Mengalami Hidup Yang Berkemenangan

Sun, 16 Nov 2014 03:53:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Hadi Sugianto

Tema: Mengalami Hidup yang Berkemenangan

Nats: Lukas 22:3-6

 

Saya maklum kadang persoalan ekonomi menjadi persoalan yang tidak mudah untuk dihadapi siapapun. Sebuah keluarga muda yang mempunyai anak-anak yang masih kecil dengan keadaan ekonomi yang sangat sulit dari hari ke hari menghadapi tantangan bagaimana bisa survive melewati situasi-situasi seperti itu. Ada situasi-situasi yang tidak mudah yang harus kita hadapi, dan kita membutuhkan semacam satu solusi untuk bisa membawa keluarga hidup lebih baik. Kadang kita bisa tergoda mencari jalan pintas, kadang kita bisa tergoda menghalalkan segala cara untuk melakukan apa saja demi melewati situasi-situasi seperti itu, kadang pikiran kita begitu ruwet dan tidak lagi bisa mencerna dengan jernih jalan keluar apa yang Tuhan berikan bagi kita. Kita semua pasti punya pengalaman yang sama, soal tergoda menginginkan sesuatu yang kemudian kita mengambil sikap, mengambil tindakan lalu kemudian mungkin di belakang hari ada penyesalan dan merasa betapa bodohnya kita waktu itu, dsb. Ingin sukses, itu menjadi keinginan semua kita. Ingin berhasil, menjadi sebuah keinginan kita. Tetapi hati-hati jika mulai masuk di dalam pikiran kita ada rencana-rencana yang kalau kita hitung, dan kalau kita evaluasi secara moral yang umum juga mengatakan itu tidak benar, harusnya kita berhenti. Apalagi kalau diperhadapkan dengan Alkitab. Kalau yang umum saja mengatakan ini tidak benar, apa yang harus kita lakukan ketika Alkitab bilang tidak? Beranikah kita juga bilang tidak terhadap keinginan itu? Yakobus 1:14 mengatakan tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri karena ia diseret dan dipikat olehnya.

Apa yang harus kita lakukan supaya hidup kita berkemenangan? Hidup yang berkemenangan di dalam Tuhan yang pertama, engkau dan saya harus memiliki kewaspadaan terhadap keinginan. Keinginan itu adalah sebuah rasa yang Tuhan berikan kepada kita dan itu baik adanya. Tetapi dosa itu membuat keinginan yang ada di dalam hati kita gampang dijadikan tunggangan oleh Iblis untuk menjatuhkan kita. Kita boleh punya keinginan tetapi hati-hati dengan itu karena keinginan yang kuat pasti ada tujuan yang ingin segera dicapai. Dan hati-hati, si Jahat itu akan memasukkan rencana A, rencana B, sungguh bahwa itu menjadi pergumulan kita.

Dalam Lukas 22:3 dikatakan, “Maka masuklah Iblis ke dalam Yudas, yang bernama Iskariot, seorang dari kedua belas murid itu…” Kata ‘masuklah’ dalam bagian ini tidak dalam pengertian Iblis itu merasukinya kemudian orang itu bermanifestasi apakah suaranya berubah menjadi besar, ataukah tenaganya menjadi berlipat-lipat kuat, dsb. Alkitab dalam bagian lain menceritakan bahwa ada orang yang dirasuk Iblis kemudian bisa memiliki kekuatan yang berlipat-lipat, berapapun orang yang memegangnya dia pasti bisa lepas dan kemudian suara bisa berubah. Tetapi dalam konteks ini Iblis itu masuk dalam diri Yudas tidak dalam pengertian seperti itu. Yohanes 13:2 mengatakan Iblis itu telah membisikkan, memasukkan rencananya ke dalam hati Yudas, mempengaruhi jalan pikiran Yudas untuk mengkhianati Yesus.

Kasus ini sama dengan apa yang pernah dialami oleh Petrus ketika dia dihardik oleh Yesus, “Enyahlah Iblis sebab engkau bkan memikirkan apa yang dipikirkan oleh Allah melainkan apa yang dipikirkan oleh manusia.” Yesus pernah terang-terangan berkata kepada Petrus seperti itu karena Yesus melihat pikiran Petrus hari itu dikuasai benar oleh Iblis, sehingga Ia berkata, “Enyahlah Iblis…” dari Petrus.

“Lalu pergilah Yudas kepada imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah dan berunding dengan mereka, bagaimana ia dapat menyerahkan Yesus kepada mereka.” (Lukas 22:4). Sedikit latar belakang yang berkaitan dengan Yudas Iskariot, dari nama Yudas Iskariot ini diduga dia datang dari golongan Zelotis, golongan yang sangat nasionalis, mungkin dikatakan cenderung ultra nasionalis. Golongan ini sangat bersemangat memperjuangkan kemerdekaan orang Yahudi yang sedang dijajah bangsa Romawi. Pada waktu itu Yudas dan murid yang lain sama-sama berharap agar Yesus segera tampil sebagai mesias, sebagai seorang yang luar biasa yang bisa memimpin Israel melawan Romawi dan mereka memperoleh kemenangan. Karena yang ditunggu tidak segera terealisasi maka Yudas mencoba membuat sebuah skenario memperhadapkan Yesus dengan orang-orang yang membenciNya hari itu. Harapan dalam pikiran dan skenario Yudas adalah Yesus segera memberikan perlawanan dan segera memimpin pemberontakan pada hari itu. Yudas membuat skenario krisis bagi Yesus agar Yesus bertindak seperti yang Yudas pikirkan. Untuk skenario itu Yudas rela untuk menjadi orang yang mempertemukan Yesus dengan para imam kepala dan kepala Bait Allah. Keinginan yang sangat kuat untuk bebas dari penindasan bangsa lain itu dilihat oleh Iblis sebagai lubang yang besar untuk memasukkan rencana busuknya di dalam hati Yudas.

Dari sini kita belajar untuk hati-hati dengan segala keinginan yang muncul dalam hati kita. Sebuah peperangan rohani dalam hidup kita itu selalu dimulai pada saat keinginan itu muncul dalam hati kita. Kenapa? Kita semua hidup dalam situasi yang diperhadapkan dengan musuh yang sama, dia itu adalah seperti singa yang berjalan-jalan keliling setiap waktu untuk mencari celah dari hidup kita, kemudian dia menerkam kita pada saat kita lengah, pada saat kita membuka pintu hati kita. Siapakah itu? Alkitab mengatakan itu adalah Iblis. Keinginan itu seperti pintu yang kita buka dan Iblis mengambil kesempatan untuk masuk di dalamnya. Iblis akan menyiapkan sebuah skenario untuk dimasukkan ke dalam hati kita yang sudah ada keinginan itu dengan apa? Dengan cara-cara yang dia coba tawarkan kepada kita untuk mencapai keinginan itu.

Ada sebuah keluarga yang bergumul karena melahirkan sepasang anak kembar, yang salah satunya dalam keadaan sangat kritis. Saya datang ke rumah sakit dan di situ sang ayah minta didoakan. Sebelum berdoa, ayah ini berbicara dari isi hatinya tentang ketakutan dan kekuatiran yang ada, tentang apa yang dia buat, dan dia menyatakan pengakuan yang sangat mengejutkan. Dia mempunyai sebuah apotik yang menjual obat bebas maupun obat yang harus dibeli dengan resep dokter, salah satunya obat untuk aborsi. Di apotiknya dia menjual obat ini dengan keuntungan yang luar biasa dan dia mengakui pemasukannya yang terbesar justru dari menjual obat seperti ini, mensuplai kebutuhan praktek aborsi gelap. Pemasukan dari penjualan ini dia pakai untuk kebutuhan operasional membayar karyawan dsb. Menurut dia kalau tidak pakai cara itu, usaha dia tidak bisa survive. Tetapi sekarang saat dia menghadapi situasi seperti ini dengan anak yang dalam keadaan kritis, dia termenung dan berdiam di hadapan Tuhan, ada satu suara yang mengingatkan dia apa yang sudah dia lakukan selama ini dengan pekerjaannya. Dia begitu takut dengan anaknya yang sedang kritis, dia merasa bersalah karena dia sudah ikut mengaborsi begitu banyak bayi yang tidak bersalah karena obat yang dia jual. Dia meminta saya tolong doakan supaya Tuhan mengampuni dia. Maka saya memimpin dia berdoa, mengaku dosa dan selesaikan itu di hadapan Tuhan. Tidak berapa lama saya mendengar bahwa akhirnya anak itu meninggal. Sebuah keinginan untuk menutupi seluruh biaya operasional apotik, biaya kehidupan, membuat orang bisa membuka hatinya dan itu dipakai oleh Iblis menaruh rencananya untuk mencapai apa yang dia inginkan. Di dalam pekerjaan, ada berkat, juga ada bahaya; di dalam pekerjaan ada berkat, tetapi juga ada resiko. Tetapi kalau kita diperhadapkan ada berkat tetapi tahu itu salah, apakah kita akan terus jalan? Waspadalah terhadap keinginanmu karena Iblis melihat itu sebagai pintu yang dia akan masuk.

Yang kedua, kalau kita ingin hdup berkemenangan bersama Tuhan, waspadalah terhadap kelemahan. Lukas 22:5 “Mereka sangat gembira dan bermufakat untuk memberikan sejumlah uang kepadanya dan ia menyetujuinya…” Yudas adalah salah satu murid Yesus yang memiliki kelemahan dalam persoalan keuangan. Dalam sisi uang dia lemah. Yudas bukan seorang pemabuk, dia bukan penjudi, dia juga bukan pribadi yang suka main perempuan. Tetapi serius dia adalah pribadi yang punya persoalan dari sisi uang. Dia lemah dalam soal ini. Hampir semua kita mungkin bukan pemabuk, bukan penjudi, atau bukan seorang yang mempermainkan perempuan. Tetapi bagaimana jika kita diperhadapkan dengan uang, apakah itu menjadi sisi kelemahan kita? Karena uang orang bisa jadi kejam sama orang lain; karena uang banyak orang bisa meninggalkan Tuhan.

Di koran-koran Surabaya sedang gencar-gencarnya memuat berita bagaimana mungkin pendeta A memalsukan tanda tangan demi aset gereja? Gereja tidak terlalu besar tetapi mereka ada persoalan di situ, pendeta ditangkap kemudian dipenjara. Tetapi juga ada gereja yang lebih besar memiliki persoalan yang sama, yang saat ini juga sedang berjalan dan sedang diusut. Ada persoalan dimana-mana, bukan hanya di lingkungan yang kita biasa ketemu dengan orang-orang yang sekuler tetapi di lingkungan yang rohani pun ternyata pendeta punya kelemahan di sini.

Dalam Yohanes 12:5 Yudas adalah salah satu murid yang memprotes ketika Maria mempersembahkan minyak narwastu yang mahal dituangkan di kaki Yesus dengan alasan Yudas hari itu berkata, “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual 300 dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” Apa yang dikatakan Yudas itu nampak sangat rohani tetapi Alkitab mencatat itu bukan alasan yang tulus dari hati Yudas melainkan lahir dari hati yang suka mengambil uang yang disimpan dalam kas yang selama ini dia pegang dalam perjalanan pelayanan bersama Yesus. “Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; Ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya” (Yohanes 12:6). Keinginan Yudas yang kuat untuk membebaskan bangsa Israel dari bangsa Romawi juga memiliki soal keinginan yang kuat ketika diperhadapkan dengan persoalan uang dalam hidupnya. Kelemahan Yudas dalam persoalan keuangan adalah semacam penyakit dalam kehidupan rohaninya.

Ketika usia kita makin bertambah kita mulai tahu penyakit-penyakit apa yang kerasan tinggal dalam tubuh kita. Disuruh keluar tidak keluar-keluar. Dikasih obat ya tetap saja dia tinggal. Sehingga ketika kita tahu ada kelemahan di situ kita mulai jaga makan, pola hidup kita mulai kita jaga sedemikian rupa demi kehidupan yang lebih baik. Kalau kita punya penyakit jasmani kita upayakan untuk disembuhkan, bagaimana kalau kita sadar bahwa kita juga punya kelemahan penyakit dalam sisi rohani kita? Apakah yang kita pikirkan tentang hal ini? Apakah yang perlu kita waspadai dalam soal ini, karena ini soal serius. Iblis akan terus mencari celah dengan memperhatikan kelemahan kita.

Daud lemah soal wanita, demikian juga dengan Salomo anaknya. Saul lemah dalam soal kekuasaan, sehingga yang terjadi Alkitab menceritakan betapa orang ini menjadi sangat kejam demi kekuasaan. Musa jatuh di dalam kemarahannya sehingga kejatuhan itu membuat Tuhan berkata engkau tidak boleh masuk ke tanah Kanaan, sekalipun dia adalah orang yang berjuang hebat untuk memimpin Israel sejak keluar dari Mesir. Setelah di ujung mau masuk ke tanah Kanaan, Tuhan berkata, tidak, berhenti di sini.

Apakah kita mengenal kelemahan kita, yang secara rohani itu gampang membuat kita jatuh, gampang membuat kita tidak berdaya, gampang membuat kita berdosa di hadapan Tuhan? Itu harus kita tahu dengan betul-betul dan kita perlu juga tahu bagaimana cara mengatasinya. Setiap kita harus tahu kelemahan kita. Yudas itu lemah dalam soal uang sehingga apa yang terjadi itu sebagai pintu masuk Iblis masuk di dalamnya. Hancur hidup dia akhirnya.

Yang terakhir, apa yang harus kita perhatikan supaya hidup kita berkemenangan? Yang ketiga, waspadalah terhadap kerasnya hati. Dalam Lukas 22:6 dikatakan  akhirnya Yudas itu menyetujui skenario yang ditawarkan oleh Iblis dan kemudian dia juga menerima sejumlah uang yang juga ditawarkan hari itu. Di sini kita melihat hati Yudas menjadi keras sebab terlihat dengan sikapnya, dia menyetujui. Maka mulai hari itu Alkitab mencatat dengan jujur mulailah Yudas mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus. Kata ‘mencari’ di sini dalam pengertian berusaha untuk mendapat, atau menuntut diri sendiri untuk mendapatkan kesempatan itu. Bayangkan, Yudas itu sudah sampai kepada tahap seperti ini keras sekali, sampai dia selalu mencari kesempatan, dia menuntut dirinya harus dapat. Sekalipun dia tahu sebelum-sebelum itu adalah sebuah skenario yang keliru. Keadaan ini boleh dikatakan Iblis benar-benar sudah menguasai hati dan pikiran Yudas. Sama seperti yang dilakukan oleh isteri Potifar yang dari hari ke hari dia merayu Yusuf sampai akhirnya dengan paksa dia mengajak Yusuf tidur dengannya (band. Kejadian 39:6-12). Orang yang dalam keadaan seperti ini biasanya tidak lagi peduli dengan cara yang dia pakai untuk mencapai keinginannya. Yudas tidak peduli apakah Yesus siap atau tidak siap dengan skenario krisis yang tadi. Orang seperti ini tidak peduli jika diperhadapkan dengan orang-orang yang memusuhinya, yang penting bahwa Yesus harus tampil membawa bangsa Israel menang melawan bangsa Romawi, padahal Yesus datang ke dalam dunia ini bukan tujuannya adalah untuk itu.

Sejak peristiwa Yudas itu dimasuki oleh Iblis, ada rentang yang panjang sampai kepada peristiwa di Getsemani, benar-benar Yesus menjumpai Yudas dan kemudian Yesus ditangkap. Peristiwa apa itu? Peristiwa yang berbicara tentang penetapan persiapan Paskah, hari itu Yesus berkata kepada murid-muridNya, sekarang pergi cari tempat, kita akan mengadakan perjamuan. Ini adalah kesempatan untuk Yudas itu bisa berpikir ulang, berpikir balik. Dalam perjamuan malam itu Yesus mengingatkan dengan halus, sesungguhnya ada seorang di antara kalian yang akan menyerahkan Aku. Yesus menyindir dan Yudas ada di situ, tidak juga mempan. Kemudian kesempatan yang terakhir dalam percakapan waktu perjamuan malam, ketika mereka bercakap-cakap satu dengan yang lain ada pertengkaran di situ antara para murid, Yesus mencoba meluruskan memberikan pengertian kepada mereka, juga Yudas tidak segera berbalik arah untuk membatalkan apa yang disetujui pada saat-saat sebelumnya. Terus berjalan sampai akhirnya benar peristiwa Getsemani itu terjadi, Yudas datang menemui Yesus dengan mencium Yesus dan hari itu Yesus ditangkap.

Dari sini kita belajar apa? Hati-hati jika kita mendengar nasehat dari siapapun yang didasarkan dari kebenaran firman Tuhan. Hati-hati jika kita mulai fokus hanya kepada hasil dan tidak peduli kepada proses untuk mencapai apa yang kita inginkan. Kita benar-benar harus bisa membedakan proses dan hasil dan dua-duanya harus menjadi perhatian yang sungguh serius kita pikirkan. Hasil boleh kita tetapkan tetapi proses perhatikan dengan baik. Untuk mencapai hasil itu prosesnya bagaimana? Adakah Tuhan di situ ikut juga berproses dengan kita?

Ini adalah satu bagian yang perlu kita renungkan dan kita pikirkan dalam hidup kita. Saya tidak tahu apa yang sedang sdr pikirkan hari ini. Memikirkan hasil adalah suatu hal yang siapapun kita harus memikirkan itu, tetapi apakah hati kita tetap lembut di hadapan Tuhan? Jangan sampai ada hati yang keras ketika pikiran tentang hasil itu sudah di kepala. Pikiran tentang hasil yang ada di kepala sertailah dengan hati yang lembut untuk belajar taat kepada Tuhan. Kita harus waspada ketika hati kita mulai keras. Kita harus sungguh-sungguh mengetahui dan mengenal diri kita dengan baik. Keinginan, hati-hati, orang bisa memanfaatkan. Kelemahan, hati-hati, orang bisa memanfaatkan. Hati keras kita, orang bisa memanfaatkan. Kita tahu Iblis lebih hebat daripada itu.

Sdr ingin hidup berkemenangan bersama Tuhan? Mendekatlah kepada Tuhan dan waspadailah hidupmu. Itulah sebabnya Mazmur 1:1 mengatakan, ”Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh…” berjalan, berdiri dan duduk itu prosesnya ada. Kalau ngomong sambil berjalan itu sekenanya. Tetapi kalau sudah berdiri, itu bisa lama. Tidak peduli isteri menunggu, kalau sudah berdiri mengobrol bisa lupa waktu. Yang celaka kalau lawan bicara kita mengajak duduk. Itu lebih panjang lagi. Jadi ada proses, berjalan, berdiri, duduk. Maka Alkitab ingatkan hati-hati.

Filipi 4:8 mengatakan “Jadi akhirnya semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu…” Kenapa? Karena inilah senjata kita untuk melawan, untuk hidup di dalam kemenangan bersama dengan Tuhan. Alkitab sudah memberikan senjata untuk kita miliki supaya kita boleh hidup di dalam kemenangan.

Saya tidak tahu pergumulan apa yang sedang engkau alami sehingga engkau hidup di dalam kekalahan demi kekalahan, sehingga engkau juga tidak mendapatkan damai sejahtera di dalam menjalani hidup. Rajin ke gereja, tetapi damai sejahtera tidak menjadi bagian kita. Berdoalah di hadapan Tuhan secara pribadi, minta Tuhan menolong hidupmu supaya sungguh kita boleh hidup berkemenangan bersama dengan Tuhan. Hidup kita terbuka di hadapan Tuhan, Tuhan mengenal diri kita dengan baik. Kiranya Tuhan menolong kita. Jika kita memiliki begitu banyak keinginan, kita meyakini bahwa itu adalah sesuatu hal yang baik karena Tuhan memberikan rasa ingin dalam diri kita. Tetapi kita sadar bahwa ada dosa yang juga ada di dalam hidup kita. Kiranya Tuhan menolong kita untuk sungguh-sungguh dapat hidup penuh dengan kewaspadaan terutama ketika keinginan itu mulai dimasuki dengan rencana-rencana yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Tuhan tahu kelemahan kita terhadap sesuatu, kiranya kita boleh selalu waspada menjaga hidup terhadap kelemahan itu. Tuhan juga tahu hati yang keras karena setiap kita punya pengalaman dengan hati yang keras. Banyak nasehat kita abaikan. Kita tidak peduli karena kita ingin apa yang kita mau itu tercapai. Kiranya Tuhan mengasihani kita dan membawa kita kembali kepada hidup yang sungguh Dia berkati, kehidupan yang penuh dengan kelembutan di hadapan Tuhan, mengasihi Tuhan, dekat dengan Tuhan.(kz)