Facing your Goliath

Sun, 05 Jan 2014 03:08:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri Peperangan Orang Kristen (1)
Tema: Facing your Goliath
Nats: 1 Samuel 17

Dunia terus mengalami perubahan-perubahan yang tidak bisa kita tolak, baik dalam dunia teknologi, dunia ekonomi, tetapi yang paling memprihatinkan adalah kita sedang menghadapi perubahan nilai yang sangat besar. Kita menghadapi tantangan dimana yang benar sekarang dianggap salah, yang salah sekarang dianggap benar. Etika moralitas yang kita terima dan pegang dari Alkitab sekarang dianggap sebagai sesuatu yang tidak benar, bahkan bukan saja itu, engkau bisa ditangkap dan dipenjara, dituntut ke pengadilan hanya karena engkau adalah anak Tuhan. Orang Kristen di Siria, di Mesir, di Cina dan di Korea Utara sedang mengalami penganiayaan fisik begitu besar, kebaktian-kebaktian dihentikan, banyak hamba-hamba Tuhan dan anak-anak Tuhan dibunuh. Di negara Barat kita juga menghadapi penganiayaan secara religious dan moral value kita mengalami tantangan yang sangat berat. Anak-anak Tuhan di Amerika, Australia dan negara-negara Barat akan mengalami kesulitan besar pada waktu kita menyatakan prinsip nilai kita sebagai seorang anak Tuhan. Tetapi di tengah-tengah situasi yang seperti ini, apa yang terjadi dengan hidup orang Kristen? Rev. Franklin Graham, putera Rev. Billy Graham di dalam pesan Natalnya menyatakan prihatinnya dan kesedihannya kepada sikap hidup orang Kristen yang tidak berani untuk berdiri dengan iman dan nilai-nilai yang mereka percaya. “Saya kecewa karena banyak orang Kristen menghindar untuk mengambil sikap atas isu-isu moral yang dihadapi sekarang ini, padahal dunia sedang melakukan ‘religious war’ kepada kita.”

Bukan saja situasi sedang berubah, bukan saja sikap toleransi ‘tidak apa-apa orang itu berbeda dengan kita asal saling menghargai dan tidak saling mengganggu’ sudah tidak ada lagi, kita sebagai orang Kristen tidak sadar bahwa kita sedang menghadapi peperangan agama, serangan yang terus-menerus dilakukan oleh orang-orang dunia terhadap iman Kristen. Tragisnya tidak banyak Gereja dan anak-anak Tuhan yang sadar akan situasi ini. Hari ini saya ingin kembali mencetuskan keprihatinan yang disampaikan oleh Rev. Franklin Graham, terlalu banyak orang Kristen tidak bersikap tegas dan berdiri menjadi seorang Kristen yang siap menghadapi tantangan, serangan dan peperangan yang ada di depannya.

Kenapa kita tidak mengambil sikap berdiri sebagai seorang laskar menghadapi peperangan agama ini? Kalau orang di luar dengan aktif dan agresif melakukan serangan kepada Gereja, bukankah sepatutnya kita harus bersiap dengan mental berperang di dalam hidup ini? Apa yang sedang terjadi di dalam hidup orang Kristen jikalau kita tidak bersiap diri? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di tahun-tahun yang akan datang dan apa yang akan kita hadapi di depan, tetapi mari kita bersiap menghadapinya, kalaupun itu adalah satu peperangan dimana kita harus menegakkan dan mempertahankan nilai-nilai sebagai anak-anak Tuhan. Pada waktu kita diperhadapkan dengan tantangan seperti itu, mari kita bersiap diri sebagai laskar dan prajurit Kristus. Alkitab memperlihatkan begitu banyak aspek tentang peperangan, bagaimana Tuhan memanggil orang berperang, bagaimana suatu mentalitas dalam peperangan, bagaimana sikap anak-anak Tuhan sebagai prajurit Kristus, biar mempersiapkan kita dengan panggilan berperang.

Hari ini saya mengajak kita melihat satu kisah epik yang luar biasa dicatat dengan begitu teliti di dalam Alkitab, kisah Daud berperang mengalahkan Goliath, bagaimana dari situ kita belajar menghadapi ‘goliath-goliath’ yang muncul di dalam perjalanan hidup kita di depan. Masing-masing kita mungkin akan menghadapi goliath yang besar dan menakutkan dan mencemaskan hati kita, mari kita belajar dari mentalitas jiwa Daud dalam menghadapi Goliath-nya.

Kitab 1 Samuel 17:1-7 dibuka dengan satu scene yang memperlihatkan betapa menakutkan Goliath itu, betapa besar dan betapa tidak mungkin bisa dikalahkan. Satu penampakan yang akhirnya menghasilkan respons dari raja Saul di ayat 11 “Ketika Saul dan segenap orang Israel mendengar perkataan orang Filistin itu, maka sangat cemaslah hati mereka dan sangat ketakutan.” Goliath itu besar luar biasa. Alkitab mencatat tingginya sekitar 2.93m. Tinggi. Besar. Menakutkan.

Engkau dan saya mungkin tidak bisa memilih situasi perlawanan apa yang akan kita hadapi di depan. Dan naiflah orang yang bilang bahwa dia tidak akan menghadapi perlawanan dan oposisi. Kemana saja kita pergi, dimana saja kita berada, kita akan menghadapi tantangan dan perlawanan. Makin rajin dan makin berprestasi engkau di kantor, kolega dan supervisormu mungkin melihatmu sebagai ancaman yang harus digeser dan dihancurkan. Pada waktu memulai satu usaha baru, kita tidak akan mungkin langsung mendapatkan sukses dan mendapatkan customer-customer yang membeli barang atau memakai jasa kita. Kita akan menghadapi adversaries, persaingan, perlawanan dari oposisi yang akan menghadang kita. Seganteng-gantengnya engkau, jangan pikir setiap wanita yang engkau inginkan bisa engkau dapatkan. Apalagi kalau wanita yang engkau inginkan adalah yang paling cantik, akan ada persaingan dan perlawanan. Bahkan engkaupun harus bersiap hati mendapatkan penolakan dari wanita itu sendiri. Seingin-inginnya kita membeli rumah, mencari mana yang kita suka, begitu kita mau offer, baru kita sadar betapa banyak orang lain yang mungkin lebih mampu menawar lebih tinggi, tinggal kita gigit jari.

Di situlah kita menyadari kita tidak bisa memilih situasi dan perlawanan apa yang ada di dalam hidup setiap kita. Kita tidak bisa berdiam, kita tidak bisa lari, kita tidak bisa menghindar. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita meresponinya.

Facing your goliath. Kita harus menghadapi dan melawannya. Bagaimana sikap dan mental kita saat kita menghadapinya, itulah yang paling penting. Sama-sama kita akan mempunyai situasi dan adversary, kita akan menghadapinya dengan bagaimana? Adakah tantangan itu merubah kita menjadi lebih indah dan lebih baik? Setiap tantangan, hambatan, adversary apapun yang datang ke dalam hidupmu akan membuka mata kita dengan lebar bagaimana kita bisa menilai dan memahami diri kita apa adanya. Di situlah kita belajar bertumbuh dan belajar untuk makin mengenal diri dan kekuatan kita pada waktu kita menghadapi setiap tantangan di depan. Kita tidak perlu kecewa dan takut pada waktu kita diperhadapkan dengan hal-hal itu. Di dalam dunia olah raga orang yang ikut kompetisi tahu dia akan menghadapi lawan yang tangguh, hari ini dia bisa menang, tetapi dia akan bersiap hati karena dunia akan selalu menghasilkan orang yang lebih baik daripada dia. Kita tidak bisa bilang, ‘seandainya dunia tidak meghasilkan orang seperti itu…’ karena tetap akan ada dan tetap akan muncul yang lebih dan lebih lagi.

Bangsa Israel saat itu sedang berperang dengan bangsa Filistin. Kedua bangsa sedang bersiaga di ujung sini dan sana. Tetapi pada waktu Goliath yang besar itu berdiri di depan, tentara Israel langsung melihatnya sebagai hambatan yang tidak mungkin bisa mereka hadapi. Yang bicara itu bukan tentara kroco. Yang bicara itu adalah orang yang tinggi badannya “paling tinggi” di antara orang Israel yang lain, yang bicara itu adalah raja Saul sendiri, yang sudah berkali-kali menang dalam peperangan. Raja Saul berkata, “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi dia…” (ayat 33).

Alkitab kita mencatat orang-orang yang melakukan sesuatu yang impossible di mata orang lain. Elia, melayani Tuhan di masa yang begitu susah dan sulit, berkali-kali dia melakukan tindakan yang dianggap impossible bagi orang lain. Tetapi Alkitab menyebutnya bagaimana? Yakobus mengatakan, “Elia adalah manusia biasa, sama seperti kita…” (Yakobus 5:17). Pada waktu kita melihat kisah Elia, bagaimana hujan tidak turun selama tiga tahun lebih dan bagaimana di atas gunung Karmel dia membunuh 400 nabi Baal dengan tangannya sendiri, Alkitab mengatakan dia hanya manusia biasa? Seringkali pada waktu kita melihat hidup orang-orang beriman pahlawan di Alkitab, kita langsung mengatakan, “Memang mereka beda… tidak seperti kita, kita cuma orang biasa…” Tetapi siapa yang menentukan itu possible atau impossible? Atas dasar apa kita mengatakan itu possible atau impossible? Kalau Alkitab dengan jelas mengatakan, dia adalah orang biasa sama seperti kita, itulah kata Tuhan. Kita bilang impossible karena kita memakai kacamata kita sendiri, kita pakai cara kita, kita pakai persepsi kita sendiri. Maka dengan sendirinya kita bilang itu impossible.

1 Samuel 17:16 menulis, “Orang Filistin itu maju mendekat pada pagi hari dan pada petang hari. Demikianlah ia tampil ke depan empat puluh hari lamanya.” Bagaimana reaksi tentara Israel? “Ketika semua orang Israel melihat orang itu, larilah mereka daripadanya dengan sangat ketakutan” (ayat 24). Lucu sekali scene ini kalau kita lihat sekarang. Bayangkan dua belah pihak sudah sama-sama siap berperang, yang satu di sebelah sini, dan yang satu di sebelah sana. Kalau sudah siap perang, kenapa tidak ada yang maju lebih dulu ke depan? Saya percaya masing-masing sudah mengukur kekuatan lawan, bukan? Ada satu hal yang heran dan aneh, kenapa selama 40 hari pagi dan sore, Goliath melakukan parade itu, “Grrrr….” Kalau orang Filistin tahu dengan mengandalkan kekuatan dan kemampuan Goliath mereka sudah sanggup bisa mengalahkan orang Israel sekali hajar, kenapa mereka tidak lakukan? Kenapa perlu 40 hari dia berparade hanya menakut-nakuti tentara Israel? Tujuannya adalah perang urat syaraf. Tentara Filistin tahu kekuatan mereka terbatas, tentara Filistin tahu mereka tidak akan menang kalau turun ke wilayah lawan, itu sebab mereka memakai taktik seperti itu, memakai Goliath sebagai alat intimidasi untuk membuat semangat tentara Israel menjadi lemah, kecut, takut dan akhirnya mundur dan lari untuk dikalahkan.

Orang Israel makin melihat Goliath setiap pagi dan sore turun menantang mereka, raksasa yang besar, tentara yang kuat, tidak mungkin bisa dikalahkan. Engkau melihat Goliath itu raksasa, engkau mengambil kesimpulan Goliath itu kuat perkasa tidak ada kelemahan apapun padanya, tetapi sesungguhnya di balik tubuh raksasa itu begitu banyak kelemahan yang tersembunyi. 1 Samuel 17:41 mencatat satu detail, “Orang Filistin itu kian dekat menghampiri Daud dan di depannya orang yang membawa perisainya.” Kenapa Goliath perlu dibantu seseorang membawakan perisainya?

Kita yang sekarang hidup di dalam kemajuan teknologi kedokteran mengetahui bahwa di balik tubuh raksasa yang mengalami deformasi karena penyakit gigantism, kelainan hormon yang menyebabkan pertumbuhan yang tidak bisa terkontrol dan menghasilkan komplikasi yang banyak, mulai dari osteoporosis, kelainan jantung, kerabunan mata, dan umumnya hidup mereka tidak panjang. Goliath rabun, tidak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di depan, karena itu dia perlu dipandu oleh seorang yang membawakan perisainya. Bagaimana kita tahu dia rabun? Karena Daud datang mendekat dengan tongkatnya (staff, singular, ayat 40), tetapi Goliath melihat Daud datang dengan ‘tongkat-tongkat’ (sticks, plural, ayat 43). Mata Goliath rabun, tidak bisa melihat bahwa di tangan Daud hanya ada satu tongkat.

Kita sudah takut lebih dulu waktu menghadapi goliath di depan kita, padahal belum tentu dia sebesar dan sekuat apa yang kita pikirkan, bahwa di balik kebesarannya tersembunyi berbagai kelemahan dan kekurangan. Namun kita tidak bisa melihat itu pada waktu kita tidak belajar terlebih dahulu untuk tidak cepat-cepat bereaksi takut, sembunyi, marah dan kecewa terhadap situasi yang ada dan belajar melihat dari angle yang berbeda. Banyak orang langsung melihat appearance, apa yang di depan mata, langsung ciut hatinya.

Perhatikan apa yang menjadi reaksi Daud, apa yang dilakukan oleh Daud, simple dan sederhana. Pertama, 1 Samuel 17:22 Daud maju ke tempat barisan tentara Israel menjumpai kakak-kakaknya dan bertanya apakah mereka selamat. Pada saat yang sama dia melihat tentara Israel lari ketakutan diintimidasi oleh Goliath. Maka Daud bertanya kepada orang-orang yang ada di sekitarnya (ayat 26-27). Ketika kakaknya menegur, Daud menjawab, “Apa yang telah kuperbuat? Hanya bertanya saja!” Daud kemudian bertanya hal yang sama kepada orang lain. Daud bertanya sana-sini. Semua orang melihat Goliath raksasa, besar, kuat, perkasa, tidak ada kelemahannya, tidak ada kemungkinan dikalahkan. Selama 40 hari Goliath menteror dan mengintimidasi tentara Israel, dan di kalangan tentara Israel akhirnya berita terus beredar tentang Goliath antara fakta dan rumor sudah campur baur, sulit dibedakan. Sampai raja Saul pun bilang impossible, tidak ada yang bisa mengalahkan Goliath ini. Pada waktu kita mulai gentar dan takut, pada waktu kita merasa tantangan di depan kita begitu besar, tidak mungkin dan tidak akan bisa kita menghadapinya, akhirnya pikiran kita kadang-kadang menjadi kabur antara mana yang menjadi fakta dan mana yang merupakan bayang-bayang ketakutan kita.

Kadang-kadang ketika kita ada di dalam pusaran itu, kita sudah tidak bisa lagi melihat dengan objektif. Perlu ada orang dari luar seperti Daud melihat dengan fresh kepada fakta dan data yang ada. Daud bertanya ke sana-sini, cari tahu kebenarannya dengan objektif. Ada orang suka bertanya bukan mau cari kebenaran, tetapi mau dapat gossip. Daud bertanya, tujuannya dia ingin belajar dan ingin melihat dengan objektif mana kebenaran fakta dan mana rumor. Di situlah Daud menemukan sesuatu yang tidak dilihat oleh orang-orang lain. Kenapa Goliath perlu ada orang berjalan di depannya memegang perisainya? Daud melihat waktu Goliath turun ke lembah, dia perlu dituntun oleh orang itu. Ada sesuatu yang aneh di sini, Daud ambil kesimpulan, berarti mata Goliath tidak awas.

Di dalam situasi menghadapi goliath, dia bisa menjadi guru yang baik asal kita mau belajar darinya. Daud belajar melihat dengan baik dan di situ dia menemukan banyak hal dan dia bisa membedakan mana yang menjadi kelebihan Goliath dan mana yang menjadi kekurangannya; mana fakta tentang Goliath dan mana yang hanya rumor yang tidak benar saja. Setelah melihat itu semua, Daud berani menghadap raja Saul dan mengatakan dia akan pergi melawan Goliath itu (ayat 32).

Ketiga, Goliath bukanlah yang pertama dan satu-satunya yang Daud hadapi. Di dalam hidupnya sebagai seorang gembala Daud setiap hari dan setiap saat menghadapi berbagai adversary, tantangan, dan marabahaya yang tidak dilihat oleh orang lain. Daud bilang kepada raja Saul, saya biasa membunuh singa dan beruang yang menyerang domba-dombaku (ayat 34-36). Tetapi yang Daud hadapi sehari-hari itu di padang gurun, tidak ada yang melihat dan menyaksikan. Itu semua menjadi persiapan dan latihan bagi Daud untuk menghadapi Goliath-nya pada moment ini. Pertarungannya dengan Goliath menjadi kesempatan yang Tuhan buka baginya, sesuatu yang impossible justru menjadi kemungkinan yang indah bagi Daud. Hari itu adalah hari inaugurasi Daud, dia tidak lagi dikenal sebagai anak gembala muda berwajah kemerah-merahan. Hari itu Daud dikenal sebagai seorang pahlawan yang gagah berani mengalahkan raksasa Goliath. Tetapi hari itu bisa terjadi oleh sebab Daud tidak pernah takut setiap kali menghadapi kesulitan dan marabahaya di dalam hidupnya.

Tahun ini sebagai Gereja saya percaya kita akan mengalami adversary dan tantangan yang besar. Tetapi saya mengajak kita semua untuk melihat setiap kesempatan dan kemungkinan yang Tuhan beri. Kadang-kadang kita pikir ini mustahil dan impossible dan hati kita menjadi takut, kuatir dan kecut. Kita ingin satu dulu selesai sebelum kita mulai yang lain. Kita bilang tunggu dulu, jangan bergerak dulu sampai kita lebih stabil. Satu-satu, satu-satu. Mau punya anak, tunggulah sampai punya rumah dulu; padahal rumah tidak pernah bisa terbeli. Kita adalah orang yang seperti itu. Kita pikir apakah kalau kita maju melangkah menjalani satu aspek, mampukah kita? Sanggupkah kita? Kita mau tunggu sampai situasi lebih stabil, baru kita berani jalan. Hari ini saya memanggil kita semua, mari kita belajar sama-sama, setiap kita akan terus-menerus, tidak ada habis-habisnya akan menghadapi berbagai macam tantangan kesulitan. Dan pada waktu hal itu begitu besar di hadapan kita, seperti Goliath yang menakutkanmu, biar firman Tuhan hari ini boleh memberikan kekuatan kepada kita. Dia tidak mungkin tidak ada, dan dia adalah situasi yang bisa membuat kita tawar hati, menelan keberanian kita, tetapi mari kita mengalami bagaimana Tuhan pimpin dan sertai kita untuk melihat kemungkinan kita menang mengalahkan goliath-goliath kita. Jadilah laskar Kristus yang siap menerima setiap tantangan itu dengan hati yang berani dan bersandar kepada Tuhan.

Kisah kemenangan Daud atas Goliath tidak berhenti sampai di sini. Kisah ini ditutup dengan satu kalimat yang agung diucapkan oleh Daud. Daud berkata kepada Goliath, “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel… Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau… supaya seluruh bumi tahu bahwa Israel mempunyai Allah” (ayat 45-46).

Makin besar Goliath yang kita hadapi, tidak lain dan tidak bukan supaya makin besar kita melihat siapa Tuhan kita. Daud tidak berhenti di dalam mengandalkan skill, kemampuan dan keberaniannya. Daud ingin melalui peristiwa ini memberitahukan Allah itu agung dan besar di dalam hidupnya. Daud ingin semua tentara Israel ingat kembali mereka mempunyai Allah yang agung dan besar melampaui Goliath. Daud ingin tentara Filistin melihat Allah yang agung dan besar dan takut akan Dia.

Pada waktu memasuki tahun yang baru ini akan ada banyak adversary yang akan kita hadapi, tetapi saya rindu mari kita bawa satu mentalitas yang seperti ini, ketika dunia ini berperang dan menyerang anak-anak Tuhan, beranikah kita bersiap menghadapinya bersama Tuhan? Maukah kita mengalami Tuhan yang agung dan besar itu dipermuliakan melalui hidup kita? (kz)

 

Click here for audio


Other Sermons: