The Joy of Worship

Sun, 25 Jan 2015 06:03:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Tema: The Joy of Worship

Nats: Ibrani 10:19-25, 12:18-29

 

Penulis surat Ibrani menulis firman Tuhan ini kepada Jemaat yang berada di dalam satu keadaan dan kondisi dimana mereka tidak mudah lagi berbakti secara bebas dan terbuka, dan mengalami penganiayaan karena iman mereka. Menjalani hidup sehari-hari sudah cukup sulit dan berat, lalu bagaimana mempertahankan iman mereka itu merupakan sesuatu taruhan yang mahal, mereka dipermalukan di hadapan umum, bahkan ada di antara mereka yang harta benda miliknya dirampas dan diambil. Diperhadapkan dengan situasi kondisi seperti itu sebagian orang menjadi pasif dan undur dengan alasan ‘yang penting adalah hubunganku dengan Tuhan, bukan? Tuhan juga tahu dan mengerti situasi kondisiku yang tidak mudah dan aman untuk berbakti’ akhirnya berdoa sendiri di rumah. Bahkan ada di antara mereka yang akhirnya mengambil sikap ekstrim yaitu dengan menyangkal nama Tuhan di depan umum, ‘aku tidak mengenal Dia.’ Maka penulis Ibrani mengingatkan betapa berharganya iman kita kepada Yesus Kristus, jangan kita membuang iman itu.

Yang kedua, penulis Ibrani mengingatkan walaupun ada kesulitan, ada problem, ada hal-hal yang mungkin membuat ketakutan bagi mereka bisa secara publik menyatakan iman mereka di hadapan orang lain tetap kita tidak boleh mengabaikan datang berbakti dan berkumpul sama-sama.

Beberapa minggu ini melalui eksposisi surat Ibrani ini kita sama-sama diingatkan kenapa kita harus berkumpul? Karena pada waktu kita berkumpul, kita membawa sesuatu dan kita menjadikan diri kita blessing bagi orang lain, di dalam kekurangan kelemahan kita datang, orang lain juga membawa kekurangan kelemahannya, di situ hal yang amazing terjadi yaitu masing-masing menjadi penghiburan dan kekuatan bagi orang yang kurang dan lemah. Itulah indahnya suatu ibadah persekutuan bersama, walaupun dilakukan di tengah pergumulan iman, kesulitan, tekanan dan air mata yang dialami.

Selanjutnya penulis Ibrani memberikan beberapa prinsip yang penting lagi akan apa makna dan fungsi sebuah ibadah itu. Di Ibrani 12:22 ada kata yang muncul, “But you have come to…” kata “come” mengacu kepada the calling of worship, itulah yang membedakan pertemuan ini dengan pertemuan-pertemuan yang lain karena ibadah terjadi sebab Allah yang memanggil umatNya. Lalu Ibrani 12:28 adalah aspek kedua, “…let us offer to God acceptable worship with reverencen and awe…” Ibadah itu apa? Ibadah itu terjadi karena kita menerima panggilan Tuhan, kita diundang datang. Tetapi pada saat yang sama, ibadah itu adalah satu hal yang kita ‘produce’ di dalam hidup kita, kita membawa sesuatu yang kita persembahkan kepada Tuhan saat ibadah. Dua aspek indah ini bersatu.

Maka dengan konsep ini kita menemukan terjadi keselarasan kenapa kita perlu datang berbakti ke rumah Tuhan. Ini bukan karena kita membuat perkumpulan, bukan karena kita mau punya banyak teman dan perlu ada pertemuan. Ini bukan pertemuan, ini bukan rapat, ini bukan pertunjukan, ini adalah ibadah. Ini adalah moment dimana Allah sebagai Allah Pencipta mengingatkan kita bahwa kita patut, kita wajib, kita harus menyatakan ibadah kita karena Dia adalah Allah yang berhak menerima pujian, hormat, kemuliaan sampai selama-lamanya.

Pada waktu visi itu dilihat oleh rasul Yohanes dan ditulis dalam kitab Wahyu, kita menemukan sentralitas dari alam semesta ini adalah tahta Allah yang mulia, yang dikelilingi oleh kumpulan malaikat-malaikat, yang dikelilingi oleh wakil-wakil dari para penatua, lalu kemudian dikelilingi oleh seluruh umat manusia yang telah ditebusNya, lalu dikelilingi oleh mahluk-mahluk ciptaanNya yang lain. Itu adalah ibadah yang terjadi dalam kekekalan (Wahyu 4-5). Kita manusia adalah mahluk yang kecil dan tidak layak. Ibadah mengingatkan kita, siapa Sumber hidup kita, Pencipta kita. Tetapi bukan itu saja, terlebih dari itu kita adalah orang-orang yang sudah ditebus olehNya. Yang memanggil kita itu bukan Allah Pencipta saja, yang memanggil kita itu juga Allah Penebus hidup kita. Maka makna ibadah tidak boleh mengabaikan aspek vertikal ini. Dia Allah yang transenden jauh di atas, Allah yang kebesaranNya dan kemuliaanNya tidak dapat dilihat dengan mata jasmani kita, kepada Allah itu kita datang beribadah.

Di dalam Perjanjian Lama Allah yang transenden itu dinyatakan dengan awan, api dan angin yang dahsyat dan dengan kemuliaan kesucian yang luar biasa. Ngeri dan menakutkan. Dalam 2 Tawarikh 5:13-14 “…kemuliaan Tuhan memenuhi Rumah itu.” Inilah gambaran Allah menyatakan diri “the greatness of God” Ia Allah yang besar, transenden, bukan seperti manusia ciptaanNya yang berdosa dan tidak berlayak di hadapanNya itu dapat dihanguskan oleh Api yang menyala-nyala itu. Maka kita bayangkan situasi saat umat Tuhan berbakti di dalam kemeriahan ibadah dengan puji-pujian sukacita dan joyful yang begitu besar, dengan segala instrument alat musik yang ada sambil bernyanyi “Tuhan itu baik, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya.” Namun ketika Allah hadir turun di tengah-tengah mereka di dalam awan kemuliaan, mereka tidak sanggup untuk bisa mendekat kepada Dia.

Teapi kontras di dalam Perjanjian Baru kita datang kepada gunung Sion, kita boleh datang dengan sukacita dan intimacy. Dalam Ibrani 12:22 ibadah itu digambarkan dengan istilah “satu kumpulan yang meriah,” dalam bahasa Inggris “in festal gathering.” Di situlah penulis Ibrani kemudian memberikan kepada kita lukisan respons dan ibadah kita yang harus seturut dengan bagaimana kita mengenal Allah itu di dalam ibadah kita. Datanglah kepadaNya dengan sukacita dan keindahan sekaligus dengan hati yang gentar dan dengan hati yang hormat karena kita tahu kita tidak layak menghampiriNya. Tetapi sekaligus kita menikmati sukacita hari ini karena Allah yang agung itu mau menyatakan kebaikanNya, keindahanNya, menerima kita berkumpul sama-sama menyembahNya. Kiranya kita boleh merefleksikan ibadah kita dengan pengenalan kepada identitas Allah yang seperti itu di dalam hidup ini. Ada joy yang mengalir di dalam ibadah kita; dan sekali lagi, tidak boleh karena lagunya bernada riang maka kita merasa joy dan dekat dengan Tuhan. Tetapi karena pertama-tama kita tahu Allah itu mau dekat dengan kita, kita merasakan kedekatanNya, di situlah kemudian lagu itu kita nyanyikan dengan joy. Konsep ini tidak boleh terbalik. Salahlah kalau kita bilang, “Karena lagunya bernada senang maka hati saya jadi ikut senang. Lalu makin hati saya senang, makin saya rasa dekat dengan Tuhan.” Yang ada ialah: hatiku bersukacita dan senang karena saya tahu Allahku adalah Allah yang memanggilku untuk datang mendekat kepadaNya. “Mendekatlah kepadaKu, maka Aku akan mendekat kepadamu…” Maka pada waktu kita datang dengan sikap hati mengenal Allah dengan sikap hati seperti itu lalu itu terekspresi dari wajah kita, dari ibadah kita, dari cara kita menyanyikan pujian, dari keindahan yang terpancar pada waktu kita bertemu satu dengan yang lain. Kita harus memiliki konsep seperti ini. Sehingga pada waktu kita datang dengan respons pengenalan akan Allah seperti itu, mengetahui akan kebaikan Tuhan ada orang yang menitikkan air mata saat beribadah, kita jangan menghakimi dia. Di dalam ekspresi sukacitanya bertemu Tuhan, orang itu berseru dengan sukacita dan dengan kedua tangannya terangkat berkata, ‘Haleluya!’ kita jangan menghina dia. Pada waktu orang datang dengan ‘reverence and awe’ menyadari Allah begitu besar dan dia tidak layak dia berdiri dengan gemetar, di situ dia menemukan kehangatan Allah yang seperti api yang menghanguskan dosa dan kekotorannya, masih mengasihi dan mencintai orang yang datang kepadaNya, mari kita menghargai respons orang itu. Masing-masing orang akan menyatakan sikap dan respons dengan ekspresi yang berbeda, namun di situ kita melihat keindahan sebuah ibadah. Yang terpenting adalah hati kita datang berbakti kepada Allah dengan pengenalan yang benar.

Kenapa ini menjadi ibadah? Alkitab mengatakan, “Let us offer to God our acceptable worship…” Kita bersyukur ibadah ini menjadi ibadah yang harus menjadi sentral di dalam ibadah ini adalah

Tuhan Allah sendiri, karena karya keselamatan yang Ia lakukan di dalam Yesus Kristus bagi kita. Kristus adalah Mediator kita. Bukan saya, bukan pendeta siapapun yang menjadi mediatornya. Tidak boleh ada “additional mediator” dalam sebuah ibadah. Tidak boleh ada pengkhotbah ataupun worship leader yang menjadi mediator sebuah ibadah. Jangan pernah kita gantikan sentralitas itu kepada kharisma kehebatan bicara seorang pendeta atau kepada kemerduan suara worship leader, Jangan sekali-kali sentralitas itu kita taruh kepada suasana ruangan dan lagu-lagu yang dinyanyikan atau kepada permainan musik instrumen yang handal. Sedih dan prihatin kita kalau orang Kristen mengatakan, “Karena pendetanya ciamik, khotbahnya bagus, aku jadi merasa dekat dengan Tuhan…” atau “Karena lagu-lagunya enak, aku rasa dekat dengan Tuhan…” Yang seharusnya membikin kita dekat dengan Tuhan adalah karena menyadari apa yang telah Yesus kerjakan dalam hidup kita. Ibrani 10:19 mengatakan “Karenaita memiliki jalan masuk…” Worship menjadi sebuah worship pada waktu worship itu memuliakan Tuhan kita Yesus Kristus. Ia yang layak diagungkan dan ditinggikan.

Maka salah satu sakramen yang Tuhan turunkan kepada Gereja supaya Gereja melakukannya yaitu sakramen Perjamuan Kudus menjadikan ibadah kita Christ-centered. Kita berbakti hari ini karena kita tahu apa yang Yesus telah kerjakan di dalam karya keselamatanNya. Sehingga pada waktu kita datang dengan segala kelemahan dan kekurangan, kita tidak menjadi kuatir dan takut karena kita boleh datang menghampiri Mediator kita yang terindah itu, mengakui segala dosa kita, kegagalan kita, kesalahan kita, kesedihan kita kepadaNya dan memohon pertolonganNya untuk membawa kita ke hadapan Bapa di surga yang akan menerima kita dengan tangan terbuka oeh karena Dia. Jangan takut, jangan gelisah, jangan kuatir. Datang dengan hati yang melimpah dengan syukur, berbakti kepadaNya.

Ibadah juga berarti hamba-hamba Tuhan yang melayani harus menjadi hamba Tuhan yang merefleksikan Yesus sebagai Gembala yang Agung. Rasul Petrus mengingatkan hal itu, kita adalah gembala yang taat kepada Gembala Agung itu. Sebagaimana  Gembala Agung itu mencintai dan mengasihi domba-dombaNya, demikian juga kita harus mencintai, mengasihi dan memberi makan domba-domba kita. Kita bawa mereka untuk lebih mencintai dan mengasihi Tuhan Yesus.

Kita bisa beribadah hari ini dan kita percaya ibadah kita ini menjadi acceptable offer kita kepada Tuhan sebab kita tahu Kristus ada di tengah-tengah kita dan Ia layak kita sembah. Alkitab mengingatkan senantiasa sebuah ibadah yang Christ-centered akan mengalami Holy Spirit-empowered. Barangsiapa yang meninggikan Yesus Kristus dan hanya Kristus yang disembah dan dimuliakan di dalam ibadah, pasti Roh Kudus akan bekerja. Roh Kudus akan membuat hati kita lebih fokus kepada Kristus dan lebih mencintai Dia.

Itulah sebabnya mari kita perbaiki konsep ibadah kita. Hamba-hamba Tuhan yang melayani, kita bertanggung jawab mempersiapkan khotbah seindah dan sebaik mungkin tetapi bukan untuk membuat diri kita dikagumi dihormati oleh jemaat. Para worship leaders, mempersiapkan worship dengan baik supaya pada waktu kita memimpin umat Tuhan memuji Tuhan bukan supaya orang di bawah mengagumi engkau, mengagumi keindahan suaramu. Kita tidak boleh memiliki sikap seperti itu. Kita tidak membawa apa-apa yang lain kecuali semua yang kita persiapkan kita mau itu memuliakan Tuhan kita Yesus Kristus. Itu sentralitas vertikal dari ibadah kita.

Yang ketiga, Alkitab mengingatkan kepada kita ibadah itu kita persembahkan kepada Tuhan ada aspek horisontalnya. Ibadah harus mempunyai dua prinsip ini, yaitu ibadah itu harus membangun dan ibadah itu harus dimengerti. Dalam 1 Korintus 14 Paulus memberikan guidance, pada waktu orang percaya berkumpul berbakti, biarlah ibadahmu edify, strengthen, upbringing membangun satu sama lain. Yang kedua, ibadah itu meaningful. Paulus bilang, buat apa saya berkata-kata sesuatu yang tidak bermakna? Orang tidak mengerti. Lebih baik satu dua kalimat tetapi orang memahami dan mengerti. Ini dua prinsip yang penting luar biasa. Sehingga di dalam Alkitab kita menemukan bahwa Allah mengatur tata ibadah tidak boleh sembarangan. Allah tidak bisa disembah dengan cara yang improper. Di sinilah kemudian bapa-bapa Reformator mengingatkan kita hanya Alkitab yang harus menjadi standar yang penting. Pikiran dari manusia, cara dari manusia, tradisi manusia, preferensi manusia tidak boleh menjadi hal yang lebih penting. Pada waktu gereja berbakti dengan bahasa Latin dimana sebagian besar 90% lebih orang yang hadir kebaktian itu tidak mengerti, maka gerakan Reformasi membawa gereja berbakti di dalam bahasa setempat yang bisa dimengerti oleh jemaat. Ini adalah prinsip yang penting, Alkitab menjadi yang paling utama. Ini adalah satu revolusi perjuangan yang luar biasa.

Saya percaya tradisi itu baik adanya. Kita ada hari ini karena tradisi. Tradisi menjadi aspek yang tidak bisa kita buang begitu saja, tetapi menghargai tradisi tidak boleh membuat kita menjadi ‘traditionalist.’ Pada waktu kita sudah menekankan tradisi lebih daripada Alkitab, kita menjadi orang yang nostalgik dan kita akhirnya tinggal di jaman yang berbeda, kita jatuh lagi kepada sikap di era Catolichism yang lalu. Gerakan Reformasi menolak sikap seperti ini. Reformasi memegang prinsip kita harus terus mengalami pembaruan, sehingga prinsip ibadah itu membangun dan ibadah itu meaningful. Meaningful berarti berkaitan dengan aspek budaya, aspek bahasa, aspek kebiasaan, dsb. Semua itu harus dipikirkan bagaimana menjadikan ibadah itu membangun dan dimengerti.

1 Timotius 2:8 “Oleh karena itu aku ingin supaya dimana orang laki-laki dimana-mana menadahkan tangan tanpa kemarahan dan perselisihan…” yang menjadi prinsip biblikalnya “menadahkan tangan” saat berdoa, ataukah “tanpa kemarahan dan perselisihan”? Kita percaya yang menjadi prinsip biblikalnya adalah “tanpa marah dan perselisihan” tetapi gesture “menadahkan tangan” adalah kebiasaan yang lazim pada jaman itu. Jangan kita tarik, “Ah, karena Alkitab bilang ‘menadahkan tangan’ maka mari kita semua menadahkan tangan.” Ada yang mau mengangkat tangan saat berdoa, silakan. Ada yang mau melipat tangan, silakan. Ada yang mau menengadah dan membuka mata, silakan. Ada yang menundukkan kepala dan menutup mata, silakan. Kita harus lihat beberapa aspek secara komprehensif.

Maka dalam bagian ini kita lihat sekali lagi, ibadah itu secara aspek horizontal ada 3 point yang Alkitab berikan. Pertama, let your worship edifying others dan meaningful to others. Yang kedua, let every people come and bring something to God, di situlah ibadah. Roh Kudus yang sudah memberikan setiap kita karunia yang berbeda-beda, biar kita menemukan dan memakai karunia itu melayani Dia. Ada orang yang mempunyai karunia menghibur orang berduka, ada orang yang mempunyai karunia memimpin, karunia mengajar, karunia menyanyi, dsb. Di situ kita menemukan Tuhan menginjinkan dan menerima offering dari human creativity sebagai ibadah. Dalam kitab Wahyu 21:26 kita menemukan nanti di langit dan bumi yang baru semua kreatifitas manusia yang telah ditebus akan dipersembahkan kepada Tuhan di dalam ibadah. Segala kekayaan kemampuan kreatifitas manusia semua yang terbaik dibawa dan dipersembahkan kepada Tuhan.

Tetapi sekali lagi, istilah “yang terbaik” itu dalam konotasi luas dalam beberapa aspek. Tidak boleh kita bilang itu “yang terbaik” karena struktur score dari lagu itu terbaik yaitu lagu klasik. Jadi jangan bilang lagu yang dibikin Mozart atau Handel atau Bach itu yang terbaik dan harus yang seperti itu yang dinyanyikan di gereja.Bagi saya, waktu seorang nenek yang sederhana menyanyikan satu lagu “Cu Yesu ai Ni” yang membuat dia mengerti siapa Tuhan dan anugerah Tuhan, nenek saya bisa mengalirkan air mata, itu sudah menjadi lagu yang terbaik. Kalau disuruh ikut koor, nyanyi “Haleluya!” rontok nenek saya. Jadi lihat ada aspek estetika, aspek kreatifitas, aspek kedalaman pengertian, aspek kesederhanaan yang menyentuh, dsb. Jadi apa itu yang terindah yang terbaik? Yaitu segala sesuatu yang seorang anak Tuhan beri kepada Tuhan. Maka firman Tuhan mengatakan, nanti waktu Tuhan Yesus datang bumi dan surga itu akan digoncangkan, seperti stacko yang digoncang, yang tidak kokoh bangunannya akan jatuh. Semua kekayaan, kehebatan, kemampuan dan karya manusia akan dibuktikan kekuatannya waktu langit dan bumi digoncangkan, apakah dia akan roboh atau akan tinggal tetap. Yang akan roboh dan jatuh adalah yang memang fondasinya arogansi, yang memang fondasinya self-worship, yang memang fondasinya corruption and evil, yang memang fondasinya adalah idolatry. Itu yang akan hancur dan roboh. Tetapi waktu engkau membawa sesuatu yang engkau lakukan bagi kemuliaan Tuhan, waktu digoncangkan, itu akan tetap tegak berdiri. Itulah pemberian-pemberian yang dibawa oleh umat Tuhan ke hadapan tahta Tuhan. Lagu yang dia persembahkan kepada Tuhan karena kedekatan intimacy yang tulus dengan Tuhan, doa yang dia naikkan karena dia mengerti akan anugerah Tuhan itu semua menjadi bau dari dupa yang harum di hadapan tahta Tuhan.

Terakhir, worship harus bersifat  strengthening, uplifting, dimana setelah ibadah selesai tiap orang pulang menjadi manusia-manusia yang diperbaharui menjadi lebih baik. Worship harus membikin kita punya brokenness di dalam relationship disembuhkan. Worship itu membuat kita menjadi orang yang di-strengthened dengan firman Tuhan, dirubah oleh firman Tuhan. Setiap kita satu dengan yang lain bisa saling menguatkan. Biar kiranya hati kita berlimpah dengan syukur karena hati kita dipelihara oleh firman Tuhan, berlimpah di dalam pengenalan akan Tuhan dengan indah dalam hidup kita.(kz)