu sebagai langkah kita berjalan dengan iman.

Matius 14:22-33 mencatat waktu badai topan datang menerpa perahu murid-murid di tengah danau, mereka putus asa karena angin yang begitu dahsyat menerpa mereka. Alkitab mencatat “lalu Yesus berjalan melewati mereka…” Jesus passed by, itu kata yang menjadi terminology yang penting. Sama seperti waktu Tuhan Allah ‘passed by’ dari hadapan Musa (Keluaran 34:6), sama seperti waktu Tuhan Allah passed by dari hadapan Elia (1 Raja 19:11). Bukan berarti Tuhan berlalu dari mereka dan tidak mempedulikan mereka, tetapi kata itu berarti “now you see the presence of the Lord.” Kata “passed by” ini mengingatkan kita karena seringkali kita tidak menyadari bahwa Tuhan selalu senantiasa hadir dan present di depan kita. Yang kita lihat cuma badai; yang kita lihat adalah angin topan; yang kita lihat adalah kabut yang tebal dan gelap; seperti murid-murid yang tidak bisa melihat dengan jelas Tuhan Yesus hadir di dekat mereka. Mata menjadi agak rabun sehingga mestinya melihat itu Tuhan, justru kita bilang itu hantu. Murid-murid berteriak-teriak, “Itu hantu!” Yesus bilang, “No, I AM!” Aku ini, jangan takut. Petrus berkata, “Jika itu Engkau, Tuhan, suruhlah aku datang kepadaMu berjalan di atas air.” Tuhan Yesus menjawab, “Datanglah.” Alkitab mencatat Petrus kemudian berjalan di atas air. Tetapi pada waktu dia melihat gelombang itu, takutlah dia dan seketika itu juga dia langsung tenggelam. Yesus menarik dan mengangkatnya dan berkata, “Kenapa engkau bimbang? Be courage!” Waktu berada di dalam perahu, dan waktu Petrus keluar dari perahu berjalan di atas air, situasi hidup tetap sama, gelombang tetap ada, badai tetap menerpa. Jangan berpikir setelah Tuhan menyuruhnya keluar dari perahu dan berjalan kepadaNya, angin langsung menjadi tenang. Tidak. Situasi tidak berubah. Yang berbeda adalah beriman membuatnya keluar dan menjalani sesuatu yang mustahil, yang tidak pernah ada satu orang pun di atas muka bumi ini yang mengalami pengalaman berjalan di atas air seperti Petrus. Betapa tipis, perasaan kita bisa sama menghadapi situasi yang tidak berbeda jauh, antara iman dan takut; antara kita percaya kepada Tuhan atau tidak. Tetapi kita tetap teguh di dalam Tuhan. Sepanjang hidup kita akan terus diterpa oleh perasaan takut, tetapi firman Tuhan kiranya senantiasa mengingatkan kita akan penyertaanNya bagi kita melewati berbagai tantangan dalam hidup kita. Tidak perlu takut bahwa ada perasaan takut, tetapi pada saat kita melewati perasaan takut itu, kita akan sampai kepada perasaan excitement yang luar biasa karena kita melihat sesuatu yang indah dan baru.

Stand firm in the Lord, karena itulah cara Tuhan membawa kita maju dan bertumbuh di dalam kedewasaan rohani kita sehingga kita belajar melewati tantangan, kesulitan itu semua dengan tabah, dengan sabar menantikan Tuhan karena itulah panggilan hidup yang “mendaki.” Panggilan kita adalah suatu panggilan surgawi. Kita bayangkan itu seperti naik gunung, itulah panggilan Tuhan. Lelahkah kita? Ya. Kita bisa lelah dan cape ikut Tuhan seperti mendaki. Kaki kita bisa lemah dan goyah. Kita bisa berhenti melangkah. Tetapi ingat, view yang dari atas tidak bisa digantikan dari apapun juga. Engkau harus terus berjalan maju terus ikut Tuhan.

Yesaya 40:30-31 berkata, “Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung. Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru. Mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah…” Mengikut Tuhan dengan mendaki seperti itu. Kalau kita naik gunung melihat ada kabut turun dan kita tidak bisa melihat dengan jelas sekeliling kita, jangan berhenti melangkah dan jangan berpikir bahwa Tuhan itu tidak baik kepadamu. Jangan berpikir bahwa Tuhan tidak mempedulikan engkau. Maka yang kita perlukan di situ adalah kaki yang teguh dan kuat, terus berjalan, terus melangkah. Ikut Tuhan dan sabar menantikan Dia, itu merupakan hal yang kadang-kadang harus berulang repetisi.

Waktu nabi Elia berdoa kepada Tuhan meminta hujan setelah mengalami kekeringan yang begitu panjang, Elia memanggil bujangnya untuk naik ke puncak gunung melihat apakah ada awan di langit. Sampai tujuh kali bujang itu harus naik turun dan awan itu belum nampak juga. Sampai pada kali ke tujuh bujang itu melihat ada sepotong awan kecil di langit. Segera Elia tahu hujan lebat akan akan datang segera. Dan memang dalam sekejap mata langit menjadi gelap oleh awan badai dan turunlah hujan yang lebat (1 Raja 18:43-45).

Dalam Mazmur 27:14 pemazmur berkata, “Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!” Kadang kita tidak tahu berapa panjang kita harus berjalan; kadang kita merasa perjalanan itu tidak akan pernah selesai. Tantangan, kesulitan, terus datang silih berganti di dalam hidup kita. Pemazmur berkata, nantikanlah Tuhan bertindak dalam hidupmu. Kiranya firman Tuhan menguatkan kita sekali lagi untuk tetap teguh berdiri di dalam Tuhan, tidak menjadi lemah dan goyah di dalam hidup ini. Walaupun hidup kita lelah diterpa topan dan badai dan kaki kita begitu lelah menahan angin yang tidak henti-hentinya bertiup dengan keras di sekeliling kita, jangan akhirnya kita menjadi takut dan kehilangan fokus sehingga kita tidak mampu menyadari kehadiran Tuhan di dekat kita. Jangan sampai kekuatiran dan pencobaan untuk mencari jalan yang cepat dan mudah mau menikmati segala sesuatu dengan mengabaikan Tuhan menjadikan kita goyah dan memilih jalan yang tidak benar. Kiranya Tuhan menolong kita dan menjaga hati kita dan menuntun jalan kita agar tidak tergelincir dan jatuh. Di tengah segala sesuatu yang menantang biar kita tetap teguh berdiri karena kita percaya kepada firman Tuhan bahwa orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan tidak akan pernah dikecewakan olehNya.(kz)