11. Kemuliaan Kristus dan Sampah – Sampah Dunia

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Filipi (11)
Tema: Kemuliaan Kristus dan Sampah-sampah Dunia
Nats: Filipi 3:7-11

“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi karena pengenalan akan Kristus Yesus Tuhanku lebih mulia daripada semuanya itu. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah…” (Filipi 3:7-8). Inilah pengakuan yang dicetuskan dalam kalimat yang begitu agung dari rasul Paulus yang mengekspresikan pengertiannya akan apa yang menjadi visi dan nilai yang paling penting di dalam hidupnya. Tidak ada konfesi pengakuan yang lebih indah, lebih mulia dan lebih agung daripada kalimat-kalimat ini, diucapkan bukan oleh orang yang gila, diucapkan bukan oleh orang yang emosional, diucapkan bukan oleh orang yang belum pernah mendapatkan semua yang menjadi kebanggaan dan keuntungan.

Hari ini kita melihat di sinilah Paulus membalikkan semua sistem nilai yang dahulu dia pegang di dalam hidupnya. Apa yang pernah menjadi pencapaiannya bukan sesuatu yang tidak baik menurut ukuran manusia, bukan sesuatu yang tidak dihargai dan dihormati menurut ukuran manusia, bukan sesuatu yang tidak bernilai. Alkitab mencatat Paulus menyebut itu semua sebagai “gain” apa yang dahulu kuanggap sebagai keuntungan, semua orang mau itu, semua orang cari itu. Tetapi bagi Paulus apa yang dulu menjadi suatu keuntungan kini menjadi kerugian, dan bukan selesai sampai di situ, Paulus mengatakan itu semua adalah sampah karena dia memperoleh Yesus Kristus. Perubahan itu adalah perubahan yang revolusioner. Perubahan itu harus mengingatkan kita pada waktu firman Tuhan mengatakan itu adalah sampah, jangan pernah coba-coba koleksi. Karena sampai pada akhirnya itu semua akan menjadi bau busuk dan kita akan dipermalukan di hadapan Tuhan. Hari ini saya mengajak kita semua masuk ke dalam gudang rohani kita, cari dan buang segala sampah yang ada di situ. Kalau hari ini kita merasa pengap, kita merasa hidup rohani kita tidak sehat, barangkali ada sampah-sampah yang sedang mengalami proses pembusukan yang menciptakan bau yang menyesakkan dan kita kehilangan oksigen rohani yang indah dalam hidup kita.

Dari bagian Filipi 3 ini saya menemukan ada tiga jenis sampah yang perlu kita tinggalkan dan buang jauh-jauh. Dan saya berharap dan berdoa kiranya semua sampah itu tidak ada lagi di sekitar hidup kita, di dalam gereja kita, baik saya sendiri sebagai hamba Tuhan, dan kita semua sebagai orang-orang yang ikut Tuhan. Biar kiranya itu yang menjadi tekad dan keputusan hidup kita selama-lamanya.

Sampah yang pertama adalah “self-righteous.” Dalam Filipi 3:1b-2 Paulus memberi peringatakan dengan nada yang penuh dengan prihatin dan kemarahan, “Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat palsu…” Mereka adalah segerombolan anjing yang datang ke dalam gereja, mereka adalah pekerja-pekerja yang jahat yang dengan berkedok rohani menyamar dan menipu anak-anak Tuhan. Terjemahan bahasa Indonesia kurang tepat memakai kata “penyunat” karena dari bahasa aslinya Paulus lebih keras lagi memakai kata “kebiri” atau mutilasi.

Paulus melihat gerombolan ini datang seperti anjing-anjing liar yang menggigit dan menggerogoti iman gereja yang masih muda itu. Mereka datang dan mengatakan ini dan itu sebagai hal-hal yang najis dan salah, memberikan konsep kesalehan yang palsu dan kesucian ibadah dengan cara mereka. Mereka mengatakan kalau mau percaya kepada Yesus Kristus, mereka harus menaati peraturan hukum Taurat. Itulah cara memperoleh hidup keselamatan dengan melakukan semua itu.

Sebagian orang tertentu menganggap anjing sebagai binatang yang najis dan haram. Sebenarnya konsep itu datang dari tradisi Yahudi yang juga menganggap anjing itu najis. Maka kita bisa memahami Paulus bersilat kata menyebut pengajar palsu itu sebagai anjing untuk menunjukkan orang-orang yang merasa diri self-righteous itu, yang merasa diri paling benar, paling suci, paling tahu, yang datang dan menunjuk-unjuk kesalahan orang lain dan mengatakan ini itu najis, padahal mereka sendiri yang najis. Mereka adalah kelompok Farisi di dalam Kekristenan, dengan self-righteousnya menghilangkan sukacita dan joy ikut Tuhan dengan berbagai kuk dan beban mereka (band. Matius 23:4). Kita mungkin kaget Paulus menyebut mereka dengan memakai kata “anjing,” istilah yang keras dan seolah kurang kasih dan tidak rohani tetapi kita mengerti Paulus begitu serius memakai kata itu karena perilaku dan ajaran mereka seperti itu. Ini adalah sekelompok orang yang mau merubah esensi iman yang percaya kita, fondasi iman Kekristenan kita yang tidak pernah boleh kita ubah.

Di dalam Kekristenan kita mengakui ada banyak perbedaan, tetapi kalau itu adalah perbedaan yang sekunder, hanya berkaitan dengan kebiasaan, kita tidak perlu mempersoalkan dan mempermasalahkannya. Dalam Roma 14:1 Paulus memberikan prinsip “Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya…” Accept the one whose faith is weak without quarrelling over disputable matters. Ada hal-hal yang memang utama yang tidak disebutkan dengan jelas sehingga menjadi hal-hal yang diperdebatkan, jangan itu menjadi sumber pertengkaran dan persoalan. Tetapi ada hal-hal yang firman Tuhan tegas mengatakan itu sebagai esensi dari iman percaya yang tidak boleh diubah dan tidak boleh dikompromikan. Di antaranya tentang doktrin Allah Tritunggal, Yesus satu-satunya Juruselamat, penebusan dan pembenaran oleh karena anugerah belaka, dsb. Di dalam Kekristenan kita menemukan ada sekelompok cult yang menolak Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, cult yang menarik semua ajaran-ajaran dari PL yang kemudian dijadikan sebagai sarana untuk manusia mendapatkan keselamatan, kita menolak dan melawannya karena itu adalah usaha untuk merubah esensi Kekristenan.

Di dalam hidup kita secara praktis dalam konteks hidup kita, sampah pertama yang harus kita buang adalah “self-righteous,” merasa diri paling benar dan menghina orang lain yang berbeda dengan kita. Cirinya setiap kali kita berjumpa dengan siapapun dan kita menganggap diri jauh lebih rohani dan lebih suci, kita merasa lebih banyak tahu, kita cenderung menghinanya. Dia kurang berdoa daripada kita, dia kurang memberi persembahan, dia kurang melayani, dsb. Tetapi pada waktu kita menghampiri meja perjamuan Tuhan, dengan mata iman kita menyaksikan kebesaran dan kesucian Tuhan Yesus Kristus, baru kita tahu kesombongan dan pembenaran diri kita hanyalah sampah belaka; di tengah keagunganNya, kita tidak ada apa-apanya.

Gereja pun harus membuang sampah self-righteous ini. Gereja harus menjadi gereja yang memberkati, gereja yang melayani, bukan menghakimi. Tantangan kita begitu besar dan berat. Ada orang-orang yang datang dengan konteks latar belakang yang berbeda, ada yang mengalami addiction kecanduan obat, ada orang yang hidupnya hancur berantakan. Kalau kita hidup terus dengan sikap self-righteous kita, aman dan nyaman di dalam gedung bermenara gading, apa gunanya? Tuhan mengatakan Dia bisa merobohkan dinding-dinding ini supaya engkau bisa melayani keluar. Sepanjang jaman gereja yang menganggap diri lebih baik, lebih benar, senantiasa menjadi gereja yang menjadi penghambat bagi pelayanan dan penginjilan. Harus kita akui dengan prihatin gereja yang menyebut diri Reformed justru menjadi gereja-gereja yang paling menghambat penginjilan. Gereja yang merasa diri paling benar dan paling hebat justru menjadi gereja yang kehilangan kasih, tidak pernah menjadi orang yang mendukung pekerjaan penginjilan. Gereja yang menjadi motor dari pelayanan misi ke Asia itu adalah gereja Armenian dan Baptis, gereja Metodis dan bukan gereja Reformed. Pelayanan penginjilan yang mendukung dan mengutus missionaris, berdoa dengan sungguh bagi orang yang terhilang, datang dan melayani sampai ke pelosok pedalaman adalah gereja-gereja yang tidak tinggal dengan self-righteous merasa memiliki teologi yang paling benar.

Pada waktu berbicara dengan anak kita di saat dia mengalami kesulitan dan melakukan kesalahan, pada waktu saudara seiman kita ada di dalam permasalahan yang sulit karena keputusan yang tidak taat kepada firman, pernahkah kita duduk menangis bersamanya dan ikut berduka dan berseru meminta pertolongan Tuhan. Ataukah tangan kita menuding dan suara kita menghakimi, “Kamu sudah berbuat salah, kamu harusnya begini, dsb.” Kita sama-sama tidak sempurna di hadapan Tuhan. Kalau selama ini kita senantiasa hidup dengan jiwa self-righteous, saya mengajak engkau hari ini mari kita bertobat. Kalau kita tidak berlindung di balik batu karang yang kokoh yaitu Yesus Kristus, di dalam kebenaran, keselamatan, kematian dan kebangkitanNya kita akan terus menyimpan sampah self-righteous yang berbau busuk itu.

Sampah kedua adalah sampah “self-pride,” kebanggaan diri. Paulus menceritakan kesuksesan dirinya, yang berasal dari keturunan Yahudi asli, yang memiliki berbagai privilege dengan ras, keturunan, pendidikan, karier, dan segala achievementnya (Filipi 3:5-6). Itu semua dahulu sudah dimilikinya. Sekarang saat berkonfrontasi dengan orang-orang yang membangga-banggakan hal seperti itu, Paulus mengatakan semua itu adalah sampah.

Kita seringkali mengalami kesulitan, menghadapi tantangan, senantiasa selalu mau mencari tempat perlindungan kepada kesuksesan dan kekayaan; kepada achievement dan ability; kepada kemampuan dan kehebatan kita. Kalau kita berlindung kepada semua itu dan merasa diri kita kuat menghadapi segala sesuatu, jangan kaget kalau semua itu akan amblas dan roboh diterpa badai kehidupan yang dahsyat. Semua itu tidak akan pernah bisa menjadi tempat perlindungan yang sejati.

Dalam buku “Dangerous Calling” Paul David Tripp mengingatkan hamba-hamba Tuhan yang terlalu bangga dengan segala achievement kesuksesan pelayanannya sehingga lupa dengan kebesaran Tuhan. Kalau itu adalah pride kesombongan yang dibangun dari kesuksesanmu, kalau itu adalah pride yang dibangun dari banyaknya jemaat yang manggut-manggut kepadamu, kalau itu adalah pride yang dibangun dari jumlah pengikutmu yang ribuan jutaan, sehingga engkau menganggap dirimu yang patut dihormati, bahwa semua yang engkau miliki adalah kesuksesanmu, hati-hati, engkau berada di ambang kehancuran dan kejatuhan.

Paulus tidak membesar-besarkan diri sebagai seorang pendeta yang bisa berkhotbah dengan tiga atau empat bahasa meskipun dia mampu dan bisa; bahkan kepada jemaat Korintus dia mengatakan aku datang kepadamu dengan sangat takut dan gentar, dengan humbly spirit dan hanya the glory and the power of Jesus yang menjadi sandarannya (1 Korintus 2:3). Ini bukan bahasa klise atau basa-basi. Mari kita renungkan dalam-dalam, apa yang menjadi purpose yang paling bernilai dan berharga di dalam hidup kita? Apa yang menjadi value yang paling penting di dalam hidup kita? Hari ini mari kita belajar memilah dan menaklukkan diri kepada kebenaran firman Tuhan yang mengatakan apa yang paling bernilai dan apa yang hanya sampah belaka.
Self-pride membuat kita berpikir kita bisa bersandar kepada kekuatan, kesuksesan, kemampuan dan segala kehebatan kita sehingga kita tidak perlu Tuhan. Sampai kelak kita menyadari semua itu akan hancur dan roboh diterpa oleh badai dan topan besar, hurricane yang bisa meluluh-lantakkan apa yang kita pegang erat-erat dalam hidup ini. Satu-satunya tempat kita berlindung di tengah segala prahara adalah di balik batu karang yang kokoh dan teguh itu, Yesus Kristus, sehingga amanlah jiwa kita.

Sampah yang ketiga, buang “self-interest.” Barangsiapa yang menjadikan diri sebagai yang paling penting dan menjadikan interes diri itulah yang dia cari, kelak di hadapan Allah itu semua adalah sampah yang berbau busuk adanya. Dalam Filipi 2:21 Paulus mengatakan, “…sebab semua orang mencari kepentingannya sendiri dan bukan kepentingan Kristus Yesus…” Paulus menyatakan fakta yang menyedihkan bahwa di dalam pelayanan ada begitu banyak yang mengaku hamba Tuhan ’just seeking their own interest.’ Tidak banyak yang mencari kepentingan Yesus Kristus. Semuanya mencari kepentingan diri sendiri. This is MINE. This is MY kingdom. This is MY ministry. This is MY jemaat. This is MY church. PelayananKU, keberhasilanKU, berbahaya sekali seorang pendeta mengatakan seperti itu! Seorang hamba Tuhan tidak boleh mengukur pelayanannya berdasarkan berapa banyak semua itu dan tidak bisa kita menjalankan pelayanan kita dengan self-interest seperti itu.

Paulus begitu prihatin dan berduka menyatakan fakta realita ini, “semua orang mencari kepentingannya sendiri.” Banyak orang memakai segala cara menarik jemaat yang Paulus layani dengan cara menjelek-jelekkan rasul Paulus. Di sinilah kita memahami apa yang Yesus katakan di dalam Matius 7:22-23, kelak ada banyak orang berseru, “Tuhan, Tuhan kami bernubuat demi namaMu, mengusir setan demi namaMu, mengadakan banyak mujizat demi namaMu…” Ayat itu memberitahukan kepada kita berapa mudah kita bisa memakai embel-embel demi nama Yesus, demi nama Injil, padahal itu hanya kendaraan yang kita pakai untuk memenuhi self-interest kita sendiri. Jikalau ujung-ujungnya adalah diri sendiri, ujung-ujungnya adalah demi self-interest sendiri, kita telah mencuri kemuliaan Tuhan. Sampai di hadapanNya nanti adakah Dia juga akan mengatakan hal yang sama kepada kita, “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah daripadaKu, hai pembuat kejahatan”? Mari kita bertobat, mari kita buang segala sampah dari hidup kita dan datang di hadapan Tuhan. Pilih pilihan ini, seperti Paulus mengatakan, “Yang kukehendaki adalah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya serta persekutuan di dalam penderitaanNya…” (Filipi 3:10). I want to know MY Lord, kata Paulus, satu kalimat yang begitu personal, begitu intim, begitu dekat. Kalimat ini diucapkan bukan oleh seorang yang baru kenal Tuhan, kalimat ini diucapkan oleh Paulus, yang di akhir hidupnya memiliki kerinduan yang sama seperti pada hari-hari pertama dia mengenal Tuhan Juruselamatnya. Apakah kalimat ini juga engkau dan saya ucapkan dan menjadi tujuan hidup kita di dunia ini? Apakah kita juga mengatakan ‘I want to know You, Lord, more and more in my life’? Apakah kita memasuki ibadah hari ini dengan sikap dan kehausan kerinduan yang seperti ini? Adakah kita ingin mengenal pribadi Kristus lebih dalam lagi, ingin mengenal kuasa kebangkitanNya, ingin mengerti dan bersekutu di dalam penderitaanNya?

Perhatikan, Paulus menyebutkan urutan yang terbalik secara kronologi sejarah di dalam hal ini, kebangkitan Yesus dulu, baru penderitaan Yesus. Secara kronologisnya bukankah Yesus menderita lebih dahulu, mati dan kemudian bangkit dari kematian? Ada beberapa alasan yang saya pikirkan kenapa Paulus menyebut kebangkitan dulu baru penderitaan Yesus. Kita berada pada era dimana kita sudah tahu Yesus sudah menang atas kematian, Dia sudah bangkit mengalahkan maut dan dosa. KuasaNya sudah terbukti. Paulus membalikkan urutan maksudnya adalah engkau akan sanggup menjalani the fellowship of suffering itu because there is a hope in resurrection. Jika tidak, kita akan berkata seperti Petrus, ‘Tuhan, kami sudah meninggalkan segala sesuatu untuk ikut Engkau, apa yang akan kami peroleh sebagai gantinya?’ Pertanyaan seperti itu bisa keluar dari dia karena dia belum melihat kebangkitan. Engkau dan saya tidak perlu dan tidak boleh lagi mengeluarkan pertanyaan seperti itu sebab kita sudah melihat kebangkitan Kristus. Maka Paulus balikkan, through the power of resurrection I can face the fellowship of suffering.
Yang kedua, dalam 1 Korintus 15:14 Paulus mengatakan jikalau Yesus tidak bangkit, sia-sialah kepercayaan kita. Yesus bangkit membuktikan apa yang Ia katakan bukan suatu kebohongan, semua yang Ia katakan adalah ‘ya’ dan ‘amin.’ Itulah sebabnya mengenal the power of resurrection itu penting. Apa yang Tuhan katakan, apa yang Ia janjikan semua ‘ya’ dan ‘amin.’
Yang ketiga, mengerti kuasa kebangkitan memberi kita keyakinan yang teguh setelah kita meninggal pasti kita akan mengalami kebangkitan itu. Kalau tidak ada kebangkitan, tidak ada meaning dari suffering; kalau tidak ada kebangkitan, tidak ada makna di dalam penderitaan.

Kita merasa betapa panjangnya harus menjalani penderitaan di dalam dunia ini, belasan puluhan tahun. Namun mari kita membandingkannya di dalam kekekalan, penderitaan waktu di dunia hanya singkat sementara. Dan penderitaan itu kelak akan digantikan oleh sukacita menyaksikan kemuliaan Tuhan. Pada waktu engkau dan saya harus menjalani penderitaan yang berat selama di dunia ini, ini doa kita, Tuhan, melalui kuasa kebangkitanMu biar penderitaan yang kualami tidak menjadi penderitaan yang kujalani sendiri tetapi kiranya menjadi penderitaan yang berbagian dengan the fellowship of Your suffering, Lord, karena ada meaning yang indah daripadanya. Penderitaan itu bukan suffering kita sendiri; di dalam suffering itu kita berbagian dengan penderitaan Yesus Kristus; di dalam suffering itu ada kebangkitan nantinya. Kebangkitan itu harus membuat hati kita takut luar biasa karena sampai di hadapanNya semua terang-benderang dan segala yang tersembunyi akan terbuka. Jadi gentarlah kita, jangan sampai di situ kita masih membawa barang-barang yang kita kira berarti dan berharga, ternyata sampai di depan Tuhan itu semua sampah belaka.

Mari kita ambil keputusan bertobat dari mengandalkan dan memegang segala yang selama ini kita genggam erat-erat, yang kita merasa paling berarti dan berharga, sumber kesombongan kita, sumber kesuksesan kita, sumber kebanggaan diri kita, sumber self-righteous kita. Di dalam terang-benderang kebangkitan dan kematian Kristus semua itu adalah sampah-sampah yang berbau busuk yang sudah merusak hati kita, yang sudah menciptakan hidup rohani yang tidak sehat. Minta kepada Tuhan keberanian dan tekad untuk tidak memegang dan menyimpan semua itu lagi.(kz)