Iman yang Bertumbuh di tengah Tekanan

Sun, 08 Mar 2015 06:34:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Seri “Orang-orang yang Berjumpa dengan Kristus” (2)

Tema: Iman yang Bertumbuh di tengah Tekanan

Nats: Yohanes 9:1-41

 

Bagi orang yang memiliki mata yang dapat melihat, tidak mudah menyelami keadaan dan perasaan orang yang buta. Membaca biografi dari Helen Keller, betapa frustrasi keadaan dia yang buta dan tuli sejak usia belum lagi menginjak 2 tahun. Hanya kegelapan dan kesunyian yang dia jalani setiap waktu. Tidak bisa berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya membuat dia menjadi anak yang sangat pemarah dan sering mengamuk karena tidak bisa mengerti. Orang tuanya setengah mati berusaha membesarkan dia dan tidak sanggup melakukan apa-apa. Sampai kemudian ada seorang guru muda yang datang ke dalam hidupnya, dengan sabar, tekun dan kasih menolongnya bisa membaca dan menulis. Dari situlah muncul seorang Helen Keller yang agung yang menjadi inspirasi bagi banyak orang sepanjang jaman.

Dalam Yohanes 9 ini ada tiga jenis mata yang sedang beradu pandang pada moment saat itu. Mata yang pertama adalah mata yang berada dalam kegelapan dan sejak lahir tidak pernah melihat apa-apa. Saya percaya tiap jam tiap waktu dia ingin sekali punya mata yang bisa melihat apa yang ada di sekitarnya. Mata yang juga mungkin selalu bertanya dalam hatinya bagaimana mata orang lain memandang kehidupannya sekarang saat ini. Itulah mata pengemis buta sejak lahir yang sedang duduk di pojok meminta sedekah, yang hari itu mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus.

Tidak mudah menyelami keadaan dan perasaan orang yang buta. Orang-orang yang menderita seperti itu umumnya  akan bereaksi dengan dua hal saja. Yang pertama menghina dan menghukum diri sebagai penyebab dari penderitaan itu, merasa diri tidak berarti dan tidak berharga, hanya menjadi sampah masyarakat. Menjadi peminta-minta, itulah satu-satunya yang bisa dia kerjakan suka atau tidak suka. Tetapi yang kedua, seringkali orang seperti ini mencari kambing hitam, menuduh orang lain atau situasi yang menjadi penyebab datangnya kesulitan dan penderitaan yang dia alami. Di tengah dua reaksi yang ada, mungkin ditambah dengan hal yang ketiga, telinganya mendengar orang mempercakapkan dirinya, melihat dengan iba dan kasihan, atau dengan sinis mempertanyakan dosa diakah atau dosa orang tuanya yang menyebabkan dia buta sejak lahir?

Mata yang kedua adalah mata yang diwakili oleh murid-murid Yesus, yang mungkin sebenarnya tidak bermaksud menghina, tetapi secara umum itulah reaksi yang senantiasa muncul saat melihat orang buta seperti ini. Mata yang melihat dengan rasa ingin tahu; namun yang unnecessary mengeluarkan kalimat-kalimat  dan komentar yang judgmental kepada orang ini. Bisa dikatakan dengan bisik-bisik di belakangnya mungkin tidak kedengaran secara langsung tetapi sebenarnya sedikit banyak setelah dia hidup sampai dewasa dia pasti pernah mendengarkan kalimat pertanyaan yang abusive seperti ini.

Murid-murid Yesus barangkali tidak bertujuan menghakimi atau menuduh siapa-siapa, tetapi mereka sedang mengangkat tema pikiran yang beredar dari orang-orang lain saat melihat penderitaan dan kesulitan terjadi pada diri seseorang. Akibat dosa siapakah ini? Dosa dia sendirikah? Atau dosa orang tuanya? Namun apakah pertanyaan-pertanyaan seperti ini bisa menolong kondisi dan situasi orang buta ini? Tidak. Tidak akan pernah bisa menolong dan membantu dia. Bahkan yang lebih dalam lagi pertanyaan seperti ini akan mendatangkan rasa guilty dan perasaan direndahkan. Barangkali di balik pertanyaan ini ingin menyatakan orang tuanya yang salah sehingga sedikit menghibur orang buta ini bahwa kebutaannya bukan akibat kesalahannya sendiri. Atau kalau pertanyaan ini ingin menunjukkan kebutaan ini akibat dari kesalahannya sendiri yang sepantasnya dia terima dan tanggung. Bahkan barangkali usaha untuk mencari jawaban atas pertanyaan ini bertujuan untuk “membela Tuhan” bahwa bukan Tuhan yang menyebabkan penderitaannya.

Sebenarnya ini adalah “debat kusir” yang tidak ada selesainya; satu pertanyaan klasik yang tidak habis-habisnya dibahas orang sepanjang sejarah manusia, yang tidak mendatangkan solusi dan kebaikan bagi pihak manapun. Dan jawaban apapun, kalau dikatakan itu adalah akibat dosa orang tuanya maka akan mendatangkan persoalan teologis yang sebenarnya tidak gampang dan tidak mudah: mengapa Tuhan menaruh dosa orang lain kepada anaknya? Kenapa anak itu harus menanggung konsekuensi atas perbuatan dan kesalahan orang tuanya? Bukankah tidak adil kalau Tuhan berbuat seperti itu? Dan kalau kebutaan itu disebabkan oleh dosanya sendiri, ada kesulitan untuk jawaban yang tidak logis ini, yaitu kalau sejak lahir dia buta, kapan dia berbuat dosa? Di dalam kandungan ibunyakah? Kalau itu adalah dosanya nanti waktu dia dewasa, kenapa dia harus menerima akibat dari kesalahan yang akan datang ditimpakan sebelumnya? Maka jawaban apapun yang diberikan sebenarnya tidak menolong orang itu, terlebih lagi ujung-ujungnya akhirnya memojokkan Tuhan sebagai penyebab di dalam peristiwa ini.

Mata yang ketiga adalah mata dari Tuhan kita Yesus Kristus yang melihat dan memandang orang buta ini dengan kasih dan simpati. “Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat…” (ayat 1). Inilah jenis mata yang berbeda dengan semua mata yang lain; mata yang melihat bukan saja kepada hal-hal yang besar dan agung, tetapi mata itu melihat burung pipit yang kecil, melihat bunga rumput yang sederhana, bahkan segala hal yang paling hina dan remeh di mata manusia tidak pernah dipandang hina olehNya. Mata itu adalah mata yang penuh dengan belas kasihan, mata yang melihat kesulitan dan persoalan orang, mata yang memandang dengan simpati dan penuh empati turut merasakan.

Yesus memberi jawab yang tegas dan jelas pertanyaan itu: bukan salah dia dan bukan salah orang tuanya. Fakta tidak bisa kita pungkiri, anak itu lahir cacat. Fakta tidak bisa kita pungkiri ada hal-hal yang tidak bisa kita mengerti kenapa perjalanan hidup orang baik bisa berakhir tragis. Ada hal-hal yang tidak bisa kita mengerti kenapa penderitaan dan nestapa tidak henti-hentinya terjadi beruntun kepada orang yang sama. Kita sampai kapanpun mungkin tidak bisa mendapatkan jawabannya. Tetapi Tuhan tidak ingin mengajak mengkorek-korek dan mencari penyebabnya. Tuhan mengajak kita melihat fakta buruk itu bisa menghasilkan kemuliaan bagi Tuhan dan mendatangkan hal yang indah dan penting adanya. Bukan salah orang itu tetapi melalui kebutaannya biar Tuhan berkarya dan kemuliaan Tuhan dinyatakan melalui hidupnya.

Sdr dan saya mungkin bertanya dimanakah manfaat dan faedahnya kalau saya menjadi buta? Bagaimana kemuliaan Tuhan bisa dinyatakan melaluinya kalau saya menjadi lumpuh? Dimanakah kebaikannya kalau saya mengalami penderitaan dan kesulitan dalam hidupku? Kalimat itu muncul sebab kalimat itu berangkat dari asumsi bahwa kita baru bisa memuliakan Tuhan dan bersyukur kepadaNya kalau hidup kita diberkati dan diberi segala hal yang baik semata-mata; kalau hidup kita berjalan lancar dan sukses baru di situ tanda Tuhan berkarya.

Yesus Kristus berkata, melalui kesulitan penderitaannya kemuliaan Allah akan dinyatakan. Yesus menyatakan kemuliaan itu. Kemuliaan itu adalah tanda pada waktu orang itu disembuhkan, itulah tanda Mesias yang dinanti-nantikan orang Israel itu sudah datang. Mesias yang dijanjikan dalam PL adalah mesias yang akan mendatangkan sesuatu yang baru, masa yang indah dan baru. Itulah sebabnya kedatangan Yesus disertai dengan berbagai macam mujizat terjadi. Tetapi mujizat itu menyembuhkan, juga menjadi satu ‘foretaste’ cicipan satu kali kelak segala sesuatu itu betul-betul indah dan baru adanya. Di langit dan bumi yang baru dikatakan dalam kitab Wahyu tidak akan ada lagi orang yang buta, tidak akan ada lagi orang yang timpang, tidak akan ada lagi orang yang menangis, miskin buta dan telanjang, tidak akan ada lagi orang yang dianiaya, tidak akan ada lagi orang yang ditinggalkan. Semua akan Tuhan jadikan baru. Yang buta akan melihat, yang terhina akan dimuliakan, yang timpang akan berjalan, yang tidak berpakaian akan dikasihi dan dilindungi oleh Tuhan, dan bagi mereka yang dianiaya, keadilan Tuhan akan dinyatakan atas mereka. Kita mungkin tidak akan mengalami hal itu di dalam hidup kita yang sekarang. Kita sakit dan kesembuhan itu mungkin tidak terjadi. Tetapi itulah yang akan kita alami kelak pada waktu Mesias Tuhan Yesus Kristus datang kembali.

Yesus lalu menyembuhkan mata orang itu, membuatnya celik dan bisa melihat. Persoalan sakitnya selesai. Puji Tuhan. Namun persoalan baru muncul. Yesus sebenarnya bisa menyembuhkannya tanpa menggunakan cara yang tidak perlu mendatangkan kontroversi. Melakukan tindakan penyembuhan itu tidak ada masalah, yang jadi persoalan adalah pada waktu peristiwa itu terjadi pada hari Sabat dan cara yang dilakukan untuk penyembuhan itu yang dipermasalahkan oleh pemimpin agama orang Yahudi yang menuduh itu melanggar aturan hari Sabat. Bukankah sebenarnya Yesus bisa menyembuhkan dengan sekedar meniup mata orang buta itu saja? Tetapi dengan meludah ke tanah, mengaduk tanah itu dengan jariNya, mengoleskan tanah itu ke mata orang buta dan menyuruh orang buta itu mencuci mata dan mukanya di kolam Siloam, itu jadi problem. Peraturan tidak boleh bekerja pada hari Sabat sudah dibuat sedemikian kompleks oleh ahli Taurat, sehingga tindakan mengaduk tanah itu sudah sama dengan mengolah tanah untuk menanam.

Mengapa Yesus melakukan hal itu? Yesus tidak takut menghadapi kepicikan dan kesempitan hati dari para pemimpin agama, para ahli Taurat yang terus mengamat-amati Yesus dan mencari hal-hal yang melanggar struktur agamawi pada waktu itu. Tetapi sekaligus tujuannya adalah Dia juga mau melihat apakah orang buta itu punya iman. Dan iman dia bukanlah iman yang tidak ada harga yang harus dibayar dalam hidup ini. Tetapi iman yang sejati itu layak dijalani menghadapi setiap sikap abusive dan tekanan dan engkau tidak akan menukarkannya dengan hal yang lain.

Saya senang sekali membaca kisah ini, karena di sini banyak terdapat dialog yang lucu. Waktu tetangga dan orang-orang yang tahu dia yang dulunya pengemis buta menjadi bertanya-tanya, benarkah ini dia, bolak-balik mereka terus bertanya sampai orang ini bilang, “Benar, ini aku.” Mungkin mereka tidak bisa mengenali karena setelah matanya celik rupanya jadi berubah ganteng. Mereka lalu bertanya, bagaimana engkau yang tadinya buta sekarang bisa melihat? Berbeda dengan orang lumpuh di Yohanes 5, yang tidak tahu siapa yang menyembuhkan dia, orang buta ini mengatakan, “Orang yang disebut Yesus itu menyembuhkan aku…” (ayat 11). Dia pergi mencuci matanya di kolam Siloam sebab dia pernah dengar nama itu. Dan pada waktu terjadi pembicaraan hari itu dia kira-kira tahu yang datang dan berbicara kepadanya adalah Dia yang bernama Yesus. Ada hati dan pengharapannya untuk disembuhkan Tuhan. Dan setelah dia mencuci matanya, celiklah dia dan itulah moment awal imannya kepada Tuhan.

Bagaimana engkau yang tadinya buta sekarang bisa melihat? (ayat 15). Sekarang pertanyaan ini datang dari orang-orang Farisi. “Ia mengoleskan adukan tanah pada mataku, lalu aku membasuh diriku…” Sebagian orang-orang Farisi itu segera melihat celah kesempatan untuk mempersalahkan Yesus, karena dengan tindakan mengaduk tanah itu Yesus sudah berdosa melanggar aturan Sabat. “Orang ini tidak datang dari Allah sebab Ia tidak memelihara hari Sabat.” Sebagian orang Farisi berbeda pendapat dan mengatakan kalau Yesus berdosa bagaimana mungkin Ia bisa melakukan mujizat penyembuhan itu. Akhirnya mereka melemparkan pertanyaan kepada orang buta ini, “Apa katamu tentang Dia?” Dan dengan tegas dia menjawab, “Ia adalah seorang nabi” (ayat 17). Jelas kelihatan orang buta ini tidak takut menghadapi tekanan dan cerdas menjawab. Karena orang Farisi sudah debat kusir membicarakan teologi yang bolak-balik tidak ada juntrungannya, mereka tidak bisa menemukan alasan bagaimana Yesus bisa menyembuhkan matanya yang buta. Akhirnya mereka panggil orang tuanya, “Inikah anakmu? Bagaimana dia sekarang dapat melihat?” (ayat 19). Tekanan itu sekarang bergeser kepada orang tuanya. Ayat 22 memberikan informasi kepada kita bahwa setiap orang yang mengaku Yesus sebagai Mesias akan dikucilkan dari masyarakat. Jelas orang buta ini tahu konsekuensi apa yang menantinya dengan terbuka mengaku diri sebagai pengikut Yesus. Orang tuanya tidak mau menanggung tekanan ekskomunikasi dari lingkungannya sehingga mereka cuci tangan dan tidak mau tahu urusan iman dari anak mereka sendiri. “Tanyakanlah kepadanya sendiri, ia sudah dewasa, ia dapat berkata-kata untuk dirinya sendiri” (ayat 21). Sekarang orang buta ini benar-benar sendirian di tengah tekanan yang menghimpitnya dari masyarakat. Orang tuanya sendiri meninggalkan dia dan tidak berada di sisinya pada saat-saat seperti itu.

Kemudian orang Farisi itu sekali lagi memanggil dia dan menekan dia dan berkali-kali menanyakan hal yang sama, apa yang telah diperbuatNya kepadamu? Bagaimana Dia menyembuhkanmu? Luar biasa, menghadapi tekanan terhadap imannya orang buta ini masih bisa bereaksi dengan humor. Dari tadi aku sudah bilang dengan jelas, kamu tidak mau dengar. Sekarang tanya lagi hal yang sama. Jangan-jangan kamu sebenarnya juga mau jadi muridNya? Ayo mengakulah (ayat 27). Mereka merasa sangat terhina dengan ejekan orang buta ini dan berbalik mengejek dia. “Engkau murid orang itu tetapi kami murid-murid Musa” (ayat 28). Itulah tradisi kebanggaan sebagai lulusan sekolah yang sudah berdiri sejak 2000 tahun yang lalu, sekolah Musa. Sedangkan sekolahmu? Baru buka kemarin. Kami adalah murid Musa, buat apa jadi murid Dia?

Orang yang buta sejak lahir ini mungkin bisa menghasilkan kepahitan hati karena penderitaan dan kesulitan yang dialaminya, tetapi kepahitan itu tidak terjadi di dalam dirinya. Orang Farisi yang bertanya itu justru yang hatinya pahit melihat keberuntungan yang terjadi kepada orang buta ini. Itulah “cruel” dari hati seorang yang mengaku rohani spiritual padahal dalamnya betul-betul tidak rohani. Melihat hal seperti itu kita juga perlu mawas diri karena itu juga bisa menjadi tendensi kita orang yang berdosa.

Maka bagi saya kisah ini adalah kisah yang indah luar biasa. Ketika engkau berjumpa dengan Yesus, dan ketika imanmu dipertaruhkan di hadapan tekanan massa dan engkau harus berdiri sendirian di tengah pressure yang luar biasa, penghinaan dan ejekan atas imanmu, tindakan pengucilan yang akan engkau alami dari lingkungan masyarakat, keluarga dan orang-orang terdekat di sekitarmu meninggalkanmu seorang diri, bagaimana sikap dan tindakanmu? Orang buta ini seorang diri menghadapi seperti ini namun justru imannya bertumbuh. Dari “aku dengar orang menyebut namaNya Yesus,” lalu “aku tahu Yesus yang menyembuhkan mataku,” kemudian “aku tahu Ia adalah seorang nabi yang diutus Allah,” selanjutnya, “aku percaya Ia adalah Mesias,” itu membuat dia akhirnya didorong dan diusir keluar dari desanya.

Betapa indah Yohanes 9:35 mencatat, setelah Yesus mendengar bahwa orang buta itu telah diusir keluar dari desanya, Yesus mencari dia. Yesus tidak meninggalkan orang ini sendirian. Yesus hadiri di sisinya dan memberinya keyakinan. “Percayakah engkau kepada Anak Manusia?” Jawabnya, “Aku percaya, Tuhan!” dan kemudian orang itu tersungkur ke tanah, bersujud menyembah Yesus (ayat 36-38). Puji Tuhan. Mata orang ini pernah buta. Buta tidak mengerti berkat dan anugerah Tuhan, itu wajar. Buta kemudian merasa Tuhan kurang baik dalam hidupnya, itu lumrah karena dia belum memahami dan belum mengerti. Setelah diberi pemahaman pengertian, celiklah matanya dan tahulah dia berkat anugerah Tuhan melalui kesembuhannya, dan sujudlah orang itu mengerti akan God’s grace dan memuliakan Tuhan. Itulah sebuah iman yang progresif dari tidak tahu menjadi tahu dan dinyatakan dengan sikap menyembah.

Selanjutnya orang-orang Farisi yang ada di situ untuk mencari-cari kesalahan Yesus kemudian bereaksi setelah mendengar kalimat Yesus “Aku datang untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya yang dapat melihat menjadi buta” (ayat 39). Orang-orang Farisi menjadi tidak senang, dan bilang kepada Yesus, jadi maksudMu kami ini buta? Maka Yesus menjawab mereka, kalau kamu mengaku dirimu buta, dosa itu tidak ditanggungkan kepadamu. Tetapi karena kamu mengaku melihat padahal engkau buta, maka dosamu akan tetap. Orang-orang Farisi ini secara fisik bisa melihat, namun setelah melihat karya dan pekerjaan Tuhan hatinya bukan menjadi percaya tetapi mereka mengeraskan hati tidak mau percaya, maka mereka akan tetap berada dalam kebutaannya. Dan itu adalah kebutaan yang lebih dahsyat daripada buta fisik karena buta itu adalah buta rohani yang berakibat fatal dalam kekekalan. Kebutaan rohani terjadi karena ignorance dan hati yang sengaja dikeraskan. Sudah melihat tetapi tidak menghargai itu berkat Tuhan; sudah mengalami tetapi tidak mau melihat dan memuliakan Tuhan. Itu bukan karena kurang tahu atau tidak mengerti, itu adalah sikap memberontak.

Kisah ini adalah kisah yang sangat ironis karena ada mata orang yang buta yang akhirnya bisa melihat dan mengenal Yesus Kristus setelah dia sembuh. Ada mata dari para murid yang lewat, yang hanya bisa membicarakan dan mendiskusikan keadaan orang itu tanpa berusaha menolongnya. Namun ada mata dari pemimpin-pemimpin agama yang sudah melihat mujizat itu tetap mereka tidak bisa melihat Tuhan di dalam kebutaan dan kemunafikan mereka. Merenungkan peristiwa ini, betapa bersyukur kita yang boleh bertemu dengan Yesus Kristus yang melihat kedalaman hati kita dengan mata yang agung dan mulia. Biar mata kita boleh melihat dan menyaksikan kebesaran kemuliaan Tuhan yang menjamah hati dan menyentuh hidup kita dan menjadikan mata kita celik, bersih, terang, fokus dan jelas sehingga kita bisa menata melihat semua hal dengan tepat, dengan benar di dalam perspektif anugerah Tuhan. Di situ hati dan jiwa kita menjadi sehat di hadapan Tuhan.(kz)