Be an Authentic Church

Sun, 01 Feb 2015 02:51:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Tema: Be an Authentic Church

Nats: 1 Petrus 1:13-25, 2:1-10

 

Tidak kita pungkiri, banyak orang yang datang ke gereja tersandung dan kecewa karena tuntutan pengharapan mereka dan idealisme mereka bahwa gereja adalah tempat yang kudus, mereka mengira orang-orang yang ada di dalamnya adalah orang-orang yang kudus, artinya moralitasnya suci dan baik adanya; tutur katanya, prilakunya, hidupnya indah dan baik. Namun akhirnya orang-orang itu kecewa karena melihat apa yang ada di dalam gereja ternyata tidak jauh berbeda dengan yang di luar gereja. Bukan saja tamu atau pengunjung mengalami hal seperti itu, banyak juga orang yang menyebut diri Kristen yang mengatakan dia kecewa terhadap satu gereja dan mungkin pergi berkeliling dari satu gereja ke gereja yang lain, berharap bisa menemukan satu komunitas yang bisa memenuhi idealismenya. Tetapi siklus itu berulang dan berulang lagi.

Pdt. Charles Spurgeon pernah didatangi oleh seorang yang mengatakan dia sedang mencari-cari sebuah gereja yang sempurna, yang di dalamnya hanya ada orang-orang suci. Spurgeon mengatakan, “Oh, aku rasa gerejaku ini bukan gereja yang seperti itu. Di gereja ini ada banyak orang-orang yang suci dan baik, namun di sini ada juga orang yang seperti Yudas. Tetapi kalau suatu kali kelak engkau menemukan gereja yang sempurna itu, saya nasehatkan engkau tidak bergabung di sana, karena kamu akan membuat gereja itu akhirnya tidak sempurna lagi.”

Di dunia ini adakah ada gereja yang sempurna? Tidak ada. Kalau begitu, apa artinya kita bergereja? Dimana keindahan komunitas kita sebagai orang percaya Tuhan? Apa bedanya itu dengan perkumpulan-perkumpulan lain yang tidak mengatas-namakan Tuhan Yesus Kristus, kalau ternyata tutur kata, tindakan dan prilaku kita tidak jauh berbeda? Di satu pihak, ini hal yang seringkali kita hadapi yang juga menjadi tantangan kesulitan kita. Jelas kita tidak sanggup dan tidak mungkin bisa menjamin mereka, “Ayo datang ke sini, di gereja kami semuanya orang-orang yang baik dan indah, dijamin tidak akan ada kemunafikan, perselisihan, gossip dan fitnah di sini.” Kita tidak akan berkata seperti itu karena kita tahu kita jauh daripada itu. Tetapi di lain pihak, ada hal-hal yang penting sekali yang perlu kita lihat di sini dan tentunya kesalahan konsep itu yang harus diperbaiki.

Rasul Petrus menasehatkan, “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu…” (1 Petrus 1:14). You are not you were, itu arti kita ditebus oleh Tuhan, dipanggil Tuhan. Hiduplah sekarang bukan seperti kamu yang dulu. “Sebab kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia…” (1 Petrus 1:18). Alkitab mengatakan kita telah ditebus menjadi anak-anak Tuhan, tetapi bukan dikatakan kita sudah sempurna dan tidak lagi berbuat sama dengan orang lain. Kita bukan menjadi satu kumpulan yang sudah steril, yang berbeda dengan orang lain dalam pengertian di sini lebih bersih, di sini tidak ada dosa. Tidak! Namun hidup kita yang telah ditebus berarti kita bukan lagi kita yang dulu, hidup yang telah ditebus menunjukkan bagaimana Tuhan mentransformasi hidup kita. Rasul Petrus mengatakan, “Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah…” (1 Petrus 2:1). Apa artinya? Artinya di dalam gereja ada orang jahat; ada penipu; ada orang munafik; ada pendengki, ada tukang fitnah. Semua masih ada di situ. Tetapi Gereja adalah kumpulan orang yang dulunya hidup seperti itu dan yang sekarang sedang berjuang untuk hidup menyatakan bagaimana Tuhan telah menebus kita. Gereja masih ada kekurangan. Gereja adalah kumpulan orang-orang yang dulunya hidup seperti itu dan sekarang setelah ditebus oleh Tuhan sedang mengalami proses pembentukan dan transformasi. Di sini tempat kita dikuatkan, dihibur, disembuhkan.

Dietrich Bonhoeffer mengatakan komunitas Kristen bukanlah sebuah komunitas ideal yang kita bayangkan, melainkan ini adalah satu realita yang dicipta Allah di dalam Yesus Kristus, yang melalui kematianNya dan pengampuanNya memberikan pengharapan bagi dunia ini. Yang datang ke sini bukan orang suci, tetapi yang datang ke sini adalah orang yang mengerti pengampunan, orang yang mengerti pemulihan dari Allah, orang itulah yang kemudian menyatakan saksinya kepada dunia ini, “Saya dulunya hidup seperti itu, saya sudah rusak dan penuh dosa, tetapi sekarang saya telah ditebus oleh Tuhan, saya dijadikanNya manusia baru.” Orang yang kecewa terhadap gereja dan kemudian tidak mau lagi ke gereja apapun, justru mereka tidak mempunyai pengharapan. Karena kemanapun mereka bergabung dengan satu komunitas apapun, mereka akan tahu bahwa tidak ada satu bagian dari komunitas yang ada di dunia ini yang tidak diefek oleh dosa. Kenapa gereja harus menjadi satu alternatif komunitas? Karena di sinilah orang-orang bisa menemukan pengharapan dari apa yang mereka lihat telah terjadi kepada kita yang dahulu hidup dalam dosa dan tanpa pengharapan, sekarang telah dirubah oleh Tuhan. Kita yang telah diperbaharui olehNya melalui pengampunan di dalam Yesus Kristus. Kita bukan orang suci, kita datang dengan brokenness, kita pulang dipulihkan oleh Tuhan. Itulah yang terjadi di dalam komunitas  gereja. Kita datang penuh dengan kegagalan dan kemunafikan, tetapi diterima apa adanya oleh Tuhan. Sekarang kita adalah manusia baru, ciptaan baru di dalam Tuhan Yesus.

Kita akan melihat bersama-sama melalui surat 1 Petrus ini bagaimana ciri-ciri dari indahnya sebuah komunitas gereja, dimana orang juga melihat inilah sebuah komunitas yang ada Tuhan di tengah-tengahnya, Yesus Kristuslah menjadi sentral di dalamnya. Ada empat hal yang kita rindukan dan inginkan terjadi di sini.

Pertama, komunitas orang Kristen adalah satu komunitas yang harus merefleksikan takut akan Allah dan memuliakan Dia. Petrus berkata, “Dan jika kamu menyebutNya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini” (1 Petrus 1:17). Komunitas kita terdiri dari orang-orang yang penuh dengan kekurangan kelemahan tetapi di sinilah kita rindukan setiap kali kita berbakti beribadah, fellowship apapun, baik di gereja, di rumah, atau di tempat umum, kita akan menjadi satu komunitas yang hidup dengan suci dan hidup yang menyatakan ‘fear to the Lord’ dan memuliakan Dia karena Allah kita Allah yang suci. 

Yang kedua, komunitas orang Kristen adalah satu komunitas yang dibangun sebagai komunitas firman Injil. Komunitas kita berbeda dengan perkumpulan organisasi, berbeda dengan arisan, berbeda dengan yang lain sebab meskipun komunitas gereja mementingkan arti daripada komunitas, tetapi bukan itu yang paling penting, melainkan karena komunitas itu adalah komunitas yang di-saturated dengan firman, komunitas yang ditopang dan dipenuhi oleh firman, komunitas yang mencintai dan mengasihi firman. Dalam 1 Petrus 1:24-25 dikatakan, “Sebab semua yang hidup adalah seperti rumput… tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya.” Janji firman Tuhan indah luar biasa di sini, segala sesuatu yang lain adalah sementara tetapi firman Tuhan itu kekal selama-lamanya. Komunitas itu tidak akan hilang, gereja itu tidak akan hilang, selama gereja itu adalah gereja yang dipimpin dan dipenuhi oleh firman Tuhan yang kekal, gereja yang menempatkan firman Tuhan sebagai sentralitasnya. Gereja Tuhan itu akan tetap ada dan berdiri untuk selama-lamanya. Rasul Petrus berkata, “Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani supaya olehnya kamu bertumbuh…” (1 Petrus 2:1-2). Komunitas kita harus menjadi sebuah komunitas yang dipenuhi oleh firman Tuhan. Itulah satu-satunya cara dimana fitnah, iri hati, kedengkian, gossip makin lama makin minggir dari kehidupan anak-anak Tuhan. Tidak ada cara lain. 

Kita mendengar khotbah bukan sekedar untuk memuaskan pikiran kita, bukan sekedar untuk menambah informasi dan melengkapi pengetahuan kita, tetapi merubah hati kita dan hidup kita secara integral. Kita baca Alkitab bukan sekedar untuk menjadi sumber informasi tetapi untuk mentransformasi hidup kita supaya lebih mirip dengan Tuhan kita Yesus Kristus. Di situlah artinya hidup kita dipenuhi oleh firman. Pengenalan kita akan firman Tuhan tidak boleh berhenti sampai tahap informasi, sampai tahap pemahaman kita bertambah. Pada waktu kita dengar firman Tuhan, bagaimana kita aplikasikan apa yang Tuhan mau terjadi di dalam hidup kita, melalui itu kita mengalami Tuhan dan kita tahu Tuhan itu baik dan agung di dalam hidup kita.

Ciri ketiga dari sebuah komunitas anak-anak Tuhan adanya pure heart, sincere brotherly love antara satu dengan yang lain. “Kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain; Layanilah seorang akan yang lain…” (1 Petrus 4:8,10). Inilah yang membedakan sebuah komunitas orang percaya Tuhan, perkumpulan orang-orang yang telah ditebus oleh Tuhan yang menyatakan hidup yang saling mengasihi dengan sincere dan murni. Komunitas kita menjadi indah dan unik sebab kita berkumpul berbeda dengan organisasi lain, walaupun mungkin kita membicarakan persoalan sehari-hari, bicara soal keadaan politik, mengenai masalah ekonomi, masalah sosial, tidak jauh berbeda dengan pada waktu kita duduk minum kopi di warung. Lalu dimana bedanya? Ada satu hal yang paling penting di dalamnya yang harus kita nyatakan perbedaan itu. Ketika kita berbicara, kita saling menghibur, kita tidak boleh melepaskan aplikasi hidup kita itu di-saturate oleh firman Tuhan. Orang datang ke gereja, jelas dia akan datang membawa persoalannya. Kita bicara kesulitan hidup kita sama, bukan? Tetapi kita tidak boleh berhenti sampai di situ. Petrus mengatakan marilah kita saling menguatkan menghibur satu sama lain. Tidak berarti setiap pertemuan kita perlu ada khotbah atau harus ada hamba Tuhan menyampaikan firman Tuhan. Namun Alkitab mengingatkan setiap kali kita berkumpul biarlah satu dengan yang lain saling menyatakan mazmur, nyanyian pujian, nasehat yang membangun. Biarlah pada waktu kita berkumpul kita saling menegur satu dengan yang lain dengan firman Tuhan. Hanya firman Tuhanlah yang menyingkirkan semua perkataan manusia, perkataan yang menjelekkan satu dengan yang lain, perkataan yang arogan, gossip yang tidak benar.

Itulah sebabnya pastoral care kita tidak boleh “top down,” tidak boleh hanya dilakukan oleh pendeta saja. Tetapi pastoral care kita itu harus bersifat 360 derajat, masing-masing kita care satu dengan yang lain. Saya sangat terhibur dan berbesar hati melihat cinta kasih dan perhatian kalian sangat bertumbuh satu sama lain di dalam kehidupan lingkungan gerejawi kita. Tanpa menunggu dikomando dan diatur secara organisasi, kalian memprakarsai diri untuk menjenguk saudara seiman yang sakit, berdoa bersama rekan yang sedang dalam pergumulan, mengirimkan words of encouragement kepada sahabat yang sedang dalam kelemahan, ikut concern dan memikirkan keadaan mereka yang berada di dalam berbagai kesulitan. Itu yang saya rindu terus terjadi di antara kita, sehingga di situlah firman Tuhan menjadi source of blessings dalam hidup kita sama-sama.

Ciri ke empat komunitas kita harus menjadi komunitas orang yang hidup honourable dan hidup yang otentik. Petrus mengingatkan, “Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka…” (1 Petrus 2:12).

Kita tidak menjadikan diri kita sebagai perkumpulan orang-orang suci yang melepaskan diri dan hidup terisolasi dari masyarakat. Kita juga tidak menjadi perkumpulan orang yang merasa diri lebih baik daripada yang lain dan menghakimi orang-orang yang kita anggap lebih rendah moralitasnya.Kita tidak dipanggil Tuhan untuk menyendiri dan menjadi sekumpulan orang aneh dan antic. Sebaliknya kita menjadi orang yang menunjukkan satu hidup yang honourable dan authentic, menyatakan hidup yang punya dignitas dan integritas, suatu hidup yang dilihat dan dihargai oleh orang-orang yang tidak percaya Tuhan dan menghasilkan respons orang itu memuliakan Allah. Supaya melalui melihat hidup kita suatu kali kelak orang itu bisa percaya kepada Tuhan yang kita sembah.

Rasul Petrus berkata Gereja adalah kemunitas ”bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri…” (1 Petrus 2:9). We are God’s own possession. Ini komunitas Injil, ini komunitas Allah, ini bukan milik saya. Dan sebagai komunitas Allah, mari kita juga memiliki pemahaman bagaimana kita jadikan hidup gerejawi kita itu di dalam perspektif Allah, bukan di dalam perspektif apa yang engkau dan saya mau, bukan di dalam perspektif cara saya, bukan juga dalam keinginan saya mau memaksakan sesuatu, tetapi seturut apa yang Tuhan mau.

Komunitas ini berarti dia bukan sebuah perusahaan, yang hanya mementingkan asset, profit dan produktifitas. Komunitas ini adalah Rumah Tuhan. Dengan demikian juga berarti pada waktu saya menempatkan perspektif Allah di dalam komunitas kita, Allah yang seperti apakah itu yang kita layani sama-sama?

Tim Chester dalam buku “Everyday Church” memberikan tips sederhana bagi hamba-hamba Tuhan yang melayani. Dia menyatakan keprihatinan banyak hamba Tuhan yang melayani bukan untuk memuliakan Allah tetapi terjatuh kepada apa yang dia mau, yang berkhotbah bukan supaya jemaat itu bertumbuh menjadi berkat dan Tuhan dimuliakan, tetapi pusat pelayanannya adalah supaya terus bertambah banyak orang yang datang ke gerejanya. Tim Chester mengatakan kalau kita mengenal Allah itu seperti apa, apakah pengenalan itu mempengaruhi kehidupan komunitas dan pelayanan kita?

Petrus berkata pada waktu kita mendengar firman, kita menjalankan firman itu, kita dengan indah dibentuk oleh firman itu di dalam seluruh aspek hidup kita, dan engkau “benar-benar mengecap kebaikan Tuhan” (1 Petrus 2:3). You tasted that God is good.

Allah yang kusembah adalah Allah yang besar. Kalau Ia adalah Allah yang besar, berarti Ia adalah Allah yang ‘in control’ di dalam hidup kita sehari-hari pribadi lepas pribadi dan di dalam hidup gerejawi kita. Kalau Ia ‘in control’ dalam hidup kita sehari-hari, itu berarti mari kita tidak memaksakan diri untuk mengontrol hal-hal yang lain atau mengontrol orang. Kita juga jangan berpikir bahwa kita harus mengatur semuanya sehingga kita harus berjuang mati-matian dan akhirnya selalu anxiety dalam hidup kita. Ketika kita menempatkan diri di bawah kontrol Allah, kita mengerti bahwa banyak hal bisa terjadi dalam hidup ini di luar keinginan dan harapan kita. Namun karena kita mengerti bahwa Ia adalah Allah yang besar, Ia akan menenun semua itu menurut apa yang Ia kehendaki. Karena Ia adalah Allah yang besar dan sepenuhnya ‘in control,’ kita harus belajar bersabar. Apalagi kalau di dalam pelayanan gerejawi, kita sering sulit menerima orang yang berbeda dengan kita, bukan? Kadang-kadang ada orang yang lambat sekali pertumbuhan rohaninya sehingga kita kurang sabar. Tetapi Allah kita itu panjang sabar dan kasihNya indah, kadang-kadang Dia mengijinkan dalam segala kekurangan kelemahan orang itu bertumbuh dan maju. Di situlah komunitas menjadi indah. Allah kita itu mulia, Allah itu glorious. Kalau kita tahu Allah itu mulia, kita tidak perlu takut sama orang. Kita tidak perlu takut dengan situasi. Kalau Allah kita itu baik, kita jangan mencari kepuasan itu di luar daripada Tuhan kita, bahkan termasuk daripada berkat-berkatNya. Kalau Tuhan itu murah hati, kita tidak akan berkata bahwa apa yang kita kerjakan dan lakukan itu oleh karena kehebatan usaha kita. Itu semua semata-mata oleh karena kemurahan Tuhan di dalam hidup kita.

Jangan kuatir dan jangan takut, rasul Petrus mengingatkan, Gereja didirikan dari batu-batu yang dibuang orang. Yang dibuang oleh tukang bangunan, yang dianggap tidak berarti dan tidak bisa dipakai karena kualitas dan bentuknya, Alkitab mencatat batu-batu itu menjadi “living stones.” Bahkan Batu Penjuru kita yaitu Yesus Kristus adalah batu yang telah dibuang oleh tukang bangunan, dianggap sebagai batu sandungan, batu sontohan (1 Petrus 2:7-8). Kita adalah batu-batu yang bengkok sana-sini, tetapi dengan keberadaan seperti itu Tuhan mendirikan rumahNya. Di situlah kita menyaksikan keindahan daripada komunitas ini.

Dan biarlah kita itu menyatakan empat hal ini: kita beribadah kepada Allah di dalam hati yang takut akan Dia dan kemuliaan Tuhan hadir di tengah kita; kiranya komunitas kita menjadi satu komunitas yang indah, pada waktu kita duduk berbakti bersekutu sama-sama, firman Tuhan memenuhi kita semua. Kita memberikan pengharapan dengan berpegang kepada janji firman Tuhan, kita menegur orang dengan kebenaran firman Tuhan, kita menghibur orang dengan firman Tuhan. Dengan firman Tuhan itu kita mengalami Allah itu indah dan baik di dalam hidup kita. Kiranya di tengah kita ada sincere brotherly love dengan hati yang suci dan kudus, motivasi yang murni mendukung menguatkan yang lemah. Dan mari kita menjalani satu hidup yang honourable di hadapan Allah dan manusia. Sehingga walaupun orang itu belum percaya Tuhan, menyaksikan hidup kita yang otentik dia mengakui dan memuliakan Allah melalui hidup kita sama-sama.

Kiranya firman Tuhan ini memimpin kita sekalian untuk menjadi sebuah komunitas yang hidup, satu komunitas milik Tuhan, komunitas orang-orang yang telah mengalami penebusan Tuhan Yesus Kristus; penuh dengan kasih, rahmat, menghargai anugerah dan kebaikan Tuhan yang memimpin dan menyertai gereja ini. Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang baik, mulia, dan agung dan kita menjadi orang-orang yang merefleksikan kebaikan dan kemurahan Tuhan. Dia Allah yang besar, mengingatkan kita senantiasa untuk belajar bersandar kepadaNya sepenuhnya membentuk kita masing-masing.(kz)