08. Rahasia Sukacita Pelayanan

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Filipi (8)
Tema: Rahasia Sukacita Pelayanan
Nats: Filipi 2:12-30

Di dalam realita hidup kita sehari-hari, sering kita merasa ada hal-hal yang unfairness, hal-hal yang tidak adil dan tidak seimbang terjadi membuat kita bereaksi marah, frustrasi, dan kecewa karena kita merasa apa yang kita terima tidak seimbang dengan apa yang sudah kita lakukan bagi orang lain. Kita merasa terlalu banyak menolong dan memberi perhatian kepada orang itu, tetapi justru orang itu tidak menghargai dan terus menuntut sesuatu dari kita, akhirnya membuat kita unhappy. Di rumah mungkin kita merasa sudah terlalu banyak berkorban, tetapi suami dan anak-anak tidak melihat semua itu dan tidak membalas seimbang dengan kasih dan pengorbanan kita. Ada orang di kantor merasa dia sudah terlalu banyak berkorban bekerja tanpa pamrih dan tidak hitung-hitungan, tetapi kenapa boss tidak menghargai dia dan hanya mementingkan keuntungan sendiri, sehingga akhirnya dia menjadi kesal dan kecewa. Bukan saja di dalam hal keluarga dan pekerjaan, di dalam pelayanan juga banyak hamba Tuhan yang menyimpan hurt feeling seperti itu.

Sebagai hamba Tuhan kita tentu harus selalu berprinsip kita melayani bukan dengan tujuan mendapat keuntungan dari orang-orang yang kita layani. Apakah sebagai hamba Tuhan kita mengasihi domba-domba kita dengan motivasi yang jujur, memperhatikan mereka bukan untuk mendapat keuntungan tetapi menggembalakan mereka dengan sungguh-sungguh? Sebagai hamba Tuhan kita tidak boleh memiliki motivasi untuk mendapat sesuatu dari orang bagi diri kita. Namun tidak sedikit hamba Tuhan yang melayani dengan motivasi yang murni sekalipun di dalam lubuk hatinya menyimpan luka dan kepahitan dalam pelayanan karena merasa terlalu banyak berkorban waktu, korban tenaga, korban perhatian, korban perasaan tetapi tidak mendapatkan hal yang setimpal dari orang-orang yang dilayani. Kita harus sedih dan prihatin mengakui betapa sering orang-orang yang melayani dan mencintai jemaat dengan dedikasi hati yang murni dan kasih yang sungguh-sungguh, akhirnya kecewa dan terluka karena orang-orang yang pernah dilayani tidak menyatakan apresiasi dan rasa terima kasih untuk segala kasih dan perhatian yang telah mereka berikan. Banyak hati hamba-hamba Tuhan yang pahit dan merasa semua pengorbanan itu dilupakan begitu saja oleh mereka yang dilayani, yang tidak ingat dan tidak menghargai pelayanan itu.

Paulus melihat fakta realita seperti itu terjadi juga di dalam pelayanannya dan relasinya dengan jemaat Filipi. Dalam Filipi 1:7 Paulus dengan terbuka menyatakan perasaan hatinya terhadap mereka, “…sebab kamu ada di dalam hatiku.” Dalam pengalaman bagaimana terbentuknya jemaat Filipi, bisa kita lihat kedekatan mereka dengan Paulus, gereja Filipi ada setelah Paulus mengabarkan Injil di kota mereka, Paulus ditangkap, dipukuli habis-habisan dan dibelenggu di dalam penjara (Kisah Rasul 16). Paulus memberikan seluruh hatinya dan cintanya kepada mereka, hati dan cinta dari seorang gembala kepada domba-dombanya. Namun bagaimana dengan kasih dan perhatian jemaat Filipi sendiri kepada Paulus?

Kita bandingkan dengan Filipi 2:30 “… untuk memenuhi apa yang masih kurang dari pelayananmu kepadaku.” Ayat ini penting untuk kita pahami dan mengerti baik-baik. Tuhan memimpin Paulus untuk menuliskan kalimat-kalimat ini bukan sebagai curahan hati pribadi, tetapi supaya gereja dan anak-anak Tuhan belajar bagaimana hubungan interaksi antara hamba Tuhan dan jemaat yang sepatutnya. Paulus di sini bukan complained terhadap perlakuan jemaat Filipi terhadapnya tetapi Tuhan memimpin Paulus untuk menuliskan hal ini sebagai fakta realita bahwa sampai saat itu jemaat Filipi “masih kurang” mengasihi dan melayani Paulus sebagaimana Paulus mengasihi dan melayani mereka. Dari Filipi 4:10 kita bisa lebih menduga dan coba mengerti apa yang ada di dalam interaksi jemaat terhadap Paulus, “Aku sangat bersukacita bahwa akhirnya pikiran dan perasaanmu bertumbuh kembali…” berarti ada satu masa atau satu periode pikiran dan perasaan jemaat Filipi terhadap Paulus tidak bertumbuh. Lalu setelah beberapa waktu kemudian kasih dan perhatian mereka muncul kembali sehingga mereka kemudian mengutus Epafroditus datang kepada Paulus sambil menitipkan persembahan uang untuk Paulus, dan Paulus melihat apa yang mereka lakukan itu sebagai ekspresi kasih mereka, setelah lama mereka tidak menyatakan perhatian dan kasih terhadapnya. Kenapa hal itu bisa terjadi? Kita hanya bisa menduga, setelah Paulus pergi meninggalkan Filipi dan pergi melayani ke tempat-tempat lain, datanglah pengkhotbah-pengkhotbah yang mungkin lebih hebat cara berkhotbahnya, lebih berkharisma perkataannya, yang personality-nya luar biasa berpengaruh, menarik begitu banyak pengikut, dan pada saat yang sama mereka menjelek-jelekkan kredibilitas dan mengecilkan pelayanan Paulus, menganggap Paulus tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka, sehingga jemaat Filipi termakan dengan perkataan mereka, hatinya menjadi “drifted away” dan bersikap dingin terhadap Paulus. Sampai setelah beberapa waktu Paulus dipenjara, mereka mulai sadar dan mulai tahu bahwa mereka telah terpengaruh oleh hasutan negatif pengkhotbah-pengkhotbah ini dan akhirnya mereka kembali mengasihi Paulus. Paulus dengan terbuka mengatakan selama ini perhatian dan pelayanan jemaat Filipi terhadap dia masih kurang. Mereka mengabaikan dan tidak mengerjakan bagian mereka mendukung Paulus. Baru sampai di surat ini Paulus mengatakan “Aku sangat bersukacita bahwa akhirnya pikiran dan perasaanmu bertumbuh kembali…” (Filipi 4:10).

Yang menarik adalah di dalam fakta realita ini bagaimana Paulus bereaksi terhadap hal itu tidak dengan kepahitan, kemarahan atau kecewa. Sebaliknya, Paulus memakai hal itu memberikan prinsip yang membimbing kita bagaimana menjadikan pelayanan itu membawa sukacita yang indah, lepas dari sikap dan hal yang bisa kita alami.

Pertama, Filipi 2:12-13 “Kerjakanlah keselamatanmu… karena Allah yang mengerjakan…” Ayat-ayat ini penting karena menyatakan satu fondasi yang mengingatkan kita bagaimana konsep keselamatan ini diterapkan dalam hidup kita. Di dalam Kristus keselamatan kita itu “safe and secure” adanya. Keselamatan kita terjadi bukan karena kita yang bekerja keras, bukan karena upaya dan usaha kita menjadi orang yang baik, bukan karena jasa dan pelayanan kita, tetapi semata-mata karena anugerah Tuhan kita boleh ditebus dan diselamatkan. Tetapi kita harus terus memelihara pengertian hati yang seimbang. Jangan berpikir karena kita sudah diselamatkan karena anugerah, tidak ada kaitannya dengan perbuatan dan kelakuan kita, maka kalau begitu jadi orang Kristen sekali selamat tinggal menikmati berkat Tuhan, tidak perlu pikir bagaimana hidup bersaksi bagi Tuhan dan menjadi terang. Itu adalah sikap yang keliru. Maka Paulus mengingatkan, nyatakan dan buktikan kepada orang luar bahwa keselamatanmu itu sungguh-sungguh ada di dalam hidupmu. Lakukan setiap saat dengan takut dan gentar, bukan seolah-olah keselamatan kita itu bisa hilang dan kita harus berjuang membuktikan dan menyatakan bahwa kita tidak mau menjadi orang Kristen yang main-main tetapi menjalani hidup yang suci, yang saleh, yang bersaksi, supaya orang tahu kita adalah milik Tuhan. Namun Paulus mengingatkan “jangan hanya pada waktu aku ada di tengah-tengahmu,” artinya jangan hanya giat menjadi orang yang suci, saleh dan baik supaya dilihat orang. Waktu Paulus tidak hadir di tengah mereka, tetap buktikan keselamatan itu dengan takut dan gentar.

Di pihak lain, kemudian Paulus memberikan prinsip yang jelas, kalau engkau bisa melakukan hal-hal yang baik, kalau engkau bisa mempunyai hati yang berbeban dan berkorban dalam pelayanan, kalau engkau bisa mengerjakan semua itu dengan indah dan segala buah-buah spiritual bisa keluar dari dirimu, hati kita bisa dijaga dengan ayat-ayat ini, karena Allahlah yang mengerjakan dalam dirimu segala keinginan dan usahamu. Semua yang baik yang keluar dari hidup kita pun itu bukan dari kita dan bukan jasa kita, itu adalah karena kerelaan Allah berkarya di dalam kita. Ketika kita menjadi orang percaya, hidup kita bukan lagi milik kita sendiri. Segala yang ada pada kita, resources, karunia, bakat, talenta, waktu, kesempatan, kekayaan, itu bukan lagi milik kita sepenuhnya sehingga kita boleh mengerjakan dengan indah setiap panggilan Tuhan dalam hidup kita, berkorban dan memberikan apa yang ada pada kita. Hati kita senantiasa harus dijaga oleh konsep anugerah Tuhan. Itulah artinya kita belajar teologi, kita mengisi diri dengan pengertian dan pemahaman akan firman Tuhan, olehnya kita dibimbing dan diarahkan untuk menjalankan hidup kita sehari-hari dalam kebenaran Tuhan. Pengertian dan pemahaman akan firman Tuhan ini membimbing hati kita mempunyai reaksi yang indah berdasarkan kepercayaan kita akan siapa Tuhan, apa artinya keselamatan, apa arti anugerah di dalam hidup kita, siapakah Kristus yang boleh menjadi contoh teladan bagi kita, keselamatan itu adalah pemberian Allah, itu harus nyata di dalam hidup kita. Ini prinsip pelayanan yang Paulus berikan kepada semua anak Tuhan, kita bisa mengerjakan dengan baik, kita bisa melakukan segala sesuatu karena Allahlah yang membuat kemauan dan kemampuan itu ada pada kita. Itulah sebabnya kita bisa melihat kenapa Paulus penuh dengan sukacita.
Kedua, kita bisa melihat reaksi hati Paulus terhadap kasih dan perhatian jemaat Filipi kepadanya dalam Filipi 4:14, “Hal ini ku katakan bukan karena aku kekurangan, aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan…” Paulus tidak bersandar kepada pemberian itu, dia bersandar kepada Tuhan yang mencukupkan. Pada waktu Paulus susah dan kekurangan, dia boleh bersukacita Tuhan jawab dan berikan melalui kehadiran Epafroditus dan persembahan yang jemaat Filipi berikan bisa dia pakai untuk mencukupkan biaya hidup dan pelayanannya, itu membuat hatinya melimpah dengan sukacita. Tetapi Paulus menyatakan prinsip hidupnya ini penting, dalam kekurangan dia belajar mencukupkan diri, dalam kelimpahan dia belajar mencukupkan diri. Dan ada aspek yang lebih penting dari pemberian itu, bukan karena pemberian itu telah menguntungkan Paulus tetapi justru pemberian itu menghasilkan buah-buah yang makin memperbesar keuntungan bagi jemaat yang memberi (Filipi 4:17). Karena janji Allah memelihara dan mencukupkan orang yang generous memberi dan melalui pemberian itu memuliakan Allah (Filipi 4:20)

Pengakuan Iman Westminster bertanya, apakah yang menjadi tujuan Allah menciptakan manusia? Filipi 2:11 dan 13 pada kalimat yang terakhir memberikan jawaban ini, Allah menciptakan manusia supaya manusia itu memuliakan Allah dan menikmati Allah di dalam hidupnya. Itu adalah kepercayaan kita, apa tujuan hidup kita, apa tujuan Allah menyelamatkan kita, untuk dua hal itu, for God’s glory and for God’s pleasure “…bagi kemuliaan Allah, bagi kesukaan Allah.” Allah bekerja dalam hidupmu, memberikan gairah untuk cinta Tuhan, memberikan kebaikan dalam hatimu, pengorbanan yang engkau lakukan, itu bukan jasamu, but for God’s own pleasure. Sehingga di situ kita menikmati sukacita dengan Allah dan di situ kita memuliakan Allah.

Yang kedua, kita perlu senantiasa diingatkan ada contoh konkrit dari Yesus Kristus, Anak Allah yang disembah, dihormati dan ditinggikan oleh semua mahluk di dalam kekekalan, Ia yang adalah Allah yang penuh dengan kemuliaan, Ia turun ke dalam dunia menjadi manusia bahkan menjadi seorang hamba yang terhina. Yesus adalah teladan Allah yang menanggalkan segala kemuliaanNya dan menjadi pelayan melayani engkau dan saya, supaya senantiasa menjadi contoh bagi setiap kita yang melayani. Siapa kita yang boleh bilang itu semua karena saya, sayalah yang punya pelayanan ini, saya yang berhak memiliki semua ini. Kkita tidak boleh punya pikiran seperti ini. Firman Tuhan mengingatkan kita untuk mencontoh Kristus, karena Tuhanmu pun jadi pembantu, jadi pelayan, jadi budak. Bagi jemaat yang tidak pernah melihat Yesus Kristus dengan mata kepala mereka sendiri, mereka tidak bisa membayangkannya seperti apa. Namun Petrus, Yohanes, dan murid-murid yang ada pada malam perjamuan terakhir sangat mengerti akan kalimat ini. Malam itu pada waktu mereka masuk rumah, kaki mereka semua kotor, bau dan berdebu, tidak ada pembantu yang menyiapkan air dan mencuci kaki mereka. Dan tidak ada satu pun dari mereka yang mau melakukan hal seperti itu kepada yang lain. Mungkin tadinya ada hati untuk ambil baskom dan melayani, tetapi mungkin satu dengan yang lain saling lihat-lihatan, merasa orang lain yang harus melakukannya, bukan dia. Akhirnya lihat-lihatan, tunggu-tungguan, tidak ada yang melakukan. Tiba-tiba mereka melihat Tuhan mengambil kain, mengambil baskom air dan mulai berjongkok mencuci kaki murid-murid. Bayangkan betapa sungkan mereka saat itu. Petrus bilang, “Jangan lakukan itu kepadaku, Tuhan.” Tetapi Tuhan Yesus mengatakan, “Kalau Aku tidak mencuci kakimu, engkau tidak mendapat   bagian dalam Aku…” Dan Yesus berpesan, “Aku telah memberikan satu teladan kepadamu supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yohanes 13:15).

Di dunia ini kita adalah pembantu, membantu orang yang berjalan dalam kegelapan untuk melihat terang. Engkau menjenguk orang yang sakit, menemani mereka yang tersendiri, merawat mereka yang terluka, kalau akhirnya dari pelayananmu mereka menjadi percaya Tuhan, itu adalah sukacita yang tidak bisa direbut darimu. Engkau dengan setia menjemput dan mengantar orang ke gereja, kalau akhirnya dari pelayananmu mereka menjadi percaya Tuhan, itu adalah sukacita yang besar. Tidak apa mereka tidak ingat dan tidak menghargai apa yang sudah engkau lakukan buat mereka. Tidak apa kalau kasih dan perhatian mereka tidak seimbang dengan apa yang sudah engkau berikan kepada mereka.

Ada misionari yang meninggalkan tempat tinggalnya yang nyaman untuk pergi ke pedalaman yang terbelakang, ada orang-orang yang memberikan waktu dan kemampuannya untuk melayani. Ada yang tanpa pamrih berkorban memberikan apa yang ada padanya bagi pekerjaan Tuhan. Kalau semua yang telah mereka berikan itu tidak mendapat balasan seimbang dari orang-orang yang dilayani, tidak usah kecewa dan sakit hati. Karena kita memang adalah “the servants of this world.” Dan kita bersukacita karena Tuhan tidak akan pernah lupa semua yang sudah kita lakukan baginya.

Paulus mengingatkan dalam Filipi 2:14 “Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan…” Sungut-sungut mulai terjadi dari dalam, bantah-bantah baru terjadi sesudahnya. Sungut-sungut keluar dari hati yang menyimpan akar pahit. Alkitab dengan spesifik menggunakan kata “akar” bagi kepahitan hati, menunjukkan kepahitan itu tidak kelihatan karena tersembunyi jauh dari permukaannya. Orang yang menyimpan akar pahit masih bisa tersenyum hangat saat bertemu muka, bisa memberi salam dengan sangat akrab, tetapi belum tentu hatinya seperti itu. Akar itu bisa rapi tersembunyi dan tidak kelihatan dari luar. Firman Tuhan mengingatkan kita jangan sampai kita memelihara akar pahit di dalam hati kita, karena dia akan terus tumbuh makin kuat dan menjadi pohon yang besar dan menghasilkan buah-buahnya. Sebelum dia menghasilkan buah sungut-sungut dan perbantahan, akar itu harus dimatikan dahulu. Jangan pernah ada akar pahit dan sebaliknya Paulus ingatkan senantiasa ganti kepahitan dengan sukacita, karena anugerah Allah begitu indah kepada kita.

Paulus memperlihatkan dua orang yang menjadi contoh yang indah dalam hidup pelayanan mereka yaitu Timotius dan Epafroditus (Filipi 2:19-30). Jemaat bisa melihat kasih, pelayanan dan pengorbanan dari Epafroditus yang luar biasa. Dia berangkat menjumpai Paulus pada waktu itu bukan satu keputusan yang mudah untuk diambil dan menghadapi resiko yang luar biasa. Paulus memuji Epafroditus dengan kalimat-kalimat sebutan yang luar biasa, dia saudaraku, teman sekerjaku, teman seperjuanganku, “He is my brother, he is my co-soldier, he is a servant, he is my minister…” Paulus menghimbau jemaat Filipi untuk menyambut dan menghormati orang-orang seperti dia (Filipi 2:29). Waktu Paulus sedang dibelenggu di dalam penjara, sementara perhatian dan kasih jemaat Filipi sudah berkurang, siapa yang berani pergi menjumpai Paulus dan berada di sisinya melayani dia? Epafroditus melakukan hal itu bagi Paulus. Itulah pelayanan Epafroditus, yang bahkan sakit dan nyaris mati (Filipi 2:27,30).
Lihatlah orang-orang di sekitar kita yang menjadi “Christlike examples” di dalam keindahan karakter mereka yang serupa dengan Kristus, di dalam kerendahan hati mencintai dan mengasihi dunia ini dan rela berkorban melayani bagi pekerjaan Tuhan. Di situlah hati kita melimpah dengan sukacita dan syukur. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan. Dengan sukacita kita menyadari kita bisa mengerjakan semua itu semata-mata oleh karena anugerah dan pemberian Tuhan. Itu bukan jasa kita, itu bukan kehebatan kita. Kita bisa memberi lebih banyak, kita akan menerima lebih banyak dari Tuhan (Filipi 4:17).

Kiranya kita boleh menghargai setiap anugerah dan pemberian Tuhan yang indah bagi kita sekalian. Kita senantiasa ingat kita masih terlalu kurang membalas dan memberi apa yang seharusnya dan sepatutnya menjadi sukacita kita membalas pemberian Tuhan yang datang dengan berlimpah dalam hidup kita. Anugerah demi anugerah, berkat demi berkat, senantiasa Tuhan berikan, kita bersyukur. Kita boleh menjadi orang yang percaya Tuhan dan beroleh keselamatan, itu adalah pemberian yang datangnya dari Tuhan Yesus yang memungkinkan kita semua bisa menjadi anak-anakNya. Kiranya kita boleh hidup mengasihi dunia ini sebagai pelayan-pelayan Allah yang memberi dan melakukannya dengan tanpa pamrih. Kiranya Tuhan memberkati hati setiap kita, di dalam setiap keadaan kita boleh bereaksi dengan hati yang berlimpah dengan syukur dan penuh dengan sukacita dan contentment. Jangan biarkan hati kita terisi dengan kepahitan dan sungut-sungut. Kiranya Tuhan menolong kita menyingkirkan semua itu karena pada waktu kita merasa memiliki hak dan menjadikan kita merasa telah memberi lebih banyak dan tidak mendapat yang setimpal, di situ motivasi kita telah salah dan keliru. Tuhan memberkati setiap kita pada hari ini.(kz)