02. The Advance of the Gospel

3 May 2015

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Surat Filipi (2)

Tema:The Advance of the Gospel

Nats: Filipi 1:12-21

Peristiwa eksekusi yang terjadi di Indonesia minggu ini terhadap dua orang Australia tersangka pengedar obat bius Andrew Chan dan Myuran Sukumaran mengundang banyak polemik dan kontroversi antara dua negara.Saya tidak ingin memperpanjang konflik perdebatan yang terjadi. Kita tidak akan masuk kepada aspek politik, kita tidak bicara soal permasalahan antara dua negara, pro dan kontra mengenai hukuman mati, dsb. Yang ada sekarang kita tahu hari ini ada dua keluarga yang mengalami dukacita yang dalam kehilangan orang yang mereka kasihi. Bukan saja keluarga para pelaku itu yang mengalami dukacita, juga ada banyak keluarga-keluarga lain yang berdukacita tidak ada habis-habisnya oleh karena anak-anak mereka jatuh ke dalam kecanduan obat bius. Dalam hal ini tidak ada pemenang, baik yang menjual maupun yang memakai; baik mereka yang mendapat keuntungan dari bisnis obat bius maupun yang menjadi korban karena obat bius. Pemenangnya hanya satu yakni obat bius itu sendiri.Kita tidak boleh lepaskan fokus itu, apapun yang terjadi, di situ the triumph of evil menjadi sorotan kita. Heroin, cocain, methamphetamine, apapun namanya, pada waktu seseorang jatuh kepada kecanduan obat-obat itu kita bisa melihat tidak henti-henti dan tidak ada habis-habisnya penderitaan itu bukan saja kepada si pengguna tetapi juga kepada keluarga dan orang-orang yang ada di dekatnya. Kesehatan, kewarasan, masa depan hidup mereka, termasuk orang-orang yang menjual, yang tidak pernah menyadari hanya dengan meraih dan mendapatkan keuntungan secara cepat dengan mengorbankan orang lain, sampai pada waktu akhirnya dia tertangkap, barulah dia sadar bahwa kehidupannya sudah hancur oleh obat bius itu. Hari ini kita akan melihat kepada aspek ini.

Kita harus bicara terbuka dan terus terang kepada anak-anak kita, memberikan pendidikan kepada mereka tentang bahaya dan kerusakan yang dihasilkan oleh obat bius ini karena ini adalah kejahatan yang begitu besar, begitu dahsyat dan begitu serius adanya. Dia akan menghancurkan hidup orang-orang yang bersentuhan dengan semua itu. Itulah yang terjadi pada diri Andrew Chan. Pada waktu dia mengetahui tidak ada harapan untuk dia bisa bebas lagi, betapa waste dan fruitless hidupnya, di situlah dia bergumul di dalam kurungan yang sempit, tidak ada lagi kebebasan dia baru memikirkan apa arti semua yang telah dilakukannya. Berpikirlah dia akan kehidupan orang-orang yang rusak oleh karena obat bius termasuk bagaimana obat bius itu juga merusak dan merugikan dia. Tidak ada lagi pengharapan di dalam kehidupan seperti itu, what a waste!

Tetapi kita mengucap syukur dan memuji Tuhan, di tengah kehidupan orang-orang yang sudah jatuh ke dalam jurang yang paling dalam Tuhan datang menghampiri dan menjumpai mereka. Tuhan memberikan pengampunanNya kepada orang-orang yang mengaku segala dosa dan kesalahannya, yang mengaku tidak ada tempat lain selain mereka datang kepada Tuhan. Para pelacur, sampah masyarakat, orang-orang yang tidak ada dignitas dan harga diri tidak pernah dihina dan ditolak oleh Tuhan kita.Mereka yang telah membuang hidup dengan percuma, mereka yang telah jatuh ke dalam dosa yang dalam, yang hidupnya bukan lagi dalam hitungan tahun dan bulan, melainkan hitungan hari dan jam, Tuhan bisa mengasihani dan mengampuni mereka.Perjumpaan dengan Tuhan Yesus Kristus telah merubah dan menyentuh hidup mereka, menyadarkan mereka ada nilai hidup yang indah dan berarti di dalam Tuhan.

Tidak sedikit orang sinis terhadap orang-orang yang sudah menjadi sampah masyarakat itu akhirnya percaya Tuhan.Mereka meragukan dan mempertanyakan otentisitas iman kepercayaan orang-orang seperti ini.Mereka menghina iman orang-orang ini sebagai kamuflase, pencarian jalan keluar pintas, dsb.Tetapi bagaimanapun orang-orang seperti itu perlu pengharapan, perlu kesempatan kedua memperbaiki kegagalan dan kesalahan masa lampaunya.Perjalanan waktu yang ada dan tersisa dijalani dengan membuka lembaran baru.Apa yang sudah lalu tidak bisa diubah lagi, itu adalah masa lampau yang kelam, tidak ada yang bisa diubah dan diperbaiki. Tetapi karena perjumpaan dengan Kristus membuat orang-orang ini melihat ada hal-hal yang indah dan berharga untuk membawa orang-orang lain yang juga seperti mereka dulu yang tidak memiliki pengharapan untuk mengenal dan percaya Yesus.Dengan sisa hidup yang ada mereka berusaha melakukan yang bisa dilakukan untuk menjadikan hidup yang telah Tuhan tebus menjadi berguna dan berfaedah bagiNya.

Bagian firman Tuhan hari ini luar biasa indah memberikan kita kekuatan dan pengharapan bahwa di tengah situasi yang paling tidak ideal sekalipun Tuhan tetap bisa mengerjakan hal yang baik bagi kemuliaanNya.Rasul Paulus ditangkap dan dipenjarakan.Jemaat Filipi yang ada di daerah Makedonia tidak tahu secara mendetail kenapa Paulus dipenjara.Ingatkan jaman itu betapa berbeda dengan kemajuan teknologi sekarang ini. Dengan internet, whatsapp, facebook, Instagram, telepon, berita dari segala penjuru dunia bisa langsung tersiar, tanpa mempedulikan berita itu kadang kala jauh dari akurasi, bahkan bisa jadi berita itu sudah twisted begitu bertolak belakang dengan realita yang sebenarnya.

Paulus dipenjara, apa yang terjadi? Kenapa?Bagaimana?Jemaat melihat secara positif, mengenal pribadi Paulus, mereka percaya pasti dia dipenjarakan bukan karena kesalahannya.Hati mereka sedih dan prihatin, lalu mulai kuatir dan gelisah.Paulus sudah menjalani perjalanan misi mulai dari Kaisarea di Antiokhia, dia pergi ke daerah Asia Kecil, lalu setelah itu dia naik kapal sampai ke Filipi.Dan Injil sampai ke Filipi bukan dengan tanpa pengorbanan Paulus.Dia ditangkap, dipukuli dan dihajar habis-habisan, dipenjarakan.Mereka melihat dengan mata kepala sendiri hamba Tuhan ini menanggung penderitaan begitu besar demi Injil.Dan tidak berhenti sampai di Filipi, Paulus melanjutkan perjalanannya lagi sampai ke Korintus dan ke tempat lainnya.Jemaat Filipi mendengar dan mendoakan dia. Keinginan Paulus untuk bisa mengabarkan Injil bukan saja sampai ke Roma tetapi sampai ke Spanyol, tempat terjauh yang bisa dicapai orang pada waktu itu. Semua itu hanya supaya orang bisa mendengar nama Yesus dan keselamatan yang diberikanNya. Jemaat sedih dan prihatin karena dengan pemenjaraan itu berarti rencara Paulus menjadi terhambat. Dan Injil tidak akan bisa tersebar lagi oleh karena rasul Paulus dipenjara.

Bagaimana dengan the advance of the Gospel, kemajuan Injil?Bagaimana pelayanan dan pekerjaan Tuhan ke depannya? Itulah sebabnya Paulus menuliskan surat ini menjadi satu penghiburan dan pengharapan bagi mereka. Filipi 1:21 “Aku menghendaki supaya kamu tahu bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil…” Allah kita adalah Allah yang setia. Kita pasti akan berpikir mungkinkah pekerjaan Tuhan akan bisa berlanjut? Masih bisakah Injil berkembang dan tersebar sampai ke tempat-tempat lain tanpa hamba Tuhan ini?Kita seringkali berpikir seperti itu.

Jemaat Filipi berpikir karena Paulus dipenjara maka perkembangan dan kemajuan Injil terhambat.Tetapi Paulus justru menyaksikan betapa Allah itu indah luar biasa, karena dia dipenjara malah Injil bertambah luas tersebar.

Kadangkala ketika hal-hal yang tidak terduga terjadi mendadak dan tiba-tiba di dalam hidup kita membuat kita terkejut dan tidak siap.Kita mungkin dipenuhi oleh berbagai kekuatiran dan merasa tidak berdaya di tengah situasi seperti itu.Kita mungkin tidak bisa melihat hal yang baik dan positif dari situasi seperti itu.Kita merasa sedih dan kecewa karena melihat ada banyak hal terhambat karena situasi seperti itu.Jangan. Mari kita belajar dari firman Tuhan ini, dalam firman Tuhan ini kita bisa melihat keindahan yang paradoks dan seolah bertolak belakang dengan apa yang kita perkirakan. Puji Tuhan!

Paulus melihat justru karena belenggu yang mengikat tangan dan kakinya, yang sepatutnya menghalangi ruang geraknya berjalan dan pergi dari satu tempat ke tempat lain, bukan membuat Injil akhirnya terhambat tetapi justru karena dia dipenjarakan, Injil menjadi berkembang. Dan yang luar biasa memang keinginan Paulus adalah pergi ke Roma supaya orang-orang yang ada di sana bisa mendengar Injil. Tetapi dengan pemenjaraan itu ada kelompok orang-orang lain yang mungkin tidak akan pernah mendengar Injil kalau Paulus tidak pernah dipenjara di istana kaisar Roma. Siapa yang bisa menginjili para politisi dan senator itu?Siapa yang bisa menginjili para prajurit dan tentara itu?Berita tentang pemenjaraan Paulus jelas telah membuat orang-orang yang bekerja di istana kaisar, bahkan mungkin anggota keluarga kaisar sedikit banyak mendengar tentang dia.

Dalam tafsirannya Dr. William Barclay memberikan gambaran yang begitu jelas kondisi Paulus di dalam penjara istana, setiap saat tangannya dibelenggu oleh rantai besi pendek yang diikatkan bersama penjaganya untuk menutup kemungkinan dia lari. Siang dan malam selalu ada seorang penjaga bertugas di dekatnya, 4 shift setiap hari. Maka bayangkan dalam 2 tahun bisa berapa banyak kesempatan Paulus menginjili penjaga yang diikat bersamanya?Satu persatu orang-orang ini berkesempatan mendengar Paulus berkhotbah, mendengarnya bercakap-cakap menguatkan teman-teman yang membesuknya dengan firman Allah, mendengarnya berdoa kepada Tuhan.Satu persatu mereka mendengarkan tawaran pengampunan dari Yesus Kristus atas dosa-dosa mereka.Satu persatumereka bertobat dan percaya kepada Tuhan. Paulus bersyukur akan hal itu karena kalau dia bebas, belum tentu ada kesempatan dan kemungkinan menginjili kelompok orang-orang seperti itu.

Itulah sebabnya mari kita belajar melihat dengan mata rohani kita di luar daripada perkiraan dan pertimbangan secara manusia. Kita berpikir kalau orang-orang seperti Andrew Chan bisa hidup lebih panjang pekerjaan Tuhan bisa terus berjalan, tetapi justru dengan kematiannya kita bisa melihat keindahan Tuhan bekerja dan kita percaya Injil lebih berkembang lagi.

Yang kedua, ada sisi lain dengan pemenjaraan Paulus membuat kabar tentang dia dan pelayanannya menjadi tersebar. Ada realita yang sangat menyedihkan hidup dalam pelayanan di ladang Tuhan. Realita itu disebutkan oleh Paulus, ada orang yang mengambil keuntungan dari penderitaan dan pemenjaraan Paulus dengan cara menjelek-jelekkan dan memfitnah dia.

Di satu pihak jemaat menjadi lebih giat karena Paulus dipenjara. Mereka semakin berani dan semakin terbuka menyampaikan firman Allah kepada orang lain oleh karena mereka melihat kerelaan Paulus menderita dan terbelenggu karena membela Injil (Filipi 1:14-16). Tetapi Paulus mengatakan ada sekelompok orang lain memberitakan Injil dengan maksud yang tidak murni, dengan motif bagi keuntungan dan kepentingan pribadi (Filipi 1:17). Mereka tidak senang kepada Paulus, mereka iri karena banyak orang mengagumi Paulus, dan mereka ingin mengambil apa yang Paulus miliki dengan cara menghancurkan karakter Paulus.Maka kelompok orang-orang ini adalah mengabarkan Injil yang murni dengan maksud yang palsu (Filipi 1:18), a pure Gospel with an impure motif.

Siapa mereka dan apa motivasinya? Jelas di sini dengan cara seperti itu mereka mau menyakitkan hati Paulus, dan itulah yang terjadi. Betapa tidak mudah kita bayangkan situasi hati Paulus secara manusia menghadapi orang-orang ini. Ini bukan soal serangan satu dua minggu belaka, ini adalah satu proses yang panjang “character assassination” terhadap reputasi Paulus, fitnah yang mereka sebarkan untuk menjelekkan integritas dan image rasul Paulus. Kalau berdasarkanKisah Rasul 28:30 mencatat dua tahun penuh Paulus tinggal di rumah yang disewanya sendiri sebagai tahanan rumah dan dia diperbolehkan menerima orang-orang datang ke rumahnya. Tetapi setelah itu dalam surat Filipi ini Paulus mengatakan dia sudah dalam keadaan di belenggu di penjara istana kaisar berarti ini adalah fase setelah tahanan rumah itu. Maka kita bisa perkirakankurun waktunya antara 2 sampai 4 tahun hal ini terjadi.

Dalam 2 Timotius 1:15 Paulus mengatakan, “Engkau tahu bahwa semua mereka yang di daerah Asia Kecil berpaling daripadaku termasuk Figelus dan Hermogenes…” Lalu 2 Timotius 4:10 “…Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku…” Apa yang dilakukan orang-orang ini? Dari kalimat Paulus “mereka memberitakan Injil karena kepentingan sendiri dan dengan maksud tidak ikhlas…” (Filipi 1:17).Paulus memakai kata ‘eritheia’ yang arti originalnya adalah ‘working solely for pay.’ Orang yang bekerja semata-mata bagi keuntungan diri dengan menggunakan segala cara. Tujuannya sederhana, yaitu untuk mereka memberitakan Injil sambil menjelek-jelekkan nama Paulus supaya terjadi perpindahan jemaat ke tempat mereka dan dengan demikian membawa keuntungan finasial bagi diri pribadi. As simple as that.Kalimat “Demas telah mencintai dunia…” itu berarti Demas “berjualan dan menjajakan Injil” untuk menarik keuntungan finansial.Jadi dia tetap pergi melayani dan berkhotbah, tetapi dia mencari dan mengumpulkan orang demi untuk diri sendiri.Ini adalah aspek kedua yang Paulus buka dengan terang-terangan kepada jemaat.Bukan hanya di jaman Paulus situasi seperti ini bisa terjadi.Sangat menyedihkan, realita seperti itu juga terjadi dimana-mana dalam pelayanan gereja.Kenapa?

Banyak orang berpikir sebuah gereja maju diukur dari banyaknya orang yang datang ke situ.Lalu karena banyak yang datang otomatis gereja menerima pemasukan uang yang banyak.Lalu karena pemasukan uang yang banyak, kehidupan pendetanya juga menjadi lebih enak, gajinya lebih banyak dan fasilitas lebih mewah.Saya rasa kita harus berhenti dari pikiran seperti ini karena ini adalah satu konsep yang sangat salah.Berbahaya sekali memiliki konsep pelayanan seperti ini.Sangat prihatin jikalau pendeta atau majelis mengatakan, “Puji Tuhan telah memberkati gerejaku yang dulu hanya gedung kecil sekarang sudah punya gedung yang megah. Dulu pendeta hanya bisa kost sekarang sudah bisa beli rumah…” Kadang kita harus berhenti dengan cara berpikir seperti ini. Kita perlu peka dalam aspek-aspek ini.Tidak berarti kita tidak boleh membuat orang lebih banyak datang berbakti di gereja kita.Tidak berarti kita tidak boleh memikirkan dan mencukupkan kebutuhan hidup keluarga hamba Tuhan.Tetapi kita tidak boleh kita menggarap pelayanan dengan konsep seperti itu.

Yang terjadi, dengan motif yang tidak murni seperti ini mereka memakai segala cara termasuk menjelek-jelekkan nama Paulus supaya orang-orang itu tidak lagi ikut Paulus dan pindah ke gereja mereka. Dengan cara seperti itu mereka memperalat pelayanan demi untuk memperkaya diri. Mereka memperalat pelayanan untuk membuat  jemaat supaya tidak ikut Paulus. Akhirnya karena cara-cara seperti itu, jemaat gereja di Asia Kecil berpaling dari Paulus.

Di pasal 1 ini kita lihat tidak ada kaitannya dengan pengajaran yang salah.Orang itu tetap memberitakan Injil yang murni, tetapi yang salah adalah motivasinya. Soal motif kembali lagi kepada bagaimana hubungan orang itu dengan Tuhan, dan nanti semuanya baru akan terbuka di hadapan pengadilan Tuhan.

Namun di dalam situasi tersendiri hati Paulus tidak menjadi pahit.Dia sebaliknya bisa bersukacita karena bukan dirinya yang dia pikirkan melainkan the advance of the Gospel.Joyful muncul karena banyak orang percaya Tuhan. Aku diperlakukan begini, mereka membicarakan hal yang tidak baik akan aku supaya orang tidak ikut aku lagi, tidak mengapa. Hatiku tetap bersukacita karena Injil tetap berkembang, Kristus tetap diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan maksud murni.

Bagi Paulus yang menjadi goal adalah the advance of the Gospel.Namun orang-orang ini melakukan pelayanan semata-mata bagi perkembangan dan kemajuan gereja dan diri mereka ‘the advance of themselves throughout the advance of the Gospel,’ itulah yang terjadi.Apakah dengan cara seperti ini kemudian membuat Paulus kecewa? Paulus sebaliknya justru bersukacita.Dia tidak memikirkan soal fitnahan yang merusak kredibilitasnya.Dia tidak mempedulikan orang-orang yang iri itu berusaha menghancurkan pelayanannya.Dia tidak memikirkan urusan diri sendiri tetapi mengutamakan kerajaan Allah. Itulah yang menyebabkan Paulus bisa bersukacita dan berkata, “Tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga Kristus diberitakan, baik dengan jujur…” (Filipi 1:18). It is not about myself, it is about God.

Hari ini saat kita merayakan ulang tahun gereja kita yang ke 16, apa yang kita belajar dari firman Tuhan ini? Kiranya kita tidak memiliki motif yang tidak murni seperti itu di dalam pelayanan kita.Apapun, bagaimanapun, kita ingin yang terutama Injil Kristus diberitakan. Bukan soal jealousy, kenapa gereja orang lain lebih maju; bukan soal rivalry, gerejaku harus lebih hebat, itu tidak boleh ada di dalam pelayanan denominasi antar gereja. Lebih celakanya jikalau kita menarik jemaat orang lain dengan cara menjelek-jelekkan hamba Tuhannya supaya mereka pindah ke gereja kita. Itu tidak boleh kita lakukan. Maka mari kita memurnikan hati motivasi kita melayani. Kita tidak membawa orang lebih banyak ke gereja ini dengan cara menjelek-jelekkan gereja atau hamba Tuhan yang lain. Kita tidak membawa orang lebih banyak ke gereja ini supaya membawa keuntungan finansial bagi kita.Kita hanya mau membawa orang ke gereja supaya orang itu bisa mengenal Tuhan dan percaya Tuhan. Itu yang kita mau menjadi motivasi bagi pelayanan kita, that is for the advance of the Gospel. Dengan hati seperti itulah membuat hati kita tidak menjadi lemah, kecewa dan iri dalam melakukan pelayanan kita.Kiranya ayat-ayat ini senantiasa mengingatkan kita, kita tidak boleh memakai pelayanan menjadi kendaraan untuk membesarkan diri, memperkaya diri, membuat orang mengidolakan engkau.Mari setiap kita hari ini kembali mengintrospeksi hati kita sedalam-dalamnya, kita melayani demi untuk Kristus yang makin menjadi besar dan kita menjadi semakin kecil. Biar itu menjadi keinginan dan kerinduan kita semua sampai akhir hidup kita.(kz)