Penderitaan dan Makna Salib

Sun, 04 Jan 2015 11:09:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Tema: Penderitaan dan Makna Salib

Nats: Ayub 1:14-22

 

Kisah Ayub yang ditulis sebagai karya sastra yang begitu indah dengan komposisi puisi yang tersusun seperti pantun yang berulang silih berganti, tidak bisa menyembunyikan kedahsyatan peristiwa demi peristiwa yang susul-menyusul datang kepada hidupnya dalam seketika.Peristiwa demi peristiwa yang mendatangkan kesulitan, kehancuran dan nestapa kepada hidup Ayub.Peristiwa yang terjadi disebabkan oleh kejahatan, kebencian, iri hati, nafsu serakah dapat mendatangkan kehancuran dan kerugian dalam hidup dansanggup bisa merampas keindahan dan sukacita anak-anak Tuhan.Tetapi bukan itu saja, natural disasters juga bisa datang tanpa bisa kita planning dan bisa sewaktu-waktu terjadimenjadi satu mimpi buruk yang seolah tidak ada ujungnya.Dalam kisah Ayub dua aspek ini datang silih berganti menimpanya.Tragedi dimulai dari datangnya orang-orang Syeba yang dalam jumlah sangat besar merampok dan menjarah semua ternak milik Ayub serta membunuh pekerja-pekerjanya.Itu adalah satu serangan yang tiba-tiba, brutal dan tidak terduga. Belum selesai Ayub mencerna berita itu, datang seorang lagi mengatakan bahwa seluruh kambing dombanya yang ribuan ekor itu bersama gembala-gembalanya sekaligus dalam sekejap mata musnah terbakar badai api dari langit. Belum selesai Ayub mencerna berita itu, datang seorang lagi mengatakan orang-orang Kasdim datang dari tiga penjuru merampas seluruh unta Ayub dan membunuh penjaga-penjaga unta itu.Dalam satu hari saja, seluruh harta milik Ayub hilang musnah tak berbekas.Bangkrut dia. Seorang terkaya di sebelah timur menjadi seorang paling miskin melarat.Tetapi belum selesai sampai di situ, datang kabar yang lebih buruk daripada semuanya, ke sepuluh anak yang sangat dia kasihi meninggal tertimpa rumah mereka yang roboh oleh taufan yang sangat besar meniup dari empat penjuru.Penderitaan Ayub tidak berhenti sampai di situ.Ditambah lagi tubuhnya dengan penyakit kulit yang muncul di sekujur tubuhnya, penderitaannya makin ditambah dengan kehadiran tiga orang yang mengaku sebagai teman yang menemani di sisinya.

Barangkali kita bisa bersiap menghadapi hal-hal buruk dan bencana yang akan datang ke dalam hidup kita dengan segenap kemampuan yang kita punya, namun sejujurnya ketika realita bencana itu sungguh-sungguh menimpa, betapa tidak mudah dan tidak siap kita menanggung dan menjalaninya. Mungkin kalau kita tahu apa penyebab kesulitan dan penderitaan itu datang, kita masih bisa bersiap hati menanggung dan menerima hal itu. Tetapi betapa sulit kalau itu adalah sesuatu yang pointless, senseless dan seolah-olah purposeless, kita tidak tahu apa makna dan tujuan di baliknya.

Ayub walaupun bereaksi dengan berkata, “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan” (Ayub 1:21), kita lahir dengan telanjang, kita juga akan kembali dengan telanjang, itu adalah satu pernyataan kemenangan iman Ayub di tengah reruntuhan kesulitan hidup yang dialaminya, tetapi pada waktu dia mulai menjalani semua dan memproses realita dari hari ke sehari dan tidak ada perubahan menuju kepada keadaan lebih baik, di tengah-tengah orang-orang yang ada di sekitarnya yang justru menyiksanya dengan kata-kata yang tidak mendatangkan hal yang konstruktif, Ayub betapa tidak mudah menanggung semua itu.

Kalau engkau sedang mengalami situasi seperti itu atau mengenal dekat orang yang sedang berada dalam situasi seperti itu, yang mencetuskan perasaan hati mereka di tengah pergumulan yang mereka alami, mempertanyakan kebaikan dan kasih setia Tuhan, tidak usah kecewa dan jangan menghina atau menegur mereka. Apa yang mereka alami itu semua dialami juga oleh Ayub.

Ayub 3:20-21 “Mengapa terang diberikan kepada yang bersusah-susah dan hidup kepada yang pedih hati?” Kita percaya dalam perjalanan yang gelap bagai lorong tak berujung ada sinar cahaya Tuhan yang akan kita lihat kelak. Kita percaya di balik dari awan gelap dan kelabu ada sinar matahari di atas sana. Kadang-kadang saat kita sedang menjalani kesulitan dan pergumulan yang terlalu berat dan terasa begitu panjang, kita merasa harapan kita makin menipis dan kesabaran kita menanti Tuhan tidak ada lagi.Kita merasa sulit memahami ada kebaikan dan anugerah Tuhan yang indah bagi kita karena pergumulan itu terlalu dalam dan terlalu berat adanya.

Namun kitab ini bukan saja menuliskan kisah penderitaan yang dialami Ayub. Kitab ini juga mengajar kita melihat bagaimana kita menjadi orang-orang yang simpati kepada orang yang sedang mengalami akan hal itu. Ada 3 teman Ayub datang, mereka datang ingin memberi penghiburan.Tetapi pada akhirnya bukan penghiburan yang mereka beri, kata-kata mereka justru makin menyiksa Ayub.Mereka menyatakan cetusan hati yang sejujurnya inilah yang ada di dalam hati orang-orang yang mungkin secara tanpa sadar melihat penderitaan dan kesulitan terjadi kepada seseorang. Perspektif dari Elifas, Bildad dan Zofar justru bertolak-belakang dengan perspektif Tuhan kita Yesus Kristus yang melihat, mengetahui dan mengalami penderitaan seperti banyak orang, dengan simpati dalam menghibur orang-orang yang dalam keadaan seperti itu.

Kita perlu belajar bagaimana sepatutnya dan seharusnya kita memilih kata-kata yang mengekspresikan perhatian kita, saat interpretasi macam-macam bermunculan, semua kalimat itu keluar dan kalimat itu justru tidak mendatangkan kekuatan dan penghiburan bagi yang mendengarnya dan justru mendatangkan kesedihan yang lebih dalam.Ketiga orang ini datang dengan tujuan mau menyatakan simpati terhadap penderitaan Ayub, simpati yang seharusnya membuka telinga untuk mendengar, simpati yang dengan sabar melihat, menghargai, mengasihi orang yang sedang berada di tengah pusaran penderitaannya.Tetapi sebaliknya ketiga orang ini tidak mau mendengar keluh-kesah Ayub, mereka tidak sabar mendengarkan cetusan kesedihan Ayub, malahan mereka memaksa Ayub untuk mendengarkan mereka.Ingatkan, ketiga orang ini bukan orang-orang yang tidak percaya Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang percaya Tuhan dan mengaku mereka mengenal Tuhan, tetapi apa yang menjadi sistem teologi mereka bertentangan dan bahkan berbahaya di dalam mereka memberikan penghiburan kepada Ayub. Sistem teologi tiga orang ini simple sebenarnya. Pertama, God is absolute in control, Allah yang aku sembah sepenuhnya mengontrol segala sesuatu, tidak ada hal yang terjadi di luar dari kuasaNya. Kedua, God is absolute fair and just, Allah yang aku percaya adalah Allah yang sepenuhnya adil. Ketiga, Dia menghakimi dengan adil, semua kejahatan akan dihukum, semua kebenaran akan diberkati, dibalaskan di dalam hidup orang itu di dunia ini. Keempat, maka sekarang apabila ada penderitaan dialami oleh seseorang itu berarti ada dosa di dalam diri orang itu sehingga dia dihukum oleh Tuhan dengan adil atas dosanya.Implikasi sebaliknya, jikalau hidupmu sekarang penuh dengan kelancaran dan berkat, itu berarti tanda Allah memberkati hidupmu yang pasti tidak ada dosa tersembunyi di belakang.Itu adalah sistem teologi teman-teman Ayub yang ditinjau dari sudut pandang kita, sistem teologinya seolah separuh betul tetapisistem teologi itu tidak komprehensif melihat seluruh kebenaran Alkitab bisa mendatangkan jiwa yang judgmental dalam menilai hal-hal yang terjadi di sekitar kita.Allah kita adalah Allah yang sepenuhnya mengatur dan tidak ada sesuatu terjadi di luar kehendak dan pengetahuannya.Allah kita adalah Allah yang adil dan benar, yang menghakimi dengan adil adanya. Setiap kejahatan dan dosa akan mendapatkan hukuman seadil-adilnya dari Tuhan dan Ia akan memberkati orang yang hidup dalam kebenaran. Tetapi apakah saat kita melihat seseorang mengalami penderitaan dan pergumulan yang dahsyat itu berarti ada dosa di dalam hidupnya sehingga Allah menghukum dia seperti itu?Lalu kepada orang yang hidup lancar, sukses, tidak ada hambatan apa-apa, berarti tidak ada dosa dan hidupnya diberkati Allah?Kita tidak bisa tergesa-gesa mengambil kesimpulan seperti itu.

Elisa memulai dengan kalimat-kalimat retorika di pasal 4:7, “Siapa binasa dengan tak bersalah?Dimana orang jujur dipunahkan?” Kalimat ini berarti jika Ayub mengaku sebagai orang benar dan sekarang sedang mengalami kesulitan dan penderitaan, ini tidak sesuai dengan sistem teologi kepercayaan mereka, maka kalau Ayub menderita pasti dia ada salahnya, dan Tuhan menghukum orang yang tidak jujur dalam hidupnya. Pasal 5:17, “Sesungguhnya berbahagialah manusia yang ditegur Allah. Sebab itu janganlah engkau menolak didikan yang maha kuasa…” Allah jujur dan adil, Allah akan mendisiplin kita. Tidak ada yang salah dari kalimat ini.Allah kita adalah Allah yang penuh kasih sekaligus Bapa yang mendisiplin anak-anakNya untuk kebaikannya (band. Ibrani 12:5-7). Apayang dikatakan Elifas di atas tidak salah, namun Elifas mendesak Ayub mengakui bahwa dia sedang mengalami didikan Tuhan menghajar dan menegurnya.

Bildad di pasal 8:4 mengeluarkan kalimat yang benar-benar tidak punya perasaan di tengah dukacita yang dialami Ayub yang mengalami keterhilangan anak-anaknya.Dia menuduh anak-anak Ayub yang meninggal itu pasti ada dosa dan kesalahannya sehingga Tuhan mencabut nyawa mereka. “Jikalau anak-anakmu telah berbuat dosa terhadap Dia, maka Ia telah membiarkan mereka dikuasai oleh pelanggaran mereka…” Kita tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan hati Ayub mendengar Bildad melontarkan tuduhan seperti itu.Luar biasa hurtful.

Bagaimana dengan Zofar? Pasal 11:6b Zofar mengatakan kepada Ayub, “…maka engkau akan mengetahui bahwa Allah tidak memperhitungkan bagimu sebagian daripada kesalahanmu.” Seolah-olah Zofar mengatakan Ayub mengalami kehilangan semua hartanya, kehilangan semua hartanya, dan sekujur tubuhnya mengalami sakit kulit itu sejujurnya belum sampai separuh dari hukuman Tuhan yang layak baginya. You are lucky, Tuhan hanya memberimu sebagian kecil saja dari apa yang sepatutnya engkau terima, tidak sampai tuntas dijatuhkanNya hukuman atas kesalahanmu.

Untuk semua tuduhan itu Ayub terus membela diri dan menyatakan dirinya tidak menyimpan dosa atau kesalahan apapun, sehingga Elifas menegurnya dengan keras, tidak ada guna dan tidak ada faedah bicara dengan Ayub (Ayub 15:1-2).

Elifas di depan mengakui, “Sesungguhnya…” (4:3-4) kita bandingkan selanjutnya 22:7-10 orang yang sama mengatakan, “Orang yang kehausan tidak kau beri minum…” Elifas sekarang memaksa Ayub mengakui bahwa Ayub selama ini munafik, menyembunyikan segala kejahatan dengan berpura-pura baik.Ada dosa padamu, ada dosa pada anak-anakmu, semua spiritualitasmu palsu.

Pada waktu Yesus melakukan pelayananNya orang-orang mempertanyakan dua peristiwa yang baru terjadi pada saat itu menimpa beberapa orang, apakah itu akibat dosa mereka.Yang pertama adalah perbuatan dari human evil bernama Pilatus yang membunuh orang-orang Galilea yang sedang beribadah dan yang kedua adalah peristiwa natural disaster yang menyebabkan menara dekat Siloam roboh menimpa 18 orang di dekatnya (Lukas 13:1-5).Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu tergoda untuk mempertanyakan orang-orang ini mengalami hal-hal seperti itu pasti karena ada dosa dan kesalahan mereka sehingga Tuhan membiarkan mereka mengalami semua itu. Yesus menegur mereka dengan keras, sangkamu orang-orang yang mengalami hal itu lebih besar dosanya daripada orang-orang lain? Sama sekali tidak!

Pada akhirnya Tuhan sendiri nanti yang kemudian menegur Elifas, Bildad dan Zofar dengan sangat keras karena mereka dengan sembarangan telah menafsir dan mengambil kesimpulan sendiri terhadap apa yang terjadi pada diri Ayub dan semena-mena memakai nama Tuhan Allah di dalam interpretasi mereka. Mereka datang mau menyatakan simpati, mereka datang seolah mau menghibur Ayub, tetapi sebenarnya mereka mau Ayub mendengarkan tuduhan-tuduhan mereka.Sehingga akhirnya Ayub tidak tahan lagi dan memaki mereka, “Penghibur sialan kamu semua!” (Ayub 16:2).

Kita yang membaca kitab Ayub dapat mengatakan semua yang dituduhkan oleh teman-teman Ayub itu salah karena kita sudah membaca pendahuluan apa yang terjadi di balik tirai, bahwa semua penderitaan Ayub Tuhan ijinkan terjadi sebagai pembuktian kepada Setan bahwa Ayub adalah seorang yang benar di hadapan Allah dan biar digoncangkan sekeras apapun imannya kepada Tuhan tidak akan goyah, dan tidak ada sesuatu yang keliru dan salah diperbuatnya sehingga dia mengalami semua itu. Tetapi kalau kita tidak melihat apa yang dicatat Alkitab itu kita dengan gampang dan mudah juga jatuh kepada interpretasi yang sama dengan teman-teman Ayub, kata-kata kita didasarkan dengan persepsi yang keliru justru tidak mendatangkan manfaat rohani yang indah. Tidak gampang dan tidak mudah memang memberi penghiburan kepada orang-orang yang sedang mengalami dukacita yang dalam.Tidak gampang dan tidak mudah memberi jawab “why” dan “why me” kepada mereka yang menanggung semua itu. Dan saya sarankan jangan cepat-cepat memberi jawab seolah-olah kita tahu semua jawabannya, apalagi sembarangan menyebut nama Tuhan dengan interpretasi firman Tuhan yang keliru. Sampai akhir kitab Ayub Tuhan pun tidak memberikan jawaban dan penjelasan kepada Ayub mengapa dia mengalami semua itu. Allah baik, Allah penuh kasih, Allah pemelihara, Allah yang adil yang pasti akan melindungi. Lalu, why? Kita makin mencoba mau “membela” Tuhan, tetap orang itu tidak mendapatkan jawabannya. Why? Kenapa Tuhan melakukan itu?Kenapa Tuhan membiarkan itu terjadi kepadaku?Apa salahku? Kalau kita terus mengatakan kelancaran, kesuksesan, kesehatan, kebahagiaan adalah tanda bukti dari blessing Allah kepada orang-orang percaya, kalau kesulitan, penderitaan dan bencana datang sebagai hukuman atas dosa-dosamu ada lebih banyak pertanyaan yang timbul ketimbang puas mendapat jawaban.

Allah itu baik, setia dan adil. Peristiwa bencana dan penderitaan yang terjadi tetap tidak akan pernah bisa menganulir kebaikan, kesetiaan dan keadilan Tuhan, dan bahwa Allah tanganNya kurang kuat menahan dan menghindarkan hal-hal itu terjadi kepada anak-anakNya. Semua itu terjadi di dalam kedaulatanNya yang memberitahukan satu fakta ada satu hal yang namanya “the spoiler of the goodness of God” dan dia selama-lamanya tidak akan pernah senang dengan keindahan, kebaikan, kemurahan, kesucian dan berkat Tuhan, itulah yang namanya Setan. Dia adalah bapa pembohong dari semula. Dia tidak akan pernah senang melihat anak-anak Tuhan bertumbuh dalam kebenaran. Lukas 22:31-32 memperlihatkan dia selalu menuntut untuk menampi iman anak-anak Tuhan. Dia akan selalu berusaha menjatuhkan anak-anak Tuhan, menggoncang terus supaya kita keluar dan meninggalkan Tuhan. Petrus mengingatkan dia seperti singa yang mengaum-aum yang akan berusaha menyerang dan mencari orang yang dapat ditelannya. Dia tidak akan pasif, dia senantiasa aktif. Hidup di dalam dunia yang sudah jatuh di dalam dosa ini kita bisa merasa lemah, seolah-olah dialah yang pegang kuasa, seolah-olah dia yang in control, seolah-olah dia yang bertindak. Itulah sebabnya tidak heran hidup di dalam dunia ini dia tidak akan pernah senang akan kelancaran hidup kita, dia tidak akan pernah senang cinta kita kepada Tuhan, dia tidak akan pernah senang melihat kebaikan Tuhan di dalam hidup kita. Dia akan selalu berada di tengah menjadi penuduh dan pemfitnah yang mendatangkan satu suspicious akan kebaikan Tuhan dan suspicious akan iman kita kepada Tuhan. Justru dalam peristiwa Ayub Tuhan ingin membuktikan kepada Iblis bahwa anak-anak Tuhan tidak tergantung kepada kondisi dan situasi, they will follow and faithful to God until the end, no matter what.

Kita bisa menangis, kita bisa meratap dengan dukacita atas adanya evil dan kejahatan Setan yang berinisiatif senantiasa menciptakan hal-hal yang tidak baik di dalam hidup kita, bukan dipersoalkan kepada diri orang-orang yang mengalami hal itu.

Kedua, sistem teologi seperti itu menutup kemungkinan yang namanya salib.Salib itu telah menjadi bukti “the innocence suffering.”Orang Yahudi sampai hari ini sulit untuk menerima salib Yesus terjadi memperlihatkan kepada kita orang yang tidak bersalah mungkin menderita.Orang yang jalan hidupnya jujur dan baik mungkin ditimpa bencana terus-menerus.Salib menjadi bukti itu.

Itulah sebabnya pada waktu keluar keluh dan ratapan dari mulut kita dan hati kita ikut pilu dan sedih melihat peristiwa-peristiwa, bencana demi bencana, nestapa terjadi di sekitar hidup kita, kita mungkin tidak mempunyai jawaban atas semuanya. Mari kita teduh dan memandang kepada salib itu dimana Anak Allah sendiri yang indah dan baik, yang tidak ada dosa dan salah itu diadili dengan tidak adil, disiksa dengan kejam dan dibunuh dengan keadaan paling hina dan rendah , di situ hati kita menjadi terhibur karena Anak Allah mengalami semua penderitaan itu dan mengerti akan penderitaan kita.Kadangkala orang mengeluh, apa salahku? Ajaklah dia melihat salib Tuhan Yesus, Dia yang tidak ada salahnya telah dipaku di sana.

Yakobus mengingatkan kisah hidup Ayub adalah kisah yang mengajarkan apa arti ketekunan dan kesabaran dalam menanti. Allah kita itu adil dan setia dan baik. Kita manusia yang terbatas oleh ruang dan waktu, kadang-kadang kita tidak dapat melihat apa yang terjadi dan yang direalisasikan Tuhan di dalam hidup kita. Kita hanya bisa berteriak sama seperti para martir yang dicatat dalam kitab Wahyu berseru, “Sampai berapa lama lagi, Tuhan?” Satu kali kelak keadilanNya akan nyata. Mungkin di dunia ini kita tidak mendapatkan keadilan dan balasan yang tuntas, tetapi nanti kelak kita akan mengalaminya.Kebaikan Tuhan tidak pernah berubah kepada kita, iman kita diuji olehNya dan Tuhan dimuliakan melaluinya.Biar kita selalu terhibur mengingat Tuhan kita Yesus Kristus telah mati bagi dosa-dosa kita, kita telah menjadi milik Tuhan untuk selama-lamanya.Tuhan kiranya memimpin perjalanan hidup kita di tahun ini dengan hati yang bersukacita.(kz)


Other Sermons