15. Bahaya Materialisme dalam Gereja

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Filipi (15)
Tema: Bahaya Materialisme dalam Gereja
Nats: Filipi 3:17 – 4:1

Siapakah orang-orang ini, yang Paulus sebutkan dengan emosi yang meluap, sebagai musuh dan seteru salib Kristus? Kesudahan mereka adalah kebinasaan, tuhan mereka adalah perut mereka, yang mereka bangga-banggakan adalah kenistaan, dan pikiran mereka hanya semata-mata tertuju kepada hal-hal yang duniawi (Filipi 3:18-19). Ekspresi Paulus memperlihatkan ada kemarahan yang luar biasa karena hidup dari orang-orang yang mengaku orang Kristen dan pelayan-pelayan Tuhan ini justru membawa orang menjauh dari Tuhan. Namun pada saat yang sama ada hati yang sedih dan menangis seolah-olah tidak berdaya dan kasihan kepada orang-orang ini, melihat bagaimana fokus pelayanan mereka dan hidup ibadah mereka hanyalah diri mereka sendiri. Yang mereka sembah bukan Tuhan di atas, tetapi yang disembah hanyalah perut sendiri, namun ironisnya orang-orang ini adalah orang-orang yang giat dan aktif di dalam kehidupan bergereja. Dalam 2 Timotius 3:1-5 Paulus menyebut tentang mereka, “…secara lahiriah mereka menjalankan ibadahnya, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!” Meskipun kelihatannya aktif beragama, tetapi sikap dan perbuatan mereka tidak sejalan dengan ibadahnya. Mereka orang yang mencintai diri sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka suka membual dan menyombongkan diri, penfitnah, memberontak terhadap orang tua, tidak tahu berterima kasih, dst. Ibrani 6:4-6 juga menyebutkan secara spesifik orang-orang seperti ini. Mereka ada di dalam gereja, mereka membentuk satu kelompok tersendiri dengan mengajar, mereka sudah mengecap kebenaran, sudah pernah dibaptis dan ikut perjamuan kudus, tetapi di dalam hatinya mereka menghina salib Tuhan Yesus. Orang-orang ini ada di dalam gereja, tetapi di dalam hatinya mereka tidak pernah percaya kepada Tuhan Yesus. Kelompok seperti inilah yang kita sebut sebagai orang murtad, orang-orang yang menjadi seteru dan musuh salib Kristus. Bukan terjadi bagi non Kristen, tetapi justru terjadi di dalam kehidupan bergereja. Kita cenderung berpikir orang yang murtad adalah orang yang pergi meninggalkan gereja. Orang seperti itu mungkin kecewa, orang seperti itu mungkin imannya lemah, namun orang seperti itu belum tentu meninggalkan imannya. Jadi kita jangan mempunyai asosiasi bahwa murtad itu mempunyai pengertian dia tidak lagi di tengah-tengah kita. Justru Alkitab mengindikasikan orang-orang ini adalah orang-orang yang giat dan aktif di dalam kehidupan bergereja.

Dalam Filipi 3 ini pada satu sisi Paulus mengatakan “aku belum sempurna…” (ayat 12), dan dia juga mengatakan “yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaanNya…” (ayat 10). Mengenal Yesus lebih daripada segala-galanya, itulah yang menjadi kerinduan Paulus yang terutama, dan baginya semua yang lain di dalam hidupnya adalah sampah yang tidak ada harganya dibandingkan dengan pengenalan akan Yesus Kristus yang mulia (ayat 4-8). Inilah yang kita sebut sebagai paradoks dari orang yang sempurna yaitu orang yang justru mengaku dirinya tidak sempurna, karena di balik daripada kesempurnaan yang sejati selalu ada spirit kerendahan hati. Spirit kerendahan hati itulah yang menjadi ciri yang paling penting, menjadi langkah yang pertama dari seseorang untuk menjadi sempurna dan bertumbuh di hadapan Tuhan. Tetapi pada saat yang sama kita mungkin bisa menginterpretasi seolah ada nada kebanggaan dan kesombongan pada pernyataan Paulus di sini, ”Ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu…” (Filipi 3:17). Kita bandingkan di bagian lain Paulus berkata, ”Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus” (1 Korintus 11:1). Dengan kata lain Paulus seolah berkata jangan ikut aku jika aku tidak mengikut Kristus. Berarti sebenarnya yang diikuti adalah Yesus Kristus sendiri. Jemaat tidak pernah melihat dan berjumpa dengan Yesus secara fisik tetapi mereka masih bisa melihat seseorang yang menaruh pikiran Kristus, hatinya, bebannya, cinta dan motivasinya seluruhnya seperti Kristus. Di Filipi 3:17 ini Paulus tidak menyebutkan hal itu tetapi sama sekali tidak ada kesan di situ Paulus menyombongkan diri, karena justru Paulus tidak ingin dia menjadi satu-satunya patron. “Join together in following my example, and just as you have us as a model, keep your eyes on those who live as we do.” Tidak mudah bagi jemaat waktu itu untuk membedakan siapa pemimpin rohani yang sesungguhnya. Kenapa? Pertama-tama karena mereka belum memiliki firman Tuhan Alkitab secara lengkap di tangan mereka untuk mereka baca dan pegang sebagai prinsip iman. Maka satu-satunya cara ialah mereka harus belajar mengenal pemimpin-pemimpin rohani mereka yaitu mana yang mengikuti pola Yesus Kristus dan mana yang hanya memakai nama Yesus di dalam pelayanan mereka tetapi mereka tidak berjalan ikut seperti Tuhan Yesus Kristus. Itu sebab Paulus bilang, ikuti aku dan ikuti orang-orang yang engkau lihat melalui hidup mereka, melalui apa yang mereka kerjakan di situ kita tahu perbedaannya.

Dalam Filipi 2:20-21 Paulus mengatakan siapakah Timotius, “I have no one else like him, who will show genuine concern for your welfare. For everyone looks out for their own interests, not those of Jesus Christ.” Timotius adalah seorang hamba Tuhan yang tidak pernah memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Orang-orang seperti dia adalah orang-orang yang mencari kepentingan Yesus Kristus. Paulus mengatakan, “Karena kewargaan kita adalah di dalam surga…” mata kita tertuju ke atas sana, dan bukan kepada dunia ini. Paulus katakan, lihat orang-orang ini dan jadikan mereka contoh teladan yang indah dalam hidup kita. Mereka yang mencari kepentingan Yesus Kristus, mereka yang menjadikan pattern hidup penderitaan bersama Kristus, mencari persekutuan di dalam penderitaan bersama Kristus. Orang-orang yang seperti ini meskipun mengalami kesulitan di dalam hidup, tidak akan pernah mengganti iman mereka dengan hal-hal yang bersifat materi yang sementara.

Dengan perbandingan seperti ini menjadi pola dan teladan yang memperlihatkan kepada kita kontras dengan kelompok orang-orang yang Paulus sebutkan di atas dengan kesedihan yang dalam. Orang-orang ini adalah orang-orang yang memakai nama Yesus Kristus dan mengabarkan Injil hanya untuk kemuliaan diri dan keuntungan diri mereka sendiri. Mereka adalah orang-orang yang Paulus sebut sebagai musuh dari salib Tuhan Yesus. Paulus tidak mengurang dan menambah label ini, musuh adalah musuh. Meskipun dia ada di dalam gereja, dia adalah musuh yang berbahaya karena justru dia musuh yang secara aktif dan destruktif bisa menghancurkan dari dalam. Dan yang menyedihkan sekaligus menakutkan, orang-orang seperti ini ada dan selalu akan ada di dalam gereja, melakukan berbagai praktek dan strategi berselubungkan jubah keagamaan.

Randy Alcorn seorang hamba Tuhan yang sangat baik menulis beberapa buku, salah satunya berjudul “Money, Possessions and Eternity.” Buku ini adalah buku yang bicara bagaimana seharusnya kita memiliki perspektif surgawi mengenai apa artinya uang, bagaimana menggunakan semua harta yang Tuhan beri di dalam kesementaraan hidup kita di dunia ini boleh menjadi harta yang abadi yang tidak akan pernah hilang dan rusak oleh ngengat dan karat. Randy Alcorn mengatakan, “Religion is capable of baptising every evil in the world and making it appear to be spiritual.” Naiflah kita kalau kita pikir di dalam gereja hanya ada orang baik dan orang jujur. Dan jangan terkejut dan kaget jika engkau melihat segala tipu muslihat, korupsi dan keserakahan justru terjadi di balik dinding-dinding gereja yang mengkilap dan megah.

Randy Alcorn mengeluarkan pertanyaan yang menarik, dalam PL siapakah bapa materialisme orang Kristen? Dia adalah Bileam (Bilangan 22-24). Dia memakai dan memperjual-belikan agama untuk kepentingan diri sendiri. Di dalam PB siapakah bapa materialisme orang Kristen? Dia adalah Yudas Iskariot, bendaharanya Tuhan Yesus. Yudas Iskariot memang murid Tuhan, tetapi Alkitab menyatakan dia seorang yang cinta uang, bukan? Dan siapakah bapa materialisme dari Gereja Mula-mula? Dia adalah Simon si tukang sihir (Kisah Rasul 8:9-24,khususnya ayat 18-19). Simon ingin membeli kuasa dan prestigious rohani dengan tujuan dia bisa menggunakannya bagi keuntungan dirinya. Jangan heran jikalau kita menyaksikan di sepanjang sejarah Gereja hal-hal seperti ini terus berulang-ulang terjadi, karena Alkitab mencatat hal itu adalah hal yang umum terjadi.

Kita sedih, kita marah, kita prihatin menyaksikan saat ini hal yang sama masih terjadi seperti ini. Dalam bukunya Randy Alcorn membukakan materialisme yang terjadi di dalam gereja, materialisme di antara pemimpin-pemimpin Kristen. Dari atas mimbar ada tukang khotbah yang menyuruh orang-orang memberikan persembahan, tetapi uang persembahan itu mereka pakai bagi diri mereka sendiri. Dengan tidak sungkan-sungkan mereka memakai uang persembahan itu bagi kemewahan dan kenikmatan hidup mereka sendiri. Kita tidak ingin dan tidak mau mengerjakan dan melakukan hal-hal yang seperti itu di dalam hidup kita. Kita sedih dan menangis melihat hal-hal itu. Orang-orang seperti ini berkata di atas mimbar berjanji akan memakai setiap sen uang persembahan yang terkumpul buat pelayanan tetapi pada saat yang sama uang itu dipakai dengan sembarangan dan dengan seenaknya, hal itu tidak sepantasnya terjadi. Di Amerika tukang-tukang khotbah seperti ini rajin mengirimkan amplop yang memakai nama “seed offering” atau benih persembahan, satu bentuk persembahan yang lebih seperti tanam benih, dengan uang itu membeli benih, benih itu akan bertumbuh dan berbuah lipat ganda. Dengan seed offering $25 Tuhan akan memberkatimu $1,000 itu janjinya. Ada ministry yang menjual “kain handuk doa,” ada yang menjual “minyak doa” dan apa saja yang bisa dijual. Ada tukang khotbah yang mengirimkan kartu “kirimkan $25 aku akan berdoa bagimu.” Hal-hal seperti itu boleh kita kategorikan sebagai hal-hal yang sama. Bagi saya kenapa engkau minta uang $25 untuk mendoakan orang? Apa kamu tidak malu?

Ada pendeta-pendeta yang suka bermain angka menambah-nambah dengan berlebihan jumlah orang yang datang ke gerejanya untuk memberi kesan kepada koleganya dia adalah pendeta yang sukses dan hebat, yang lain menggantung foto diri mereka dengan nama yang tercetak tebal di setiap dinding gereja dan di lembar kertas warta gerejanya. Ini adalah jiwa keinginan untuk dikagumi dan kesuksesan dari pelayanan kepada Kristus dijadikan kesuksesan diri sendiri. Randy Alcorn mengatakan itulah kebahayaan materialisme mempengaruhi hidup pelayanan kita terlalu banyak. “Satan is the master of extremes. He is delighted when pastors are underpaid and underappreciated and just as delighted when they are overpaid and overappreciated.” Setan senang kalau pendeta digaji minim suruh pikul salib dan pelayanannya tidak dihargai. Tetapi pada saat yang sama dia juga senang kalau pendeta itu digaji berkelebihan dan dihargai berkelebihan. Dua-dua itu adalah ekstrim yang disenangi oleh setan. “For the devil’s tastes let the pastors be crucified and let them be worshipped.” Salibkan dia atau sembahlah dia, dua-dua disenangi oleh setan.
Bagian ini menjadi bagian yang bagi saya begitu penting mengajak dan membuka mata kita melihat panggilan dari rasul Paulus bukan saja kepada hamba-hamba Tuhan tetapi kepada setiap kita lihatlah selalu kepada example teladan Kristus itu. Kita yang sudah mempunyai Alkitab secara lengkap, kita bisa membaca dan mempelajari dengan teliti siapakah Yesus Kristus, betapa indah dan agungnya Dia, kasihNya, pengorbananNya, hidup pelayananNya, cintaNya, dedikasiNya, perspektif hidup dari Yesus Kristus, biar semua yang ada itu menjadi sesuatu yang memenuhi setiap hidup kita. Paulus berkata kepada jemaat Korintus, “Kamu adalah surat pujian kami yang dikenal dan yang dapat dibaca semua orang…” (2 Korintus 3:2). Biarlah kita menjadi surat-surat Kristus yang dibaca semua orang. Biarlah orang melihat Tuhan Yesus melalui hidupmu karena kita memang mengikuti teladan dan menjalani hidup yang ikut apa yang diajarkan oleh Yesus Kristus. Seringkali kita tidak berani untuk bilang sama orang, ikutilah teladanku, contohlah apa yang aku kerjakan karena aku mengikuti Kristus. Kenapa? Karena di dalam hati kita yang sedalam-dalamnya mungkin kita tidak menjadikan Dia yang teragung, termulia dan yang terutama di dalam hidup kita.

Paulus berkata kepada jemaat Filipi, “karena kewargaan kita adalah di dalam surga dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus…” (Filipi 3:20). Ini bukan ayat yang hanya berlaku buat orang yang sudah lanjut usia dan bukan baru berlaku waktu kita sudah umur 80 tahun, karena dalam hal menuju kepada kematian tidak ada nomor urut; kita bisa mendahului satu dengan yang lain karena kita tidak bisa menentukan kapan hidup kita berakhir di dunia ini. Ayat ini mengajar kita bagaimana perspektif dari “yang di sana” memimpin hidup kita sekarang, itulah yang menjadi prinsip yang Paulus berikan di sini. Apa bedanya manusia dengan mahluk ciptaan Tuhan yang lain? Pengkhotbah 3:11 mengatakan bedanya, “Karena Allah menaruh kekekalan di dalam hati manusia.” Ada aspek kekekalan di dalam hidup seseorang, itulah yang menjadikannya berbeda dengan mahluk yang lain. Kita sekarang tidak melihat kekekalan itu, tetapi Dia yang dari sana, Dia sudah pernah datang dan Dia akan datang kembali dan membukakan kekekalan itu kepada kita. Paulus bilang, kita menantikan kedatanganNya kembali, dan waktu itu tubuh kita yang hina dan renta ini akan diubahkan sehingga serupa dengan tubuh Kristus yang mulia. Ini janji pengharapan yang harus senantiasa membawa perspektif kita menjalani hidup di sini dengan benar.
Pendeta Billy Graham pernah mengatakan bagi orang ateis yang mengatakan tidak ada kekekalan, tidak ada hidup sesudah kematian, secara logika di dalam ilmu persepak-bolaan itu sudah kalah skor 1-0. Saya percaya ada kekekalan, ada hidup setelah kematian. Engkau tidak percaya ada kekekalan. Kalau kamu benar, bahwa sesudah kamu mati di sini, lalu habis selesai, kamu tidak bisa bersorak dan bilang, ‘hore, aku benar, kamu salah’ karena kamu sudah tidak exist. Tetapi kalau ternyata ada kekekalan dan Tuhan betul-betul ada dan saya benar, maka aku menang dan kamu kalah. Dengan kata lain, either way, kamu ateis tidak akan menang. Soal tidak percaya Tuhan ada, soal tidak menerima adanya kekekalan dan hidup setelah kematian itu bukan soal yang tidak bisa dimengerti dengan akal, tetapi itu adalah soal pemberontakan hati manusia yang memang tidak mau percaya.

Kedua, kewargaan kita di sana dan kita dipanggil untuk hidup ‘according to our heavenly calling’ itu. Tuhan tidak minta kita hidup asketik, artinya tidak perlu punya apa-apa di dalam dunia ini dan menjadi orang Kristen yang bermalas-malasan, yang hanya lihat “ke sana” lalu praise and worship terus-menerus. Tetapi dengan menjadikan panggilan surgawi menjadi tujuan hidup kita, Randy Alcorn mengatakan kita harus memiliki “prigrim mentality” satu mental ziarah selama hidup di dunia ini. Petrus berkata hidup kita di dalam dunia ini aku cuma pasang tenda atau kemah saja (2 Petrus 1:13-14). Kita tidak dipanggil untuk membangun rumah beton di dunia ini, kita hanya tinggal di dalam kemah saja. Orang yang membangun rumah beton bagi hidupnya di dunia akan sulit dan berat sekali saat Tuhan menyuruh untuk membongkar dan meninggalkannya, tetapi kalau engkau hanya memasang kemah, Tuhan suruh bongkar, tinggal copot dan lipat saja, selesai.

Pendeta John Wesley pernah diajak seorang Kristen yang sangat kaya untuk mengitari tanah perkebunannya yang sangat luas luar biasa. Dengan naik kereta kuda dua jam masih belum selesai dikelilingi. Lalu orang kaya ini dengan bangga bertanya kepada Pdt. John Wesley, “Well, Mr. Wesley, what do you think?” Pdt. John Wesley bukan terkagum-kagum dengan luasnya tanah perkebunan dan kekayaan yang dimiliki orang kaya ini tetapi menjawab, “I think you’re going to have a hard time leaving all this.” Tidak gampang meninggalkan ini semua.
Jangan keliru. Tuhan tidak memanggil kita hidup secara asketik, melarat dan tidak mempunyai apa-apa. Tuhan memanggil kita bagaimana dengan semua yang kita miliki di dalam kesementaraan ini menjadi sesuatu yang bernilai kekal dan menjadi hormat kemuliaan bagi Tuhan kita. Bagaimana perspektif surga itu memimpin kita melihat apa yang ada dalam hidup kita di dunia yang sementara ini. Pendeta John Wesley hidupnya sangat konsisten seperti ini, waktu dia meninggal dunia, tidak banyak uang yang tersisa padanya. Dia jalani apa yang dikatakan sebagai pilgrim mentality itu. Semua yang ada padanya dia berikan bagi orang lain dan bagi ministry.

C.S. Lewis mengatakan dunia ini bukan rumah kita, kita hanya berjalan sementara di dalam dunia ini. Dalam bukunya “The Problem of Pain,” dia mengatakan, “Our Father refreshes us on the journey with some pleasant inns, but will not encourage us to mistake them for home.”

Kiranya firman Tuhan boleh memberikan kita satu koreksi untuk menguji motivasi pelayanan kita, siapakah Tuhan yang kita layani? Apa tujuan yang kita ingin dalam pelayanan kita? Apa yang menjadi kemuliaan yang kita ingin dapatkan dan capai? Kiranya Tuhan mengampuni kita jika ada kesalahan dan Tuhan meluruskan kita jika kita telah mengambil jalan yang keliru. Kita hidup hanya sementara saja di dalam dunia ini, tetapi kita perlu untuk diingatkan senantiasa akan bahaya kita bisa ditenggelamkan oleh pikiran bahwa hidup ini hanya di sini dan kita habiskan itu untuk mengejar dan memiliki segala sesuatu. Kita bisa dibuat mabuk terhadap apa yang kita capai dan yang kita punya itu seolah-olah milik kita sendiri. Kita bisa kebablasan menuntut setiap orang untuk menghargai itu dan bahkan mengagumi dan menyembah kita terhadap apa yang kita kerjakan dan capai, padahal semua itu harus kembali dan menjadi hormat kemuliaan bagi nama Tuhan.

Kiranya Tuhan menolong kita untuk hidup mencintai mengasihi Tuhan selama-lamanya dan Tuhan tidak membiarkan ada motivasi yang keliru dan salah di dalam hati kita melayani Tuhan. Kita mengabarkan Injil, kita pergi melayani bukan untuk kepentingan, untuk nama dan ketenaran diri, bukan untuk kebanggaan dan kesombongan diri, bukan untuk kesuksesan diri dimana kita ingin orang menghargai dan menghormati kita. Tetapi kita melakukan semua itu karena kita ingin mencintai dan mengasihi Tuhan dan orang-orang yang kita layani.(kz)