09. Allah Sentralitas Hidup Kita

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Filipi (9)

Tema: Allah Sentralitas Hidup Kita

Nats: Filipi 2:12-30

 

Saya sangat diberkati dengan buku yang ditulis oleh Paul David Tripp berjudul “Dangerous Calling” sebagai satu buku pastoral dari seorang hamba Tuhan kepada hamba Tuhan yang lain. Lembar demi lembar dari buku ini menjadi penuntun untuk mengarahkan, mengingatkan, dan membawa hati saya kembali lagi alignment dengan Tuhan kita Yesus Kristus, sejajar lagi, balance lagi. Kiranya buku ini senantiasa boleh menjadi berkat juga bagi semua hamba Tuhan yang lain. Panggilan Tuhan kepada kita orang-orang yang melayani Tuhan adalah panggilan yang agung, panggilan yang indah dan mulia adanya. Tetapi sekaligus pada saat yang sama panggilan itu juga mungkin bisa berbahaya. Hati kita sedih dan kecewa melihat banyak hamba-hamba Tuhan, orang-orang yang mendedikasikan diri di pelayanan, memulai dengan baik, di tengah pelayanan melayani dengan indah, namun di akhir justru mengakhiri pelayanan itu dengan segala kesedihan hati. Orang yang awalnya melayani dengan rendah hati memberikan segala-galanya, di tengah kesuksesan akhirnya menjadi mabuk dan lupa diri dan mengakhirinya dengan kesedihan hati. Kenapa hal seperti ini bisa terjadi? Dapatkah kita terhindar dari segala skandal dan mengakhiri hidup pelayanan kita selesai dengan indah?

Di dalam hidup sehari-hari, kita gampang dan segera mendiagnosa jikalau ada hal-hal yang kurang beres. Pada waktu kita naik mobil, ketika kita merasa mobil itu sudah tidak nyaman, waktu di tikungan roda itu bergoyang dan waktu berjalan di jalan yang menurun tajam, roda itu terasa melompat-lompat, di situ kita tahu mobil itu perlu dibawa ke bengkel untuk di-balancing supaya bisa alignment lagi karena rodanya tidak berputar persis di porosnya. Kalau tubuh sudah mulai terasa tidak enak, temperatur naik, kita tahu ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuh kita, maka kita segera ke dokter untuk cek. Tetapi tidak gampang dan tidak mudah untuk mengecek kesehatan dan keindahan rohani kita. Kita terus-menerus harus dibawa kembali untuk meng-align, mem-balance kembali poros dan pusat dari hidup kita. Bukan diri kita, tetapi pusat itu adalah Tuhan kita Yesus Kristus yang telah mati bagi engkau dan saya.

Buku ini memperlihatkan bahayanya hidup sebagai seorang hamba Tuhan di dalam dua aspek ini. Dua aspek ini betapa perlu kita waspadai. Yang pertama, kita tidak boleh kehilangan kekaguman akan Allah yang mulia itu. Yang kedua, kita tidak boleh mabuk dan kagum kepada kemuliaan kesuksesan diri sendiri. Kebanyakan kejatuhan dan kegagalan hidup hamba-hamba Tuhan dan orang-orang yang melayani Tuhan, dari sejak awal mulai dengan baik, di tengah perjalanan pelayanannya mulai sukses dan berhasil lalu mabuk dan lupa diri di dalam kesuksesan itu akhirnya mengambil semua kemuliaan bagi dirinya sendiri.

Ada beberapa hal yang bisa menjadi penyebab seseorang kehilangan kekaguman akan Allah yang mulia dan agung itu. Terlalu biasa melayani, terlalu biasa terlibat dengan hal-hal rohani, salah satunya. Apa sebabnya dua anak Imam Besar Harun dan anak Imam Eli mati dihukum oleh Tuhan? Oleh sebab terlalu biasa di dalam pelayanan, akhirnya mereka meremehkan keagungan dan kesucian Tuhan. Mereka tidak mempunyai hati yang takut akan Tuhan dan bahkan mereka menista Tuhan dengan sikap dan tindakan mereka sehingga Tuhan menghukum mereka dengan sangat keras (Imamat 10:1-3, 1 Samuel 2-4).

Paul David Tripp mengutip ucapan dari B.B. Warfield yang membawakan khotbahnya di tengah mahasiswa sekolah teologi mengingatkan mereka, “Kebahayaan kita sebagai orang-orang yang belajar teologi, orang-orang yang menjadi hamba Tuhan, yang setiap hari memegang Alkitab dan membaca buku-buku teologi adalah kita bisa kehilangan kekaguman akan siapa Allah yang kita sembah karena kita terlalu sering berurusan dengan hal-hal yang ilahi.” Jangan sampai mereka yang sekolah teologi itu setelah lulus mendapat gelar teologi “Master of Divinity” menjadi seorang yang ahli terhadap hal-hal yang ilahi, namun akhirnya mereka yang belajar keilahian tidak memiliki rasa kagum kepada keilahian Allah itu sendiri.

Menarik kalau kita bandingkan sikap dan perasaan hati kita setiap minggu berbakti datang ke gereja dengan orang Israel yang satu tahun hanya tiga kali pergi ke Bait Allah di Yerusalem, karena itu adalah pemandangan yang begitu jarang mereka lihat, sehingga pada waktu mereka berjalan menuju Yerusalem, dari jauh sudah melihat Bait Allah yang begitu megah hati mereka gentar karena mereka sadar mereka sedang datang menghampiri Allah yang besar dan agung itu. Tidak berarti dengan kalimat itu saya menganjurkan sdr jarang-jarang datang ke gereja.

Alangkah kurang baiknya kalau rumah keluarga hamba Tuhan di dalam kompleks gereja, karena terlalu dekat dengan rumah ibadah bisa membuat anak-anak pendeta bisa kehilangan kekaguman kita akan kemuliaan Allah. Tetapi sebaliknya kita juga tidak boleh mensakralkan gedung gereja sehingga menjadi kaku. Rumah Tuhan, Bait Suci yang agung dan megah itu dibangun sedemikian rupa untuk merepresentasikan keagungan dan kemegahan Allah, namun bukan tempat itu yang harus menjadi lebih mulia.

Yang kedua, kegagalan dan kejatuhan hamba Tuhan karena mabuk dan kagum kepada kemuliaan diri sendiri, lupa siapa sesungguhnya diri di hadapan Tuhan, lupa siapa sesungguhnya Subjek dari pelayanan kita. Betapa kita senantiasa harus waspada dan mawas diri terhadap aspek ini. Paul David Tripp mengatkan, “Perhaps there is no more powerful, seductive, and deceitful temptation in ministry than self-glory. Perhaps there is no more dangerous form of drunkenness than to be drunk with your own glory.” Paulus senantiasa mengingatkan hal itu bagi dirinya sendiri, aku tidak ingin semua yang telah aku kerjakan, apa yang aku sudah berikan, menjadi sia-sia adanya, menjadi percuma adanya. Aku berjuang memperhatikan hidupku, bagaimana kelakuanku, bagaimana pelayananku, dan hati motivasi itu tidak hilang adanya, supaya sampai aku berjumpa dengan Tuhan Yesus Kristus aku tidak ditolak, dibuang dan dipermalukan.

Di dalam Filipi 2 ini kita bertemu dengan bagaimana Paulus membawa hati semua orang percaya yang mengenal dan melayani Tuhan kembali lagi kepada fokus siapa Tuhan kita Yesus Kristus, bahkan semua problem persoalan yang ada termasuk di antaranya ada yang sukses dalam hidupnya menjadi bangga dan sombong; di antara konflik jemaat satu dengan yang lain mungkin berbeda pendapat lalu menekankan pendapat diri sendiri dan mengabaikan orang lain, semua persoalan hidup itu tidak ada yang tidak bisa dibereskan, pada waktu semua mata kembali tertuju kepada siapa Tuhan kita Yesus Kristus. Paulus bukan bicara aspek teologi saja, bicara apa yang diajarkan, namun kita bisa melihat kalimat-kalimat yang muncul dari firman Tuhan ini Paulus menjadikan contoh dan model bagaimana hidup menjadikan Kristus sebagai pusatnya, sentralitas hidupnya. Dan kita juga bisa melihat dua orang yang dia sebutkan namanya juga menyatakan model itu, yaitu Timotius dan Epafroditus (Filipi 2:19-30).

Betapa indah kita lihat apapun yang dikerjakan dan yang dilakukan Paulus, yang dipikirkan dan yang dibicarakannya, kita bisa melihat dia tidak pernah melepaskan kekagumannya akan siapa Allah itu.

“Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakanNya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada…” (Filipi 2:9-11). Dan ini menjadi respons kita, “Kamu senantiasa taat karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar…” (Filipi 2:12). Fear and trembling, respect and awe, kagum dan hormat kepada Allah harus tetap ada senantiasa dalam hati kita. Jangan sampai kita kehilangan kekaguman kita akan Allah.

Sama seperti tiap pagi kita bisa bangun menghirup udara yang segar jangan kita kehilangan penghargaan kepada Tuhan dan menganggapnya sebagai hal yang biasa, sampai pada waktu kita harus bernapas dengan tabung oksigen yang mahal itu. Adakah kita penuh dengan kekaguman dan syukur setiap kali makan menikmati beragamnya jenis sayuran yang Tuhan ciptakan, segala macam bumbu-bumbu dengan tekstur dan rasa yang berbeda, bisa menikmati jenis daging dan ikan yang beragam? Bukan itu saja, begitu kita melihat alam semesta ini adakah kita kagum dan takjub akan segala keindahan dan keteraturan yang begitu kompleks itu dan bersyukur kepada Allah yang menciptakan semuanya?

Dunia ini hanya berarah kepada dua jalur ini, yang satu kita tahu di belakang semua ini ada Allah Pencipta; yang kedua orang yang tidak menerima hal itu dan berkata semua ini terjadi sebagai satu kebetulan saja. Mereka yang percaya Allah itu ada dan Allah itu menciptakan segala sesuatu, mempunyai prinsip pengertian yang tidak akan pernah lalu yaitu Pencipta itu luar biasa super intelligent. Bahkan orang yang tidak percaya Tuhan dan mengatakan segala sesuatu yang ada ini terjadi secara kebetulan juga harus mengakui itu adalah kebetulan yang sangat intelligent.

Mari kita berpikir dari teori probabilitas, kalau alam semesta ini terjadi secara kebetulan, bukankah itu suatu kebetulan yang sangat intelligent adanya? Anggaplah kira-kira saya pegang ribuan batu di tangan saya, lalu saya buang batu itu sehingga semuanya terpencar. Batu-batu itu kemudian membentuk cluster, anggaplah itu yang kita sebut sebagai galaksi dan tata surya. Dan di dalam pencaran batu ini kemudian ada delapan sembilan batu tersusun seperti planet-planet di dalam tata surya kita dengan matahari sebagai pusatnya, dan pembentukan dari semua itu begitu pas sehingga bisa membuat ada kehidupan di atas muka bumi ini. Lalu orang yang tidak percaya Tuhan bilang karena batu itu terpencar, bisa saja bukan di satu tempat ini terjadi kehidupan tetapi di satu tempat entah dimana ada lagi hal yang sama terjadi. Secara teori hal seperti itu bisa saja kemungkinan terjadi. Itulah sebabnya para ilmuwan itu berusaha mencari adakah kehidupan lain selain di bumi ini. Tetapi untuk mencari kehidupan itu tetap harus mempunyai semua aspek seperti ini sehingga posibilitas kehidupan itu ada. Bumi kita ini dibombardir dengan sinar ultra violet yang berbahaya dari matahari, tetapi ajaib luar biasa bumi kita ini dilindungi oleh lapisan atmosfir yang bisa membuat sinar itu tiba ke permukaan bumi dengan suhu yang pas dan menunjang kehidupan tidak seperti di tempat lain. Dengan kemiringan 23 derajat membuat bumi bisa mengalami empat musim yang berbeda. Jarak bumi dengan matahari yang tidak terlalu jauh tidak terlalu dekat membuat bumi tidak hangus terbakar atau membeku kedinginan. Jarak bulan yang menghasilkan pasang dan surut yang teratur. Itu semua begitu indah luar biasa. Itu semua tidak ada di planet lain, tidak ada di galaksi atau tempat yang lain, yang memiliki hydrogen dan oksigen yang mencukupi semua mahluk bisa hidup dan berbiak. Orang mencoba mencari hal itu di planet mars, lalu bilang ada frozen ice tetapi untuk mengambil kesimpulan bahwa itu adalah tanda kehidupan, adalah suatu lompatan logika yang terlalu jauh. Manusia boleh saja ingin tinggal di luar angkasa, tetapi baru sadar ada aspek utama yang hanya ada di bumi ini yaitu daya tarik gravitasi yang tidak ada di tempat lain. Dalam film Wall-E semua orang digambarkan bertubuh gemuk, kenapa? Karena di luar angkasa tidak ada gravitasi membuat tubuh menjadi gemuk dan tulang menjadi keropos. Puji Tuhan dengan adanya gravitasi tarik kita ke bawah sedikit membuat kita semua tidak gemuk. Luar biasa, tulang kita tidak akan keropos. Astronot yang tinggal di luar angkasa dalam beberapa waktu tulangnya menjadi keropos dan kulit cepat sekali keriput dan menua.

Di balik semua aspek yang begitu pas dan lengkap itu ada apa? Kita hanya sampai kepada satu kesimpulan, yang menciptakan dan membuat alam semesta ini adalah “Super Intelligent.” Engkau percaya Dia adalah Tuhan atau satu kebetulan belaka, engkau harus mengakui itu adalah super intelligent. Engkau percaya itu adalah Allah yang begitu hebat, Allah yang begitu perkasa, Allah yang begitu ajaib dan berkuasa itu, atau engkau menjadikan Allah itu adalah probabilitas, itu saja. Tetapi yang membuat kita percaya di balik itu semua adalah Allah yang seperti demikian adanya tidak boleh membuat kita berhenti hanya sampai kepada hal itu melainkan harus mendatangkan respons kagum dan hormat dan menyembahNya. Hari ini kita datang berbakti beribadah, kita tidak boleh kehilangan semua aspek itu, bukan saja kepada hamba-hamba Tuhan, tetapi juga kepada setiap orang percaya Tuhan.

Kita menemukan indahnya kalimat rasul Paulus ini, “Dalam Tuhan aku percaya…” (Filipi 2:24) in God we trust. Paulus tidak melepaskan aspek seluruh hidupnya itu dengan sentralitas ini. Dalam konteks apa Paulus mengatakan hal ini? Kalimat ini ada tertulis di setiap lembar dollar Amerika, bukan? Kita bisa membuat planning, kita bisa berencana, dan perencanaan itu bisa kita lakukan ketika jendela kesempatan itu cukup besar dan cukup banyak di depan kita, ketika resources kita cukup dan memadai, kemungkinan rencana itu terjadi akan lebih memungkinkan adanya. Tetapi Paulus mengucapkan kalimat ini di dalam belenggu penjara, dengan keterbatasan itu Paulus tidak kehilangan pengharapan. Tetap dengan window opportunity yang sempit itu Paulus tetap membuat planning. Dia membuat planning untuk mengutus Timotius, dia membuat planning mengirim Epafroditus kembali ke Filipi, bahkan dia membuat planning untuk dirinya sendiri datang ke Filipi. Walaupun window opportunity yang ada begitu kecil jangan sampai membuat kita sama sekali kehilangan pengharapan dan tidak bisa bergerak dan berbuat apa-apa. Jangan takut, jangan merasa putus asa pada waktu kita tidak punya banyak hal. Kita bisa mengatur dan merencanakan hal itu. Walaupun uang di tangan kita tidak banyak, seolah tidak bisa berbuat apa-apa, kita tetap bisa atur untuk memaksimalkan apa yang ada pada kita, ketimbang kita hanya duduk berdiam diri dan berkata “seandainya aku punya uang lebih banyak…” Perhatikan sikap Paulus, di dalam penjara yang sempit dan kemungkinan untuk bisa keluar dari tempat itu begitu kecil adanya, dia tetap berencana dan mengatur planning hidupnya. Dia tidak kehilangan kesadaran keindahan pengharapan dan pengertian yang dalam di dalam keterbatasannya ada Allah yang kepadanya dia berharap. Kita berdoa kepadaNya pada waktu kita sakit dan kiranya Allah mengasihani kita. Kita melakukan perencanaan bagi hidup kita, in God we trust, bukan kepada hal yang lain. Pada waktu kita berjuang, kita melayani dan mengasihi Tuhan, kita tahu Ia yang kita sembah dan kita muliakan. Itulah artinya orang yang hidup kagum akan Allah, itulah artinya orang yang hidup yang tahu siapa Allah itu. Dari pagi membuka mata sampai malam menutup mata untuk tidur kita tidak boleh kehilangan kesadaran kekaguman keindahan Allah seperti itu.

Waktu kita datang beribadah, Ia adalah fokus dari penyembahan kita. Sehingga pada waktu kita berdoa, kita memuji memuliakan Allah, Raja di atas segala raja, Allah yang begitu berkuasa dan berdaulat, yang mengerti segala pergumulan kita, bagaimana kita datang berespons kepadaNya? Jangan datang menghadap Tuhan dengan sikap yang asal-asalan dan menjadi terbiasa dalam hidup ini. Karena kita kagum akan Allah yang agung dan besar itu maka kita tidak boleh menaruh standar yang rendah bagi diri kita untuk datang menghampiriNya. Senantiasa taruh dalam hatimu, apakah sudah tepat saya berespons kepada Dia seperti itu?

Begitu kita membaca bagian ini sekali lagi kita diingatkan Yesus Kristus menjadi contoh dan model, itulah yang menjadi patokan standar kita, Ia yang berkorban, Ia yang mencurahkan darahNya bagi engkau dan saya, yang tanpa pamrih memberi segala-galanya. Paulus letakkan hidupnya kepada model itu dan standar itu, dan Paulus mengingatkan jemaat Filipi untuk memiliki sikap dan respons seperti itu. Siapakah kita? Kita adalah terang yang harus bercahaya bagi dunia ini. Siapakah kita? Kita adalah orang yang harus bersungguh-sungguh mengerjakan keselamatan kita itu dengan hati yang gentar di hadapan Tuhan. Siapakah kita? Kita adalah orang yang harus sehati sepikir, satu padu sama-sama. Siapakah kita? Kita adalah orang yang tidak boleh mencari kepentingan bagi diri kita sendiri.

Kalau kita membaca hidup pelayanan Timotius dan Epafroditus, kita akan menemukan keindahan yang luar biasa dari orang-orang ini. Betapa indahnya kalimat Paulus terhadap Timotius ini, “Karena tidak ada seorang padaku yang sehati sepikir dengan aku dan yang begitu bersungguh-sungguh memperhatikan kepentinganmu…” Seorang yang hidupnya just for the benefit of ministry in Jesus Christ, itulah Timotius. Paulus juga menyebut Epafroditus dengan sebutan yang indah, dia adalah saudaraku, dia adalah rekan kerjaku, dia adalah teman seperjuanganku, dia adalah apostolos dan pelayanku (Filipi 2:25). Terlebih lagi ayat 30 sangat unik, “Sebab oleh karena pekerjaan Kristus ia nyaris mati dan mempertaruhkan jiwanya…” Kata “mempertaruhkan jiwa” dalam bahasa Yunani hanya dalam satu kata “paraboleusthai.” Uniknya, kata ini mempunyai akar kata yang sama dengan penjudi “parabolani.” Waktu seorang penjudi memiliki kartu yang paling tinggi, apa yang akan dia lakukan? Dia akan sodorkan semua yang dia punya. Dia sodorkan semua, itu yang Epafroditus lakukan. Itulah contoh teladan Timotius dan Epafroditus di dalam pelayanan, kita tidak boleh menurunkan standar respons kita di hadapan Allah. Semua itu membuat kita senantiasa menjaga diri, menjaga hati kita, memelihara kita berjalan di dalam kehendakNya yang mulia. Kita tidak boleh kagum dengan kesuksesan dan kemuliaan diri sendiri. Dengan berespons secara tepat dan benar kepada Allah yang sudah terlebih dahulu mengasihi kita, kita akan mengasihi Dia dan hidup kita berlimpah dengan keindahan dan sukacita. Kiranya hati kita sekali lagi dibawa kagum dan hormat kepada Allah yang begitu indah dan ajaib. Allah Pencipta yang berkuasa, yang mengatur, memelihara dan Allah yang tidak pernah bersalah di dalam segala perbuatanNya, yang merencanakan dengan indah mengasihi dan memimpin kita mengenal dan mengasihi Dia lebih dalam lagi.(kz)