13. Humility, a First Step into Christian Perfection

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Filipi (13)
Tema: Humility, a First Step into Christian Perfection
Nats: Filipi 3:12-16

Jika kita melihat sekeliling kita, dari dua orang yang kira-kira memiliki achievement yang sama, siapakah orang yang lebih dikenal dan dikagumi, orang yang sombong ataukah orang yang rendah hati? Siapakah yang kita rasa mendatangkan pesona yang membuat orang kagum kepadanya, orang yang arrogant, yang suka membangga-banggakan, mencetuskan dan menceritakan apa yang menjadi achievement di dalam hidupnya ataukah orang yang dengan rendah hati mengatakan ‘aku orang biasa-biasa saja’? Jawaban yang benar dan sepatutnya kita kagum dan menghargai orang yang rendah hati, bukan? Tetapi fakta realitanya bukankah dunia sekitar kita lebih kagum dan terpesona kepada orang-orang yang dengan arrogant dan sombong menceritakan segala pencapaian yang dia dapatkan?

Contoh sederhana saja, dari sejumlah kandidat calon presiden dari partai Republic di Amerika yang sedang bertarung saat ini, siapa yang paling banyak dikenal dan diliput oleh media massa? Orang lebih mengenal Donald Trump yang arrogant, sombong, kasar, bermulut besar dan suka membesar-besarkan keberhasilannya, dibanding dengan kandidat-kandidat yang lain, bukan? Siapa yang kenal dan ingat Ben Carson, seorang neurosurgeon Kristen yang terbaik yang pernah ada, yang sama-sama mencalonkan diri, seorang yang luar biasa baik, murah hati, penuh dengan kerendahan hati dan tidak pernah menceritakan dan membangga-banggakan achievement yang dia capai dalam hidupnya? Dengan keahliannya sebagai seorang neurosurgeon yang ahli di dalam mengoperasi khususnya otak anak kecil, Dr. Ben Carson berhasil mengoperasi beberapa anak kembar yang mengalami pendempetan kepala dan dengan teliti menyambung satu demi satu ribuan pembuluh darah, urat syaraf dan urat nadi dari otak anak-anak itu. Tetapi orang lebih kagum dan terpesona kepada Donald Trump daripada Ben Carson, bukan? Semakin besar mulutnya berbicara, semakin kagum orang kepadanya; semakin bombastis kata-katanya, semakin orang membuka telinga lebar-lebar mendengarkannya.

Mudah sekali kita terpesona dengan achievement yang dicapai seseorang. Mudah sekali kita terpesona dan menjadi kelompok penggemar yang gampang mengikuti metode kesuksesan orang lain. Itulah mata kita, yang mudah silau kepada orang-orang yang dengan tidak ragu dan sungkan menyombongkan dan membesar-besarkan keberhasilan dalam hidupnya, termasuk itu tidak terlepas pada waktu orang masuk ke dalam wilayah kerohanian, yang katanya hamba Tuhan sekalipun.

Kita tentu masih ingat kisah Tuhan mengutus nabi Samuel untuk mengurapi calon raja untuk pengganti raja Saul (1 Samuel 16). Dari delapan anak Isai, kepada siapa mata Samuel langsung kagum dan terpesona? Kepada anak yang paling besar, Eliab. Tetapi Tuhan segera mengingatkan Samuel, “Janganlah pandang parasnya atau perawakannya yang tinggi sebab bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah. Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” (1 Samuel 16:7). Harus kita akui fenomena seperti Samuel ini wajar terjadi karena kita tidak sanggup melihat sampai ke dalam hati sanubari orang. Tuhan memilih Daud yang paling bungsu, yang secara umur masih begitu muda, yang secara perawakan tidak memenuhi persyaratan menjadi seorang pahlawan yang gagah perkasa. Waktu Daud berdiri di hadapan Samuel, Tuhan berkata, “Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia orangnya.”

Dalam bagian yang kita baca hari ini Paulus menyebutkan suatu hasrat yang begitu dalam pada diri Paulus dengan satu frasa yang begitu indah, “hanya satu hal yang kuinginkan dalam hidupku yaitu mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan di dalam penderitaanNya…” (Filipi 3:10). Ini adalah kerinduan dan hasrat Paulus yang tidak pernah luntur di dalam spirit Paulus sampai akhir. Di dalam hasrat itu Paulus menyatakan satu pengakuan yang memperlihatkan betapa rendah hatinya hamba Tuhan ini. Justru di dalam kerendahan hatinya kita menemukan kekayaan dan kedewasaan rohani dia. “Bukan seolah-olah aku telah memperolehnya dan telah sempurna…” (Filipi 3:12).

Para penulis Alkitab selain Paulus, baik Yakobus, Petrus, ataupun Yohanes di dalam surat-surat pastoralnya senantiasa memberikan peringatan akan bahaya sebuah kesombongan. Yakobus mengatakan, “Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan dan Ia akan meninggikan kamu…” (Yakobus 4:10). “Allah menentang orang yang congkak tetapi mengasihani orang yang rendah hati…” (Yakobus 4:6). Dalam 1 Petrus 5 Petrus memberi peringatan tentang bahaya kesombongan di dalam konteks spiritual leaders. “Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain sebab Allah menentang orang yang congkak tetapi mengasihani orang yang rendah hati…” (1 Petus 5:5). Kenapa kita perlu mulai dengan langkah itu? Karena the spirit of humility adalah langkah pertama untuk kita belajar mengalami pertumbuhan rohani. Orang tidak akan pernah mahir dan maju kalau tidak ada the spirit of humility ini. Sebaliknya, orang sombong adalah seorang yang selalu memperlihatkan sebuah potret diri yang tidak sejati mengenai dirinya, sehingga apa yang ada di luar menjadi public persona yang kelihatan begitu sempurna tidak ada cacat dan kelemahan. Barulah kita akan terkejut dan kaget di balik hidupnya menyimpan segala ‘skeleton’ yang tidak pernah kita pikir adalah justru itu hidupnya yang asli.

Tetapi tidak gampang untuk kita berani membuka diri, karena pada naturnya kita takut dilihat dalam keadaan vulnerable. Waktu kita mengatakan, “Maafkan saya, saya sudah bersalah. Saya akan belajar dari kesalahanku untuk menjadi orang yang lebih baik…” itulah moment dimana kita terbuka dan vulnerable dilihat orang. Dan pada waktu kita menyatakan seperti itu seringkali gampang dan mudah orang menyerang kelemahan kita dalam posisi seperti itu. Tetapi justru orang yang berani mengakui kesalahan dan kegagalannya di depan orang lain menunjukkan dia adalah orang yang otentik, bahwa apa yang ada di dalam hati adalah sama dengan yang di luar. Rasul Yohanes mengatakan “Jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa, kita menipu diri sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita…” (1 Yohanes 1:8). Menipu diri berarti orang itu menyatakan apa yang di luar tidak sama dengan apa yang ada di dalam, karena tidak pernah ada orang yang tidak pernah berbuat salah dalam hidupnya.

Kedua, rasul Paulus menyatakan dia di dalam proses perjalanan dan belum mencapai kesempurnaan, maka sikap yang dipegangnya adalah “melupakan apa yang telah di belakangnya, dan mengarahkan diri kepada apa yang ada di depan, dan berlari-lari untuk mencapai tujuan…” Orang yang rendah hati juga adalah orang yang bersikap rendah hati dan tidak menganggap apa yang sudah dia capai di masa lalu tidak pernah menjadi satu kebanggaan dan kesombongan, itu sudah lewat. Demikian juga apa yang menjadi kegagalan dan kesalahannya di masa lalu tidak menjadi penghalang dan tidak mengganggu untuk bisa terus berjalan maju karena dia bersedia hati untuk mengoreksi hidupnya. Itu adalah satu sikap hati untuk belajar dari kegagalan dan kesalahan di masa lampau.

Pada waktu kita mengalami kesuksesan, apa yang kita belajar daripadanya? Harus kita akui kadang kita tidak cepat belajar dari pengalaman untuk tidak mabuk dengan kesuksesan itu. Kalau kita dalam keadaan berbaring di rumah sakit, apa yang kita belajar daripadanya? Saya yakin di situ kita semua akan bersyukur dan menghargai betapa berharganya satu hari sehat. Kalau hari ini engkau ditipu temanmu $20,000, apa yang engkau belajar daripadanya? Barangkali kita sakit hati dan terluka karena mengira dia adalah teman yang bisa engkau percaya, padahal ternyata dia seorang yang berhati licik yang tega menipu engkau. Jangan biarkan kegagalan dan kesalahan yang pernah engkau lakukan di dalam hidupmu menahan hidupmu dan membuatmu tidak bisa melangkah ke depan. Yang membuat kita tidak bisa maju bukan karena kita tidak ada kesempatan dan kemampuan untuk maju tetapi karena kita mungkin tidak memiliki the spirit of humility ini.

Jadi sebelum Paulus mengatakan buang dan tinggalkan semua yang telah menjadi masa lampau itu, dia mulai dengan kalimat pengakuan ini dahulu, “aku belum mencapainya dan belum sempurna.” Ini sesungguhnya adalah kalimat yang begitu besar dan agung, diucapkan oleh seorang rasul kepada jemaat yang dia dirikan, dan sekaligus menjadi kalimat encouragement mendorong jemaat untuk maju bersama-sama dengan dia. “…supaya aku dapat menangkapnya karena aku telah ditangkap oleh Kristus.” Hanya Kristus satu-satunya yang menjadi kesempurnaan kita.

Yang kedua, Paulus mengatakan jangan biarkan masa lalu itu menjadi sesuatu yang engkau terus ingat. Kesuksesan yang kita raih tidak boleh menjadi kebanggaan kita sekarang, kegagalan masa lalu tidak boleh menjadi sesuatu yang akan terus-menerus membuatmu gagal dalam hidupmu selanjutnya. Mari kita maju, mari kita fokus, mari kita terus kejar dengan penuh hasrat ke depan.
Minggu lalu saya mengatakan, kebahayaan besar daripada orang yang merasa sudah mencapai sesuatu, seringkali kita akan menjadi lengah dan akhirnya malah terjatuh di tengah keberhasilan itu. “Aku sudah sampai, aku sudah tiba kepada destinasi hidupku,” akhirnya itu membuat kita terlena dan gagal karena kita sombong dan lengah. Hal yang kedua, kalau kita sadar kita ada di tengah perjalanan yang panjang itu, yang kita tidak tahu masih berapa lama lagi baru kita sampai, itu akan membuat kita memperhitungkan masak-masak segala hal yang akan kita kerjakan dan lakukan di tengah perjalanan itu.

Sebagai ilustrasi, kalau kita tahu kita sedang dalam perjalanan panjang menuju ke satu kota, kita akan mempersiapkan bekal yang cukup sampai kita tiba di tempat tujuan. Di beberapa tempat persinggahan dimana kita beristirahat untuk sementara, sudah tentu kita tidak akan langsung menghabiskan makanan perbekalan kita. Orang yang bijaksana akan menyimpan untuk memastikan dia tidak akan kekurangan makanan sampai akhir. Di tengah jalan kita tahu tidak selamanya kita bisa terus maju. Kadang-kala perjalanan kita menghadapi rintangan sehingga kita harus berhenti sejenak. Ada saat dimana kita beristirahat dan memakan perbekalan kita lebih banyak daripada seharusnya. Kita akan lebih hati-hati di dalam perbekalan kita jikalau kita tidak tahu kapan kita sampai dan masih berapa lama kita akan berjalan hingga sampai di tempat tujuan kita. Paulus mengatakan, aku melupakan apa yang di belakangku. Dengan mata yang mengarah ke depan Paulus terus berjalan maju ikut Tuhan.

Alkitab menceritakan kontras yang sebaliknya di dalam perumpamaan Tuhan Yesus mengenai seorang kaya yang sudah mendapatkan segala sesuatu melebihi apa yang dibutuhkannya (Lukas 12:16-21). Orang ini memperluas lumbung-lumbungnya untuk menyimpan segala kekayaannya itu. Kemudian dalam sukacitanya dia berkata kepada jiwanya, “Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya. Beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah.” Di mata orang dia adalah seorang yang pintar dan berhasil, tetapi di mata Tuhan dia adalah seorang yang bodoh, karena kalau pada hari itu juga dia mati, apa gunanya semua harta yang dia kumpulkan bagi dirinya itu? Siapa yang akan menikmati semua yang dengan jerih lelah dia kumpulkan selama hidupnya? Demikianlah jadinya dengan orang-orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, dia hidup di dalam dunia ini yang kaya dengan hartanya tetapi miskin di hadapan Allah. Sebaliknya Tuhan Yesus berkata, berbahagialah mereka yang di dalam dunia ini kehilangan segala-galanya karena Tuhan, karena kekayaannya tidak pernah bisa direbut siapapun.

Dalam perjalanan kita menyimpan bekal secukupnya untuk sampai ke sana. Saya rasa itu adalah hal yang lumrah dan indah. Dan permintaan Tuhan bukanlah hal yang tidak logis. Tuhan Yesus berkata, “Janganlah menyimpan harta di bumi. Di bumi ngengat dan karat merusaknya, dan pencuri mencurinya. Tetapi kumpulkanlah harta bagimu di surga…” (Matius 6:19-20).
Alangkah baiknya di dalam perjalanan hidupmu engkau memahami hal ini, sehingga kita bisa dengan bijaksana menjalaninya tanpa menghabiskan semua perbekalanmu. Kita tahu di situ kita harus menyimpan bagi stage selanjutnya. Celakalah dan bodohlah seseorang jikalau dia sudah mendapatkan sesuatu lalu sampai di tempat pemberhentian sementara dia mengatakan karena ini semua miliknya, dia makan sampai habis. Padahal perjalanan masih panjang dia sudah kehilangan segala-galanya.

Demikian juga pada waktu kita mengatakan bahwa kita ikut Tuhan berjalan ke depan, mari dalam perjalanan itu kita belajar untuk berkorban di dalam hidup ini supaya kelak nanti kita akan memperoleh sesuatu yang tidak akan pernah hilang di dalam kehidupan yang akan datang bersama dengan Tuhan.

Yang terakhir, saya sangat terkejut dengan pernyataan Paulus di bagian ini, “Karena itu marilah kita yang sempurna berpikir demikian. Dan jika lain pikiranmu akan salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu” (Filipi 3:15). Luar biasa indah kalimat ini. Paulus bicara mengenai hasratnya ingin bertumbuh menjadi dewasa dan mature di hadapan Tuhan. Tetapi ayat ini membalikkan sesuatu yang menarik. Allah juga akan menyatakan makin jelas dan makin dalam kepadamu. Kalau lain pikiranmu, Tuhan akan memperbaikinya dan Ia akan menuntunmu kepada kebenaranNya. Tuhan memanggil kita untuk semakin dekat kepadaNya, namun sekaligus ayat ini mengingatkan kita, orang yang mendekat kepada Tuhan, Tuhan juga akan mendekat kepadanya (Yakobus 4:8). Jika engkau memiliki hasrat dan kerinduan dekat kepada Tuhan, Ia juga akan dengan aktif mendekatkan diriNya kepadamu.

Dalam salah satu buku mengenai relationship, pastor Bill Hybels mengatakan Bible study dan doa adalah hal yang sangat penting bagi kesehatan relasi pernikahan dan kerohanian seseorang. Seringkali kita yang sering terpengaruh dengan cara pandang dunia ini, seperti kata Tuhan Yesus, kita lebih mudah melihat selumbar di mata orang lain tetapi tidak bisa melihat balok di mata sendiri. Dalam relasi kita dengan orang yang paling kita kasihi di dalam hidup kita, dengan pasangan kita, ketika ada sesuatu konflik terjadi, kita lebih mudah menunjuk kesalahan dia daripada kesalahan diri kita sendiri. Sehingga kita menyerang dan mempersalahkan dia. Sampai sebelum kita bertengkar, dapatkah kita masuk ke dalam kamar seorang diri berdoa kepada Tuhan, karena pada waktu kita berdoa kepadaNya, di situ Tuhan membuka hati kita melihat dengan perspektif yang lain. Tadinya kita mau mempersalahkan dia, tetapi pada waktu kita berdoa, Tuhan membukakan kepada kita bahwa kita juga ada berbagian bersalah di dalam konflik itu. Pastor Bill Hybels berkata, saya percaya hampir separuh daripada konflik pernikahan selesai pada waktu engkau berdoa kepada Tuhan meskipun engkau belum sempat bicara dengan pasanganmu. Pada waktu kita ribut akan hal-hal yang kecil, banyak hal ketegangan terjadi dalam hidup keluarga kita, bagi saya pertanyaan yang paling penting: sehatkah dan indahkah hubungan kita secara pribadi dengan Tuhan?

Ayat ini mengatakan Allah kita bukanlah Allah yang pasif. Kita bersyukur Allah tidak pernah tinggal diam. Jika ada hal dalam hidupmu yang tidak berkenan kepadaNya, Ia akan campur tangan intervensi dan menyatakannya kepadamu. Itulah sebabnya kita tidak perlu kecewa dan takut karena bukan diri kita sendiri yang membangun hubungan itu. Kadangkala kita merasa begitu tersendiri mau berjuang ikut Tuhan, melayani Tuhan, percaya kepada Dia, kita mau setia kepadaNya, kita mau berjalan di dalam kebenaranNya, kita mau melakukan apa yang Tuhan firmankan, tetapi kita merasa tergencet dan tersendiri. Kita merasa seolah-olah berjuang sendiri dan menghadapi kesulitan yang begitu berat, akhirnya kita bertanya, dimana untungnya saya ikut Tuhan? Dimana indahnya hasratku untuk melakukan kehendak Tuhan? Seolah-olah Tuhan itu diam saja. Ayat ini mengatakan, Tuhan kita tidak pernah diam seperti itu. Ayat ini juga sinkron dengan Roma 8:28 dan 29, dimana Allah turut bekerja di dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, dimana kita akan menjadi semakin serupa dengan gambaran AnakNya. Itulah janjiNya yang indah bagi kita.

Orang yang datang mengetuk pintu, Tuhan pasti akan membukakan. Orang yang datang mendekat kepada Tuhan, Tuhan akan lari mendekat kepadanya. Orang yang memiliki hasrat dan kerinduan yang dalam untuk mengenal firman Tuhan dengan lebih baik, kekayaan kelimpahan firman Tuhan akan mengalir juga kepadanya dan Tuhan akan bukakan itu semua. Itulah semua yang Alkitab katakan kepada kita. Tuhan akan campur tangan, Tuhan akan intervensi dalam hidup anak-anakNya yang mengasihiNya. Barangsiapa yang mau mencari, mengejar dan ingin mengenal Tuhan lebih dalam, Tuhan akan membukakan diriNya dan Ia akan makin dikenal dengan lebih dalam oleh orang yang berhasrat mengenalNya lebih dalam.

Kiranya hati kita melimpah dengan syukur, setiap kali kita ingat bahwa Yesus Kristus adalah harta pusaka kita yang paling berharga dan paling mulia di dalam hidup kita. Kiranya hari ini kita boleh membawa hati kita lebih fokus untuk mengenal dan mengasihi Tuhan lebih dalam lagi. Di situ Tuhan akan membukakan diriNya lebih dalam karena Tuhan tidak pernah tinggal diam dan senantiasa memimpin dan campur tangan di dalam hidup kita. Di tengah kita berjalan, di tengah-tengah hidup kita ada tantangan kesulitan, kita tidak pernah kecewa dan tidak akan pernah merasa tersendiri sebab kita tahu Tuhan memimpin kita. Pada waktu kita menoleh ke belakang, kita akan menjadi takjub melihat Tuhan campur tangan memimpin kita sehingga kita tidak pernah terjerumus jatuh karena tanganNya yang kuat senantiasa menopang dan memegang kita.(kz)