He’s Risen Indeed, sing Hallelujah!

Sun, 05 Apr 2015 04:13:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Tema: He is Risen Indeed, Sing Hallelujah

Nats: Roma 1:4; 1 Korintus 15:17; 1 Korintus 15:30-31; Lukas 8:17; Wahyu 21:4

 

Di dalam hidup kita sehari-hari mengambil keputusan seringkali itu berdasarkan karena kita percaya dan bersandar akan sesuatu. Karena kita percaya obat tertentu akan menyembuhkan, maka kita makan obat itu. Sampai kemudian kita terkejut ketika mengetahui ternyata obat itu justru adalah racun yang merusak tubuh kita. Karena kita percaya makanantertentu adalah produk yang baik dan menyehatkan lalu kita beli dan kita makan, sampai kemudian kita kaget karena ternyata  makanan itu diberi pemutih dan pengawet yang sangat berbahaya. Banyak orang memasukkan anaknya ke sekolah swasta terkenal yang bermutu, percaya bahwa guru-guru yang mengajar di situ adalah orang-orang yang berkualitas dan berdedikasi. Sampai kemudian baru tahu ternyata ada gurunya yang melakukan kekerasan seksual kepada murid-muridnya. Dan mana pernah kita berpikir bahwa pilot yang menerbangkan pesawat kita ternyata seorang yang sakit jiwa, sampai kemudian dia memutuskan untuk menabrakkan pesawat itu dan menewaskan semua penumpangnya? Tetapi kita akan menjadi orang yang sulit menjalani hidup ini kalau setiap hari kita hidup dalam ketakutan, kalau kita terus curiga dan tidak mempercayai institusi atau apapun yang ada di dalam hidup kita. Itu sebab kita menjalani hidup ini, mengambil berbagai keputusan dalam hidup ini, berdasarkan percaya saja.

Tetapi herannya mengapa kepada Sumber yang benar itu, banyak orang tidak mau beriman dan percaya? Betapa sulitnya membuat orang mau percaya kepada firman yang dikatakan oleh Tuhan, Sumber segala kebenaran, Sumber yang kita percaya tidak mungkin berdusta. Betapa sulitnya membuat orang mau percaya dan bersandar kepada Yesus Kristus. Pertanyaan ini penting dan perlu kita renungkan dengan serius. Dari situ kita tahu seringkali orang memakai prinsip “persepsi selektif” yang sebetulnya sangat subyektif dan tidak fair kepada Tuhan dan kepada kebenaran itu. Banyak hal dalam hidup kita sehari-hari kita menaruh faith dan trust kepada apa saja, tetapi pada waktu kita dipanggil untuk menaruh faith dan trust kepada Tuhan, mengapa sulit kita melakukannya?

Hari ini populasi penduduk bumi sudah lebih dari 7 milyar, dan sejak awal peradaban manusia hingga hari ini, tidak pernah tercatat di dalam sejarah ada seorang pendiri agama manapun yang setelah mati pernah hidup lagi, selain Yesus Kristus. Di situlah Kekristenan menyatakan perbedaan yang luar biasa daripada kepercayaan yang lain. Tidak ada pemimpin agama dan orang agung di dunia ini yang pernah bangkit dari kematian. Meskipun ada dicatat orang pernah mengalami mati suri dan kemudian hidup kembali sepuluh dua puluh tahun, orang itu sampai pada waktu tertentu akhirnya akan mati dan tidak pernah hidup kembali. Kebangkitan Kristus menjadikan Kekristenan itu sungguh berbeda daripada yang lain, membedakannya daripada pendiri dan pemimpin agama-agama yang lain, daripada orang-orang yang hebat dan agung sekalipun.

Apa yang menjadi keindahan dan apa perubahan yang dikerjakan Allah melalui moment kebangkitan Kristus itu?

Yang pertama, kebangkitan Kristus membuktikan bahwa Dia adalah Anak Allah yang berkuasa. Dalam Roma 1:4 Paulus mengatakan, “…dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitanNya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita.” Yesus berbeda daripada pemimpin agama yang lain karena Dia bukan manusia biasa. Itulah sebabnya pada waktu murid-murid pergi ke kubur Yesus dan mengetahui bahwa kubur itu kosong, mereka begitu terkejut. Malaikat di depan kubur itu berkata, “Mengapa engkau mencari Dia yang hidup di antara yang mati?” (Lukas 24:5). Sampai hari ini dan sampai kapan pun manusia tidak akan pernah menemukan mayat Yesus di atas muka bumi ini.

Orang yang paling dekat sejaman dengan Yesus pun hanya mengeluarkan satu dusta bahwa mayatNya dicuri oleh murid-muridNya. Yesus telah berulang kali mengatakan bahwa Dia akan menderita, mati dan bangkit pada hari ke tiga, namun murid-murid tidak percaya akan hal itu. Tetapi herannya pada waktu Yesus dikubur, justru pemimpin-pemimpin agama takut dan mereka mendatangi Pilatus dan minta supaya prajurit-prajurit Romawi menjaga kubur itu. Mereka bilang, “Si Penyesat itu sewaktu hidupnya berkata bahwa sesudah tiga hari Dia akan bangkit…” Bukankah kalau mereka menyebut Yesus “si Penyesat” berarti kata-kata Yesus tidak perlu dipercaya? Tetapi kalau mereka percaya Dia mungkin akan bangkit, kenapa mereka menyebut Dia penyesat? Bukankah itu berarti dalam hati kecil mereka percaya kata-kata Yesus itu benar adanya? Maka Pilatus mengirim prajurit menjaga kubur Yesus (Matius 27:62-66).

Kebangkitan Yesus membuktikan bahwa Ia bukan manusia biasa, Ia adalah Anak Allah, Tuhan kita. Kita bukan percaya kepada seorang pemimpin agama, kita bukan percaya kepada seorang nabi yang besar; kita percaya dan menyembah kepada Anak Allah yang berinkarnasi datang ke dalam dunia menjadi manusia. Kebangkitan itu harus mengingatkan kita, Kristus itu adalah Tuhan yang berkuasa. Tinggal satu hal saja yang akan dilakukan oleh semua manusia, sebagaimana yang Paulus katakan dalam Filipi 2:10-11, “… supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan…”

Yang ke dua, kebangkitan Kristus memberikan jaminan akan pengampunan dari dosa kita. Dalam 1 Korintus 15:17 Paulus berkata, “Jika Kristus tidak dibangkitkan maka sia-sialah kepercayaanmu dan kamu masih hidup di dalam dosamu…” Jika Kristus tidak bangkit kita akan tetap tinggal di dalam dosa kita. Yesus mati di kayu salib, firman Tuhan jelas mengatakan kematianNya menggantikan kita. Tetapi semua itu akan menjadi omong kosong kalau Dia tidak bangkit.

Kebangkitan Kristus itu menjadi jaminan ada pengampunan dosa. Karena Kristus sudah bangkit maka hal itu menjadi suatu jaminan bahwa siapa saja di antara kita yang pada hari ini datang kepadaNya, mengaku segala dosa dan kesalahan kita, pengampunanNya tersedia bagi kita. Itulah jaminan yang Yesus nyatakan sampai kepada kekekalan. Puji Tuhan!

Yang ke tiga, kebangkitan Kristus merubah perspektif kita akan kematian sehingga membawa pelayanan compassion dan mercy bagi dunia ini. Paulus berkata dalam 1 Korintus 15:30-31, “…mengapakah kami setiap saat membawa diri kami ke dalam bahaya maut…?” Jika Yesus Kristus tidak pernah datang ke dalam dunia ini, apa yang akan terjadi dengan dunia ini? Orang suka atau tidak suka, Kekristenan membawa pelayanan compassion dan mercy bagi mereka. Pada waktu satu daerah dilanda oleh bencana penyakit, siapa yang pertama-tama datang untuk merawat mereka? Pada waktu satu daerah mengalami bencana alam, siapa yang pertama-tama datang mengirim bantuan bagi mereka? Apa yang Paulus katakan di sini benar adanya, kenapa kami rela pergi menghadapi bahaya dan kesulitan? Bukankah secara natural orang justru pergi dan lari menghindari bencana dan kesulitan?

Pada waktu “Black Death” yaitu satu bencana penyakit bubonic melanda hampir seluruh Eropa di abad 13, sebagian besar orang-orang di sana mati karena hal itu. Kita harus akui ironisnya salah satu sebab penyakit itu menyebar karena pada rahib dan biarawati yang datang merawat mereka. Tetapi tanpa adanya orang-orang yang bersedia maju dan berkorban, siapa lagi yang mau datang bagi mereka? Paulus mengatakan, kenapa kami rela setiap jam menghadapi bahaya dan kematian di dalam kehidupan kami? Karena kebangkitan Kristus merubah perspektif orang Kristen mengenai kehidupan dan kematian. “Jangan pergi ke sana, orang-orang di sana adalah kanibal pemakan manusia; Jangan pergi ke sana, ada bencana dan kesulitan; Jangan pergi ke sana, ada penyakit yang sangat mematikan; Jangan pergi ke sana, karena pasti engkau akan mati.” Itu semua kalimat-kalimat yang diucapkan orang pada saat ada seseorang mau pergi ke satu tempat misi, tetapi tidak bisa melemahkan dan menggagalkan tekad mereka untuk tetap pergi. Paulus mengatakan, kenapa saya rela menghadapi semua itu? Karena saya sudah tidak takut akan kematian. Kristus datang merubah budaya manusia yang selfish dan egois menjadi kasih yang berkorban.

Lima dari enam misionari yang pertama kali datang ke Ecuador, Amerika Latin untuk mengabarkan Injil mati dibunuh oleh orang-orang Indian setempat, meninggalkan isteri dan anak-anak mereka yang ada di Amerika Serikat. Salah satu misionari itu, Jim Elliott mengatakan, “He is no fool who gives what he cannot keep to gain that which he cannot lose.” Para isteri ini membesarkan anak-anak mereka untuk mencintai Tuhan Yesus yang telah bangkit itu, dan tidak perlu takut akan kematian. Setelah besar, anak-anak itu kembali untuk mengabarkan Injil ke tempat dimana ayah mereka menjadi martir terbunuh karena Injil. Itulah keindahan perspektif Kekristenan karena kebangkitan Kristus.

Pada waktu bencana penyakit Ebola melanda Afrika, siapa yang datang dan tinggal di tengah-tengah orang yang sakit itu dan merawat mereka? Rata-rata itu adalah dokter dan perawat Kristen. Karena mereka tahu kalau pun sampai akhirnya mereka meninggal, mereka sudah mendapat keselamatan di dalam Kristus. Kematian di dunia ini adalah kematian yang sementara adanya. Kebangkitan Kristus harus merubah attitude kita di dalam aspek ini. Sampai selama-lamanya kita harus menjadi orang yang maju di depan mencintai orang-orang yang terhilang. Kita harus paling depan di dalam pelayanan compassion dan mercy kepada dunia ini. Itulah perubahan yang dikerjakan oleh kebangkitan Kristus.

Dalam dunia saat ini paling tidak ada 5 kebudayaan manusia. Pertama, kebudayaan Timur Tengah yang sangat dipengaruhi oleh agama Islam. Kedua, kebudayaan Asia Tenggara yang sangat dipengaruhi oleh Kongfusianisme. Ketiga, kebudayaan Animisme yang masih ada di beberapa negara yang belum maju. Keempat, kebudayaan India yang sangat dipengaruhi oleh Hinduisme, yang membagi masyarakat di dalam lapisan kasta. Dan yang kelima adalah kebudayaan yang dipengaruhi oleh karena Kekristenan dan Injil. Karena Kristus datang maka tidak ada lagi perbudakan dan eksploitasi manusia. Kristus datang membuat wanita menjadi sejajar dengan pria. Kekristenan datang memberikan pendidikan. Bayangkan kalau tidak ada Kekristenan, hanya ada 4 budaya yang menguasai dunia, tidak ada perempuan yang akan mendapat kesempatan bersekolah; tidak ada kesamaan hak. Yang ada hanyalah saling bunuh, dan hanya membodohi orang. Puji Tuhan! Kebangkitan Kristus telah merubah kebudayaan manusia menjadi indah.

Yang ke empat, kebangkitan Yesus Kristus dari kubur memberitahukan kepada kita tidak ada lagi hal-hal yang dikubur bisa terkubur selama-lamanya. Sebelum Yesus dipaku, disalib dan dibunuh di bukit Golgota, saksi-saksi dusta dipanggil untuk menyatakan kebohongan (Matius 26:59-61). Sesudah Yesus bangkit, para pemimpin agama memberikan sejumlah besar uang bagi para penjaga di kuburNya untuk menyebarkan kebohongan bahwa mayat Yesus dicuri oleh muridNya (Matius 28:11-15). Pada waktu Matius menuliskan Injilnya, dia mencatat kebohongan itu “masih tersiar di antara orang Yahudi sampai hari ini.” Namun fakta kebangkitan Kristus yang mereka berusaha kubur tidak selama-lamanya terkubur, satu kali kelak kebenaran akan terbuka. Lukas 8:17 mengatakan, “Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan.” Itulah sebabnya Alkitab mengingatkan kita senantiasa untuk berkata benar satu dengan yang lain. Yang “ya” katakan “ya,” yang “tidak” katakan “tidak” (Matius 5:37). Kebangkitan Kristus menyatakan tidak akan ada ketidak-benaran yang tersembunyi selamanya. Itulah sebabnya menjadi orang Kristen kita senantiasa harus menjaga hati nurani kita yang indah, bersih dan murni di dalam perkataan dan kelakuan kita di dalam relasi kita satu dengan yang lain. Itu implikasi pertama dari point ini.

Implikasi yang kedua, segala jerih payah pelayanan kita di dalam Kristus tidak akan pernah dilupakan dan diabaikan oleh Tuhan. Mari kita tidak mencari pujian dan tepuk tangan dari manusia, sebab kalau kita terus mencari hal-hal itu sebagai motif pelayanan kita, nanti sampai di surga kita akan terkejut setengah mati. Di situ kita akan menyaksikan banyak hal yang mengagetkan. Yang kita pikir akan menerima pujian dari Tuhan ternyata di sana diketok kepalanya sama Tuhan. Yang tidak pernah terlihat dan selama hidupnya diam-diam melayani Tuhan, semua akan muncul dan mendapat pujian dari Tuhan. Banyak orang mungkin kita tidak pernah tahu siapa namanya, di tengah-tengah jemaat mungkin kita tidak pernah melihat apa yang dilakukannya bagi Tuhan, pada waktu kita bertemu dengan mereka di dalam kekekalan kita akan menyaksikan Tuhan menyatakan approval kepada mereka. Karena orang-orang seperti itu melakukan semuanya itu di belakang panggung, tersembunyi dari mata orang lain. Semua itu tidak akan sia-sia di hadapan Tuhan, tidak akan dilupakan dan dikubur dari pandangan mataNya.

Implikasi yang ketiga, kebangkitan Kristus memberitahukan kita tidak ada lagi misteri sesudah kematian. Manusia sampai hari ini terus ingin tahu, terus ingin mencari misteri di balik kematian. Padahal kebangkitan Kristus telah membukakan bahwa tidak ada misteri tersembunyi setelah kematian di dalam dunia ini. Yang ada sebetulnya hanya tiga pandangan yang beredar, mana yang dia mau percaya. Pandangan pertama, setelah mati selesai habis, tidak ada apa-apa lagi. Maka tidak usah pusing-pusing, nikmati saja hidup yang sekarang sepuasnya. Pandangan kedua, yang jauh lebih banyak dipegang oleh orang adalah sesudah mati jiwa itu tetap ada. Dari pandangan kedua ini terbagi dua lagi. Yang satu bilang jiwa itu tetap ada tetapi entah dimana. Pandangan ini lazim dipegang oleh kebudayaan Timur, bahwa orang setelah mati akan menjalani hidup di alam baka seperti halnya di dunia ini. Budaya Cina sampai sekarang masih memegang konsep ini, sehingga kita bisa melihat dalam upacara kremasi mereka membakar uang kertas dan segala simbol barang-barang yang dianggap perlu untuk orang yang meninggal di alam sana. Budaya Mesir kuno juga seperti ini, terlihat dari barang-barang yang ditaruh bersama mumi di dalam kuburannya. Yang kedua dari pandangan ini adalah reinkarnasi, yaitu bahwa sesudah mati orang itu akan hidup kembali di dalam dunia ini namun dalam bentuk dan kondisi yang berbeda dari sebelumnya. Beberapa hal yang bisa kita tanyakan kepada penganut pandangan reinkarnasi, salah satunya ajak dia melihat fakta jumlah manusia di dunia sekarang jauh lebih banyak daripada orang di masa lampau. Logikanya jumlah orang di masa lampau harusnya lebih banyak dan karena bereinkarnasi maka sekarang lebih sedikit. Lalu yang kedua, tanyakan, siapa yang memutuskan engkau bereinkarnasi akan menjadi apa setelah mati? Berarti pertama engkau harus terlebih dahulu percaya ada seseorang atau sesuatu oknum yang berkuasa di alam semesta ini yang akan menentukan, bukan?

Pandangan ketiga adalah yang dikatakan oleh Alkitab, ya­itu kematian di dunia ini bukan akhir dari segala-galanya. Sesudah seseorang meninggal, akan ada kehidupan selanjutnya di dalam kekekalan. Kematian itu tidak men-terminate tubuh fisik kita. Bukan saja roh kita yang akan tinggal dalam kekekalan, tetapi roh dan tubuh yang dicipta Tuhan ini tidak akan hilang, tetapi akan diperbaharui oleh Tuhan. Itulah arti dari kebangkitan Yesus Kristus bagi kita. Baik orang Kristen maupun orang yang tidak percaya Tuhan, satu hari kelak akan sama-sama menghadapi kematian. Masing-masing orang harus mempunyai jawaban mau pegang pandangan yang mana.

Yang ke lima, kebangkitan Kristus sebaliknya akan menguburkan selama-lamanya segala penderitaan, kesulitan dan air mata. Wahyu 21:4 mengatakan, “Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita…” Betul, hari ini kita masih menghadapi kebencian dan permusuhan. Betul, hari ini kita masih menangis karena kesulitan dan penderitaan. Betul, hari ini kita masih menderita. Betul hari ini kita masih mengalami ketidak-adilan. Betul, satu hari kelak kita akan meninggal dunia. Tetapi kebangkitan Kristus memberikan pengharapan bagi kita. Kebangkitan Kristus membuat orang-orang Kristen yang hidup di dalam dunia ini menjadi orang-orang yang hidup di dalam pengharapan. Pengharapan itu akan menghasilkan sukacita, damai sejahtera karena kita tahu Tuhan telah mengampuni segala dosa kita. Pengharapan itu adalah pengharapan karena Tuhan kita adalah Allah yang perkasa. Penghadapan itu harus diterjemahkan di dalam hidup yang compassion kepada penderitaan orang lain. Pengharapan itu harus diterjemahkan di dalam tutur kata dan kelakuan kita yang penuh dengan kebaikan dan kemurahan. Pengharapan itu pulalah yang membuat kita percaya satu kali kelak Tuhan akan menghapus segala air mata dari mata setiap kita. Kematian tidak akan ada lagi. Tidak ada lagi orang yang akan berduka karena ketidak-adilan. Tidak ada lagi orang yang menangis karena selama di dunia mengalami kekerasan. Tidak ada lagi sakit-penyakit, kemiskinan, kelaparan, kekurangan. Semua itu akan lalu dan lewat karena langit dan bumi yang baru akan terjadi oleh karena kemenangan Kristus yang bangkit dari kematian.

Kita bersyukur karena kita boleh mengerti betapa berharga kebangkitan Kristus bagi setiap kita. Biar sukacita kita hari ini menjadi penuh oleh karena kebenaran ini, melampaui segala dukacita yang kita alami di dalam dunia yang sementara ini. Kiranya pengharapan kita penuh, menerobos awan gelap yang melingkupi hidup kita di dunia ini. Kita boleh menjalani hidup penuh dengan berkat, sukacita dan belas kasihan kepada orang-orang yang menderita. Karena Tuhan datang merubah dunia ini, kiranya setiap kita boleh menjadi lilin yang bercahaya memuliakan Dia selamanya.(kz)