14. Kedewasaan Spiritual

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Filipi (14)
Tema: Kedewasaan Spiritual
Nats: Filipi 3:17 – 4:1

Saat menulis surat ini Paulus tersendiri di dalam penjara, di tengah ruangan sempit dan dingin dan dengan belenggu rantai pada tangan dan kakinya, dengan kecilnya kemungkinan dia bisa keluar dari tempat itu sebagai orang bebas, inilah moment-moment terakhir dari seorang hamba Tuhan yang hanya bisa melihat dari jauh kepada jemaat yang dikasihinya. Entah situasi dan kesulitan apa yang mereka sedang alami, dan ada kekuatiran mengetahui ada serigala-serigala berjubah spiritual sedang datang untuk menyebarkan ajaran palsu yang menarik mereka dari salib Kristus, yang mungkin melayani dengan motivasi yang tidak benar; yang membawa Injil tetapi dengan maksud untuk mendapatkan keuntungan dan kekayaan pribadi. Itulah tantangan yang dialami seorang hamba Tuhan yang tidak berdaya tersendiri di dalam penjara. Mungkin ada banyak kalimat-kalimat yang tidak benar disebarkan menjelek-jelekkan reputasi Paulus, bahwa dia dipenjara pasti ada dosanya, ada hal-hal yang salah yang dia kerjakan, dsb. Namun di tengah-tengah kondisi seperti itu, kita menemukan keindahan Paulus mengekspresikan emosi dan perasaan yang benar seharusnya bagaimana, itulah yang menjadi ciri dari hidup seorang yang dewasa rohaninya. Dia tidak tenggelam di dalam self-pity, tidak duduk di dalam keputus-asaan. Sebaliknya dari hidupnya keluar kata-kata penghiburan yang menguatkan orang, dan nasehat yang membimbing anak-anak Tuhan yang juga di dalam kelemahan.

Kiranya kita juga menangis untuk hal-hal yang sepatutnya ditangisi; kita bersukacita untuk hal-hal yang membawa sukacita; kita marah kepada hal-hal yang sepatutnya kita marah. Tetapi seringkali di dalam ketidak-dewasaan rohani kita, semua emosi kita menjadi terbalik adanya. Kita tertawa kepada hal-hal yang seharusnya kita tangisi; kita menangis terhadap hal-hal yang seharusnya tidak perlu; kita marah kepada hal-hal yang seharusnya tidak perlu.

Paulus di bagian sebelumnya sudah mengatakan kepada jemaat Filipi bagaimana menjadi seorang yang “teleios” yang bisa diterjemahkan “sempurna” atau “dewasa” di dalam Kristus. Dan di sini bagian dimana Paulus bicara mengenai apa artinya orang yang dewasa yang bisa dilihat di dalam perasaan dan emosi yang muncul di dalam dirinya. Sebagian dari jemaat Filipi ini akhirnya hatinya menjauh dari Paulus walaupun sebenarnya pada awalnya Paulus yang memulai pelayanan di Filipi ini. Mungkin ada misinformasi yang diberikan kepada mereka menjelek-jelekkan Paulus tetapi bagi Paulus itu tidak mengapa, karena di tengah kesendiriannya Paulus tetap menyaksikan mereka adalah “brothers in Christ Jesus.” Itulah hati Paulus. Di sini dia sebut mereka “sukacitaku, mahkotaku” (Filipi 4:1). Ada sukacita kalau kita menyaksikan hidup orang Kristen yang lain yang bertumbuh dalam Tuhan, yang mencintai Tuhan, seperti itulah sukacita Paulus.
Tetapi di dalam bagian ini kita juga menyaksikan selain sukacita dan kegembiraan Paulus, ada aspek yang lain dari emosinya. Dari bersukacita, Paulus mengatakan selanjutnya, “Aku menangis…” Kita bisa melihat di bagian ini naik dan turunnya emosi yang sedang berkecamuk pada diri Paulus. Apa yang Paulus tangisi? Siapa yang Paulus tangisi? “Karena seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus…” (Filipi 3:18). Jemaat setidaknya tahu konteks situasi pada waktu surat ini disampaikan. Yang menjadi persoalan adalah kita yang sekarang ini membacanya tidak mempunyai indikasi yang cukup jelas, karena Paulus tidak membuka dengan jelas siapa orang-orang yang Paulus maksudkan di sini. Siapakah orang-orang ini? Siapa orang-orang ini yang Paulus sebut adalah musuh dari salib Kristus? Orang luarkah? Orang non Kristen ataukah orang Kristen sendiri?

Kalau kita lihat selanjutnya Paulus mengatakan “kesudahan mereka ialah kebinasaan, tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka adalah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi…” (Filipi 3:19) saya setuju kepada pendapat beberapa penafsir, ini adalah kelompok “hamba-hamba Tuhan” yang mengajar dan mengaku adalah orang Kristen tetapi mereka melakukan hal-hal yang akhirnya bukan menjadi sahabat salib Kristus; mereka memberitakan Yesus Kristus tetapi justru mereka adalah musuh dari Injil dan salib Yesus Kristus. Itulah sebabnya Paulus menangis. Menangis bukan saja karena merasa tidak berdaya menghadapi tantangan itu, tetapi menangis juga karena betapa destruktifnya akibat yang bisa dihasilkan oleh orang-orang ini. Jadi tangisan ini adalah ekspresi kesedihan yang campur aduk dengan kemarahan yang suci.

Orang-orang ini adalah orang-orang yang sudah pernah mengaku menjadi orang Kristen, bahkan lebih lagi mereka adalah kelompok yang mengajar. Dari situ bisa kita katakan inilah kelompok yang “murtad.” Kita seringkali salah mengkonotasikan orang yang murtad adalah orang yang dulunya ke gereja lalu tidak ke gereja lagi; atau orang yang dulunya mengaku sebagai orang Kristen lalu kemudian secara publik mengatakan dia bukan lagi orang Kristen dan menyangkal sebagai pengikut Kristus. Murtad bukan berarti orang itu sudah percaya kepada Kristus dan sudah menjadi milik Kristus lalu kemudian dia hilang keselamatannya, kita tidak menerima konsep seperti itu. Murtad di sini adalah orang itu tetap ada di dalam gereja, bahkan orang itu mungkin orang yang aktif melayani di gereja, bahkan dia mungkin mengajar dan menjadi pengurus gereja, tetapi di dalam hatinya sedalam-dalamnya dia tidak pernah percaya Yesus Kristus. Ibrani 6:4-6 memperlihatkan ciri-ciri orang yang murtad ini. Namun tidak mudah menemukan dan menunjuk orang-orang itu karena kita tidak bisa membedakan siapa yang sungguh-sungguh milik Kristus dan siapa yang bukan pengikut Kristus yang sejati karena tidak ada tanda-tanda eksternal yang memperlihatkan hal itu.

St. Agustinus, bapa Gereja di abad 4-5 AD mengatakan gereja terdiri dari lalang dan gandum. Yesus Kristus sendiri pernah memberikan perumpamaan akan hal ini kepada murid-murid (Matius 13:24-30, 36-42). Para pekerja di ladang mau segera mencabut lalang itu tetapi pemilik ladang mengatakan jangan sekarang, karena gandumnya bisa ikut tercabut. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama samapi waktu menuai. Semakin tumbuh gandum akan merunduk sarat oleh bulir-bulirnya dan sebaliknya lalang akan tegak berdiri, itulah saatnya dia mudah ditarik dan dicabut. Itu sekaligus menunjukkan gandum akan merunduk sebagai tanda maturity, merunduk sebagai tanda humble di hadapan Tuhan. Sebaliknya lalang akan tumbuh terus naik ke atas, tidak ada biji dan buahnya.

Gereja mula-mula menghadapi ajaran sesat melalui pengajar-pengajar seperti ini. Yang pertama adalah ajaran Gnosticism yang kena pengaruh dari filsafat Yunani yang merasuk di dalam Kekristenan. Gnosticism sangat menekankan aspek intelektual dan menjunjung tinggi posibilitas menjadi mature di dalam pengetahuan. Mereka membagi orang Kristen dalam dua kategori atau dua kelas. Yang pertama mereka sebut kategori ‘hoi polloi’ atau the common herd, orang Kristen yang biasa-biasa saja. Lalu kategori kedua adalah kelompok yang disebut ‘hoi teleioi,’ the elite, yang mempunyai pengetahuan khusus. Perhatikan kata “teleioi” yang sama Paulus pakai dalam Filipi 3:12-16 dimana Paulus khusus bicara mengenai aspek kesempurnaan. Paulus dengan rendah hati mengatakan, “aku belum sempurna…” (ayat 12) tetapi di ayat 15 dia mengatakan, “karena itu marilah kita yang sempurna…” Muncul paradoks ini, di satu pihak Paulus mengatakan dia belum sempurna, namun di sini dia menyebut sebagian jemaat “marilah kita yang sempurna,” berarti ada indikasi sebagian jemaat itu merasa mereka sudah sempurna.
Yang kedua adalah kelompok yang salah mengerti akan apa yang namanya anugerah keselamatan di dalam Kristus, dan indikasi yang seperti ini bukan saja di dalam surat Filipi tetapi juga bisa kita temukan di dalam surat Paulus kepada jemaat di Roma. Roma 6:1-4 kita menemukan ini adalah kelompok orang Kristen yang salah mengerti atau yang ‘kebablasan’ mengerti ‘the theology of grace.’ Kita diselamatkan semata-mata karena kasih karunia dan bukan karena perbuatan baik. Tidak ada jasa dan perbuatan kita yang bisa kita jadikan sebagai barter di hadapan Allah untuk mendapatkan keselamatan itu. Hanya karena kebaikan Kristus, hanya karena kebenaran Kristus, kita mendapatkan kebenaran di hadapan Allah melalui iman kepada Kristus. Itulah teologi yang kita terima. Tetapi ada orang Kristen salah memahami anugerah Allah di dalam relasi bagaimana hidupnya itu menjadi saksi yang benar dan suci. Dalam Roma 6:1 Paulus menegur kesalahan kebablasan memahami bahwa Allah terus-menerus mengampuni dosa kita, kalau begitu tidak apa-apa terus-menerus berdosa, toh Allah juga akan terus-menerus mengampuni kita. Dua macam kelompok ini saya duga menjadi kelompok yang Paulus bicarakan di sini.

Paulus menangis sebab mereka ini telah menjadi seteru salib Kristus. Salib Kristus adalah mengenai penderitaan, mengenai hidup menyangkal diri, mengenai hidup kita itu menjadi terang dan saksi, membawa kebenaran Tuhan di dalam hidup kita. Itu adalah kalimat Paulus di ayat 20, “…karena kewargaan kita adalah di dalam surga,” tetapi bagaimana kewargaan itu engkau nyatakan di dalam hidupmu sehari-hari. Filipi 1:27 “hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus…” Di situlah hal-hal spiritual yang sudah engkau miliki itu nyata di dalam hidupmu sehari-hari.
Paulus mengatakan, “kesudahan mereka ialah kebinasaan…” their destiny is destruction; “tuhan mereka ialah perut mereka…”their god is their stomach; “kemuliaan mereka ialah aib mereka…” their glory is in theor shame; “pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi” their mind is set on earthly things. Dengan teliti sekali Paulus membongkar dalam empat aspek yang menjadi kebanggaan mereka itu adalah kehancuran mereka. Segala achievement yang engkau sebutkan adalah aib. Semakin banyak orang yang ikut mereka, semakin banyak mereka menjadi pengkhotbah-pengkhotbah yang ternama luar biasa, semakin mereka merasa hebat luar biasa. Selesai itu lalu kemudian mereka pesta pora untuk menyatakan kehebatan dan kesuksesannya. Paulus bilang tuhan mereka adalah perut mereka. Jadi siapa yang mereka sembah? Yang mereka sembah cuma perut sendiri. Paulus spesifik menyebut istilah ini, “pikiran mereka,” karena mereka membanggakan bilang ‘I know about the spiritual things,’ lalu Paulus langsung bilang pikiranmu semata-mata tertuju kepada perkara duniawi. Mereka bilang mereka sudah “sampai” (teleios) sudah sampai kepada bijaksana ‘I know’ tetapi Paulus bilang engkau sampai kepada kebinasaan di lubang kuburmu.

Kalau kita tarik ke dalam hidup kita sekarang, firman Tuhan tetap berbicara memanggil kita bagaimana menjadi orang Kristen yang dewasa di dalam Kristus. Ini menjadi kontras dari bagian yang di atas tadi, “teleios” bicara mengenai kedewasaan yang sejati. Maturity atau kedewasaan itu ada banyak segi. Yang pertama, kedewasaan secara fisik. Kita tahu secara fisik seorang anak akan terus bertumbuh sampai dewasa secara natural. Pertumbuhan fisik tidak bisa kita tolak. Namun umur bertambah, fisik menjadi dewasa tidak otomatis berarti seseorang dewasa di dalam aspek-aspek yang lain. Itulah sebabnya Tuhan mengingatkan kita ada perbedaan antara “childlike” dan “childish.” Tuhan Yesus memanggil kita untuk “menjadi seperti anak kecil” dalam pengertian “childlike” behaviour yang innocent, jujur, percaya kepada Tuhan tanpa banyak curiga, dsb. Sedangkan “childish” behaviour adalah sifat kekanak-kanakan. Ada orang yang sudah tua umurnya tetapi masih memiliki sifat yang kekanak-kanakan.

Yang kedua, kedewasaan secara intelektual. Semakin banyak pengetahuan yang didapat, semakin banyak informasi yang diserap, kemampuan untuk menganalisa sesuatu hal, menggabungkannya atau mengkontraskannya dengan hal yang lain, mendapatkan hasil kesimpulan dan menambah pengetahuan, itu semua menjadi ciri dari kedewasaan intelektual. Namun dewasa secara intelektual tidak tentu membuat seseorang menjadi dewasa dalam aspek yang lain. Kita banyak menjumpai orang yang sangat pandai secara intelektual, gelarnya banyak, lulusan dari universitas ternama, tetapi pengetahuannya yang begitu banyak tidak sesuai dengan perilakunya.

Yang ketiga, kedewasaan secara moral. Ibrani 5:14 “…orang dewasa mempunyai panca indera yang terlatih untuk membedakan yang baik dan jahat,” di sini memperlihatkan ciri dari kedewasaan secara moral. Orang itu mampu membedakan hal yang benar dan yang salah. Kita menginginkan anak-anak kita memiliki kemampuan seperti itu sehingga mereka bukan saja memiliki kemampuan secara intelektual tetapi memiliki keseimbangan di dalam karakter dalam aspek kejujuran, kerajinan, keuletan, tidak gampang menyerah, dan dapat mengambil keputusan yang bijaksana di dalam hidup mereka.

Yang keempat, kedewasaan secara emosi. Seorang yang dewasa secara emosi memiliki keseimbangan di dalam responsibility, memahami kewajiban dan tanggung jawab, kepribadian yang matang, jiwa yang sanggup bisa menghadapi berbagai persoalan hidup. Saat menghadapi berbagai keadaan dia tahu bagaimana bereaksi dalam emosi secara tepat dan benar.
Yang terakhir, kedewasaan secara spiritual. Inilah yang kita renungkan dari bagian yang kita bahas pada hari ini, kedewasaan secara rohani. Paulus mengatakan, “Dialah yang kami beritakan apabila tiap-tiap orang kami nasehati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan di dalam Kristus” (Kolose 1:28 ). Maturity in Christ, inilah yang menjadi tujuan pelayanan Paulus.

Dalam buku “The Radical Disciple” Pdt. John Stott menulis dengan begitu sederhana apa artinya menjadi seorang murid Kristus. Dia bicara mengenai Christlikeness, dia bicara mengenai maturity. Dia ajak kita fokusnya adalah melihat Yesus Kristus yang agung itu sebagai yang utama. Kenapa banyak orang Kristen itu tidak pernah menjadi clear melihat Kristus seperti ini? Karena begitu banyak “blindfolding” yang tanpa sadar menutup mata kita, kita pikir kita sudah melihat dengan jelas, orang lain pikir kita juga sudah melihat dengan jelas, padahal kita tidak seperti itu. Semakin dekat kita kepada Tuhan, semakin jelas dan semakin clear penglihatan kita akan Dia. “The poorer our vision of Christ, the poorer our discipleship will be, whereas the richer our vision of Christ, the richer our discipleship will be,” demikian kata Pdt. John Stott. Kita tidak bisa menjadi dewasa secara rohani selama kita tetap memakai penutup mata yang menghalangi kita melihat Kristus. Terlalu banyak penghalang-penghalang yang perlu diangkat dari mata kita. Tidak ada maturity yang lain selain seperti kata Paulus, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia, dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan di dalam penderitaanNya…” (Filipi 3:10) karena di situlah kedewasaan rohani kita terjadi dimana kita terus connect dengan Tuhan kita Yesus Kristus.
Kalau kita membaca kitab Nehemia, kita menemukan Nehemia setiap kali menghadapi persoalan selalu muncul frase ini, “maka aku berdoa kepada Allah semesta langit” (1:4, 2:4, 4:9 dst.). Pada saat dia menghadapi persoalan, serta-merta dia membawanya kepada Tuhan. Kita mungkin memang punya saat doa pribadi khusus, kita ikut kebaktian doa di gereja, namun yang dilakukan Nehemia berarti tidak ada moment dalam hidupnya dimana dia tidak connect dengan Tuhan.

Di dalam persekutuan sektor kita membahas mengenai pernikahan, pastor Bill Hybels mengatakan relasi dalam pernikahan seringkali mengalami konflik, pertama, di saat kita tidak memiliki spirit rekonsiliasi, satu sikap hati yang sangat perlu dalam menghampiri problem di dalam sebuah relasi. Kedua, karena kita tidak pernah membawa problem kita dan pasangan kita di dalam doa. Pastor Bill Hybels mengatakan, “It is amazing how many insurmountable conflicts get whittled down to a manageable size in the woodshed of prayer,” di saat kita membawanya di dalam doa kita kepada Tuhan, mungkin separuh dari persoalan itu langsung lenyap meskipun engkau belum sempat membicarakannya dengan pasanganmu, karena engkau sudah beres terlebih dahulu dengan Tuhan. Pulang dari kantor kita sudah mau siap-siap beresin isteri atau suami kita, kita sudah siap-siap dengan senjata dan pelor amunisi untuk menyerang dia. Tetapi mari, di tengah perjalanan pulang, di bus, di train, di mobil, engkau berdoa kepada Tuhan bagi pasanganmu dan persoalan yang engkau hadapi. Kita nyatakan segala perasaan kita, kekecewaan, kemarahan, perasaan diperlakukan dengan tidak adil, kegagalan, dsb. Minta Tuhan kekuatan untuk menghadapi orang yang melukai hati kita dan mengerti akan kesulitan dia. Saat kita berdoa di hadapan Tuhan, barangkali di situ kita akan terbuka melihat dari perspektif yang berbeda, mungkin ada tindakan kita yang membuatnya bereaksi seperti itu. Di situ kemudian kita bisa berubah lebih dulu. Mungkin kita terlalu gampang melihat debu di mata orang, tetapi balok yang menghalangi mata kita tidak kita lihat, kita meminta Tuhan memberi kita hati yang rendah untuk dikoreksi oleh Tuhan. Inilah arti kalimat, “Karena itu marilah kita yang sempurna berpikir demikian, dan kalau lain pikiranmu, Tuhan akan menyatakannya kepadamu.” Bagaimana Tuhan akan menyatakannya kepadamu jikalau engkau tidak pernah connect dengan Dia?

Kiranya Tuhan memberkati dan memimpin kita mengalami kedewasaan spiritual yang sejati ini. Biar hari ini kita menikmati firman ini membentuk kematangan rohani kita, menata emosi kita dan membuat pikiran kita memahami Allah Tuhan bukan sekedar di pikiran, tetapi nyata di dalam hidup kita sehari-hari. Ia senantiasa mau membentuk kita untuk semakin bertumbuh kepada kedewasaan rohani dimana kita bisa mengalami betapa indahnya Kristus Tuhan itu menjadi bijaksana yang boleh menjadi teladan hidup kita yang menjadi Tuhan yang memperkaya kita. Kiranya hati kita tidak akan pernah merasa kita sudah mencapai kedewasaan, kita ingin terus merendahkan diri rela dikoreksi oleh Tuhan, dipertumbuhkan di dalam kasih setia dan anugerah kebenaran Tuhan. (kz)