05. Hidup yang Berpadanan dengan Injil

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Filipi (5)
Tema: Hidup yang Berpadanan dengan Injil
Nats: Filipi 1:27 – 2:4

Yesus pernah berkata kepada Petrus, “…ketika engkau masih muda engkau berjalan ke mana saja kau kehendaki, tetapi ketika engkau sudah tua, orang akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kau kehendaki” (Yohanes 21:18). Dengan kata lain Yesus berkata, hai Petrus, waktu engkau masih muda, engkau bebas pergi ke mana saja. Tetapi pada waktu engkau sudah tua, engkau tidak bisa menolak, engkau akan terbelenggu karena Injil. Yohanes memberi catatan di ayat selanjutnya, demikianlah hal ini Yesus katakan sebagai nubuat bagaimana nanti pada akhir hidupnya Petrus akan mati dan memuliakan Allah dalam pelayanannya (Yohanes 21:19).
Kita tidak bisa menolak proses perjalanan hidup kita seperti apa nantinya. Normal dan lumrah pada waktu kita masih muda kita menata dan meniti masa depan dan karir kita, kita akan selalu berpikir masih banyak hal yang belum aku raih dan dapatkan. Selama aku masih muda dan ada kesempatan, aku akan mencari segala hal yang belum aku miliki, mencari pengalaman dan sensasi atas apa yang belum pernah aku lakukan, pergi ke berbagai tempat di belahan dunia. Kita menyusun rencana demi rencana bagi hidup kita. Dan bahkan seringkali kita akhirnya tidak bisa fokus karena terlalu banyak yang kita mau. Normal dan lumrah ketika kita masih muda, kita bebas berencana dan memikirkan apa yang akan kita capai dan raih. Kita berencana, kita membuat planning bagi hidup kita. Demikian juga bagi pekerjaan Tuhan, kita ingin hal itu bisa dilakukan di dalam suasana yang ideal. Namun adakalanya hal seperti itu tidak terjadi, sehingga kita bisa berkecil hati dan merasa pekerjaan Tuhan terhambat. Namun di situlah kita diingatkan bahwa bukan soal proses waktu dan usia saja, tetapi ada hal-hal yang tidak bisa kita kontrol di dalam hidup ini. Ketika sakit-penyakit secara mendadak datang ke dalam hidup kita, pada waktu kesulitan tiba dimana situasi itu tidak bisa kita atur dan kontrol. Di saat seperti itu apa yang menjadi pemikiran kita? Saya percaya di situ kita tidak akan lagi memikirkan apa yang masih kurang dan yang kita mau raih dan dapatkan. Pada saat seperti itu kita akan memusatkan pikiran kita kepada apa yang kita anggap paling penting dalam hidup ini.
Dalam Filipi 1:27 Paulus membuka perikop yang baru dimana perubahan nada terjadi. Paulus tidak lagi bicara tentang dirinya, tetapi sekarang dia bicara mengenai apa yang penting bagi jemaat Filipi.
“Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus…” (Filipi 1:27). Paulus memulai bagian ini dengan kata “hanya” yang dalam bahasa Yunani “monon” yang lebih akurat diterjemahkan “just one thing” yang oleh Karl Barth ditambah komentar “an admonition lifted like a warning finger.” Paulus terbelenggu di penjara, tersendiri, di situlah moment dimana setiap orang akan berpikir dan bertanya apa yang paling penting. Bukan lagi berapa banyak yang aku belum punya, berapa tinggi yang belum aku raih, tetapi betul-betul hal yang paling terutama dan terpenting. Puji Tuhan! Paulus mengeluarkan kalimat ini, dan dia arahkan itu kepada jemaat Filipi. Jemaat Filipi mungkin punya beragam rencana, maksud, program agar pertumbuhan gereja berkembang dan jumlah orang yang percaya makin bertambah tetapi hari ini Paulus mengingatkan seluruh prinsip hidup mereka, rencana hidup mereka, apa yang mereka mau, biar semuanya di-direct, diarahkan dengan point yang paling penting, kata Paulus, hanya satu hal saja. Ini bukan sekedar nasehat yang boleh diterima sebagai pilihan, tetapi ini adalah satu kalimat bersifat perintah berbentuk imperatif, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus. Sebagai warganegara surgawi kita diperintahkan oleh firman Tuhan untuk hidup sejalan, selaras, selayaknya dengan Injil Kristus. Kita mengaku sebagai orang Kristen, kita mengatakan diri sebagai anak Tuhan, adakah kita menjalani hidup yang otentik sesuai dengan status kita? Bukan hanya perkataan dan percakapan kita yang harus senantiasa berpadanan dengan Injil Kristus, tetapi juga perilaku dan perbuatan kita adakah itu selaras dengan Injil Kristus?
Segala sesuatu yang palsu itu sangat menakutkan, bukan? Masih lebih baik kalau satu barang palsu benar-benar dibuat kelihatan palsunya sehingga bisa kita bedakan dengan barang yang asli. Tetapi kalau barang palsu itu dibuat sedemikian mirip dengan barang yang asli, itu bukan sekedar “fake” tetapi “counterfeit” yang berbahaya karena kita tidak bisa membedakannya dengan yang asli. Baru-baru ini di Indonesia ramai dengan isu beras plastik. Demi mendapat keuntungan, orang bisa memalsukan hand-phone, jam tangan, baju dan tas bermerk, dan itu tidak terlalu merugikan orang banyak. Tetapi kalau itu menyangkut hayat hidup orang banyak seperti makanan pokok beras, telur, susu, demi memperoleh keuntungan pribadi, bagi saya itu sudah kelewatan. Yang bikin, yang distribusi, itu sudah kelewatan. Yang makan beras palsu, itu kasihan.
Kata “berpadanan” itu artinya hidup yang otentik dengan status kita, itulah yang paling penting. Bagaimana kita menjadi orang Kristen yang sepatutnya, selayaknya, seharusnya, sepantasnya sebagai orang-orang yang telah ditebus oleh Tuhan kita sejalan dengan Kristus. Prinsip ini kemudian ditaruh oleh Paulus sebagai prinsip utama untuk menjawab semua problem atas hal-hal yang sedang timbul dan terus akan timbul di dalam kehidupan komunitas orang percaya. Apapun yang menjadi rencana kita, apapun yang akan menjadi program ke depan, jangan menjadi sesuatu yang bertolak-belakang, berlawanan, tidak bersesuaian denganberita Injil Kristus dalam hidup kita. Kita bekerja, kita melakukan sesuatu, kita mem-planning hidup kita sebagai seorang anak Tuhan yang otentik, itu yang Paulus minta kepada jemaat di Filipi.
Dan selanjutnya, Filipi 1:27 dan 2:1-4 bicara tentang “sehati sepikir.” Jadi aspek hidup yang berpadanan dengan Injil ini kemudian Paulus jabarkan dengan isu yang ada di dalam kehidupan jemaat di Filipi. Hari ini adalah hari Pentakosta. Pada waktu Roh Kudus turun, Roh itu menjadi Roh pemersatu. Melalui persitiwa Pentakosta Ia membuang semua barrier di dalam budaya, membuang persoalan bahasa dan komunikasi di antara mereka. Peristiwa Pentakosta merupakan satu foretaste dari Allah, dan berita Injil itu menjadi unity dan available bagi semua bangsa. Unity tidak sama dengan uniform. Berita Injil tidak membuat orang menjadi uniform dalam arti seragam sebangsa. Berita Injil membuat orang itu unity. Dia tetap menjadi orang Elam, orang Midia, orang Partia, orang Arab, dia tetap menjadi orang Yahudi, orang Cina, orang Indonesia. Bahasa mereka berbeda, tetapi disatukan oleh peristiwa Pentakosta. Itu menjadi satu “ongoing process” sampai kepada langit dan bumi yang baru dimana Kristus menjadi Tuhan dan Raja yang memerintah, di situlah kita akan mengalami satu shalom di tengah-tengah perbedaan bahasa, budaya dan keadaan kita masing-masing. Namun Roh yang sama yang hadir pada hari Pentakosta itu adalah Roh yang menyertai pertumbuhan rohani di dalam hidup setiap anak-anak Tuhan. Kita tidak boleh menjadikan kelemahan kita sebagai excuses untuk kita tidak “striving toward for the unity in the Spirit.” Kita melihat orang Kristen yang lain, walaupun dia tidak di gereja kita, waktu dia mengalami penderitaan dan kesulitan, kita tidak boleh menjadi orang Kristen yang menutup mata mengabaikan mereka. Kita bisa mulai dengan berdoa untuk mereka dan kita mengulurkan tangan dan memikirkan bagaimana menolong mereka.
Dalam peristiwa Pentakosta kata “sehati sepikir” berkali-kali disebutkan menjadi ciri khas dalam kehidupan Gereja Mula-mula. Gereja berkumpul, berdoa, berbagi roti sama-sama dan mereka sehati sepikir (Kisah Rasul 2:41-47). Itu ciri khas dari Gereja Mula-mula menjadi satu keindahan sehingga orang-orang luar bisa melihat itulah hidup yang terjadi saat Injil terjadi di antara mereka. Paulus juga memakai kalimat itu mengingatkan jemaat Filipi dan mengingatkan kita semua hari ini.
Hal yang pertama, Paulus bicara tentang persoalan yang senantiasa konstan akan timbul ketika orang duduk sama-sama dan berkumpul menjadi komunitas. Problem persoalan ini sebenarnya bukan hanya dalam komunitas gereja, komunitas lain pun tidak lepas akan hal ini. Kelompok sosial apa saja termasuk itu perkumpulan arisan dsb, di dalamnya akan selalu dan senantiasa muncul ‘internal conflict,’ hal-hal yang membuat orang susah bersatu. Jelas di sini jemaat Filipi juga menghadapi hal yang sama. Meskipun Paulus tidak bicara terang-terangan di sini apa yang sedang terjadi di tengah mereka, tetapi hal-hal itu mungkin bisa terjadi dan bagaimana kita menjadi orang Kristen yang mendapatkan obat dan solusi terhadap setiap hal yang muncul sebagai konflik internal.
Bagian ini memberi kita prinsip yang penting bagaimana kita belajar untuk menghindarkan semua penyakit yang menyebabkan “disunity” itu.
Ada satu artikel menarik di Christian Post mengupas apa yang menyebabkan atau aspek-aspek apa yang paling utama menyebabkan terjadinya internal konflik atau hal-hal yang menjadikan disunity pada waktu satu komunitas berkumpul? Yang pertama, artikel itu menyebut adanya “Miss Gossip” di dalam komunitas. Begitu dua tiga orang berkumpul, pasti pembicaraan terjadi. Apa itu gossip? Bagaimana gossip bisa menjadi satu aspek negatif, menciptakan persoalan dan masalah dalam hubungan antar manusia?
Kitab Amsal memberi perbedaan antara “slander” dengan “gossip.” Slander atau cemooh adalah melalui perkataan menyerang seseorang dengan tujuan untuk membicarakan dan untuk menjelek-jelekkan dan menghancurkan orang itu. Sedangkan gossip tidak dalam pengertian seperti itu, tetapi adalah sesuatu yang bisa kita ngomong di belakang orang. Berbeda dengan slander, gossip tidak mempunyai intention untuk merusak dan menghancurkan reputasi orang yang digossipkan.
Tetapi sekali orang-orang berkumpul yang paling umum terjadinya konflik bukan action-nya, terlebih dahulu adalah perkataan. Kenapa orang bergossip? Ada dua sebab, pertama karena curious, ingin tahu urusan orang. Waktu melihat orang penampilannya hari ini sedikit berbeda, sudah mengusik rasa ingin tahu, lalu dibahas. Cara berpakaiannya, penampilan anak-anaknya, cara bicaranya dengan suami, dsb. Kita bukan cuma melihat, kita ngomong di belakang dia. Itu bukan karena ada tujuan kurang baik tetapi sekedar karena curious. Dari curious, lalu pembicaraan mulai berkembang. Pertama-tama masih bicara fakta, tetapi kemudian ditambah dengan opini dan bunga-bunga yang lain sampai akhirnya bisa melebar meluas kepada hal yang lain. Yakobus mengingatkan hal ini bisa menjadi berbahaya dan tidak boleh ada dalam komunitas orang percaya (Yakobus 3:5-12).
Lalu yang kedua sebenarnya gossip itu terjadi karena kita “over concerned” tetapi akhirnya berkembang ditangkapnya seperti mau menjelek-jelekkan orang itu, padahal sesungguhnya tidak seperti itu. Akhirnya waktu orang itu tahu dia digossipin, akhirnya terluka, tersinggung dan marah. Itulah yang seringkali terjadi walaupun sebetulnya tidak ada intention untuk membuat orang seperti itu. Kita over concerned karena kita hanya membicarakannya tanpa ada solusi untuk membantunya. Kita mungkin concern sama teman kita kalau dia tidak ada pekerjaan, kita concern akan kesulitan keluarga yang dialami. Ketimbang membicarakannya, jauh lebih baik dan lebih indah concern itu kita bawa di dalam doa pribadi kita kepada Tuhan.
Banyak orang akhirnya bilang dia tidak mau ikut persekutuan doa karena persekutuan doa menjadi sumber gossip. Sangat disayangkan kalau akhirnya aktifitas spiritual yang baik menjadi tidak baik dan seharusnya memang tidak seperti itu. Sebenarnya kita concern sehingga kita doakan, tetapi problemnya menjadi over concern. Yang dimaksud dengan over concern adalah kita tidak peka seringkali hanya sampai kepada perkataan, kita tidak lakukan dengan action perbuatan. Adakah kita berpikir untuk melakukan sesuatu yang positif untuk orang itu? Barangkali itu hanya berupa perhatian kecil yang sederhana, dengan memberi waktu dan bantuan esensial yang mungkin dia perlukan. Maka kesimpulannya, meskipun gossip itu adalah bagian dari kita memperhatikan, tetapi point yang paling penting adalah kita tidak boleh jatuh hanya sampai kepada ‘just talk,’ kita harus melakukan tindakan. Kita mengasihi, tetapi kasih yang terlalu over kurang baik. Kita concern kepada orang, tetapi kalau itu sampai hanya ngomong saja di belakang dia tanpa melakukan sesuatu, itu juga tidak baik. Firman Tuhan mengingatkan kita senantiasa jangan mengeluarkan perkataan yang kosong dan tidak berguna.
Yang kedua, artikel ini mengatakan penyebab terjadinya persoalan dalam sebuah komunitas adalah Mr. Fixer. Orang yang ada di dalam satu komunitas menjadi seorang yang self-exaltation, dan setiap kali dia berada dalam satu komunitas dia selalu mau atur sana-sini. Itu adalah akar dari terjadinya ketidak-sehatian. Selalu lihat kurang ini, kurang itu. Masuk ke gereja, bilang gedungnya tua, lampunya suram, khotbahnya terlalu panjang, pendetanya masih muda, wc-nya kurang bersih.
Yang lalu ada orang bilang gereja ini kurang ada misi. Saya tanya, misi yang seperti apa? Dia bilang, misi yang pikirkan pelayanan yang lain, tetapi sorry to tell, orang yang seperti itu just come with self-exaltation, anggap diri yang paling benar, lalu tunjuk sana-sini keliru dan salah. Tetapi pada waktu dia diminta untuk mengerjakannya, sama sekali dia tidak kerjakan.
Yang ketiga, dalam komunitas jangan sampai ada sikap “serve me, please.” Kita berkumpul menjadi gereja ada orang berpikir apa yang bisa saya dapatkan dari tempat ini, apakah saya dilayani dengan baik, apakah saya diperhatikan, jika saya tidak dilayani dengan baik maka saya akan pindah cari tempat yang lain.
Paulus melihat salah satu kebahayaan di dalam jemaat Filipi adalah tendensi yang bisa mengakibatkan disunity di dalam jemaat. Hal ini bisa terjadi kepada gereja dimana saja, termasuk yang kita kira adalah gereja yang sehat sekalipun. Dalam Filipi 2:3 Paulus menyebutkan “dengan tidak mencari kepentingan diri sendiri dan puji-pujian yang sia-sia…” selfish ambition dan personal prestige menjadi dua hal yang di-address oleh Paulus. Berarti di tengah mereka ada orang-orang seperti itu di antara jemaat Filipi, yang dengan selfish ambition dan yang mementingkan prestige diri, ingin dikagumi dan dipuji-puji, selalu mencari penghargaan dari orang. Dua sifat ini terjadi ketika seseorang terlalu berpusat kepada diri dan memikirkan segala sesuatu yang hanya menjadi interest-nya belaka.
Maka, bagaimana perintah Paulus untuk kita hidup berpadanan dengan Injil Kristus itu dijabarkan dalam hidup kita sehari-hari? Dalam Filipi 2:1 Paulus berkata, “Jadi, karena di dalam Kristus ada nasehat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan…” Pertanyaan yang paling penting adalah mengapa Paulus mengeluarkan kata-kata seperti ini?
Kata “persekutuan Roh” memakai kata “koinonia” yang berarti fellowship sama-sama. Sama-sama berarti engkau dan saya sama-sama berbagian memikirkannya. Saya bukan menjadi orang yang lebih tinggi, lebih besar kuasa dan kedudukannya, lebih baik dan lebih benar. Sama-sama berarti berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Memang lebih mudah men-judge kekurangan orang, maka di bagian selanjutnya Paulus mengatakan ada mercy, kata yang dipakai adalah “splagxna” yang dipakai di ayat waktu Yesus melihat orang banyak itu tergeraklah Ia oleh belas kasihan karena mereka terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Kata “spalgxna” kalau diterjemahkan adalah isi perut atau isi hati sampai meluap keluar, sehingga ada terjemahan yang menyebutkan “a heart full of compassion.”
Paulus mengingatkan anak-anak Tuhan untuk hidup sehati sepikir, jangan menjadikan kepentingan diri lebih utama daripada kepentingan orang lain. Jangan menganggap diri lebih utama daripada yang lain. Tidak gampang dan tidak mudah waktu itu melepaskan sikap-sikap seperti ini dalam komunitas gereja. Orang yang kaya, berkedudukan dan banyak hartanya selalu ada di tempat terhormat dan dilayani, sementara ada pekerja dan budak yang sama-sama berbakti. Di dalam hidup sehari-hari mereka adalah lumrah terjadi perbedaan social seperti ini.
Ayat 4 Paulus berkata, “Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri…” Sikap mau dilayani senantiasa menuntut orang berfokus kepada apa yang menjadi kepentingannya untuk dipenuhi. Paulus mengingatkan kita harus belajar memperhatikan kepentingan dan kebutuhan orang lain terlebih dahulu.
Kiranya melalui firman Tuhan ini kita dipanggil menjadi satu jemaat yang sehati sepikir. Meskipun tidak akan tidak ada perbedaan karena kita adalah manusia yang lemah dan berdosa. Itulah sebabnya nanti di ayat 5 Paulus mengingatkan model kita untuk melayani orang lain adalah meneladani Yesus Kristus, model kita yang self-denial, yang menghibur menguatkan orang lain bukanlah pendeta atau siapa-siapa, melainkan Yesus Kristus. Sebagai gembala, saya masih ada kelemahan dan kesalahan karena saya masih “in progress” belajar melayani seperti Kristus. Dalam komunitas bersama-sama, kita bisa melukai orang, memperhatikan hanya dengan kata-kata tanpa melakukan apa-apa, itulah kita. Itu sebab kita perlu terus-menerus menjadikan Kristus sebagai model kita. Kita perlu terus bertumbuh dengan baik di dalam firmanNya. Ia memanggil kita untuk mengasihi dan mencintai satu dengan yang lain. Orang akan melihat kita menjadi satu komunitas yang indah pada waktu kita bersatu, kita saling mengasihi, kita penuh dengan rendah hati. Kiranya firman Tuhan ini memimpin hidup setiap kita. Kiranya berita Injil yang telah merubah dan membentuk hidup kita boleh menjadi berita Injil yang kita hidupi sama-sama, berkarya di tengah-tengah kita. Di dalam kelemahan dan kekurangan yang ada kiranya kita boleh menjadi satu umat Allah yang belajar meneladani Kristus yang menjadikan setiap kita indah di dalam Tuhan.(kz)