06. Do Not Pursue a Vain Glory

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Filipi (6)
Tema: Do Not Pursue a Vain Glory
Nats: Filipi 2:5-11

Sampai pada titik kapankah dan saatnya segala sesuatu yang berkelebihan itu menjadi tidak baik, menjadi tidak indah dan menjadi tidak sehat lagi di dalam hidup kita? Kita tidak ingin hidup berkekurangan dan kalau bisa kita akan berusaha dan bekerja sekuatnya untuk mencukupkan kebutuhan kita. Dan harus kita akui kita tidak bisa lakukan apa-apa jikalau banyak hal memang kurang. Pelayanan gereja juga akan mengalami kesulitan dan keterbatasan kalau kita kurang resources, kurang banyak hal, kurang orang, kurang dana, kurang apa saja.

Kita minta Tuhan memberi kitakecukupan, pada waktu kita mendapat kecukupan, kita kemudian merasa tidak puas, kita ingin berkelebihan. Kita terus minta dan minta lagi, masih kurang ini dan itu. Kita juga minta Tuhan memberkati gereja kita dengan limpah karena kita pikir banyak hal yang bisa dikerjakan oleh sebuah gereja jikalau semua orang yang berbakti di gereja itu kaya berlimpah dengan kekayaan. Ada orang bilang, enaknya kalau semua yang duduk di pengurus itu konglomerat, beli gedung gereja tinggal perlu anggukan kepala, langsung lunas. Kita kepinginyang datang ke gereja semuanya orang berbakat dan talented, semua bisa main piano, semua bisa jadi liturgis, semua bisa jadi guru sekolah minggu, sehingga mau bikin program apa saja tidak ada masalah.

Namun kita harus angkat pertanyaan penting ini:sampai pada titik kapankah pada saat semuanya limpah, semua punya, semua ada, dan tidak kekurangan apa-apa tetapi akhirnya menjadikan hidup komunitas itu tidak indah dan mengandung bahaya terjadinya kerusakan dan kebobrokan dan menjadi sumber keributan, sengketa dan pertengkaran yang tidak habis-habis di dalamnya? Kalau sudah seperti itu, pada saat itulah baru kita bilang, kalau begitu lebih baik kita miskin saja. Karena waktu miskin tidak ribut. Begitu sudah cukup dan berlebih, jadi ribut.

Paulus bicara di surat 2 Korintus 8:1-5 tentang jemaat Makedonia,jelas ada kesan jemaat Makedonia itu mayoritas lebih kurang dan lebih miskin daripada Korintus. Namun, saya lebih menduga gereja Filipi sendiri yang berada di wilayah Makedonia itu tidak kekurangan apa-apa.Karena kalau kita baca mulainya gereja Filipi, secara spesifik kita melihat gereja Filipi berdiri karena ada salah satu orang yang percaya Tuhan yaitu Lidia, seorang wanita yang kaya dan terpandang di masyarakat (Kisah Rasul 16:13-15). Kalau kita cari info tambahan di internet, kita mungkin baru mengerti kira-kira berapa kayanya Lidia, yang Alkitab katakan “seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira” (Kisah Rasul 16:14). Kain ungu pada jaman itu adalah kain yang sangat mahal, yang hanya bisa dipakai oleh orang-orang kaya dan kaum bangsawan saja. Warna ungu itu diambil dari bagian dalam keong yang hanya ada di daerah laut Tengah, sehingga harga kain ungu sangat mahal.Lidia bukan pemakai kain ungu, tetapi dia juragan penjual kain ungu.Maka pada waktu Lidia mengajak Paulus ke rumahnya, Paulus menolak. Salah satu aspek penolakannya bagi saya adalah Paulus tidak ingin take advantage dari orang kaya yang bertobat. Bagi dia yang lebih penting dan lebih indah orang itu percaya dan bertobat, bukan kekayaannya. Tetapi Alkitab mencatat Lidia memaksa dan mendesak dan bilang “Jika kamu berpendapat aku sungguh-sungguh percaya Tuhan marilah menumpang di rumahku…” sampai Paulus dan rombongannya menerima undangan itu (Kisah Rasul 16:15).Itulah awal mula berdirinya gereja di Filipi. Saya percaya Lidia yang percaya Tuhan, koneksinya adalah orang-orang yang kaya dan terpandang di Filipi, mereka diundang untuk hadir dan ikut persekutuan di rumahnya. Maka dapat dimengerti meskipun tidak semuanya, tetapi sebagian besar orang-orang Kristen yang ada di gereja Filipi adalah orang-orang terpandang seperti itu.

Maka sampai kepada Filipi 2, khususnya ayat 3-4 kenapa Paulus secara khusus angkat bicara soal “vain glory,” jangan mencari kepentingan sendiri, dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri? Saya menduga, inilah persoalan dan problema yang sedang terjadi di dalam jemaat Filipi.Inilah persoalan dan problema yang dihadapi oleh sebuah gereja yang memiliki berlebih dan berlimpah. Inilah persoalan dan problema yang Paulus dengar sedang dihadapi oleh jemaat Filipi dan sangat menjadi concern Paulus.

Gereja Filipi tidak berkekurangan, bahkan begitu berlimpah dengan orang-orang terpandang dan banyak hartanya. Namun sampai persoalan dan problema ini diangkat oleh Paulus, memberikan indikasi kepada kita orang-orang ini adalah kelompok orang-orang kaya yang banyak hartanya dan terpandang di masyarakat, yang berada di dalam gereja itu mulai ribut dan bertengkar satu dengan yang lain. Masing-masing menjadikan keutamaan dan kehebatan dirinya, kekayaan dan kemampuannya menjadikan mereka tidak bisa akur satu dengan yang lain. Saya percaya di dalam hidup kita sebagai gereja-gereja lokal kita akan menemukan hal-hal seperti ini bisa terjadi dan harap ini menjadi sebuah warning sehingga tidak terjadi.

Yakobus 4:1 berkata, “Darimanakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu?” Darimana datangnya pertengkaran itu?Alkitab berkata dengan tegas, pertengkaran bukan karena orang lain, tetapi karena desire di dalam dirimu, sesuatu yang tidak beres di dalam hatimu. Dimana problem itu muncul? Kita selalu tunjuk yang di luar, padahal itu muncul dari selfish desire, kita mau yang kita mau, kita tidak ingin dipandang gagal dan tidak berhasil, kita ingin image kita baik, di situlah problemanya sehingga kita melakukan sesuatu yang tidak konstruktif kepada orang di sekitar kita.

Paulus di bagian ini mengingatkan mereka, pertama, mari kita sehati sepikir di dalam Tuhan (Filipi 2:2b). Kenapa? Karena musuh-musuh di luar itu terus mendesak, “trampling” menginjak-injak kita seperti binatang yang dalam jumlah besar menyerang kita tidak ada habis-habisnya, mereka akan melakukan serangan kepada kehidupan anak-anak Tuhan (Filipi 1:28). Jangan sampai di dalam sendiri terjadi konflik internal yang akan melemahkan perjuangan iman kita. Mari kita bersatu. Lalu yang kedua, Paulus katakan, “…sempurnakanlah sukacitaku dengan ini…” (Filipi 2:2a). Biar kiranya sukacitaku itu penuh. Paulus berada di penjara, terbelenggu, sudah cukup mengalami penderitaan fisik dan mental, jangan ditambah lagi dengan persoalan kalian ribut ingin berebut pujian yang sia-sia, ingin dihormati, diagungkan dan menganggap yang lain lebih rendah kedengaran di telinganya, menambah kesedihan dan kegalauan baginya.

Inilah yang menjadi panggilan dari firman Tuhan bagi kita hidup bergereja dan berkomunitas dalam Yesus Kristus. Kita harus berhenti, harus stop perasaan menjadi lebih utama, lebih penting dan segala atribut yang kita miliki dipakai menjadi sesuatu yang mendatangkan keributan dan tidak ada keharmonisan di antara orang percaya. Itu semua tidak boleh ada lagi dan itu harus stop. Dan yang paling penting, di sinilah Paulus katakan, bukan lagi soal sukacitaku, bukan lagi soal nanti bagaimana kita menghadapi serangan dari luar kalau kita tidak bersatu, bukan soal itu lagi. Hari ini dia memberikan point yang paling penting dan paling utama, semua harus memandang Tuhan Yesus Kristus.

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri dan menganbil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia…” (Filipi 5-7). Ini adalah satu bagian yang sangat dalam secara teologis bicara mengenai siapa sesungguhnya Tuhan Yesus, tetapi mengandung aspek praktika yang luar biasa indah bagaimana menjadi sesuatu berkat kepada jemaat yang membaca bagian ini. Sampai titik ini, tidak ada penafsir Alkitab, pada waktu sampai di bagian ini,tidak menyatakan kekaguman dan exaltation-nya merenungkan bagian yang begitu indah dan begitu agung mengenai Tuhan kita Yesus Kristus.Bagian ini bukan puisi belaka. Yesus melakukannya dengan real, nyata dan fakta.Dan itu menjadi contoh yang tidak boleh tidak harus menjadi pattern hidup kita.

Kata-kata yang dipakai rasul Paulus di dalam bagian ini dengan sangat teliti dan unik menjadi jawaban kepada problem yang ada, apa dasar dan sebabnya sampai mereka tidak bersatu dan tidak menjadikan satu dengan yang lain lebih utama dan hanya mementingkan diri sendiri. Paulus melalui bagian ini menggugah kita melihat melalui hidup Yesus Kristus, “hendaklah kamu di dalam hidupmu bersama…”  Kita mau menjadi anak Tuhan yang sungguh-sungguh serupa dengan Yesus Kristus atau tidak? Kita mau menjadi gereja dan komunitas yang serupa dengan Tuhan Yesus atau tidak? Itulah yang menjadi titik yang paling penting dari bagian ini.

“…Ia yang walaupun dalam rupa Allah…” kata yang dipakai “morphe” menunjukkan “as it is” memang begitu bentuknya. Yesus Kristus adalah Allah, itulah esensi pada diriNya sendiri. Sangat kontras dengan kita yang pada diri kita dan semua yang kita punya itu bukan “morphe,” kita cuma punya “schema,” atribut. Jadi pada waktu Paulus memakai kata “Dia rupa Allah” Yesus bukan dijadikan Allah. Dalam hal ini kita menentang dan menolak apa yang diajarkan oleh Saksi Yehovah karena mereka menolak keAllahan dari Tuhan kita Yesus Kristus. Kemuliaan Yesus itu “morphe” it is His, Dia punya. Dia tidak dimuliakan Allah sehingga Dia mulia.Itu kemuliaanNya sendiri. Jadi Ia adalah Allah yang betul-betul Allah, bukan serupa saja, Ia adalah Allah Anak yang setara dengan Allah Bapa dan Allah Roh Kudus. Namun Yesus tidak menganggap kesetaraanNya dengan Allah Bapa itu sebagai sesuatu yang Dia pertahankan. Di sini Paulus ingin mengkontraskan itu dengan apa yang sedang ada di dalam diri orang-orang di dalam jemaat itu. Dengan demikian maksud Paulus adalah mereka utama, mereka kaya raya, mereka memiliki segala sesuatu, mereka berbakat, mereka punya talenta, memiliki semua yang ada. Tetapi harus kita ingat dua hal ini: pertama, semua yang kita miliki itu bukan “morphe” bukan as it is ada pada diri kita, pada dasarnya semua yang kita miliki itu dikasih, dianugerahi, diberikan oleh Tuhan. Jikalau Yesus saja yang adalah Allah, yang punya Dia otentik tidak menganggap itu sebagai satu kesetaraan yang patut Dia pertahankan, siapa kita yang ngotot mau mempertahankan keagungan kemuliaan diri padahal itu adalah bukan dasarnya punya kita? Meskipun orang itu prominent di masyarakat, keturunan bangsawan darah biru, itu dikasih, dianugerahi, diberikan oleh Tuhan, bukan “as it is” ada padanya.

Paulus menjadikan Yesus Kristus sebagai teladan yang ultimate bagi setiap orang percaya. Tidak ada lagi yang lain yang lebih dari itu yang bisa kita contoh selain dari Yesus Kristus. Sebagai hamba Tuhan, kita tidak boleh menjadikan diri kita yang paling utama, berusaha membuat orang kagum dengan kehebatan diri kita.Kita harus menjadikan Yesus Kristus yang paling utama di dalam pelayanan kita.

Yang kedua, kata “morphe” berarti sesuatu yang tidak pernah berubah, dahulu, sekarang, selama-lamanya.Yesus adalah Allah, pada diriNya Ia adalah Allah, bukan dijadikan sebagai Allah. Selama-lamanya itu tidak akan berubah. Sebaliknya berarti menjadi satu kontras kepada manusia, apa yang kita punya sekarang bisa berubah, tidak kekal, tidak ada selama-lamanya. Kekayaan bisa hilang dalam sekejap mata. Keindahan, keelokan paras satu saat akan kisut dan layu. Kepandaian, kehebatan bisa hilang.Tidak ada di dunia ini yang kekal selama-lamanya.

Saya rindu kita menjadi orang Kristen bukan hanya memikirkan apa yang ada di dalam hidup komunitas gereja kita saja. Tetapi saya mau kita menjadi orang Kristen yang melihat dengan luas akan pekerjaan Tuhan lebih daripada hanya di dalam persoalan, situasi dan kebutuhan domestik gereja kita. Itu harus menjadi visi dan misi kita. Kita tidak boleh menjadi gereja yang hanya memperhatikan kebutuhan gereja sendiri lalu tidak memperhatikan orang lain. Meskipun gereja kita masih kurang, ada gereja dan pelayanan lain yang lebih kurang daripada kita, perlu ada persembahan dan dana yang kita pikirkan dan sisihkan bagi mereka. Senantiasa punya hati seperti itu.Kenapa?Karena kita mengaku semua yang kita miliki adalah dari Tuhan.Dikasih, dianugerahi, diberikan oleh Dia. Dan semua itu tidak selama-lamanya selalu ada pada kita, suatu hari keadaan bisa berubah. Itu tidak boleh menjadi atribut kebanggaan sehingga kita menganggap diri lebih agung, lebih mulia daripada yang lain. Jangan mengejar “vain glory” kemuliaan yang sia-sia.Jangan mengejar itu karena itu bukan kemuliaan milikmu pada dirinya sendiri. Engkau sekarang mungkin berlimpah dengan harta kekayaan, engkau sekarang mungkin terpandang di dalam masyarakat, you have so much, tetapi jangan sampai takabur dan lupa,it is not your own, tidak datang dengan sendirinya, itu diberi oleh Tuhan. Dan ingat selalu, itu bisa berubah.Bisa berubah.Itu tidak kekal dan ada selama-lamanya.Yang sementara itu tidak boleh dibangga-banggakan.Kita tidak boleh pegang dan jadikan sebagai kebanggaan.

Biar mata kita melihat Tuhan kita Yesus Kristus, yang kaya itu, yang adalah Raja itu, penuh dengan kemuliaan, namun Dia tidak jadikan itu sebagai sesuatu kebanggaan yang Ia pertahankan. Ia datang menjadi seorang manusia, bahkan menjadi hamba yang terhina bagi kita, di situlah kita melihat ‘in the ugliness of the cross, we will see His beauty.’ Dan jangan sampai di balik kemuliaan diri dan penampilan kita tersembunyi‘the ugliness of our selfish life.’Sebab yang kita tampilkan itu hanya sementara, bisa berubah, bisa hilang dari hidup kita, dan memang bukan punya kita. Lihatlah kembali keindahan Tuhan Yesus, bagaimana Ia berkarya, apa yang Ia kerjakan dan lakukan, kita semua harus tunduk merendahkan diri, menangis dan malu karena kita nothing adanya.

Yang ketiga, terjadinya sengketa dan keributan, yang seorang menganggap diri lebih utama daripada yang lain itu adalah tidak lain dan tidak bukan karena jealousy, ingin mengambil dan merebut, yang tidak senang orang lain punya sehingga mau mengambil dan merampasnya. Maka Paulus kontraskan memakai kata “milik yang harus dipertahankan” dalam bahasa Yunani ‘harpagmos,’ bisa diterjemahkan “as something to be snatch at” sebagai “hak yang harus dirampas” di sini, Yesus tidak mau rampas itu.

“melainkan telah mengosongkan diri…” inilah keindahan inkarnasi Anak Allah datang ke dunia menjadi manusia. Dengan rela kemuliaan keIlahianNya Ia tanggalkan untuk menjadi seorang manusia biasa.Yesus di dalam rupa Allah tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu hak yang Dia miliki. Dia turun, Dia mengosongkan diri, Dia melayani, menjadi seorang hamba.Dalam 2 Korintus 8:9 Paulus berkata, “Sekalipun Ia kaya, oleh karena kamu menjadi miskin…” Tidak berhenti sampai di sana, Yesus bukan saja menanggalkan segala atribut keIlahiannya menjadi manusia biasa, Ia menjadi seorang hamba, seorang budak yang tidak ada kemuliaan dan dignitas diri.

Biar mata hati kita bisa terbuka dan penuh kekaguman mengerti rahasia inkarnasi ini.Kita terbalik.Kita ingin mau dikasih kedudukan dan power dulu, baru kita melakukan sesuatu.Itu manusia. Tetapi kita tidak boleh melayani hanya karena setelah menjadi pengurus kita baru melayani. Dan tidak boleh juga kita bilang saya tidak mau melayani karena saya bukan pengurus. Dua alasan itu bukan hidup seorang Kristen yang mature. Lihatlah kepada Yesus.Dia menjadi hamba, Dia melayani. Mari kita menjadi satu komunitas yang indah dan proaktif, melihat jemaat lain sakit, tanpa perlu diorganisir dan dikomando, pergi membesuk dan memperhatikannya.Jemaat yang berkekurangan, dibantu oleh yang berkelebihan.Itu hal yang indah. Bukan karena kita pengurus baru kita melayani, bukan karena apa. Dari situ baru kita bisa melihat keindahan dari sebuah komunitas.

“Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNya nama di atas segala nama supaya dalam nama Yesus semua bertekuk lutut dan mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan…” Kelak pada waktu kita bertemu Yesus, kita akan melihat dengan hormat dan kagum, pada waktu itu tidak ada orang yang tidak akan mengakui Yesus adalah Tuhan dan Raja di atas segala-galanya, karena Ia melakukan sesuatu yang begitu ajaib dan indah.

Pada hari ini, saya memanggil dan mengundang engkau untuk menjadi lebih mirip Tuhan Yesus Kristus. William Barclay mengatakan “Selfishness, self-seeking and self-display destroys our likeness to Christ and our fellowship with each other.” Mau menang sendiri, mencari nama sendiri dan mempertontonkan diri sendiri menghancurkan keserupaan kita kepada Kristus dan merusak persekutuan kita satu dengan yang lain. Kalimat itu adalah kalimat yang memanggil kita senantiasa bertanya, apakah kita ingin semakin serupa dengan Tuhan Yesus Kristus?Firman Tuhan makin menjadikan kita semakin serupa dengan Dia. Karena tidak ada keindahan dari manusia siapapun dia yang bisa kita contoh dan kagumi selain daripada Yesus Kristus. In the ugliness of the cross shone the beauty of Jesus, sampai orang yang memaku Dia sendiri mengakui, “Sungguh, Ia adalah orang benar.” Truly, He is a righteous Man, He is the Son of God. Kemuliaan diri dan keagungan diri kita hanya menjadi tempat kita menyembunyikan kebobrokan hati kita yang mementingkan diri sendiri. Kiranya kita disinari sekali lagi dengan keindahan Tuhan kita Yesus Kristus. Kita orang yang kecil dan lemah, mengalami kesulitan dan pergumulan karena dosa, karena selfish ambition dan karena hati kita tidak mau serupa dengan Yesus Kristus. Kita juga tidak immune dari hal seperti ini, gereja di berbagai tempat juga mengalami hal seperti ini, sehingga kita menjadi orang yang kurang efektif memancarkan keindahan Tuhan kita Yesus Kristus lebih indah. Kiranya Tuhan mengampuni kita, sehingga kita boleh kembali lagi menata hidup kita sehingga setiap waktu kita memancarkan hidup Yesus, kelakuanNya, karakterNya menjadi teladan yang kita ikuti selama-lamanya.(kz)