01. The Marks of the Christian Life: Joy

Sun, 26 Apr 2015 12:31:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Surat Filipi (1)

Tema:The Marks of the Christian Life: Joy

Nats: Filipi 1:1-11 

Menjelang ulang tahun gereja kita yang ke 16, pelayanan yang kita awali sama-sama di dalam kekuatan dan anugerah dari Tuhan, kita akan mengeksposisi satu surat pastoral dari rasul Paulus.Surat Filipi adalah satu surat yang begitu indah dan yang menjadi salah satu surat favorit bagi orang Kristen sepanjang jaman. Beberapa tema yang indah muncul dalam surat ini: ada tema sukacita, persekutuan partnership dalam berita Injil, tema kasih dan penderitaan, tema kerendahan diri dan ketabahan, panggilan untuk berdiri teguh bagi Injil dan tetap bersatu di dalam kasih, tema-tema yang tetap relevan dan dibutuhkan oleh gereja Tuhan saat ini seperti pada waktu surat ini dituliskan dua ribu tahun yang lampau.

Paulus menulis surat ini di tengah keadaan terbelenggu di dalam penjara. Namun kontras dengan keadaan dan situasi yang sedang dialaminya, Paulus menulis dengan penuh sukacita melimpah karena surat ini ditujukan kepada satu jemaat yang melayani Tuhan dengan indah. Pelayanan mereka bukan hanya diserahkan dan dikerjakan oleh pendetanya seorang diri. Pendeta, misionari dan semua hamba Tuhan bisa berlalu, mereka bisa ditangkap dan dipenjara, tetapi pekerjaan Tuhan tidak akan pernah bisa dibelenggu oleh rantai penjara jikalau dari setiap orang percaya ada hati yang melayani bersama-sama. Itulah keindahan yang terjadi di tengah jemaat Filipidan itu membuat hatinya teduh dan tenang di dalam penjara.

Apa yang menjadi hal yang terpenting bagi seseorang di saat-saat terakhir hidupnya? Sayang sekali ada banyak orang yang sampai di saat-saat menjelang dia meninggalkan dunia ini masih berat hati memikirkan bagaimana kelanjutan usaha bisnisnya, memikirkan siapa yang akan mengurus harta bendanya, memikirkan hal-hal yang sebetulnya tidak perlu lagi menjadi hal-hal yang dia kuatirkan menjelang menghembuskan nafas terakhir. Ada kekuatiran yang mungkin berlebihan, ada kekuatiran yang mungkin wajar, tetapi memang pada saat kita berada dalam situasi dimana kita tidak mungkin bisa keluar dan lepas karena keterbatasan dan limitasi, kita bisa kuatir. Kita kuatir mungkinkah hal ini bisa survive tanpa kehadiran kita? Mungkinkah usaha ini bisa terus berjalan?Mungkinkah pekerjaan ini bisa terus berlanjut?

Paulus di dalam keadaan terbelenggu di penjara, dibatasi oleh dinding dan ruang yang sempit, pandangannya tidak bisa melihat jauh ke depan. Namun kita bersyukur di dalam keadaan seperti itu mata rohaninya tidak menjadi lamur dan perharapannya tidak menjadi luntur. Puji Tuhan! Kita bersyukur kepada Tuhan, firman Tuhan hari ini menjadi kekuatan yang kembali lagi memberi keyakinan kepada kita Tuhan tidak akan meninggalkan pekerjaan Tuhan terbengkalai. Paulus berkata, “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya yaitu Ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus…” (Filipi 1:6).

Membaca surat-surat yang ditulis Paulus kita bisa menemukan karakteristik jemaat yang berbeda-beda.Jemaat Korintus adalah jemaat yang membuat Paulus mencucurkan air mata, jemaat yang penuh dengan persoalan, jemaat yang terpecah-belah, hidup dalam imoralitas. Paulus menulis surat kepada jemaat ini dengan kesedihan dan beban berat, walaupun jemaat Korintus penuh dengan potensi. Kita bisa melihat surat Galatia sebagai surat yang mengekspresikan kegalauan hati Paulus melihat kesulitan yang ada di situ. Namun membaca suratFilipi kita tidak menemukan nada-nada emosi negatif dari Paulus. Sebaliknya meskipun dalam jemaat ini nanti kita temukan ada masalah, ada pergumulan, ada perselisihan, tetap Paulus penuhberlimpah dengan sukacita.

Dimana Paulus dipenjara saat menulis surat ini? Ini adalah satu pertanyaan yang penting, karena berdasarkan dimana Paulus dipenjara bisa menghasilkan penafsiran yang berbeda. Dalam surat ini Paulus tidak menyebutkan dimana tepatnya dia dipenjarakan. Ada beberapa kali Paulus ditangkap dan dipenjara dalam pelayanannya di beberapa kota. Ada saat dia dipenjara hanya beberapa hari, ada saat dia dipenjara cukup lama.Menilik kalimat Paulus di Filipi 1:16 pemenjaraannya saat itu sangat serius dimana pengadilannya bisa berkaitan soal hidup atau hukuman mati baginya (Filipi 1:20-24, 30; 2:17).Tafsiran tradisional dari Bapa-bapa Gereja mengambil penafsiran saat menulis surat ini Paulus ada di penjara di Roma, berarti tidak ada kemungkinan dia bebas dan itu adalah masa-masa menjelang dia dieksekusi tahun 60-62AD. Gereja Filipi kapan berdiri?Diperkirakan gereja Filipi mulai antara tahun 49-52AD pada perjalanan misi Paulus yang kedua.Berarti ada selang waktu 12 tahun lamanya.Penafsiran ini didasari beberapa indikasi dari Filipi 1:13 “…sehingga telah jelas bagi seluruh istana bahwa aku dipenjarakan karena Kristus…” di sini Paulus memakai kata khusus dia dipenjara di “praetorium” menunjukkan penjara istana, yang kemungkinan besar hanya ada di Roma.Filipi 4:22 “…dari istana kaisar” menunjukkan dukungan terhadap tafsiran ini.Ini adalah masa pemenjaraan Paulus yang terakhir, dimana dia tidak ada kesempatan untuk bebas lagi.

Di dalam pendahuluan suratnya ini Paulus memulai dengan tiga hal penting yang dinyatakannya berkaitan dengan apa yang dia kerjakan kepada jemaat Filipi. Yang pertama, dari ayat 3-5 suatu pernyataan syukur, satu eucharisto dan gratitude kepada Allah.Yang kedua, dari ayat 7-8 Paulus menyatakan affectionate hatinya yang mesra sekali terhadap jemaat ini. Yang ketiga, dari ayat 9-11 sebuah doa dari bapa rohani bagi pertumbuhan spiritual anak-anaknya.

“Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu…” (Filipi 1:3), ayat ini memperlihatkan Paulus bersyukur saat dia mengingat jemaat Filipi.Dalam terjemahan bahasa Inggris ada sedikit perbedaan “I thank my God for all your remembrance of me…” di sini Paulus bersyukur karena jemaat Filipi mengingat Paulus. Either way, keduanya adalah hal yang membawa hati Paulus bersyukur, saat memori ingatan Paulus kepada jemaat Filipi atau saat Paulus tahu jemaat Filipi mengingat akan dia. Saling mencintai, saling mengasihi, saling memperhatikan, saling mengingat dari dua belah pihak.Kalau kita terjemahkan ayat ini seperti versi Inggris “your remembrance of me…” menunjukkan kasih dan perhatian jemaat terhadap Paulus tetap ada meskipun Paulus tidak ada lagi bersama mereka di Filipi. Jemaat itu bertumbuh dan jemaat itu melayani, berdiri di atas kaki sendiri, menghadapi tantangan kesulitan dan problema yang ada mereka tetap mengingat rasul Paulus dan perhatian itu mereka nyatakan dengan mengirimkan sebagian dana mendukung kebutuhan hidup dan pelayanan Paulus (band. Filipi 4:10-16).

Bagaimana gereja Filipi ini terbentuk dicatat cukup teliti dalam Kisah Rasul 16, dimulai dari pelayanan Paulus yang mempertobatkan Lidia.Setelah Lidia bertobat, Alkitab mencatat Lidia mendesak Paulus dan rombongannya untuk tinggal di rumahnya dan ayat 40 memperlihatkan rumah Lidia menjadi awal cikal bakal gereja Filipi itu terbentuk. Di bagian ini juga diceritakan akan pertobatan seorang wanita yang mempunyai roh tenung. Akibat kepercayaannya kepada Kristus, orang-orang tidak lagi mendapatkan pelayanan dia dan majikan-majikan dari wanita ini tidak senang karena penghasilan mereka dari wanita ini berkurang dan mereka menimbulkan keributan sehingga tentara menangkap Paulus, memukuli dan memenjarakan dia. Tetapi di tengah penjara pun Paulus bersukacita, memuji dan memuliakan Tuhan. Di dalam penjara pun Paulus tetap melayani dan mengabarkan Injil kepada para narapidana yang ada di sana. Pada waktu mereka menyanyikan pujian, terjadi gempa yang hebat dan dinding-dinding penjara roboh dan belenggu mereka terlepas.Kepala penjara begitu kaget dan mau bunuh diri karena dia mengira semua narapidana sudah lari.Tetapi dia heran melihat mereka semua duduk sama-sama mendengarkan rasul Paulus memberitakan firman.Dan hari itu Paulus membimbingnya untuk percaya kepada Tuhan Yesus bersama seisi rumahnya. Puji Tuhan! Hasil dari pengalaman pahit dia ditangkap, dipenjara, disiksa dan didera kepala penjara beserta keluarganya menerima Tuhan Yesus, meskipun setelah itu Paulus terpaksa harus meninggalkan tempat itu karena tekanan dari pejabat kota Filipi. Kisah Rasul memperlihatkan pelayanan di Filipi adalah pelayanan yang penuh dengan resiko dan tantangan namun jemaat tidak goncang dan goyah; jemaat penuh dengan hati yang suportif. Sampai kemudian di ayat 40 Paulus meninggalkan kota Filipi dan jemaat itu kita tidak tahu bagaimana kelanjutannya sampai dengan surat Filipi ini ditulis.

Yang kedua, Paulus mengucap syukur bukan saja jemaat ini ingat akan rasul Paulus, bukan saja mereka berdoa baginya, namun juga mereka mendukung dan membantu pelayanan bersama-sama Paulus. Ini merupakan sesuatu jiwa yang luar biasa dari jemaat Filipi. Ayat 5 “Aku mengucap syukur kepada Allah karena persekutuanmu di dalam berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini…” atau dalam versi bahasa Inggris “active partnership in the Gospel.” Dalam hal ini Paulus menyerahkan perasaan dia di dalam penjara itu tidak ada ketakutan dan kekuatiran.Paulus bersyukur karena jemaat Filipi luar biasa. Kita perlu belajar dari bagian firman Tuhan hari ini, satu bagian yang membuat Paulus bersyukur dan bersukacita luar biasa lebih daripada segala-galanya, sebab kita menyaksikan jemaat ini walau hamba Tuhannya sudah tidak ada, sudah belasan tahun berpisah, mereka tetap menjadi rekan pelayanan yang bersama-sama dengan rasul Paulus. Maka Paulus menggunakan kata ini “active partnership in the Gospel.” Paulus juga tidak menjadi takut dan kecewa, sepeninggalannya dia percaya sepenuhnya Allah yang telah memulai pekerjaan yang baik di tengah-tengah mereka, Ia akan menggenapkan pekerjaan itu sampai pada akhirnya.

Apa lagi yang menjadi sukacita dari seorang hamba Tuhan seperti rasul Paulus di tengah belenggu dan ruang penjara yang mempersempit ruang geraknya, selain dia mengucap syukur kepada Tuhan ada jemaat seperti ini yang mencintai dan melanjutkan mengerjakan pelayanan Tuhan dengan dedikasi yang luar biasa? Dia mengingat akan orang-orang yang pernah melayani terus-menerus mendukung pekerjaan Tuhan seperti itu, terlibat partnership dengan aktif bersama-sama dalam pelayanan Injil. Dan yang membuat rasul Paulus mengucap syukur lebih dalam lagi adalah, “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya yaitu Ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus…” (Filipi 1:6). Kita bersyukur bukan karena jemaat ini hebat dan Paulus berani melayani dengan konsekuensi masuk ke dalam penjara.Paulus bersyukur bukan oleh karena dia melihat ada generasi penerus yang melanjutkan pelayanan itu tetapi dia bersyukur karena dia bisa melihat dengan mata rohaninya walaupun dia terbatas di dalam penjara kita memiliki Tuhan yang tidak bisa dibatasi oleh penjara, oleh dimensi ruang dan waktu. Maka sukacitanya menjadi penuh sebab Tuhan yang kita sembah itu adalah Tuhan yang tidak pernah lalai dan membiarkan orang-orang yang sudah mengerjakan pelayanan itu tanpa Ia selesaikan sampai akhir.

Ini juga yang membuat hati kita bersyukur, waktu kita terbatas, kesempatan kita selesai, tetapi kita akan bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan senantiasa memelihara pelayanan dan pekerjaan Tuhan. Dan kelak pada waktu kita bertemu dengan Dia apa yang kita kerjakan dan lakukan bagi Tuhan tidak akan pernah berlalu dengan sia-sia. Itu yang membuat kita tidak perlu kuatir dan takut meskipun kita sudah tidak ada lagi.Belajar untuk trust kepada Tuhan, itu merupakan aspek yang paling penting di dalam hidup kita. Karena dengan trust itu kita tahu apa yang ada di depan, yang sekalipun kita tidak bisa lihat kita tahu Tuhanlah yang pimpin dan pegang semua.

Filipi 1:7-8 “Memang sudah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua sebab kamu ada di dalam hatiku. Betapa aku dengan kasih mesra Kristus Yesus merindukan kamu sekalian…” Di sini kita melihat Paulus memakai kalimat yang begitu affectionate.Jarang kita mungkin mendengar kata-kata yang mesra dari pendeta kepada jemaatnya, dan jarang kita mungkin mendengar kata-kata yang mesra dari jemaat kepada pendetanya.Di sini Paulus tidak segan-segan mencetuskan ekspresi emosi seperti ini “kamu ada di dalam hatiku,” dan “dengan kasih mesra merindukanmu.”Kalimat ini biasanya dipakai oleh dua orang muda yang sedang mabuk cinta.Tetapi dari situ kita bisa melihat keindahan rohani seseorang dan sehatnya rohani seseorang terekspresikan di dalam berbagai aspek.Tuhan menciptakan kita dengan area kognitif, sehingga kita bisa menangkap informasi, mengerti, mengenal dan menghargai kebenaran.Tuhan juga menciptakan kita dengan emosi yang dalam sehingga kita bisa bersukacita, kita bisa menitikkan air mata, kita bisa menyatakan kemarahan kita melihat ketidak-adilan, tetapi kita juga menyatakan belas kasihan kita ketika kita melihat orang-orang yang mengalami kesulitan.Maka angan kita tahan emosi kita, ekspresi sukacita dan joyful sebagai pernyataan iman kita.

Harus kita akui dengan prihatin, kita terlalu seringbertemu dengan orang Kristen yang kaku, yang labelisasi, yang menempatkan diri dengan jargon budaya, dengan baju yang dia pakai, dengan sikap dia beribadah untuk merepresentasikan siapa dirinya. Kita prihatin kalau kita sudah jatuh ke dalam sikap seperti itu, kita telah kehilangan dimensi aspek yang holistic dan global dan yang integratif dari Alkitab yang bicara apa artinya kita menjadi orang Kristen dan bagaimana kita berespons kepadanya.Kita prihatin karena ada orang Kristen cenderung mengkritik orang yang mempunyai cara dan sikap ekspresi ibadah yang berbeda, menganggap sikap ekspresi ibadahnya sendiri yang paling benar dan sesuai dengan selera Tuhan.

Ada gereja yang sangat menekankan aspek hirarki, sampai kepada status sosial dalam masyarakat juga masuk ke dalam gereja. Demikian juga attitude, cara berpakaian dan sikap beribadah sangat dipengaruhi oleh sikap ini. Maka waktu beribadah tidak ada orang yang boleh berbicara apalagi bercakap-cakap.Akhirnya dari konsep to glorify God orang harus dalam keadaan diam, khidmat dan hening.Dan mereka sulit menerima orang yang mempunyai sikap ekspresi ibadah yang berbeda.

Allah tidak menetapkan kita mengekspresikan cinta kita kepadaNya harus dengan cara tertentu. Ada orang yang mengekspresikan cintanya kepada Tuhan mungkin dengan menitikkan air mata saat dia berdoa dan berbakti.Tidak berarti semua orang harus seperti itu.Ada orang yang mengekspresikan hatinya yang joyful dan sukacita saat beribadah, maka dia bertepuk tangan.Tidak berarti semua orang harus seperti itu.Ada orang yang mengekspresikan cinta kepada Tuhan dengan sikap hening dan reflektif saat beribadah.Itulah ekspresi yang berbeda-beda.Paulus tidak sungkan-sungkan mengekspresikan cinta kasihnya yang mesra kepada jemaat seperti itu.Kata “kasih mesra” begitu luar biasa.Tuhan memberikan kita emosi, jangan tutup hati kita, jangan tutup ekspresi emosi kita itu.Paulus ekspresikan itu dengan terbuka affection dia kepada Tuhan dan kepada jemaat ini.

Kiranya kita boleh menjadi orang Kristen yang berhati luas dan lapang, jangan taruh apa yang kita kenakan, kultur budaya kita, preferensi kita, bahkan denominasi lebih daripada nama Yesus yang harus paling utama daripada segalanya. Dalam keadaan yang aman dan lancar kita terlalu gampang untuk memberikan boundary perbedaan. Aku orang Reformed, aku orang Baptis, aku orang Presbyterian, aku orang Metodis, aku orang Karismatik. Bayangkan kalau kita berada dalam kondisi bahaya, sudah di atas kapal dimana orang-orang  yang membenci Yesus ada di situ siap membunuh semua orang Kristen dengan dilempar ke laut yang dalam. Satu-persatu orang ditanya, “Are you Christian?” lalu diangkat dan dilempar. Kita tidak bisa bilang, aku orang Reformed, aku orang Baptis, aku orang Presbyterian, aku orang Metodis, aku orang Karismatik. “Do you believe in Jesus?” At the end what matter is only the name of Jesus. Dalam keadaan seperti itu tidak ada lagi perbedaan kita dari gereja mana, hanya nama Yesus yang menjadikan kita sama. Nama itu yang menjadikan kita indah dan agung, bukan nama denominasi kita.

Paulus mengekspresikan sukacitanya, affection yang dalam, dan melalui bagian firman Tuhan ini kita bersyukur dan mengajak setiap kita kiranya memiliki hati yang indah, luas dan lapang seperti ini.Kita bukan orang-orang yang hanya memenuhi kepala kita dengan pengertian teologi saja, tetapi kita memenuhi perasaan kita dan ekspresi cinta kita nyata dan konkrit baik kepada Tuhan maupun kepada sesama dan jangan malu dan enggan mengekspresikannya dengan satu keindahan.

Puji Tuhan dari bagian ini kita bisa menyaksikan bagaimana cinta yang mesra dinyatakan oleh pendeta kepada jemaatnya dan bagaimana jemaatnya juga menyatakan cinta dan sayangnya kepada pendetanya dan kepada Tuhan dan pada saat-saat seperti itu itulah yang membuat hati Paulus bahagia dan penuh sukacita meskipun dia berada dalam penjara.

Kita ingin menyatakan hati penuh dengan sukacita mencintai dan mengasihi Tuhan dengan berbagai ekspresi yang murni dan tulus, dengan berani dan otentik, dengan tanpa malu dan sungguh-sungguh di hadapan Tuhan dan menghargai ekspresi kasih yang orang lain nyatakan kepada Tuhan karena setiap orang diciptakan berbeda. Kita menghargai perbedaan satu dengan yang lain dan menjadi keutuhan sinergi yang indah di dalam jemaat Tuhan yang melayani Tuhan. Kita mengasihi Tuhan dan mengekspresikannya dengan mengasihi orang lain. Kita ingin mengasihi Tuhan dengan sorak-sorai, tepuk tangan meriah, dengan ketulusan memanjatkan doa-doa kita, dengan keseriusan kita merenungkan akan Dia. Kita bersukacita akan segala kebaikan yang Tuhan beri dengan limpah kepada kita, merenungkan firmanNya sepanjang hidup kita. Kita ingin mengasihi Tuhan dengan menolong dan mengasihi orang-orang yang perlu dikasihi.(kz)