Gereja yang Teraniaya

Sat, 21 Feb 2015 21:55:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Tema: Gereja yang Teraniaya

Nats: 1 Petrus 4:12-19, 5:6-11

 

Betapa hati kita terusik setiap kali di depan mata kita, kita diperlihatkan kepada fakta realita Gereja yang teraniaya dan menderita. Televisi dan berbagai bentuk sosial media begitu cepat menyebar-luaskan berita-berita yang terjadi di belahan bumi yang jauh di Timur Tengah, gambar-gambar yang terlalu sadis untuk dipertontonkan kepada banyak orang. Dengan terbuka mereka menayangkan pemimpin-pemimpin gereja Mesir dipancung di Libia, yang sesaat sebelum dieksekusi, mereka berseru memanggil nama Yesus. Karena nama itulah kepala mereka dipenggal; karena nama itulah kota-kota orang Kristen diserang. Sebagai orang Kristen Coptic, mereka memiliki tradisi yang berbeda dengan kita, cara berbaktinya berbeda dengan kita, lagu-lagu yang mereka nyanyikan berbeda dengan kita, tetapi mereka adalah saudara seiman kita yang percaya kepada Allah Tritunggal, percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Inilah yang mempersatukan kita sama-sama di dalam Pengakuan Iman Rasuli sebagai gereja yang kudus dan am.

Dari sejak awal Gereja terus mengalami penganiayaan. Bapa Gereja di abad ke 2 bernama Tertullian pernah mengatakan “The blood of the martyrs is the seed of the Church,” darah kaum martir, orang-orang yang mati karena Kristus, menjadi benih bagi tumbuhnya Gereja.

Pada waktu Yesus Kristus mati di kayu salib, Alkitab mencatat hanya beberapa murid perempuan dan satu dua yang lain yang ada di sekitar salib di bukit Golgota itu. Selebihnya murid-murid yang lain lari kocar-kacir bersembunyi. Melihat keadaan seperti itu secara akal manusia kita akan bertanya, dapatkah Gereja bertahan? Apa yang masih tersisa? Sudah selesai, habis, tidak ada kemungkinan diteruskan; tidak ada resources, tidak ada uang, tidak ada orang. Tetapi kita melihat setelah 2000 tahun peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus, namaNya, pemberitaan InjilNya, tidak pernah hilang dan terus dikabarkan dimana-mana. 

Misionari Barat, khususnya Hudson Taylor masuk ke Cina tahun 1800-an. Dalam waktu yang tidak terlalu lama Gereja berkembang dengan sangat baik, namun kebencian lokal terhadap Imperialist Barat menghasilkan Pemberontakan Boxer tahun 1900 yang membuat hampir semua misionari diusir keluar dari Cina.  Gereja ditutup dan dibakar. Para pendeta, pemimpin-pemimpin gereja lokal ditangkap. Ini strategi yang paling efektif karena mereka tahu begitu pemimpin-pemimpinnya dulu yang dihancurkan dan dipukul, semua domba-dombanya akan tercerai-berai. Tuhan Yesus sendiri sudah mengatakan hal itu (Matius 26:31). Mereka dibuang di tempat-tempat yang begitu keras dan menjalani kerja paksa belasan dan puluhan tahun sampai mati. Kemudian Cultural Revolution tahun 1966 benar-benar usaha menghancurkan gereja sampai kepada sendi-sendinya. Kalau kita ada saat itu kita akan bertanya sanggupkah Gereja bertahan? Mungkinkah anak-anak Tuhan masih ada? Namun 50 tahun kemudian inilah yang terjadi. Kita bersyukur kepada Tuhan, penganiayaan yang dilakukan Komunis justru menjadikan Kekristenan yang waktu itu hampir habis di Cina hari ini terus berkembang dan berkembang.

Tahun 2008 Pemerintah Komunis Cina memberikan data statistik mereka, jumlah orang Kristen yang ada di Cina sekitar kurang lebih 18 juta orang. Tentu yang dihitung adalah anggota gereja Three-self Patriotic Church yang dianggap resmi oleh Pemerintah. Anggaplah data itu benar, dan mari kita perkirakan pertumbuhan orang Kristen di Cina rata-rata 5% per tahun, maka berdasarkan data itu ada 39 juta orang Kristen di gereja Three-self itu sendiri. Dan sudah merupakan rahasia umum anak-anak Tuhan yang berbakti di gereja bawah tanah itu perbandingannya kira-kira 3 atu 4 kali lipat daripada yang di Three-self, orang Kristen di Cina hari ini jumlahnya tidak kurang daripada 100 juta orang, yang dikatakan jumlahnya lebih banyak daripada jumlah anggota Partai Komunis Cina. Dan belakangan ini gereja Three-self sendiri mendapat tekanan dari Pemerintah yang mulai takut dan gentar. Namun kita juga tidak boleh terlena dan bangga akan jumlah dan angka. Karena bukan soal jumlah, angka dan prosentase tetapi yang jauh lebih penting adalah siapakah yang menjadi murid-murid Tuhan yang sejati.

Hal yang sama kita lihat sekarang kepada gereja-gereja di Iraq, di Siria, di Mesir dan sekitarnya sekarang ini juga mengalami hal yang sulit dan berat. Melihat keadaan orang-orang Kristen, saudara-saudara kita seiman itu, kita sedih luar biasa. Kepala mereka dipenggal, ada dari mereka yang dibakar hidup-hidup, ditangkap dan disiksa. Gedung gereja dibakar dan dibumi-hanguskan. Namun mari tetap kita percaya kepada pekerjaan Tuhan dan anugerah Tuhan, bahwa kuasaNya lebih besar daripada apapun yang kelihatannya sanggup bisa menghancurkan gerejaNya. Satu saat kelak kita akan tercengang dan kagum melihat betapa ajaib, betapa heran Tuhan memelihara anak-anak Tuhan dan Gereja Tuhan di sana. Dan yang ingin kita tekankan adalah meskipun kesulitan dan penganiayaan yang terjadi kepada Gereja, meskipun penderitaan yang menimpa secara fisik kepada anak-anak Tuhan, jangan pernah kita lihat itu sebagai sesuatu yang sanggup melumpuhkan dan menghilangkan keindahan kita menjadi terang dan saksi Tuhan.

Surat 1 Petrus kerap disebutkan oleh penafsir dan teolog sebagai “the Epistle of Suffering and Persecution,” surat yang ditulis bagi anak-anak Tuhan yang berada dalam situasi yang sulit dan menghadapi berbagai bentuk penganiayaan. Di pasal 1:1 disebutkan mereka tercerai-berai dan terserak sebagai kelompok minoritas di berbagai tempat. Dan memang seorang sejarawan sekuler bernama Sostenius mencatat sekitar tahun 47-50AD kaisar Klaudius mengusir orang-orang Yahudi dan orang “Krestus” keluar dari kota Roma (band. Kisah Rasul 18:2). Sostenius mengatakan rumour beredar di kalangan orang Romawi bahwa kelompok Krestus ini berbahaya dan bisa menjadi cikal-bakal pemberontakan sebab mereka tidak mengakui kaisar sebagai tuhan tetapi menyebutkan “Krestus” sebagai Tuhan mereka. Orang Kristen juga difitnah sebagai kanibal yang dalam ritual agama mereka memakan daging manusia dan minum darahnya. Barangkali waktu orang Kristen berbakti ada mata-mata yang hadir di situ dan tidak terlalu mengerti apa yang dilakukan, sehingga waktu mendengar kata “tubuh Kristus” dan “darah Kristus” dalam perjamuan kudus, dia mengira itu hurufiah tubuh dan darah manusia.

Bayangkan betapa kesulitan yang mereka alami dengan pengusiran itu. Rumah dan tanah ladang serta usaha harus ditinggalkan. Kalaupun ada uang dan barang-barang milik mereka harus dibawa sepanjang perjalanan yang sangat tidak aman dengan garong dan begal di mana-mana. Mereka mengembara, mengalami kesulitan dan penderitaan, itu fakta realita yang tidak bisa dihindarkan. Dengan memahami konteks situasi ini kita bisa lebih memahami surat ini menjadi surat yang indah dan penting membimbing bagaimana sikap anak-anak Tuhan menghadapi hal itu,.

Maka pertama-tama, Petrus berkata, “…janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu seolah-olah itu adalah hal yang luar biasa…” (1 Petrus 4:12). Kadang-kadang kita terkejut dengan satu dua kata yang seperti ini ada di Alkitab, bukan berarti Alkitab tidak simpati dan tidak mengerti akan kesulitan penderitaan aniaya dan sakit kita. Tetapi justru kalimat Petrus ini sangat menyentuh hati saya. Petrus mengatakan selanjutnya, penderitaan itu menjadi indah dan bermanfaat bagimu sebab di situlah engkau tahu dan engkau merasa bangga diasosiasikan bersama dengan Yesus Kristus Tuhanmu.

Mengalami siksaan dan aniaya karena nama Yesus bukan hal yang gampang dan sepele. Petrus sendiri sadar waktu tekanan datang, betapa tidak gampang dan tidak mudahnya menghadapi saat-saat seperti itu. Seorang budak perempuan hanya berkata, “Bukankah engkau murid Orang itu?” dia langsung menyangkal dan berkata, “Tidak. Aku tidak kenal Dia!” Apalagi kalau oleh karena nama Yesus Kristus, engkau disiksa, dipukul, ditempeleng, ditusuk, didera sambil disuruh menyangkal nama Yesus. Pada waktu golok yang tajam ditaruh di lehermu, siap memenggal kepalamu, apakah engkau mau menyangkal Dia atau tidak?

Itulah sebabnya dia berkata kepada orang-orang Kristen yang mengalami kesulitan, penderitaan dan penganiayaan seperti ini, bersukacitalah di dalam Tuhan karena di dalam kesulitan, penderitaan dan aniaya itu engkau hari itu diasosiasikan bersama dengan Tuhan Yesus Kristus.

Tidak salah kita bangun pagi-pagi mengucap syukur kepada Tuhan untuk berkat dan anugerahNya. Tidak salah pada pagi hari kita bangun meminta Tuhan menyertai dan memelihara pekerjaan kita. Tetapi akan keliru dan salahlah kalau tiap pagi hari kita bangun lalu menuntut untuk dapat berkat sebanyak-banyaknya, mengoleskan minyak untuk rumah, toko, anak, suami supaya terus dapat berkat, berkat dan berkat. Sampai tiba-tiba kesulitan penderitaan datang dialami, engkau akan terkejut, engkau akan menjadi kecewa, engkau akan marah, engkau akan sedih, engkau tidak bisa terima.

Itu sebab kalimat Petrus mengingatkan, jangan heran dan jangan merasa itu adalah sesuatu yang luar biasa. Kenapa? Karena kalimat itu muncul dari hati seorang yang sadar dan tahu Yesus yang tersalib itu harus menjadi hal yang memenuhi pikiran kita setiap hari. Itu sudah mempersiapkan hati kita di sini. Cuma yang belum ada adalah realitanya belum terjadi. Tetapi pada waktu realita itu terjadi kita tidak akan terkejut dan heran sebab hati kita, pikiran kita sudah bersiap tiap hari dengan pikiran akan salib Tuhan Yesus, Dia tersiksa dan mati bagi kita. Hati kita sudah disiapkan, “Tuhan, saya ikut Engkau, saya siap pikul salibku. Saya belajar siap menderita berjalan bersamaMu.” Itu kalimat yang dikatakan Petrus dalam 1 Petrus 4:16 “Tetapi jika dia menderita sebagai orang Kristen…” karena nama Yesus Kristus itu engkau menderita sebagai orang Kristen, di situlah kita belajar bersukacita. Sekalipun tentu sukacitanya lain dan berbeda, bukan tawa ria, tentu itu adalah sukacita yang dibarengi dengan air mata, itu adalah a calmly joy, a peaceful joy dalam hati kita.

Tidak usah stress kalau kita difitnah orang. Dan tidak perlu terburu-buru membela diri dan berbalik memfitnah orang yang memfitnahmu. Fitnahan itu tidak perlu disimpan di hati karena dia tidak melukai kita secara fisik karena bisa jadi justru orang yang memfitnahmu akan sakit jantungan. Kalau kita terlalu cepat bereaksi saat mendengar ada orang yang memfitnahmu, kita yang akan kena sakit jantung.

Kita tidak perlu takut, tidak perlu heran, tidak perlu kuatir, tidak perlu kecewa pada waktu mengalami fitnahan karena kita orang Kristen. Karena keberanian untuk hidup tulus dan jujur akhirnya kita disingkirkan di tempat pekerjaan kita, dan kalau kita harus berdiri dianiaya demi nama Yesus kita akan tetap bersyukur dan teduh di hadapan Tuhan.

Yang kedua, 1 Petrus 3:17 “Sebab lebih baik menderita… jika hal itu dikehendaki Allah.” Surat Petrus ditujukan kepada orang-orang Kristen yang sedang mengalami penderitaan, yang pertama rasul Petrus menasehatkan, mari kita teduh hati dan joyful sebab kesulitan, penderitaan dan aniaya karena ketika fitnah dan aniaya itu tiba kepada kita itu berarti kita dilayakkan menjadi sependeritaan dengan Tuhan kita Yesus Kristus. Yang kedua, jangan takut dan jangan kuatir karena ada pemeliharaan Tuhan di situ. Itu bukan sesuatu yang serampangan, itu bukan sesuatu yang terjadi tanpa purpose. Maka Petrus mengatakan every persecution, semua penderitaan, aniaya dan penindasan, if it is God’s will, karena ada maksud dan tujuan dari Tuhan, percayalah ada hal yang luar biasa terjadi di balik daripada semua itu.

Maka apa fungsinya, apa faedahnya, apa manfaatnya, apa hasilnya dan bagaimana kita berespons kepada penderitaan kalau kita mengerti itu adalah kehendak Allah? 1 Petrus 4:17 mengatakan penghakiman Allah akan dimulai dari rumah Allah sendiri yang pertama-tama harus dihakimi.

Kita Gereja Tuhan, kumpulan anak-anak Tuhan keadaannya seperti perumpamaan Tuhan Yesus, ada benih lalang yang disebarkan Iblis di tengah ladang gandum. Sehingga benih lalang itu ikut tumbuh sama-sama di antara benih tanaman gandum. Sehingga melalui penderitaan, kesulitan dan aniaya yang terjadi itu adalah God’s will untuk memurnikan GerejaNya.

Maka fungsi yang pertama, kalau itu terjadi kepada kita, jangan pernah lihat itu sebagai penghukuman dari Tuhan; selalu lihat itu sebagai proses pembersihan dan pemurnian Tuhan kepada kita. Buah zaitun jika tidak diproses, tidak akan mengeluarkan minyak yang harum semerbak; buah anggur jika tidak diperas, tidak akan menjadi arak yang manis dan wangi; emas baru akan menjadi murni dan bersinar setelah melewati proses pemurnian lewat api pembakaran. Itulah arti dan makna ‘if it is God’s will.’ Itu menjadi sesuatu sikap yang penting dan baik pada waktu kita mengalami banyak hal-hal yang tidak lancar di dalam banyak hal, di dalam pekerjaan, di dalam keluarga, ada tantangan dan kesulitan dalam hidup kita, itu akan memurnikan hati dan motivasi kita, menjadikan kita lebih indah di hadapanNya.

Fungsi yang kedua, kita belajar menjadi rendah hati di situ. 1 Petrus 5:6 “Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat supaya kamu ditinggikanNya pada waktunya.” Jikalau itu adalah kehendakNya, kita tidak melihat itu sebagai tangan punishment, tetapi sebagai tangan disiplin. Dan pada waktu disiplin itu berarti ada pembersihan dari kotoran, ada pemurnian dan kita menjadi lebih indah. Di situ we learn to humble, we learn humility. Di balik dari tangan Tuhan yang keras dan mendisiplin itu, Ia akan mengangkat orang itu ketika kita belajar merendahkan diri. Kita belajar melalui pengalaman-pengalaman hidup kita yang penuh dengan berbagai prahara, kita menjadi orang yang rendah hati.

Fungsi yang ketiga, karena itu adalah God’s will, maka ayat selanjutnya Petrus berkata, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu…” (1 Petrus 5:7). Muncul hal yang menarik dari ayat ini di dalam konteks kesulitan dan penderitaan, mungkin ada di antara mereka yang kehilangan harta milik dan segala sesuatu yang berharga tidak ada lagi pada mereka, bagaimana mereka bisa survive hidup? Firman Tuhan berkata, jangan kuatir, jangan gelisah, serahkanlah segala kuatirmu kepadaNya. Kalau itu adalah kehendak Allah, Ia akan pelihara hidupmu. Pegang erat-erat janji Tuhan ini.

Fungsi yang keempat, penderitaan itu membuat kita self-control dan waspada, “Sadarlah dan berjaga-jagalah…” (1 Petrus 5:8a). Kesulitan dan penderitaan yang menimpa mereka justru membuat mereka menjadi orang Kristen yang “bangun” dan tidak tertidur; menjadi orang Kristen yang self-control; menjadi orang Kristen yang justru tidak lagi terlena.

Kita besyukur kepada Tuhan meskipun kadang-kadang banyak kesempatan untuk memuliakan Tuhan hilang percuma dalam hidup kita sampai pada waktu kita diberi window opportunity yang mungkin sempit dan kecil baru kita tahu dan menyadari betapa berarti dan bernilainya kesempatan itu. Banyak hal Tuhan mengingatkan prinsip dan pengajaran yang indah kepada kita, tetapi yang terpenting dan menjadi fungsi yang kelima di sini, yaitu supaya kita juga melihat kesulitan dan penderitaan saudara-saudara seiman kita yang lain. 1 Petrus 5:9b “…semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama…” Inilah yang menyebabkan penganiayaan terhadap mereka membuat hati kita ‘in tune’ dengan mereka, menyadarkan kita bahwa kita tidak sendiri di dalam dunia ini, mengingatkan kepada kita ada begitu banyak anak-anak Tuhan teraniaya dan menderita di dalam iman mereka.  

Hari ini melalui mission week ini kita ingin melihat, mendoakan dan menggumuli pekerjaan Tuhan di negara Cina. Kita bersyukur untuk pekerjaan Tuhan yang indah di situ dan kita juga akan terus berdoa bukan saja untuk saudara-saudara kita di sana, tetapi kita pada saat yang sama melihat penderitaan dan penganiayaan terus terjadi di berbagai belahan muka bumi ini. Jangan kita menjadi patah, jangan kita menjadi terbakar oleh amarah, firman Tuhan mengingatkan ini bukan sesuatu yang luar biasa. Pada waktu hal itu terjadi kita tahu mereka diperlayakkan mengasosiasikan diri bersama dengan penderitaan Yesus Kristus Tuhan kita. It is God’s will, ada anugerah dan pemeliharaan Tuhan di situ.

Ketiga, Petrus mengatakan dalam 1 Petrus 4:13 “sebaliknya bersukacitalah sesuai dengan bagian yang kamu dapat di dalam penderitaan Kristus…” the hope for the glory of Jesus itu yang menjadi kekuatan bagi orang-orang percaya dan orang-orang Kristen. Penderitaan itu menjadi singkat sementara hanya di dalam dunia ini tetapi dibandingkan dengan kemuliaan dan sukacita yang luar biasa yang kita terima bersama dengan Kristus, semua itu menjadi tidak ada arti dan nilainya.

Semua ini menjadi berkat dan kekuatan bagi jemaat Tuhan yang saat itu terpencar, tercerai-berai, mengalami penganiayaan dan tekanan, yang harta mereka dirampas, yang mengalami fitnahan dan pengucilan, yang menjadi cikal bakal awal dari penganiayaan yang akan mencapai klimaks yang begitu dahsyat nantinya pada masa kaisar Nero. Yesus mengingatkan murid-murid, tidak usah takut kepada orang yang bisa membunuh tubuh tetapi tidak berkuasa membunuh jiwamu. Takutlah kepada Allah yang berkuasa membinasakan jiwa maupun tubuh di dalam neraka (Matius 10:28). Dan yang terindah di bagian ini, Allah tidak akan meninggalkan anak-anakNya menghadapi hal itu seorang diri. Ia akan berada di samping mereka, memegang tangan mereka, menguatkan mereka. Allah akan “melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu sesudah kamu menderita hanya seketika lamanya” (1 Petrus 5:10). Dan kita percaya Dia akan menyucikan dan memurnikan kita senantiasa, dan melalui setiap kesulitan dan tantangan yang ada, kiranya orang justru makin melihat kemuliaan Tuhan ada pada hidup kita masing-masing.(kz)