Hati yang Melayani dan Memberi

Sun, 08 Feb 2015 11:35:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Tema: Hati yang Melayani dan Memberi

Nats: 2 Korintus 9:6-15

 

Puji Tuhan! Dari awal abad pertama Gereja ada dan berjalan sampai hari ini ditegakkan oleh Tuhan kita Yesus Kristus bukan dengan uang dan kekayaan. Yesus tidak menitipkan uang dana yang banyak kepada murid-muridNya untuk dipakai bagi pekerjaan dan pelayanan kerajaanNya. Tidak ada asset gedung, tidak ada bangunan. Petrus berkata, “Emas dan perak tidak ada padaku…” (Kisah Rasul 3:6). Gereja berdiri bukan dengan jaminan resources materi tetapi dengan kekuatan dan kuasa dari Roh Kudus.Kita yang masih hidup ini bisa melihat bangun dan jatuhnya perusahaan-perusahaan dengan modal yang besar. Mungkin orang berpikir tidak mungkin orang-orang kaya yang namanya tercantum dalam majalah Forbes sebagai 200 orang terkaya di dunia, yang secara perhitungan uangnya tidak akan habis terpakaisampai tujuh turunan, bisa bangkrut. Tetapi sejarah memperlihatkan ada banyak perusahaan-perusahaan besar collapse dan bangkrut; ada orang-orang yang dulu punya kekayaan trilyunan pailit terjerat hutang dan keturunannya hidup melarat.Namun puji Tuhan, dua ribu tahun setelah Kristus naik ke surga, kita bisa melihat pekerjaan Tuhan terus ada, tidak pernah hilang dan layu gugur oleh jaman.

Ada banyak gereja yang kaya-raya dan memiliki asset, keuangan dan resources berlimpah, tidak mengalami kesulitan uang dan dana melakukan program ini dan itu. Kita boleh bersyukur untuk itu, tetapi gereja tidak boleh kehilangan spirit ini: gereja tidak boleh dijalankan dengan tujuan memperkaya diri. Gereja tidak boleh dijalankan seperti perusahaan, yang mementingkan perluasan asset, profit dan kekayaan bagi diri sendiri. Tidak boleh begitu. Kalau sudah sampai seperti itu kita akan kehilangan prinsip yang luas menangkap dimensi pekerjaan pelayanan Tuhan.

Alkitab memakai beberapa nama-nama istilah menyangkut gereja, umat Tuhan sebagai komunitas yang organis.Gereja bukan strukturnya, bukan bangunannya, bukan pemerintahannya, tetapi gereja adalah sesuatu yang corporate, organisme yang hidup. Dalam PL disebut “qahal” dan dalam PB kata “laos” untuk menerjemahkan komunitas.

Kita tidak boleh kehilangan dimensi melihat umat Tuhan perkumpulan itu sebagai satu komunitas yang hidup yang telah ditebus oleh Kristus. Ada kata yang indah kemudian muncul di PB melukiskan umat Tuhan itu itu dengan kata “tubuh.”Tubuh berarti dia organis dan hidup.Dan selama-lamanya kalau dikatakan gereja itu sebagai tubuh, maka Kepalanya cuma satu yaitu Yesus Kristus. Tidak ada kepala yang lain. Pemimpin gereja, hamba Tuhan, bukan kepala gereja.Tetapi Yesus Kristus adalah Kepala Gereja dan semua kita adalah tubuhnya.Dari situ kita melihat bahwa sifat dan spirit dari natur gereja di Alkitab tidak boleh kemudian terjadi separasi “top-down government” yaitu ada clergy, ada kelompok rohaniwan lalu ada kelompok jemaat awam.Kita tidak mengabaikan ada struktur, ada pemerintahan, ada kepemimpinan, tetapi kita tidak boleh kemudian terpatok kepada pemisahan seperti ini.

Ketika Gereja Mula-mula mulai bertumbuh secara jumlah, kesulitan mulai muncul. Kisah Rasul 6:1-6 memperlihatkan salah satu persoalan yang umum dialami oleh gereja ketika gereja mulai besar, ada aspek-aspek tertentu yang terabaikan di dalam pelayanan, lalu terjadilah ketidak-puasan muncul di antara kelompok yang berbahasa Yunani terhadap pelayanan bagi janda-janda mereka. Para rasul dengan rendah hati mengakui ini adalah hal yang tidak baik, kita perlu memperbaiki pelayanan kita sama-sama.Bagaimana menyelesaikannya?Mereka kemudian memilih beberapa leader dari antara mereka sendiri dengan beberapa kualifikasi untuk menangani persoalan ini.

Ini menjadi salah satu pola yang Alkitab ajarkan bagaimana memilih dan mengangkat pemimpin dan orang-orang yang melayani senantiasa kualifikasinya berdasarkan karunia. Mereka menjadi pemimpin karena di dalam jemaat itu satu dengan yang lain melihat ada karunia Tuhan kepadanya sebagai leader, sebagai orang yang mengajar, sebagai orang yang menggembala, dsb. Lalu dari situlah pelayanan itu diberikan kepada mereka berdasarkan karunia rohani yang ada.Seseorang menjadi penginjil dan pendeta karena dia masuk sekolah teologi dan ditahbis, tetapi bukan itu yang membuat dia menjadi seorang pemimpin rohaniwan.

Dalam Efesus 4:11 Paulus mengatakan ada orang-orang yang ditetapkan menjadi pemimpin rohani berdasarkan karunia spiritual mereka danada 5 jabatan yang Paulus sebutkan yaitu ada yang dipanggil sebagai rasul, ada yang dipanggil sebagai nabi, ada yang dipanggil sebagai gembala, penginjil dan guru. Jabatan itu terjadi tidak lain dan tidak bukan tentu karena ada karunia yang Tuhan beri kepada mereka. Mereka yang memiliki karunia mengajar, yang memimpin di tengah mereka, gereja men-support hidup mereka dan jemaat menghargai menghormati mereka sebagai pemimpin.Ini struktur yang kita lihat didalam kepemimpinan gereja mula-mula.Tetapi apakah berarti karena gereja sudah memberi full support kepada mereka, lalu kemudian berarti hanya mereka yang melayani sehingga terjadi pemisahan ada lapisan clergy pemimpin sebagai rohaniwan, dan jemaat sebagai orang awam?Sama sekali tidak. Kalau kita melihat Alkitab baik-baik, kita akan menemukan gereja itu adalah satu komunitas yang organis dan yang hidup, dimana mereka masing-masing melakukan pelayanan satu dengan yang lain. Istilah ”satu dengan yang lain” berkali-kali muncul dalam surat Paulus dengan istilah “allelon” (band. 1 Korintus 12:25 “saling memperhatikan”, 1 Tesalonika 3:12; 4:9, Roma 13:8, Efesus 4:25, 1 Tesalonika 5:11 “saling menasehati, saling membangun” ).

Tim Chester mengatakan pelayanan kita tidak boleh “top-down ministry,” tetapi harus menjadi “360 degrees ministry.” Ada leadership tetapi leadership itu bukan karena dia “rule over” menjadi boss kepala, dia menjadi pemimpin karena dikenali semangat ministry-nya. Itulah sebabnya rasul Petrus dalam surat 1 Petrus 5:1-4 memberi nasehat kepada para gembala bukan seolah-olah mau memerintah atas mereka melainkan melayani mereka;bukan dengan paksaan tetapi dengan kerendahan hati. Kenapa? Karena semua gembala di dunia satu kali kelak akan berhadapan dengan Sang Gembala Agung Tuhan Yesus yang kepadaNya kita harus mempertanggung-jawabkan pelayanan kita. Tetapi di pihak lain komunitas itu harus memberi respek yang sepatutnya dan selayaknya kepada gembala atau pemimpin mereka dengan menyatakan ketaatan kepada kepemimpinannya. Bukan karena dia pemimpin, bukan karena dia ‘ruling over you,’ melainkan karena dia melayani.Ini aspek pertama yang kita lihat berkaitan dengan konsep pelayan dan pelayanan di dalam gereja.

Aspek yang kedua adalah komunitas yang sehat senantiasa berjalan karena self-supporting.Mari kita teliti dan perhatikan Alkitab kita, Paulus dalam perjalanan misi menginjili dan setelah komunitas itu terbentuk sebagai gereja-gereja rumah (house-churches), lalu kemudian Paulus mengangkat penatua dan pengurus untuk melayani.Lalu terjadilah perkembangan ini, karena dia mengabdikan diri melayani dengan penuh waktu seperti itu maka gereja mula-mula itu kemudian masing-masing mengumpulkan uang untuk men-support kebutuhan hidup pemimpin-pemimpin yang mengajar dan menggembalakan di dalam house-churches mereka.

Ada beberapa ayat yang penting yang perlu kita lihat bagaimana pelayanan itu memang disupport oleh keuangan jemaat lokal sendiri.Dalam 1 Korintus 9:14 dikatakan “Tuhan telah menetapkan bahwa mereka yang memberitakan Injil harus hidup dari pemberitaan Injil itu…” Gereja tidak boleh punya konsep sedang meng-hire seseorang untuk doing spiritual job di dalam kehidupan komunitas gereja lokal, walaupun tidak berarti bahwa tidak disupport secara keuangan dari jemaat yang ada.Prinsip juga adanya leadership di dalam gereja yang memimpin, bukan karena dia memimpin maka dia dihormati dan ditaati tetapi melainkan karena dia melayani. Lalu adanya mereka yang memimpin, melayani, yang memusatkan hidup sepenuhnya bagi pekerjaan Tuhan, tidak berarti satu dengan yang lain di dalam jemaat tidak melakukan pelayanan, alelon satu dengan yang lain. Semua itu menjadi satu keindahan daripada pelayanan gereja kita.

Paulus memberikan prinsip ini dalam 1 Tesalonika 5:12-13 “Kami minta supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras, yang memimpin kamu dalam Tuhan, supaya kamu sungguh-sungguh menjunjung mereka dalam kasih karena pekerjaan mereka…” Dalam 1 Korintus 16:15-16 Paulus berpesan kepada jemaat Korintus untuk mensupport pelayanan seorang hamba Tuhan bernama Stefanus yang melayani di antara mereka, “…kamu tahu bahwa Stefanus dan keluarganya adalah orang-orang yang telah mengabdikan diri kepada pelayanan…”

Konsep inilah yang terjadi ketika sebuah gereja berdiri dan berada di satu tempat, setiap house-churches itu berjalan dengan self-supporting. Jemaat mengumpulkan uang, mereka menggunakan resources yang ada, apa yang ada pada mereka, mereka menjadikan itu sebagai satu pelayanan bagi komunitas itu. Para gembala yang memimpin, karena mereka committed mengabdikan diri sepenuhnya, set apart untuk melayani di rumah Tuhan, kita menyaksikan kehidupan mereka itu dicukupkan dengan self-supporting di antara jemaat lokal yang mereka layani.

Namun ada hal yang memprihatinkan terjadi pada waktu gereja melakukanself-supporting dan mengumpulkan uang melalui resources yang ada bisa men-support kebutuhan beberapa pemimpin yang melayani.Situasi ini agak berbeda dengan pada waktu gereja masih awal, karena pada waktu gereja awalnya berdiri tidak banyak orang yang kaya di antara mereka. Tetapi dalam 1 Timotius 6:17 ada peringatan kepada orang-orang yang kaya, dari situ kita bisa melihat khususnya di kota Efesus ada cukup banyak orang-orang mapan, mampu dan kaya di tengah mereka, dan itu sanggup bisa mensupport pelayanan yang ada sehingga kondisi berkelebihan secara keuangan.

Dalam Kisah Rasul Paulus sudah mengingatkan akan ada guru-guru palsu muncul di tengah-tengah mereka, bukan dari luar tetapi dari antara mereka sendiri (20:29-30).Di antara mereka ada yang serakah dan mau mendapatkan kekayaan dan keuntungan dari sana.Guru-guru palsu ini muncul memberikan ajaran dan mendapat banyak uang, tetapi jangan pikir ajarannya tidak hebat, justru mereka hebat luar biasa, bahkan kelihatannnya lebih rohani daripada ajaran Paulus.Tetapi di baliknya mereka mengejar keuangan finansial bagi pribadi.Mereka kemudian masuk dan menyelundup ke beberapa rumah jemaat orang kaya, mempengaruhi isteri-isteri orang kaya dan janda-janda kaya khususnya untuk mendapatkan uang dari mereka. Indikasi dari suratPaulus kepada Timotius memperlihatkan ada elders-elders tertentu di Efesus yang telah menyeleweng. Paulus dengan terbuka menyebut tentang mereka dalam 2 Timotius 3:6-7. Maka perlu Timotius datang ke tempat itu dan ada surat Paulus menyertai dengan beberapa prinsip Paulus berikan untuk memberikan disiplin kepada mereka.

Pada waktu Paulus memberikan prinsip pengangkatan jabatan bagi penatua, pengurus dan diaken selalu muncul prinsip ini: janganlah dia seoranghamba uang, janganlah dia seorang serakah (1 Timotius 3:3,8). Ini hal yang sepatutnya menjadikan kita hamba-hamba Tuhan melayani untuk senantiasa mawas diri.

Kita bersyukur kepada Tuhan dan kita merindukan pekerjaan dan pelayanan Tuhan berjalan tanpa bergantung bantuan dan support dari luar melainkan self-supporting dari dalam. Karena kuasa dari Tuhan, Roh Kudus yang bekerja menggerakkan hati kita, tidak ada keuangan dan dana, tidak ada sponsor suatu company, tidak ada janji apapun banyak pelayanan misi dan pekerjaan Tuhan bisa berjalan dengan spirit seperti ini.

Pada waktu kita memberi persembahan, mengumpulkan uang bagi pelayanan, kita tahu persembahan yang kita beri adalah persembahan untuk mensupport tiga hal yang penting di dalam satu komunitas yang sehat.Pertama, kita memberi persembahan untuk mensupport pelayanan dan pelayan Tuhan yang ada di dalam komunitas kita.Yang kedua, kita mau mensupport mereka yang dalam kesulitan dan kekurangan di tengah jemaat.Yang ketiga, pemberian yang kita kumpulkan itu juga dipakai untuk menjangkau orang di luar dan bagi pelayanan misi. Itulah cara Tuhan bagaimana melihat pekerjaan Tuhan di dalam gerejaNya dan bagaimana gereja bertumbuh dan men-sustain pekerjaan pelayanan melalui setiap kita.

Dalam 2 Korintus 9:6-8 Paulus memberikan beberapa prinsip bagaimana kita berbagian di dalam pelayanan secara materi finansial. Pertama, mari kita memberi dengan murah hati. Kedua, mari kita memberi secara teratur dan sistematis. Dalam 1 Korintus 16:2 Paulus mengatakan “Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu…” Ini yang artinya sistematis dan teratur. Ketiga, mari kita belajar memberi dengan sukacita. Keempat, mari kita memberi dengan sukarela, artinya kita memberi dengan tanpa tujuan mendapatkan kembali, tanpa ada iming-iming kita ingin mendapatkan sesuatu atau ingin mendapatkan pujian. Kelima, mari kita memberi dengan proporsi yang sepatutnya “sesuai dengan apa yang engkau peroleh” (1 Korintus 16:2).Kita sisihkan dan siapkan persembahan dari sesuatu yang kita miliki.Keenam, mari kita memberi dengan sacrifice. Ketujuh, mari kita memberi dengan diam-diam. Itu prinsip dari Tuhan Yesus “janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu” (Matius 6:3). Dan prinsip yang terakhir dan terpenting, mari kita memberi dengan hati yang menyembah. Itu bedanya antara persembahan dan memberi sumbangan.Pada waktu kita meletakkan uang ke dalam kantong persembahan, kita tahu ini adalah offering, ini adalah pemberianku sebagai perberian yang menyembah Tuhan. Kisah Rasul 10:4 adalah sebuah ayat yang unik sekali, “Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat engkau…” Puji Tuhan!

Biar melalui prinsip ini kita juga tahu gereja itu berbakti, gereja itu menjadi suatu komunitas yang indah, gereja itu juga adalah kehadiran umat Tuhan di dalam dunia ini yang bukan strukturnya yang penting, tetapi bagaimana kita bisa melihat ada pelayanan yang dilakukan, ada leader di dalamnya, ada pemimpin, ada diaken, ada elders, ada hamba Tuhan, tetapi bukan karena jabatan melainkan karena pelayanan. Jemaat satu dengan yang lain saling melayani dan saling memperhatikan satu dengan yang lain. Dan pelayanan dari gereja-gereja lokal dimana-mana disupport oleh anggota dari komunitas masing-masing.

Waktu kita memberi sesuatu kepada sebuah badan misi, kita juga tidak boleh memberi dengan sikap kasihan karena mereka kekurangan uang dan kita bantu-bantu.Kita tidak pernah boleh punya sikap sedang membantu Tuhan di dalam pelayanan Tuhan.Dan tidak perlu sebenarnya sebuah gereja itu harus “genjot” keuangan bahwa kita perlu kasih amplop perpuluhan kepada jemaat supaya selalu ingat memberi perpuluhan.Ada beberapa majelis gereja mengatakan kalau tidak diberikan amplop perpuluhan kepada jemaat, uang gereja tidak cukup.Kita harus kembali kepada prinsip bagaimana hati kita memberi.

Irenaeus, seorang Bapa Gereja berkata seperti ini, “the Jews were constrained to a regular payment of tithes; Christians, who have liberty, assign all their possessions to the Lord, bestowing freely not the lesser portions of their property, since they have the hope of greater things.” Orang Yahudi diatur oleh Tuhan memberi pembayaran perpuluhan secara regular; orang Kristen diberi kebebasan menyerahkan apa yang ada dari milik mereka kepada Tuhannya, tetapi memberi dengan kebebasan ini tidak berarti bahwa kita memberi kurang daripada apa yang diaturkan, sebab kita memiliki pengharapan yang lebih besar di sana. Ini konsep dari Irenaeus tentang hal persembahan.

Mari kita mensupport pelayanan dan pekerjaan Tuhan.Kita harus selalu ingat, uang yang kita kumpul bukan dan tidak boleh untuk memperkaya gereja ini.Hati saya sedikit tidak enak kalau mendengar kata “gereja ada surplus”.Tidak baik itu.Kita harus melihat pekerjaan Tuhan, kita harus melihat kebutuhan pelayanan bagi orang yang dalam kekurangan, kita harus menunjang pekerjaan misi, kita harus mempunyai jiwa yang luas seperti itu. Kita tidak ingin kekurangan kita membuat kita harus minta-minta kepada orang lain. Usahakan kita hindarkan hal seperti itu. Kita tahu kita bisa melakukan dan support bagi diri sendiri selama prinsip ini kita lakukan dan jalankan dengan baik. Kita memberi  dengan murah hati, dengan teratur, dengan sistematis, dengan sukacita. Tidak perlu lagi diberi berapa angka patokan, dsb.Kita bisa melihat dari beberapa hal, siapa memberi dengan sacrifice, karena masing-masing orang punya proporsi yang berbeda. Dan pada saat proporsi angka 10% diberikan, pada waktu seseorang yang sebulan hanya mendapat $1000 memberi dengan setia $100 uangnya kepada Tuhan, berarti yang ada untuk mencukupkan kebutuhan hidupnya adalah $900 untuk satu bulan itu. Kemudian pada waktu seseorang dalam satu bulan mendapat $10,000, yang dia berikan $1000 berarti ada $9000 bagi dirinya.Siapa di sini yang lebih berkorban?Siapa yang hidupnya lebih comfortable?Lalu apakah karena sudah memberi $1000 orang itu boleh berpikir kewajibannya sudah dipenuhi dan dia tidak mau tahu apa-apa lagi?Di sinilah kita perlu memikirkan prinsip memberi sesuai dengan proporsi, memberi dengan murah hati, memberi dengan sukacita, memberi dengan hati yang menyembah kepada Tuhan. Puji Tuhan! Di sini kita bisa melihat bagaimana Allah yang kaya itu mendirikan gerejaNya di atas muka bumi ini. Tidak ada deposito, tidak ada simpanan uang, tetapi sampai hari ini kita bisa melihat pekerjaan Tuhan berjalan dengan indah karena Allah yang setia memeliharanya.(kz)