Bertumbuh Tanpa Kepahitan

Pengkhotbah: Pdt. Hadi Sugianto
Tema: Bertumbuh tanpa Kepahitan
Nats: Ibrani 12:15

 

Ibrani 12:15 ini merupakan bagian dari satu pasal yang berbicara tentang kekudusan hidup. Kekudusan hidup ini bukanlah satu pilihan di dalam kehidupan orang Kristen tetapi kekudusan hidup ini adalah satu gaya hidup orang Kristen yang sejati. Tidak ada satu orang Kristen pun yang diberi hak untuk memilih apakah aku boleh hidup tidak kudus ataukah aku harus hidup kudus. Ini adalah gaya hidup seorang Kristen yang sesungguhnya. Dan ayat ini ada di dalam bagian besar antara pasal 11-13:17 yang berbicara tentang kehidupan iman. Maka ayat ini merupakan ayat yang penting, yang sepertinya ingin disampaikan kepada kita bagaimana seharusnya seorang Kristen yang sesungguhnya itu menghidupi imannya dengan benar sehingga dia bisa bertumbuh dengan baik menjadi pahlawan-pahlawan iman seperti yang disebutkan dalam Ibrani 11. Secara khusus saat merenungkan ayat ini sebagai orang beriman, kita semua hari ini diingatkan oleh kebenaran firman Tuhan ini untuk apa? Untuk tidak menjauhkan diri dari kasih karunia Tuhan, sebab kalau kita melakukan hal ini maka kita akan mengalami hidup yang pahit dan hidup dalam kepahitan.

Mengapa akar yang pahit itu dikaitkan dengan sikap menjauhkan diri dari kasih karunia Allah? Orang yang hidupnya menjauh dari kasih karunia Allah adalah orang yang dengan sengaja keluar dari lingkaran kebaikan Allah di dalam hidupnya. Kalau ada orang Kristen sengaja menjauhkan dirinya jauh dari kasih karunia Allah, maka dia sedang menjauhkan dirinya dari semua kebaikan yang ditawarkan oleh Allah dalam hidupnya sehari-hari.

Tahukah engkau bahwa kasih karunia Allah itu selalu baru setiap pagi? Ya, setiap pagi Allah menyediakan kebaikan bagi engkau dan saya yang mencari Dia. Tetapi berapa banyak orang yang mau mengambil itu untuk hidupnya setiap hari? Orang yang menjauhkan diri dari kasih karunia Allah adalah orang yang sengaja tidak mau menerima kebaikan Allah dan kemurahan Allah di dalam hidupnya. Dan orang yang dalam keadaan seperti ini adalah orang yang akan hidup di dalam kesulitan yang luar biasa dan orang seperti ini akan hidup di dalam kepahitan. Orang yang akan hidup di dalam situasi yang tidak mudah.

Di dalam Kejadian 4 ada cerita tentang Kain. Ketika Kain membawa persembahannya kepada Tuhan, persembahannya ditolak. Kemudian Kain menjadi panas hatinya, dia menjadi begitu marah, dia menjadi begitu jengkel, kenapa ini terjadi? Sedangkan persembahan adikku Habel diterima oleh Tuhan. Dalam situasi dan hati yang panas seperti ini, apa yang dilakukan oleh Tuhan? Tuhan menghampiri Kain dan berkata, “Kenapa hatimu panas dan mukamu muram?” (Kejadian 4:6). Tuhan ingin memberikan sesuatu yang baik dengan mengingatkan dia, kalau engkau memberikan hatimu yang panas engkau tidak akan melakukan sesuatu yang lebih buruk. Tetapi apa yang kemudian dilakukan oleh Kain? Kain tidak mau menerima kebaikan Tuhan dan dia menjauhkan diri dari kasih karunia Allah. Lalu kemudian apa yang terjadi? Alkitab bercerita bahwa Kain akhirnya membunuh adiknya sendiri. Habel salah apa di dalam persoalan ini? Habel tidak melakukan kesalahan sedikit pun terhadap Kain, tetapi kita lihat orang yang sengaja menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, dia bisa tabrak siapa pun, dia bisa sakiti siapa pun. Dan ini manusia generasi awal ada contoh yang Alkitab berikan bagi kita. Kain menjadi pribadi yang keras, menjadi pribadi yang penuh dengan rasa iri dan hidup di dalam kebencian dan di dalam kemarahan yang luar biasa. Dan ini bisa menimpa siapapun termasuk kita yang mengaku Kristen sekian tahun lamanya sekalipun di dalam hidup kita.

Di dalam kehidupan yang tidak gampang, ada banyak hal yang kita harus kita hadapi. Masalah dan persoalan yang begitu sulit, situasi yang pahit di dalam kehidupan kita bisa menjadi hal yang terus-menerus muncul dan datang. Martin Luther pernah berkata, “Kita tidak bisa melarang burung terbang di atas kepala kita, tetapi kita bisa mengusirnya jika burung itu mau membuat sarang di atas kepala kita.” Kita tidak bisa mengusir peristiwa dan pengalaman-pengalaman yang buruk di dalam hidup kita, karena itu datang dengan tiba-tiba dan memaksa untuk masuk. Meskipun kita tidak mau terima hal yang buruk dan menyakitkan hati, tetapi kita bisa menolak rasa benci, kemarahan yang dalam, dan datang kepada Tuhan untuk menerima anugerahNya dengan tidak menjauhkan diri dari kasih karunia Allah itu.

Sebagai suami isteri di dalam perjalanan hidup kita juga mengalami hal-hal yang menyenangkan dan tetapi pasti hal-hal yang tidak menyenangkan. Ada terluka, ada tersakiti, ada kemarahan yang bisa muncul. Dalam pekerjaan, dalam pelayanan sekalipun, ada hal-hal yang bisa membuat kita sulit dalam hidup ini. Kita tidak bisa menghindari tetapi hal itu harus kita hadapi. Masalahnya sekarang apakah kita mau menerima kebaikan Tuhan, hidup kita tidak boleh berhenti hanya menerima sesuatu yang buruk, yang tidak baik. Tetapi hidup kita harus diteruskan dengan tidak menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, menerima kebaikanNya. Kita harus memilih untuk tidak menolak kebaikan Tuhan itu di dalam hidup kita.

Kalau kita tidak bebas dari akar kepahitan dalam hidup kita, maka akan muncul perilaku yang buruk. Perilaku yang buruk itu tertulis dalam Ibrani 12:15, menyebutkannya sebagai “menimbulkan kerusuhan dan mencemarkan banyak orang.” Apa artinya “kerusuhan dan mencemarkan”? Alkitab ini memperingatkan akan ada bahaya yang muncul dalam hidup setiap orang siapa saja jika sebagai orang Kristen kita membiarkan diri kita hidup di dalam satu kondisi yang terus digerogoti oleh kepahitan. Kata “kerusuhan” sama dengan artinya menyusahkan. Orang yang hatinya pahit, orang yang hidup di dalam kepahitan adalah orang yang hidupnya menyusahkan banyak orang. Orang Kristen yang hidupnya penuh dengan kepahitan akan memberi kesulitan yang banyak. Orang Kristen yang hidupnya menyimpan akar pahit akan cenderung menjadi “trouble maker” di dalam kehidupan bersama dengan orang lain. Orang Kristen yang hidupnya di dalam kepahitan akan membuat banyak orang akan sulit untuk mengerti apa sih yang dia mau? Apa sih yang dia ingini? Sulit.

Kata “mencemarkan” artinya adalah menajiskan. Orang Kristen yang hidupnya menyimpan kepahitan atau yang hidupnya ada akar pahit selain menyusahkan banyak orang, dia akan membuat orang lain yang harusnya tidak berdosa menjadi berdosa. Dengan apa caranya dia bisa menjadikan orang yang seharusnya tidak berdosa menjadi berdosa? Ada tindakan-tindakan yang provokatif lewat ucapan, lewat sikap, lewat apa pun. Kadang-kadang itu terlalu provokatif sehingga pertengkaran dan perselisihan muncul dalam kehidupan banyak orang. Orang lain yang seharusnya tidak menjadi jahat akhirnya bisa menjadi jahat ketika didekatnya hadir orang yang hidupnya menyimpan akar kepahitan.

Dalam Alkitab ada cerita tentang Musa dalam Bilangan 20:2-13. Musa adalah seorang pemimpin besar bangsa Israel, tetapi di dalam perjalanan di padang gurun bersama bangsa Israel dia pernah dibuat begitu susah oleh mereka dan dia dipancing kemarahannya oleh orang Israel. Harusnya dia tidak berdosa tetapi akhirnya jadi berdosa. Ketika mereka di perjalanan tidak mendapatkan air, maka orang Israel ini mulai berteriak-teriak kepada Musa. Mereka marah-marah, kenapa hidup ini begitu sulit, kenapa ikut Musa justru hidup tidak enak dan sekarang tidak ada air. Musa diteriaki seperti itu akhirnya dia jadi sumpek luar biasa. Dia datang kepada Tuhan dan Tuhan akhirnya memberitahu kepadanya untuk pergi kepada sebuah batu di situ dan katakan kepada batu itu supaya mengeluarkan air. Musa berada di dalam kegeraman yang luar biasa, dia tidak melakukan apa yang Tuhan katakan. Dengan tongkatnya dia pukul batu itu keras-keras di dalam kejengkelannya. Apa yang terjadi? Batu itu tetap mengeluarkan air, tetapi Tuhan berkata kepada Musa, “Kenapa engkau tidak menghormati Aku di depan bangsa Israel? Kenapa hidup seperti ini? Kenapa engkau menjadi begitu pahit menghadapi orang Israel yang seperti itu?” Hari itu Tuhan berkata kepada Musa dia tidak boleh masuk ke tanah Kanaan. Orang ini selama 40 tahun mati-matian berjuang bagi orang Israel, sampai di ujung hidupnya Kanaan itu sudah dekat, tetapi Tuhan tidak mengijinkannya masuk karena Musa tidak hidup menjaga hatinya dan dia tidak menghormati Tuhan di hadapan orang Israel. Tuhan seolah berkata, Aku tahu orang Israel benci dengan kesulitan, mereka tidak suka dengan kesulitan. Tetapi kamu adalah pemimpin dan kamu hidup seperti mereka. Musa itu harusnya tidak berdosa tetapi ada provokasi, provokasi dari orang-orang yang benci terhadap kesulitan dan tidak suka kepada kesukaran. Mereka berteriak seperti itu. Musa menjadi sangat panas.

Seorang teman saya sebagai pendeta pernah bercerita sampai usia pernikahan sembilan tahun dia dan isterinya sering sekali bertengkar. Hidup itu begitu sulit dalam pernikahan itu. Dia katakan kadang pertengkaran itu terjadi memang dari dia tetapi paling sering datangnya dari isterinya. Itu terus-menerus terjadi sampai usia pernikahan mereka berjalan selama itu. Sampai akhirnya mereka pindah ke luar negeri dan pertengkaran itu juga terus muncul. Akhirnya mereka masuk ke dalam rehabilitasi untuk mempertahankan rumah tangga, di situ akhirnya terdeteksi kenapa isteri suka memulai pertengkaran. Isterinya ternyata bertumbuh dengan seorang ayah yang suka marah, suka memukul dan melukai hati orang di sekitarnya. Isterinya bertumbuh menjadi seorang gadis yang sampai pada hari pernikahan masih menyimpan kepahitan dan kebencian kepada ayahnya. Yang aneh tetapi nyata, dia mencari suami yang seperti ayahnya. Nasib. Ternyata dia mendapat suami yang seperti ayahnya, dan akhirnya pembalasan kepada obyek yang berbeda, suaminya dijadikan sasaran pembalasan dendamnya. Waktu dia hidup dengan ayahnya dia tidak berani membalas, tetapi kepada suaminya dia terus menghantam, terus melukai dan menyerang dia, itu yang terjadi.

Benarlah apa yang dikatakan oleh Alkitab bahwa ketika kita hidup jauh dari kasih karunia Allah, Alkitab berkata, hidup kita pahit. Kalau sudah pahit, apa yang terjadi? Kita akan menciptakan kerusuhan, hidup menyusahkan orang. Kita membuat hidup orang yang sebenarnya tidak berdosa akhirnya menjadi berdosa karena terprovokasi dengan apa yang kita lakukan. Puji Tuhan akhirnya keluarga ini dipulihkan dan ditolong oleh Tuhan setelah mengetahui hal-hal yang sulit itu dan mereka mendekat kembali kepada Tuhan, tidak mau menjauhkan diri dari Tuhan, menerima semua kebaikan Tuhan itu menolong perjalanan hidup keluarga ini hidup dengan baik.

Akar pahit dalam hidup kita adalah sesuatu yang tajam yang di dalamnya ada begitu banyak rasa benci, iri hati dan macam-macam hal yang negatif. Sumber air tawar akan mengeluarkan air tawar; sumber air asin akan mengeluarkan air asin. Kita benci dengan orang lain, tetapi tidak benar kalau ada orang berbuat sedikit saja kesalahan, kemarahan kita sudah tidak proporsional. Kenapa bisa begitu? Kenapa hanya karena uang seratus rupiah di tempat parker orang bisa membunuh orang lain? Kenapa dengan uang lima ratus ribu rupiah orang tega membunuh temannya? Apakah karena uang terlalu susah dicari? Tidak. Di balik itu ada kebencian yang dalam.

Ini adalah bagian yang sungguh merusak di dalam kehidupan orang Kristen. Kita tidak akan bisa bertumbuh dengan baik kalau hidup kita ada di dalam kepahitan. Psikologi boleh berkata orang akan hidupnya pahit kalau pengalaman masa lalunya buruk. Oke. Tetapi Alkitab mengatakan kita tidak boleh berhenti sampai di situ. Engkau dan saya pasti pernah punya pengalaman buruk, tetapi kalau engkau dan saya tidak mau hidup menjadi pahit, jangan menjauh dari Tuhan. Minta kepada Tuhan kekuatan untuk mengampuni, minta kepada Tuhan kekuatan untuk menerima, minta kepada Tuhan kekuatan untuk menghormati apapun. Itu disediakan tiap hari kepada kita. Dan Tuhan mau kita bertumbuh tanpa kepahitan.

Mari kita mencoba memahami bagaimana tindakan secara praktis dari tidak menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, tidak keluar dan tidak menolak kebaikan Allah. Amsal 4:23 mengatakan, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari situlah terpancar kehidupan.” Tidak menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, sebagai langkah awal kalau kita bertanya bagaimana caranya? Jagalah hatimu, itu diterjemahkan dengan “guard your affection, your feeling of love and your desire.” Artinya supaya kita tidak menjauhkan diri dan menolak segala yang baik dari Tuhan, engkau dan saya diminta oleh Tuhan harus menjaga rasa cinta yang ada di dalam diri kita, hasrat yang ada di dalam diri kita, supaya kita tidak menyerahkan hati kita dikuasai oleh nafsu dan dosa. Cinta itu kekuatannya hebat, hasrat pun demikian. Coba bayangkan kalau hidup kita diserahkan kepada hasrat, bisa seperti Kain. Kalau itu kita jaga, kita serahkan kepada Tuhan, kekuatannya pun juga powerful luar biasa di dalam hidup kita.

Menjadi orang Kristen yang boleh mengenal Kristus secara pribadi, kita mengamini bahwa itu hanya oleh karena anugerah, semata-mata anugerah. Kita tidak melakukan apa-apa, Tuhan memberikannya kepada kita. Tetapi menjadi orang Kristen yang beriman, yang bertumbuh tanpa kepahitan adalah sebuah usaha yang harus engkau dan saya perjuangkan di dalam hidup ini. Menjaganya sedemikian rupa, menjaga hati kita sedemikian rupa.

Di dalam Alkitab Kejadian 37-50 ada cerita tentang Yusuf. Yusuf adalah seorang yang pada masa mudanya mengalami pengalaman yang luar biasa buruk dan menyakitkan karena saudara-saudaranya sangat benci dan sangat marah terhadap dia. Saudara-saudaranya menyimpan suatu akar kepahitan karena ayahnya lebih cinta kepada Yusuf dan Yusuf juga pada hari itu bercerita tentang mimpinya dan sebagainya. Tadinya saudara-saudaranya berkeinginan untuk membunuh Yusuf tetapi tidak jadi, akhirnya mereka menjual Yusuf sebagai budak. Ketika pada akhirnya Yusuf bertemu dengan saudara-saudaranya yang pernah ingin membunuh dia dan kemudian menjualnya, Alkitab memperlihatkan dalam diri Yusuf ada rasa ingin membalas dendam juga sebetulnya. Dia menahan Benyamin dengan rekayasa seolah-olah menghukum mereka dengan menyuruh mereka pulang. Betapa sulit bagi saudara-saudaranya menghadapi Yakub ayahnya yang sudah tua yang tidak mau kehilangan anak yang paling muda. Tetapi yang menarik, Yusuf adalah orang yang sungguh dapat menjaga hatinya sedemikian rupa. Sampai akhirnya Yusuf berkata, memang kamu semua mereka-rekakan hal yang jahat bagiku, pernah merencanakan dan melakukan hal yang jahat kepadaku, dia tidak sungkan mengatakan hal itu kepada mereka. Tetapi di atas semuanya itu sesungguhnya ini adalah rencana Tuhan yang memang harus terjadi. Luar biasa, bukan? Aku adalah orang yang punya pengalaman buruk dengan kalian semua. Kalian begitu jahat dan aku mengalah, tetapi di atas itu semua rencana Tuhanlah yang memang harus terjadi. Dan saudara-saudaranya itu menerima pengampunan Yusuf. Artinya apa? Artinya hari itu Yusuf menjadi satu pribadi yang sudah dipulihkan, hidup tidak menjauhkan diri dari kasih karunia Allah dan dia bisa melihat persoalan yang pernah dia alami bukan dari perspektif dirinya tetapi dari perspektif Tuhan. Itu yang kemudian menyelamatkan dia untuk tidak menjadi orang yang jahat saat kesempatan itu tiba dalam hidupnya. Dengan kata lain, Yusuf telah memilih untuk menjaga hatinya, menjaga cinta dan hasrat yang ada di dalam dirinya yang Tuhan berikan kepadanya untuk tidak dikuasai oleh dosa dan oleh nafsu kemarahan. Yusuf tahu bagaimana dia harus berkonsentrasi kepada cinta dan hasrat yang bisa membawa kepada langkah-langkah yang benar, bukan berkonsentrasi kepada peristiwa-peristiwa buruk di masa lalu, peristiwa-peristiwa yang menyakitkan yang pernah dia alami dan kepada saudara-saudaranya.

Itu juga yang dilakukan oleh Yesus selama Dia berada di dalam dunia dengan segala penderitaanNya. Dia sungguh menjaga hatiNya dengan sedemikian rupa, sampai di atas kayu salib pun Yesus berdoa, “Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Mari kita mulai hari ini dengan hidup yang baru, dengan komitmen yang baru. Mari kita katakan kepada diri kita masing-masing, aku tidak mau hidup di dalam kepahitan. Keburukan boleh datang kepadaku tetapi aku tidak mau berhenti di situ karena aku punya Tuhan. Ada kebaikan Tuhan di dalam hidup ini yang harus aku pegang erat-erat. Kalau aku tidak bisa mengampuni, aku harus minta kepada Tuhan kekuatan untuk bisa mengampuni. Kalau aku tidak bisa menerima, beri aku kekuatan untuk bisa menerima.

Mari kita menjadi berkat, tidak menjadi perusuh, tidak menjadi pencemar bagi banyak orang. Dalam terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari dikatakan, “Jagalah jangan sampai ada seorang pun yang keluar dari lingkungan kebaikan hati Allah supaya jangan ada orang yang hatinya seperti tumbuhan beracun di tengah-tengah kalian sehingga menimbulkan kesukaran dan merusak banyak orang dengan racunnya.” Kalau kita menengok di dalam Ibrani11:14 dikatakan, “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Allah.” Dengan kekudusan kita dapat melihat Tuhan menjawab doa kita. Dengan kekudusan hidup kita akan melihat tangan Tuhan memimpin perjalanan hidup kita di dunia ini. Dengan kekudusan kita akan menerima damai dan sukacita yang diberikan Tuhan kepada kita. Sekarang pertanyaannya, siapa yang mau melihat Tuhan dalam hidup ini? Hiduplah dalam kekudusan. Jauhkanlah dirimu dari hidup menjauh dari kasih karunia Allah supaya tidak tumbuh akar yang pahit, yang menimbulkan kerusuhan dan mencemarkan banyak orang. Mari kita bertumbuh tanpa kepahitan, hidup kita akan tenang bersama Tuhan, hidup kita akan penuh dengan damai. Kalau sampai hari ini masih ada hal-hal yang kita tidak bisa terima dari kejahatan orang kepada kita, hari ini kita datang kepada Tuhan. Tuhan memanggil kita untuk mendoakan musuh kita, minta Tuhan memberkati dan melawat mereka. Dengan itu kita bisa bertumbuh tanpa kepahitan dalam hidup ini.(kz)