Aman di saat Sulit

Pengkhotbah: Pdt. Hadi Sugianto
Tema: Aman di saat Sulit
Nats: Mazmur 31:1-25

Kitab Mazmur memiliki banyak genre atau bentuk tulisan. Ada mazmur doa, ada mazmur pujian, ada mazmur pengajaran, ada mazmur pengangkatan raja, ada macam-macam mazmur lainnya. Mazmur 31 adalah sebuah mazmur doa; sebuah doa yang sangat pribadi sifatnya, yang mengungkapkan kesusahan dan mengungkapkan ratapan yang dalam, karena apa? Karena musuh, karena penyakit, karena ditinggalkan oleh teman. Mazmur ini menjadi sebuah mazmur yang mewakili jeritan orang beriman yang sedang ada di dalam kesulitan dan yang sedang ada di dalam penindasan dalam perjalanan hidupnya di dunia ini. Di dalam Mazmur 31 ini kita bersama-sama bisa menemukan sesuatu yang menjadi pegangan hidup kita ketika engkau dan saya menemukan banyak kesulitan dan penindasan di dalam perjalanan hidup ini. Nabi Yeremia pernah mengutip ayat 14 untuk mengungkapkan rasa sedih dan takutnya. Bahkan Yesus pernah mengutip ayat 6a, “Ke dalam tanganMulah kuserahkan nyawaku” untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya tentang situasi ketika Dia ada di atas kayu salib.
Kita percaya dan beriman sungguh bahwa Tuhan yang menciptakan kita, yang menebus kita, Dia yang merancangkan sebuah masa depan yang baik untuk kita yang selalu mencari Dia. Di dalam anugerahNya kita boleh hidup, di dalam kemurahanNya kita boleh ada, di dalam kebaikanNya kita boleh berjalan. Namun di situ kita juga senantiasa harus ingat, ada bagian yang harus kita kerjakan. Walaupun burung tidak menabur, dia bisa diberi makan oleh Tuhan, tetapi ada bagian yang harus dia kerjakan di dalam kaitan pemeliharaan Tuhan yaitu dalam masa sulit dia tetap harus mengerjakan bagiannya. Saya pikir demikian jugalah yang harus kita lakukan di dalam hidup ini. Kita meyakini pemeliharaan Tuhan, tetapi ada tanggung jawab kita untuk melakukan sesuatu. Tidak hanya duduk diam lalu pemeliharaan itu menjadi bagian kita. Jikalau kita ingin aman di saat-saat sulit, ketika kita berada di dalam persoalan besar di dalam hidup ini, ada beberapa hal yang harus kita lakukan.
Yang pertama, pemazmur ingin mengatakan engkau dan saya harus bertobat dari mengandalkan manusia. Inilah yang pemazmur ungkapkan di tengah dia mengalami banyak pergumulan dan kesulitan. Kalau kita perhatikan Mazmur 31:1-9 ini ada pengulangan-pengulangan kalimat yang berbeda tetapi memiliki arti yang sama. Maka dapat disimpulkan bahwa sang pemazmur pada hari ini ingin berkata kepada kita “kapok aku mengandalkan manusia.”
“PadaMu Tuhan, aku berlindung; janganlah sekali-kali aku mendapat malu…” (ayat 2). Bangsa Israel pernah sangat mendapat malu di dalam sejarah perjalanan hidup mereka. Pada sekitar tahun 703 SM mereka akan memberontak terhadap Asyur, mereka ingin mengandalkan pertolongan Mesir. Padahal kalau kita membaca Yesaya 30 Tuhan sudah mengingatkan jangan sekali-kali engkau meminta pertolongan kepada Mesir. Engkau akan kecewa, engkau akan sia-sia, engkau akan kecewa. Tetapi apa yang dilihat oleh bangsa Israel begitu menakutkan sehingga mereka tidak mendengarkan nasehat yang disampaikan oleh Yesaya pada hari itu, mereka meminta bantuan kepada Mesir untuk melawan Asyur.
Meminta pertolongan kepada orang bukan tidak boleh, tetapi menjadikannya sebagai andalan adalah sama dengan menjadikan orang itu seperti tuhan kita. Pengalaman mengandalkan manusia sewaktu-waktu ada hasilnya, tetapi itu bukan Tuhan mau. Pengalaman mengandalkan manusia sewaktu-waktu akan memuaskan kita, tetapi Tuhan cemburu akan hal itu. Firman Tuhan berkata, “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri dan yang hatinya menjauh daripada Tuhan” (Yeremia 17:5). Sebaliknya, “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya kepada Tuhan!” (Yeremia 17:7). Benarlah apa yang dikatakan oleh Yeremia bahwa orang-orang yang mengandalkan manusia akan hidup di dalam kutuk dan yang mengandalkan Tuhan akan hidup di dalam berkat. Kita pun bisa kecewa kalau kita minta tolong kepada orang lalu orang itu menolak. Dan hati-hati jika kemudian kita menjadi benci dan sakit hati kepada orang itu, itu berarti ada sesuatu yang salah dengan hidup kita. Sekali lagi meminta tolong kepada orang bukan tidak boleh, tetapi yang tidak boleh adalah kalau kemudian di dalam hati kita diam-diam kita mengandalkan, seolah-olah dialah yang akan menjadi juruselamat kita; seolah-olah hanya dialah yang bisa menolong kita. Mengandalkan manusia membuat kita melupakan Tuhan. Tetapi meminta tolong berarti kita memberi tempat kepada Tuhan untuk berkarya. Ketika kita meminta tolong hati kita sedang terbuka bahwa Tuhan bisa memakai orang banyak dan situasi dan benda apapun untuk bisa menolong kita. Tetapi kalau kita sudah mengandalkan, menganggap dia adalah satu-satunya yang bisa menolong kita, itu salah.
Saya ingat waktu saya selesai SMA dan ingin kuliah, saya berkata kepada papa saya karena saya tahu dia tidak bisa membiayai saya kuliah, apakah saya bisa diperkenalkan kepada orang yang bisa mempekerjakan saya di pagi dan siang hari sehingga malam harinya saya bisa kuliah? Dia teringat kepada satu orang saudara jauh kami yang kaya raya dan mempunyai perusahaan, dan mengajak saya ke rumah orang itu. Saya teringat pernah berjumpa dengan orang ini dan sangat berharap orang ini bisa menolong saya. Benar, tidak ada orang lain, pasti hanya dia yang bisa menolong saya dan membuat saya bisa kuliah. Lalu papa saya membawa saya ke rumah orang ini. Ketika tiba di rumahnya, kami harus menunggu di teras sampai beberapa jam, dengan hati yang sangat berharap dan sangat mengandalkan. Hati manusia memang bisa berubah, waktu ketemu papa saya yang bicara tentang keperluan itu bahwa ’anak ini mau kerja di tempatmu, sore kuliah, begitu. Bisa tidak?’ Saudara ini bilang tidak ada tempat untuk pekerjaan bagi kamu. Akhirnya dengan kecewa kami pulang. Hari itu saya tahu apa artinya dari sangat mengandalkan menjadi begitu benci luar biasa. Dari begitu mengagumi dan sangat yakin bahwa dia satu-satunya yang bisa menolong, akhirnya hati itu menjadi sangat tawar. Saya tahu apa artinya itu.
Sekali lagi meminta bantuan kepada orang itu tidak selalu salah. Tetapi mengandalkan dan menjadikan orang lain adalah andalan adalah sesuatu yang harus kita hindarkan. Minta tolong, boleh minta tolong. Tetapi jangan jadikan orang itu satu-satunya, bahwa dialah yang sanggup menyelamatkan hidup kita, yang sanggup menolong kita. Kalau hati kita baik, meminta tolong orang lalu ditolak, tidak apa-apa itu, karena hati kita sedang tetap terhubung kepada Tuhan. Kita sedang akan berkata kalau Tuhan tidak bisa memakai dia, Tuhan pasti bisa pakai yang lain. Tetapi kalau kita sendiri yang menetapkan bahwa hanya dialah yang bisa menolong kita, tidak ada yang lain, celakalah hidup kita. Kita hidup di bawah kutuk. Mau hidup di bawah kutuk tidak usah mikir yang aneh-aneh. Kalau kita hidup seperti ini saja, kutuk itu menaungi hidup kita, bukan berkat. Hati kita akan terus marah, bukan karena orang lain berbuat salah kepada kita, hanya karena orang lain tidak bisa menolong kita, kita marah. Apa itu dasarnya? Tidak ada dasar sama sekali. Orang tidak bisa menolong kita karena dia punya alasannya sendiri, kita tidak tahu. Tetapi coba kalau kita mengandalkan Tuhan, pasti berbeda.
Saya tidak tahu apa yang menjadi pergumulan kita pada hari ini. Jika kita sekarang kehilangan damai sejahtera sebab kita menunggu pertolongan orang lain yang kita andalkan terhadap persoalan yang sedang kita hadapi, berarti ada hal yang salah. Apalagi kalau sampai hari ini kita masih marah dan benci dengan seseorang hanya karena orang itu tidak menolong kita, celaka hidup kita seperti itu. Kita tidak akan punya kekuatan untuk bisa melanjutkan hidup yang lebih baik sebab berkat Tuhan tidak ada di atas kepala kita. Maka caranya apa? Bertobat. Pemazmur mengatakan kalau engkau ingin aman di masa sulit, bertobatlah dari mengandalkan manusia. Jangan menjadikan dia satu-satunya andalanmu. Minta tolong tidak masalah, tetapi jangan mengandalkan. Siapapun itu yang ada di sekitar kita.
Yang kedua, pemazmur ingin mengingatkan kita kalau kita ingin aman di masa sulit, berdoa dan percaya. Mazmur 31:10-19 merupakan ungkapan doa minta tolong di tengah kesengsaraan dan ungkapan iman di hadapan Tuhan, “Tetapi aku, kepadaMu aku percaya ya Tuhan; Aku berkata, Engkaulah Allahku!” (ayat 15). Artinya adalah kalau kita sedang sengsara, kalau engkau sedang berdoa, engkau dan saya dipanggil oleh pemazmur, engkau juga harus percaya bahwa di dalam Tuhan tersedia pertolongan. . Kita mungkin memang berdoa tetapi kita juga mau mengatur Tuhan. Kita rasanya akan puas kalau Tuhan menjawab seperti yang kita mau. Kalau kita butuh uang, yakinlah bahwa Tuhan bisa menolong kita walaupun jenis pertolongan Tuhan tidak selalu dalam bentuk uang. Kalau kita sakit dan mau sembuh, yakinlah bahwa Tuhan sanggup menolong walaupun bentuk pertolongan Tuhan jawaban dari doa itu tidak selalu dalam bentuk kesembuhan. Kalau kita membutuhkan pekerjaan, yakinlah Tuhan sanggup memberikan pekerjaan itu, walaupun jenis pekerjaan yang kita dapat belum sesuai dengan yang kita inginkan. Tetapi yang ingin pemazmur ajarkan adalah ketika engkau berdoa, engkau harus percaya bahwa di dalam Tuhan tersedia pertolonganNya. Pertolongannya yang luar biasa, meskipun ada waktu dan cara Tuhan yang berbeda dengan apa yang kita pikirkan, tetapi engkau harus percaya bahwa di dalamNya ada pertolongan. Saya tidak bisa bayangkan kalau orang berdoa lalu tidak percaya bahwa Tuhan sanggup menolong dia. Cuma yang kita inginkan dan Dia punya cara kadang tidak ketemu, karena beda. Tetapi Tuhan sanggup, Tuhan bisa, dan kita harus percaya akan hal itu. Kita harus berdoa tetapi juga harus bersedia menerima cara Tuhan dalam menyelesaikan persoalan kita. Itulah sebabnya ada doa Getsemani, ada doa Bapa Kami, yang di dalam bagian itu ada kalimat Yesus yang berkata “bukan kehendakKu tetapi kehendakMu yang jadi.”
Sejak muda saya sudah berdoa kepada Tuhan untuk saya mendapat isteri yang baik dan kalau boleh mendapatkan anak yang bisa mendapat kesempatan sekolah di luar negeri. Saya berdoa minta sungguh kepada Tuhan memberi kesempatan kepada dia, tetapi caranya Tuhan tidak seperti cara saya. Dulu saya kumpul uang sedikit demi sedikit supaya bisa menyiapkan biaya sekolah tetapi Tuhan tidak pakai cara itu. Tuhan jawabnya seperti ini yaitu anak saya mendapat beasiswa 4 tahun kuliah di luar negeri sejumlah US$120,000. Saya pikir-pikir, seandainya Tuhan kasih uang tunai US$120,000 atau Rp. 1.6 milyar kepada saya, apakah saya akan memberikannya semuanya buat anak saya pergi sekolah keluar negeri? Sejujurnya, saya tidak akan kasih. Adiknya masih ada dua lagi. Saya pasti akan mengatakan, sekolah di Surabaya saja, sisanya buat sekolah adik dan buat uang muka kredit rumah. Tuhan tidak berbuat seperti itu. Itu maksudnya kalau berdoa percaya Tuhan bisa dan sanggup menolong tetapi caranya berbeda, dan waktunya waktu Tuhan. Pemazmur mengingatkan kita bahwa Tuhan bisa memberikan pertolongan dengan caraNya sendiri, dan ada banyak cara yang luar biasa yang Dia lakukan untuk kita.
Apa yang membuat kita tetap aman pada masa yang sulit? Berdoa dan percaya. Tidak hanya percaya bahwa Tuhan mampu, tetapi juga percaya akan caranya yang kadang-kadang membuat kita tidak mengerti. Minta sembuh, tetapi Tuhan tidak sembuhkan. Namun Dia punya cara menguatkan kita menghadapi itu sehingga kita bisa menghibur menguatkan orang lain. Itu cara Tuhan. Sakit tetapi dikuatkan terus oleh Tuhan untuk bisa menjadi berkat bagi orang lain.
Apa yang kita pikirkan ketika kita mendoakan itu semua? Kadang kita mendapatkan apa yang tidak sesuai dengan yang kita mau. Tetapi apakah kita percaya bahwa itu adalah jawaban doa kita, walaupun itu tidak sesuai dengan hati kita hari ini? Kita harus ingat apa yang sekarang ini didapat mungkin tidak sesuai tetapi ini masih dalam proses yang panjang, mungkin satu saat sampai kita tahu apa yang kita doakan itu Tuhan jawab dengan sempurna dan indah dalam bijaksana Tuhan. Orang butuh berproses, tetapi kita ingin cepat lihat langsung jadi.
Yang ketiga, apa yang pemazmur katakan kepada kita pada saat sulit tetapi hidup kita tetap aman? Mengucap syukur dan melayani. Mazmur 31: 20-25 adalah ajakan untuk mengucap syukur dan mengasihi Tuhan. Bagian ini masih dilatar-belakangi bagaimana pemazmur pada hari itu berada di dalam masa-masa yang sangat sulit dan tidak nyaman, sebab masih banyak orang yang mengejarnya dan menginginkan sesuatu darinya. Bahkan ada orang yang memasang jaring ingin menjebak dan menjatuhkannya. Tetapi apa yang dia lakukan? Bagaimana dia bereaksi terhadap semua situasi yang sulit dan tidak nyaman itu? Dia menyikapinya dengan baik. Dia mengucap syukur dan tetap melayani Tuhan. Pemazmur yakin bahwa hidupnya hanya ditentukan oleh Tuhan. Hidupnya bukan ditentukan oleh musuh-musuhnya. Hidupnya bukan ditentukan oleh masalahnya. Hidupnya bukan ditentukan oleh penyakitnya. Bukan. Dia meyakini bahwa hidupnya ada di dalam tangan Tuhan, hidupnya hanya ditentukan oleh Tuhan. Sehingga walau di dalam pergumulan dan kesusahan yang begitu dalam di dalam hatinya, dia tetap bisa merasakan damai itu menguasai hidupnya. Indikasi damai sejahtera ada di dalam hatinya adalah ketika dia bisa menunjukkan kepada kita ajakannya kepada orang untuk hidup tetap mengasihi Tuhan. Sama seperti Paulus pada waktu di dalam penjara berkata, “Bersukacitalah, sekali lagi kukatakan, bersukacitalah. Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang…” (Filipi 4:4-5). Di dalam situasi dan kesulitannya, Paulus mau mengajak orang lain untuk mencintai Tuhan.
Hidup kita kadang speerti hidup janda di Sarfat (band. 1 Raja 17:7-24). Hidup dalam masa paceklik, punya hanya segenggam tepung dan sedikit minyak. Dan tepung dan minyak itu hanya bisa sekali saja terakhir untuk dimasaknya hari itu dan tidak ada lagi persediaan buat hari esok. Setelah makan, dia akan mati. Tetapi dalam situasi seperti itu Tuhan mengatakan sesuatu yang berbeda lewat Elia. Elia berkata kepada perempuan ini untuk memberinya makan lebih dahulu. Dan kita tahu apa yang kemudian terjadi, janda ini mungkin sempat berpikir, apakah lari meninggalkan nabi Tuhan ini atau melakukan apa yang dia minta, mengolah tepung dan minyak ini menjadi roti untuk dimakannya? Situasi sulit membuat kita harus memilih tetap setia, tetap melayani Tuhan, atau lari? Apa yang terjadi ketika janda ini memilih untk melayani Tuhan, memberikan makan kepada nabi Tuhan ini, apa yang kemudian Tuhan lakukan? Mereka bisa melewati masa paceklik dengan tepung dan minyak yang terus ada, karena Tuhan memelihara.
Bersyukur dan melayani adalah dua sikap yang tidak terpisahkan. Bersyukur adalah konfesi iman kita, melayani adalah buktinya. Hanya dengan bersyukur dan tetap melayani Tuhan maka hati kita akan terpelihara. Dengan apakah kita bisa tetap memiliki hati seorang hamba kalau tidak kita hidup di dalam melayani? Banyak orang Kristen berpikir masalahnya terlalu banyak, dia mau selesaikan persoalannya dulu, dia mau selesaikan pekerjaannya dulu, dan meninggalkan pelayanan. Dia pikir dengan seperti itu masalahnya akan selesai. Saya justru melihat semakin rumit hidupnya. Lari dari Tuhan itu bukan jalan keluar, tetapi dekat dengan Tuhan, bersyukur dan tetap melayani dengan apa saja yang bisa kita lakukan walaupun dalam situasi yang sangat sulit dengan hidup kita, itulah cara yang Tuhan mau dan tetap tinggal di dalamnya. Jangan lari dari Tuhan.
Hidup kita ini kadang seperti wanita yang mengandung. Ada masa yang sangat sulit sembilan bulan dia harus bertahan. Kalau dia putus asa, apa yang terjadi? Dia tidak bisa melihat anak itu. Dia harus bertahan tetap tinggal diam dalam masa sulitnya. Meyakini bahwa di dalamnya ada Tuhan menolongnya dan menguatkannya. Dia lihat ada anak yang bertumbuh di rahimnya sampai nanti dilahirkan dan itu yang menguatkan dia. Apa yang kita pikirkan sekarang dengan keadaan kita? Kalau sekarang kita sedang berada di dalam keadaan yang sulit, apa yang kita lakukan? Masihkah kita bisa bersyukur dan tetap melayani Tuhan? Asal kita ikhlas maka yang baik akan tiba untuk kita sebab Tuhan tidak akan pernah membiarkan kita selalu ada di dalam kesulitan dan penderitaan. Tidak untuk selama-lamanya. Ada waktunya Tuhan memberikan kelepasan dalam hidup kita.

Penguin adalah binatang yang sangat unik. Dia hanya bertelur hanya pada musim dingin. Telurnya hanya satu, tidak lebih daripada itu. Ketika sang betina sudah bertelur apa yang dia lakukan? Dia memberikan telurnya kepada si jantan yang lalu meletakkan telur itu di atas telapak kakinya dan kemudian menutupinya dengan bulunya. Lalu kemana sang betina? Selama dua bulan lamanya sang betina bersama betina-betina lainnya pergi mencari dan mengumpulkan makanan untuk bayinya. Itu bukan waktu yang pendek, itu waktu yang sangat panjang. Selama itu si jantan berpuasa, mengerami telur itu dan dia terus mempertahankan telur itu tetap ada di atas telapak kakinya. Kalau kakinya bergerak sedikit, telur itu bisa menggelinding keluar. Dia bertahan dengan semua jantan yang lain meskipun ada angin badai yang begitu dingin. Mereka saling berdekatan, saling melindungi, dan luar biasa, tepat dua bulan kemudian telur itu menetas. Tepat pada saat yang sama betina itu kembali dan bisa memberikan makanan kepada anaknya. Penguin jantan butuh dua bulan bertahan untuk menjaga telurnya, sementara sang betina pergi mencari makan. Situasi yang tidak mudah dan sulit. Sang betina pergi mencari makan ancamannya maut, ada singa laut dan hiu yang bisa memangsanya. Tetapi mereka bertahan demi sesuatu yang jelas mereka melakukan itu. Kadang hidup kita sudah sampai di ujung tinggal selangkah lagi, kita menjadi sangat-sangat lelah dan berhenti, padahal Tuhan mau kita bertahan. Bertahan diam di dalam Tuhan, kita hidupi hidup ini dengan percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita untuk setiap kita senantiasa percaya dan berharap kepada Tuhan. Kasih karunia Tuhan selalu cukup bagi kita. Yesaya 30:15 berkata, “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu…”(kz)