Kasih yang Sungguh – sungguh

Sun, 15 Feb 2015 11:25:00 +0000

Pengkhotbah: Ev. Verra Agnes Allouw BTh.

Tema: Kasih yang Sungguh-sungguh

Nats: 1 Petrus 4:7-11

 

“Kesudahan segala sesuatu sudah dekat.Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang supaya kamu dapat berdoa. Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa” (1 Petrus 4:7-8).

Saya masih sangat terkesan ketika satu saat saya menemani seorang teman dari daerah asal kami ke Jakarta.Begitu melihat banyak gedung pencakar langit, dia berkomentar, “Wah, ini baru namanya gedung yang sungguh-sungguh!” Lewat taman yang ditanami berbagai pohon dan bunga yang indah, dia berseru, “Ini baru taman yang sungguh-sungguh!” Waktu tiba di gereja, masuk ke dalam ruang ibadah, dia berkata, “Ini baru namanya gereja yang sungguh-sungguh!”Lalu saat mendengar paduan suara bernyanyi, dia berkata, “Ini baru namanya paduan suara yang sungguh-sungguh!”Waktu pendeta berkhotbah, dia berbisik, “Ini baru namanya pendeta yang sungguh-sungguh!” Luar biasa saya pikir, bagaimana komentar-komentar yang dia ungkapkan sepertinya dia mempunyai perasaan semua ini belum pernah dia lihat, sama seperti anak-anak muda yang ekspresikan dengan seruan, “Wow!” Ekspresi dengan kalimat “sungguh-sungguh” bagi teman saya ini adalah sesuatu yang besar, sesuatu yang indah, sesuatu yang dipersiapkan, sesuatu yang memberi makna, mengesankan dan luar biasa.

Bagaimana dengan rasul Petrus ketika dia mengungkapkan tentang saling mengasihi, berpesan kepada Jemaat Tuhan, “…kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain…” (1 Petrus 4:8a)? Saya percaya nasehat ini lahir dari sebuah pengalaman hidup. Bagi rasul Petrus kisah kasihnya dengan Tuhan Yesus tidak akan dia lupakan. Juga termasuk dengan murid-murid Yesus yang lain. Karena menjelang Yesus akan disalibkan, Yesus berulang kali menasehatkan mereka “waktuKu sudah dekat, kalian harus saling mengasihi” (band. Yohanes 13:33-35). Antara waktu yang terbatas dan panggilan Tuhan untuk murid-murid saling mengasihi ini penting sekali, karena kekuatan murid-murid itu terletak dari bagaimana mereka saling mengasihi.Dan Petrus sangat terkesan dengan nasehat itu.Apalagi kita tentu tahu setelah Yesus mati dan bangkit, menampakkan diri kepada Petrus yang sedang dalam kondisi perasaan campur aduk dan bertanya tentang kasih Petrus kepadaNya sampai tiga kali, itu menembus hatinya yang terdalam.Istilah orang Jakarta, “sampai menohok,” sampai menembus hati Petrus yang membuat dia terhentak sadar.Apakah selama ini Tuhan lupa bahwa aku adalah orang yang sangat responsif, seorang yang sangat berkomitmen? Tetapi dia juga tidak akan lupa bagaimana juga dia mudah menyangkal Yesus. Dalam perasaan yang galau dan tertusuk itulah Petrus sungguh-sungguh sadar bahwa kasihNya kepada Tuhan itu masih terus-menerus harus diperbaharui , harus dipertanyakan, harus disadari kembali apakah sungguh-sungguh dia mengasihi Tuhan dengan segenap hati? (band. Yohanes 21:15-17). Konsep kasih yang sungguh-sungguh inilah yang sangat membekas di hati Petrus sehingga ketika dia memberikan nasehat dia juga sungguh menyampaikan panggilan itu dengan segenap hati: kasihilah -dengan sungguh-sungguh seorang akan yang lain.

Ada tiga hal yang akan kita renungkan berkaitan dengan hal ini. Yang pertama, kasih yang sungguh-sungguh seorang akan yang lain merupakan faktor yang sangat utama dalam persekutuan anak-anak Tuhan. Ini tidak boleh kita lupakan di tengah-tengah dunia mengajak kita untuk merayakan cinta kasih, Petrus sangat menghayati hal itu dan dia ingin mengingatkan umat Tuhan di tengah-tengah kehidupan mereka yang sangat penuh dengan tantangan mereka harus saling mengasihi, mereka harus mengasihi dengan sungguh-sungguh.Bukan dengan kasih yang sekedar basa-basi, yang sekedar ramah bersapa-ria, tetapi kasih yang sungguh-sungguh yang harus mereka praktekkan tiap-tiap hari. Begitu pentingnya, Petrus ulang sampai tiga kali bahkan sampai empat kali dengan bagian ini: 1 Petrus 1:22, Petrus mengingatkan mereka kalau mengasihi itu betul-betul diamalkan, didemonstrasikan, ditunjukkan, agar sesama orang Kristen bisa merasakan di dalam persekutuanmu ada kasih. 1 Petrus 2:17, bagaimana mereka diajarkan untuk bersungguh-sungguh mengasihi, ditekankan sedemikian rupa. 1 Petrus 3:8, mengasihi dengan tulus.Kasih itu bergerak, kasih itu hidup.Apalagi kasih yang dibahas oleh rasul Petrus ini adalah kasih agape, kasih yang menembus hatinya yang terdalam, kasih yang memampukan dia melihat dan mengalami sentuhan kasih Tuhan yang luar biasa.

Petrus memang sehati dengan Paulus untuk berbicara tentang kasih ini. Karena Paulus berkata, “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan…” (1 Korintus 13:1-2).Artinya, sepintar apapun, sebanyak apapun pengetahuan yang kita miliki, kalau kita tidak punya kasih, sama sekali tidak berguna, tidak ada manfaat, semua sia-sia. Prestasi apapun yang kita hasilkan tanpa ada kasih semuanya tidak berfaedah.

Kasih ini digambarkan seperti seorang olah-ragawan yang terus melatih otot-ototnya supaya kuat, supaya terus dipersiapkan ketika menghadapi sebuah perlombaan, otot-ototnya cukup kuat untuk menghadapi perlombaan yang besar, mulai dari tingkat kecamatan sampai tingkat nasional, bahkan internasional. Itu memerlukan latihan dan terutama lebih penting, kasih yang digambarkan pada saat seorang pelari marathon yang sudah hampir mendekati garis finish, dia merentangkan tangan dan kakinya lebar-lebar untuk mencapai garis akhir, itulah kekuatan kasih yang harus dilatih oleh anak-anak Tuhan karena hari Tuhan sudah dekat. Waktunya sudah singkat, seperti seorang pelari yang sudah mau mencapai garis akhir, jangan sampai kita mudah lelah, tetapi mari kita sungguh tetap terus melatih kasih kita kepada sesama untuk terus saling menguatkan. Saling mengasihi satu dengan yang lain sungguh adalah satu kekuatan yang luar biasa kita miliki dalam kehidupan sebagai anak-anak Tuhan.Kita harus terus mengembangkan kasih itu, kasih yang terus hidup dan bergerak.Sehingga di dalam situasi yang semakin sulit namun di dalam lingkungan orang-orang percaya yang terus saling menguatkan, saling mengasihi, di situ kita menjadi kuat.

Waktu yang semakin singkat, penuh tekanan, penuh penderitaan, namun oleh karena kita memiliki kasih yang ilahi yang Tuhan sudah berikan, Tuhan melalui rasul Petrus mengatakan mari kita kembangkan kasih itu, saling mengasihi dengan sungguh-sungguh, bukan asal-asalan, bukan biasa-biasa, bukan kalau sempat atau kalau bisa atau karena memang merasa dikaruniai, bukan itu saja. Kasih yang sungguh-sungguh itu diberikan di saat kita dalam keadaan yang paling sulit sekalipun.

Ketika kita merenungkan kasih yang diperlihatkan oleh tangan yang terentang meregang, kekuatan dari Tuhan untuk mengasihi musuh, mengasihi orang yang membenci kita.

Kasih ini sangat utama di dalam persekutuan kita, jangan kita sepelekan, jangan kita sekedar anggap ini jadi orang Kristen itu cuma cerita, itu cuma nyanyian, itu cuma sebuah kesaksian. Tetapi kalau itu dirasakan dan dialami terus-menerus, satu demi satu, orang tua dengan anak muda, anak muda kepada orang tua, suami kepada isteri, dalam keluarga, itu akan menjadi sesuatu yang semakin hidup. Otot kasih kita harus terus dilatih dan kita bersyukur karena justru tekanan situasi membuat kita dalam satu kondisi penuh bencana, penuh tantangan, orang-orang Kristen dengan segera menyatakan kasih dan perhatian itu.

Beberapa tahun terakhir tiap kali banjir datang, saya melihat luar biasa kasih anak-anak Tuhan. Mereka selalu siaga dan siap menolong dimanapun tempat yang membutuhkan, tidak usah tunggu diprogram, tidak tunggu budget dan dana banjir kapan turun, dengan segera anak-anak Tuhan siap membantu, bahu-membahu dengan gereja yang lain. Sungguh luar biasa kasih Tuhan itu ada di tengah-tengah mereka.

Yang kedua, yang lebih tinggi lagi firman Tuhan berkata, karena kasih itu bukan saja memberikan kekuatan tetapi menutupi segala dosa.Artinya dalam persekutuan anak-anak Tuhan jangan lagi kita terjebak untuk mempermasalahkan dan mempersoalkan kelemahan-kelemahan.Termasuk itu di dalam keluarga.Bayangkan kalau suami isteri terus mengatakan, “Oh, dia sih biasa, dari dulu memang sudah begitu sifatnya.”Tidak bisa melupakan kesalahan yang sudah lewat bertahun-tahun yang lalu.Dalam hubungan orang-orang percaya kita diajar kasih itu lebih naik kelas dimana kita mampu menutupi, mampu mengampuni; bukan mengungkit-ungkit, bukan membongkar.

Ketika kebencian menguasai hati dan pikiran kita, gayanya sih bilang mau diskusi, mau curhat dengan teman, tetapi waktu diskusi dengan orang ketiga, persoalan makin rumit, kelemahan makin kelihatan, jadi bukannya makin ditutupi tetapi makin dibuka. Walaupun itu katanya alasannya mau minta nasehat, curhat, dan apalagi sekarang ini dengan kemajuan teknologi, adanya sosial media orang bisa menuliskan status-status dengan mengungkapkan hal-hal negatif dengan tanpa perasaan segan, dengan mudah mengumbar kesalahan suami, kesalahan pasangan, kesalahan anak, semua dibukakan. Maka tidak heran Kekristenan semakin membuat orang terpuruk tidak bisa bangkit, disalahkan dan dipojokkan terus.Tetapi kasih ilahi, kasih agape itu menutupi dosa.Makin menutupi, bukannya kompromi.Di dalam kita menjaga kekudusan, kita tetap tahu bagaimana menuntun saudara seiman kita untuk dia mengatasi kelemahan-kelemahan dan kesalahan serta kegagalan, dan itulah kasih agape yang Tuhan ajarkan kepada kita.

Kasih yang menutupi segala kesalahan ini merupakan kasih yang sungguh-sungguh tidak mengungkit-ungkit masa lalu dan ini bagi Petrus luar biasa. Yesus tidak pernah lagi mengingat-ingat pengkhianatan Petrus tetapi justru mengangkat dia, mengisi hidupnya, memperlengkapi dia, meyakinkan dia sebagai seorang yang akan dipakai oleh Tuhan. Maka sebelum dia diutus, sebelum dia akan pergi memberitakan Injil, dipertanyakan tentang kasih itu. Sebelum naik ke surga, Tuhan Yesus memperlengkapi dia supaya Petrus hanya kembali kepada kasih itu, kasih yang mampu menghargai dan menerima orang lain dengan secara luar biasa menjadikan seseorang bisa berdiri kokoh untuk melaksanakan pekerjaan Tuhan. Itulah kasih ilahi yang kita terus rayakan, tidak hanya di bulan Februari, tetapi tiap-tiap hari bahkan setiap saat.

Yang ketiga, mengapa kita sering mengenal ada kasih yang tawar, ada kasih yang dingin, ada yang merasa sudah tidak ada lagi kasih di antara mereka, apalagi kalau itu adalah pasangan yang sudah lanjut usia. Kita sering melihat orang Kristen yang dulunya aktif kenapa sekarang tidak lagi.Dulu waktu muda begitu luar biasa rajin melayani, tapi begitu sudah menikah sudah kehilangan itu, kesibukan keluarga telah merebut kasih kepada Tuhan mulai banyak ditimbang-timbang.

Petrus menasehati kepada kita, motor yang paling kuat yang harus kita jaga, hati pikiran perasaan kita harus selalu terkoneksi dengan Tuhan.Maka dia berkata, kuasailah dirimu, jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.Saya senang sekali ketika bicara hal ‘kuasai diri’ ini, Petrus menggunakan kata “waras.”Seperti orang yang dulunya kerasukan, dia tidak tahu apa-apa yang ada di sekitarnya. Dia tidak tahu siapa dirinya, tidak tahu apa yang sedang terjadi di sekitarnya. Dia teriak-teriak, dia tidak bisa menguasai diri.Maka ketika dia sudah sembuh dan sadar, dia mulai bisa memahami dirinya, keadaannya, dan sekitarnya.Dia sudah waras, artinya dia sudah dalam pengendalian diri.Pikiran kita ok, bisa menata semua persoalan dengan baik, tidak mudah terkejut dengan berbagai masalah.Kalau kita tidak tenang dalam hidup ini, habis kita, bisa gila. Rasanya banyak orang Kristen yang baru satu persoalan datang, belum selesai dibereskan, datang persoalan lain. Ketika kita mampu meletakkan pikiran kita dengan penguasaan diri bisa melihat satu demi satu persoalan yang ada di hadapan kita, kita menjadi tenang dan mampu menempatkan masing-masing pada tempatnya.Di situ kita melihat hebatnya kuasa Tuhan dalam hidup kita.Kasih yang Tuhan beri di dalam hidup kita itu membukakan pengertian sehingga setiap kali persoalan datang kita tidak mudah cepat-cepat gugup dan bingung, tetapi menanggapinya dengan tenang.Ini adalah ciri orang yang sudah bertumbuh dewasa. Dia memiliki kehidupan doa yang terpelihara.

Saya bersyukur saya bisa masuk SAAT.Dulu di asrama saya suka menggerutu kenapa harus bangun pagi-pagi untuk berdoa dan bersaat teduh, masih enak-enak tidur sudah harus bangun dengan bunyi lonceng yang keras.Tetapi itu menjadi satu latihan untuk membiasakan diri dan latihan itu sungguh berguna.Itulah spiritual formation yang sangat kita perlukan di dalam mendisiplin hidup rohani kita dengan Tuhan.Di situ kita punya waktu dengan Tuhan secara khusus.Di tengah dunia yang begitu sibuk, seolah-olah tidak ada lagi waktu tersisa, semua hidup terburu-buru, sering orang mengabaikan waktu khusus untuk berdoa. Diam di hadapan Tuhan adalah waktu terbaik yang kita perlu untuk menjaga stamina kasih kita, kekuatan kasih kita yang akan terus kita latih dalam menghadapi persoalan hidup, persoalan dalam keluarga, dalam pekerjaan, dalam pergaulan, dalam berbagai situasi. Kebutuhan spiritual kita perlu diisi oleh doa dan kebenaran firman Tuhan, supaya kita “waras” dalam menghadapi setiap hal, bisa melihat dengan baik, bisa meletakkan persoalan pada proporsi sesungguhnya. Di situ kita mampu menguasai diri dan menjadi tenang.Waktu udara dalam ruangan panas, kalau kita gelisah dan kipas-kipas, makin terasa panas dan gerah, makin kita keringatan.Ketika kita tenang, kita boleh mendapat keteduhan dan itulah yang harus kita miliki sebagai anak-anak Tuhan dalam memelihara kasih supaya terus berkembang. Tidak ada cara lain selain kita selalu punya waktu dengan Tuhan. Kalau orang mampu menguasai diri, dia mampu mengatur waktu. Berapa banyak waktu kerja kita, berapa banyak dana yang kita perlukan untuk kehidupan kita, dan berapa banyak untuk pekerjaan Tuhan.

Kita terus ditantang oleh jaman ini untuk berbuat kasih kepada sesama.Perbuatan kasih kita bisa mengubah pandangan orang, bisa membawa kepada pertobatan jiwa, bisa membuat orang-orang di sekitar kita merasakan dan melihat betapa nyata iman kita melalui perbuatan kasih kita.Namun yang terutama kita harus fokus dan konsisten menekuni.Kita sering kehilangan fokus, kita suka “lompat-lompat” tidak jelas, sehari mengasihi, sehari tidak, kasih kepada orang ini, tidak kasih kepada orang yang itu.Tetapi kalau setiap kita menekuni, memberikan perhatian penuh kepada satu pelayanan misalnya, semua jemaat ikut terlibat, berlomba-lomba ikut berbagian.Satu saat mungkin baik juga kalau pergi sama-sama ke satu tempat pelayanan misi.Kalau kita terus hanya berkutat di dalam pelayanan sendiri, kita tidak melihat dengan perspektif luas.Kadang perjalanan misi seperti itu membukakan arti pelayanan lebih luas.Hati kita lebih bersimpati dan berbagian dengan kesulitan yang dihadapi pelayanan misi.Kasih kita lebih dihidupkan, lebih bergerak.Itulah tantangan bagi jemaat. Di tahun yang baru ini barangkali ada bermacam-macam komitmen kita tetapi yang paling penting yang dikatakan Petrus, kiranya kita bisa mengasihi dengan sungguh-sungguh seorang akan yang lain makin dirasakan.

Kita akan mendapat kesan yang berbeda saat masuk dalam sebuah gereja dan persekutuan yang di dalamnya masing-masing saling mengasihi dengan sungguh-sungguh, hati langsung tertancap, tidak mau pindah-pindah. Dia akan merasa nyaman, dia akan merasa inilah persekutuan anak-anak Tuhan. Dan kekuatan kasih itu yang kita rindukan terus bergerak dalam kehidupan keluarga, kehidupan gereja, dalam pelayanan, dalam segala hal.Kalau semua itu dilakukan dengan kasih, sangat berbeda.Menyanyi dengan kasih, menyambut dengan kasih, menghibur menguatkan dengan kasih, bahkan menegur dengan kasih.Itu bisa dirasakan karena kasih itu hidup, kasih itu mampu membuat perubahan.Anak-anak yang tadinya memberontak seperti apapun bisa diteduhkan oleh kasih yang mengalir dalam hidup kita. Kiranya Allah Roh Kudus memberkati setiap kita untuk terus menghidupkan kasih ilahi dalam persekutuan kita satu dengan yang lain. Kalau ada aspek yang belum pernah kita kembangkan dalam menyatakan kasih, mari kita kembangkan. Saling memperhatikan, saling mengingatkan, saling menolong, saling memberi dorongan, saling mendoakan.

Kiranya kita selalu ingat kalau bukan karena kasih Tuhan kita tidak ada di sini, kita tidak bisa menikmati dan melihat Allah yang luar biasa di dalam hidup kita.Allah yang dahsyat, yang menyatakan keajaiban-keajaiban dalam hidup kita karena kasih Tuhan yang begitu besar. Kasih itu begitu hidup dan Tuhan nyatakan senantiasa dalam hidup kita, membuat kita selalu mau belajar lagi dan belajar lagi mempraktekkan kasih yang tulus, kasih yang makin dalam, kasih yang bersungguh-sungguh di antara kita. Kiranya kasih itu terus mengalir, mengalir dalam seluruh hidup, kegiatan dan pelayanan kita.Kita rindu gereja ini menjadi saluran kasih Tuhan bagi banyak orang.Sehingga setiap orang yang keluar masuk memiliki kesan yang mendalam karena kasih yang dikembangkan oleh komunitas anak-anak Tuhan.

Kalau ada di antara kita yang sulit mengasihi, yang masih menyimpan kemarahan, yang masih menyimpan kebencian dan kepahitan, mungkin itu dalam hubungan orang tua dan anak, antara menantu dan mertua, kiranya kasih ilahi itu membasahi hati kita, memberikan kekuatan untuk kita mampu mengampuni dan mengasihi mereka.

Di tengah situasi dan waktu yang semakin terbatas, kiranya Tuhan menolong kita supaya kita tidak kehilangan kesempatan berbuat kasih satu dengan yang lain. Kiranya kesadaran ini selalu Tuhan taruh di dalam hati kita sehingga setiap kali datang kesempatan, kita dapat menyatakan kasih itu dengan lebih sungguh-sungguh lagi. Tuhan berkarya selanjutnya membuat firman yang kita dengar hari ini bertumbuh dan berbuah dengan indah.(kz)