A Living Community

Sun, 11 Jan 2015 05:09:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Tema: A Living Community

Nats: Ibrani 10:19-25, 10:32-39, Ibrani 11-13

 

Open Doors, satu organisasi yang melayani anak-anak Tuhan yang mengalami penganiayaan di seluruh dunia membukakan satu fakta bahwa orang-orang percaya itu mengalami penderitaan dan penganiayaan begitu hebat. Gereja dihimpit, diserang, dihancurkan. Kematian orang Kristen karena iman percaya mereka kepada Tuhan Yesus begitu besar. Dan di akhir tahun 2014 jumlahnya dobel dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Fakta ini mengingatkan kita memasuki tahun 2015 tekanan penderitaan kesulitan itu akan terjadi semakin dahsyat. Di negara-negara barat bukan berarti Gereja dan anak-anak Tuhan terbebas dari persecution karena kita juga mengalami tekanan dan intimidasi mental yang sangat besar di dalam masyarakat dan komunitas yang sudah menolak Tuhan. Kita memasuki era seperti itu.

Maka pertanyaan yang paling penting adalah bagaimana sikap kita sebagai komunitas orang percaya, sebagai individu orang Kristen dan sebagai Gereja meresponi hal seperti ini? Tuhan tidak memanggil kita untuk melawan segala penderitaan aniaya dari orang-orang yang melawan Tuhan dengan kekerasan dan senjata. Kita tidak dipanggil untuk menampar kembali orang yang telah menampar kita dengan kebencian. Kita dipanggil Tuhan untuk membalas kejahatan dengan kebaikan, supaya kebencian mereka berubah menjadi rasa malu dan mereka melihat ada Tuhan yang hidup di tengah-tengah hidup anak-anak Tuhan, di tengah keberadaan dan pelayanan Gereja Tuhan.

Penderitaan demi penderitaan, tekanan demi tekanan dialami oleh jemaat penerima surat Ibrani ini dan semua itu membuat komunitas hidup orang Kristen seperti itu sebagai Gereja Tuhan tergerogoti sedikit demi sedikit. Entah apa yang terjadi, fakta bahwa tekanan itu begitu berat, begitu tidak gampang dan tidak mudah, begitu serius adanya. Mereka kehilangan kekuatan untuk saling menasehati satu sama lain, hati yang kecut, kaki dan tangan yang goyah, ketidak-beranian untuk mengakui Tuhan, tidak mau berkumpul berbakti menyatakan iman kepada Tuhan sehingga kita bisa melihat komunitas Kristen itu menjadi semakin shrinking. Terjemahan Indonesia memakai kata “mengundurkan diri” (Ibrani 10:39a) tetapi makna dari bahasa aslinya adalah “shrinking” menciut. Ada sesuatu yang terus-menerus menarik, membuat energi mereka habis, tenaga makin sedikit oleh karena tekanan dan intimidasi yang mereka hadapi. Terhadap jemaat seperti itulah penulis Ibrani memberikan kekuatan firman Tuhan ini, menyadarkan apa artinya menjadi satu komunitas Gereja, betapa pentingnya sebuah komunitas Kristen itu, dan komunitas itu justru harus datang bersama-sama, komunitas itu harus saling menguatkan satu sama lain.

Kenapa kita harus terus berbakti kepada Tuhan meskipun tekanan dan aniaya begitu berat? Untuk apa kita berbakti sebenarnya? Jangan jadikan ibadah hari Minggu itu sebagai sesuatu acara dimana kita datang menonton, atau seperti kita menghadiri satu upacara pernikahan atau menyaksikan sebuah performance. Kita tidak boleh jatuh kepada hal seperti itu, sehingga kita jadikan hidup ibadah hari Minggu kita sebagai satu aktifitas sosial yang kita harus hadiri. Jangan juga menjadikan ibadah hari Minggu itu sebagai satu absensi kita kepada Tuhan. Tuhan, Engkau sudah lihat saya datang ke rumahMu, sekarang giliran Engkau memberkati aku. Di situ akhirnya kita kehilangan makna ibadah.

Kita harus tahu semua pressure dari dunia, semua tekanan penderitaan itu, apa maksud dan tujuannya? Tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menghilangkan kesadaran identitas kita sebagai Gereja. Itu point yang paling penting harus kita sadari. Apa artinya kita menjadi Gereja? Kita menjadi Gereja bukan soal gedungnya, bukan soal aktifitasnya, bukan soal acaranya, tetapi soal satu identitas yang penting, dia tidak bisa tidak ada. Tuhan Yesus memberikan “trust” itu kepada kita yang sudah ditebus olehNya untuk menjadi terang dan saksiNya. Tuhan Yesus tidak akan pernah main-main dengan kepercayaan itu. Dia tidak serahkan itu kepada organisasi dunia; Dia tidak serahkan itu kepada Pemerintah; Dia tidak serahkan itu kepada kekuatan uang; Dia tidak serahkan itu kepada kekuatan senjata. Dia serahkan eksistensi Gereja kepada komunitas yang hidup itu, yaitu engkau dan saya dan seluruh orang percaya di sepanjang segala abad dan di segala tempat.

Sebelum meninggalkan Miletus, Paulus mengumpulkan para tua-tua, orang-orang yang melayani dan berpesan dengan sungguh-sungguh kepada mereka dan memanggil mereka, “Jagalah baik-baik kawanan yang ada padamu…” (Kisah Rasul 20:28). Apa sebabnya? Karena Gereja itu telah dibayar ditebus dengan harga yang sangat mahal yaitu dengan darah Anak Domba Allah yang suci dan tidak bercacat. Itulah yang senantiasa membuat Paulus selalu giat melayani meskipun besar kesulitan dan penderitaan yang dia hadapi. Gereja itu begitu berharga dan tak ternilai.

Kita berkumpul, kita berbakti sebagai Gereja, kita sedang menulis “the story about redemption” yang Tuhan kerjakan di dalam hidup kita masing-masing. Kita datang berbakti kepada Tuhan, kita berkumpul sama-sama, karena kita ingin membagikan story apa yang Tuhan sudah kerjakan di dalam hidup kita masing-masing, yakni Dia memberikan darahNya yang mulia dan berharga itu menebus hidup setiap kita, betapa indah dan betapa besar berkat dan anugerahNya itu.

Konsep pilgrim ke Sion jangan sampai hilang dari ingatan kita, bahkan kiranya spirit sukacita itu menjadi satu joyful kita berbakti datang ke rumah Tuhan. Orang Israel berjalan bersama-sama dari segala tempat berziarah berbakti kepada Tuhan, dan Alkitab mengingatkan jangan datang ke rumah Tuhan dengan tangan yang hampa (Ulangan 16:16). Di situ jangan selalu dimengerti bahwa kita harus membawa benda fisik, uang dan korban persembahan karena jelas Tuhan Allah mengatakan kambing domba bukan itu yang Tuhan inginkan. Tuhan menginginkan hatimu, hidupmu. Prinsip konsep ziarah ini penting: engkau datang membawa sesuatu. Kenapa kita membawa sesuatu? Karena itu menjadi respons terhadap apa yang Tuhan sudah kerjakan di dalam hidup kita. Tekanan aniaya dari luar berusaha memecahkan dan mencerai-beraikan komunitas orang percaya. Lalu bagaimana anak-anak Tuhan mendapat kekuatan? Penulis Ibrani mengatakan itulah sebabnya kita jangan menjauhkan diri dari pertemuan ibadah kita. Marilah kita berkumpul, marilah kita membawa pengharapan itu, marilah mata kita semua memandang kepada Yesus Kristus atas apa yang sudah Ia kerjakan dan lakukan di dalam hidup kita (Ibrani 10:22-25).

Kita mau memulai tahun ini dengan satu kerinduan pada waktu kita berbakti sama-sama mari kita bawa satu sikap perasaan hati yang receptive dan responsive. Ketika kita mendengar firman, ketika kita berdoa dan bernyanyi sama-sama, kita mengingat apa yang sudah Tuhan kerjakan di dalam hidup kita, Tuhan ada di tengah-tengah kita. Bagaimana kita tahu Tuhan ada di tengah-tengah kita? Masing-masing orang harus datang membawa apa yang Tuhan sudah berikan, kerjakan dan lakukan dalam hidupnya. Paulus mengatakan hal itu kepada Jemaat Korintus. Pada waktu ada ketidak-teraturan dalam ibadah mereka, Paulus mengingatkan biar masing-masing menyatakan sesuatu sehingga ada berkat yang didapat, ada blessing yang mereka sampaikan satu sama lain dengan mereka memuji memuliakan Tuhan, sehingga waktu orang luar masuk di tengah-tengahmu menghasilkan reaksi seperti ini. Reaksi seperti apa? Orang itu akan sujud menyembah Allah dan mengaku, “Sungguh, Allah ada di tengah-tengah kamu…” Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu… untuk membangun (1 Korintus 14:25-26). Mari kita mulai menyadari bahwa pada waktu kita datang berbakti di hari Minggu kita datang dengan eagerness ingin membawa sesuatu. Sesuatu apa? Sesuatu yang tidak ingin kita tahankan terhadap apa yang Tuhan sudah kerjakan di dalam hidup kita. Saya rindu kita boleh menjadikan ibadah kita lebih lively, lebih joyful, lebih indah. Orang luar akan tahu Allah sungguh ada di tengah kita. Jangan lagi datang ke dalam rumah Tuhan dengan muka yang muram. Jangan lagi datang dengan perasaan hati yang mumet dan kusut dengan segala persoalanmu. Bawa jiwa yang joyful seperti para pilgrim yang berkata, “Hari ini aku mau ke rumah Tuhan dan dengan tanganku penuh untuk kupersembahkan…” Bawa pujian kepada Tuhan dengan sepenuh hati, nyatakan berkat yang Tuhan beri di dalam hidup kita. Pada waktu kita berkumpul dalam fellowship, ceritakan kesaksian yang indah sebagai story Tuhan dalam hidup kita.

Gereja bukan tempat yang perfect. Gereja bukan tempat orang-orang suci dan kudus. Gereja adalah tempat dimana orang datang mengisahkan karya keselamatan anugerah Tuhan bagi merekan yang ditebus menjadi umat yang dikasihiNya. Tuhan merubahnya, Tuhan memperlengkapinya, Tuhan memimpinnya, Tuhan membentuknya, Tuhan menuntunnya, Tuhan menguatkannya, Tuhan menyertainya. Di situlah orang bisa melihat Allah hidup di tengah-tengah kita.

Maka hari ini mari kita ingat kembali apa panggilan Tuhan bagi setiap GerejaNya?

Pertama, Church is the suffering witness. Kita bersaksi. Kita tidak memaksakan orang. Kita tidak mendesak orang. Kita tidak mengancam orang untuk percaya kepada Kristus. Kita hanya menyaksikan kepada orang apa yang sudah Tuhan kerjakan, menebus dan merubah hidup kita. Kita tidak akan bisa menyaksikan itu kalau kita tidak membawanya dan menyampaikannya. Dunia melakukan tekanan penderitaan kepada orang Kristen supaya meminimalkan pekerjaan Tuhan melalui hidup mereka. Kita tidak ingin hal ini terjadi di dalam hidup kita. Itulah sebabnya mari kita mulai membangun konsep berbakti dan beribadah seperti ini. Para hamba-hamba Tuhan yang melayani, para majelis dan pengurus yang melayani, para aktifis yang melayani, Paulus mengingatkan inilah Gereja Tuhan, Gereja yang indah ini adalah Gereja yang dicintai dan dikasihi Tuhan sebab Ia telah menebusnya dengan darah Tuhan Yesus Kristus yang mahal dan berharga itu. Persekutuan kita tidak akan pernah menjadi menjemukan dan mati, tidak akan menjadi beban dan berat, sebab masing-masing kita datang membawa seluruh blessing Tuhan yang sudah diberi kepada kita.

Kedua, Church is the communal witness. Tuhan tidak pernah memberikan tanggung jawab dan beban itu kepada satu orang saja, berapapun hebatnya dia atau berapapun banyaknya uang dia. Tidak! Akitab senantiasa mengingatkan kepada kita Gereja itu menjadi Gereja itu bersifat communal atau community. Maka semakin kuatnya kita berkumpul, semakin indahnya kita melihat sharing satu dengan yang lain di situ kita menyadari kita tidak sendirian. Itulah kerinduan kita sebagai sebuah komunitas, kita datang sama-sama bersyukur kepada Tuhan, kita berbagian di dalam kehadiran kita menjadi sesuatu kekuatan sharing bagi orang yang lain. Betapa sedih dan prihatin kalau orang Kristen datang berbakti dengan konsep Konsumerisme dan duniawi. Apa yang saya dapat dari perkumpulan ini? Benefit apa yang bisa saya manfaatkan bagi bisnis dan kekayaanku melalui relasi dengan orang-orang di sini? Bagi saya itu adalah satu tekanan suffering yang harus kita sadari.

Communal itu penting karena firman Tuhan sendiri mengingatkan bahwa Tuhan tidak memberi karunia hanya kepada satu orang. Ada orang yang menjadi mata, menjadi tangan, menjadi kaki, dsb. Semua supaya menjadi satu keindahan dan kekuatan yang tidak mudah dikalahkan. Firman Tuhan mengingatkan satu helai tali mudah diputuskan, tiga helai tali dipilin bersama tidak akan mudah diputuskan (Pengkhotbah 4:12). Individu itu tidak memiliki kekuatan apa-apa. Seekor semut tidak mempunyai kekuatan apa-apa, dipencet mati. Tetapi pada waktu menjadi satu kumpulan besar, binatang apapun tidak berani menyerang karena kekuatan itu datang dari jalinan community. Pada waktu kita bersatu, kita sanggup dan kita kuat.

Alur dari Ibrani 10:32-39 sampai pasal 13 begitu indah. Penulis memanggil anak-anak Tuhan untuk bersabar dalam menghadapi tekanan penderitaan yang sedang mereka alami. Sabar adalah satu hal yang tidak gampang dan tidak mudah. Sabar adalah satu sikap kita bertahan menanggung, menerima dan terus menjalaninya. Sabar membutuhkan satu unlimited time yang kadang-kadang membuat kita berseru ‘how long o Lord?’ Lalu bagian terakhir dari kalimat ayat 34b, “…waktu kamu mengambil bagian…” sudah menderita, tetap kita dipanggil untuk mengambil beban orang lain juga. Ayat 35 “Sebab itu jangan kamu melepaskan kepercayaanmu… Kamu memerlukan ketekunan…” Ayat 37-38 penulis Ibrani mengutip satu bagian dari PL yang begitu menyedihkan yaitu dari Habakuk, yang memulai tulisannya dengan satu teriakan “why, Lord?” dan Tuhan tidak tolong. Dan dalam bagian yang dikutip Habakuk menyatakan satu pengharapan “Sedikit waktu lagi, hanya sedikit waktu lagi Tuhan tidak akan menangguhkan itu…” Dia menuntut iman kesabaran anak-anak Tuhan. Ayat 39 maka iman kita itu harus menjadi iman yang hidup.

Setelah itu penulis Ibrani masuk kepada daftar orang-orang beriman sepanjang sejarah perjalanan iman. Apa itu iman? Iman adalah satu dasar kita bisa melihat apa yang tidak kelihatan, bukan karena dasar iman kita kuatnya di situ tetapi karena kita tahu kita beriman kepada Allah yang setia dan yang akan menggenapi semua yang dijanjikanNya. Kita belum lihat, kita belum alami, tetapi kita tidak perlu kuatir. Maka pasal 11 penulis Ibrani mencatat perjalanan sejarah, mulai dari iman Habel, Henokh, Nuh, Abraham dan seterusnya. Tetapi mari kita perhatikan catatan iman orang-orang ini di tengah mereka beriman ada 2 result yang bisa terjadi dan tetap result itu tidak mempengaruhi iman mereka. Result yang pertama adalah yang impossible menjadi possible. Dari kondisi sudah tua dan mati pucuk, Sara bisa melahirkan anak. Dari kondisi yang begitu terbatas secara perhitungan manusia, mereka bisa mengalahkan obstacles yang ada. Tetapi kita juga melihat iman mereka sesuatu yang mereka imani tidak terjadi. Mereka tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu. Banyak di antara mereka disiksa, diejek, didera, dibelenggu, dipenjarakan, dilempari batu, digergaji, dibunuh dengan pedang. Banyak di antara mereka harus meninggalkan tempat tinggal dan mengembara di dalam kekurangan, kesesakan dan penderitaan. Ini result yang kedua yang penulis Ibrani perlihatkan, begitu berbeda dengan result yang pertama.

Maka semua ini disimpulkan dengan kalimat Ibrani 12:1 “Karena kita mempunyai banyak saksi bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita…” Tuhan menggunakan communal witness sebagai kekuatan bagi mereka yang tidak kuat dan tidak mampu untuk saling berbagi, saling berpegangan tangan satu dengan yang lain akan menjadi hal yang tidak disangka dan tidak diduga. Yang tidak kuat berpegangan dengan yang tidak kuat, akhirnya menjadi kuat. Yang harta miliknya dirampas namun tetap berbagian menanggung beban kesulitan orang lain, seharusnya yang terjadi akan makin kekurangan dan kehilangan. Tetapi terjadilah satu equation rohani yang berbeda, justru menjadi berkelimpahan hidup mereka. Tidak ada perasaan self-pity yang muncul, tidak ada rasa mengasihani diri dan meratapi kemalangan sendiri. Firman Tuhan mengatakan bagaimanapun di tengah situasi seperti itu, berilah tumpangan. Ingat orang-orang hukuman. Di dalam situasi hartamu dirampas, tetap ingat kepada orang yang diperlakukan dengan sewenang-wenang.

Firman Tuhan tidak membiarkan kita hanyut oleh self-pity, di tengah penderitaan dan aniaya yang mereka alami, perkuat kasih persaudaraan. Berusahalah hidup damai dengan semua orang. Di situlah secara praktis iman kita nyata sebagai iman yang hidup. Kita tidak merasa tersendiri dan menjadikan hidup kita berkelimpahan dan mau share load satu sama lain. Maka pekerjaan Tuhan akan berjalan dengan indah karena sikap hati dan jiwa anak-anak Tuhan seperti itu.

Memang penderitaan dan tekanan membuat ruang gerak kita lebih sempit, lebih terbatas, lebih kecil. Dia berusaha merebut semua opportunity dan kesempatan kita. Namun jangan justru penderitaan dan tekanan itu membuat kita membuang hak kesulungan kita seperti Esau (Ibrani 12:16). We don’t value God’s grace highly enough seperti Esau yang dengan ringan menggantikan hal yang serius dan kekal dengan hal yang instant kita dapatkan dan nikmati sesaat. We have to fight back instead.

Maka point yang ketiga ini penting sekali, pada waktu kita sadar Gereja dipanggil Tuhan, satu-satunya jawaban yang perlu bagi dunia ini terhadap kejahatan dan kematian adalah pengharapan di dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Berita ini akan di-crushed, dipersempit ruang geraknya, jangan membuat kita menyerah. Justru kita harus membuat berita ini makin luas, kita tidak boleh menyimpan dan menguburnya. Kita harus membawanya keluar melalui hidup kita. Dunia, budaya dan lingkungan akan senantiasa menciptakan banyak pressure yang begitu kuat dan merebut banyak wilayah dalam hidup kita. Tetapi kita tidak boleh menyerah kalah dan memberikan hak kesulungan kita karena tekanan itu. Kita harus tebus dan kita harus dengan berbagai cara dan sarana di dalam setiap aspek budaya yang ada kita harus masuk dan kita harus menebus dan memakainya untuk memenangkan sedapat mungkin orang bagi Tuhan Yesus Kristus (band. 1 Korintus 9:20-23). Kiranya hidup kita semakin flourished. Pekerjaan bisa menjadi pressure yang berat. Persoalan ekonomi juga bisa menjadi tekanan yang luar biasa besar. Kesibukan, tidak ada waktu, bisa menghasilkan tekanan hidup yang berat. Kondisi yang menghalangi kita bisa berbakti, beribadah dan berdoa kepada Tuhan di hari Minggu bisa menjadi tekanan yang besar. Semua itu menjadi pressure bagi hidup kita masing-masing. Kiranya firman Tuhan hari ini membantu kita meresponi semua itu dengan benar dan menghadapi challenges itu dengan menghargai komuniti yang Tuhan sudah tebus ini dengan menjadikan kita saling membantu satu dengan yang lain dan hidup kita ini memuliakan Tuhan. (kz)