10. Apa yang Kau Banggakan dalam Hidupmu?

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Filipi (10)
Tema: Apa yang Kau Banggakan dalam Hidupmu?
Nats: Filipi 3:4-11

Sepanjang perjalanan hidup Paulus, sejak dia bertobat menerima Tuhan Yesus, sepanjang dia melayani, sampai kepada usia yang sudah lanjut di dalam penjara, Paulus senantiasa merenungkan akan siapakah Yesus itu, di situ menjadi moment yang selalu membawanya kembali dan kembali bertekuk dan berlutut dan memuji keagungan dan kemuliaan Tuhan Yesus Kristus. Maka Paulus sampai kepada satu kesimpulan: tidak ada yang bisa dibandingkan, tidak ada yang lebih mulia yang layak digenggam lebih daripada Yesus Kristus.
Apa yang menjadi kebanggaan dalam hidup seseorang? Apa yang dibanggakan oleh dunia ini? Banyak orang menjadikan aspek kekayaan, keberhasilan dalam karier, gelar akademis, reputasi, prestise, banyaknya barang dan benda-benda yang dia miliki, itu semua menjadi kebanggaan dalam hidupnya. Masing-masing kita achieved akan sesuatu dan bangga akan hal itu.
Firman Tuhan yang Paulus katakan pada bagian ini mungkin menjadi sesuatu yang kita rasa berbeda secara kualitatif nilai kebanggaannya, tetapi mari kita coba kita melihat dengan lebih teliti apa yang Paulus katakan di sini. Secara konteks pada waktu itu dan secara konteks latar belakang hidup Paulus semua yang dia sebutkan ini adalah suatu kebanggaan yang luar biasa. Setelah kita mengerti dan memahami, baru nanti kita cari komparasinya dengan konteks apa yang menjadi kebanggaan kita hari ini. Biar setelah itu kita bawa hati kita hari ini, kita letakkan semua kebanggaan itu di kaki Yesus Kristus, pada waktu kita memperbandingkannya dengan kebesaran dan kemuliaan serta keindahan Tuhan kita Yesus Kristus, menjadi seperti apakah semua itu?
Paulus mengatakan, “Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya kepada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi…” (Filipi 3:4b). Paulus lalu menyebutkan dua aspek yang dulu menjadi identitas dan kebanggaannya, yaitu aspek pedigree dari keturunan hereditas dan segala achievement pencapaian dia dalam hal keagamaan. Paulus menyatakan kebanggaan identitas dari latar belakang keturunannya sebagai sesuatu hal yang istimewa. “Disunat pada hari ke delapan…” itu menjadi sesuatu hal yang bangga dan istimewa, karena menunjukkan dia adalah anak asli dari keturunan Abraham sebagai anak perjanjian. Ingatkan, Abraham mempunyai dua anak, Ismael dan Ishak. Ismael disunat pada usia 13 tahun sedangkan anak perjanjian yang bernama Ishak disunat pada hari ke delapan. Pada saat yang sama, dengan kalimat ‘disunat pada hari ke delapan juga’menunjukkan dia bukan orang “proselit” yaitu orang non Yahudi yang menjadi pengikut agama Yahudi dan disunat pada waktu dewasa. “Dari bangsa Israel…” kata itu untuk memberitahukan dia adalah orang Yahudi asli bukan hanya dari keturunan Abraham, seperti keturunan orang Ismael; bukan hanya dari keturunan Ishak seperti keturunan orang Edom; tetapi yang terutama dia adalah juga dari keturunan Yakub, yang Tuhan beri nama Israel (band. Kejadian 32:28). Ini memperlihatkan orang Yahudi sangat membanggakan hubungan istimewa mereka sebagai sebagai penerima perjanjian Allah. “Dari suku Benyamin,” satu suku yang dianggap elite dibandingkan suku-suku yang lain. Mari kita menelusuri perasaan hati orang Yahudi setelah mereka kembali dari pembuangan. Dari sejarah Israel kita tahu setelah raja Salomo meninggal dunia, kerajaan Israel terpecah dua. Kerajaan Israel yang utara membentuk dari 10 suku, sedangkan kerajaan Yehuda hanya dari suku Yehuda yang bertahan mencintai Tuhan dan mempertahankan Yerusalem, lalu kemudian suku Benyamin bergabung dengan suku Yehuda (1 Raja 12:21). Di dalam perjalanan sejarah bangsa Israel, dua suku ini, Yehuda dan Benyamin menjadi suku yang paling dihormati karena merekalah yang tetap mempertahankan kesetiaan kepada Tuhan dan merekalah yang memegang kemurnian hukum Taurat dengan luar biasa. Kita tahu selanjutnya kerajaan Israel di utara terpukul hancur oleh Asyur dan 10 suku yang ada akhirnya melakukan kawin campur dengan orang Kanaan sehingga jadilah mereka sebagai orang Samaria, yang sudah tidak bisa lagi menelusuri silsilah keturunan mereka.
Maka pada waktu Paulus menyebut “aku dari suku Benyamin,” ini adalah hal yang luar biasa. Keluarga Paulus masih bisa menelusuri setelah 400 tahun pulang dari pembuangan silsilah nenek moyang dia masih bisa ditelusuri mereka adalah orang Israel dari suku Benyamin. Terlebih lagi kebanggaan keluarga Paulus dari suku Benyamin itu dinyatakan dengan dia diberi nama Saul oleh orang tuanya. Kenapa? Karena raja Israel yang pertama adalah raja Saul dari suku Benyamin.
Aspek kedua yang Paulus katakan dulu menjadi kebanggaan dia adalah achievement dia dalam hal keagamaan, “…tentang pendirian terhadap hukum Taurat, aku adalah seorang Farisi…” (Filipi 3:5). Orang Farisi adalah bagian dari kelompok agama Yahudi yang sangat menekankan respek terhadap hukum Taurat yang dinyatakan dalam kesetiaan, ketelitian dan ketaatan mereka. Yesus Kristus sendiri pernah berkata kepada murid-muridNya, “Turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu tetapi janganlah kamu turuti kelakuannya” (Matius 23:3). Yesus menegur orang Farisi munafik secara rohani, tetapi pada waktu kita menelusuri apa yang Yesus tegur terhadap mereka, kita bisa melihat dari perspektif orang Farisi betapa teliti, ketat dan setianya mereka dalam melakukan hukum Taurat itu. Dalam Matius 23:23 Yesus mengatakan “hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar…” kira-kira kalau pakai konteks hidup kita sekarang, beras, garam, gula pun dipisahkan sepersepuluh untuk perpuluhan.
Maka kita bisa memahami apa arti kalimat Paulus mengatakan di dalam hal melakukan hukum Taurat dia adalah seorang Farisi. Dan bukan itu saja, kita juga mengetahui Paulus pernah belajar berguru kepada seorang rabi yang terbaik pada jaman itu yaitu Gamaliel (Kisah Rasul 22:3). Pada waktu Paulus menyebutkan achievement dia di dalam bidang keagamaan, ada dua hal yang dia sebutkan, “dalam hal kegiatan…” atau zeal. Di dalam hal keagamaan, orang Yahudi sangat menghargai apa yang dinamakan zeal itu, karena itu menjadi bukti orang ini sungguh-sungguh cinta Tuhan atau tidak.
Pada waktu di tengah tantangan saat sebagian besar orang-orang yang keluar dari Mesir menyatakan penghinaan dan pemberontakan mereka kepada Tuhan, tinggal sisa sedikit yang ada di pihak Musa, maka majulah satu orang dari suku Lewi bernama Pinehas dan membunuh orang-orang yang menghina kesucian Tuhan. Pinehas telah menyelamatkan umat Israel dari murka Tuhan dan Tuhan Allah memuji dia, “…oleh karena dia begitu giat membela kehormatanKu…” (Bilangan 25:11-13). Pada waktu Yesus dalam kemarahanNya menunggang-balikkan meja-meja penukar uang di Bait Allah dan mengusir pedagang yang berjualan binatang korban di situ, murid-murid teringat dengan kalimat dari PL “cintaku akan rumahMu menghanguskan aku…” (Mazmur 69:9). Zeal for Your house has consume Me.
Paulus dalam hal zeal ini begitu giat, begitu sungguh-sungguh committed, memberikan segala sesuatu, bahkan demi untuk mempertahankan agama Yudaisme itu dia dengan giat menganiaya jemaat Tuhan. Jadi jangan ragukan lagi kesetiaan Paulus terhadap Yudaisme pada waktu belum bertobat percaya Tuhan Yesus. Dibandingkan dengan mereka yang cuma membangga-banggakan diri karena mungkin mereka dulu juga orang Farisi namun adakah mereka membela dan mempertahankan kemurnian Yudaisme seperti Paulus? Dan yang ketiga, dalam hal menjalankan keagamaannya, Paulus tidak bercacat cela.
Kalau ditarik kepada kita, bukankah dua aspek ini juga yang sering menjadi kebanggaan kita? Ada orang bangga hereditasnya, siapa orang tuanya, siapa nenek moyangnya, mungkin keturunan bangsawan, keturunan darah biru, keturunan orang yang sangat sukses dan kaya raya. Dan ada orang yang sangat bangga akan apa yang dia capai dalam hidup ini. Lulusan sekolah apa, kerja dan keberhasilan kariernya. Hari ini mari kita renungkan sekali lagi, apa yang kita anggap menjadi kebanggaan yang paling utama dan pertama dalam hidup kita? Apa yang paling berarti, yang paling bernilai dalam hidup kita? Pada waktu kita bertemu dan berjumpa muka dengan muka di hadapan Tuhan kita Yesus Kristus, adakah semua itu tetap menjadi sesuatu yang kita bangga-banggakan lagi?
Paulus berkata, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku sekarang kuanggap rugi karena Kristus… dan menganggapnya sampah…” (Filipi 3:7-8). Terjemahan Indonesia kata “sampah” Paulus memakai kata “skubala” yaitu sesuatu yang harus dilempar untuk dimakan oleh anjing. Bagi Paulus apa yang dulu dia banggakan sekarang menjadi tidak ada harga dan nilainya, sepatutnya menjadi sesuatu yang dibuang dan dimakan oleh anjing. Kita ingat Paulus menegur orang-orang yang mengajarkan ajaran-ajaran yang salah dan palsu itu sebagai anjing (Filipi 3:2).
Mengapa Paulus begitu keras dan tegas bicara akan hal ini? Ingatkan jemaat Filipi adalah jemaat yang mayoritas adalah non Yahudi. Kita coba bayangkan setelah beberapa saat jemaat ini berdiri datanglah pengkhotbah-pengkhotbah dan guru-guru dari Yerusalem yang sangat membangga-banggakan tradisi Yahudi dan yang menekankan segala hal yang lahiriah seperti sunat dan berbagai syarat mengikut Yesus. Mereka menciptakan kesan karena mereka adalah orang Yahudi, tentu ajaran mereka lebih otentik dan lebih original dan membuat jemaat Filipi terkagum-kagum dan lebih rasa tertarik dengan ajaran-ajaran mereka.
Pada waktu Paulus menyatakan “segala sesuatu itu kuanggap sampah…” dia sama sekali tidak menghina Yudaisme sebagai orang luar, sebagai orang yang tidak bisa menjalankannya. Paulus mengerti apa yang dituntut dan diajarkan oleh kepercayaan dan ajaran dari spiritualitas Yudaisme. Paulus dahulu melakukan semua itu dengan sempurna, tidak bercacat dan dia bangga akan semua pencapaiannya. Tetapi pada waktu dia bertemu dengan Tuhan Yesus Kristus, semuanya itu menjadi sampah adanya.
Setelah kita menjadi orang percaya Tuhan, salah satu dosa serius yang selalu kita tolerate dalam hidup ini adalah “ungodliness.” Berbeda dengan “wickedness” yaitu dosa-dosa imoralitas seperti menipu, mencuri, dan berbagai kegiatan dan aktifitas dosa yang merugikan orang lain, “ungodliness” menjadi dosa yang subtle dan tidak kita waspadai. Kita akan terjatuh ke dalam dosa ungodliness ketika Allah tidak menjadi sentral dan pusat hidup kita. Termasuk harta yang kita miliki, apa yang kita capai dalam hidup ini, segala keberhasilan dan kesuksesan kita, segala barang kita, anak kita, orang tua kita, apapun semua itu, ketikan mereka menjadi yang terutama dan menggeser Tuhan dari tempatnya, di situ kita sudah menjadi ungodly. Pada waktu dalam menjalani hidup ini kita lebih bersandar kepada kekuatan, kepandaian, kekayaan dan kesuksesan kita, pada waktu kita lebih membanggakan anak kita lebih daripada meletakkan Allah menjadi sentral dan pusat dari hidup kita, maka firman Tuhan ini harus mengingatkan kita sekali lagi.
Perasaan amazed kita kepada Kristus tidak pernah boleh hilang dan berkurang. Namun pada waktu Kekristenan berada di sebuah negara yang maju dan berkembang, dimana semua orang bisa mendapatkan segala sesuatu seturut dengan apa yang dia bisa raih dengan kekuatan dan kemampuan dirinya sendiri, maka Kekristenan menjadi sesuatu hal yang menjadi pudar di tengah orang menjadi makin makmur, menjadi sukses, menjadi kaya, mampu meraih apa yang dia inginkan sehingga dia katakan dia tidak perlu Tuhan lagi di dalam hidup ini. Lebih sinis lagi orang yang menghina Kekristenan mengatakan orang yang mencari Tuhan dan percaya Tuhan adalah orang-orang yang lemah, yang kurang kemampuan, karena tidak bisa ke dokter, tidak bisa mendapatkan teknologi pengobatan yang lebih tinggi dan tidak memiliki uang untuk mendapatkan pengobatan yang terbaik maka mereka hanya bisa berdoa dan bersandar kepada Tuhan. Agama dan kepercayaan kepada Kristus menjadi sesuatu yang disingkirkan.
Dengan sedih dan prihatin saya mengkritik ada semacam hal kontradiksi pada diri orang ateis yang tidak mau mengakui Tuhan dan menganggap Tuhan tidak ada. Orang yang seperti ini mengatakan hidup ini habis dan selesai pada waktu kita mati dan tidak ada Tuhan yang akan mengadili segala perbuatan kita selama di dunia. Yang menjadi kontradiksinya adalah orang seperti ini selama hidupnya masih mengumpulkan uang dan harta yang banyak. Kalau memang hidup ini habis dan selesai waktu dia mati, kenapa dia masih berjuang dan berusaha mengumpulkan uang dan harta? Kenapa dia masih ngotot berusaha memegang semua yang dimiliki kalau memang selesai habis?
Dan kenapa orang-orang seperti ini kalau memang tidak peduli akan Allah dan tidak menganggapNya ada, justru mereka adalah orang-orang yang dengan hati yang pahit dan kejam melarang sekolah-sekolah memasang simbol Kekristenan dan tidak mau orang berdoa dalam nama Yesus di depan publik. Kalau memang engkau tidak percaya kepada Dia dan menganggap Dia tidak penting, tidak usah merasa terganggu dan kesal akan hal itu, bukan?
Bagi saya di situlah kontradiksinya orang ateis. Di satu sisi dia tidak percaya dan tidak peduli akan Allah tetapi kenapa akhirnya benci dan marah sekali kepada orang yang percaya Tuhan Yesus. Sebenarnya lebih logis adalah tertawakan saja orang-orang seperti itu kalau engkau anggap Tuhan tidak ada. Dan kalau Allah tidak ada, kalau hidup sesudah mati tidak ada, buat apa engkau menggenggam semua yang engkau punya terus-menerus? Tidak ada hal yang sudah engkau raih dan miliki di sini bisa dibawa ke sana, bukan? Dari situ menunjukkan engkau mau mengontrol dan menjadi allah yang mengatur segala sesuatu, padahal kalau memang setelah mati selesai semua dan hilang, ya sudah, tidak perlu dipikirkan. Berarti allahnya adalah dirinya sendiri, allahnya adalah hartanya sendiri, allahnya adalah segala kebanggaannya akan apa yang sudah dia raih dan capai di dalam dunia ini. Itulah sebabnya dari situ saya ingin mengajak kita mengerti apa yang Yesus katakan dalam Lukas 12:16-21 tentang seorang kaya yang bodoh begitu logis adanya. Dan di situ kita bisa mengerti mengapa Paulus mengatakan sejak aku mengenal Kristus dan pada waktu aku percaya Dia, apa yang dulu kubanggakan semua itu kuanggap sampah.
Maka kita tiba kepada ayat yang menjadi tujuan utama hidup Paulus, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persektuan dalam penderitaanNya…” (Filipi 3:10). Ada dua hal yang dia nyatakan di sini, kepercayaanku kepada Kristus tidak bisa dibandingkan dengan apapun yang lain. Kristus yang sudah mati dan bangkit dari kematian. Kebangkitan itu menjadi jaminan tubuh yang kita hidupi selama di dunia ini tidak akan hilang sirna begitu saja. Bukankah yang selama orang hidup di dalam dunia ini itulah yang dia usahakan terus, bagaimana supaya hidup ini tidak berlalu? Tidak ada yang bisa memberikan jawaban kepastian dan jaminan bahwa hidup yang kita jalani ini akan ada selama-lamanya kecuali dari Dia yang pernah mati dan bangkit dari kematian. Siapapun dia di dalam dunia ini yang tidak pernah bangkit dari kematiannya, selain daripada Yesus Kristus. Walaupun orang berusaha untuk mencari bukti bahwa Dia tidak bangkit, tidak ada argumentasi yang bisa menolak Yesus Kristus sudah bangkit. Tidak ada kuburanNya. Ialah satu-satunya pemimpin agama yang mati dan bangkit. Kebangkitan Kristus itu menjadi jaminan bagi kita bahwa kita satu kali kelak akan bangkit dan tinggal bersama dengan Tuhan kita selama-lamanya. Itu adalah pikiran yang terus direnungkan oleh Paulus, sehingga dia bisa mengatakan apa yang kita pegang dan genggam hari ini tidak bisa dibandingkan dengan kebesaran dan kemuliaan Tuhan, itu semua sampah adanya.
Yang kedua, setelah kita mengerti indahnya ikut Tuhan yang seperti itu, maka kita ingin mengenal kuasa penderitaan dan sengsara Tuhan dalam hidupku. Menderita demi iman kepercayaan kepada Kristus itu bukanlah hukuman Tuhan kepada kita, bukan karena Tuhan tidak sayang kepada kita. Menderita karena iman kepercayaan kita kepada Kristus juga bukan suatu pengorbanan kitab bagi Tuhan. Menderita karena iman kepercayaan kita kepada Kristus adalah suatu privilege, satu hak yang istimewa dan spesial. Sehingga kebanggaan kita kepada Kristus tidak akan pernah boleh dianulirkan atau dihilangkan karena penderitaan yang kita alami.
Hari ini, apa yang menjadi kebanggaan kita? Bangga akan keberhasilan anak kita? Bangga karena anak kita sudah jadi orang? Bangga karena kita telah berhasil menjadi orang tua? Bangga akan segala pencapaian kita lalu kita boleh beristirahat ? Bangga oleh karena kita memiliki tubuh yang lebih sehat dan panjang umur? Bangga akan apa yang sudah kita capai? Bangga dengan apa yang kita miliki dengan segala tabungan uang yang tersimpan di rekening kita? Bangga dengan berapa banyak rumah dan perusahaan yang kita miliki? Itu adalah kebanggaan yang menjadi milik semua orang. Bukan berarti kita tidak perlu melakukan yang terbaik dalam hidup ini tetapi segala pencapaian itu tidak boleh menjadikan hidup kita itu bersandar dan diselamatkan oleh semua itu.
Biar kiranya senantiasa tertanam dalam ingatan kita satu kali kelak Kristus Tuhanku akan menyatakan diri dalam segala kemuliaanNya, “Turn your eyes upon Jesus, look full in His wonderful face. And the things of earth will grow strangely dim in the light of His glory and grace.” Kita tidak perlu kuatir dan tidak pernah bersandar lagi kepada apa yang menjadi kebanggaan yang boleh kita dapatkan di dalam hidup ini karena kita tahu hanya di dalam Tuhan kita mendapatkan segala-galanya dengan indah dan pasti sampai selama-lamanya. Ingatkan kita betapa pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib begitu mulia dan begitu agung lebih daripada segala-galanya.(kz)