12. Yesus Harta Pusakaku

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Filipi (12)
Tema: Yesus Harta Pusakaku
Nats: Filipi 3:8-14

“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya itu. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah…” (Filipi 3:7-8).

Paulus bukan mengatakan bahwa untuk mendapatkan keselamatan di dalam Yesus Kristus dia harus mengorbankan semua yang dimilikinya. Keselamatan itu adalah semata-mata pemberian Kristus. Keselamatan itu begitu mahal dan tidak ada mata uang apapun yang bisa membelinya; tidak ada jasa pengorbanan apapun yang membuat kita bisa memperolehnya. Keselamatan itu hanya bisa kita miliki karena Kristus memberikannya kepada kita. Kita tidak berkorban apapun demi memperoleh keselamatan karena memang tidak ada apapun dari hidup kita yang membuat kita layak mendapatkannya. Keselamatan itu diberikan dengan gratis oleh Tuhan Yesus karena kita tidak akan pernah bisa membelinya dengan usaha kemampuan kita. Penting sekali untuk kita senantiasa ingat akan prinsip ini, sola gratia, oleh anugerah semata.

Di bagian ini Paulus bicara setelah mengenal Yesus Kristus Paulus baru memahami hal-hal yang dulu menjadi kebanggaannya, segala privilege dan prestasinya, semua pencapaian dan miliknya, pada waktu dia hari itu mengenal Yesus Kristus, tidak ada lagi yang dia anggap lebih bernilai, lebih berarti dan lebih berharga daripada Kristus. Sejak Paulus mengenal Yesus Kristus, perspektifnya berubah total, apa yang dulu berharga sekarang dia katakan semua itu adalah sampah. Di dalam perspektif dunia itu bukan sampah, itu adalah hal-hal yang berarti dan berharga, hal yang prestigious, posisi yang luar biasa, kemuliaan dia sebagai satu keturunan pedigree murni dari orang Yahudi, kebanggaannya sebagai lulusan dari sekolah rabi di bawah pengajaran guru yang terhebat pada waktu itu, Gamaliel, prestasi pelayanannya bagi agama Yahudi waktu itu tidak bercacat dan bercela, bagaimana luar biasanya bahkan dia sampai menganiaya orang percaya, itulah dahulu yang menjadi kebanggaannya.

Mari kita terjemahkan dengan konteks kita sekarang, apa yang Paulus banggakan itu kira-kira sama seperti pada waktu kita mungkin mendengar kesaksian seseorang yang menerima Kristus Tuhan dimana pada waktu dia menjadi pengikut Kristus dia harus menyobek cek sejumlah 1 milyar yang dia korbankan karena imannya. Pada waktu dia percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, mungkin dia harus berkorban, rumahnya disita, keluarganya berantakan, dia mungkin harus lari ke tempat lain untuk menghindar dari ancaman. Itu adalah bagian pengorbanan besar yang dia berikan karena imannya kepada Tuhan. Sdr mungkin pernah mendengar kesaksian ada orang yang mengambil keputusan ikut Tuhan dan menjadi hamba Tuhan dan keputusan itu mengakibatkan keluarganya menyingkirkan dia, sehingga dia tidak akan mendapatkan harta warisan dari orang tuanya yang kaya raya. Sanggupkah kita mengatakan bahwa itu semua adalah sampah? Tidak gampang dan tidak mudah, bukan?
Pada saat yang sama pada waktu kita mendengarkan kisah-kisah dan kesaksian seperti itu, saya percaya kita akan menjadi terkagum dan mungkin merasa sedikit minder karena pada waktu kita percaya kepada Tuhan Yesus kita tidak mengorbankan apa-apa. Akhirnya kita menganggap orang-orang seperti itu adalah warga sorga kelas atas, yang berada di lapisan atmosfir yang lebih tinggi daripada kita, yang lebih dekat dengan Tuhan, karena terlalu banyak hal yang telah dia korbankan demi mengikut Tuhan Yesus Kristus.

Ada seorang abang becak yang percaya Tuhan, dia tinggal di rumah yang sederhana dan tidak punya apa-apa. Gereja yang melayaninya mengadakan kebaktian dan mengundangnya untuk memberi kesaksian bagaimana Tuhan Yesus menyelamatkan dia. Tidak jauh dari sana, hanya berjarak 100 meter, ada satu gereja lain mengundang seorang artis yang sangat terkenal juga memberi kesaksian bagaimana Tuhan Yesus menyelamatkan dia. Dia meninggalkan dunia entertainment dan kariernya untuk sepenuhnya melayani Tuhan. Kalau kedua gereja itu mengundang sdr datang, kira-kira sdr akan datang menghadiri gereja yang mana? Kelihatannya orang akan berbondong-bondong datang ke gereja yang mengundang artis bersaksi, apalagi kalau itu adalah Jackie Chen atau kalau itu adalah Bill Gates, bukan?

Banyak orang mendengar slogan ‘ikut Tuhan harus bayar harga’ dan kita menjadi sangat kagum karena ada orang-orang yang karena ikut Yesus dia harus melakukan pengorbanan yang begitu besar. Namun hari ini mari kita mulai memikirkan dengan teduh, benarkah pemikiran yang seperti itu? Apa yang dahulu menjadi kebanggaanku, apa yang dahulu kuanggap harta yang bernilai dan berharga, milik yang prestigious, sekarang kuanggap adalah sampah, kata Paulus. Kita mungkin bisa tercengang kagum orang yang berada di level strata yang tinggi bisa berkata seperti itu. Tapi firman Tuhan mengingatkan kita bukan seperti itu seharusnya sikap kita dan kalimat Paulus selanjutnya kemudian membuat kita sadar itu semua bukan suatu korban yang besar, itu semua bukan bayar harga yang besar. Dalam Filipi 3:12-13 dua kali diulang oleh Paulus “bukan seolah-olah aku sudah memperolehnya… aku tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya.” Not that I have already obtained all this or have already arrived at my goal. Apa yang dimaksud Paulus di sini?

Kita bisa kaget dan kagum seolah-olah Paulus begitu besar pengorbanannya membuang semua itu. Tidak! Kata Paulus, jangan bereaksi seperti itu. Apa yang bisa saya katakan bahwa itu adalah pengorbanan besar keluar dari hidupku jikalau firman Tuhan mengatakan itu semua adalah sampah? Apa yang bisa saya banggakan sebagai pengorbanan bayar harga ikut Tuhan dan membuang semua yang bernilai padahal Yesus Kristus itu adalah treasure-ku yang paling bernilai? Tidak bisa kita katakan bahwa saya sudah korban akan hal itu.

“…karena aku telah ditangkap oleh Kristus Yesus…” (Filipi 3:12b). Dari ayat ini Paulus mengatakan bukan saya yang menemukan Kristus, tetapi Kristus yang mencariku; Kristus yang menemukanku; Kristus yang menangkap aku. “Dan berada di dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri” (Filipi 3:9). Firman Tuhan begitu indah dan jelas luar biasa, bukan kebenaran kita yang membuat Yesus menyelamatkan kita tetapi dalam anugerahNya Yesus yang menemukan kita.

Kembali kepada ilustrasi yang saya pakai tadi, dia adalah seorang yang miskin, papa dan telanjang, ditipu oleh dosa, menjadi orang yang tidak berdaya dan merana, hancur lebur oleh dosa, hopeless dan mengalami kehancuran oleh dosa, di rumah hanya ada tersisa indomie yang sudah basi, itulah hidupnya. Dalam keadaan seperti itu Yesus datang menjumpainya. Yesus mengangkat orang itu dari lumpur dosa. Pada waktu itulah dia akan berkata, ‘Ya Tuhan, Allahku, Engkau adalah milik pusakaku.” Di sebelah rumah di sana, ada seorang kaya yang berada di dalam kubangan caviar beluga, makanan yang paling mahal di dunia yaitu telur ikan beluga yang harganya $200,000 per kilogram. Dia memiliki semua itu, dan dia ditipu oleh kekayaannya dan tidak rela keluar dari tempat itu sampai Yesus datang menjumpainya. Pada waktu Yesus menariknya keluar, apakah boleh saya katakan bahwa orang kaya itu lebih berkorban daripada orang miskin untuk mengikut Yesus? Barangkali kita bisa mengambil kesimpulan seperti itu sebelum menyadari bahwa caviar beluga yang dimilikinya juga basi. Mari kita lihat, ada indomie basi dan ada caviar basi, apakah nilainya sama? Ya, dua-duanya sama-sama sudah basi, tidak layak dimakan dan sepatutnya hanya dibuang di tempat sampah. Kita tidak akan bisa menyimpan caviar basi itu di kulkas dan tetap menganggapnya sebagai barang yang mahal dan berharga karena dia sudah basi, rusak dan bau. Jadi jangan mudah silau dengan hal seperti itu.

Seringkali kita salah menilai konsep dalam mengikut Tuhan, sehingga kita lebih kagum dan silau kepada kesaksian orang-orang yang terkenal, entah itu bintang film, artis penyanyi, konglomerat orang kaya, celebrity dan sebagainya. Jangan seperti itu. Dia ikut Tuhan tidak lebih berkorban dan tidak lebih bayar harga daripada seorang janda miskin dan abang becak yang sama-sama percaya Yesus. Tidak. Karena mereka semua bukan mencari Yesus tetapi mereka dicari dan ditemukan oleh Yesus. Firman Tuhan begitu luar biasa mengingatkan kita akan hal ini.

Paulus memang menanggalkan kesuksesannya sebagai seorang rabi dari sekolah terhebat; dia memang seorang yang memiliki status sosial terhormat di masyarakat; dia memang seorang yang direspek dan dihormati meskipun umurnya paling muda dari antara anggota parlemen Sanhedrin waktu itu. Semua itu adalah keberhasilan dan achievement Paulus, tetapi semua itu adalah sampah baginya. Selama-lamanya itu tetap sampah yang tidak pernah dia bawa-bawa untuk menjadi kebanggaannya. Ini point yang sangat penting sekali.

Kita seringkali tidak menyadari akan ‘respectable idols’ yang kita sembah dalam hidup kita. Pada waktu Alkitab menyuruh kita membuang semua berhala dari hidup kita, mudah untuk kita membuang berhala yang memang nampak obvious, kita buang jimat-jimat dari dukun, kita buang patung-patung, kita buang jampi-jampi, dsb. Kita mudah mengenali benda-benda seperti itu kalau itu adalah pemberian dari dunia evil spirit. Jelas sekali kita akan buang berhala-berhala seperti itu saat kita menjadi pengikut Yesus. Tetapi yang firman Tuhan maksudkan dengan berhala bukan yang itu saja. Ada banyak jenis berhala-berhala lain yang kadang-kadang kita tidak sadar karena itu adalah respectable idols. Itulah semua respectable idols yang dibuang oleh rasul Paulus di dalam hidupnya.

“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaanNya…” (Filipi 3:10). Pada waktu kita bangun pagi, kiranya inilah yang men-drive hidup kita: I want to know the power of Jesus’ resurrection and to have fellowship with His suffering, kita ingin lebih mengenal Kristus, mengalami kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dengan penderitaanNya. Kiranya pada pagi hari kita bersentuhan dengan firman, bersentuhan dengan Kristus yang begitu agung dan mulia, yang menjadi harta kita yang terindah itu. Saya percaya tidak ada orang Kristen yang keluar dari persekutuan dengan Allah seperti itu masih akan dipenuhi dengan kesombongan dan kecongkakan dan perasaan self-achievement yang dia bangga-banggakan. Setelah memiliki persekutuan dengan Kristus seperti itu kita akan senantiasa keluar dengan hati yang humble, penuh dengan kasih, with more joyful and thanksgiving dalam hati kita.

“Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna…” (Filipi 3:12). Ayat ini mengingatkan kita pengenalan kita, hubungan kita dengan Yesus belum sempurna, itu adalah proses yang terus akan kita jalani selama kita hidup di dunia ini. Yesus mencariku, Yesus menemukanku. Yang aku kerjakan sekarang adalah aku terus fokus kepada Dia dan terus mau mengarah ke sana. Kita masih ‘in the journey.’ Inilah spirit yang harus kita pegang dalam hidup kita mengikut Tuhan. Berbahaya sekali kalau orang merasa dia sudah tiba di tempat tujuan destinasinya. Di dalam perjalanan, in journey mata kita terbuka lebar dan kita aware dengan sekeliling kita; in journey mata kita awas; in journey kita fokus. Waktu kita merasa kita sudah sampai kepada destinasi kira-kira apa yang akan kita kerjakan di situ? Kita akan terlena tidur di kursi malas. Hidup kita ikut Tuhan tidak boleh kita bilang sudah mencapai tempat tujuan. Pelayanan kita di hadapan Tuhan tidak boleh kita bilang sudah mencapai tempat tujuan. Paulus berkata, aku belum sampai, aku tidak pernah menganggap aku sudah sampai. Itulah yang membuat hidup rohaninya senantiasa sadar ‘we still in the journey, in the process.‘

Kalau seseorang merasa dia sudah sampai kepada destinasinya, ada tiga kebahayaan terjadi pada diri orang itu. Pertama, orang itu akan selalu ambil kredit kepentingan bahwa dia sudah berkorban besar sampai di sini. Orang itu akhirnya lupa semua yang terjadi di dalam hidupnya itu semata-mata hanya karena kasih karunia dan anugerah Tuhan. Prinsip bahwa kita masih dalam perjalanan akan senantiasa memelihara hati kita tidak mencari pujian bagi diri sendiri. Prinsip bahwa kita masih dalam perjalanan akan senantiasa membuat kita tidak mencari kepuasan self-achievement, tetapi satu pengakuan semua achievement itu datangnya dari Allah yang memampukan kita. Prinsip bahwa kita masih dalam perjalanan akan senantiasa membuat kita senantiasa menghitung dan menghargai segala berkat Tuhan dan menaruh percaya kepada anugerah dan belas kasihan Tuhan Yesus di dalam hidup kita. Itulah spirit yang harus ada dalam diri kita sampai akhir nanti saat kita berjumpa dengan Tuhan kita Yesus Kristus.

Kiranya kita tidak mencari kredit bagi pelayanan kita, bahwa apa yang kita kerjakan dalam pelayanan itu adalah jasa kita semata-mata. Jangan sampai saya berdiri di sini dan mengatakan semua ini adalah karena jasa saya, karena pada waktu saya seperti itu saya sudah tidak melihat anugerah Tuhan, kuasa Tuhan dan kasih karunia Tuhan yang bekerja di balik semua pelayanan ini. Berbahaya karena itulah saatnya saya sudah mencari pujian dan kredit bagi diriku sendiri. Petrus pernah berkata, “Tuhan, aku sudah meninggalkan segala sesuatu untuk ikut Engkau, apa yang akan aku peroleh sebagai gantinya?” Itulah spirit orang yang sudah ‘arrived to destination.’
Apakah kita boleh katakan itu adalah korban yang besar, itu adalah pemberian yang paling bernilai kepada Kristus? Karena Paulus bilang, dibandingkan dengan Yesus Kristus, itu semua adalah sampah bagiku. Dari situlah kemudian kita bisa mengerti kalimat Paulus selanjutnya, “Aku melupakan apa yang di belakangku…”

Kedua, kalau kita terus berada dalam spirit ‘in the journey’ kita tidak akan sampai kepada pikiran ‘sense of entitlement’ merasa itu adalah hakku, jasaku, aku sudah memberi semua, saya sudah berkorban banyak, aku dapat apa sebagai balasannya? Kita akan senantiasa menjadi orang Kristen yang sombong di hadapan manusia dan di hadapan Tuhan. Padahal nanti di hadapan Tuhan kita akan malu sekali karena yang kita sombongkan adalah caviar yang sudah basi dan berbau amis. Kita menjadi lupa bahwa Christ is our treasure.

Ketiga, kalau kita menjadi orang Kristen yang tidak memiliki hati untuk bilang kita sudah sampai, kita tidak akan pernah lengah. Kita akan senantiasa watchful dalam hidup ini. When you are in war and still in journey, you never fall asleep, meskipun engkau mungkin sudah lelah dan mengantuk, kita akan berjuang untuk tetap terjaga. Seperti orang-orang Israel yang pergi berperang, jangan seperti raja Daud tinggal di istananya dan duduk bermalas-malasan. And you know the rest of the story. Hari ini kita bisa kuat, tetapi satu jam keluar dari ruangan ini kita bisa jatuh dalam dosa. Hari ini kita rohani luar biasa ke gereja, minggu depan kita bisa jatuh dalam dosa.

Ada perbedaan antara ‘yielding to sin’ and ‘to face temptation.’ Pada saat kita berada dalam perjalanan mengikut Tuhan hidup spiritual kita selalu akan menghadapi berbagai pencobaan yang bisa membuat kita jatuh ke dalam dosa, tetapi hati yang senantiasa menyadari kita sedang dalam perjalanan mengingatkan senantiasa untuk kita waspada dan aware. Mengalami pencobaan tidaklah berarti kita berdosa. Hati kita, pikiran kita, seluruh indera kita, terus-menerus akan dibombardir oleh temptation of sin dalam hidup ini. Hanya satu hal yang bikin kita tidak kalah dan gagal di situ adalah sikap hati yang mengatakan aku sudah mencapai tujuanku. Pada waktu seseorang sudah mengatakan inilah hasil karyaku, inilah hasil pelayananku, inilah kesuksesanku dan seterusnya, pada saat itulah engkau dan saya sedang menggali lobang bagi kubur sendiri. Apa yang sudah kita capai dahulu harus menjadi masa lalu.

Paulus mengatakan, “Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku…” (Filipi 3:13). Hidup kita tidak akan pernah lepas dari dua dimensi ini. Walaupun kita hidup dalam masa sekarang, kita tidak pernah lepas dengan masa lalu. Tetapi selalu membawa masa lalu kepada masa sekarang tidak akan pernah membawa keuntungan. Kalau kita terus bernostalgia dengan kenangan masa lalu, dia akan menahan hidupmu move on, kalau kita terus terhanyut dengan masa lalu, hidup kita akan menjadi pahit dan bitter. Demikian juga dengan masa depan, kalau kita terlalu memikirkan masa depan, kita akan menguatirkan hal-hal yang tidak penting dan tidak perlu. Kita menjadi lumpuh dan tidak berani berjalan melangkah. Itulah sebabnya Paulus berkata, aku memandang kepada masa depan, memandang kepada treasure yang akan Yesus Kristus berikan kepadaku, itulah yang membuatku berjalan terus.

Kita bersyukur atas firman Tuhan yang senantiasa mengingatkan kita untuk selangkah demi selangkah kita maju berjalan ikut Tuhan. Setiap kesusahan hari ini biarlah menjadi kesulitan yang kita tanggung hari ini, dimana kita belajar bagaimana mengatasinya dan memuliakan Tuhan di dalam hidup ini. Kiranya Tuhan memberkati kita dan memimpin setiap kita supaya dari firman Tuhan hari ini kita diingatkan senantiasa betapa indahnya Tuhan harta karun dan pusaka kita yang berarti dan berharga. Biar setiap hari kita awali dengan mengingat Tuhan sehingga di situ kita tahu perjalanan hidup kita hari ini adalah perjalanan hidup iman yang bersandar kepada Tuhan dan mencintai Tuhan, menghormati Tuhan dan senantiasa menaklukkan diri kita kepada Tuhan.

Kiranya Tuhan memberkati kita dan menata hati kita supaya kita tahu apa yang menjadi prioritas hidup kita, mana yang berarti dan berharga yang kita patut perjuangkan dan mana hal-hal yang tidak akan pernah kita genggam erat-erat di tangan kita oleh sebab barang-barang itu semua adalah sampah yang berbau busuk yang harus kita lempar jauh-jauh dari hidup kita.(kz)