Kristus datang membawa Kelimpahan

Sun, 28 Dec 2014 03:46:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Tema: Kristus datang membawa Kelimpahan

Nats: Yohanes 10:10b, Yohanes 1:1-18

 

“Aku datang supaya mereka memperoleh hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10b).

Mungkinkah janji ini keluar dari mulut Seseorang yang pada waktu lahir meminjam kandang binatang dan palungan untuk berbaring, pada waktu mati meminjam kuburan orang, Seseorang yang sendiri pernah berkata, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya” (Matius 8:20)? Sepanjang hidupNya yang singkat, Yesus berjalan di atas muka bumi tanpa memiliki apa-apa.Ia berjalan keliling dari satu tempat ke tempat yang lain, lebih sering bermalam di udara terbuka jikalau tidak ada rumah yang membuka pintu bagiNya untuk singgah. Bagaimanakah kalimat janji seperti itu bisa menjadi keyakinan setiap orang yang mengikut Dia?

Apa yang bisa Yesus janjikan? Apa yang bisa Dia berikan? Mereka yang ikut Dia hanya mau mendapat roti, hanya mau mengalami kesembuhan, yang hanya mau dilepaskan dari problem kesulitan yang ada di dalam hidup mereka saat itu, yang hanya mau Tuhan selesaikan semua persoalan sakit-penyakit yang ada, mereka kecewa dan satu-persatu meninggalkan Dia.

Namun kepada murid-murid yang sungguh-sungguh ingin mengikut Dia, Yesus berkata, Aku datang supaya engkau mempunyai hidup dan hidup itu adalah hidup yang berkelimpahan adanya. Kalimat itu bukan hanya sekedar janji, kalimat itu adalah kalimat yang diucapkan oleh Tuhan Yesus sekaligus Dia jalani, Dia hidupi dan Dia buktikan nyata di dalam hidup ini. Dan apa yang kita lihat dari hidupNya selalu menjadi inspirasi dan keindahan bukan saja kepada para pengikutNya tetapi juga bagi orang-orang lain yang bukan Kristen namun sangat mengagumi hidup dan ajaran Yesus Kristus. Mahatma Gandhi salah satu tokoh yang sangat mengagumi ajaran Yesus khususnya ajaran “Khotbah di Bukit,” yang memegang prinsip perjuangannya dari sana, bukan dengan kekerasan, kekuatan, kehebatan tetapi dengan karakter dan pengorbanan diri dan dengan hidup bersahaja. Namun Mahatma Gandhi pernah berkata dengan kritikan tajam kepada orang Kristen, “I like your Jesus. Jesus is ideal and wonderful. But I don’t like you Christians, you are not like Him.” Saya harap perkataan Mahatma Gandhi itu tidak benar, namun dengan sedih dan prihatin harus kita akui sejujurnya apa yang dia saksikan dari hidup orang-orang Kristen yang seperti itu telah menjadi batu sandungan baginya. Saya harap itu akan menjadi satu kritikan yang senantiasa mengingatkan kita untuk menjalani hidup seperti Tuhan kita Yesus Kristus.

Selama di dunia ini Yesus begitu miskin, menjalani hidup yang sederhana, namun Ia memberikan kita satu teladan bahwa kita bisa menjalani hidup seperti Yesus dengan segala kelimpahannya.Yohanes 1:16 berkata, “Karena dari kepenuhanNya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia.”Yohanes memberitahukan kepada kita kehadiran Tuhan Yesus, Firman yang telah menjadi manusia yang diam di tengah-tengah kita, bagi orang Dia adalah manusia biasa saja.Tetapi di balik segala kesederhanaan dan kepapaanNya sebagaimana Yohanes bisa saksikan selama pelayanan dan hidup bersamaNya tiga tahun lebih, Yohanes menyaksikan keindahan kepenuhan hidup Yesus yang begitu nyata.Itulah sebabnya Yohanes mengatakan dari kepenuhan itulah kita boleh menerima kasih karunia demi kasih karunia yang tidak habis-habisnya mengalir limpah di dalam hidup kita. Kelimpahan itu kiranya akan mengalir keluar juga dari hidup kita, kelimpahan grace upon grace yang tidak akan berhenti terus ada. Yesus Kristus bukan saja memberi kita anugerah keselamatan dan hidup yang kekal, tetapi dengan generous Ia memberikan kita segala kebaikan, keindahan, berkat yang terus mengalir untuk kita nikmati.

Anugerah berarti sesuatu yang diberikan kepada kita bukan karena kita berhak mendapatkannya.Tidak ada hal yang baik yang bisa kita lakukan untuk bisa memperolehnya.Anugerah itu diberikan secara cuma-cuma, bukan karena ada keindahan dari hidup kita, bukan karena kita orang baik, bukan karena kita telah berjasa melakukan sesuatu bagi Tuhan.Anugerah itu diberikan karena belas kasihNya semata-mata.Siapapun dia, tidak tergantung kondisi dan keadaannya, tangan Allah adalah tangan yang beranugerah yang mencintai dan mengasihi kita.

Jangan malu dan guilty datang kepadaNya, kalau engkau sepanjang tahun ini tidak pernah ke gereja, dan baru hari ini engkau datang ke rumah Tuhan. Puji Tuhan, kalau kita masih bisa datang kepadaNya hari ini. Ada orang yang mungkin tidak berani menginjakkan kakinya ke gereja sebab berpikir bahwa gereja adalah tempat bagi orang-orang yang baik saja, gereja adalah tempat bagi orang yang mampu, orang yang kaya, orang yang bersih dan baik kelakuannya.Ada orang yang mungkin tidak berani menginjakkan kakinya ke gereja karena merasa dia tidak layak masuk ke rumah Tuhan, terlalu banyak hal yang telah dia lakukan mengecewakan Tuhan.Merasa malu dan guilty datang menghampiri rumah Tuhan.

Natal justru mengingatkan kepada kita Yesus datang ke dalam dunia ini memberikan anugerah demi anugerah.Pengampunan itu tidak terbatas hanya diberikan di awal dari hidup kita, tetapi di dalam sepanjang perjalanan hidup kita ikut Tuhan pengampunanNya terus mengalir kepada kita.Setelah kita ikut Tuhanpun kita tidak boleh melandasi anugerah Tuhan dengan kebaikan kita, dengan jasa pelayanan, uang, waktu dan tenaga kita, semuanya itu semata-mata anugerah demi anugerah Tuhan.

Yohanes mengkontraskan kedatangan Yesus dan kedatangan Musa.Musa datang dan Musa memberikan hukum Taurat. Inti dari hukum Taurat tidak lain dan tidak bukan adalah jika engkau lakukan dan jalani seluruh hukum itu dengan tidak bercacat cela, maka engkau akan hidup. Tetapi Anak Allah Yesus Kristus datang memberikan grace upon grace. Puji Tuhan! Kita akan hidup berkelimpahan jikalau kita mendasari hidup kita dengan fondasi yang benar ini. Semua apa yang kita dapat tidak lain karena anugerah dan pemberian dari Tuhan semata. Anugerah itu layak kita hargai dengan sukacita walaupun datang dengan cuma-cuma, itu bukan datang karena kita bisa melakukan apa-apa, tetapi justru karena anugerah itu terlalu mahal dan terlalu berharga, tidak ada seorangpun yang bisa memperolehnya dari kemampuannya sendiri. Pengertian itu akan membuat hati kita limpah, sebab kita mencintai dan menghargai anugerah itu dengan luar biasa dalam hidup kita. Anugerah keselamatan Tuhan diberikan dengan gratis, dengan cuma-cuma, kita dapatkan bukan dengan uang kita, bukan dengan usaha, jasa, kebaikan kita, karena itu semua tidak bisa membelinya.Anugerah itu terlalu berharga karena dibeli dengan harga yang sangat mahal, yaitu dengan darah AnakNya yang suci dan mulia.

Yesus Kristus memberikan janji ini kepada murid-muridNya di dalam konteks Ia sedang memperbandingkan gembala yang palsu dengan Gembala yang sejati. Gembala palsu adalah gembala yang lari menyelamatkan diri ketika kesulitan datang.Gembala itu melayani karena upah bayaran.Gembala yang palsu mencari keuntungan dari domba-dombanya. Tetapi kontras dengan Kristus Gembala yang sejati, yang memberikan janji dan yang akan menepatinya. Janji itu keluar dari mulut Gembala yang sejati. Demi untuk menggenapkan janji itu Ia bahkan rela menyerahkan nyawaNya demi supaya domba-dombaNya hidup. Gembala yang sejati selalu berjalan di depan, Dia akan mengarahkan kita lebih jauh. Domba-domba itu mengikutiNya selangkah demi selangkah. Saat melewati lembah yang kelam, berjalan di setapak yang keras dan berbatu tajam, kita tetap percaya Gembala kita senantiasa ada di depan dan memimpin kita di dalam perjalanan yang sulit itu.

Kelimpahan apa yang Tuhan Yesus berikan kepada kita? Ia memampukan kita mengerti Allah itu seperti apa. Dalam Yohanes 14, murid-murid yang gelisah dan kuatir meminta Yesus menunjukkan Allah Bapa kepada mereka, Yesus menjawab, “Telah sekian lama Aku bersama-sama dengan engkau, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa…” Kalimat itu menyentak hati murid-murid. Ada perjalanan bersama Yesus tetapi pengetahuan mereka, pengenalan mereka akan Yesus tidak berlimpah di dalam penyertaan itu. Yohanes 1:18 menunjukkan karena Yesus datang ke dalam dunia ini, maka kita manusia boleh mengenal siapa Allah itu sesungguhnya.

Banyak hal kita bisa merasa kecewa ikut Tuhan ataupun terlalu gampang mencurigai Tuhan tidak mengasihi kita ketika dalam perjalanan hidup kita tidak melihat pertolongan Tuhan datang saat kita sangat membutuhkannya.Jangan sampai kita kehilangan kelimpahan hidup kita makin mengerti dan makin mengenal Allah kita sepanjang perjalanan hidup kita dari tahun ke tahun.Ia adalah Gembala kita yang setia, Ia memelihara dan campur tangan mengontrol dengan segala kebaikan anugerahNya. Ia adalah Allah yang baik, yang tidak pernah bersalah di dalam semua rencanaNya memelihara kita. Kita boleh mengenal Allah itu secara konkrit melalui Yesus datang ke dalam dunia menjadi manusia.Ia menghampiri orang yang miskin papa, orang yang dikucilkan sebagai sampah masyarakat dikasihiNya. Orang-orang yang sudah tidak mempunyai pengharapan diberiNya jalan keluar.Dari mulut bibirNya keluar peringatan dengan kasih kepada orang-orang yang hatinya terikat dengan kekayaan supaya mereka tidak bersandar kepada kekayaan mereka yang tidak menentu itu.Ia mengasihi janda dan anak-anak yatim piatu. Pemungut cukai dan wanita pelacur yang bertobat tidak dihinaNya.Ia mengerti segala kelemahan dan kegagalan murudi-muridNya dan tetap mengasihi dan mendoakan mereka. Itulah Tuhan kita Yesus Kristus. Sampai Ia mati di kayu salib, penjahat yang tergantung di sebelahNya tetap memperoleh anugerah pengampunan. Sampai titik darah penghabisan Ia tidak memiliki apa-apa lagi, dari diriNya tetap mengalir segala kelimpahan berkat bagi orang lain.

Aku datang, supaya mereka memperoleh hidup dan memperolehnya dalam segala kelimpahan.Kata ‘datang’ berarti Dia bukan saja lahir, tetapi menunjukkan Dia bukan dari sini.Kata ‘datang’ berarti Dia hadir ‘presence’ di tengah kita.Hidup kelimpahan itu menjadi benar-benar limpah dari kata itu, sehingga kita tidak melihat konsep kelimpahan semata-mata dalam hal materi belaka.Kelimpahan itu harus dilihat dari dari satu perspektif surgawi, darimana Dia datang, dari situ kita melihat segala-galanya.

Teologi Kemakmuran telah menyelinap masuk ke dalam pengajaran gereja dan merambat masuk ke dalam hati banyak orang Kristen.Kelimpahan dilihat dari kacamata sukses dalam materi, sukses dalam karier, sukses dalam pelayanan, semuanya diukur dari berapa banyak yang kita capai dan kita raih, bahkan termasuk banyak hamba Tuhan tertentu membangga-banggakan berapa banyak jiwa yang sudah dia layani. Konsep seperti itu bagi saya bukan memperlihatkan konsep hidup berkelimpahan melainkan orang-orang itu terperangkap di dalam desire dan greediness yang akhirnya akan memiskinkan kita. Bukannya makin limpah tetapi makin craving untuk terus mencapai lebih dan lebih lagi dan tidak akan pernah puas adanya. Seperti orang haus di tengah lautan yang terus meminum air laut yang dia kira bisa memuaskan dahaganya, padahal dia akan semakin haus dan haus lagi tidak habis-habisnya.

Dalam 2 Korintus 6:1 rasul Paulus mengatakan “Sebagai rekan-rekan sekerja kami menasehatkan kamu supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah yang telah kamu terima…” Don’t waste grace given to you. Ayat 10, “…sebagai orang miskin namun memperkaya banyak orang, sebagai orang tak bermilik sekalipun kami memiliki segala sesuatu…” Inilah heavenly perspectives dari hidup Paulus.Secara materi dia miskin dan tidak punya apa-apa, tetapi itu tidak membuatnya terganggu. Kemiskinannya telah memperkaya hidup orang lain.

Di awal tahun 2006, Pdt. John Piper didiagnosa terkena kanker prostat.Puji Tuhan sampai hari ini Tuhan memberi kesembuhan kepadanya dan memakai hambaNya melayani lebih indah lagi. Setelah menerima diagnose itu, bagaimana respons Pdt. John Piper? Sejujurnya, siapapun dia, termasuk pendeta sekalipun ketika mendengar kabar seperti itu pasti menyentak hati kita.Namun sebaliknya, dia datang kepada Tuhan, berlutut dan berdoa, “Tuhan, aku bersyukur untuk kanker yang Engkau berikan ini karena melaluinya aku mendapat kesempatan untuk memuliakan Engkau.Aku tidak akan menyia-nyiakannya.”Baginya kita dapat menyia-nyiakan kanker itu jikalau kita tidak melihat rencana Allah bagi kita dan perjalanan yang penuh pengharapan mengabarkan tentang Yesus melaluinya. Proses perjalanan hidupnya ditulis dalam satu buklet berjudul “Don’t waste Your Cancer” yang menjadi berkat bagi begitu banyak orang.

Ketika dalam kemiskinan kita bisa memperkaya orang; ketika dalam sakit kita bisa menyembuhkan orang; itulah artinya hidup yang berkelimpahan. In pain upon pain, in suffering upon suffering, kita justru menjadi sukacita joy bagi orang, itulah artiya hidup yang berkelimpahan. Janganlah kita menjalani satu hidup di dalam kekayaan dan kemakmuran harta justru memiskinkan dan menyengsarakan orang lain. Kelimpahan hanya bisa keluar dari hidup yang memiliki satu perspektif surgawi yang dari atas.

Alkitab mengatakan ada hidup di “sana,” cuma bedanya science mencari hidup yang kelihatan seperti di sini.Hidup itu tidak bisa dilihat dengan mata jasmani ini, kita hanya bisa menerimanya dengan iman.Dan bukan itu saja, Sumber Hidup itu sudah pernah datang ke dalam dunia ini.

Hidup yang berkelimpahan  itu seperti apa? Hidup yang berkelimpahan itu muncul dari bagaimana kita menjadi anak-anak Tuhan yang melayani Tuhan.

Yohanes mengawali Injilnya dengan menuliskan keagungan dan kemuliaan Yesus Kristus di dalam kekekalan, lalu di tengahnya kemudian dia menyelipkan beberapa kalimat tentang seorang bernama Yohanes Pembaptis dalam Yohanes 1:6-8. Adalah Yohanes Pembaptis yang memberitakan terang, supaya orang percaya kepada terang itu.Namun penulis Injil Yohanes memberikan satu kalimat penting, “Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu.”Kenapa Yohanes perlu mengeluarkan kalimat ini?Sebelum Yesus memulai pelayananNya, murid-murid ikut Yohanes Pembaptis. Setelah Yohanes menunjukkan kepada mereka, “Lihatlah Anak Domba Allah…” Alkitab mencatat sebagian murid-muridnya kemudian meninggalkan dia dan ikut Tuhan Yesus. Dan di akhir dari pelayanannya, Yohanes Pembaptis makin tidak bersinar, maka keluarlah kalimat ini dari mulutnya, “Ia harus makin besar tetapi aku harus semakin kecil…” (Yohanes 3:30). Inilah satu hidup seorang hamba yang begitu indah mengerti kelimpahan melayani Tuhan.Kalimat itu untuk mengingatkan kita terlalu mudah dan terlalu gampang orang yang memberitakan terang itu lupa diri bahwa dia hanya pembawa terang dan bukan terang itu sendiri yang selayaknya dihargai dan dihormati.Terlalu mudah bisa terjadi self-glorification.Sehingga kelimpahan hidup seorang pelayanyang terjadi dibuktikan oleh Yohanes Pembaptis adalah semakin dia terkuras habis dan tidak punya apa-apa, di dalam kepapaan itu Allah ditinggikan dan dimuliakan, di situlah kelimpahan hidupnya.Itu paradoks yang terjadi.Tetapi semakin besar keinginan kita untuk mendapatkan self-glorification kemuliaan bagi diri kita, semakin miskin dan semakin berbahayalah hidup kita. Semakin dan semakin lagi kita menuntut orang untuk menghormati menghargai kita, semakin kita akan kehilangan kelimpahan sukacita dan kelimpahan hidup menjadi berkat bagi orang lain. Jangan kita mengambil kemuliaan Tuhan.Ia bukan terang itu, harus menjadi warning yang mengingatkan setiap pemberita firman dan pelayan Tuhan, hidup kita tidak boleh menuntut hormat kemuliaan bagi diri kita. Hormat kemuliaan harus kita berikan untuk Tuhan kita.Hidup kelimpahan itu terjadi semakin limpah Tuhan beri kepada kita, semakin syukur kita kepada Dia di dalam hidup kita.

Natal sudah selesai.Saya percaya orang-orang yang berbagian menjadi panitia Natal adalah orang-orang yang paling cape.Natal adalah salah satu program acara yang paling menguras tenaga, uang dan pikiran.Belum lagi sebelum Natal penuh dengan rapat, penuh dengan perdebatan ya dan tidak, ada yang mau ini ada yang tidak setuju itu.Energi yang terkuras dan korban perasaan.Maka saya mengingatkan panitia jangan sampai justru kita yang paling giat di hari Natal, kita yang menjadi kering kehilangan sukacita dan kelimpahan Natal. Saya harap berita Natal yang kita dengar boleh menjadi mata air yang limpah, semakin kita nikmati kita sungguh mengalami hidup yang limpah melampaui segala kesulitan dan penderitaan, sehingga tahun yang baru kita masuki dengan hati yang ringan, melupakan segala kesuksesan dan keberhasilan yang kita raih di tahun yang lampau, melupakan segala kegagalan dan kesedihan di tahun yang lampau. Semua menjadi indah dan baru karena janji Tuhan bahwa Ia akan memberikan berkatNya selalu baru setiap hari.

Bersyukur kepada Tuhan Allah yang hidup dan baik; Allah yang memelihara dan mencukupkan, Allah yang menggembalakan dan memimpin hidup kita. Biar kita makin mengenal Dia lebih dalam dan lebih percaya bahwa Tuhan Allah yang kita sembah itu adalah Allah yang tidak pernah berdusta dan lalai akan janji-janjiNya. Allah yang senantiasa akan menggenapkan segala yang Ia firmankan dan janjikan bagi kita. Itulah sebabnya kita boleh datang kepadaNya, bersyukur kepada Tuhan sedalam-dalamnya.Berterimakasih untuk kasih karuniaNya, kita boleh ditopang sampai hari ini semata-mata karena kekuatan dari Tuhan adanya.Kita boleh berdiri dengan teguh sebab kita tahu kekuatan Tuhanlah yang memelihara kita. Kita menikmati apa yang ada semata-mata karena tangan Tuhanlah yang memberi semuanya.(kz)


Other Sermons