03. SUKACITA DI TENGAH PENDERITAAN

May 10, 2015

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Surat Filipi (3)

Tema: Sukacita di tengah Penderitaan

Nats: Filipi 1:15-30

Dunia seringkali tercengang heran melihat reaksi emosi orang Kristen yang begitu paradoks, begitu berbeda dan bertolak-belakang dengan apa yang mereka mengerti. Bagaimana bisa, saat menghadapi kematian yang sebentar lagi tiba, bukan kengerian dan ketakutan yang muncul tetapi justru nyanyian puji Tuhan keluar dari mulut mereka? Bagaimana mungkin, saat menghadapi fitnah, bukan amarah, kepahitan dan kebencian yang muncul tetapi justru ketenangan, kedamaian dan sukacita yang melimpah keluar dari hati mereka?

Robert C. Roberts dalam bukunya Spiritual Emotions berkata bahwa timbulnya bentuk emosi yang tepat akan sukacita, syukur, pengharapan, damai dan belas kasih adalah ciri dari satu individu yang telah ditobatkan, disucikan,dan diubahkan oleh Kristus. Seorang Kristen yang matang rohani tidak bersukacita diatas kemalangan orang dan tidak iri dan ingin menghancurkan keberuntungan orang lain.

Dalam bagian firman Tuhan yang kita baca hari ini, bahkan lebih lagi emosi rasul Paulus menjadi suatu reaksi ekspresi paradoks yang indah luar biasa. Dalam kondisi terbelenggu dalam penjara, penat dan lelah secara fisik dan mental, Paulus bisa menyatakan syukur dan sukacita yang berlimpah-limpahsekalipun ada ucapan dan tindakan negatif orang-orang Kristen lain yang iri hati dan berusaha merusak karakter dan pelayanannya. Waktu mendengar Paulus dipenjara, mudah orang akan mengambil kesimpulan ada yang salah pada diri Paulus. Barangkali dia dipenjara karena pelayanannya tidak beres, barangkali dia membawa lari uang gereja, atau barangkali dia berselisih dan melukai orang sampai fatal? Inilah konteks situasi yang sedang Paulus alami saat menuliskan surat pastoralnya yang begitu indah kepada Jemaat Filipi.

Kita percaya berita Paulus dipenjarakan telah sampai ke telinga jemaat di Filipi. Jemaat pasti concern luar biasa karena berita pemenjaraan Paulus itu tidak terlalu jelas detailnya. Apa yang terjadi sebenarnya dengan pemenjaraan Paulus, bagaimana keadaan dan kondisinya saat ini? Kapankah dia akan diadili? Akankah dia dibebaskan dari penjara? Dan adakah situasi ini menghambat pekerjaan Tuhan dan penyebaran Injil? Ada kesimpang-siuran terjadi tentunya. Itu sebab Paulus berkata, “Aku menghendaki supaya kamu tahu bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil…” (Filipi 1:12).

Jemaat Filipi adalah satu jemaat yang boleh kita katakan kekasih hati Paulus.Paulus mengekspresikan affection kepada jemaat dengan kalimat, “You always in my heart” (Filipi 1:7), satu relasi yang indah dan erat.Jemaat ini betul-betul mencintai Paulus dan sebaliknya Paulus juga mencintai jemaat ini oleh sebab mereka adalah jemaat yang mengasihi dan melayani Tuhan. Dan bukan itu saja, Paulus berada di dalam penjara, terkungkung secara fisik, tentu juga memiliki concern tersendiri kepada jemaat yang ada di sana. Apa yang terjadi dengan mereka, ada perselisihan di tengah mereka, ada situasi yang tidak mudah, dan Paulus mengetahui ada guru-guru palsu sedang datang kepada mereka, orang-orang yang memiliki motif yang tidak tulus dan jujur di dalam pelayanan dan tentu itu juga memberikan concern yang luar biasa bagi Paulus.

Dalam surat Filipi ini ada 3 kelompok orang yang Paulus sebutkan. Siapakah tiga kolompok orang ini?Kelompok yang pertama adalah orang-orang yang disebutkan Paulus di pasal 1:15 dan 17 yaitu kelompok orang Kristen yang memiliki motivasi yang tidak murni tetapi Injil yang mereka kabarkan adalah Injil yang murni.

Kelompok yang kedua adalah kelompok yang berbeda sebab nada berbicara Paulus berbicara tentang mereka berbeda dengan kelompok yang pertama tadi. Dalam Filipi 3:2 Paulus mengatakan, “Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat palsu…” Paulus menyebut tentang mereka yang begitu keras dalam bagian ini.Membacanya kita mungkin merasa risih karena Paulus menyebut mereka ‘anjing.’Tentu bukan dalam arti Paulus menghina status mereka tetapi membicarakan natur mereka sebagai anjing yang merampas dan memakan dan menggerogoti makanan yang bisa dijumpainya.Bukan itu saja, mereka adalah evil, pekerja yang jahat dan “penyunat-penyunat palsu.” Kalau melihat bahasa aslinya mereka itu adalah bukan melakukan “circumcision” tetapi “mutilation,” bukan menyunat tetapi memotong semua. Sangat mungkin mereka adalah kelompok orang Kristen Yahudi.Berbeda dengan kelompok pertama, kelompok kedua ini mengajarkan Injil yang tidak murni dengan motif yang tidak benar.Paulus berada di dalam penjara, dia tidak sanggup menghadapi kelompok ini secara fisik.Dia pasti concern dengan jemaat Filipi karena orang-orang ini sedang datang masuk dan menyelusup ke tengah-tengah mereka.Itu sebab Paulus dengan tegas mengingatkan jemaat Filipi untuk berhati-hati terhadap mereka.Bahayanya dari kelompok Kristen Yahudi waktu itu adalah menghilangkan konsep kita diselamatkan semata-mata oleh anugerah Tuhan dan tidak ada bagian dari jasa dan perbuatan kita di dalamnya. Mereka menambahkan aturan, menambahkan tata cara ibadah Yahudi, dan terutama menambahkan perbuatan sunat sebagai syarat tambahan untuk bisa selamat, itu adalah ajaran yang sangat berbahaya. Bagi Paulus, bukan soal sunat itu sendiri, tetapi bicara soal dibalik daripada sunat itu mereka ingin mengubah arti dan makna Injil.

Kelompok ketiga adalah kelompok orang-orang yang tidak percaya Tuhan, orang-orang yang melawan Injil.Kepada mereka Injil dikabarkan supaya ada kesempatan mereka boleh mendengar, menerima dan percaya kepada Kristus.

Sepanjang jaman Gereja Tuhan menghadapi hal-hal seperti itu. Dari luar, ada serangan penganiayaan fisik dari orang yang tidak percaya Tuhan yang menangkap, menyiksa dan membunuh anak-anak Tuhan. Namun ada serangan yang lebih berbahaya lagi yaitu ajaran-ajaran yang keliru dan sesat bisa merembes masuk menjadi sel-sel kanker yang sangat merusak. Menghadapi hal ini gereja harus tegas dan tidak berkompromi.Pengajaran tentang Allah Tritunggal, pengakuan bahwa Yesus adalah satu-satunya juruselamat, kematianNya di kayu salib menggantikan kita, Yesus adalah 100% Allah dan 100% manusia. Itu semua harus senantiasa kita pegang kuat-kuat.Kita tidak boleh menurunkan derajat bahwa Roh Kudus itu hanya kuasa belaka, tetapi Ia adalah satu pribadi yang setara dengan Allah Bapa dan Allah Anak. Kita percaya akan kebangkitan tubuh, kita percaya akan universalitas Gereja yang melampaui gedung, melampaui denominasi, melampaui jarak, warna kulit, ras dan tradisi. Setiap orang yang mengaku Yesus adalah Tuhan, dia adalah saudara seiman kita, kita tidak boleh menjadi orang Kristen yang berhati sempit dan kaku, tidak memperhatikan saudara seiman yang lain.Maka kita bisa mengerti kenapa kepada orang-orang ini Paulus memberikan satu reaksi yang keras dan tegas. Kalau itu satu hal yang merusak Gereja Tuhan, kalau itu satu hal yang merusak makna Injil, pengajaran yang ada di dalam gereja, kita tidak bisa pasif dan berdiam diri. Kadang-kadang kata-kata yang dipakai perlu dengan tegas dan ‘pinpoint’ bahwa orang-orang itu adalah orang-orang yang merongrong dan merusak inti dari pengajaran Kekristenan.

Kita tidak bisa mencegah orang bicara hal yang buruk tentang diri kita. Kita tidak bisa menutup mulut orang-orang yang ingin merusak pribadi dan kredibilitas kita. Orang mau ngomong apa, engkau tidak bisa cegah. Tetapi kita bisa mencegah bagaimana omongan itu tidak menimbulkan ‘inflicted harm’ kepada kita; kita bisa mencegah hati kita untuk tidak diracuni oleh kalimat-kalimat yang buruk itu; kita bisa mencegah fitnahan itu tinggal bersarang di atas kepala kita.

Luar biasa reaksi Paulus kepada orang-orang ini. Filipi 1:15-17 Paulus menyebutkan mereka adalah kelompok orang Kristen yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan…” Mereka memberitakan Yesus Kristus, namun mereka memberitakan dengan motif bagi kepentingan diri, dengan maksud yang Paulus sebut “memperberat bebanku di dalam penjara.” Paulus menyebutkan dua motivasi yang ada pada mereka, yang satu adalah motif mengabarkan Injil tidak dengan kasih melainkan dengan iri hati dan jiwa rivalry kepada Paulus. Yang kedua motivasinya tidak sincere, tetapi bertujuan menghasilkan inflicted harm kepada Paulus. Paulus menunjukkan situasi ini supaya jemaat Filipi mengerti apa situasi yang sedang dihadapinya.Ada indikasi orang-orang ini berusaha‘to stir up trouble’ untuk membuat Paulus mengalami siksaan lebih berat di dalam penjara.Dalam penjara mengalami physical abuse, tidak bisa tidur dengan baik, makanan jelas tidak terlalu bergisi, tidak ada baju hangat selama musim dingin. Kita bisa melihat hal ini dalam 2 Timotius 4:13 Paulus minta Timotius waktu membesuk dia untuk membawakan baju hangat dan buku-bukunya. Itu sedikit gambaran apa yang Paulus alami secara fisik di dalam penjara. Maka Paulus bilang “dengan berbuat seperti itu kepadaku mereka mengira mereka memperberat dan mempersulit keadaanku di dalam penjara.”Apa reaksi Paulus terhadap hal ini? Paulus berkata, “Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga Kristus diberitakan. Tentang hal itu aku bersukacita, ya aku akan tetap bersukacita…” (Filipi 1:18). Reaksi mengejutkan, rasul Paulus bilang “I rejoice, yes I will rejoice!” Yang pertama, reaksi ini penting untuk mengingatkan kita tidak perlu ‘nelongso’ dan mengasihani diri.Persoalan motivasi orang itu, itu urusan dia dengan Tuhan. Yang kedua, reaksi yang negatif tidak akan menghasilkan hal yang positif tetapi bisa mendatangkan kemungkinan hal yang lebih negatif.Bagaimana berkaitan dengan dia? Paulus mengatakan, “Karena aku tahu bahwa kesudahan semuanya itu adalah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus…” (Filipi 1:19). Pertama, bukan saja Paulus tidak ditelan oleh self-pity dan bitterness atas fitnah dan usaha orang-orang yang membenci dia, Paulus bisa melihat aspek lain dari hal ini yaitu tindakan itu tidak menghasilkan efek apa-apa dengan keselamatan dia. Kedua, Paulus tahu jemaat Filipi senantiasa support membawa dia di dalam doa. Inilah yang membuat hatinya penuh dengan sukacita.Paulus bukan seorang “super spiritual” yang tidak butuh dukungan doa orang lain. Paulus bukan seorang yang menunjukkan dirinya “single-fighter” berjuang bagi Tuhan dan orang lain tidak ada apa-apanya. Mari kita belajar dari reaksi Paulus ini.Kadang-kadang saat menghadapi sesuatu kesulitan tantangan kita lebih cenderung menarik diri.Kadang-kadang kita enggan sharing persoalan yang sedang kita hadapi, karena memang malah jadi sumber gossip.Jadi akhirnya kita simpan sendiri.Tetapi waktu kita simpan sendiri, teman-teman tidak ada yang tahu, sesama jemaat di gereja tidak ada yang tahu, pendeta juga tidak tahu, akhirnya merasa tersendiri.Jangan menutup diri.Di tengah kesedihan dan beban berat, mengetahui ada orang-orang yang berdoa bagi kita bisa memberikan penghiburan dan kekuatan untuk menjalani hidup kita.Kita tidak bisa menghindarkan situasi yang tidak menyenangkan bisa terjadi. Dalam situasi seperti itu marikita belajar bagaimana bereaksi sebagai anak Tuhan punya hati yang always rejoice.

Paulus ada di penjara,jemaat Filipi sebenarnya tidak perlu heran dan bingung kenapa Paulus sampai dipenjara karena awal mulainya gereja Filipi juga justru karena Paulus dipenjara.Jemaat mengerti Paulus dipenjara karena mengabarkan Injil. Peristiwa mulainya gereja Filipi dicatat dalam Kisah Rasul 16:6-10 bermula dari “penglihatan Makedonia” dalam perjalanan misi Paulus yang kedua.

Kita tidak mungkin bisa mengerjakan semua pekerjaan Tuhan seorang diri. Ada wilayah-wilayah pelayanan yang Tuhan percayakan untuk kita lakukan, ada wilayah pelayanan yang Tuhan percayakan kepada orang lain. Kisah Rasul 16:6 dan 7 mencatat “…karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia…”Kita tidak tahu mengapa Tuhan tidak ijinkan Paulus mengabarkan Injil ke Asia waktu itu. “…Roh Yesus tidak menginjinkan mereka.” Karena tidak bisa ke Asia, tidak bisa ke Bitinia, entah bagaimana tidak tahu apa yang terjadi, nampaknya ada satu gerakan hati Tuhan katakan bukan ke sana, maka mereka tunggu di Troas, daerah Turki sekarang, di pinggir pantai ujung Asia Kecil. Kemana lagi? Dari kejauhan terlihat ada daratan di seberang sana. Malam hari itu datanglah penglihatan dari Tuhan kepada Paulus seorang Makedonia berseru kepadanya “menyeberanglah kemari dan tolonglah kami!” (Kisah Rasul 16:9). Penglihatannya jelas, ada orang dari seberang melambai-lambai, ‘come, help us! We need the Gospel, help us!’ Bangunlah Paulus lalu menyampaikan penglihatan itu kepada rekan-rekannya yang lain. Itu adalah gerakan Tuhan, panggilan Tuhan, pimpinan Tuhan, jelas sekali.Mereka berdoa sama-sama, lalu kemudian mereka berangkat ke Filipi.

Singkat cerita kita tahu tibalah Paulus dan rombongannya di Filipi dan selama beberapa hari mempelajari kota itu. Kemudian pada hari Sabat mereka pergi ke sebuah sinagoge kecil dan memberitakan Injil di sana. Kita tahu salah satu wanita bernama Lidia bertobat dan seluruh keluarganya dibaptis.Setelah itu ada seorang wanita yang mempunyai roh tenung yang juga menjadi percaya.Setelah itu dia tidak lagi melakukan praktek tenung dan menyebabkan majikan-majikannya tidak senang, akhirnya mereka menangkap Paulus dan Silas, menyeretnya ke pasar, memfitnahnya dan melucuti pakaiannya dan mendera mereka.Tidak berhenti sampai di situ, mereka melempar Paulus dan Silas ke dalam penjara.Mereka dibelenggu dengan pasungan dan ditaruh di dalam penjara yang paling tengah sehingga kemungkinan mereka melarikan diri hampir mustahil. Di dalam penjara itu Paulus bersama Silas berdoa, menyanyikan pujian bagi Tuhan dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka. Goncang penjara itu, terbuka semua pintu dan terlepaslah semua belenggu mereka.

Penglihatan itu begitu jelas.Tuhan panggil, Tuhan pimpin dengan jelas, keputusan itu adalah keputusan yang dari Tuhan. Seringkali kita terlalu cepat ‘jump to conclusion’ kalau Tuhan pimpin, kalau Tuhan sertai, jalan itu pasti akan lancar, lurus, tidak ada persoalan, hambatan dan tantangan, pasti akan sukses. Tetapi pada waktu dijalani, tiba-tiba ada kesulitan, kita bisa kaget dan tergoncang karena asumsi kita salah. Karena kita sering berpikir kalau Tuhan sudah pimpin pasti akan berjalan lancar. Lalu kok tiba-tiba begini?

Tetapi gereja Filipi berdiri dan ada karena pelayanan Paulus. Tidak selamanya kita harus berpikir bahwa kalau itu Tuhan pimpin, pasti akan lancar; kalau sudah ambil keputusan yang benar pasti akan sukses dan berhasil. Tidak.Justru dalam bagian ini kita menyaksikan Paulus rela terima dia mengalami semua hal seperti itu, namun akibatnya gereja Filipi berdiri karena Paulus datang mengabarkan Injil kepada mereka.Puji Tuhan, gereja itu berjalan maju dan berkembang baik walaupun akhirnya Paulus harus meninggalkan mereka (Kisah Rasul 16:40). Tiga belas tahun kemudian, jemaat Filipi mendengar berita pemenjaraan Paulus lagi, mereka sudah tahu dia pasti dipenjara karena memberitakan Injil.

Sebagai gembala bagaimana kita belajar melihat pekerjaan Tuhan seperti itu.Itu pekerjaan Tuhan, itu hal yang paling penting.Itu bukan pekerjaanmu, karirmu. Melihat bagian ini Paulus tidak mempersoalkan pengorbanannya, jasanya, soal hebatnya dia, selama berita Injil disampaikan biarlah nama Tuhan dimuliakan. Ada wilayah yang dia tidak ambil dan tidak kerjakan karena memang Tuhan tidak injinkan hal itu dan karena memang tidak semua dia harus yang kerjakan. Pada waktu dikerjakan ada tantangan kesulitan itu tidak membuat hatinya menjadi ciut dan gentar.Itu sebabnya dalam bagian ini reaksi yang indah Paulus bersyukur, Paulus bersukacita, Paulus tenang dan tidak terganggu hatinya, Paulus tahu jemaat Filipi senantiasa berdoa baginya.

Jangan cepat kecil hati dan kecewa kalau engkau mengalami kesulitan dan persoalan, merasa orang lain tidak mengerti dan tidak memperhatikanmu. Kita tidak boleh lupakan ada orang-orang di sekitar kita yang mengasihi kita dan mendoakan kita. Engkau yang studi di kota ini jauh dari orang tua, jangan lupa ada papa dan mama yang setiap hari senantiasa berdoa bagimu. Ini menjadi kekuatan dan dorongan bagi kita sekalian.Kita harus belajar saling mendoakan seperti itu walaupun tidak memiliki ikatan darah.Dan pada waktu kita melayani orang jangan jadikan itu sebagai jasa. Tidak boleh pendeta membesuk, membantu dan melayani jemaat lalu senantiasa menyebut-nyebut apa yang sudah dilakukannya buat jemaat itu. Itu sebagai satu pelayanan karena nama Tuhan dan Injil Tuhan disebarkan.

Terakhir, Paulus bersukacita karena Roh Yesus menolongnya(Filipi 1:19).Sekalipun tetap sendiri dipenjara, Paulus tidak apa-apa. Orang lain semua meninggalkannya, setidak-tidaknya ada Roh Tuhan di dalam hatinya senantiasa menguatkan dan mengingatkan kehadiran Tuhan di dekatnya.

Kalau engkau berada dalam situasi seperti itu, sudah berjalan di dalam kehendak Tuhan, kadang-kadang ada tantangan kesulitan jangan kecil hati, jangan kecewa, pahit dan merasa tersendiri. Belajar punya reaksi seperti Paulus, always rejoice. Pertolongan dari Roh Kudus dalam hati kita sanggup menjadi penghiburan yang besar dan kekuatan yang dahsyat sekalipun tersendiri.

Bersyukur firman Tuhan mengajar kita bagaimana bereaksi di tengah hal-hal yang tidak terduga dan terpikirkan.Kita bisa mengalami sakit dan kesulitan kapan saja.Ada banyak anak-anak Tuhan didera di dalam penjara mengalami ketidak-adilan. Kadang kala kita harus menanggung kalimat-kalimat yang mungkin mendukakan hati oleh sebab ada fitnah, gossip atau mempersalahkan kita mengalami semua itu sebagai hukuman Tuhan akibat dosa dan kesalahan kita. Dari firman Tuhan mengingatkan kita senantiasa dengan tenang bersyukur dan melihat bagaimana indahnya rasul Paulus di dalam penjara menjadi teladan bagi kita. Biar hati kita bersukacita melihat pekerjaan Tuhan semua dengan indah dan senantiasa menghargai setiap orang yang mengasihi dan terus berdoa bagi kita.(kz)