A Witnessing Community

Sun, 18 Jan 2015 01:32:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Tema: A Witnessing Community

Nats: Ibrani 12:18-29, 13:1-16

 

Walaupun kita harus mengakui kemajuan ekonomi yang luar biasa dari negara Cina, saya rasa kita tidak boleh terlalu kagum akan hal itu. Tetapi sebagai orang Kristen biar mata rohani kita lebih kagum di tengah tekanan kesulitan dan penderitaan penindasan dari Komunisme kepada anak-anak Tuhan, Gereja Tuhan di Cina terus berkembang dan bertumbuh dengan luar biasa. Demikian juga di Korea Utara kita banyak mendengar dan menyaksikan berita Gereja di bawah tanah bagaimana anak-anak Tuhan itu berkumpul memuji memuliakan Tuhan, rumah Tuhan menjadi penuh dengan kemuliaan Tuhan dan orang-orang luar semakin banyak yang percaya kepada Tuhan. Kita percaya pekerjaan Tuhan tidak akan pernah digagalkan dan dipatahkan oleh tekanan penganiayaan.

Kita harus memiliki sikap seperti ini, meskipun kita tidak menghadapi penderitaan seperti mereka. Tetapi sangat sedihlah jikalau karena schedule pekerjaan kita, kesibukan anak kita, soal transportasi, hal-hal yang sepele, membuat kita tidak melihat indahnya the eagerness of the living community itu berkumpul. Sangat disayangkan kalau kita tidak menyaksikan keindahan sukacita, kelimpahan hati orang itu mau datang ke rumah Tuhan untuk menjadi blessing bagi yang lain. Itulah konteks yang harus kita letakkan di benak kita pada waktu membaca kitab Ibrani mulai dari pasal 10 kita menangkap sense itu. Ibrani 10:25 penulis Ibrani mengatakan, “Janganlah kamu menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadahmu…” Dengan kalimat itu penulis Ibrani mendorong orang Kristen di tengah tekanan penderitaan justru menjadi satu komunitas yang solid dan otentik. Ibrani 12:12 “Kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah…” inilah yang sedang terjadi di antara jemaat Tuhan. Penderitaan membuat satu dengan yang lain menjadi lemah, mungkin tangan mereka sudah tidak kuat, kaki mereka sudah goyah. Maka di situlah tangan yang satu menopang tangan yang lain.

Maka setelah itu penulis Ibrani secara khusus di pasal 12:18-29 mengangkat hati Jemaat untuk melihat betapa mengagumkan dan betapa indahnya ibadah atau worship itu. Mata mereka dibawa naik ke atas, memahami arti ibadah itu bukan sekedar orang percaya bertemu melihat wajah yang kita kenal satu dengan yang lain, lalu hati kita menjadi senang. Ibadah itu bukan sekedar ada satu ruangan bernyanyi dan berdoa sama-sama. Ibadah itu bukan sekedar berkumpul mendengarkan pengkhotbah. Ibadah itu kita bukan sekedar berkumpul saling bertukar pikiran. Kita berkumpul karena kita sedang datang menyembah Tuhan kita. Allah yang penuh dengan kebesaranNya, Allah yang suci dan agung, penulis Ibrani menggambarkan itu bagaikan gunung yang pada waktu disentuh begitu suci, “marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepadaNya dengan hormat dan takut…” (Ibrani 12:28-29). Kita silent di hadapanNya. Kita merasa begitu kecil, lemah dan tidak berlayak di hadapanNya. Kita berdiam, kita berteduh, kita menangis di hadapanNya. Namun penulis Ibrani memperlihatkan dimensi emosi yang berbeda juga muncul menjadi satu balance bentuk sebuah worship. Let us come with joy and thanksgiving, datang dengan gladness di hadapan Tuhan. Gladness itu bisa diekspresikan dengan tangan kita terangkat, bisa diekspresikan dengan tepuk tangan, bisa diekspresikan dengan wajah yang tersenyum, bisa diekspresikan dengan seruan ‘haleluya!’, itulah ekspresi joyful dari orang-orang yang sudah mengalami penebusan Tuhan.

Dalam bagian ini penulis Ibrani memperlihatkan perbedaan umat Perjanjian Lama dan jemaat di Perjanjian Baru. Boleh dikatakan terjadinya Jemaah dalam Perjanjian Lama tidak lain dan tidak bukan adalah pada peristiwa ini, yaitu pada waktu terjadi Perjanjian atau Covenant antara Tuhan Allah dan bangsa Israel di gunung Sinai. Di situ Tuhan memberikan hukum-hukumNya kepada mereka dan Tuhan menanyakan menanyakan komitmen mereka menjadi umat Tuhan dan Tuhan menjadi Allah mereka, menguduskan mereka sebagai umatNya. Bangsa Israel di situ menyatakan janji untuk menjadi umat Allah. Maka terjadilah peristiwa covenant itu. Jemaat itu datang dengan gentar dan takut karena saat mereka beribadah di gunung Sinai itu kita menemukan segala nuansa alam semesta yang spektakuler itu dinyatakan. Ada angin badai, ada kilat yang dahsyat, ada api bernyala-nyala. Jadi hukum Taurat diberi di dalam keadaan dan kondisi seperti itu. Karena hukum itu adil dan suci adanya, betapa lemah dan kecilnya manusia, tidak sanggup bisa berdiri di hadapan Tuhan. Dalam era Perjanjian Lama Jemaah itu berdiri distant dari Tuhan, jauh-jauh, karena Ia terlalu agung, terlalu suci, karena kalau tidak dengan proper penebusan, salah tangan, orang yang tidak suci menyentuh gunung Tuhan yang suci, matilah dia. Ibadah di PL adalah satu ibadah berangkat dari sisi engkau tidak layak datang kepada Tuhan, engkau perlu mendapat penghukuman atas dosa-dosamu, maka sistem ibadah PL yang selalu menjadi sentral adalah sacrifice atau korban demi korban. Bukan saja umat Tuhan perlu korban, imam yang melayani pun perlu bawa korban.

Lalu setelah itu penulis Ibrani membandingkan dengan ibadah umat Perjanjian Baru, antara gunung Sinai dan gunung Sion. Dalam era Perjanjian Baru tirai pemisah antara ruang kudus dan ruang maha kudus sobek terbelah dua. Dengan peristiwa itu Gereja Mula-mula tahu tidak ada lagi jarak antara Allah dan manusia, di dalam Yesus Kristus kita boleh memiliki jalan masuk dengan berani menghadap Allah. Perjanjian Baru adalah satu ibadah yang terjadi sebab kita tahu kita adalah umat daripada Anak Sulung Allah Bapa dan nama kita sudah terdaftar di surga (Ibrani 12:23). Ibadah itu megah, meriah, joyful, bersama dengan malaikat surgawi memuji menyembah Tuhan. Itulah perbedaan Hukum Taurat dan Injil Anugerah.

“Tetapi kita sudah datang ke bukit Sion, ke kota Allah yang hidup,Yerusalem surgawi, dan kepada beribu-ribu malaikat, satu kumpulan yang meriah, dan kepada Jemaat anak-anak sulung yang namanya terdaftar di surga, dan kepada Allah yang menghakimi semua orang dan kepada Yesus, Pengantara Perjanjian Baru…” (Ibrani 12:22-23). Di sini kita bisa menemukan beberapa prinsip dalam ibadah. Allah kita adalah Allah yang menjadi sentral di dalam ibadah kita. Demikian juga Yesus Kristus Pengantara kita juga menjadi sentral di dalam ibadah kita.

Tetapi kita tidak boleh berhenti di situ, sebab Ibrani 12:25 dan selanjutnya mengingatkan kepada kita Injil itu adalah kasih karunia. Injil itu adalah kabar baik, kabar baik dimana Yesus Kristus sudah mati menanggung dosa-dosa kita. Tetapi pada saat yang sama penulis Ibrani mengingatkan Injil itu bukan saja kabar baik, tetapi seperti pedang bermata dua, Injil juga membawa kabar penghukuman bagi orang yang menolak Injil itu. “Betapa ngeri kalau jatuh ke dalam tangan Allah…” (Ibrani 10:31). Ada konsekuensi yang luar biasa. Nama orang itu pasti tidak terdaftar di surga, tempat yang tersedia baginya adalah kengerian api neraka yang begitu menakutkan.

Yesus memulai pelayananNya dengan kontras ini: “Bertobatlah sebab Kerajaan Allah sudah dekat!” lalu kumpulan dari Khotbah di Bukit dimulai dengan kalimat “Blessed are those…” Dia datang kepada orang yang hancur dan remuk hati karena keberdosaannya. Buluh yang terkulai tidak akan dipatahkanNya, sumbu yang pudar nyalanya tidak akan diputuskanNya. Tetapi di tengah kabar baik itu Yesus senantiasa menyisipkan beberapa warning serius dan sangat menakutkan daripada penolakan akan berita Anak Allah itu.

Dalam buku “Christian Atheist” sangat menarik Craig Groeschel mengangkat hal ini, engkau mengaku diri orang Kristen, engkau mengaku percaya kepada Allah tetapi menjalani hidup sehari-hari seolah Allah yang kau sembah itu tidak exist dalam attitude, tingkah laku dan prilaku kita. Beberapa topik yang diangkat salah satunya adalah keengganan kita share our faith kepada unbeliever. Kita mengaku kita secure milik Tuhan selama-lamanya, tetapi mengapa kita menjadi orang yang enggan atau slow to share our faith kepada orang lain?

Yesus mengingatkan betapa lebar jalan yang menuju kebinasaan dan betapa banyak orang yang menuju jalan itu. Kembali kepada kita sebagai witnessing community, apakah kita telah kehilangan kesempatan dan desakan urgensi ini? Kita tidak boleh dan tidak perlu menakut-nakuti orang supaya percaya Yesus dengan kalimat, “Kalau tidak percaya Yesus engkau akan masuk neraka!” walaupun itu benar adanya. Waktu kita approach menginjili orang dengan kalimat seperti itu orang itu akan defensive dan justru menghina dan menganggap kita orang yang kasar, kaku dan judgmental. Tetapi ayat ini mengingatkan kita setiap hari setiap waktu kita membawa genuine urgency ini karena kita tahu apa itu blessing dari Tuhan dan kita tahu apa itu konsekuensi daripada rejecting the Gospel. Itu adalah salah satu urgensi yang seharusnya mendorong hati kita menjadi a witnessing community kepada orang luar.

Mungkin orang bisa menertawakan orang Kristen yang melakukan approach seperti ini, yang namanya “quick evangelism” ketok pintu dari rumah ke rumah, dengan pertanyaan “kalau hari ini kamu mati, kemana kamu akan pergi?” karena hari itu mungkin satu-satunya kesempatan bertemu dengan orang itu. Itu adalah excuse kepada orang yang tidak mau sacrifice untuk membina fellowship dan pertemanan. Memang ada kalanya kita bertemu orang di train, di rumah sakit, dsb ada kesempatan terbuka untuk share the Gospel, jangan enggan dan ragu untuk menyampaikannya.

Ada beberapa alasan orang Kristen enggan menyampaikan kabar Injil. Pertama, mungkin kita tidak tahu apa yang harus kita katakan. Atau mungkin kita malu karena merasa tidak berkualifikasi, baru saja orang itu bertanya mengenai iman kita, kita sudah tidak berani ngomong atau bilang, “Tunggu ya, saya panggil pendetaku…” tetapi keburu kesempatan itu hilang. Atau kita merasa memang ada perspektif yang menertawakan, karena ada 2 hal kita bisa lihat saat berbicara tentang “heaven is real, hell is real” sangat menakutkan bagi orang yang menolak Tuhan, berita ini terlalu intimidating atau terlalu embarrassed. Mereka tidak merasakan kengerian itu dan tidak suka ditakut-takuti dengan hal itu. Tetapi Yesus berkali-kali mengatakan neraka adalah tempat yang menakutkan, tempat dimana tidak ada anugerah Tuhan, tempat dimana wajah Tuhan tidak bersinar, tempat yang bukan saja ada panas nyala api kekal membakar, tetapi juga tempat yang dingin menyakitkan ‘pain for soul,’ orang yang ada di situ menggertakkan giginya dalam ketakutan dan kedinginan, tempat dimana dia melolong meratap menangis berteriak tetapi tidak ada pertolongan. Itulah tempat dimana kejahatan dan dosa mendapatkan balasan keadilan Tuhan itu nyata. Neraka itu mengerikan. Kalau Yesus saja sampai bilang “lebih baik… daripada…” kita tahu itu benar-benar warning yang serius adanya. Kita harus memiliki sense itu, urgensi itu. Dan pada waktu kita berbicara dengan orang yang kita kenal yang masih ada di luar pintu keselamatan, katakan dengan tulus dan serius, ini berita yang perlu mereka tahu heaven is real, hell is real. Orang itu mungkin menghina dan mengatakan, “Tidak apa-apa saya masuk neraka, ramai di situ… daripada di surga boring tiap hari cuma nyanyi-nyani sambil main harpa…”

Saya rasa approaching kita yang paling baik adalah mengatakan sejujurnya kepada mereka dalam hati kecil kita mengakui ada banyak peristiwa dalam dunia ini tidak finish selesai dengan keadilan yang setuntas-tuntasnya. Orang yang mengalami ketidak-adilan berteriak perlu adanya keadilan. Buka pembicaraan dengan pertanyaan, “Bagaimana pendapatmu misalnya tentang orang-orang pedophile yang melakukan dosa kejahatan memperkosa anak-anak kecil, menyiksa dan membunuhnya, atau merampas harta orang sampai akhir hidupnya tidak pernah tertangkap dan tidak tersentuh oleh keadilan dalam dunia ini tetapi menjalani hidup dengan nyaman dan mati dengan tenang dan baik. Apa pendapatmu mengenai orang seperti itu kalau ternyata tidak ada pengadilan Tuhan menanti dia untuk mempertanggung-jawabkan semua perbuatannya selama di dunia ini?” Mari kita approach orang membuka pikirannya bahwa neraka tempat penghukuman yang mengerikan, it is a place where 100% justice itu betul-betul terjadi dan mereka menerima tempat itu ada. Baru dari situ kita berkata, saya percaya saya tidak akan ada di situ, bukan karena saya lebih baik daripada orang lain, bukan karena saya tidak melakukan kejahatan, tetapi seperti yang Alkitab katakan derita api neraka itu sudah ditanggung oleh Tuhanku Yesus Kristus yang mati karena dosa-dosaku. Itu sebab aku menyampaikan hal ini kepadamu.

Saya harap firman Tuhan yang kita renungkan hari ini menggugah kesadaran kita akan urgensi ini pada waktu kita mau memulai pelayanan kita dengan sikap seperti itu. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan secara praktis. Salah satunya kita undang orang datang ke tempat fellowship dan sektor yang ada sebagai sarana kalau kita belum fasih ‘share the Gospel’ kepada orang. Di situ kita membawa orang mengenal siapa Tuhan kita dan kita rindu tangan kita boleh terbuka menjangkau mereka dan memberi mereka kesempatan mendengar Injil. Berhasil atau tidak; orang itu menerima atau menolak; itu urusan yang kedua. Kita kurang kualifikasi, kita tidak fasih bicara, kita pemalu, jangan itu menjadikan kita enggan mengajak orang.

Beberapa contoh orang di Alkitab yang tidak ada kualifikasi di antaranya perempuan Samaria yang berjumpa dengan Tuhan Yesus di tepi sumur (Yohanes 4). Siapa dia? Seorang wanita yang terkenal hidupnya amoral, banyak suami, menjadi bahan gunjingan dan dihina orang di kotanya. Dia sangat heran karena Yesus berbicara kepadanya dengan sangat respectful. Dia lebih heran lagi karena Yesus tahu latar belakang siapa dia tetapi Yesus tidak menghinanya. Dan lebih kaget lagi dia, Yesus adalah seorang Yahudi yang biasanya sangat memandang rendah orang Samaria seperti dia. Maka dia dengan sungguh-sungguh menyimak akan apa yang Yesus katakan. Yesus memulai dengan meminta air kepadanya, mungkin di situ Yesus mengatakan air ini enak sekali, dingin dan segar. Berangkat dari satu pembicaraan ‘icebreaker’ seperti itu lalu Yesus bicara mengenai Air Hidup. Perempuan itu tidak ingat dia adalah seorang Samaria, seorang yang dihina, siapa mau mendengar dia? Setelah berjumpa dengan Yesus, dia lari ke kota, menjumpai setiap orang yang ada dan mengajak mereka menjumpai Yesus, “Mari, lihat!” (Yohanes 4:29). Mungkin ada orang menghina dia, tidak jadi soal, itu urusan lain. Ada pemungut cukai bernama Matius setelah bertemu Tuhan, dia meninggalkan pekerjaannya dan sepenuhnya menjadi murid Tuhan. Apa yang bisa dia lakukan? Dia undang teman-temannya sesama pemungut cukai yang lain, dia bikin pesta perjamuan, membuka kesempatan mereka bisa berjumpa dengan Yesus (Lukas 5:27-29). Hati kita harus memiliki jiwa urgensi seperti itu.

Setelah invite, kita menemukan beberapa orang seperti itu, kita bisa share our story. Seperti orang buta yang dicatat Yohanes 9, setelah disembuhkan oleh Tuhan, orang-orang Farisi memperdebatkan hal tentang Yesus, dia mengatakan, “Soal Yesus berdosa atau tidak, aku tidak tahu. Yang aku tahu hanya satu hal, dulu aku buta, sekarang aku bisa melihat” (Yohanes 9:25). Ceritakan perubahan hidup yang engkau alami oleh karena Yesus. Aku dulu orang yang tidak berpengharapan, setelah aku mendengar Injil Yesus Kristus, aku menjadi seorang yang berpengharapan. Aku dulu seorang yang seperti ini, di dalam Kristus aku berubah. Terserah orang itu menerima atau tidak, nothing to do with us. Mari kita belajar menceritakan kisah hidup kita diselamatkan Tuhan.

Kita menemukan satu aspek yang menarik. Satu, urgensi kita sudah memiliki surga, kita tahu bahwa mereka yang menolak Kristus menajdi warning serius, itu sebab kita melayani dan memberitakan Injil. Tetapi kita juga harus mempunyai perspektif dari kekekalan melihat hidup kita. Kalau engkau sudah memiliki kewarga-negaraan surgawi, namamu sudah terdaftar di surga, let the eternity perspectives menjadi teropong dalam hidupmu. “Karena itu marilah kita pergi kepadaNya di luar perkemahan dan menanggung kehinaanNya. Sebab di sini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; kita mencari kota yang akan datang” (Ibrani 13:13-14). Mungkin kita akan mengalami tekanan, penghinaan, ejekan, penolakan dari orang-orang yang menolak kabar Injil yang kita sampaikan. Mungkin cara hidup kita sebagai orang percaya menjadi satu kebencian dari orang-orang yang melawan Tuhan. Mungkin kita akan dipersulit, ditekan, dikucilkan oleh karena iman kita. Itu semua jangan membuat kita kehilangan sukacita perspektif surgawi menjalani hidup di dunia ini.

Terakhir, dalam Ibrani 13:15-16 penulis Ibrani berpesan, “Sebab itu marilah kita oleh Dia senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan namaNya. Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberikan bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah.”

Selain memakai mulut bibir kita menyaksikan perbuatan Tuhan, pakai cara dan sarana lain untuk menghampiri dan menjangkau orang. Inilah panggilan Tuhan bagi hidup kita dalam dunia ini, bawa sacrifice dan thanksgiving kepada Allah, bukan hurufiah sacrifice tetapi spiritual sacrifice, melalui ucapan bibir kita kita memuliakan Allah, memberkati orang yang menghina kita. “Dan janganlah kamu lupa berbuat baik…” Ini sacrifice. Ada hal-hal yang terlalu negatif terjadi mempengaruhi hati kita, jangan sampai itu membuat kita malas berbuat kebaikan.

“Berikan bantuan…” ini sacrifice. Sacrifice berarti kita melakukan sesuatu yang bisa jadi lebih dari kekuatan kemampuan kita melakukannya. Tetapi itu menjadi panggilan kita, sebab sacrifice itu pleasing God. Ada sacrifice, ada uang, ada waktu, ada hal yang perlu dikorbankan. Tabitha melakukan aspek yang lain, memakai hidupnya melayani orang, memakai uangnya menolong orang miskin dengan membuatkan baju dan pakaian hangat bagi janda-janda dan yatim piatu. Dari situ orang tahu dia adalah seorang yang hatinya telah diubah oleh Tuhan (Kisah Rasul 9:36). Doakan, pikirkan, renungkan, apa cara-cara yang bisa kita pakai untuk menjangkau orang yang kita jumpai di sekeliling kita sehingga mereka bisa mendengar Injil Keselamatan. Itu semua kita dilakukan untuk kemuliaan Tuhan.(kz)