Kuasa Salib dan Keberanian

Sun, 19 Apr 2015 12:21:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Seri Khotbah “Kuasa Salib dan Penebusan Kristus” (2)

Tema: Kuasa Salib dan Keberanian

Nats: Lukas 22:31-32, Kisah Rasul 4:13

Apa efek dan kuasa yang dihasilkan oleh kematian dan kebangkitan Yesus Kristus kepada murid-muridNya dan kepada setiap kita pada hari ini? Yang pertama, kuasa dari kematian dan kebangkitan Kristus yang memberikan pengampunan atas setiap dosa kita, juga menjadi kuasa yang hadir di tengah kita.Pada saat murid-murid Yesus sudah tercerai-berai di dalam ketakutan dan kesedihan mereka karena tidak sanggup menghadapi tekanan yang begitu besar, kebangkitan Kristus membuat mereka kembali berkumpul sama-sama. Di tengah orang-orang yang broken-hearted itu ada kuasa yang menyembuhkan, ada kuasa yang mempersatukan, dan di situlah mereka saling menerima satu dengan yang lain.

The forgiveness of Christ harus menjadikan orang Kristen memiliki hati yang luas, di tengah segala kepahitan atas orang-orang yang mungkin pernah melukai kita, menerima kegagalan yang pernah terjadi, kita boleh menawarkan dan memberikan pengampunan dengan hati yang seluas dan selapang-lapangnya.Itu hanya bisa terjadi sebagai efek dari kuasa kebangkitan Kristus kepada kita. Kalau kita hanya percaya akan kematian dan kebangkitan Kristus sebagai pengajaran saja, tetapi tidak pernah menjadi sesuatu hal yang merubah hidup kita, kita belum sungguh-sungguh menghargai kekuatan dan kuasa pengampunan Kristus itu.

Hari ini kita akan membahas efek kedua dari kebangkitan Kristus, yang merubah orang-orang yang tadinya penakut, pemalu, yang tadinya setengah hati mengikut Tuhan, bahkan menyangkal nama Tuhan di depan umum, setelah melihat dan mengalami kuasa kebangkitan Kristus, mereka menjadi orang yang berbeda. Penuhlah mereka dengan keberanian.Petrus yang sudah menyangkal Yesus, yang lari dalam ketakutan yang luar biasa, akhirnya setelah kebangkitan Yesus berubah menjadi orang yang penuh dengan keberanian.Kisah Rasul 4:13 mencatat hal ini, “Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka…”

Kuasa kebangkitan Kristus harus menjadikan kita orang Kristen yang berbeda. Perbedaan itu muncul oleh karena kita tahu tidak ada lagi yang sanggup bisa menghambat, menghancurkan hati kita yang terus-menerus ikut Dia. Keberanian itu bukan karena kita kuat dan hebat, tetapi karena kita tahu kuasa kebangkitan itu mendatangkan efek dan perubahan kepada kita.

“Jangan takut, jangan gentar,” berkali-kali kalimat itu diucapkan Yesus kepada murid-muridNya.Pada waktu Yesus meminta murid-murid untuk jangan takut, apakah Yesus sendiri tidak pernah mengalami rasa takut? Waktu Yesus berdoa di taman Getsemani, Injil Lukas mencatat Yesus begitu gentar dan takut sehingga peluh keringatnya seperti menetes butir-butir darah (Lukas 22:44). Di situ kita melihat paradoks seperti itu.Pengalaman perasaan itu terjadi, namun tidak berarti orang itu penakut.

Konsep keberanian yang diberikan oleh Alkitab senantiasa berkaitan dengan iman dan trust kepada Tuhan. Perjalanan mengikut Tuhan dengan sungguh-sungguh bukanlah hal yang gampang dan mudah.Di dalamnya kita bukan saja mengerti dan mengenal Tuhan tetapi juga berani untuk berjalan di dalam langkah iman itu.Seringkali banyak orang Kristen tidak melihat aspek ini. Banyak kali orang Kristen menganggap percaya dan beriman kepada Tuhan pasti perjalanan akan lancar dan baik karena Tuhan sediakan semua yang kita perlukan. Kita tidak boleh melupakan panggilan Allah untuk kita beriman berarti di dalamnya juga ada panggilan untuk berjalan dengan berani mengikuti Tuhan.Dalam PL kita menemukan begitu banyak tokoh-tokoh yang berjalan di dalam iman dengan penuh keberanian.Nama-nama pahlawan iman dengan banyak komponen iman ini tercatat dalam Ibrani 11. Kita melihat Abraham beriman dengan percaya terhadap apa yang Tuhan janjikan akan tergenapi walaupun realita hidupnya mustahil untuk terjadi. Abraham melihat dengan iman hal yang paling mustahil pun bisa terjadi oleh karena dia percaya akan perkataan Allah. Itu adalah bagian komponen iman Abraham.

Dalam diri Musa kita melihat komponen iman yang lain. Dalam Ibrani 11:27 dicatat oleh penulis Ibrani iman Musa adalah iman yang tidak takut.“Karena iman maka dia telah meninggalkan Mesir dengan tidak takut akan murka raja.Ia bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan.”Meskipun Musa mengalami ancaman yang luar biasa terhadap kemarahan raja yang pasti bisa membinasakan dia, Musa mengambil keputusan untuk melakukan satu tindakan yang begitu berani ketika dia membandingkan keputusan yang dia ambil itu tidak sebanding dengan apa yang akan diterimanya. Apa untungnya membela para budak Israel sementara dia sudah memiliki posisi yang secure sebagai pangeran Mesir? Apa untungnya mengikut Allah orang Israel padahal itu membuatnya kehilangan segala kesempatan menikmati kenyamanan hidup di istana Mesir? Apa untungnya memimpin bangsa Israel yang keras kepala dan tegar tengkuk itu mengembara di padang gurun sementara dia harus kehilangan masa depan dan kesuksesan menjadi pemimpin di negara adidaya Mesir? Keputusan yang Musa ambil bukanlah keputusan impulsif dan sembarangan.Waktu dia mengambil keputusan itu penulis Ibrani mengatakan Musa tidak mungkin bisa lari menghindar dari murka kemarahan raja Mesir yang sangat berkuasa itu.Sebagai raja dari sebuah negara yang adikuasa, tidak ada tempat yang cukup aman bagi Musa bersembunyi. Itulah sebabnya Musa harus lari jauh-jauh keluar dari wilayah Mesir, bersembunyi di padang gurun Midian yang jauh dari peradaban dan kemajuan civilisation waktu itu. Keberanian itulah yang dicatat oleh penulis Ibrani di sini.

Dalam Ulangan 31:7 Musa yang sudah berumur 120 tahun dan sebentar lagi akan meninggal dunia, berpesan kepada Yosua yang akan meneruskan kepemimpinannya. Sebagai seorang yang sudah tua dan akan selesai tugasnya sebagai pemimpin bangsa Israel, pesan apa yang Musa berikan sebagai warisan terakhir kepada Yosua? Bukan strategi perang, bukan harta yang banyak, bukan resources yang lain. Musa hanya menurunkan nasehat ini kepada Yosua di hadapan seluruh tua-tua Israel dan seluruh umat, “Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu…” Be strong and be courageous. Kenapa?Karena itulah yang menjadi pegangan dan prinsip hidupnya sampai akhir dan itulah yang Yosua paling butuhkan di dalam mengemban tugasnya.Tidak ada lagi yang lebih berharga yang Musa bisa berikan selain nasehat yang indah ini.“Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu sebab engkau akan masuk bersama-sama dengan bangsa ini ke negeri yang dijanjikan Tuhan dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yang akan memimpin mereka sampai ke negeri itu. Di dalam pesan terakhir ini Musa mengingatkan Yosua dan seluruh bangsa Israel, Allah yang kita sembah adalah Allah yang setia Ia pasti akan menggenapi janjiNya. Namun Allah yang setia itu tidak akan serta-merta memberi semua janji itu kepadamu, engkau harus berjuang untuk mengambil, merebut dan menjalaninya. Dan hanya ini yang Yosua perlu yaitu jangan pernah khilaf, berani dan teguh hati.Bagi saya ini adalah hal yang luar biasa.Sebagai orang Kristen kita sering melupakan bijaksana rohani ini, suatu spiritual courageous di dalam kita mengikut Tuhan. Spiritual courageous saat kita harus mengambil keputusan yang mungkin harus kita bayar habis-habisan, tidak ada opportunity dan kemungkinan untuk berkompromi.

Setelah Musa meninggal, apa nasehat Tuhan kepada Yosua? Dalam Yosua 1:1-9 kembali nasehat yang sama seperti Musa Tuhan berikan kepadanya. Be strong and be courageous, tiga kali kata yang sama muncul. Pertama di ayat 6, “Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu…” Kali kedua, ayat 7, “Hanya, kuatkan dan teguhkan hatimu…” Kali ketiga, ayat 9, “Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu kuatkan dan teguhkan hatimu?”

Puji Tuhan! Tuhan yang setia itu berjanji akan memberikan dan menggenapkan janjiNya kepada orang-orang yang mengikut Dia. Namun Tuhan yang berjanji itu akan memberikan apa yang dijanjikanNya di dalam satu proses kita menjalaninya. Yang kita perlukan di situ adalah ketetapan hati, waktu kita sudah ambil keputusan itu kita tidak akan pernah goyah, kecut, gentar dan menyerah di dalam menghadapi tantangan yang akan menghadang di depan kita. Itulah yang Tuhan tuntut dari kita.Sekalipun pada waktu engkau mengambil keputusan itu ada resiko yang besar menghadangmu, dan masa depanmu seolah suram seperti Musa, tidak mungkin lagi bisa mengecap segala fasilitas yang engkau nikmati sebelumnya.Bagi Musa itu semua tidak berarti dan tidak bernilai dibandingkan dengan keindahan ikut Tuhan.Kedua, sekalipun konsekuensinya “raja” itu murka dan marah dan ingin menghancurkan membinasakan engkau, engkau tidak mundur dan goyah adanya.

Ada di antara kita yang mengalami saat kita harus berdiri di tengah ketidak-benaran yang terjadi, kita menghadapi resiko dipecat dari pekerjaan kita. Dan bukan saja kita menghadapi resiko dipecat, mungkin boss-mu yang murka dan marah itu bertekad akan menghancurkan hidup dan karirmu. Mungkin engkau akan menghadapi “character assassination” dengan segala fitnahan yang tidak benar dan membuat referensi yang buruk saat engkau mencoba mencari kerja di tempat lain. Betapa sulit konsekuensi yang kita harus jalani ketika kita tahu ada hal yang benar dan baik, ada prinsip yang engkau tidak mau langgar, dan kita mau menjalani hal yang Tuhan kehendaki sekalipun kita menghadapi tantangan seperti itu.

Namun pada waktu kita mendengar kalimat Tuhan seperti itu, bagaimana kita bereaksi, bagaimana kita bersikap, bagaimana memegang prinsip sebagai seorang Kristen yang mengerti janji Tuhan dan pemeliharaan Tuhan, dan menerima janji itu di dalam satu proses perjalanan yang tidak gampang dan tidak mudah, dan di situlah ayat-ayat firman Tuhan ini berbicara kepada kita. Be strong and be courageous. Sikap seperti ini yang kita perlukan mengikut Tuhan, apapun kesulitan dan tantangan yang akan engkau dan saya akan alami di depan beranilah menetapkan satu sikap hati seperti ini.

Itu juga kalimat yang Yesus Kristus ucapkan kepada Petrus, “Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu…” (Lukas 22:31-32). Kalimat Yesus menjadi peringatan yang serius karena di situ kita lihat yang menjadi orang yang akan menghantam dan menghajar Petrus bukan orang sembarangan, tetapi si Iblis sendiri. Dia menuntut untuk menampi imannya.Petrus sudah berbuat kesalahan yang fatal dengan menyangkal Yesus.Mudah sekali bagi Iblis untuk mengangkat selalu perasaan guilty yang senantiasa ada di dalam diri Petrus.Menampi berarti berusaha membuang Petrus keluar dari tangan pemeliharaan Tuhan.

Ada dua sumber kekuatan bagi jiwa yang berani.Bukan karena kita punya karakter orang berani.Sumber kekuatan yang berani disebabkan karena kita tahu Tuhan Yesus menjadi Imam Besar kita selama-lamanya yang berdoa syafaat bagi kita di hadapan Allah.Itulah yang terjadi di dalam anugerah penebusanNya bagi kita yang percaya dan beriman kepadaNya.

Kita bersyukur karena kita tahu doa Tuhan Yesus senantiasa menjadi kekuatan yang memelihara perjalanan iman kita. Satu kali kelak mungkin kita akan menghadapi tantangan dan situasi yang menggoncangkan iman kita, namun kita percaya kita akan selamat melewatinya karena Tuhan Yesus telah berdoa bagi kita. Di situ Ia senantiasa berdiri di hadapan Bapa, apapun dan bagaimanapun hidup kita yang telah mengecewakan Tuhan dan melakukan kesalahan yang besar dan telah mengabaikan firman Tuhan, Ia berdiri menjadi Pembela yang melindungi kita. Itulah doa yang menjadikan kita teguh sampai pada akhirnya.

Sumber kekuatan yang kedua adalah datang dari Roh Kudus yang memenuhi anak-anak Tuhan.Yesus berpesan kepada murid-muridNya untuk tetap tinggal di Yerusalem sampai Roh Kudus turun dan memenuhi mereka (band. Lukas 24:49, Kisah Rasul1:4-8). Hari itu murid-murid yang hancur hati dan dalam ketakutan berkumpul bersama.Kita semua yang hadir pada hari ini tidak lebih berani daripada mereka, kita tidak lebih kuat daripada mereka.Kita semua sama-sama tidak punya kekuatan itu. Kita semua adalah “broken people” yang dikumpulkan oleh Tuhan, yang kita masing-masing juga memiliki kesalahan dan kegagalan yang sama seperti murid-murid yang lain, tetapi juga dikasihi dan dicintaiNya. Kita dikumpulkan olehNya untuk menjalani hidup yang sudah ditebus oleh Tuhan.Kisah Rasul mencatat reaksi orang-orang yang mengetahui keadaan dan kondisi murid-murid Yesus sebelumnya, mereka bukan orang yang pintar secara intelektual dan berpendidikan, tetapi di hadapan mereka sekarang orang-orang ini memberitakan Yesus Kristus dengan jelas dan berani.Mereka adalah orang-orang yang sederhana tetapi bagaimana mungkin sekarang mereka bisa berkata-kata seperti itu, heranlah pemimpin-pemimpin agama yang kemudian berusaha untuk menangkap mereka.Kisah Rasul mencatat mereka kemudian mengancam Petrus dan Yohanesdengan keras, tetapi setelah itu mereka harus melepaskan mereka karena tidak ada alasan yang kuat untuk memenjarakan mereka.Alkitab mencatat mereka pulang dengan penuh sukacita karena dilayakkan untuk menderita bagi Tuhan.Dan sejak itu semakin beranilah mereka memberitakan Injil Tuhan.Itulah kuasa Roh Kudus yang membuat orang-orang yang sederhana itu berani untuk keluar, bersaksi dan berbicara tentang Tuhan Yesus.Maka tidak heran Alkitab mengingatkan kita biarlah seluruh hidup kita senantiasa dipenuhi oleh Roh Kudus.Kita tidak boleh melupakan aspek ini.

Sebagai manusia yang lemah dan terbatas kita mungkin tidak sanggup bisa memiliki keberanian dan kekuatan untuk bisa bertahan selain kekuatan itu datang dari Tuhan yang sudah menebus dan menyelamatkan kita.Kepada Timotius, Paulus berkata, “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan melainkanroh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban …” (2 Timotius 1:7).Sebagai anak-anak Tuhan hari ini biar kita berdoa sama-sama kiranya efek kuasa kebangkitan Yesus Kristus menjadi satu keberanian untuk kita ikut Tuhan, mencintai dan mengasihi Tuhan dengan keberanian seperti itu.

Waktu firman Tuhan mengatakan, “Kuatkan dan teguhkan hatimu,” berarti berani menghadapi perlawanan; berani menghadapi tantangan dan kesulitan.Tidak berarti waktu kita berani, otomatis lawan kita menjadi ciut atau kesulitan menjadi berkurang. Bisa jadi justru lawan dan oposisi akan semakin keras dan keadaan akan semakin sulit dan berat. Tetapi waktu Tuhan memanggil kita untuk menguatkan dan meneguhkan hati, bisa jadi perlawanan dan tantangan serta usaha untuk menghancurkanmu akan terus muncul. Di situlah “be strong” berarti membutuhkan spirit yang resilient.

Berani itu ada bukan karena kita pada dasarnya berkarakter berani, atau kita orang yang berangasan dan tidak takut mati.Tetapi karena kita dipimpin oleh perspektif yang melihat lebih jauh yaitu kita melihat kepada perspektif kekekalan. Sehingga dengan perspektif itu menjadikan kita mengerti pada waktu kita mengambil satu keputusan, kita tidak digoyangkan oleh “short term loses” ketika kita menyadari ada “eternal gain” yang akan kita peroleh, yang tidak mungkin akan direbut orang dan hilang selama-lamanya. Banyak hal di dalam dunia ini kita berani mengambil keputusan membiarkan sesuatu hilang karena memang itu adalah hal yang sementara di dalam dunia ini yang akan lalu dan hilang. Tidak perlu ngotot untuk menggenggamnya habis-habisan.

Berani harus disertai dengan bijaksana rohani yang lain yaitu kesabaran dan penguasaan diri. Itulah konsep Alkitab tentang berani. Itu adalah proses yang panjang kita jalani dengan sabar dan tidak mudah bergeming dengan ancaman apapun. Mata kita tertuju kepada Yesus Kristus yang paling utama dan paling agung di dalam hidup kita.

Michel de Montaigne mengatakan, “Cowardice is the mother of cruelty.” Jiwa pengecut adalah induk dari kekejaman. Mengapa para pemimpin tiran dan diktator itu haus darah? Sebab mereka hanya mementingkan keamanan diri sendiri dan selalu mempersalahkan orang lain dan kalau bisa dengan segala cara berusaha mematikan dan memusnahkan orang-orang yang merusak sekuritas mereka. Itulah jiwa pengecut. Sebaliknya berani adalah orang yang tidak mementingkan keamanan diri dan berani mengambil keputusan berdasarkan prinsip kebenaran, meskipun itu beresiko menghancurkan kesempatan dan reputasi dan menghancurkan diri tetapi dia tidak akan kehilangan the eternal perspectives in the Lord.

Kiranya kuasa dari Roh Kudus, kuasa dari hari Pentakosta itu boleh menjadi kuasa yang memimpin dan memenuhi hidup kita.Banyak hal di dalam kehidupan ini mungkin kita hadapi dengan rasa takut yang menghimpit, namun biar sekali lagi kita dikuatkan dan diteguhkan lagi oleh Allah yang setia yang memelihara kita.Jangan sampai mata rohani kita tidak melihat perspektif surgawi, dan jangan sampai mata rohani kita tertutup oleh ketakutan.

Kita minta Tuhan kiranya memberi kita keberanian dan kekuatan untuk boleh menjadi anak-anak Tuhan yang agung dan mulia, yang tidak memikirkan kepentingan diri yang sesaat dan sementara dan jangka waktu yang singkat. Kiranya Tuhan senantiasa mengingatkan kita menghadapi medan yang tidak kita tahu di depan, masuk ke tanah perjanjian yang belum pernah kita injak, berjalan mengikuti Tuhan di tengah awan gelap, Tuhan memberi kita keyakinan bahwa Ia yang berjanji itu adalah Allah yang memberi kekuatan dan keteguhan bagi setiap kita.(kz)