THE ALMOST PERFECT CRIME

The Almost Perfect Crime

 

Dia bermalas-malasan di sotoh istana, puncak yang tertinggi dari semua bangunan yang ada, simbol kebesaran tertinggi, sebab dia seorang raja. Bukan raja sembarangan, melainkan raja yang sukses, hebat, penuh bakat dan jiwa berani. Dia berselonjor malas-malasan, sebab tidak ada lagi yang perlu dibuktikan. Bawahan sedang pergi berperang merebut wilayah lain, dan jika berhasil maka wilayah itu toh akhirnya diklaim miliknya. Dia telah meraih segala hal. Dia telah menggapai dan menggenggam segala sesuatu. Sembari berbaring di kursi malas, matanya berputar melihat sekeliling. Sejauh matanya memandang, semua yang dilihat adalah miliknya.

Semua yang dipandangnya adalah miliknya-kah? Ternyata tidak! Ketika matanya melihat satu sosok wanita telanjang sedang mandi, tubuh molek ini milik orang lain. Wanita itu isteri orang lain, isteri Uria, bawahannya. Tetapi tubuh indah itu selalu terbayang dalam pikiran raja Daud, sayang jika dia tidak memilikinya. Bukankah dia seorang raja? Dan menjadi raja berarti terkandung di dalamnya segala hak untuk mendapatkan apa yang diinginkannya? He is craving for illicit sex, dia ngidam akan seks icip-icip yang terlarang. Maka…

Daud berselingkuh dengan Batsyeba. Nafsu ingin ini terpenuhi bukan karena dorongan birahi semata. Dia sedang berada di puncak kejayaan, reputasi tertinggi telah tercapai. Self-glory! Reputasi agung telah diraihnya sebagai pejuang yang berani berkorban. Dahulu rakyat berpantun, “Saul membunuh ribuan musuh, tetapi Daud membunuh jutaan musuh,” sekarang telah menjadi “national anthem.” Dia memakan buah terlarang ini sebab reputasi self-glory-nya besar dan perbuatan remeh ini tidak akan dipercayai orang. Siapa yang percaya Daud berselingkuh? Siapa yang percaya Daud berani tidur dengan isteri bawahan? Catatan sejarahnya memberitahu bahwa Daud memperlakukan wanita dengan terhormat. Ingat Abigail, istri Nabal, walau cantik tetapi Daud perlakukan dengan hormat. Di puncak jaya, Daud percaya dia berkuasa memperlihatkan good images apa yang harus ditonton dan menyembunyikan bayangan gelapnya dari publik. Almost perfect crime! Hampir sempurna perselingkuhan ini ditutupi tanpa jejak. Kecuali satu hal di luar scenario muncul: Batsyeba hamil!

Dari nafsu liar menghasilkan pikiran kotor, dan kini berkembang pikiran licik. Segera surat dilayangkan kepada panglima Yoab bahwa raja ingin mendengar berita terbaru dari medan perang dan khusus meminta Uria kembali untuk menjelaskan secara rinci. Ini berita penting, masalah keamanan negara. Raja Daud mengumpulkan tentunya para penasehat dan punggawa istana untuk mendengar current affair dari di medan perang. Di depan umum, Daud spontan menghargai jasa perjuangan Uria, padahal itu bukan penghargaan tetapi bribe, penyuapan, “Uria, pulanglah, lepas kangenmu kepada istrimu,” titah raja Daud. Di depan umum, penghargaan ini adalah “ maksud mulia” raja Daud, tidak ada seorang pun yang tahu di baliknya adalah maksud licik agar tersamarlah siapa bapak sesungguhnya dari janin di kandungan Batsyeba. Bahkan Daud membuat Uria mabuk agar Uria kehilangan kesadaran 100 persen, sehingga dia tidak terlalu yakin apakah telah tidur bersama istrinya atau tidak. Sungguh licik! Bukan saja raja Daud telah mencicipi harta indah Uria, sekarang dia mau mencederai akal sehat Uria. Banyak orang tahu bahwa Uria pulang dan jika nanti Batsyeba melahirkan anak, tentu itu anak Uria. Bukan itu saja, raja Daud juga terlihat sebagai raja yang memberikan penghargaan kepada Uria yang telah berjuang. Almost perfect crime! Kecuali satu hal muncul: Uria hanya tidur di luar. Orang lain boleh berpendapat bahwa kandungan Batsyeba adalah buah Uria, tetapi Uria tahu jelas nantinya jika anak itu lahir, anak itu bukan anaknya. Banyak orang bisa tersamar dengan pikiran licik Daud ini, tetapi akal sehat Uria tidak bisa ditipu. Sebelum semua motif licik ini muncul di permukaan kemudian hari, Uria harus dikubur habis. Harus sekarang! Sebab Uria belum tahu.

Sampai detik ini, semua rakyat tahu reputasi mulia raja Daud. Dia membunuh musuh, tidak pernah membunuh kawan dan rekan seperjuangan. Dia telah memberi yang terbaik dan berkorban bagi kesejahteraan rakyat dan senantiasa membenci ketidak-adilan terhadap perampasan hak orang kecil. Reputasi mulia raja Daud ini harus tetap terjaga sekalipun di dalam kelicikan jahat akan membunuh Uria yakni Uria harus mati, tetapi mati sebagai pahlawan. Ini bukan pembunuhan. Ini sebuah pengorbanan.

Keberanian dan dedikasi mati sahid dari Uria adalah kekuatan besarnya. Tetapi sekaligus loophole yang bisa dipakai. Karena dia berani dan berdedikasi, maka tidak akan ada yang curiga jika Uria dikirim ke barisan terdepan di medan pertempuran. Sejarah kerajaan akan mencatat Uria sebagai pahlawan yang gugur dengan gagah berani dan hanya segelintir orang yang tahu bahwa dia di plot untuk terbunuh. Ah, ini hanya rumor, sebuah kasak-kusuk saja.

Dari berpikir licik, kini raja Daud mengambil pikiran jahat dan gelap demi reputasinya tidak terbongkar. Pikiran gelap ini dituangkan di atas sebuah surat rahasia untuk diserahkan kepada panglima Yoab di medan perang. Surat ini diantar oleh Uria. Ia mengantar surat kematiannya sendiri. Sejauh ini, semua strategi pikiran jahat ini hanya ada di otak raja Daud. Dengan surat ini, dia beresiko rahasia ini sekarang diketahui oleh panglima Yoab juga. Daud yakin Yoab akan eksekusi permintaannya, sebab tangan Yoab juga bersimbah darah Abner yang tidak bersalah yang dibunuhnya. Dosa Yoab ini diperalat Daud sehingga Yoab pasti akan melakukan apa saja yang minta Daud dan dia tutup mulut. Dan “rahasia” Daud ini juga nantinya akan dipakai oleh Yoab untuk melakukan apa saja, termasuk melanggar semua titah Daud, dan Daud tidak berdaya menyentuh Yoab. Dua orang yang melakukan dosa yang sama akan saling menutupi dan saling memperalat.

Daud memang berkuasa dan hebat, bagai dewa, apa saja yang diinginkan didapat dan apa saja yang direkayasa tercapai. Pembunuhan Uria adalah rekayasa Daud dan Yoab. Tetapi berita yang sampai ke istana dan telinga rakyat: Uria gugur dalam peperangan. Berita sedih ini diam-diam diterima dengan gembira oleh raja Daud. Berita sedih ini tidak boleh berlalu begitu saja. Berita sedih ini, atau tepatnya kebusukan ini, harus dijadikan momentum kemuliaan. Pertama-tama, jenderal Uria segera dianugerahi bintang jasa utama dan pahlawan nasional. Kedua, janda dan keluarganya harus dipelihara hidupnya, maka raja Daud mengambil Batsyeba menjadi salah-satu dari istrinya. Sebuah klimaks yang manis: tidak ada rekayasa Daud membunuh Uria dan mendapatkan Batsyeba, melainkan Daud memelihara hidup keluarga pahlawan Uria dengan menikahi Batsyeba, jandanya yang sedang hamil. Dia bisa mengatur sedemikian rupa sehingga berbuat dosa, dia tidak dihukum dan menghilangkan nyawa seseorang dengan cara yang licik, dia dipandang berjasa menikahi janda orang yang dibunuhnya. Satu skenario yang mulus. Karena dia berpikir dia adalah tuhan. Almost perfect crime! Namun dia lupa, ada satu hal yang jangan takabur: ada Tuhan yang benar yang berdaulat. Tuhan yang tidak akan tinggal diam!

Siapapun mereka: pemimpin negara, pemilik perusahaan, ketua partai, ketua sinode atau jawara apapun, ketika mereka berlakon bagai tuhan maka mereka sedang dimabukkan oleh self-glory yang destruktif. Mereka yang berpikir bisa merubah dosa terlarang menjadi mulia diri, memutarbalik kesalahan dengan menuding orang lain, mencabut hak pelayanan seseorang dengan alasan menjalankan kehendak Allah, dan berpura-pura terlihat berjasa menolong padahal sesungguhnya bermaksud membunuhnya, semua itu menjadi skenario yang mulus karena mereka dipandang berkarisma, berjasa, berkorban dan berkarunia. Mereka berani melakukan sebuah perfect crime, sebab mereka yakin orang-orang tidak akan percaya ada hati yang gelap, hitam dan busuk di baliknya. Dan mereka akan semakin berani dan berani, semakin arogan dan arogan sebab perfect menjelang ending-nya sesuai perencanaan, sampai titik dimana Alkitab berkata, “Hal itu jahat di mata Tuhan” (2 Samuel 11:27). INGAT, Anda bukan tuhan! It’s just ALMOST perfect crime!

 

Mang Bijak