Hidup dan Berjalan di dalam Firman

Sun, 30 Nov 2014 11:46:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Tema: Hidup dan Berjalan di dalam Firman

Nats: Kolose 1:9-14, Roma 8:28, Ibrani 1:2, 4:12.

 

Bagaimana sehari-hari kita mengambil keputusan dalam hidup?Bagaimana kita berjalan mengikut Tuhan di dalam dunia ini?Adakah kita menaruh hidup ini dengan jangkar yang berakar kuat kepada firman Tuhan?Dalam Kolose 1:9-14 setelah mendengar iman dari anak-anak Tuhan kepada Tuhan Yesus Kristus di Kolose maka Paulus tidak henti-hentinya berdoa bagi mereka. Paulus berdoa bagi pembangunan spiritual, pertumbuhan kedewasaan rohani mereka. Paulus berdoa kiranya hal-hal ini semua ada di dalam hidup anak-anak Tuhan: menjadi orang Kristen yang penuh dengan bijaksana, bertumbuh dalam segala hikmat dan pengertian yang benar, sehingga keputusan dan tindakan apapun yang kita ambil senantiasa berkenan kepada Tuhan dan bukan saja kita berbuah dalam segala pekerjaan yang baik tetapi yang paling penting ialah kita makin mengenal siapa Tuhan yang kita sembah itu.

Kita tidak akan pernah terhindar dari segala macam hal yang akan terjadi di dalam hidup kita. Kita juga tidak boleh hanya berpikir Tuhan berkenan kepada keputusan yang kita ambil kalau semua berjalan lancar dan baik. Kalau kita terus berpikir seperti itu maka kita pasti tidak akan pernah berani mengambil keputusan yang beresiko; kita tidak berani mengambil keputusan yang kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan dan hanya ambil keputusan kalau tahu jalannya aman. Apakah demikian prinsip yang kita pegang dalam menjalani hidup ini?Saya percaya Alkitab tidak berkata begitu.

Yang kedua, mari kita berespons dengan benar, Allah yang benar hanya bisa kita ketahui sebab Allah yang benar itu menyatakan diriNya kepada kita. Dan tidak ada tempat penyataan diri Allah yang paling lengkap dan paling sempurna selain daripada Alkitab, firman Tuhan, nafas Tuhan, apa yang menjadi pikiranNya, apa yang Dia mau, apa yang menjadi kehendakNya tidak tersembunyi, Dia nyatakan kepada kita melalui firmanNya. Dan pada waktu kita membaca Alkitab, kita harus memiliki sikap dan attitude yang benar di dalam meresponi firman Tuhan.

Bagaimana Tuhan pimpin kita melalui firmanNya?Tuhan tidak memimpin kita seperti kalau kita baru beli satu barang, di dalam kotaknya ada buku petunjuk yang memberi step by step bagaimana langkahnya. Kita tidak boleh menghampiri firman Tuhan dengan cara seperti itu. Waktu kita harus mengambil keputusan tinggal dimana, kerja di mana, menikah dengan siapa, dan berbagai keputusan dan pilihan dalam hidup ini, sdr buka Alkitab tidak akan menemukan step-step itu.Lalu bagaimana Tuhan pimpin kita dengan firmanNya?Kenapa orang semakin membaca Alkitab semakin bingung dan tidak tahu mulai dari mana dan merasa tidak mendapat apa-apa?Mari kita lihat beberapa prinsip ini.

Pertama, taruh baik-baik Roma 8:28 di hati kita, “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia…” Segala sesuatu berarti hal-hal yang susah bisa terjadi, hal-hal yang gagal bisa kita alami, demikian juga hal-hal yang lancar dan baik. Kita jangan melihat apa yang terjadi dalam hidup kita sebagai potongan-potongan yang tidak ada koneksinya tetapi memiliki kaitan dan hubungan dan di situ Allah menenun dan menjadikan semuanya indah dan baik, karena Allah itu baik, Allah in control, Allah penuh dengan kedaulatan dan kasih, maka ayat ini menjadi janji firmanNya bagi setiap kita. Mari kita berespons dengan iman kita yang simple dan sederhana, kita tahu kita bisa bersalah dalam mengambil satu keputusan atau tindakan, tetapi kita tahu Tuhan tidak mungkin bersalah di dalam memimpin hidup kita. Hari ini kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan, maka ayat ini memberikan kepada kita satu pemahaman yang besar dan luas, yang dalam dan menyeluruh di dalam hidup kita, sehingga kita tidak terlalu cepat puas dan takabur kalau kita rasa hidup kita selalu berjalan lancar dan baik. Sebaliknya kita tidak boleh terlalu takut dan kecewa pada waktu kita sudah mengambil satu keputusan dan berjalan di dalamnya, ternyata di situ menghasilkan rentetan yang membuat hidup kita menjadi susah dan sulit. Kita tidak boleh berhenti sampai di situ. Itulah sebabnya Alkitab mengatakan mari kita tekun dan sabar, mari kita percaya kepada janji Tuhan. Mungkin orang-orang luar bisa menertawakan kita, mengejek dan memperolok iman kita kepada Tuhan sehingga kita menjadi bimbang, kuatir dan takut.

Ada dua orang petani mempunyai ladang bersebelahan.Petani yang satu adalah seorang Kristen yang taat sedangkan petani yang satu adalah seorang ateis yang selalu menghina dan mengejek orang Kristen itu.Petani ateis menantang petani Kristen, “Mari kita tanam benih seperti biasanya di ladang kita masing-masing.Lalu engkau berdoa kepada Tuhanmu, dan aku akan mengutuk Dia. Nanti di bulan Oktober, kita lihat tanaman siapa yang lebih subur.”Di bulan Oktober, petani ateis sangat gembira karena rupanya tanaman di ladangnya lebih subur dan lebih tinggi. “Nah, kau lihat, bodoh,” ejeknya kepada petani Kristen, “Apa yang harus engkau katakan tentang Tuhanmu sekarang?!” Petani Kristen itu menjawab, “My God doesn’t settle all His account in October.” Apa artinya? Artinya jangan segera ambil kesimpulan karena ini belum final. Tuhan tidak segera bertindak tidak berarti Dia tidak ada dan tidak akan bertindak apa-apa. Mata kita tidak boleh hanya memandang kepada yang sekarang ini karena semua belum selesai. Mata kita memandang kepada apa yang kelak akan Tuhan genapkan sesuai dengan janji dan perkataanNya yang tidak pernah lalai dan salah.

Yang kedua, Allah bekerja dan apa yang Dia nyatakan tidak akan pernah bertentangan dengan wahyu yang sudah Dia berikan kepada kita. Kita tidak boleh lari dari prinsip ini.Ibrani 1:2 mengatakan pada jaman akhir ini Allah berbicara melalui perantaraan AnakNya. Yesus berkata, “Domba-dombaKu mengenal suaraKu…” Firman Tuhan itu tajam seperti pedang bermata dua.Motivasi yang tersembunyi dalam hati manusia dibuka, dioperasi dan dibersihkan oleh firman Tuhan.Waktu kita membaca Alkitab kita percaya di situ Tuhan memimpin dan menyertai kita melalui kebenaran firman Tuhan. Di dalamnya ada satu janji yang indah dari Tuhan Yesus, “My truth will set you free” (Yohanes 8:31-32). FirmanKu, kebenaranKu akan membuat engkau merdeka. Di dalam pengertian apa? Ketika kita mengikuti Tuhan, menjalankan kebenaran firman Tuhan, di situ tidak akan mungkin tidak ada damai sejahtera, di situ hati nurani kita dibuat olehnya menjadi indah dan kita tidak terganggu sama sekali. Itu yang paling penting.Pada waktu kita melakukan sesuatu kita tahu kita tidak bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan. Meskipun mungkin waktu kita berjalan di situ orang tidak suka, orang mungkin akan menertawakan, bahkan mungkin orang akan mengambil sikap melawan keputusan kita, tetapi yang paling penting saya jelas mengerti apa yang saya jalani tidak bertentangan dengan firman Tuhan dan hati nuraniku bebas merdeka di hadapan Tuhan.

Maka pada waktu kita datang menghampiri Alkitab, secara simple kita harus melihat dua hal yang paling penting: make a righteous decision and make a wise decision. Apa yang disebut dengan righteous decisions? Itu adalah keputusan-keputusan yang Alkitab katakan dengan jelas segala firmanNya, prinsipNya, peraturanNya, hukum-hukumNya yang dinyatakan kepada kita harus kita lakukan dan jalankan karena sifat Allah kita itu demikian dan hukum-hukum itu merefleksikan segala sifat-sifatNya. Dia kudus, Dia benar, Dia adil dan suci.Maka sifat-sifat itu direfleksikan melalui hukum-hukumNya. Kita melakukan hukum-hukum itu bukan supaya kita menjadi orang yang kaku dan hukum itu membuat kita terbelenggu sama sekali. Tetapi dengan menjalankan hukum itu kita pasti akan merefleksikan sifat dan kemuliaan Tuhan di situ. Hormati Tuhan, hormati orang tua, jangan membunuh, jangan berjinah, jangan mencuri, jangan bersaksi dusta, jangan punya hati yang iri ingin mengambil milik orang lain. Berjalanlah dengan taat di situ dan ajar anak-anak kita juga berjalan di situ. Hukum-hukum itu tidak akan memberatkan kita tetapi justru akan memerdekakan hati nurani kita. Di situlah kita berjalan in the righteous way with God.

Yang kedua, kita mengambil keputusan yang bijaksana dan benar.Kenapa? Karena Allah memberikan kita kebebasan dan bijaksana di saat ada hal-hal yang kita kerjakan dan lakukan dalam hidup kita bisa semuanya dalam jalur yang benar tetapi tidak semua hal yang benar itu bisa kita ambil sekaligus, terlalu banyak hal yang baik, tetapi tidak semua yang baik itu kita bisa genggam semuanya. Ada hal-hal yang baik yang harus kita kerjakan dan lakukan tetapi kita tidak bisa sekaligus mengerjakan dan melakukan semuanya.Kadang-kadang dalam situasi seperti itu kita seringkali kurang puas dan terus bertanya kehendak Tuhan bagaimana.

Waktu sdr sedang tidak punya pekerjaan, lalu datang tawaran satu pekerjaan, kita pasti akan menyambut dengan penuh syukur tawaran pekerjaan itu. Tetapi baru mau putuskan terima, tahu-tahu telepon berdering, datang tawaran kedua dengan gaji yang lebih besar. Akhirnya tidak jadi ambil tawaran pertama, sdr bilang, “Saya mau bergumul dalam doa.” Belum sempat bergumul, datang tawaran ketiga dan keempat, akhirnya sdr mulai bingung, mulai kuatir mau pilih yang mana.Sesudah ambil pilihan mulai hati merasa tidak puas.

Demikian juga dengan orang yang mencari jodoh. Satu pemuda disukai satu gadis, pemuda ini senang sekali karena dia tahu hanya satu ini saja yang suka dia. Tetapi setelah ada lima gadis yang menunjukkan suka dia, tiba-tiba pemuda ini jadi narsis. Lalu karena pemuda ini Kristen, dia pakai bahasa rohani, “Saya mau berdoa dan bergumul.”Padahal sejujurnya dia tidak mau kehilangan kelima-limanya.

Tuhan tidak menghindarkan kita dari situasi seperti ini.Ada saat-saat dimana kita diperhadapkan dengan pilihan yang semua benar, semua baik, semua indah, di situ kita perlu dipimpin Tuhan bagaimana memilih dengan bijaksana.

Roma 14:1, Alkitab memberikan prinsipnya “Terimalah yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya.” Accept one another concerning disputable matters. Orang lain mungkin membuat keputusan yang berbeda dengan kita dan mereka mungkin mengambil pendekatan dan pertimbangan yang berbeda. Namun dia tetap anak Tuhan, dia tetap orang Kristen, waktu diperhadapkan dengan situasi yang sama dia mengambil keputusan yang berbeda dengan kita, di situ kita tidak boleh memaksakan pendekatan dan pertimbangan kita untuk dia. Ini maksud dari ayat ini. Dalam banyak hal dalam hidup kita sesuatu yang Tuhan minta kita ikut Dia dan kita dengan bijaksana mempertimbangkan.

Tuhan mengatakan kata mature bijaksana di dalam kita belajar mengikuti Tuhan, Tuhan tidak pernah menjadikan kita seperti robot. Dia memperlakukan kita sebagai anak yang bertumbuh dewasa, memberi kita kesempatan di dalam satu situasi mempertimbangkan dan memikirkan berbagai aspek sebelum mengambil keputusan dan di situ Tuhan menguji kita apa yang menjadi prinsip dan prioritas kita di dalamnya. Dengan prinsip seperti ini kita juga bisa melihat kenapa di dalam Perjanjian Baru prinsip yang Tuhan berikan berbeda dengan Perjanjian Lama.Paulus mengatakan di dalam era Perjanjian Baru kita adalah umat yang sudah dewasa. Dalam Perjanjian Lama hukum Tuhan ditulis pada loh batu sedangkan dalam Perjanjian Baru hukum Tuhan ditulis dalam loh hati (2 Korintus 3:3). Engkau dan saya di hadapan Tuhan sama-sama memiliki Roh Kudus yang tinggal di dalam hati kita masing-masing memimpin kita. Roh itu adalah Roh yang indah, agung dan yang akan membawa kita lebih dekat dengan Tuhan dan makin serupa dengan Tuhan. Kita belajar taat kepadaNya dan di situ kita menjadi semakin dewasa.

Paulus dalam 1 Korintus 10:15 mengatakan, “Aku berbicara kepadamu sebagai orang-orang yang bijaksana. Pertimbangkanlah sendiri…”  Tuhan memimpin masing-masing orang yang percaya kepadaNya.Paulus mengatakan aku mau engkau menjadi orang Kristen yang dewasa.Paulus sebagai rasul di dalam pelayanan dia tidak mengambilkan keputusan untuk hidup pribadi orang.Prinsip ini penting sekali. Maka Paulus mengatakan, “Pertimbangkanlah sendiri…”

Banyak orang Kristen kalau sudah bingung cepat-cepat cari pendeta minta pendeta yang memutuskan.Nanti kalau ternyata ambil keputusan yang salah, apakah bisa mempersalahkan pendeta?Paulus ingin jemaat menjadi orang Kristen yang dewasa, mempertimbangkan dengan bijaksana dan komprehensif di dalam terang prinsip firman Tuhan.Paulus tidak memaksakan pertimbangannya untuk dilakukan oleh jemaat.Maka dua hal ini amat perlu kita mengerti.Saat kita membaca Alkitab, biar Alkitab itu memimpin hidup kita berjalan di dalam the righteous way, dan kita harus taat kepadanya.Tetapi di dalam bagian dimana kita menghadapi berbagai pilihan yang sama-sama baik dan benar, di situ kita mengambil keputusan dengan mempertimbangkan bijaksana yang Tuhan beri kepada kita.

Dalam 1 Korintus 7:10 kepada orang-orang yang telah menikah, Tuhan memberi perintah kita tidak boleh bercerai. Tetapi kepada orang-orang yang belum menikah, sudah lama berpacaran dan mungkin saat itu orang Kristen ada dalam situasi penganiayaan, apa langkah yang harus diambil? 1 Korintus 10:25 Paulus mengatakan, “Sekarang tentang gadis…” Paulus mengatakan bagi mereka dia tidak mendapat perintah khusus dari Tuhan, tetapi di situ Paulus memberikan pendapatnya.Maka di sini kita jelas melihat Paulus membedakan perintah Tuhan dan pendapatnya pribadi sebagai seorang yang dipercaya.Paulus membukakan beberapa aspek untuk dipertimbangkan sebelum pasangan itu mengambil keputusan dan menyatakan pendapatnya terhadap situasi itu lebih baik jangan menikah.Itu pendapat pribadi Paulus. Tetapi kalau akhirnya pasangan itu kemudian ambil keputusan tetap menikah dan siap menghadapi resiko dan kesulitan di depan, Paulus melanjutkan di ayat 28 “kalau engkau kawin, engkau tidak berdosa…”

Inilah prinsip yang sehat dan benar di dalam sikap anak Tuhan mengambil suatu keputusan.Dan inilah contoh dari seorang pemimpin yang benar yang sangat berbeda dengan pemimpin sekte bagaimana membimbing orang dalam mengambil keputusan.Jika seseorang masuk ke dalam satu pengajaran yang mengatur seluruh hidup orang itu, maka itu sudah tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab.

Salah satu ekses dari pengajaran Holiness Movement ada satu kelompok yang memberikan peraturan demi peraturan di dalam aspek kehidupan pribadi pengikutnya bahkan sampai berapa banyak berhubungan seks dengan pasangan, kalau mau menikah harus melewati persetujuan pemimpin sel dsb, itu sudah masuk ke dalam wilayah pengajaran cult, karena itu sudah tidak sesuai dengan prinsip Alkitab. Jika ada seorang pemimpin berani mengatakan ini suara Tuhan, ini pimpinan Tuhan, engkau harus tunduk kepadaku, menurut pendapat saya tidak perlu taat kepada pendeta seperti itu.Paulus sendiri bilang aku tidak bisa memaksakan dan aku mau engkau mempertimbangkan sendiri dengan bijaksana dan sesuai dengan prinsip kebenaran firman Tuhan. Maka kita perlu memperhatikan dengan teliti akan hal ini. Kalau itu masuk kepada wilayah “disputable matters” Di situ pilih “A” benar, pilih “B” benar, pilih “C” juga benar.Di situ saya hanya memberi prinsip dan guidance dan biar Roh Kudus memimpin orang itu mengambil keputusan yang bijaksana.Kita tidak boleh paksakan orang menuruti keinginan dan keputusan kita.Maka jangan pernah datang kepada saya minta dijodohkan.Kalau saya melakukan hal itu bagimu, saya sudah bersalah dalam hal ini.Sdr juga jangan minta saya kuamia untuk kerja dimana.Saya hanya membimbing dan memberikan prinsip kebenaran firman Tuhan untuk menjadi guidance bagimu dan setelah itu engkau sendiri yang mempertimbangkan dan memutuskan.Dengan demikian engkau dan saya bertumbuh dengan bijaksana di situ.

Maka prinsip apa yang harus kita pikirkan di situ? Dalam 1 Korintus 10 Paulus memberikan beberapa prinsip yang bisa kita terapkan di dalam hidup kita.Ayat 23a “Segala sesuatu diperbolehkan, benar.Tetapi bukan segala sesuatu useful.”Prinsip pertama, berguna atau tidak?Ayat 23b “Segala sesuatu diperbolehkan, tetapi bukan segala sesuatu membangun.”Prinsip kedua, beneficial atau tidak?Prinsip ketiga, ayat 28, apakah itu bisa menjadi batu sandungan bagi hati nurani saudara seiman kita yang lain atau tidak? Prinsip ke empat, apakah keputusan itu akan menjerat kita atau tidak. Prinsip ke lima, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. Ayat 33 prinsip ke enam, supaya mereka beroleh selamat.

Ada yang kita pikir itu adalah urusan saya kenapa harus pikir orang lain? Waktu lihat segala sesuatu sudah baik dan benar, dan kita juga memikirkan aspek orang lain di situ, Paulus masih memberikan satu aspek lain, yang terutama apakah semuanya itu memuliakan Tuhan? Dan prinsip terakhir yang tidak boleh kita abaikan setiap hal yang kita ambil kita tidak boleh kita lupa setiap keputusan kita harus memiliki nuansa misioner. Melalui setiap keputusan itu orang lain diberkati dan mereka memiliki opportunity untuk bisa mengenal Tuhan kita Yesus Kristus. Jadikan Tuhan dan firmanNya lebih utama daripada sesuatu, biar kebenaranNya memerdekakan kita.Tidak usah takut kepada kesulitan, tidak usah takut kepada pendapat orang lain, tidak usah kecewa kalau ada hambatan menghadang kita pada waktu kita tahu kita berjalan di dalam kebenaran Tuhan.Kita manusia memang terbatas adanya. Sudah memilih jalan ke situ, tiba-tiba ada awan gelap dan kesusahan mengelilingi kita, tidak usah gentar, kuatir dan putus asa karena kita tahu semua ini belum langkah akhir, Tuhan yang akan menyelesaikannya bagi kita. Keep on believing and walk with Him. Jalan dengan benar, jalan dengan bijaksana.(kz)