04. Hidup dan Mati bagi Kristus

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Surat Filipi (4)

Tema: Hidup dan Mati bagi Kristus

Nats: Filipi 1:20-30

 

Ada satu realita tentang kematian yang tidak bisa kita elakkan: cepat atau lambat, siap atau tidak siap, kematian akan datang kepada siapa saja yang pernah ada dan hidup di dunia ini. Kematian menjadi satu realita yang ada dan tidak bisa dihindarkan, meskipun orang tidak mau mengakui keberadaannya dan tidak suka membicarakannya.Kita mungkin enggan dan sungkan mengupas topik kematian dengan orang-orang lain, terlebih kepada mereka yang sedang terbaring di rumah sakit dan mereka yang terkurung di penjara menanti eksekusi hukuman matinya. Tetapi bagaimana jika kita sendiri yang mengalami hal itu, saat kita tahu bayang-bayang kematian mendekat, tibalah saatnya kita harus kontemplasikan akan hal ini. Pada waktu kita terbaring di rumah sakit, saat orang membesuk kita mungkin bisa lupa sejenak, ketika kita tidur kita mungkin bisa lupa sesaat, tetapi pada waktu kita tersendiri tidak ada orang di sekitar kita, dalam kesunyian mendengar jam berdetik, normal dan wajar kita akan memikirkan mengenai kematian. Saat mendengar hasil test darah dan mengetahui ada sel-sel kanker bersarang di tubuh kita, saat dokter mengatakan sel-sel itu sudah menyebar luas dan diperkirakan waktu hidup kita sudah tidak lama lagi, kematian akan menjadi momok yang memenuhi pikiran kita. Sebentar lagi hidupkita di duniaakan selesai dan pikiran mengenai kematian memenuhi benak kita.

Puji Tuhan. Kita bersyukur kepada Tuhan meskipun bagian Filipi 1:20-30 ini sangat pendek sekali, hanya 10 ayat saja, tetapi ini adalah ayat-ayat yang begitu indah yang keluar dari pergumulan rasul Paulus dan menjadi wahyu Tuhan yang dituliskan supaya menjadi contoh respons kita sebagai orang Kristen pada waktu kita menghadapi kematian datang kepada hidup kita. Di sini Paulus berbicara mengenai apa arti hidupnya dan bagaimana dia menghadapi kematian yang ada di depannya.Doaku bagian firman Tuhan ini kiranya boleh membimbing hati kita bagaimana sebagai seorang Kristen berespons terhadap kesulitan, penderitaan bahkan kematian yang datang ke dalam hidup kita. Kita tidak bisa mencegah keluarga kita dan orang-orang yang mengasihi kita akan berduka dan merasa kehilangan. Tetapi pada waktu kita sendiri melihat dalam satu perspektif yang indah, mengertinya di dalam kacamata kebenaran firman Tuhan, kita tidak melihat hal itu sebagai kemalangan dan keterhilangan di dalam hidup ini.

Dunia tercengang dan heran menyaksikan sikap dan respons yang sangat berbeda dari anak-anak Tuhan, orang-orang yang percaya Tuhan, saat menghadapi ancaman dan kematian, saat sakit penyakit yang berat dan dahsyat terjadi, begitu indah dan begitu luar biasa respons dari diri orang-orang beriman, begitu kontras dibandingkan dengan orang yang tidak percaya Tuhan. Itu hanya bisa terjadi pada saat seseorang mengerti bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya.Kematian tidak boleh dipandang sebagai kesialan dan kemalangan.Kematian tidak boleh dilihat sebagai sesuatu yang nista dan sedapat mungkin harus kita hindarkan dan abaikan.Semua itu muncul karena kita bisa melihat bagian firman Tuhan ini begitu indah adanya.

Setelah waktu berjalan dan lewat, berada di dalam penjara tersendiri tanpa kepastian yang jelas dan situasi yang terkatung-katung tidak menentu, apakah akan lepas bebas atau justru eksekusi akan dilakukan, tentu adalah hal yang normal bagi orang-orang yang berada di dalam situasi seperti itu akan memikirkan mengenai kematian dan bagaimana hidupnya. Itulah konteks yang Paulus sedang alami saat menulis surat ini.

Membaca perikop ini kita melihat Paulus berbicara tentang soal hidup dan mati itu menjadi sesuatu yang terus-menerus ada berulang kali muncul silih berganti di dalam pikiran Paulus.“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21). “Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah…” (Filipi 1:22). “Aku ingin pergi dan diam bersama-sama Kristus, itu memang jauh lebih baik, tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu…”(Filipi 1:24).

Pertama, ada nada optimistik dari kalimat Paulus ini menyatakan pengharapan dan rencananya kalau dia bisa keluar dari penjara dan berkesempatan kembali ke Filipi. Meskipun kita tidak dapat memastikan dimana tepatnya Paulus dipenjarakan waktu itu, jikalau benar Paulus menulis surat ini waktu dia dipenjarakan di Roma, maka ini adalah fase terakhir hidupnya dan dia tidak ada kesempatan lepas sebagai orang bebas. Bahkan sejarah mencatat Paulus akhirnya meninggal di sana. Tetapi di dalam bagian ini kita bisa melihat ada pengharapan, ada doa keinginan supaya dia bebas dan lepas. Paulus berkata, “Dan dalam keyakinan ini tahulah aku, aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu sekalian supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman…” (Filipi 1:25). Dan selanjutnya, ayat 27 “…supaya apabila aku datang, aku melihat, dan apabila aku tidak datang, aku mendengar bahwa kamu teguh berdiri…”

Pada waktu kita mengalami kesulitan, pada waktu penderitaan datang melanda hidup kita, pada waktu kita mengalami sakit yang keras, apa yang harus kita lakukan? Alkitab meng-encourage kita untuk menaikkan doa kepada Tuhan, memohon kelepasan dan kesembuhan dan agar kita boleh diluputkan dari kesulitan, penderitaan dan sakit-penyakit itu. Dalam bagian ini Paulus dengan terbuka menyatakan doadan pengharapannya untuk hal itu, dia ingin dilepaskan.

Mari kita memikirkan lebih dalam aspek pertama ini, karena inilah yang seringkali menjadi sikap ambiguitas orang Kristen: kita sebagai orang Kristen kadang-kadang berpikir kalau Tuhan di dalam kedaulatanNya mengijinkan kita mengalami kesulitan, penderitaan dan sakit maka kita tidak perlu berdoa minta kelepasan dariNya. Sudahlah, pasrah dan terima saja.Dan kita kadang berpikir kalau minta kesembuhan dari penyakit yang kita alami berarti kita tidak menerima realita dan kehendak Tuhan bagi kita.Itu pikiran yang keliru. Kita tidak boleh mengkontraskan antara sikap ketaatan dengan keinginan kita memohon hal yang baik di dalam doa kita.

Namun di pihak lain ada orang Kristen bersikap harus berdoa minta kesembuhan, lalu sebagai tanda hatinya bulat beriman bahwa Tuhan akan menyembuhkan, dia menolak makan obat, menolak menjalani operasi dan tidak mau menerima semua supplement yang dibutuhkan oleh tubuhnya. Diabilang saya percaya Tuhan akan sembuhkan, lalu dia menantikan hal itu dengan pasif dan tidak berusaha melakukan sesuatu.

Tetapi sebaliknya ada juga orang Kristen waktu mengalami sakit dia terlalu bersandar kepada obat-obatan dan kepada kemampuan dari kemajuan kedokteran dan dia berpikir itulah yang bisa menyembuhkan dan tidak melihat bahwa kuasa di dalam berdoa dan memohon kepada Tuhan merupakan sesuatu yang di-encourage oleh firman Tuhan.

Di dalam Alkitab kita menemukan bahwa bijaksana Allah itu luar biasa indah di dalam alam semesta ini.Allah menciptakan tumbuh-tumbuhan dan di dalamnya ada satu interkoneksi yang indah sehingga kita bisa melihat Allah yang bijaksana itu menyediakan segala yang baik bagi kebaikan kita.Di dalam natur Allah memberikan biji-biji dan daun dan akar untuk menjadi obat memberi kesembuhan bagi berbagai penyakit.Bahkan di dalam tubuh kita sendiri Allah memberikan immune system untuk melawan bakteri dan virus yang setiap saat bisa masuk menyerang, yang kadang-kadang dengan tidur dan istirahat yang cukup bisa sembuh.

Kepada Timotius yang sering sakit-sakitan, tentu Paulus mendoakan dia, tetapi sekaligus Paulus juga memberi nasehat agar Timotius menjaga kesehatan tubuhnya, sekaligus minum obat. Dalam 1 Timotius 5:23 Paulus mengingatkan Timotius, “Janganlah minum air saja, tambahkanlah anggur sedikit berhubung pencernaanmu terganggu dan tubuhmu sering lemah…” Dalam Kolose 4:14 ada “tabib Lukas” yang menyertai dia dalam perjalanan pelayanannya. Paulus mengingatkan Timotius yang sering sakit dan lemah tubuhnyauntuk minum anggur yang lebih higienis daripada air yang pada waktu itu dan anggur ada unsur memberikan sedikit kekuatan seperti ‘ciapao’ bagi orang Cina. Dalam Yakobus 5:13-14 dikatakan, “Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa. Kalau ada seorang yang bergembira, baiklah ia menyanyi. Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil penatua untuk mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan…” Ada aspek berdoa untuk minta kelepasan; berdoa untuk minta kesembuhan; berdoa untuk meminta Tuhan bekerja di dalam situasi hidup kita. Firman Tuhan memanggil kita untuk percaya dan berdoa akan hal-hal itu. Saat kita sakit mintalah Tuhan memberi kesembuhan.Di dalam penjara Paulus juga minta kepada Tuhan supaya dilepaskan.

Maka bagaimana respons kita kepada kesulitan dan penderitaan dan sakit yang ada? Firman Tuhan dalam bagian ini mengajarkan kepada kita, kiranya kita selalu memiliki pengharapan, selalu memiliki hati yang positif, tidak perlu guilty berdoa di dalam situasi seperti ini meminta Tuhan dengan berharap dan berdoa agar Tuhan melepaskan dan memberi kekuatan dan kesembuhan kepada kita. Kita pergi ke dokter, tetapi kita juga tidak boleh mengabaikan hati dan lutut kita berdoa karena kita percaya di dalam doa itu Tuhan bekerja bagi kita.

Kedua, meskipunPaulus bilang, aku yakin aku akan bebas dan aku akan ada bersama-sama lagi dengan kamu sekalian, kita tahu keinginannya ini tidak terjadi.Tetapi tidak terjadi tidak berarti Tuhan tidak bekerja, bukan?Tidak sembuh, tidak berarti Tuhan tidak berkarya dan kita tidak boleh meminta kesembuhan.

Paulus tetap tinggal di dalam penjara, dan meskipun dia tetap tinggal di dalam penderitaan, Paulus tetap bersukacita.Lebih jauh lagi, Paulus di dalam bagian ini berbicara bahwa penderitaan itu pun adalah “graciously given” kepada kita. “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia…” (Filipi 1:29).

Tidaklah salah jikalau kita berusaha menghindar dari kesulitan, tidaklah salah kita menjauh dari hal-hal yang mendatangkan mara bahaya.Jangan merasa guilty kita menyambut dengan sukacita sesuatu yang menjadi keindahan, kebaikan dan berkat bagi kita.Jangan merasa sungkan menikmati keuntungan dan kesuksesan yang kita peroleh dari usaha pekerjaan kita.Itu adalah hal yang normal adanya.

Namun bagian firman Tuhan ini memberikan pengertian yang dalam dan indah bahwa kesulitan dan penderitaan tidak boleh kita anggap sebagai kesialan, sebagai hal yang nista terjadi di dalam hidup kita.Meskipun hal ini tidak bisa kita pahami sepenuhnya dengan akal manusia, firman Tuhan ini mengangkat aspek dari kesulitan dan penderitaan yang dialami oleh anak-anak Tuhan itu pun karena Allah mengaruniakannya kepada kita.Karunia itu apa? Karunia berarti itu sesuatu yang tidak layak kita terima tetapi diberikan oleh Allah sebagai sesuatu yang luar biasa.Kita pahami keselamatan adalah karunia Allah, kita pahami penebusan adalah anugerah Allah, karena kita tidak bisa mendapatkan hal itu dengan seberapa pun kerasnya usaha dan perbuatan kita.Tetapi di sini kita dibawa kepada pengertian yang lebih dalam lagi, yaitu bahwa penderitaan dan suffering adalah pemberian anugerah Allah bagimu.

Dalam bukunya “If God is Good,” Randy Alcorn mengatakan “Suffering creates a sphere of influence for Christ that we couldn’t otherwise have.” Lewat penderitaan yang dialami anak-anak Tuhan, Tuhan bekerja dan berkarya. Lewat penderitaan itu anak-anak Tuhan mengalami kehidupan spiritual yang begitu nyata, menyaksikan anugerah Allah yang tidak pernah berhenti mengalir dalam hidup mereka, membuka kesempatan bagi anak-anak Tuhan itu menyatakan kasih Kristus, dan hidup mereka menjadi inspirasi yang selalu menguatkan dan menghibur orang-orang lain yang juga menderita.

Paulus mengatakan, kepada kita juga dikaruniakan untuk menderita untuk Kristus. Pada waktu kita terus berada di dalam situasi yang seperti itu, dapatkah kita tetap bersukacita bahkan bisa bersyukur kepada Tuhan akan karunia untuk menderita bagiNya? Kisah Rasul 5:17-42 mencatat rasul-rasul yang memberitakan Injil mengalami penderitaan, secara fisik ditangkap, dipukul, dipenjara, namun mereka bisa bersukacita di tengah semua itu karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena nama Yesus. Puji Tuhan! Ini adalah respons yang luar biasa indah terhadap hal penderitaan yang Tuhan beri kepada kita pribadi lepas pribadi pada waktu kita menghadapi akan hal itu.

Ketiga, Paulus berkata kematian dipandang bukan sebagai akhir tetapi kita menuju kepada sesuatu yang lebih baik. “Aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus, itu memang jauh lebih baik…” (Filipi 1:23). Prinsip ini penting dan harus kita pahami baik-baik.Akan tiba saatnya kita masing-masing menghadapi kematian. Ada orang yang menghadapi kematian secara mendadak, ada yang mungkin mengalami proses sakit yang panjang lebih dulu, ada orang yang tidak terduga meninggal karena banyak sebab. Kita tidak bisa menolak saat kematian tiba, dan mungkin kita tidak siap dan tidak prepare akan hal itu. Namun di dalam proses sakit yang panjang mungkin kita akan terus bergumul dan memikirkan akan hal itu. Kiranya di tengah semua itu hati kita tidak akan pernah goyah sebab kita tahu kematian itu bukan suatu kemalangan, walau kita tidak mengabaikan sakit dan deritanya, tetapi pada waktu kita berkata ‘aku mau segera ketemu Tuhan’ itu bukan karena kita sudah tidak tahan akan sakitnya tetapi karena pergi kepada Kristus dan mendapatkan sentosa di dalam Dia.

William Barclay mengatakan, “Living is Christ to me. Death is gain. Death was entrance into Christ’s nearer presence. If we believe in Jesus Christ, death for us is union and reunion, union with Him and reunion with those whom we have loved and lost awhile.” Paulus mengatakan kematian berarti aku pergi bersama Kristus, itu jauh lebih baik bagiku. Bukan karena dia kecewa atau merasa penderitaan di penjara berat tetapi karena dia tahu kematian itu hanyalah sementara dan dia akan bertemu dengan Tuhan selamanya. Itulah bedanya pada waktu kita sebagai anak-anak Tuhan menghadapi kesulitan, penderitaan dan kematian.

Terakhir, dalam Filipi 1:22 Paulus berkata, “Tetapi jika aku harus hidup di dunia itu berarti bekerja memberi buah…” Firman Tuhan memberikan dorongan kepada kita untuk berharap, berdoa dan meminta Tuhan melepaskan kita dari kesulitan dan penderitaan.Kita boleh berdoa di dalam sakit agar Tuhan menyembuhkan kita.Tetapi point ke empat ini lebih penting untuk kita kaitkan pada waktu kita meminta dilepaskan, kita minta disembuhkan, kita tidak boleh menjadikan kelepasan dan kesembuhan itu sebagai tujuan akhir dan menjadi segala-galanya. Kalau saya dilepaskan, kalau saya disembuhkan, hal itu bukan menjadi tujuan akhirnya dan bukan itu yang menjadi kebanggaanku melainkan melalui kesempatan yang Tuhan beri itu apa yang harus aku kerjakan dan lakukan? Paulus berkata, jika aku diberi kesempatan untuk hidup lebih lama, itu berarti aku akan menjalani hidup yang berbuah.Jika Tuhan panjangkan hidupku, itu berarti hidupku harus fruitful.

Banyak orang mungkin menanti, mendesak Tuhan terus mau disembuhkan.Jangan berhenti sampai kepada aspek itu. Untuk apa kita minta kesembuhan? Untuk apa kita minta umur kita diperpanjang? Bukan hanya karena kita masih belum siap, kita masih punya anak-anak yang masih kecil, itu aspek yang lain, aspek saya masih punya keluarga. Saya mau punya kesempatan membesarkan anak-anak itu, tetapi membesarkan mereka untuk apa? Untuk lebih mencintai mengasihi Tuhan.Kalau Tuhan kasih kita kesempatan hidup lebih panjang, itu berarti hidup kita itu memberi buah di dalam segala aspek kehidupan ini.

Kiranya firman Tuhan ini boleh memelihara dan menuntun kita berespons kepada moment akhir diri kita masing-masing.Pertama, Tuhan mengijinkan, Tuhan meng-encourage kita karena Ia adalah Allah yang memelihara dan menyembuhkan, kita boleh berdoa meminta Tuhan memberikan itu kepada kita. Kedua, jika kita tetap tinggal di dalam keadaan kita, sakit, kesulitan dan penderitaan tidak lalu dari kita, Paulus melihat itu sebagai ‘graciously given by God.’ Kita tidak perlu kecewa kepada Tuhan, kita tidak perlu malu memikirkan apa yang orang pikir kenapa Tuhan tidak menjawab doa kita, kita tidak boleh melihat itu sebagai kesialan dan nista atau kesalahan kita. Ketiga, pada waktu kematian itu akhirnya tiba, kematian itu tidak pernah menjadi sesuatu yang menakutkan, kematian bukan akhir dari hidup kita, kematian justru menjadi moment dimana kita menuju kepada hal yang lebih indah dan lebih baik karena kita pergi bersama-sama Tuhan kita. Yang terakhir, kalau kita diberi kesempatan oleh Tuhan hidup satu hari lebih panjang, itu berarti Tuhan ingin kita memiliki a fruitful life di dalam hidup ini.

Kita bersyukur firman Tuhan senantiasa memberi penghiburan dan kekuatan bagi setiap kita.Paulus di dalam penjara boleh berespons dengan indah, hatinya bersukacita. Di tengah kesulitan, penderitaan dan kematian yang sudah ada di depan mata, kita pun juga bisa bereaksi dengan hati yang bersukacita, melimpah dengan syukur, menghargai setiap berkat Tuhan, karena setiap kita hidup tidak akan pernah lewat dari setiap tantangan dan kesulitan. Jangan biarkan hati kita menjadi iri terhadap keuntungan dan kelancaran orang lain, jangan biarkan hati kita menjadi marah ketika kita mengalami ketidak-baikan. Tetapi justru kita belajar mengasihi, penuh dengan damai sejahtera, hati yang melimpah dengan syukur, makin bertumbuh dewasa di dalam iman.(kz)