Esensi Pujian Orang Percaya

Pengkhotbah: Ev. Samuel Tandei M.R.E., MDiv.C.M.
Tema: Esensi Pujian orang Percaya
Nats: Kolose 3:11-16

Beberapa waktu yang lalu saya pernah diundang menjadi juri dalam sebuah festival paduan suara yang diselenggarakan oleh sebuah universitas Kristen. Saya terkejut dari hampir 20 kelompok peserta yang mengikuti festival tersebut, mungkin hanya dua atau tiga kelompok peserta yang berasal dari institusi atau lembaga Kristen, sedangkan sisanya adalah kelompok peserta yang berasal dari universitas bukan Kristen, dari universitas negeri dan universitas agama kepercayaan lain. Dan yang membuat saya lebih kaget lagi adalah lagu-lagu dan karya-karya yang mereka nyanyikan kebanyakan adalah syair yang isinya adalah pengakuan pengaguman kepada Tuhan, syair dari Mazmur dan bahkan ada syair berisi Pengakuan Iman Rasuli, tetapi dinyanyikan oleh orang-orang yang saya tahu persis dan juga dari pakaian yang mereka kenakan kita juga bisa tahu mereka pasti bukan orang Kristen.

Hal ini membuat saya berpikir dan bertanya, what is the difference when Christian people sing and when non-Christian sing? Apa bedanya orang Kristen bernyanyi dan orang bukan Kristen bernyanyi?

Semua orang di tempat ini pasti suka menyanyi, semua orang di sekitar kita adalah orang-orang yang kalaupun bukan suka menyanyi tetapi adalah orang yang mungkin bisa menikmati nyanyian; orang yang bisa menikmati musik. Tiada satupun tempat di dunia sekitar kita ini yang tidak diberi bumbu musik. Di rumah sakit ada musik, di pertokoan pasti ada musik, sekarang sebelum take off di kapal terbang juga ada musik, dimana-mana ada musik. Oleh sebab itu kita mendengar nyanyian dimana-mana. Orang Kristen bernyanyi, orang bukan Kristen bernyanyi; orang suci bernyanyi, orang berdosa bernyanyi.

Maka apa bedanya orang Kristen bernyanyi dengan orang bukan Kristen bernyanyi? Rasul Paulus memberikan jawaban dari Kolose 3:11-16 yang saya uraikan menjadi tiga pembahasan kecil yang mungkin bisa menolong kita untuk melihat apa sebenarnya yang membedakan nyanyi orang Kristen dengan yang bukan Kristen yaitu dengan melihat tiga kata kunci di sini. Pertama, why do we sing? Kedua, what do we sing? Ketiga, how do we sing?

Why do we sing? Rasul Paulus memberikan satu nasehat kepada jemaat di Kolose, yaitu jemaat yang terdiri dari orang-orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, berasal dari suku yang berbeda-beda, tempat yang berbeda, daerah yang berbeda, latar belakang keagamaan yang berbeda, tabiat yang berbeda, taraf pendidikan yang berbeda, profesi yang berbeda, status sosial yang berbeda, tetapi rasul Paulus mengatakan, “Di dalam Kristus kita semua adalah sama, sama-sama umat tebusanNya. Dan Kristus ada di dalam semua, Dia adalah semua dan di dalam segala sesuatu.” Christ is all and in all. Maksudnya Kristus ada di dalam kita karena kita sudah diperdamaikan dengan Allah di dalam Kristus. Oleh sebab itu rasul Paulus dalam Kolose 3:11-15 menegaskan dengan sedemikian jelas bahwa kita adalah orang-orang yang awalnya seharusnya kita ditolak oleh Tuhan, seharusnya kita dibuang, seharusnya kita dihukum, tetapi kita diperdamaikan dengan Allah. Dan oleh sebab itu kita berespons dengan memuji Tuhan karena memang natur alamiah kita sebagai manusia yang bisa menikmati musik, yang bisa melantunkan musik, kita punya satu impulse atau satu keinginan yang alamiah untuk bernyanyi, kita bisa menikmati satu nyanyian, kita bisa menikmati musik. Oleh sebab itu secara alamiah seharusnya ada luapan di dalam hati kita untuk menyanyi. Yang pertama karena kita telah diperdamaikan dengan Allah dan dengan sesama kita di dalam Kristus. Seharusnya itu adalah sesuatu yang besar yang patut kita rayakan, itu kata rasul Paulus, oleh sebab itu kita bernyanyi memuji Tuhan.

Yang kedua, kenapa kita bernyanyi memuji Tuhan? Karena Allah memilih medium nyanyian ini agar supaya perkataan Kristus diam dengan segala kekayaanNya di antara kita. Nyanyian adalah cara yang Allah pilih supaya kita manusia yang penuh dengan keterbatasan ini boleh memperkatakan perkataan Kristus supaya boleh diam dan tinggal dwelling di dalam segala kekayaanNya di tengah kita.

Setiap nyanyian biasanya terdiri dari syair dan melodi. Setiap nyanyian memiliki meaning atau satu makna, entah itu secara literal tersurat ataukah tersirat dan pada saat yang sama dia juga memiliki satu signifikansi. Sebuah lagu walaupun mungkin simple, walaupun mungkin sederhana, walaupun mungkin maknanya seolah dangkal tetapi kadang-kadang bisa memiliki satu signifikansi. Misalnya kita memiliki histori dengan lagu tertentu karena lagu tersebut memperkenalkan kita kepada Tuhan walaupun mungkin hanya terdiri dari beberapa kata saja. Itu adalah satu cara yang Allah pilih untuk kita boleh memiliki suatu kehadiran perkataan Kristus di tengah-tengah kita.

Yang ketiga, mengapa kita menyanyi memuji Tuhan, tentunya karena sepanjang sejarah umat Tuhan, baik yang tercatat di Alkitab maupun umat Tuhan yang di sepanjang sejarah gereja, orang-orang saleh dan orang-orang kudus bernyanyi bagi Tuhan. Bahkan bukan saja itu saja, Alkitab mencatat bahwa alam semesta itu bernyanyi memuji Tuhan. Dalam kitab Mazmur ada banyak gambaran, ada banyak simbol atau penggambaran perlambangan dimana alam semesta digambarkan bertepuk-tangan memuji Tuhan, bersorak-sorai menyanyikan nyanyian bagi Tuhan, itu dilakukan oleh alam semesta. Bukan saja alam semesta bernyanyi, Alkitab berkata malaikat mahluk surgawi juga bernyanyi. Bahkan kalau kita membaca kitab Ibrani 2:12 atau Matius 26:30, Tuhan Yesus bernyanyi. Dan bukan saja demikian, Zefanya 3:17 menuliskan Tuhan Allah yaitu Yahweh juga bernyanyi. Allah kita adalah Allah yang gemar akan nyanyian, itu sebab natur kita sebagai mahluk yang diciptakan oleh Tuhan, kita senang untuk bernyanyi. This is the reason why do we sing. Bukan hanya karena kita memang dicipta sebagai mahluk yang bisa menikmati musik dan bisa menikmati puji-pujian dan bisa menaikkan pujian, tetapi memang karena nyanyian adalah medium yang Tuhan pilih untuk kita bisa memperkatakan perkataan-perkataan Kristus di tengah-tengah kita. Ini juga menjadi satu perintah dan sudah menjadi teladan yang sudah dicontohkan di sepanjang sejarah umat manusia.

Pertanyaan kedua adalah what do we sing? Kalau kita lihat dalam Kolose 3:16 apa yang kita nyanyikan? Inilah content dari nyanyian kita, “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaanNya di antara kamu… sambil menyanyikan mazmur dan puji-puian dan nyanyian rohani…” Seringkali waktu orang bertanya apa sih yang kita nyanyikan, kita mengatakan kita menyanyi hymns, psalms, dan ritual songs. Tetapi sebetulnya yang kita nyanyikan adalah perkataan Kristus. Di dalam kita menyanyikan perkataan Kristus kita juga memberikan satu respons terhadap apa yang Kristus katakan dan respons itu pun kita nyanyikan. Persoalan apakah yang kita nyanyikan itu hymns, apakah itu nyanyian rohani, itu hanya kulitnya saja, itu hanya bungkusnya saja, itu hanya bentuknya saja, kendaraannya saja.
Apa itu ciri dari hymn? Hymn itu asal katanya adalah “hymnos” dalam bahasa Yunani artinya adalah pujian kepada dewa-dewa, bukan kepada Tuhan. Itu adalah salah satu bentuk dari kebudayaan pagan, kebudayaan orang kafir, kebudayaan orang Yunani pada saat itu yang kemudian oleh rasul Paulus diserap dan diadaptasi, dijadikan, diubah, dimodifikasi sehingga Paulus menuliskan syair di dalam bentuk puisi hymn itu dan diberikan syair pemujaan kepada Kristus (band. Kolose 1:15-20, Filipi 2:5-11). Dua bagian ini ditulis Paulus dalam bentuk puisi, bukan seperti prosa atau narasi. Itu adalah lagu atau hymn yang mungkin yang pertama dicatat di dalam Alkitab ditulis oleh rasul Paulus.

Satu jenis nyanyian yang lain yaitu mazmur. Mazmur memiliki satu kekayaan yang luar biasa, satu kedalaman perasaan dan emosi yang sedemikian rupa yang beraneka ragam. Ada perasaan sukacita, ada perasaan ragu, perasaan takut, perasaan gentar, ada berbagai dinamika perasaan yang dialami oleh manusia yang normal, manusia seperti engkau dan saya yang bisa mengalami berbagai macam luapan perasaan yang berbeda-beda di setiap harinya. Setiap kali kita membaca mazmur sebetulnya kita bisa belajar untuk menjadi jujur dengan diri kita sendiri.
Seringkali saya melihat ketika kita beribadah di gereja, seolah-olah dunia di sekitar kita memaksa kita untuk tidak genuine, seolah-olah kita dituntut untuk memasang tampang yang positif. Tetapi mungkin saja pada waktu kita masuk ke dalam gedung gereja kita sedang menghadapi pergumulan dan mungkin sebetulnya tidak kepingin tersenyum. Kita seolah dipaksa untuk memasang tampang senyum, selalu happy, selalu sepertinya tidak ada masalah. Tetapi kalau kita melihat kitab Mazmur, mazmur mengajar kita untuk bersikap jujur dengan perasaan kita.
Ada satu lagu mazmur yang ditulis oleh seorang komposer Indonesia, Pontas Purba, diambil dari Mazmur 13 yang menggambarkan suatu ratapan, “Tuhan, berapa lama kudilupakan?” Itu mazmur berisi pertanyaan berapa lama aku dilupakan oleh Tuhan, sampai berapa lama Engkau sembunyikan wajahMu terhadap aku? Mazmur seperti itu mungkin jarang kita nyanyikan. Kita lebih sering menyanyikan “Pujilah Tuhan, hai jiwaku.” Betul, itu sesuatu mazmur yang baik dan sangat baik sekali. Tetapi perlu juga kita membaca mazmur-mazmur yang mengekspresikan perasaan yang jujur dengan diri kita sendiri. Seringkali kita membaca mazmur itu mungkin karena sudah terbiasa membaca bagian Alkitab yang berisi prosa atau naratif, kita membaca mazmur dengan cara yang sama.

Misalnya, Mazmur 32, sebetulnya dalam bahasa aslinya mazmur ini bukan hanya perlu dibaca dengan dinamika tetapi juga dengan pause, ada ritme yang juga berubah. Ketika Daud berkata, “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi; berbahagialah orang yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan dan yang tidak berjiwa penipu…” setelah itu kita lihat ada perubahan pesan, message yang diberikan dari positif tiba-tiba tone berubah. “Selama aku berdiam diri tulang-tulangku menjadi lesu…” Di ayat 3 terjadi perubahan seolah-olah dari kalimat yang tegas menjadi lembut dan lambat dan melambat.

Seringkali kita membaca mazmur seperti membaca berita, tetapi sesungguhnya mazmur juga mengajar kita bukan hanya jujur dengan diri kita sendiri tetapi mazmur juga mengajar kita dua hal yang pada saat ini mungkin jarang kita renungkan yaitu “the theology of waiting,” and “the theology of silence.” Yaitu bagaimana kita bisa belajar menunggu dan belajar untuk hening. Dunia sekitar kita dan teknologi di sekitar kita memacu manusia untuk semakin lama semakin tidak sabaran. Segala sesuatu harus dihasilkan dengan cepat. Online shopping, fastfood, segala proses dituntut untuk cepat dilakukan. Manusia paling tidak tahan menunggu. Mazmur juga mengajar kita untuk berdiam di dalam keheningan. Ketika ada jeda di antara satu bagian dengan bagian lain, di situ kita belajar untuk betul-betul teduh dan hening di hadapan Tuhan.

Inilah sebetulnya yang kita nyanyikan. Ada kekayaan puji-pujian yang jangkauan dan rentangannya sedemikian luas. Kita bukan menyanyikan satu nyanyian yang monoton. Tetapi kita bisa menyanyikan pujian yang menggambarkan apa yang saat itu kita sedang alami. Bukan puji-pujian yang kata-katanya hanya sekedar diperkatakan tetapi seolah-olah kita disconnect dengan perkataan itu.

Yang ketiga, how do we sing, kita kembali kepada Kolose 3:16b “…kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu…” Inilah ‘how do we sing,’ bagaimana caranya kita menyanyikan pujian, yaitu kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. Saat melihat bahasa asli dari frase ini dan saya terkejut, karena kalimat ‘en kariti adontes en tais kardiais’ sebetulnya lebih tajam daripada sekedar mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. Karena ini bukan sekedar ‘singing with thanksgiving’ tetapi kalau diartikan secara harfiah artinya ’singing with grace.’ Kita bernyanyi dengan anugerah yang sudah Tuhan berikan di dalam hati kita, di dalam kehidupan kita.

Seorang penafsir bernama Gordon Fee dalam bagian ini mengatakan ‘the focus is not so much on our attitude toward God but our awareness of His attitude toward us.’ Jadi bukan semata-mata mengenai sikap attitude kita kepada Tuhan yang berisikan satu ucapan syukur, tetapi sebetulnya Paulus lebih mengatakan bahwa ada attitude dari Tuhan kepada kita yaitu the attitude of grace yang diberikanNya kepada kita, oleh sebab itu kita harus bernyanyi dengan anugerah. Kenapa kita bernyanyi dengan anugerah? Karena itulah yang sudah Allah tunjukkan di saat seharusnya kita dihukum, ditolak, bahkan dibuang oleh karena segala keberdosaan kita, tetapi Allah tidak membuang kita. Anugerah ini seharusnya memotivasi kita untuk memuji Tuhan. Anugerah ini seharusnya juga memotivasi kita untuk memiliki satu belas kasihan, memiliki satu kemurahan, kerendahan hati, kelembutan dan kesabaran (Kolose 3:12-13).

Dunia sekitar kita adalah dunia yang mengajar kita dengan segala marketing, dengan segala komersialisasi, dengan segala materialisme. Itu tanpa sadar mempengaruhi kita dalam bersikap terhadap segala sesuatu. Kita memperlakukan musik seringkali hanya sekedar sebagai produk untuk dikonsumsi. Kita memperlakukan musik sama halnya seperti kita misalnya memperlakukan makanan. Kita kalau membeli CD kalau tidak suka lagunya kita buang begitu saja atau kita simpan saja. Kita kalau membeli makanan kalau tidak suka, kita buang. Kita kalau membeli kopi kalau tidak suka atau tidak enak, kita buang. Kita membeli handphone kalau sudah tidak suka atau bosan, tinggal kita ganti. Jangan-jangan kita melakukan hal seperti itu juga terhadap iman kita, terhadap gereja kita. Kita tidak suka, ya kita tinggal. Seringkali dunia sekitar kita mengajar kita untuk memperlakukan apa yang kita miliki dengan sedemikian take it for granted. Kita tidak suka, tinggal buang. Kita sudah lupa kepada Allah yang sebetulnya berhak untuk membuang kita tetapi Dia tidak membuang kita. Pertanyaannya apakah kita memiliki the attitude of grace ketika kita mengikut Tuhan? Apakah kita bisa sabar ketika orang atau teman-teman yang melayani ada kesalahan sedikit? Apakah kita bisa maklum dan bisa memahami kalau mungkin sesekali lagu yang kita nyanyikan di gereja mungkin tidak kita mengerti? Apakah kita masih bisa memaklumi kalau orang yang di sebelah kita menyanyi suaranya ampun deh? Apakah kita masih memiliki the attitude of grace di dalam puji-pujian kita? Di dalam pelayanan kita? Mungkin kita sudah terbiasa mendengar, kita sudah terbiasa di tengah-tengah dunia yang sudah semakin kritis, semakin mudah dan semakin impulsive untuk mudah bereaksi. Kita mendengar, kita menonton, kita menikmati, lalu kita mengkritik. Tetapi kita tidak ikut berpartisipasi.

Anugerah yang sudah Tuhan berikan seharusnya membawa kita untuk semakin sabar, semakin mau menunggu, semakin mengerti memahami orang lain yang juga perlu anugerah sama seperti saya. Sebagai orang-orang yang sudah dipilih Tuhan, dikuduskan, diselamatkan oleh Tuhan, kita melakukan seperti apa yang Paulus nasehatkan, kita dipenuhi dengan belas kasihan, kita dipenuhi dengan kemurahan, dengan kerendahan hati, dengan kelembutan. Seharusnya semakin lama kita mengikut Tuhan, seharusnya kita semakin sabar, bukan sebaliknya. Inilah sebenarnya ‘how do we sing,’ bagaimana caranya kita bernyanyi. Mungkin ketika kita berusaha untuk mempelajari, memperbaiki, mengimprove teknik dan ketrampilan kita, mungkin kita memiliki keterbatasan. Tetapi anugerah Tuhan boleh meng-empower kita, memperlengkapi kita, meneguhkan kita, memberi kita kuasa, supaya apa yang kita nyanyikan sungguh-sungguh memiliki satu signifikansi.

Saya rasa inilah yang membedakan orang Kristen bernyanyi dengan orang yang tidak percaya Tuhan bernyanyi. Orang lain boleh menyanyikan kata-kata yang sama, orang lain boleh menyanyikan teks yang sama, tetapi ketika orang percaya Tuhan bernyanyi ada pemahaman makna dan ada keindahan emosi yang dicelikkan oleh Roh Kudus dalam hati kita.
Orang bisa menyanyikan lagu yang sama, teks yang sama. Tetapi persoalannya apakah esensinya sama? Nyanyian kita dengan nyanyian orang-orang yang bukan milik Kristus itu berbeda karena ketiga hal itu, karena why do we sing, karena what do we sing, karena how do we sing. Ketika itu semua boleh kita fokuskan kepada Tuhan, apakah kita bisa dengan yakin berkata bahwa nyanyian kita memang berbeda? Ketika orang-orang yang tidak percaya Tuhan bernyanyi, mungkin mereka bernyanyi untuk sesuatu. Mereka adalah orang yang “bernyanyi untuk,” bukan “bernyanyi karena.” Orang-orang yang ikut festival, mereka bernyanyi untuk mendapat gelar, untuk menjadi juara, untuk sesuatu yang mereka mau achieve. Tetapi kita orang Kristen memiliki motif yang berbeda, kita bernyanyi karena apa? Kita bernyanyi karena Allah sudah memberikan segala sesuatu. Kita bernyanyi karena Allah sudah memberi keselamatan kepada kita. Kita bernyanyi karena Allah seharusnya membuang kita, tetapi sebaliknya Allah mengasihi kita, Allah menyayangi kita, Allah memelihara kita. Itulah alasannya.

Kiranya hal ini senantiasa mengingatkan kita, karena sebenarnya kita tidak layak untuk memberikan apapun kepada Tuhan kalau bukan Tuhan yang memberikannya kepada kita. Kiranya kita renungkan apa yang sudah kita dengar hari ini. Kita berterima kasih kepada Tuhan karena kita boleh datang di hadapanNya. Kita sadar, Tuhan tidak pernah wajib dan kita tidak pernah berhak, tetapi sungguh kalau kita boleh datang memuji Tuhan itu semata-mata oleh karena anugerahNya. Kiranya Tuhan menolong kita sebagai anak-anakNya yang sungguh tidak pernah ragu untuk hidup bagi Tuhan, tidak pernah ragu untuk memuji Tuhan, tidak pernah ragu untuk melayani Tuhan, karena kita tahu siapa kita di hadapan Tuhan. Tuhan telah memilih kita, telah menebus kita, mengampuni kita, mengangkat kita untuk menjadi anak-anakNya.(kz)