Kuasa Salib dan Pengampunan

Sun, 12 Apr 2015 12:04:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Seri Khotbah “Salib dan Pengampunan” (1)

Tema: Kuasa Salib dan Pengampunan

Nats: Matius 18:21-35

Kita baru saja merayakan dua peristiwa agung dalam kalender Kekristenan, hari Jumat Agung dimana Yesus Kristus dipaku di atas kayu salib mati menggantikan setiap kita dan hari KebangkitanNya menjadi satu bukti yang nyata dari karya penebusan dan pengampunan genap selesai. Sudah lengkap penebusan itu Anak Allah kerjakan dan lakukan, sehingga tawaran dan jaminan dari keselamatan dan pengampunan dosa itu adalah tawaran dan jaminan yang selama-lamanya bagi kita.Itulah sebabnya Alkitab membawa kita mengerti betapa indahnya Injil Kabar Baik itu.Sehingga di sepanjang jaman lahirlah lagu-lagu yang indah ditulis dan dibuat oleh orang-orang yang mengerti dan menikmati penebusan dan pengampunan Tuhan baginya.Betapa dalamnya mereka telah terpuruk dan terperosok jatuh di dalam jurang dosa, namun di situ mereka juga melihat betapa kuat tangan Tuhan yang dahsyat itu mengangkat mereka oleh karena anugerah penebusanNya itu.

Salah satu lagu yang terindah sepanjang jaman adalah “Amazing Grace” yang digubah oleh seorang bekas penjual budak. Amazing grace, how sweet the sound, that saved a wretch like me. I once was lost but now am found, was blind but now I see. Lagu itu membuka satu rekonsiliasi dari seorang bekas penjual budak dengan orang-orang yang dahulu pernah mengalami perbudakan.Luka hati dan kepahitan dari orang-orang yang mengalami perbudakan yang tentu tidak gampang dan tidak mudah bisa dihapus dari ingatan mereka hanya dengan beberapa hari bahkan beberapa tahun saja.Namun lagu itu menjadi sebuah lagu yang melampaui segala luka dan kepahitan karena itulah keindahan dari sebuah pengampunan dari Tuhan.

Itulah sebabnya pada hari ini biar peristiwa Jumat Agung dan Paskah bukan hanya menjadi memori dari kalender Kristen yang rutin dirayakan tanpa anak-anak Tuhan mengerti dan menikmati kuasa dari pengampunan dan penebusan dari Kristus itu menyentuh hidup kita semua.Ada perubahan yang Tuhan kerjakan dan lakukan dalam hidup orang-orang yang telah ditebus dan diampuniNya.Kadang kala kita mungkin frustrasi karena perubahan yang terjadi tidak terlalu drastis dan nyata di dalam hidup kita oleh karena kita mungkin terlalu berusaha keras bersandar kepada kekuatan dan kemampuan diri untuk membuat kita membuktikan bahwa kita bisa berubah menjadi seorang Kristen ciptaan baru di dalam Tuhan. Satu motif yang indah dan baik namun kita sering lupa bahwa sumber yang memampukan kita karena kalau berdasarkan kekuatan kita sendiri kita pasti akan selalu gagal dan gagal lagi. Jangan menjadi kecewa dan marah kepada diri, mungkin kita sudah terlalu bersandar kepada kemampuan dan kehebatan diri. Karena kalau seperti itu pastilah kita akan gagal. Maka kita perlu ditarik kembali untuk mengerti dan menghargai anugerah pengampunan dan penebusan Kristus bagi kita supaya kita dibawa kembali mengingat perjalanan hidup kita sampai hari ini hanya oleh anugerahNya.

Bukan itu saja, salah satu dari transformasi yang terjadi oleh karena salib Kristus adalah merubah hidup kita untuk bagaimana kita mengampuni dan mengasihi satu dengan yang lain. “Hendaklah kamu saling menanggung satu dengan yang lain; sama seperti Kristus telah mengampunimu, hendaklah kamu saling mengampuni…” Firman Tuhan seperti ini senantiasa berulang-ulang dinyatakan di dalam Alkitab untuk mengingatkan kita akan panggilan pengampunan, karena setiap kali kita berkumpul dalam satu komunitas, betapa gampang dan mudah gesekan itu terjadi, perasaan terluka, kecewa dan sakit hati terjadi. Wajar, begitu dua tiga orang berkumpul, tidak lama akan terjadi pertengkaran, saling tersinggung, dsb. Kalau kita seorang yang gampang tersinggung, kita tidak akan bisa menghindar dari aspek pertengkaran ini. Betapa mudah kita saling melukai satu sama lain. Sehingga ada orang mau menghindar dari pertengkaran, akhirnya memilih hidup seorang diri, tidak ketemu dengan manusia yang lain, tetapi apa itu pilihan yang benar?

Waktu Petrus bertanya kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kalikah aku harus mengampuni saudaraku?Sampai tujuh kali?” (Matius 18:21). Perhatikan, Petrus tidak mempersoalkan apakah dia harus mengampuni atau tidak.Petrus menanyakan soal berapa kali pengampunan itu harus dia berikan.Berapa kali? Dan berapa lama batas kesabaran mentolerir kesalahan orang lain? Untuk soal berapa lama, Paulus mengatakan “jangan sampai matahari terbenam…” (Efesus 4:26).

Berapa kali kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita?Tergantung dua hal.Yang pertama, berapa proximity kedekatan jarak orang itu dengan kita.Makin jauh jaraknya, makin mudah kita memberi pengampunan itu.Anggaplah, orang di pinggir jalan tiba-tiba memaki engkau tanpa alasan yang jelas, kita tidak terlalu ambil pusing. Tetapi kalau itu adalah orang yang dekat dengan kita, mungkin kita akan menjadi terluka karena kedekatan jarak relasi itu. Yang kedua, berapa kali kita mengampuni itu tergantung kepada core nilai apa yang dilanggar. Kalau kesalahan orang itu adalah menginjak kakimu, kita tidak terlalu ambil pusing.Atau kalau berjalan orang itu suka seruduk dan menabrakmu, tidak apalah.Atau kalau sedang antri tunggu makanan, tahu-tahu dia main salip, yah kita maklum mungkin dia sudah sangat lapar. Tetapi kalau itu adalah suamimu yang ketahuan berselingkuh dengan wanita lain, bagaimana? Ini adalah persoalan core nilai trust kita yang dilanggar, kita akan sulit sekali untuk memaafkan. Bagaimana kalau itu adalah anakmu sendiri yang menyakiti engkau?Bagaimana kalau itu adalah sahabatmu yang dengan enteng menyebar-luaskan rahasia yang engkau ceritakan waktu curhat dengan dia, bisakah engkau memaafkan dia?Maka soal trust, loyalty, itu menjadi core nilai yang tidak mudah untuk memaafkan orang yang melanggarnya.

Pertanyaan Petrus adalah bukan soal kita memaafkan orang atau tidak, karena dalam hidup kita sehari-hari kita sendiri tidak mungkin tidak pernah berbuat kesalahan dan melukai hati orang lain, kita pun membutuhkan pengampunan dari orang lain. Pertanyaan Petrus adalah soal berapa kali, berapa banyak, berapa lama batas kesabaran yang diaturkan untuk mengampuni kesalahan orang. Di dalam tradisi orang Yahudi diaturkan kita boleh mengampuni seseorang sampai tiga kali, berdasarkan tafsiran mereka akan ayat firman Tuhan Amos 1:3, “Karena tiga perbuatan jahat Damsyik, bahkan empat…” Sebenarnya kata “tiga bahkan empat…” dari ayat itu bukan berarti hurufiah berapa kali kesalahan yang dilakukan manusia sampai Tuhan tidak mengampuninya lagi.Maka dibandingkan dengan aturan tradisi Yahudi, Petrus lumayan murah hati karena dia siap mengampuni sampai tujuh kali.

Apa jawab Yesus? Yesus bilang, “Bukan!Melainkan tujuh puluh kali tujuh kali” (Matius 18:22).Bukan artinya kita harus mengampuni sampai angka 490 kali tetapi artinya pengampunan itu tidak terhingga dan tidak terbatas adanya.Ini adalah hal yang sangat luar biasa dalam. Di tengah mungkin kesulitan kita untuk mengampuni dan memaafkan kesalahan orang lain oleh karena luka yang terlalu dalam dihasilkan oleh orang yang sangat dekat dengan kita dengan pengkhianatan yang dilakukannya, bagaimana kita melihat dan memahami pengampunan yang diajarkan Tuhan bagi kita.

Setelah Yesus memberikan jawaban itu, Yesus memberikan satu ilustrasi perumpamaan mengenai pengampunan yang seperti apa yang Allah berikan bagi kita. Melalui perumpamaan ini Tuhan Yesus ingin membawa hati kita apa sesungguhnya pengampunan itu, bukan soal berapa kali dan berapa sabar, tetapi kepada bagaimana Allah mengampuni kita. Itulah yang harus menjadi source dan dasar kekuatan kita mengampuni orang lain.

Perumpamaan ini bicara mengenai grace, anugerah kemurahan hati Allah di dalam mengampuni yaitu menghapuskan hutang dosa kita.Tetapi kita tidak boleh mendasarkan konsep keselamatan hanya berdasarkan perumpamaan ini saja sebab di dalam perumpamaan ini kita tidak melihat aspek yang ditekankan oleh bagian lain dari Injil yaitu pengampunan itu terjadi bukan diberikan begitu saja.Pengampunan itu terjadi oleh karena ada yang menggantikan dan membayar. Di dalam perumpamaan ini penekanannya adalah aspek belas kasihan dan hati sang Raja tergerak untuk mengampuni orang itu dari hutang-hutangnya. Tetapi aspek pengampunan yang diberikan oleh Alkitab secara keseluruhan terjadi sebagai anugerah yang tidak selayaknya kita terima, berdasarkan Kristus sudah menggantikan kita.

Yang kedua, bagian ini ingin menekankan aspek hutang itu tidak bisa dibayar sampai kapanpun juga dan tidak mungkin bisa diganti oleh apapun yang ada pada diri orang yang berhutang itu.

Yang ketiga, pengampunan itu terjadi karena Allah kita adalah panjang sabar dan murah hati.Ia memberi kesempatan terus-menerus, sehingga bukan soal tujuh kali tetapi lebih daripada itu “tujuh puluh kali tujuh kali” berarti pengampunan Allah tidak terhingga adanya. Itulah tiga inti dari perumpamaan ini.

Ada beberapa point yang menarik dari perumpamaan ini.Yang pertama, perumpamaan ini bicara mengenai hutang sebagai gambaran mengenai dosa dan kesalahan manusia kepada Tuhan yang tidak terhingga jumlahnya dan tidak mungkin bisa dibayar dengan apapun.Tuhan Yesus sengaja memberikan kontras yang diperlihatkan dengan jumlah hutang yang besar luar biasa, sepuluh ribu talenta.Bagi pendengarNya pada waktu itu, jelas betapa besar angka sepuluh ribu talenta itu.Dalam PL talenta dipakai sebagai unit ukuran berat sekitar 35 kilogram sedangkan dalam PB talenta adalah unit ukuran uang.Satu talenta adalah 6,000 dirham, yang kalau dalam konteks sekarang senilai 20 tahun gaji seorang pekerja. Maka sepuluh ribu talenta berarti 20×10,000 yang berarti 200,000 tahun gaji. Bayangkan berapa turunan baru hutang itu bisa terbayar? Di situlah kita diingatkan hutang dosa kita kepada Tuhan sampai kapan pun tidak mungkin bisa kita bayar, kecuali hanya dengan satu cara yaitu upah dosa adalah maut (Roma 6:23). Itulah sebabnya kita perlu ditarik kembali kepada moment Jumat Agung, saat Yesus Kristus tergantung di kayu salib, itulah satu substitusi dimana Anak Allah membayar semua hutang dosa kita dengan darahNya yang suci dan berharga itu. Kita yang selayaknya mati digantikan oleh kematianNya sehingga melalui kematianNya lunaslah segala hutang dosa kita kepada Allah, sehingga oleh hidupNya kita beroleh kehidupan.

Selanjutnya dari kisah perumpamaan ini kita menemukan meskipun hamba ini berhutang sedemikian besar, dia masih memiliki anak isteri dan harta milik yang dipakainya sehari-hari. Di situ menunjukkan satu aspek kemurahan hati sang raja yang masih memberikan leniency bagi hambanya untuk tetap bisa hidup sewajarnya. Puji Tuhan. Itulah gambaran Allah kita sebagai Allah yang penuh dengan kemurahan, yang di dalam kesabaranNya masih memberi kesempatan bagi kita untuk mengakui dosa dan kesalahan kita dan bertobat memohon pengampunanNya.Dalam 2 Petrus 3:9 firman Tuhan mengatakan, “Tuhan tidak lalai menepati janjiNya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat…”

Memang tidak gampang bicara urusan hutang piutang seperti ini. Waktu seseorang membutuhkan uang hendak berhutang kepada kita, maka siang dan malam dia akan kejar-kejar kita sambil memperlihatkan muka yang memelas sampai akhirnya kita tidak tega dan memberi pinjaman kepada dia. Namun setelah uang bertukar tangan, pada saat yang sama posisi pun bertukar juga. Kini gantian sekarang yang punya uang mengejar yang berhutang, meminta dia untuk membayar cicilan hutangnya.Dan lebih kelewatan lagi, orang yang berhutang merasa dia menjadi posisi lebih tinggi, merasa kalau dia membayar cicilan hutangnya, dia sudah berbuat baik kepada kita.Tidak gampang dan tidak mudah mengampuni selama kita memposisikan diri sebagai siapa. Ketika kita memposisikan diri sebagai seorang yang berhutang yang tahu hanya oleh belas kasihan saja dia akan mendapat keringanan, maka kita dalam posisi yang rendah hati di situ. Tetapi begitu kita memposisikan diri sebagai orang yang dihutangi, begitu melihat orang yang berhutang kepada kita, kita mungkin akan menjadi orang yang cruel dan tidak punya belas kasihan. Pengampunan seringkali sulit terjadi kalau kita memposisikan diri seperti itu.

Itulah sebabnya mengapa relasi penebusan dan pengampunan Kristus kepada orang Kristen harus menempatkan relasi kita dengan saudara kita adalah kita sama-sama hamba. Kalau kita ganti posisi dan menuntut orang itu harus minta maaf karena kita anggap dia yang bersalah, pengampunan akan sulit terjadi. Pada waktu kita menempatkan diri sama-sama sebagai hamba di hadapan Allah, sama-sama kita bersalah, sama-sama kita perlu anugerah dari Tuhan, di situlah keindahan dari pengampunan boleh terjadi satu sama lain.

Menutup perumpamaan ini Yesus mengatakan, “Maka BapaKu yang di surga akan berbuat demikian juga terhadap kamu apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu…” (Matius 18:35). Maka di situ pengajaran dan perintah Tuhan menjadi peringatan bagi kita untuk saling mengampuni kesalahan orang yang lain. Inilah yang juga senantiasa diingatkan oleh para rasul dalam surat-surat penggembalaan kepada Gereja Tuhan.Pengampunan kita tidak boleh didasarkan oleh emosi dan keinginan kita melainkan harus berdasarkan pengampunan Allah.Sehingga pada waktu kita mengampuni orang yang bersalah, itu bukan jasa kita, melainkan berdasarkan hubungan kita dengan Tuhan yang sudah mengampuni kita.

“Bearing with one another and if one has a complaint against another, forgiving each other as the Lord has forgiven you so you also must forgive…” (Kolose 3:13). Paulus menasehatkan kita untuk saling menanggung satu dengan yang lain, berarti memang ada hal yang perlu kita berkorban satu dengan yang lain sebagai sebuah komunitas. Jika ada yang menggerutu atau mengeluarkan kata-kata yang menyakiti atau mungkin menuduh orang lain, saling memberi maaf satu sama lain. Dasarnya apa? Karena Tuhan sudah mengampuni kita itulah sebabnya kita harus saling mengampuni.Itu menjadi dasar yang indah dan penting.

Kita mau mengangkat persoalan apapun yang membuat kita sulit untuk mengampuni, itu sudah dialami lebih dahulu oleh Tuhan kita Yesus Kristus, dan Ia mengampuni di atas kayu salib. Contoh paling sederhana, kita bilang paling sulit mengampuni orang yang sudah mengkhianati trust kita, sampai kapanpun kita akan sulit. Mari kita ingat, siapa orang yang menjual Yesus, muridNya atau orang lain? MuridNya sendiri. Dan itu dilakukan bukan terang-benderang, sebab sampai saat terakhir murid-murid yang lain pun tidak tahu bahwa Yudas akan menjual Yesus. Siapa yang menyangkal Yesus tiga kali di hadapan orang asing, murid yang selalu ada di sisiNya atau orang lain? MuridNya sendiri. Sulit luar biasa, namun semua sudah dialami oleh Tuhan Yesus sendiri dan Ia mengampuni. Karena dasar itulah kita perlu belajar bagaimana membereskan aspek emosi diri dalam pengampunan itu.Aspek emosi itu hanya bisa diselesaikan kalau kita punya determinasi untuk menyelesaikan dan membereskannya. Kalau kita terus complaint kepada persoalannya, tidak akan selesai-selesai. Karena faktor emosional dari pengampunan itu memang “berantakan.” Semua itu membutuhkan determinasi, kesabaran, kelapangan hati karena proses pengampunan tidak langsung selesai begitu kita bilang kita mengampuni. Akan terjadi dan terjadi lagi hal yang sama, berulang dan seolah tidak ada perubahan terjadi. Kadang-kadang kita susah luar biasa. Kekuatan untuk merapikan itu membutuhkan kasih yang panjang.Kadang-kadang kita menjadi malas dan tidak mau melanjutkan relasi yang kelihatannya tidak ada perbaikan.

Ketemu orang yang berkali-kali melakukan kesalahan yang sama, kita lalu bilang, “Sudahlah, malas saya…” Itu bisa berlaku kepada orang yang mungkin tidak ada relasi yang terlalu dekat, mungkin itu orang di tempat kerja, tetapi bagaimana kalau dia adalah suami atau isteri kita, atau dia adalah papa atau mama kita, atau dia adalah anak kita sendiri, atau dia adalah saudara seiman di gereja? Tidak bisa tidak, kita membutuhkan determinasi itu.

Itu bukan kekuatan dan kemampuan kita sendiri.Kita harus senantiasa ditarik kembali kepada aspek pengampunan Allah yang terjadi kepada kita.Ingat baik-baik, kita punya hutang kesalahan kepada Tuhan hanya baru bisa selesai “200,000 tahun.” Sampai kapanpun tidak akan bisa kita bayar. Kalau bicara soal panjang sabar, Tuhan jauh lebih panjang sabar kepada kita.Itulah sebabnya dasar dari pengampunan Tuhan ini menjadikan kita memiliki determinasi untuk merapikan relasi yang sudah berantakan.Bersiap hati melihat besok bisa jadi “messy” lagi, bersiap hati merapikan lagi.Ini aspek pengampunan yang kita perlu belajar pada hari ini.

Sebagai anak-anak Tuhan di dalam hidup kita mengikut Tuhan, melayani Tuhan, membangun relasi dengan saudara seiman dan keluarga, kiranya kita boleh saling mengasihi dan memperhatikan satu dengan yang lain. Firman Tuhan hari ini memanggil kita untuk saling menanggung kelemahan orang lain di dalam hidup sebagai anggota keluarga Allah. Biar cinta Tuhan yang mengalir di atas Kalvari membuat hati kita lebih limpah, lebih indah, lebih murah hati mengampuni; memberi kita kekuatan untuk merapikan hubungan yang terluka dan tidak henti-hentinya memberi kesempatan kepada orang yang bersalah untuk memperbaiki diri. Itu semua bukan datang dari kemampuan dan kesanggupan diri kita, itu hanya kita dapat ketika Roh Kudus dengan leluasa bekerja di dalam hati kita, membimbing dan menyertai kita. Jangan kita menjadi orang-orang yang egois dan hanya memperhatikan kepentingan diri sendiri melainkan kita belajar mengasihi dan memperhatikan orang yang lain, terutama yang lemah imannya dan belum bertumbuh matang di dalam kerohaniannya daripada kita. Kiranya Tuhan menjadikan kita umatNya yang indah dan memuliakanNya senantiasa.(kz)