07. Memelihara Hati yang Bersukacita

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Filipi (7)
Tema: Memelihara Hati yang Bersukacita
Nats: Filipi 2:5-18

Barang atau hal apa yang kita miliki, yang susah kita dapatkan, tetapi begitu mudah hilang dari hidup kita? Jawabannya adalah sukacita. Sukacita susah sekali kita dapat, tetapi begitu mudah dia hilang dan lenyap dalam sekejap mata. Di pagi hari kita mungkin bangun penuh dengan sukacita. Kita mencoba memulai hari yang baru dengan sukacita, tetapi sukacita mulai berkurang saat anak bangun dengan muka cemberut, dibuatkan sarapan bilang, “bosan ah, ini lagi ini lagi…” akhirnya kita mulai kehilangan sukacita itu. Belum lagi ditambah dengan kemacetan jalan, mobil yang sembarangan menyalip kita, orang-orang di kantor yang reseh. Habislah sukacita kita.

Apa lagi yang harus Allah kerjakan, apa lagi yang harus Allah lakukan, apa lagi yang Allah perlu tambahkan supaya kita boleh hidup dengan sukacita? Kita berpikir, kalau Tuhan kasih ini dan itu, kalau Tuhan tambahkan ini dan itu, kalau hidup saya cukup dan berlimpah, kalau apa yang saya punya lebih daripada yang sekarang ini, baru sukacitaku penuh. Karena saya masih kurang ini dan itu, itulah sebabnya saya sulit bersukacita. Apalagi waktu melihat orang lain mendapatkan lebih daripada yang kita punya, sukacita yang ada di hati kita betapa mudah hilang lenyap dan sirna diganti dengan iri hati, gerutu dan sungut-sungut.

Filipi 2:1-18 merupakan perikop yang sangat indah, dimulai dengan kata “sukacita” dan ditutup dengan kata “sukacita” yang berulang-ulang Paulus ucapkan. Saya percaya, ini adalah sukacita yang berbeda dengan definisi sukacita kita yang mudah dipengaruhi oleh situasi dan keadaan di sekitar kita. Sukacita yang Paulus terus sebutkan dalam surat ini, “rejoice in the Lord,” kiranya sukacita seperti ini memenuhi hati kita sama-sama pada hari ini.

Paulus mengatakan, “…sempurnakanlah sukacitaku…” (Filipi 2:2a) dengan memanggil jemaat Filipi untuk sehati sepikir dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan. Ini memberi indikasi ada problem di antara jemaat. Sebuah komunitas gereja dengan perbedaan ras, perbedaan status sosial, berbagai perbedaan multikultural yang seharusnya di-celebrate menjadi kekuatan yang membuat mereka bersatu di dalamnya, tetapi justru menjadi benih perpecahan dan disunity di antara mereka. Maka Paulus menggugah mereka, biar sukacitaku penuh dengan engkau sehati sepikir sejiwa di dalam Tuhan.

Minggu lalu saya mengangkat hal ini: kapankah sesuatu yang berlebihan menjadi hal yang tidak baik di dalam hidup kita? Kapankah hal-hal yang terlalu banyak kita miliki justru menjadi hal-hal yang tidak menyehatkan hidup rohani kita? Dari konteks jemaat Filipi, mereka berkelebihan dalam banyak hal. Gereja ini dimulai dengan sebagian di antara mereka adalah orang-orang yang kaya. Mereka kaya berlimpah dengan harta, mereka memiliki segala sesuatu. Namun apakah semua itu bisa menambah sukacita mereka? Jawabannya, belum tentu. Yang terjadi di dalam jemaat ini justru menambah kesombongan mereka. Maka Paulus menegur mereka, jangan mengejar pujian yang sia-sia, vain glory. Jangan itu yang menjadi tujuan hidupmu melayani Tuhan.

Mari kita bayangkan saat surat ini dibacakan di antara mereka, ada orang-orang yang super kaya di situ, yang sok dan sombong mau dilayani, tidak mau sentuh sesuatu yang sepele dan kecil dan menjadikan semua yang lain hina. Tidak ada lagi contoh yang lebih indah dan lebih sempurna diberikan kepada orang-orang seperti ini selain daripada contoh Tuhan kita Yesus Kristus. Kita patut malu dan tertunduk saat kita melihat Yesus Kristus di atas kayu salib, yang menanggalkan segala keagungan dan kemuliaanNya, tidak menganggapnya sebagai milik yang harus dipertahankan. Yesus Kristus, Anak Allah, turun menjadi manusia dan bahkan menjadi seorang hamba. Itu menjadi contoh dan teladan yang Paulus berikan kepada jemaat ini.

Yesus adalah “morphe” Allah, Ia adalah Allah pada diriNya sendiri, itu statusNya, itu milikNya dari kekal sampai kekal. Ia tidak dijadikan Allah menjadi Allah, Ia adalah Allah sendiri. Secara teologis perlu kita mengerti kalimat “namun tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri…” tidak berarti kemudian Yesus tidak lagi menjadi Allah dan melepaskan status keAllahanNya saat Ia berinkarnasi ke dalam dunia. Ia tetap 100% Allah, kekal selamanya. Yang ingin Paulus tegaskan di sini adalah status yang Yesus miliki adalah status Allah sejati, yang patut dihargai dan dihormati, namun Yesus tidak menganggap itu sebagai sesuatu yang Ia pertahankan. Dari kalimat itu secara tidak langsung Paulus mengontraskannya dengan jemaat Filipi yang sombong dengan kekayaannya, congkak dengan kehormatannya, dan mau dihormati dan dilayani, padahal itu semua cuma “schema” atribut yang bisa hilang dan tidak permanen selama-lamanya ada pada kita. Kita sombong dengan kehormatan kita, kita congkak di dalam kekayaan dan kesuksesan kita, kita bangga dengan kesehatan dan kekuatan kita, kita marwah dengan dignitas, ketampanan dan kecantikan kita. Padahal apa yang kita miliki sekarang adalah sesuatu yang dengan mudah hilang dalam sekejap mata. Kita bisa bangkrut, kita bisa gagal, kita bisa sakit dan lemah, kita bisa kehilangan dignitas dan harga diri dan dihina orang. Semua itu mungkin bisa membuat kita kehilangan sukacita.

Kita manusia biasa, kita menangis pada waktu sakit-penyakit datang menggerogoti kesehatan kita, kita menangis pada waktu penderitaan datang kepada kita, kita menangis pada waktu kesulitan dan kemiskinan datang ke dalam hidup kita. Tetapi puji Tuhan, pada waktu Yesus datang ke dalam dunia, Ia memberikan ‘foretaste’ yang indah, yang tertawan dibebaskan, yang buta dicelikkan, yang lumpuh berjalan, yang tertindas dibebaskan (Lukas 4:18-19). Satu kali kelak pada waktu Kristus datang kembali di dalam kemuliaanNya, firman Tuhan mengingatkan kita hal-hal yang sebenarnya ada di dalam hidup kita sekarang, segala kesedihan, penderitaan dan air mata yang sanggup mungkin bisa menghilangkan sukacita kita, itu tidak akan permanen selama-lamanya tinggal di dalam hidup kita. Orang yang berpuluh-puluh tahun terbaring sakit, jangan anggap itu akan permanen selama-lamanya ada padamu. Anak yang lahir cacat tidak akan permanen selama-lamanya mengalami hal itu. Sekarang ini air mata kita mengalir sedih melihat dan mengalami penderitaan selama di dunia ini, tetapi jangan sampai semua itu menghilangkan sukacita kita karena kita tahu keadaan itu tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam hidup kita. Jangan menjadi kecewa dan putus asa. Pada waktu Kristus datang kembali, segala air mata akan dihapuskan, segala sakit-penyakit akan disembuhkan, segala penderitaan akan diganti dengan tawa sukacita. Segala sesuatu dijadikan baru olehNya, bahkan setiap kita akan memperoleh tubuh kebangkitan yang mulia, dan musuh kita yang terbesar yaitu kematian tidak akan ada lagi.

Selanjutnya Paulus berkata, “…Ia yang walaupun dalam rupa Allah… mengambil rupa seorang hamba…” (Filipi 2:6-7). Di sini Paulus menggunakan kata yang sama, “morphe” yang Alkitab bahasa Indonesia menerjemahkannya dengan kata ‘rupa.’ Yesus morphe Allah, Ia Allah yang sejati, mulia dan agung, kekal selama-lamanya. Ia Allah yang patut dimuliakan, namun Ia tidak menganggapnya sebagai kemuliaan yang patut dipertahankan. Ia datang ke dalam dunia, mengambil morphe manusia, menjadi sama dengan kita. Yesus morphe manusia, 100% real menjadi manusia sejati. Berbeda dengan reality tv show “Undercover Boss” yang menyamar menjadi karyawan, setelah show selesai, dia kembali kepada posisi boss., meskipun telah menyelesaikan karya penebusanNya mati disalib, Yesus bangkit mengenakan tubuh kebangkitan, sebagai buah sulung kebangkitan Ia tidak menanggalkan kemanusiaanNya dan sampai hari ini Ia tetap 100% manusia. Kita tidak boleh lupa apa artinya inkarnasi waktu Ia menjadi manusia. Allah yang tidak terbatas dan maha kuasa itu mengambil natur kemanusiaan yang terbatas. Tidak ada pride yang dipertahankan.

Itulah sebabnya Filipi 2:9 mengapa keluar kalimat ini, tidak ada yang lain selain Yesus Kristus yang layak menerima segala kemuliaan, dimana semua lutut akan tersungkur bertelut menyembah dan semua lidah bibir akan memuji dan memuliakan Dia . Tidak ada korban yang lebih ultimate selain daripada pengorbanan Yesus Kristus; tidak ada sacrifice yang lebih besar daripada sacrifice yang dilakukan Yesus Kristus; tidak ada pelayanan yang lebih agung daripada pelayanan Yesus Kristus, Anak Domba Allah yang telah tersembelih itu. Itulah yang harus kita ingat dan menjadi contoh bagi hidup dan pelayanan setiap kita. Dengan demikian kenapa kita bisa lihat, Paulus bilang, biar kiranya sukacitaku penuh. Sukacita yang tidak boleh dilandaskan kepada hal-hal yang bisa hilang dan bisa berubah.

Yang terakhir Paulus mengatakan, “…bagi kemuliaan Allah, Bapa” (Filipi 2:11b). Yesus Kristus berhak menerima segala kemuliaan yang diberikan oleh Allah Bapa karena Ia telah menyelesaikan karya keselamatan itu bagi kita. Tetapi kemuliaan itu bukan menjadi kemuliaan kepada Kristus menjadi tujuan terakhirnya. Yesus menjadi Juruselamat yang senantiasa mengalihkan the glory kembali kepada Allah Bapa.

Bagian firman Tuhan Filipi 2:12-18 ini diberikan kepada jemaat Filipi pada waktu itu dan kepada kita yang hidup di masa ini, membawa kita kembali kepada fokus dan perspektif ini dalam kita melayani Tuhan, apa yang paling penting di atas semuanya? Jikalau fokus dan perspektif kita mengikut Tuhan dan terlibat dalam pelayanan semata-mata bagi kepentingan diri sendiri dan hanya untuk mengejar puji-pujian dan penghargaan manusia, mudah kita jatuh ke dalam kesombongan, arogansi dan saling melukai satu dengan yang lain. Kita harus membawa hati kita dan menaruh fokus dan perspektif kita kepada Allah. Karena kemurahan dan belas kasihanNya kita beroleh keselamatan; karena kemauan, kesungguhan dan komitmen dalam hati kita untuk melayani datang dari Allah sendiri yang karena kerelaanNya mau memakai kita. Filipi 2:13 dalam terjemahan yang lebih bebas, “For it is God by His own good pleasure who brings to effect in you both the initial willing and the effective action…” Maka pertama, yang paling matters dalam hidup kita tidak lain dan tidak bukan adalah pada waktu kita mengambil posisi yang rendah melayani, apa pun yang kita kerjakan tidak akan merubah status kita, tidak akan membuat kita lebih rendah atau lebih hina.  Sebaliknya pada waktu kita mendapatkan banyak hal, itu tidak juga akan membuat kita lebih berharga lebih mulia di mata Tuhan. Justru itu harus membuat kita menjadikan Allah itu dimuliakan selama-lamanya di dalam hidup kita.

Yang kedua, melalui contoh teladan Yesus Kristus itu Paulus ingatkan kepada jemaat Filipi what matters adalah bagaimana kita melihat the best interest dari orang lain. Ini adalah panggilan firman Tuhan yang sangat kontras di tengah kultur yang sangat mementingkan diri sendiri. Jangan kita pikirkan kepentingan diri sendiri, lihat dan perlakukan orang lain lebih utama. Dan dalam bagian ini kita menemukan Paulus senantiasa bersyukur bagaimana dia melihat kemajuan dari orang-orang yang lain. Melihat mereka maju dan bertumbuh, itu yang menjadi sukacita pelayanan seorang hamba Tuhan.

Ketiga, di sini Paulus mengingatkan kepada aspek lain, “Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan…” (Filipi 2:14). Paulus bicara kepada sebagian orang Kristen yang sudah taat kepada Tuhan, yang mengerti kasih karunia dari Tuhan itu adalah hal yang ajaib dan luar biasa. Yang kemudian pulang bersukacita, hidup bersaksi bagi Tuhan, melakukan segala sesuatu dengan taat, mengerjakannya dengan indah. Tetapi mungkin sampai kepada satu titik berkata “untuk apa semua ini?” Jadi, yang satu sombong, lipat tangan tidak melakukan apa-apa, yang satu lagi kerja keras dan setengah mati melayani, pakai bahasa kita sekarang banting tulang berkorban, lalu sampai pada satu titik merasa kecewa dan marah, ‘aku sudah kasih yang banyak, melakukan segala sesuatu berjerih payah’ lalu mulai bersungut-sungut.

Kepada orang-orang Kristen seperti ini Paulus mengingatkan kita kerjakan gentar dan takut dan melalui hidup kesaksian kita, tidak ada hal yang rugi. Mari hidup benar, hidup suci, berjerih payah bagi Tuhan di dalam pelayanan bukanlah sesuatu jasa dan korban yang kita keluarkan; bukanlah sesuatu yang merugikan kita. Ini penting sekali. Sekali lagi Paulus ingatkan what matters pada akhirnya, engkau senantiasa boleh menjadi terang cahaya bagi dunia. Kita tidak boleh kehilangan perspektif ini di dalam hidup pelayanan kita. Apa yang kita kerjakan dan lakukan sebagai orang Kristen, kita mau memuliakan Allah kita. Yang kedua, apa yang bisa kita berikan, kerjakan, lakukan, tidak pernah berakhir kepada diri kita, selain kita bisa melihat orang lain bertumbuh dan maju, puji Tuhan. Yang ketiga, firman Tuhan di bagian ini Paulus mengatakan apa yang mereka kerjakan dan lakukan itu menjadi hal yang indah pada waktu mereka tahu itu semua kerja keras itu tidak akan pernah percuma, nanti pada waktu kita berjumpa dengan Tuhan Yesus Kristus pada waktu Ia datang kembali, semua tidak pernah sia-sia adanya. Kita akan senantiasa menjadi terang yang bercahaya. Apa yang menjaga dan memelihara kita di situ? Bagian firman Tuhan ini memberikan kita beberapa prinsip ini. Pertama, kita mengerjakan dengan taat keselamatan kita, itu menjadikan kita orang Kristen yang aktif. Contoh orang Kristen itu sejati milik Tuhan yang sudah ditebus adalah terbukti dari hidupnya yang setia dan taat, kelakuannya mengalami perubahan. Tetapi itu bukan hal yang kita bangga-banggakan, karena di ayat 13 Paulus mengingatkan Allahlah yang mengerjakan kemauan dan pekerjaan itu, semua kemauan kita, keinginan kita. Yang kedua, dia ingin bandingkan kenapa memakai kata ‘bersungut-sungut dan berbantah-bantahan’ karena Paulus ingin memperbandingkannya dengan bangsa Israel di padang gurun. Kenapa Paulus pakai kata itu? Paulus mengatakan, semua yang kita kerjakan itu adalah kasih karunia dan kerelaan Tuhan. Orang Israel tidak ada habis-habisnya dipelihara Tuhan, dengan manna, dengan burung puyuh, dilindungi dengan awan di tengah hari yang terik sehingga tidak kepanasan, di malam hari mereka tidak kedinginan karena ada tiang api yang menjadi api unggun yang menerangi dan menghangatkan mereka. Alkitab mencatat, mereka berjalan 40 tahun, pakaian dan kasut mereka tidak lapuk dan rusak adanya. Namun peristiwa perjalanan bangsa Israel sejak keluar dari tanah Mesir tidak pernah lepas dari reaksi hati yang tidak pernah bersukacita dan bersyukur kepada Tuhan. Yang keluar selalu sungut-sungut dan berbantah-bantah.

Kenapa sukacita kita hilang? Karena kita kurang? Jawabannya, belum tentu. Yang terjadi kepada bangsa ini, diberi banyak, diberi banyak, diberi banyak, akhirnya jadi sombong. Yang satu lagi, kerja banyak, beri banyak, korban banyak, akhirnya bersungut-sungut. Paulus ingin mengingatkan jangan sampai sukacita kita melayani Tuhan menjadi hilang dan sirna. Jangan pikir orang kalau dikasih, diberi sampai puas dan banyak, akan puas dan bersukacita. Kita lihat kontrasnya terbalik dengan bangsa Israel. Dikasih, dijaga, dipelihara, yang terjadi adalah bersungut-sungut. Dua reaksi itu bisa terjadi.

Filipi 2:17-18 mengapa Paulus mengatakan kalimat ini? “Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian. Dan kamu juga harus bersukacita demikian dan bersukacitalah dengan aku…” Ada 4 kali kata sukacita itu diucapkan Paulus.

Bagian ini menjadi penutup bagi perenungan kita, hal yang begitu sulit datang kepadamu, tetapi begitu cepat dan mudah sirna dari hidupmu, yaitu the joy in the Lord. Engkau mau joy, kenapa tidak bisa? Engkau bilang tidak ada cukup hal yang bisa membuatku bersukacita. Tidak. Bagian ini mengingatkan kita tidak soal kita punya banyak atau sedikit, berlimpah atau kurang, karena ini adalah masalah hati. Menyadari semua adalah pemberian dan blessing dari Tuhan akan mebuat hati kita bersyukur. Tetapi blessing yang berlimpah itu tidak menghasilkan balasan hati yang penuh gratitude, yang terjadi adalah sebagian menjadi sombong dengan apa yang dia miliki, sebagian lagi bersungut-sungut dengan apa yang dia kerjakan. Rasa telah berkorban terlalu banyak.

Paulus mengatakan kalau sampai darahku juga harus dicurahkan bagi ministry, bagi Tuhan dan bagimu, aku tetap bersukacita. Kenapa sampai air mata keluar karena pelayanan, kita sudah kehilangan sukacita? Kenapa harga diri terluka di dalam pelayanan, kita sudah kehilangan sukacita dan bersungut-sungut? Mengapa karena memberi waktu yang sedikit lebih banyak, kita sudah merasa cape lelah dan bersungut-sungut? Mengapa mengeluarkan uang resources lebih banyak, kita sudah marah-marah, bersungut-sungut dan tidak rela melihat orang lain kurang berkorban daripada kita? Paulus bilang kepada orang-orang seperti itu, kalau darahku pun harus dicurahkan untuk pelayanan, aku tetap bersukacita. Engkau bebas, aku dipenjara. You punya rumah yang hangat, aku kedinginan di malam hari. Tetapi aku punya sukacita di dalam Tuhan, kenapa kamu tidak punya? So come on, be glad and rejoice with me!

Biar firman Tuhan ini membongkar hati kita yang terdalam, sehingga menjadikan hati kita bisa berlimpah dengan sukacita karena kasih karunia dan berkat Tuhan itu indah bagi kita. Kita bersyukur Tuhan Yesus Kristus senantiasa menjadi contoh teladan yang indah bagi kita. Jangan kita ingin menggenggam terus-menerus hal yang bisa hilang dari hidup kita. Biar hati kita melompat dengan syukur, karena bisa kita mendapatkan sukacita di dalam Dia. Biar sukacita itu menjadi buah yang indah dan bukti yang nyata dari keselamatan Tuhan ada di dalam diri kita. Kiranya hidup kita boleh menjadi terang yang bercahaya dan buah yang manis dinikmati oleh orang lain karena sukacita itu mengalir keluar dari diri kita.(kz)