Manifestasi Kasih kepada Kristus

Sat, 21 Mar 2015 22:10:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Samuel Budi Prasetya MSi.

Tema: Manifestasi Kasih Kepada Kristus

Nats: Kolose 1:24-29

Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa di dunia ini Ia menghadirkan Paulus, seorang hamba dan rasul yang Tuhan pilih untuk memberitakan Injil kasih karunia, sebagai seorang hamba Tuhan, sebagai seorang Kristen yang militant, sebagai seorang yang setia dalam pelayanan dia telah memberikan teladan dalam kehidupan kita. Surat-surat yang telah dikirim kepada Jemaat menjadi bagian yang indah pula dalam hidup kita, untuk kita mengerti bagaimana kebenaran itu ditegakkan; bagaimana mencintai Tuhan Yesus itu membutuhkan sebuah pengalaman rohani yang serius.

Kolose adalah sebuah Jemaat yang memiliki kehidupan yang begitu sangat baik, yang bertumbuh imannya dengan baik. Mereka jemaat yang kuat, bukan jemaat yang lemah; bukan jemaat yang sedang menghadapi tantangan fisik dan penderitaan yang susah. Paulus sangat bangga sekali dan memuji Jemaat Kolose ini. Tetapi di pihak lain Paulus tahu bahwa jemaat ini sedang menghadapi tantangan yang serius yaitu ajaran Gnostik yang mengutamakan pengetahuan pemahaman yang luar biasa untuk bisa mengenal Allah. Itu sebabnya Paulus berpikir kondisi jemaat ini dalam keadaan yang berbahaya sekali. Itulah yang mendasari Paulus menuliskan surat ini, mengingatkan rahasianya bagaimana dia bisa mengasihi jemaat ini.

Yang pertama, Paulus mengatakan, “Aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus untuk tubuhNya yaitu jemaat…” (ayat 24). Ini bukan berarti penderitaan Kristus dan kematian Kristus kurang, tetapi di dalam kata yang penting di sini sebaiknya disebutkan dengan kata “melengkapi” to supply, to make complete. Jadi membuat supaya kenyataan penderitaan Kristus itu betul-betul dapat dipahami dan dimengerti oleh jemaat. Dan untuk itu Paulus adalah orang yang selalu siap untuk menderita bagi Kristus. Bagi Paulus dia bersukacita untuk penderitaan itu dan itulah yang menjadi tekadnya. Di dalam surat Filipi Paulus mengatakan, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan persekutuan dalam penderitaanNya…” (Filipi 3:10). Karena penderitaan bagi Paulus adalah suatu stigma, satu simbol, satu keyakinan iman percayanya kepada Kristus, sebagai cara dia mau mengasihi Tuhan dengan menderita bagi Kristus. Karena itu dia bersukacita kalau dia harus menderita bagi Kristus. Karena baginya itu merupakan satu hal yang indah sekali, satu hak istimewa dari Allah. Dan itu sebabnya Paulus mengatakan dia rela mengalami hal itu demi Kristus dan berbahagia karena hal itu. Itulah juga krinduan Paulus bagi setiap orang percaya untuk menyatakan kasihnya kepada Tuhan dengan rela menderita bagiNya.

Tetapi yang menjadi persoalannya adalah ketika kita menderita bagi Kristus, siapa yang menilai bahwa kita menderita karena itu? Celakanya ada orang yang merasa sudah menderita bagi Kristus padahal itu penderitaan yang dibuatnya sendiri. Dia merasa sudah bersusah payah melayani dan segala macam, dan dia merasa sudah menderita buat Tuhan, tetapi ternyata bukan itu. Ada orang yang menilai dirinya mengalami kesusahan kesulitan untuk mengerjakan semua ini, menghadapi tantangan kesulitan lalu dia pikir dia sudah menderita bagi Kristus. Belum tentu. Biar Tuhan yang menilai semua itu. Dan Paulus tidak pernah meminta penilaian itu kepada orang lain. Biarlah Tuhan yang memperhitungkan dan menilai semuanya itu. Dan kalau kita sungguh mengasihi Tuhan, kerjakanlah itu sekalipun ada banyak orang bisa menyerang kita, sekalipun ada orang bisa mempersalahkan kita, walaupun seringkali ada orang bisa menganggap kita “sok menderita,” apapun ucapan mereka, hanya satu yang terpenting: tujuan hati kita yang murni itu yang membuktikan siapa kita sebenarnya dan apakah kita sungguh rela mau menderita bagi Kristus dan rela menderita bagi orang lain sesama kita?

Seringkali mengasihi sesama itu hanya sekedar apa yang bisa kita beri tetapi kita belum memberi diri kita sendiri kepada mereka. Paulus menerjemahkan itu bahwa ketika dia menderita, dia bukan merasa-rasa menderita, dia bukan bangga terhadap penderitaan itu, dia juga bukan membela perjuangan ambisi pribadinya sendiri lalu mengatakan saya menderita bagi Kristus. Harus hati-hati, oleh karena banyak orang bisa merasa menderita bagi Gereja, menderita bagi kebenaran, menderita bagi Kristus, tetapi itu perasaannya sendiri. Belum tentu itu penderitaan yang sebenarnya. Inilah yang menjadi satu masalah karena penderitaan itu hanya Tuhan yang menilainya, namun satu catatan penting bahwa mengasihi adalah satu kerelaan untuk menderita bagiNya.

Yang kedua, rasul Paulus mengasihi dengan cara yang indah sekali karena dia meneladani Kristus. Bagaimana cara meneladani Kristus dia ungkapkan dengan mengatakan, “…sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman Allah dengan sepenuhnya kepadamu, yaitu satu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad…” (ayat 25-26). Paulus menggunakan istilah “musterion,” sesuatu yang rahasia, sesuatu yang sangat menggugah rasa ingin tahu banyak orang. Mengapa Paulus memakai istilah ini? Karena Paulus mau mengkontraskan dengan Gnosticism sangat suka sekali menggunakan kata ‘misteri’ ini. Kalau anda semakin belajar, semakin punya banyak pengetahuan, semakin tahu hal-hal yang misteri, berarti anda makin kenal Tuhan. Dan Paulus sekarang mengatakan orang Kristen juga punya misteri, tetapi misteri yang lain, yang tidak sama dengan apa yang dikatakan oleh Gnosticism. Kalau orang Gnostik mengatakan misteri itu membuat anda bisa mengerti hal-hal rohani karena engkau telah belajar setengah mati, luar biasa makin lama makin pintar, Paulus mengatakan saya juga mempunyai misteri dan engkau orang Kristen juga punya misteri tetapi misterinya bukan karena pengetahuan yang hebat, karena kalau itu yang terjadi maka hanya orang-orang terbatas saja, jumlah yang sedikit sekali yang bisa mengenal Tuhan. Tetapi justru Paulus mengatakan rahasia yang dari Kristus itu adalah rahasia yang justru “sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudusnya sebagai rahasia yang kaya dan mulia…” Apa itu? Dia mengatakan rahasia itu adalah: Kristus ada di tengah-tengah kamu (ayat 27). Justru rahasia yang indah itu adalah ketika tahu bahwa Yesus ada di tengah-tengah kita, Dia mau turun ke dalam dunia ini, Dia mengosongkan diriNya untuk mau menjadi sama dengan manusia sehingga dapat dikenali oleh setiap orang, bukan hanya oleh orang-orang tertentu.

Saya sebenarnya sangat menguatirkan bahwa akhir-akhir ini ada banyak ajaran-ajaran Gereja tertentu yang cenderung ke arah seperti Gnosticism, yang membuat misterinya sendiri bahwa engkau bisa mengenal Tuhan kalau “a, b, c, d, e, f, dan seterusnya sampai z.” Ada banyak aturan-aturan dan ajaran-ajaran yang seolah-olah membuat satu eksklusifitas, membuat satu keterbatasan sehingga tidak semua orang bisa mengenalNya. Mungkin dalihnya kebenaran, mungkin dalihnya adalah doktrin, yang makin lama makin membuat orang kalau tidak demikian engkau tidak bisa mengenal Tuhan. Betulkah?

Bukankah rasul Paulus mengatakan rahasia itu justru sesuatu yang sangat mudah dikenal, bahwa Yesus Kristus datang ke dalam dunia ini, tinggal dan hidup di tengah-tengah kamu dan engkau bisa mengenal Dia, bukan mempersulit siapapun untuk mengenal Kristus. Tetapi prihatin kita, yang mempersulit orang kenal Kristus justru kadang-kadang orang Kristen sendiri. Inilah persoalan serius dalam hidup iman Kristen kita. Tetapi Paulus mengatakan ingatlah rahasia besar itu adalah Kristus hidup di tengah-tengah kamu.

Walaupun ini satu doktrin yang penting sekali yaitu Yesus yang menjadi manusia sejati ada orang yang menyelewengkan itu secara ekstrim dalam konteks ajaran yang namanya “Historical Jesus.” Ada makam-makam Yesus dan segala macam ajaran yang mau mengungkapkan Yesus betul-betul manusia saja dan kuburNya bisa ditemukan. Apapun kondisi seperti itu realitasnya yang tidak bisa dihindarkan bahwa Yesus betul-betul menjadi manusia, diperhitungkan juga di antara manusia, dan karena itulah Dia juga bisa merasakan kesakitan manusia; Dia bisa merasakan penderitaan manusia; Dia bisa merasakan kesulitan yang dihadapi manusia. Dan itulah yang Paulus ingin katakan dan itulah juga yang ingin Paulus ajarkan dan teladankan kepada kita agar kita dapat selalu menghadirkan Kristus melalui kehidupan kita sehingga mereka mengenal Kristus “in the marketplace,” memperkenalkan Kristus dalam kehidupan kita sehari-hari supaya mereka melihat Kristus melalui hidup kita. Bukan melalui sesuatu yang hebat, yang susah, yang sulit, tetapi justru melalui diri kita itulah kita memperkenalkan Kristus dimanapun kita berada. Cinta kasih Allah, citra Allah dalam diri kita dapat menjadi dikenal oleh banyak orang.

Simple sekali sebetulnya dunia ini memiliki sistem pengenalan yang seperti itu tentang orang Kristen. Mereka mau melihat Yesus di dalam diri orang Kristen. Kalau tidak, ini yang menjadi masalah.

Sdr mungkin sudah lama tidak tinggal di Jakarta, mungkin sudah tidak kenal jargon-jargon singkatan kata akronim yang menarik sekali. Teman saya naik bus di Jakarta, kernetnya mengatakan, “Yang gayus turun, yang gayus turun…” Semua bingung maksudnya apa? Ternyata kernet bus itu mau memberitahukan waktu mendekat kantor pajak, nama “Gayus” koruptor pajak itu. Saya kaget sekali, karena setahu saya Gayus itu nama orang Kristen di Alkitab, bukan? Di Jakarta juga ada yang namanya “markus.” Tetapi ini bukan nama penulis Injil, melainkan singkatan dari “makelar kasus.” Dan juga ada namanya “petrus,” bukan murid Yesus, tetapi singkatan dari “penembak misterius.” Barangkali ini bukan satu hal yang kebetulan nama-nama ini nama khas orang Kristen untuk menunjukkan orang Kristen sama saja dengan orang-orang yang lain. Ada di antara mereka yang juga koruptor, pelaku kejahatan dan pelaku hal-hal yang tidak benar. Derajat nilai iman Kristen turun. Saya bertemu banyak pengusaha, mereka mengatakan “Sama saja, pak, pegawai Kristen tidak Kristen sama saja, bahkan yang Kristen seringkali hidup perilaku etikanya lebih buruk daripada yang bukan Kristen.” Wow, sangat merosot sekali.

Lalu bagaimana mereka mengenal Kristus? Tidak melalui teori, tidak melalui pengajaran yang muluk-muluk. Kadang-kadang dunia ini melihat hal-hal yang sangat sederhana dalam hidup sehari-hari, dari sana titik “point of contact” untuk bertemu dan mengenal Kristus dalam hidup mereka sehari-hari. Tetapi sayang sekali justru kita orang-orang Kristen yang bisa menjadi penghambat untuk mereka bisa mengenal Kristus. Paulus mengatakan hai orang Gnostik, engkau mengajarkan hal-hal yang muluk-muluk untuk mengenal Tuhan Allah tetapi aku mempunyai rahasia mengenal Kristus adalah mengenal bahwa Dia ada tinggal di tengah-tengah umatNya.

Yang terakhir, rasul Paulus merindukan ketika dia mengasihi, Kristus dikenal oleh setiap pribadi. Dalam ayat 28 Paulus menekankan satu hal prinsip yang penting sekali. Paulus mengatakan “Dialah yang kami beritakan apabila tiap-tiap orang kami nasehati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus…” (ayat 28). Tekanan Paulus kepada “personally” pribadi, sangat-sangat pribadi, inidividually. Mengapa pribadi? Karena pribadi itu sesuatu yang penting dalam kehidupan ini. Tetapi kerapkali pribadi bersembunyi dan tenggelam dalam kebersamaan. Pribadi bisa bersembunyi juga di balik kerumunan dan kebersamaan. Dan pribadi menjadi tidak terperhatikan digantikan dengan bersama-sama. Bersama-sama itu baik, tetapi pribadi juga penting di hadapan Tuhan. Dan Paulus sangat memperhatikan yang namanya pribadi. Oleh sebab itu dia mengatakan dia menasehati, dia mengajar kepada jemaat, tetapi dia lebih menggunakan kata “tiap-tiap orang.” Supaya “tiap-tiap orang” itu bertumbuh di dalam kesempurnaan Kristus di dalamnya. Karena dia ingin setiap pribadi itu mendapatkan fokus dari Tuhan sendiri untuk terperhatikan.

Kita seringkali terfokus kepada kebersamaan, kumpulan kolektif, komunitas, tetapi seringkali pribadi demi pribadi terabaikan. Tiap-tiap orang perlu mendapatkan perhatian, perlu telinga yang mendengar ketika mau “curhat,” tetapi itu seringkali tidak terperhatikan. Gereja juga bisa terjebak dalam hal yang sama. Kita mungkin menganggap gereja kita kuat, gereja kita baik, gereja kita bertumbuh, tetapi gereja dalam arti komunitas. Tetapi pribadi demi pribadinya bagaimana? Kalau setiap pribadi jemaatnya itu kuat, jemaatnya pasti kuat. Tetapi kalau gerejanya kuat, pertanyaannya pribadi jemaatnya kuat atau tidak? Itu menjadi pertanyaan yang serius.

Sebagai pendeta saya selalu berpikir, apakah jemaat ini pribadinya bertumbuh kuat atau tidak? Mungkin gereja ini baik, semua berjalan dengan lancar, saya bisa berpikir seperti itu. Program gereja untuk menumbuhkan rohani jemaatnya baik, kita bisa merancang itu. Tetapi masalahnya pribadi demi pribadi jemaat itu bertumbuh rohanikah? Menuju kepada kesempurnaan dalam Kristuskah? Itu pertanyaan yang sulit dan harus kembali melihat pribadi demi pribadi, yang di sini sudah baik bertumbuh tetapi turun lagi, yang di situ turunnya merosot sekali tetapi sekarang sudah bertumbuh membaik. Macam-macam variasi setiap orang bisa berbeda-beda dalam sepanjang tahun pun bisa berubah dan bergerak naik turun seperti grafik.

Paulus memahami Jemaat tidak sebagai komunitas tetapi juga pribadi-pribadi mereka. Yesus menjumpai setiap pribadi dengan segala pergumulan pribadi mereka. Yesus memberikan contoh dan teladan yang baik karena pada orang yang mengalami sakit yang berbeda, konteksnya lain, Yesus bisa melakukan cara yang berbeda untuk menolongnya. Yesus bisa mengatakan kepada orang buta untuk membersihkan matanya di kolam Siloam setelah Yesus mengoleskan tanah di matanya. Tetapi Yesus melakukan penyembuhan kepada orang buta yang lain hanya dengan mengucapkannya. Mengapa tidak sama? Karena Yesus melihat pengalaman rohani setiap orang itu harus dialami berbeda. Tidak ada metodologi yang sama. Karena Tuhan mengenal tiap-tiap pribadi itu dan Dia sangat memperhatikan.

Jadi mengasihi tidak bisa global, mesti betul-betul berfokus kepada tiap-tiap pribadi yang berbeda-beda juga. Oleh karena itulah rasul Paulus selalu berusaha untuk melakukan secara pribadi yang terbaik, karena Paulus tahu bahwa setiap orang perlu punya pengalaman yang berbeda. Paulus pun selalu mengatakan dia ingin setiap pribadi itu berusaha untuk mencapai yang terbaik. Dalam surat Filipi 3:12-15 Paulus mengatakan, “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal itu atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya… Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku… Karena itu marilah kita yang sempurna berpikir demikian…” Itu semua harus dilakukan oleh setiap pribadi, bukan bersama-sama. Bersama-sama berlari, betul. Dari start yang sama mungkin, tetapi setiap orang akan berbeda-beda pada saat dia mempunyai konsep yang lain, manusia yang satu dengan manusia yang lain. Sehingga tujuannya sama, startnya sama, tetapi proses setiap orang ketika berlari bisa berbeda. Kita tidak bisa meremehkan satu sama lain. Kita tidak bisa meremehkan gereja yang satu dengan gereja yang lain. Kita semua sedang berlari-lari pada tujuan yang sama. Kita sedang start mulai dari hidup yang baru diperbaharui oleh Kristus tetapi kita sedang menuju kepada “teleios” kesempurnaan itu untuk bersama-sama bergerak ke arah yang sama.

Maka dari itu saya mengharapkan mari kita belajar mengasihi setiap pribadi yang kita jumpai. Kita menjumpai orang demi orang yang ada di sekitar kita. Pengalaman pribadi mereka itu menjadi inspirasi yang besar buat kita untuk kita bisa mengasihi dengan lebih sungguh-sungguh, bukan hanya secara umum tetapi secara pribadi menjumpai mereka.

Kadang kita melupakan hidup kita sehari-hari kita harus menghadirkan Kristus. Itulah cara kita mencintai Tuhan. Bukan dengan sesuatu pengertian yang luar biasa dan hebat, tetapi kadang-kadang Tuhan membutuhkan kita yang sederhana. Kesederhanaan dalam hidup ini dapat memperkenalkan Kristus dalam hidup setiap orang di sekitar kita. Marilah kita mengasihi karena mengasihi tidak mudah tetapi mengasihi Kristus dapat kita hadirkan di dalam hidup kita setiap hari. Bukan dengan sebuah kesombongan pengetahuan rohani kita tetapi dengan sebuah kesederhanaan atas apa yang bisa kita kerjakan dan kita katakan. Ketika engkau melakukan sesuatu untuk seseorang secara personal sekali kepada orang-orang yang membutuhkan, di situ engkau sudah berbuat sesuatu bagi Tuhan. Karena Dialah yang mengatakan “Ketika Aku lapar, engkau memberi Aku makan…” (Matius 25:35 dst.).

Kita berterimakasih karena Tuhan menyelamatkan kita bukan dengan mengangkat kita dari dunia ini tetapi Dia mengembalikan kita dalam dunia ini, sehingga keselamatan yang kita alami, pembaharuan hidup yang sungguh kita rasakan, harus kembali tertuang dan terpancar di dalam kehidupan sehari-hari. Bersyukur kalau Tuhan mempercayai kita, bahkan oleh anugerahNya Tuhan berani mempercayakan kepada kita untuk memberitakan Kristus dan Injil kebenaran itu melalui diri kita. Yang seringkali kita sadari bahwa kita tidak dapat dipercaya, tetapi Tuhan tetap mempercayai kita. Biar kiranya kita boleh mensyukuri hak istimewa akan hal ini agar kita terus-menerus mewartakan Injil, menghadirkan Kristus melalui kehidupan kita, di tengah-tengah kehidupan Jemaat, di tengah-tengah kehidupan lingkungan, di tengah-tengah kehidupan keluarga, di tengah-tengah tempat kita bekerja. Karena kita tahu ketika Kristus hadir maka perubahan terjadi. Kebenaran-kebenaran Kristus yang ada di hidup kita yang kita jalani dan kita jadikan nilai-nilai kehidupan yang utama akan membawa pengaruh yang besar, baik bagi diri kita sendiri dan juga bagi orang-orang di sekitar kita.(kz)