Hidup yang Layak dan Berkenan kepada Allah

Sat, 08 Nov 2014 23:05:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Tema: Hidup yang Layak dan Berkenan kepada Allah

Nats: Kolose 1:9-14

 

Dalam Kolose 1:9-14 kita menemukan doa yang agung dari rasul Paulus kepada Jemaat Kolose setelah dia mendengar tentang iman mereka di dalam Yesus Kristus. Paulus tidak henti-hentinya mendoakan beberapa hal ini kiranya boleh terjadi di dalam hidup mereka dan hari ini saya pun berdoa kiranya juga boleh terjadi di dalam hidup kita semua. Pertama, supaya hikmat Allah selalu ada di dalam hidup kita, sehingga setiap kali kita mengambil keputusan kita boleh berjalan di dalam kehendak Allah, dan di dalamnya kita berkenan kepada Allah senantiasa. Kiranya setiap kita boleh melangkah dengan pengenalan akan Allah makin hari makin benar adanya.

Bagaimana Tuhan mau kita menjalani hidup ini secara praktis sebagai masterpiece of God? Pertama, setiap kali kita mengambil keputusan, belajar bagaimana berjalan di dalam hidup ini kita melakukannya seturut dengan kehendak Allah dan berkenan kepadaNya. Paulus berkata, “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1 Korintus 10:31).

Namun seringkali pada waktu kita bilang kita mau ambil keputusan atau kita ingin hidup berjalan di dalam kehendak Tuhan, setelah kita ambil keputusan itu, pikiran kita terus-menerus akan selalu balik bertanya lagi, apakah saya sudah mengambil keputusan yang benar? Kita terganggu dengan pertanyaan ini sebab kita takut sekali mengambil keputusan yang salah, karena kita takut sekali di dalam keputusan yang salah itu mengandung konsekuensi bagi kita. Lalu kita juga sering terpengaruh dengan pandangan orang bahwa kita harus ‘do the right thing’ terus-menerus di dalam hidup ini.

Mari kita memikirkan lebih dalam, pada waktu kita mengambil keputusan di dalam hal menyenangkan hati Tuhan, ayat ini mengajak kita melihat aspek yang lebih dalam yaitu apakah di dalam setiap hal yang kita kerjakan dan lakukan kita terlalu fokus dengan diri kita sendiri ketimbang berfokus kepada siapa Tuhan itu dalam hidup kita? Kita bisa membuat kesalahan dan kadang-kadang kesalahan itu mengandung konsekuensi dalam hidup kita dan itu tidak bisa dihapus dari hidup kita. Tetapi kalau kita punya pemahaman bahwa Allah in control, Allah adalah Perencana yang agung dan Allah penuh dengan kasih dan rahmat maka kita akan percaya Allah sanggup menjadikan hal-hal yang salah dan tidak baik menjadi keindahan di dalam hidup kita. Itu point yang ingin saya angkat. Sehingga kita tidak perlu anxiety dan tidak perlu merasa Tuhan akan men-judge kita “See, I told you,” karena kita salah melangkah dan harus menanggung konsekuensi akibat kesalahan itu.

Orang Kristen sering merasa anxiety dalam perjalanan mengikut Tuhan. Memang betul kita selalu mau mengambil keputusan yang menyenangkan hati Tuhan dan seturut dengan kehendakNya. Tetapi kita selalu anxiety karena kita selalu dipengaruhi oleh konsep ini: kamu harus ambil keputusan yang sesuai dengan yang Tuhan punya mau, kalau kamu sampai salah ambil keputusan, bukan seperti yang Tuhan mau dan yang sudah Tuhan atur dalam blueprint-Nya, maka engkau akan mendapat yang “the second best.” Konsep “the second best” ini juga seolah-olah kita yang berjalan di depan dan Allah mengikuti dari belakang, Allah hanya bersikap reaktif terhadap apa yang kita lakukan, tetapi tidak aktif memelihara dan memimpin kita meskipun di dalam keputusan kita yang salah.

Waktu mencari jodoh, harus betul-betul yang sesuai dengan kehendak Tuhan karena Tuhan dalam kekekalan sudah atur jodohmu adalah si “A.” Kalau kamu tidak hati-hati, atau kamu sembarang ambil keputusan ambil si “B” maka kamu dapat yang “the second best.” Maka pada waktu suami isteri sering cekcok dan ribut, akhirnya merasa memang salah pilih. Apalagi ternyata pria yang dulu diputus sekarang jadi orang sukses dan kaya, akhirnya melihat suami sebagai “the loser” yang akibat salah pilih akhirnya bikin hidup menderita. Ini adalah pikiran keliru yang terjadi sebab engkau mengira telah berjalan berbeda dengan kehendak Allah sehingga pada waktu mengalami hal yang tidak menyenangkan, konsep inilah yang selalu muncul.

Bagi saya konsep ini sangat keliru. Pertama, bagaimana kita bisa tahu bahwa yang engkau dapat adalah “the second best”? Kedua, bagaimana kita bisa tahu bahwa yang dari Tuhan itu betul-betul kita bisa tahu? Tidak bisa, bukan? Ketiga, konsep “the second best” membuat kita memiliki pemahaman akan Allah yang agak keliru, seolah-olah setelah engkau mengambil keputusan lalu menghadapi tantangan kesulitan Tuhan lepas tangan.

Mari kita lihat beberapa aspek mengenai Allah dan di situ kita tahu Allah in control sepenuhnya. Alkitab mengingatkan kita Allah itu berdaulat sepenuhnya, di dalam setiap aspek yang paling kecil pun Allah itu bekerja di dalamnya, bahkan dalam hal yang kita tidak pernah pikir itu sesuatu yang penting dalam hidup kita (band. Matius 10:29-30). Allah berdaulat, Allah takes control in everything. Dia selalu aktif. Dia tidak bersifat reaktif dalam arti setelah kita melakukan sesuatu lalu baru Tuhan tahu apa akibatnya bagi kita. Allah kita itu in control sehingga Dia bisa merencanakan hal yang agung, termasuk Dia bisa incorporate hal-hal jahat yang direncanakan orang terhadap kita menjadi kebaikan bagi kita (band. Kejadian 50:20). Ketiga, Alkitab senantiasa mengingatkan pemeliharaan Tuhan, penyertaan Tuhan, pimpinan Tuhan kepada kita diilustrasikan dengan satu hubungan Gembala memimpin dombaNya. Setiap kita adalah domba-domba Allah, Allah adalah Gembala kita yang agung, Dia terus pimpin hidup kita. Dan Yesus mengingatkan kita dalam Yohanes 10:11, Dia adalah Gembala yang sejati, yang memberikan nyawaNya bagi domba-dombaNya. Waktu bahaya dan tantangan datang, Dia akan berjalan di depanmu.

Dalam Mazmur 80:2 Pemazmur di sini berkata, “Hai Gembala Israel, pasanglah telingaMu. Engkau yang mengiring Yusuf sebagai kawanan domba. Ya, Engkau yang duduk di atas kerub, tampillah bersinar…” Dua hal muncul di sini. Pemazmur menyatakan Allah kita duduk bertahta di atas kerub malaikat, memberitahukan kepada kita Allah itu transcendent, suci, agung dan mulia. Dia bertahta di atas para malaikat dengan sinar kemuliaan mengelilingiNya. Tetapi sekaligus ayat ini memberikan gambaran Dia mau seperti seorang gembala yang siap kotor, penuh dengan bercak lumpur menggembalakan domba-dombaNya. Dia turun menjadi immanent, berada di tengah-tengah kita. Inilah gambaran tentang Tuhan gembala kita. Namun yang indah mazmur ini juga secara spesifik memilih nama seseorang, yaitu Yusuf. Bukankah nama yang biasanya disebutkan adalah Abraham, Yakub atau Musa? Kenapa kali ini nama yang disebut adalah Yusuf? Unik sekali, Tuhan adalah Gembala bagi Yusuf. Betapa menakjubkan ayat ini. Bayangkan jika hidup Yusuf adalah hidup kita, jikalau semua mimpi dan cita-cita kita hancur dalam sekejap karena segala persepakatan jahat dan iri hati dari saudara-saudara sendiri; dari seorang anak yang paling disayang di tengah keluarga menjadi seorang budak yang rendah dan tidak berdaya; apakah kita masih bisa mengatakan itu adalah penggembalaan Allah? Menjadi seorang budak dan kemudian difitnah dan dilempar ke dalam penjara tanpa ada kesempatan membela diri dan kesempatan keluar dari lubang penjara yang gelap sirna untuk selamanya, bisakah kita mengatakan Allah menggembalakan kita di situ? Dari ayat ini kita baru bisa menemukan keindahannya bagi Yusuf, “Allah mengiring aku sebaga domba gembalaanNya” karena kalimat ini keluar dari Yusuf, “Kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan…”

Kedua, seringkali pada waktu kita ikut Tuhan kita ingin berkenan kepadaNya, kita membuat keputusan-keputusan yang selalu dipengaruhi oleh konsep bahwa kita harus berjalan di jalan sempit dan susah, karena itu yang Tuhan mau. Akhirnya kita merasa guilty kalau ada tawaran yang lebih baik yang kita ambil karena dalam hati sedalam-dalamnya merasa Tuhan sebenarnya mau kita ambil pilihan yang lebih jelek. Ada orang yang cenderung memilih mengabaikan pilihan yang baik dan memilih yang kurang semata-mata karena dia pikir dengan pilihan itu dia menyenangkan hati Tuhan. Ada hamba Tuhan yang merasa guilty mengambil keputusan memilih pelayanan di gereja besar di kota besar dan menolak tawaran pelayanan di gereja kecil di pedalaman. Ada orang Kristen yang memilih bekerja di perusahaan kecil dengan gaji kecil karena merasa Tuhan mau dia bekerja di situ ketimbang memilih bekerja di perusahaan besar dengan gaji besar.

Konsep ini terbentuk karena menafsir perkataan Yesus, “Masuklah melalui pintu yang sesak itu… karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan…” (Matius 7:13-14). Apa artinya berjalan di jalan yang sempit? Apakah berarti sebagai orang Kristen Tuhan mau kita harus memilih hidup susah dan menderita? Akhirnya konsep ini membuat orang Kristen berpikir Tuhan

memiliki kemauan yang bertentangan dengan desire dan keinginan kita, sehingga ada rasa guilty di dalam membuat satu keputusan kalau kita merasa keputusan itu hanya untuk pleasing us.

Dalam Lukas 7:33-34 Yesus berkata, “Anak Manusia datang, Ia makan dan minum…” Yohanes Pembaptis seorang yang serius, tidak pernah datang ke pesta, diajak makan dan minum, tidak mau. Orang mengejeknya sebagai orang aneh, kerasukan setan. Yesus sebaliknya, diajak pemungut cukai datang ke pesta, Dia datang; diundang ke perjamuan pesta kawin di Kana, Dia datang. Sampai di tempat itu, apakah Yesus ‘spoilt’ acara pesta dengan wajah cemberut dan serius di tengah orang-orang yang bergembira dan tertawa ria? Atau Dia ikut menari dan meramaikan suasana? Saya percaya Yesus tidak demikian. Maka ayat ini bilang, orang mengejekNya sebagai pelahap dan peminum, a glutton and a drunkard, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Yesus bersukacita dengan orang yang bersukacita, Yesus menangis dengan orang yang menangis.

Mazmur 37:4 berkata, “Delight yourself in the Lord, and He will give you the desires of your heart.” Memang kita harus mengakui sebagai orang berdosa terkadang desire hati kita tidak sempurna, kita egois dalam menginginkan sesuatu. Itulah sebabnya kita perlu koreksi desire kita, apakah desire kita itu pleasing Allah. Tetapi sebaliknya kita tidak boleh punya pikiran bahwa keinginan Allah selalu bertentangan dengan desire kita. Ayat ini mengatakan bahwa orang-orang yang delight themselves di dalam Tuhan Allah, hati mereka akan desire kepada the right things. Di situ terjadi harmonisasi antara keinginan kita dan sukacitanya Allah, dan apa yang kita inginkan di dalam Tuhan akan diberikan olehNya. Dan pegang satu prinsip penting, Allah kita adalah Allah yang murah hati, Allah yang generous, Allah yang senang kita senang. Dia adalah Allah yang bersukacita melihat anak-anakNya bersukacita. Bahkan Allah akan generously memberi kepada anak-anakNya dan jangan dianggap sebagai Allah yang berusaha ingin mengambil sukacita dan joy dari hidup kita.

Dalam 1 Timotius 6:17 Paulus berkata, “Peringatkanlah kepada orang-orang kaya…” Ayat ini sering ditafsirkan bahwa Tuhan tidak suka kepada orang kaya, membenci orang kaya dan tidak senang orang menjadi kaya. Tetapi ayat ini sama sekali tidak memberikan indikasi seperti itu. Paulus mengatakan kepada Timotius untuk mengingatkan orang kaya agar jangan bersikap salah kepada kekayaan, yaitu dengan bersandar kepada kekayaan sebab kekayaan adalah sesuatu yang tidak tentu dan tidak bisa disandari. Tempat persandaran yang kokoh dan yang kuat untuk disandari adalah Allah, yang dalam kekayaanNya dengan murah hati memberikan segala sesuatu untuk kita nikmati. Allah bukan Tuhan yang menahankan sukacita anak-anakNya.

Kembali kepada Kolose 1:10 “bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah…”menjadi doa Paulus supaya setiap anak Tuhan boleh mengenal Tuhan yang benar dengan benar. Apakah ada kemungkinan kita bisa salah mengenal Tuhan? Bukankah kita menjadi percaya Tuhan setelah kita tahu dan diyakinkan bahwa Ia adalah Tuhan yang benar? Apalagi kalau sdr sudah lama percaya Tuhan, rajin baca Alkitab, Bible study, bahkan sudah pelayanan menjadi guru Sekolah Minggu dan pemimpin small group. Kenapa kita perlu didoakan supaya boleh mengenal Tuhan dengan benar? Alkitab memberi warning kita bisa saja sudah percaya dan mengenal Allah, tetapi konsepsi pengenalan kita mengenai Allah yang benar itu tidak benar-benar benar. Dalam Yakobus 2:19 Yakobus berkata, “Engkau percaya bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik. Tetapi setan-setan pun percaya akan hal itu…” Yakobus mengatakan bagaimana engkau membuktikan bahwa engkau beriman kepada Allah? Percaya Allah itu hal yang intrinsik dalam hati seseorang, tidak bisa dilihat oleh orang lain. Tetapi apa yang engkau percaya di dalam hatimu akan nyata melalui apa yang keluar dari hidupmu. Maka Yakobus mengatakan memiliki ‘cognitive understanding’ mengenai siapa Tuhan itu bukan otomatis berarti engkau mengenal Tuhan. Kalau hanya mengenal Tuhan secara cognitive saja, tidak beda dengan setan karena setan pun kenal Tuhan secara cognitive. Maka ayat ini menyatakan pengenalan akan Allah yang benar secara cognitive belum tentu membuat kita mengalami Allah yang benar itu dalam hidup kita. Seringkali kita banyak tahu hal-hal tentang Allah dengan akurat dan tidak keliru, tetapi waktu kita menjalani hidup kita ini ada gap yang besar dengan pengetahuan itu.

Dalam buku “Christian Atheist” yang ditulis oleh Craig Groeschel mengingatkan orang Kristen bisa saja mengatakan dia percaya kepada Allah tetapi hidup seolah-olah Tuhan itu tidak exist. Percaya akan Allah ada tetapi dalam hidup sehari-hari kepercayaan itu tidak membuat hidup kita menampakkan Allah itu sunnguh ada. What you believe itu tidak transform dengan apa yang kita hidupi sama-sama.

Kenapa kita menjalani hidup ini, kita percaya Allah tetapi hati terus penuh dengan kekuatiran? Kenapa kita menjalani hidup seperti ini, kita percaya Allah tetapi kita tidak pernah berbakti ke rumah Tuhan? Kalau kita percaya akan Allah, tetapi hidup sehari-hari lebih trust kepada uang, itu berarti kepercayaanmu hanya sampai kepada aspek cognitive tetapi tidak menyentuh hidup seutuhnya.

Galatia 6:7 menjadi warning yang sangat serius, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diriNya dipermainkan…” Do not be deceived. Sesatnya dimana? Pertama, kita mocking God, kita menghina dan mempermainkan Allah. Kedua, kita playing God, kita menempatkan diri menjadi allah. Allah tidak bisa dipermainkan, Allah tidak bisa diperlakukan seperti itu. Di hadapan Allah yang agung dan dahsyat itu, kita sepatutnya gemetar.

Dalam buku “A Dangerous Calling,” Paul David Tripp menulis buku yang menggembalakan hati para gembala, perlu dibaca oleh semua orang yang melayani Tuhan. Tahun 2012 Paul Tripp mengundurkan diri dari posisi sebagai anggota advisory board dari sebuah mega-church sebab pemimpin dari gereja itu tidak bisa dan tidak mau menerima segala masukan dan teguran untuk sikap kepemimpinan dan perlakuannya yang brutal, abusive dan bullying di dalam pelayanannya. Di situ gereja tidak lagi menjadi tempat dimana anak-anak Tuhan bisa mengingatkan satu sama lain, memberi teguran kalau ada yang salah supaya kita menjadi anak-anak Tuhan yang lebih indah dan lebih baik. Sifat ego dan self-glorification itu menjadi titik kejatuhan dari banyak pemimpin gereja besar, playing God. Kalau sampai seorang pendeta memakai uangnya memenjarakan pendeta yang lain, kalau sampai satu pendeta tetap menjadi hamba Tuhan berdiri di mimbar padahal hidup moralnya tidak beres, ada menghamili pembantu, berselingkuh dengan wanita lain, tetapi tidak ada yang berani dan bisa menegur dan tidak ada satu sarana atau sistem dimana pendeta itu di-reproof, rebuke dan ditegur tidak benar, sebab seluruh sistem kontrol dan power dipegang oleh orang itu sendiri. Itu bagi saya adalah aplikasi yang ingin disampaikan dari Galatia 6:7 ini. Jangan sesat! Allah tidak akan membiarkan diriNya dipermainkan. Apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. You tidak bisa playing God. Kita yang melayani Tuhan jangan pernah kehilangan the awesomeness of God, kekaguman kita akan keagungan, kebesaran dan kemuliaan Allah di dalam pelayanan. Terlalu biasanya kita melayani Tuhan bisa membuat kita lupa bahwa Tuhan itu agung dan mulia. Kedua, jangan takabur akan jati diri siapa kita. Itu dua fondasi penting bagi setiap kita yang melayani Tuhan.

Orang yang punya bakat karunia dan karisma yang terlalu tinggi di atas bisa membuat semua kejahatan, kekotoran dan kebusukannya yang tersembunyi di bawah tidak dilihat dan dipandang orang karena semua mata memandang ke atas dengan kagum, akhirnya membuat orang itu merasa dirinya untouchable. Sehingga dia dengan berani dan arogan melakukan kesalahan-kesalahan, karena dia tahu orang tidak akan percaya bahwa dia serendah itu melakukan hal itu.

Itulah sebabnya Galatia 6:7 ini harus selalu menjadi ingatan penting bagi setiap kita, no matter siapa, apakah dia seorang yang dari luar kelihatan spritualitasnya super. Senantiasa tanyakan dalam hati kita, apakah pelayananku membawaku semakin mengenal Tuhan yang benar ataukah saya membuat diriku lebih utama daripada Tuhan yang aku layani? Apakah saat aku menggembalakan sebuah gereja, aku membawa jemaat lebih mengenal, mengerti dan mengagumi Tuhan atau mengagumi diriku belaka?

Apapun yang kita lakukan, segala keputusan yang kita ambil harus mengarah kepada satu hal dan itu yang tidak akan pernah membuat kita takabur dan sombong karena kita makin mengenal Tuhan lebih dalam dan lebih dalam lagi. Kita mengalami Tuhan yang baik, Tuhan yang indah, Tuhan yang penuh kasih dan rahmat, Tuhan yang in control, Tuhan yang menjadi Gembala yang tidak akan pernah merencanakan hal yang jahat dan merusak hidup kita. Tuhan yang adil, suci dan baik, Tuhan yang tidak bisa dipermainkan. Biar sentralitas hidup kita adalah memuliakan Allah yang agung, mulia dan ajaib itu selama-lamanya.(kz)