Rahasia Sukacita Hidup

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Kebaktian Thanksgiving 2015
Tema: Rahasia Sukacita Hidup
Nats: Pengkhotbah 11:1-8

Dari tahun ke tahun, jumlah orang melakukan operasi plastik terus bertambah. Alasan paling tinggi: sebab ingin tetap muda, “the cult of youth,” menjadi ilah yang disembah dengan segala usaha dan biaya apapun diberikan. Tujuan akhirnya adalah sukacita dan kebahagiaan tidak boleh berlalu seiring usia bertambah dan makin tua. Usia bertambah berarti kesempatan menikmati sukacita hidup makin berkurang. Inilah mitos hidup yang ditipu oleh the cult of youth. Siapa bilang bahwa usia bertambah dan panjang umur berarti tidak ada lagi the joy of life. Dan siapa bilang bahwa tatkala melewati kegelapan malam dan segala kesulitan hidup, tidak mungkin menerbitkan surya sukacita kehidupan?

Inilah rahasia bijaksana firman Allah yang disampaikan melalui Pengkhotbah dengan kalimat-kalimat yang akan kita renungkan hari ini, yang sungguh-sungguh mengajarkan kepada kita apa artinya the joy of life.

“…jikalau orang panjang umurnya, biarlah ia bersukacita di dalamnya, tetapi ingatlah akan hari-hari yang gelap…” (Pengkhotbah 1:8). Dengan kata lain Pengkhotbah mengatakan kalau Tuhan memberi kita umur panjang, biarlah kita bersukacita di dalamnya, meskipun tidak berarti tidak ada hari-hari yang gelap kita jalani. Tetapi hari-hari yang gelap itu tidak boleh menghilangkan sukacita kita sebab kita tahu melewati hari-hari yang gelap itu satu kali kelak matahari akan muncul dan bersinar menerangi hidup kita.

Firman Tuhan di sini begitu indah, “terang itu menyenangkan,” atau dalam terjemahan Inggrisnya “light is sweet,” terang itu manis adanya. Yang pertama, indahnya terang itu setelah kita melewati kegelapan. Inilah rahasia pertama bagaimana sukacita kehidupan itu senantiasa tetap ada di dalam hidup kita. Sebagai orang Kristen kita harus jadikan hidup kita itu the joy of life. Puji Tuhan jika kita bisa hidup lebih lama dan biar di dalam hidup itu kita bersukacita. Sukacita itu muncul bukan karena hidup kita tidak mengalami kesusahan, tetapi Pengkhotbah ingin mengatakan lihatlah kepada sisi terangnya. Setelah melewati kegelapan, kita akan melihat terang itu. Kita tidak akan menghargai indahnya dan manisnya terang itu sebelum kita mengalami gelapnya malam. Jikalau kita ingin menikmati dan menghargai warna-warni di dunia ini, kita harus mencintai terang. Jangan berjalan di dalam gelap; jangan mengambil langkah-langkah gelap.

Uniknya dari ayat-ayat ini, jikalau engkau mendapat umur panjang, nikmati sukacita di dalamnya. Terbalik dengan kebiasaan kita. Umumnya orang makin tua makin sering complain. Kenapa? Karena kita tidak menghargai apa yang masih bisa kita nikmati. Yang kedua, karena kita cenderung hanya melihat sisi gelapnya. Firman Tuhan hari ini memanggil kita melihat keindahan dan sukacita, menikmati manisnya terang setelah melewati malam yang gelap.
“Lemparkanlah rotimu ke air maka engkau akan mendapatkannya lama setelah itu…” (Pengkhotbah 11:1). Yang kedua, jangan pernah menjadi orang yang tidak menjadi berkat bagi orang lain. Apa artinya ‘lemparkanlah rotimu ke air’? Bisa ditafsirkan itu berarti hidup yang selalu generous. Ada yang lain menafsirkan kalimat itu berarti satu investasi yang dilakukan dengan tujuan mendapatkannya kembali. Mari kita bayangkan di depan kita ada air sungai mengalir. Pada waktu kita melemparkan roti ke air sungai itu, kita tidak akan melihat hasilnya karena dalam sekejap mata roti itu akan hilang dan hanyut dibawa arus air. Dengan sendirinya kita akan menganggap tindakan kita itu sia-sia belaka, bukan? Karena begitu kita lempar, roti itu menghilang. Seringkali hidup kita kehilangan sukacita karena kita pikir apa yang kita kerjakan dan lakukan itu tidak ada hasilnya dan tidak matters bagi Tuhan. Kita kehilangan sukacita karena kita merasa tidak ada untung yang bisa kita raih di balik dari segala yang kita berikan. Firman Tuhan ini mengatakan, melemparkan roti itu tidak akan pernah sia-sia karena kita akan mendapatkannya lagi meskipun lama setelah itu.

Kita menolong orang atau berbuat generous kepada orang tentu bukan didorong oleh motif supaya satu kali kelak orang itu akan menolong kita, bukan? Namun firman Tuhan ini mengatakan hidup yang generous dan kaya di dalam memberi itu tidak akan pernah menjadi hidup yang tidak berarti atau tidak menghasilkan apa-apa. Sukacita hidup itu ada bukan karena kita bisa mengumpulkan banyak, tetapi oleh karena kita menjadi orang yang membawa berkat di dalam kehidupan kita.

“Berikanlah bahagian kepada tujuh bahkan delapan orang karena engkau tidak tahu malapetaka apa yang akan terjadi di atas bumi” (Pengkhotbah 11:2). Yang ketiga, kalimat ‘berikan bagian kepada tujuh bahkan delapan orang’ berarti berikan semaksimal mungkin semampu yang bisa engkau berikan. Firman Tuhan mengingatkan satu kali kelak mungkin kita berada pada posisi yang membutuhkan karena malapetaka menimpa kita. Pada waktu itulah kita bisa bersyukur dan menyadari orang yang pernah kita bantu belasan atau puluhan tahun yang lalu masih ingat dan ambil kesempatan menjadi berkat membalaskan kebaikan yang pernah kita lakukan baginya. Tidak selamanya kita berada di dalam keadaan jaya dan berkecukupan. Namun saat Tuhan memberikan semua kelimpahan di dalam hidup kita, senantiasa buka mata kita lebar-lebar dan lapangkan hati kita seluas-luasnya untuk berbagi kepada orang-orang yang dalam keadaan sangat membutuhkan bantuan. Itulah panggilan Tuhan kepada setiap kita pada saat-saat seperti itu. Ada saat-saat di dalam hidup kita bisa kehilangan segala sesuatu yang kita miliki dan giliran kita berada dalam posisi yang membutuhkan, di saat itulah kita bersyukur dan bersukacita karena roti yang hanyut dibawa air itu tidak terbuang sia-sia, karena ada orang-orang yang pernah mendapat pertolongan kita sekarang ambil giliran mengulurkan tangannya memberikan bantuan.

Namun sebaliknya, jangan pernah punya sikap dan motif menolong orang susah dengan membantunya roti lalu menunggu kapan dia membalas kembali. Hidup kita akan stress dan pahit kalau punya motif seperti itu setiap kali berbuat baik kepada orang yang membutuhkan. Maka kita harus senantiasa mengingat makna dari ayat ini, yaitu kita tidak pernah tahu setelah waktu yang panjang berlalu kebaikan kita menghasilkan efek yang begitu indah bagi hidup orang itu, itulah yang menjadi sukacita kita.

“Bila awan-awan sarat mengandung hujan, maka hujan itu dicurahkannya ke atas bumi; dan bila pohon tumbang ke selatan atau ke utara, di tempat pohon itu jatuh, di situ ia tinggal tergeletak…” (Pengkhotbah 11:3). Yang keempat, rahasia hidup yang penuh sukacita adalah karena kita tahu kesusahan dan kesulitan datang ke dalam hidup kita tidak akan melampaui kemampuan kita menanggungnya. Kalaupun disaster atau malapetaka itu akhirnya terjadi, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa hal itu bukan menjadi sesuatu yang sebesar-besarnya dan membuat hidup kita menjadi devastated atau hancur tanpa ada pengharapan.  Itulah arti dari kalimat “bila pohon tumbang ke selatan atau ke utara, di tempat pohon itu jatuh, di situ ia tinggal tergeletak.” Malapetaka dan kesulitan itu mempunyai keterbatasannya. Kita tidak akan kehilangan pengharapan dan sukacita kita karena kita tahu Allah yang tidak terbatas akan menjadi tempat pertolongan dan persandaran kita selama-lamanya. Allah yang setia akan melindungi dan memelihara kita di dalam menghadapi kesulitan dan tragedi yang datang menimpa.

“Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur, dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai…” (Pengkhotbah 11:4). Sukacita hidup kita bisa hilang kalau kita terus menyimpan kepahitan masa lalu. Sukacita kita bisa berganti dengan kecemasan kalau kita senantiasa berspekulasi tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Kita menghitung-hitung banyak hal kita tidak akan bisa beli dengan kondisi dan kemampuan keuangan kita saat ini. Karena banyak uncertainty di masa depan, akhirnya apa? Seringkali karena spekulasi terhadap uncertainty, hidup kita menjadi lumpuh adanya. Orang yang terus tunggu kapan hujan akan turun, akhirnya tidak pernah menabur. Karena tidak tidak pernah menabur, saatnya musim menuai dia hanya gigit jari. Melihat cuaca tidak bagus, akhirnya tidak mau melakukan dan mengusahakan sesuatu. Uncertainty terhadap masa depan membuat orang itu menjadi lumpuh dan tidak melakukan apa-apa. Akhirnya hidupnya selalu diliputi oleh kecemasan dan membuatnya kehilangan sukacita hidup. Sikap yang seharusnya kita miliki sebagai orang yang percaya Tuhan, melihat cuaca seperti apa, melihat ke depan seperti apa, tugas kita hanya memprediksi dan mengantisipasi. Melihat awan mendung kita memprediksi hari akan hujan sehingga kita bersiap membawa payung dan memakai jaket yang lebih tebal. Kita tidak bisa mengontrol cuaca itu, kita tidak bisa mengontrol hari tidak akan hujan, kita tidak bisa menduga kapan hal itu akan terjadi. Hujan itu bisa datang lebih cepat dari perkiraan, hujan itu bisa datang secara mendadak, hujan itu bisa turun lebih lebat daripada yang kita duga, atau bisa jadi hujan ternyata tidak turun hari itu. Itu semua adalah di luar dari kontrol kita. Tetapi kita bersyukur kepada Tuhan, ada aspek-aspek yang di luar kontrol kita namun ada hal-hal yang pasti di dalam bijaksana Allah yang ada di alam ini setidaknya memberi kita kepastian. Matahari akan selalu terbit di timur dan terbenam di barat; bulan Juni, Juli dan Agustus adalah periode musim dingin; kita bisa mempersiapkan diri. Tetapi apakah kita akan melewati musim dingin yang mild, atau musim dingin yang berat, kita tidak bisa memastikan. Ada musim-musim yang Tuhan tetapkan di dalam alam ini, kita bisa memprediksi, kita bisa mempersiapkan diri, kita tetap bekerja, kita tetap menabur. Jangan sampai kita kehilangan sukacita. Firman Tuhan senantiasa mengingatkan kita, tetap bekerja dengan rajin, tetap menabur benihmu pagi-pagi. Memang bisa jadi ada benih yang akhirnya tidak tumbuh, tetapi ada yang akhirnya tumbuh dengan subur. Tumbuh atau tidak tumbuh, pokoknya kita harus menabur.
“Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik” (Pengkhotbah 11:6). Inilah panggilan Tuhan kepada kita hari ini. Jangan sampai kehilangan fokus mengerjakan hal-hal yang baik di dalam hidup ini. Selama tangan kita bekerja dengan rajin, kita membuka kemungkinan dan posibilitas apa yang kita kerjakan bisa membawa hasil yang baik.

Apa bedanya kita yang percaya Tuhan berjalan dengan iman, tidak tahu apa yang akan kita hadapi di depan, dengan orang lain yang tidak percaya Tuhan? Bedanya adalah kita punya Tuhan yang bisa mengontrol dan mengatur outcome dari apa yang kita kerjakan dan lakukan. Kita percaya apa yang Ia kerjakan di dalam misteri kegelapan malam hidup kita pasti akan membuat kita takjub meskipun kita tidak dapat memahaminya dengan akal pikiran kita. Pengkhotbah 11:5 mengatakan, “Sebagaimana engkau tidak mengetahui jalan angin dan tulang-tulang dalam rahim seorang perempuan yang mengandung, demikian juga engkau tidak mengetahui pekerjaan Allah yang melakukan segala sesuatu.” Ayat ini membandingkan karya Allah di dalam kegelapan hidup kita bisa menjadikannya indah seperti Tuhan mengerjakan keindahan bayi di dalam rahim seorang ibu. Kita tidak bisa melihat apa yang Allah lakukan pada sesosok janin di dalam kandungan. Kita hanya bisa takjub dan kagum betapa Tuhan menjadikan seorang manusia yang memiliki tubuh dan jiwa di dalam kegelapan rahim itu. Bahkan setelah ada USG sekalipun kita masih takjub dan kagum akan karya Allah itu. Ayat ini memberi kita janji yang indah, saat ini kita mungkin hidup kita ada di dalam kegelapan dan ketidak-pastian, kita tidak tahu apa yang ada di dalamnya, namun seperti Allah membentuk tulang, daging dan jiwa di dalam kandungan, demikianlah Allah menjadikan sesuatu dari yang kita tidak tahu dan yang kita tidak bisa kontrol. Itulah sukacita dan pengharapan hidup kita. Itulah sebabnya engkau dan saya bisa berkata, “Light is sweet.” Mungkin hari ini sampai beberapa bulan ke depan kita bisa mengalami hidup yang berat dan sulit, hari-hari yang gelap dan keadaan yang tidak menentu atau bahkan ada binatang buas yang menghadang kita. Firman Tuhan kiranya menguatkan langkah-langkah kita berjalan di dalam kegelapan itu. Sebagaimana Allah memelihara bayi di dalam kegelapan rahim ibunya, saat bayi itu keluar betapa sukacita dan kebahagiaan orang tua yang akhirnya melihat dengan mata kepala sendiri betapa luar biasa karya dan perbuatan Allah kepadanya. Itulah sukacita kita berjalan ikut Tuhan. Sesuatu yang indah dan menakjubkan Tuhan lakukan di dalam kegelapan hidup kita. Kiranya kita senantiasa hidup tidak kehilangan sukacita itu dan senantiasa dipenuhi oleh pengharapan di dalam Tuhan.

“Terang itu menyenangkan dan melihat matahari itu baik bagi mata…” (Pengkhotbah 11:7). Hari ini kita ingin bersukacita di dalam hidup kita, oleh karena di dalam perjalanan hidup kita, baik yang manis maupun pahit, kita menyaksikan keindahan Tuhan berkarya di dalamnya memelihara kita. Terlalu banyak hal yang indah dan ajaib Tuhan telah kerjakan di dalam hidup kita di masa yang lampau. Jangan kiranya kekuatiran dan kegelisahan memenuhi hati kita menghadapi ketidak-pastian hari ini dan di hari-hari ke depan. Jangan menjadi pesimis dan kehilangan pengharapan serta merasa usaha kita akan sia-sia dan tidak mungkin menghasilkan apa yang kita harapkan. Jangan sampai kita menjadi malas mengerjakan sesuatu yang seolah tidak menjanjikan hasil yang kita inginkan. Karena kalau kita tidak mau berusaha melakukan apa-apa, yang pasti terjadi adalah kita tidak akan memperoleh hasil apa-apa. Kiranya Tuhan menolong setiap kita, karena apa yang kita kerjakan di dalam Tuhan tidak akan pernah pulang dengan sia-sia. Dan apa yang kita bawa di dalam doa kita kepada Tuhan, kiranya Tuhan akan berkati. Kita terima dan pegang janji Tuhan itu bagi hidup kita hari ini, kita terima dan pegang hingga tahun-tahun yang akan datang, kita terima dan pegang bahkan pada saat kita berjumpa dengan Tuhan.(kz)