You are God’s Masterpiece

Sun, 02 Nov 2014 03:18:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Tema: You are God’s Masterpiece

Nats: Efesus 2:10

 

Setiap pagi kita bangun dari tidur untuk menjalani hari yang baru, mengerjakan hal-hal yang tidak jauh berbeda dengan hari kemarin, melakukan hal-hal yang rutin dan sama. Kita mempersiapkan segala yang diperlukan untuk hari itu, mempersiapkan makanan, belanja ke pasar, mandi, lalu ke kantor atau ke tempat pekerjaan, mengantar anak ke sekolah, membesarkan anak, mendidik mereka, hari demi hari kita melakukan hal yang sama dan rutin seperti itu.

Pernahkah engkau berpikir, kekuatan apa yang membuat kita bangun setiap pagi? Kekuatan apa yang ada di balik hidup kita, yang membuat kita walaupun menjalani hidup yang rutin setiap hari tetapi kita ingin hidup kita hari ini harus berbeda dengan hari kemarin, hidup kita hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin, hidup kita hari ini harus lebih menjadi berkat daripada hari kemarin? Jangan sampai kita bangun pagi dan memulai hari yang baru dengan minum “5 pil” ini baru kita rasa hidup kita ini berarti, baru kita terdorong untuk menjalani hidup ini. Tetapi akhirnya 5 pil ini kalau kita minum terus-menerus setiap hari akan mendatangkan kecanduan dan mendestruksi hidup kita. Pil yang pertama, “Please,” kita menjalani hari ke hari untuk “pleasing others.” Kita merasa hari ini hidup kita berguna, hari ini hidup kita baru berarti kalau kita menyukakan orang lain. Tidak ada habis-habisnya kita mau menyenangkan hati orang. Akhirnya kita akan cape sendiri karena sampai kapan orang bisa puas kita senangkan? Kita terus pikir apa yang orang pikir tentang kita. Padahal, buat apa kita pikirin, karena masih banyak hal lain yang perlu kita pikirkan? Tetapi umum terjadi, kita terus pikir apa yang orang itu pikir tentang kita, kita terus mencari cara bagaimana menyenangkan orang itu dan kita habiskan waktu kita untuk semua itu.

Pil yang kedua, “Perform,” kita bangun pagi dengan satu dorongan bagaimana membuat performance, kita ingin menunjukkan kita adalah orang baik, kita ingin menunjukkan kita lebih berkarya, kita ingin menunjukkan diri kita lebih baik daripada orang lain, dan itu yang men-drive hidup kita, “I need to perform, I want to be the best.” Ada baiknya jika kita berjuang dengan adil, tetapi yang berbahaya adalah ada orang ingin perform dengan cara menginjak kepala orang lain supaya dia dilihat lebih baik daripada orang lain. Tidak akan habis-habisnya kita minum pil itu karena kita akan cape, kita akan kecewa, kita akan anxiety dan mungkin sampai pada satu titik kita akan kehilangan keinginan untuk bangun pagi karena kita rasa tidak ada kepuasan, tidak ada arti dan makna dalam hidup ini.

Pil yang ketiga, “Perfect,” kita mau menjadi perfect. Perfectionist. Memang tidak semua orang itu perfectionist, tetapi dalam hati kecil kita sejujurnya kita ingin menjadi orang yang paling baik. Perfectionism sebetulnya adalah satu hal yang destruktif karena tidak ada orang yang bisa perfect dalam hidup ini. Tetapi kita terus didorong akan hal itu, kita akhirnya anxiety melihat ada orang lain yang lebih perfect daripada kita. Kita melihat orang itu sebagai gangguan bagi kita sebab kita berpikir chance kita untuk posisi naik lebih kecil karena dia. Maka kita bangun pagi hari, datang paling pagi ke kantor, pulang paling malam. Kita bekerja lebih keras karena kita menuntut diri untuk lebih perfect daripada orang lain.

Pil ke empat adalam “Praise,” pujian. Kita haus pujian. Ada dua sifat dosa yang terus menghantui kita, pertama, dosa “want to have,” keinginan untuk memiliki semua. Kita mengumpulkan, mengumpulkan segala sesuatu tidak ada habis-habisnya menginginkan sesuatu. Tetapi sifat dosa ke dua yang lebih berbahaya adalah “want to be seen.” Desire dalam diri kita tidak ada batasnya, yang mau segala sesuatu, tetapi kita menyadari hidup kita terbatas, tubuh kita terbatas, sehingga kita tidak mungkin bisa menikmati dan mengambil semua yang kita mau. Tetapi akhirnya kita berusaha mengkompensasi dengan memperlihatkannya. Maka “want to be seen,” ingin dilihat orang itu menjadi lebih besar karena di situ kepuasan dipuji dan dikagumi orang jadi terpenuhi. Kita ingin memperlihatkan segala pencapaian achievement kepada orang lain.

Kalau semua ini adalah pil yang terus men-drive hidupmu setiap hari, akhirnya mau tidak mau engkau perlu terus makan pil yang kelima, “Panadol.” Apa yang terjadi? Karena tiap kali bangun pagi, kepala sakit berdenyut-denyut dengan tuntutan-tuntutan 4 pil lain tidak ada habis-habisnya. Kita bangun dengan kekuatiran; bangun dengan hati yang penat. Kita kehilangan kekuatan untuk memulai hari yang baru karena senantiasa penuh ketakutan dan kuatir dan kehilangan joyful, sukacita, damai sejahtera dan keindahan menjalani hidup ini. Banyak orang kecanduan makan semua pil ini, dan bukan saja itu, mereka akan terus menambah dosisnya. Mereka terus pikir bukan pikir apa yang penting dan apa yang baik, apa yang Tuhan mau dalam hidupnya.

Apa yang mendorong kita bangun tiap pagi? Bagaimana kita melihat makna hidup kita? Bagaimana kita menaruh kaki kita berjejak dengan solid di atas prinsip yang penting dan benar dalam hidup ini? Biar firman Tuhan ini menjadi obat yang menyembuhkan kita, menjadi vitamin yang menguatkan iman kita. “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup di dalamnya” (Efesus 2:10). Kita perlu ayat ini mengawali hari-hari kita tiap kali bangun pagi menjalani hidup ini. Terjemahan bahasa Indonesia “buatan,” dalam bahasa Yunani adalah “poiema” yang oleh F.F. Bruce diterjemahkan sebagai “masterpiece.” Kata ini sendiri mempunyai konotasi sebagai hasil karya seni puisi, patung, musik, dsb.

Ayat ini berbicara begitu indah, engkau adalah hasil maha karya Allah, you are God’s masterpiece. Engkau adalah ciptaan baru di dalam Yesus Kristus. Engkau dipersiapkan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik dan hidup di dalamnya. Itulah hidupmu yang Tuhan mau engkau nikmati. Dalam hidup ini kita jangan “ngeyel” kepada Tuhan, kita jangan sinis kepada Tuhan. Kita harus betul-betul percaya pada waktu firman Tuhan ini mengatakan, each of us is God’s masterpiece. Kita seringkali berpikir, Tuhan, siapa saya? Saya cuma orang biasa, saya penuh dengan kekurangan, kelemahan, tidak ada hal yang baik dari hidupku. Uang tidak banyak, bakat tidak ada, kemampuan terbatas, penampilan pas-pasan. Tidak ada hal besar yang bisa saya kerjakan, tidak ada yang signifikan. Bagaimana mungkin Engkau mengatakan saya adalah hasil maha karyaMu?

Mazmur 19:1 berkata, “Langit menceritakan kemuliaan Allah…” betapa mengagumkan. Orang yang tinggal di tengah alam mengagumi kebesaran dan kemegahannya. Air terjun yang menderu begitu besar, laut dengan karang yang indah, membuat mata kita terbelalak dan hati kita penuh dengan kekaguman kepada Tuhan sang Pencipta. Tetapi Alkitab tidak mengatakan alam adalah hasil maha karya masterpiece Tuhan. Alkitab bilang karya Allah yang masterpiece adalah pada waktu Ia membentuk engkau dan saya. Hanya kepada kita manusia di dalam bagian ini firman Tuhan berkata you are God’s masterpiece.

Saya rasa tidak mudah bagi kita memahami hal ini. Pada waktu kita berdiri di depan cermin, tidak ada yang dengan kagum mengatakan aku adalah God’s masterpiece. Bukankah lebih banyak keluar keluhan, kenapa aku seperti ini, kenapa aku kurang ini dan itu? Itu baru urusan fisik, belum lagi kepada hal-hal yang lain kita mengeluh. Semua itu menenggelamkan kita di dalam melihat kalimat yang indah dari firman Tuhan ini mengenai diri kita. Mazmur 139 berkata, “Engkau menenun aku di dalam kandungan ibuku… betapa ajaib.” Tuhan seperti seorang ahli seniman yang memahat kita berbeda dengan bongkahan batu itu. Betapa mengagumkan, dari 7 billion lebih manusia di dunia ini tidak ada dua orang yang persis sama. Luar biasa Tuhan. Orang kembar identik pun tidak sama. Itulah yang namanya keunikan masterpiece.

Betapa indah setiap kali kita melihat seorang bayi lahir ke dunia ini. Kalau kita mengamati setiap bagian tubuh kita bekerja dengan luar biasa, mata yang Tuhan ciptakan dengan kornea yang lebih sensitif dan lebih fokus daripada lensa kamera apapun, meneruskan setiap gambar yang ditangkap kepada retina yang di dalamnya ada 125 juta syaraf yang stimulasi terus menerus mengirimkan gambar ke otak dalam sepersekian detik. Satu demi satu bagian tubuh kita Tuhan ciptakan dengan fungsi dan detail yang begitu mengagumkan, itu harus membuat kita amazed kepadaNya. Tuhan sendiri pada waktu selesai menciptakan Adam berkata, sungguh amat baik adanya, this is My masterpiece.

Mengapa kita menjadi masterpiece Allah? Sebab kita adalah satu-satunya mahluk yang dicipta Tuhan yang bisa berbicara dan berkomunikasi kepadaNya; sebab kita adalah satu-satunya mahluk yang bisa menyatakan thanks dan gratitude kita kepadaNya; sebab kita adalah satu-satunya mahluk yang setelah dicipta boleh datang memuji dan menyembah dan berbakti kepadaNya; sebab kita adalah satu-satunya mahluk yang dicipta Tuhan yang sanggup dan bisa meniru daya kreatif Tuhan menghasilkan begitu banyak hal lain. Itulah sebabnya kita menjadi masterpiece Tuhan. Dengan hati seperti itu kita tidak mudah kecewa dengan hidup ini, kita tidak bersegera menghina diri kita sendiri, dan tidak membuat kita sinis kepada hal yang kelihatan merupakan hal sepele dan remeh, sampai kita merenungkannya dalam-dalam betapa Tuhan mencintai dan menciptakan kita.

Itu fondasi yang paling penting, yang menyebabkan kita pada waktu melihat orang yang lemah dan papa tidak menghinanya karena dia juga adalah God’s masterpiece. Mata kita menjadi lain pada waktu kita melihat orang berbeda warna kulit dengan kita, orang yang tidak mandi dan kotor, orang yang penuh dengan cacat dan penyakit kulit, orang yang hidup dalam kegagalan. Bagi orang lain mereka semua adalah sampah masyarakat, tetapi bagi anak-anak Tuhan yang mengerti kebenaran firman Tuhan, mereka adalah ciptaan Allah yang berharga dan tidak menghina orang-orang seperti itu.

Puji Tuhan, Ia bukan saja melakukan maha karya dalam menciptakan kita manusia dalam creation. Ia juga melakukan maha karya itu di dalam Yesus Kristus yang menebus kita, membuat kita boleh menjadi anak-anakNya, Alkitab memakai kata kita adalah ciptaan yang baru, a new creation in Christ Jesus, 2 Korintus 5:17.

Bayangkan di hadapan Tuhan, seperti Paulus di bagian atas Efesus 2:1-3 berkata, kita patut menerima murka Allah, selayaknya kita dihukum olehNya, kita patut dibuang dari hadapan Allah, kita sudah hancur, kita sudah rusak, seperti barang loak  yang tidak ada harganya lagi. Orang pun mungkin sudah tidak menghargai kita lagi; yang ditelantarkan, yang dijual murah pun tidak ada yang mau ambil. Tetapi oleh kasihNya, Ia mencintai, Ia menerima, dan mengambil membawa kita pulang. Kita dibeli dan ditebus oleh darah AnakNya yang begitu mulia dan berharga, kita dijadikanNya ciptaan yang baru. Itulah yang menjadi keagungan dari masterpiece Tuhan di dalam hidup setiap orang percaya.

Itulah sebabnya kita harus menjadi anak-anak Tuhan yang bangun setiap pagi hari dengan semangat dan sukacita yang luar biasa, yang harus membuat kita penuh dengan joy, yang harus membuat kita menghargai pemberian Tuhan yang berarti dan bernilai ini. Hidup kita ini sudah ditebus, dibuat menjadi ciptaan baru, begitu indah. Hidup kita yang sudah hancur ini dibuatNya menjadi berarti. Itulah sebabnya kita tidak boleh menghina orang lain yang berdosa, memberi kesempatan kedua bagi setiap orang yang kembali kepada Tuhan dengan hancur dan remuk hatinya, karena Tuhan tidak pernah menolak orang-orang seperti itu. Itulah sebabnya kita harus menghargai dan memberi keindahan kepada orang-orang yang dicintai oleh Tuhan dan kita boleh melihat hidup seperti itu menjadi hidup yang berharga adanya.

Dan Tuhan tidak berhenti sampai di situ, hidup ini menjadi lebih indah lagi karena begitu kita turun dari tempat tidur, menyiapkan sarapan, berbelanja ke pasar, pergi ke tempat pekerjaan, membesarkan anak, itu semua adalah pekerjaan baik yang bukan tidak ada artinya dan bukan sesuatu yang sepele di dalam hidup ini. Itu menjadi good works yang Tuhan sediakan bagi engkau dan saya. Karena itu “sudah dipersiapkan sebelumnya,” berarti tidak ada hal yang kebetulan dalam hidup ini. Segala sesuatu sudah diatur dan direncanakan Tuhan dengan indah dan ditenun dengan baik olehNya di dalam hidup kita. Itulah konsep Predestinasi orang percaya. Kalau semua itu sudah dipersiapkan Allah sebelumnya, tidak usah kuatir; kalau semua itu sudah diatur oleh Tuhan dengan baik, mengapa kita perlu “ngeyel”? Kalau kita sudah tahu bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan dengan indah bagi kita, kita tidak perlu lagi kuatir dan kecewa, tidak usah merasa marah karena orang lain mendapat lebih daripada kita. Kita harus menikmati lot kita sebagai pemberian dan sukacita yang kita nikmati dari Tuhan kepada kita.

Kiranya firman Tuhan ini kembali memberi kekuatan dan kesegaran yang menggugah kita, jika kita selama ini merasa apa yang kita kerjakan tidak ada artinya, merasa semua yang kita kerjakan ini sia-sia, merasa semua yang kita kerjakan tidak dihargai oleh orang, oleh suami dan anak-anak kita, dsb. Jangan melihat good works berdasarkan seberapa banyak manfaat yang saya dapat daripadanya, tetapi lihatlah good works itu berdasarkan berapa besar blessing dan berapa besar kesaksian akan nama Yesus yang aku hasilkan dalam menjalani hidup ini. Jangan melihat good works karena pekerjaan itu huge, extravagance, berlimpah-limpah, sehingga kita dituntut untuk perform terus, tetapi lihat bagaimana Tuhan yang menyebut itu sebagai pekerjaan baik, maka kita jangan menghina semua yang kita rasa ordinary, petite, kecil atau bahkan rubbish, dan terlebih lagi jangan mengabaikan pekerjaan kecil yang dilakukan orang kepada kita.

Setiap kali bangun pagi, selain mengingat firman Tuhan mengatakan ini pekerjaan baik yang Tuhan sediakan bagi kita, apa yang perlu kita kerjakan dan lakukan di luar segala kerutinan kerja kita? Alkitab mengatakan doakanlah saudara seiman yang lain. Ini tidak perlu keluar uang banyak, tidak memerlukan banyak energy, tidak merugikan kita apa-apa, tetapi dengan lutut dan waktu kita pakai berdoa bagi orang lain.

Penulis Ibrani berdoa, “Maka Allah damai sejahtera… kiranya memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendakNya dan mengerjakan apa yang berkenan kepadaNya…” (Ibrani 13:20-21). Dalam Kolose 1:9-10 dan 2 Tesalonika 2:16 Paulus berkata, “Sejak waktu kami mendengar tentang imanmu, kami tidak henti-henti berdoa untukmu… supaya hidupmu layak di hadapanNya… berbuah dalam segala pekerjaan yang baik…” Mari mulai hari ini, maukah kita berjanji setidak-tidaknya memberkati anak-anak kita dengan doa? Jangan memulai harimu dengan keluhan betapa berat hidup ini, betapa sulit pekerjaan, betapa berat dengan boss, apa yang dipikirkan orang tentang engkau, buang semua pil itu. Bangun pagi hari dengan bersyukur dan berdoa.

Paulus berkata, waktu aku mendengar, aku berdoa bagimu. Biasakanlah saat bercakap-cakap dengan orang mendengarkan kesulitannya, kita mengatakan, “bolehkah kita berdoa sama-sama?” Mendoakan kesejahteraan orang, mendoakan kebaikan orang, mencintai apa yang dia kerjakan. Saat berbicara, saling bertanya tentang kabar masing-masing, biasakanlah saling memberkati dan mendoakan hidup dari masing-masing. Kita harus biasakan akan hal itu. Jangan terbiasa hanya mengeluarkan keluhan dan mengeluarkan ketidak-puasan serta kekecewaan kita terhadap hidup ini. Mungkin orang lain mengeluarkan hal-hal itu dalam percakapan mereka, tetapi kita dipanggil untuk mendoakan kesulitan dan persoalan orang-orang seperti itu. Kita mungkin tidak bisa melakukan apa-apa untuk menolong dia, kita terbatas tidak bisa membantu dalam banyak hal, tetapi pada waktu kita mengajak dia berdoa sama-sama terhadap apa yang dia alami, itu bukan sebagai basa-basi untuk orang itu merasa feel good. Waktu kita berdoa karena kita tahu Tuhan kita bisa mengerjakan dan melakukan banyak hal melampaui kekuatan dan kemampuan kita. Begitu mendengar kabarmu, aku berdoa untukmu, let good work be flourished in your life. Mari kita menjadi komunitas orang Kristen yang seperti itu. Kita pagi hari datang persekutuan doa juga dengan hati yang seperti itu, aku ingin memberkati orang dengan doa-doaku. Mendengar kesuksesan orang, biar hati kita ikut bersukacita dan mendoakan dia. Tidak sepatutnya kita menjelek-jelekkan orang lain demi supaya menunjukkan kita lebih baik daripada orang itu. Punya hati dan kebiasaan untuk senantiasa berkata kepada Tuhan mengawali harimu, “Tuhan, ini hari yang indah dan baik, aku memohon berkatMu untuk aku melakukan pekerjaan yang baik dan untuk menikmati hidup yang Engkau berikan untuk aku jalani.” Doakan anak-anak kita, supaya mereka juga melakukan good works dalam hidup mereka. Berdoa minta Tuhan memimpin kita apa good works yang Tuhan mau kita kerjakan bagiNya hari itu. Waktu menelepon teman dan saudara, tanyakan kabar mereka, senantiasa ingat mendoakan mereka dan menjadikan hal itu sebagai kebiasaan baik yang menjadi bagian hidup kita bagi orang lain.

Kiranya Tuhan memberkati dan kita menerima firman Tuhan ini dengan hati yang responsif karena firman Tuhan ini menjadi summary hidup engkau dan saya hari ini, sebab kita tahu itu semua adalah pekerjaan baik yang lahir dari hidup yang sudah ditebus oleh Tuhan, yang menghargai setiap pemberian Tuhan, yang melihat betapa baiknya Tuhan yang membentuk kita apa adanya sampai hari ini. Biar hidup kita boleh menjadi kepuasan bagi Tuhan sebab kita sendiri melihat betapa indah Tuhan membentuk kita. Biar kita menghargai hidup kita dan hidup orang-orang lain dimana Tuhan berkarya di dalam hidup mereka.(kz)