Hati Yang Responsif kepada Firman

Sun, 23 Nov 2014 04:26:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Tema: Hati yang Responsif kepada Firman

Nats: Kolose 1:9-10

 

Dalam hidup kita di dunia ini ada hal-hal dan situasi yang bisa kita kontrol namun ada hal-hal dan situasi yang tidak bisa kita kontrol terjadi. Ada hal-hal yang kita bisa dan boleh menghindar darinya, tetapi ada hal-hal yang kita tidak bisa menghindar karena ada serangan orang jahat kepada kita, ini situasi hidup yang kita tidak bisa lepas darinya. Kita bukan berdoa supaya kita tidak mengalami kesulitan dan tantangan karena itu pasti akan terjadi di dalam hidup kita selama di dunia ini. Namun yang paling penting pada waktu situasi seperti itu terjadi, bagaimana pengenalan kita akan Allah di situ? Apakah melalui situasi itu kita makin mengenal Tuhan kita? Kita akan mengenal Dia sebagai Allah yang berdaulat, Allah yang memimpin, Allah yang menggembalakan. KebaikanNya tidak pernah berubah dalam hidup kita.

Pada waktu sakit dan penderitaan datang kepada Ayub, harta bendanya habis dijarah, pada waktu semua anak-anaknya mati pada hari yang sama, “kutukilah Allahmu dan matilah engkau!” demikian kata isterinya. Tetapi Ayub berkata, “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita hanya mau menerima yang baik dari Allah tetapi tidak mau menerima yang buruk?!” (Ayub 2:9-10).

Paulus mengatakan waktu dia mendengar akan iman jemaat di Kolose maka dia tidak henti-hentinya berdoa agar hidup mereka dipimpin oleh Tuhan dalam tiga hal ini. Pertama, biar setiap keputusan yang mereka ambil itu penuh dengan bijaksana surgawi. Kedua, di dalam segala hal yang mereka kerjakan dan lakukan berkenan kepada Tuhan. Ketiga, di dalam segala situasi yang mereka alami mereka makin mengenal Tuhan yang benar (Kolose 1:9-10).

Minggu lalu kita sudah bicara mengenai siapa Allah yang harus kita kenal dengan benar. Sudah tentu Allah itu hanya bisa kita kenal dan kita tahu dengan benar berdasarkan apa yang Dia nyatakan mengenai diriNya. Orang boleh mengenal orang lain bisa jadi melalui observasi, melihat penampilannya, wajahnya, cara berbicaranya, lalu kita mengambil kesimpulan mengenai orang itu, bukan? Tetapi bisa jadi kesimpulan yang kita ambil mengenai orang itu berdasarkan observasi kita ternyata berbeda sama sekali dengan pribadi orang itu sesungguhnya. Yang paling benar dan paling objektif adalah pada waktu kita bergaul dengan dia dan dia menyatakan dirinya, di situ kita baru bisa melihat siapa dia dan mengenal dia dengan benar. Di situlah artinya kita mengenal sebab dia memperkenalkan dirinya kepada kita.

Maka pegang baik-baik prinsip ini, tidak ada orang yang bisa mengenal Allah dengan benar kalau orang itu tidak kembali kepada firman Allah. Firman ini adalah firman dimana Allah menyatakan diriNya, dan itulah sebabnya pada waktu kita berhadapan dengan berbagai macam situasi dalam hidup kita, tidak bisa kita mengabaikan bagaimana firman ini berinteraksi dengan kita. Firman ini tidak boleh dipakai sebagai obat manjur dalam pengertian seperti kalau kita sakit kepala kita segera makan obat Panadol, lalu sakit kepala kita langsung hilang. Banyak orang Kristen menghampiri firman Tuhan seperti itu. Waktu ada kesulitan hidup, kita baca Alkitab untuk menjawab kesulitan kita, kita terus cari-cari satu ayat yang “tokcer” kita tidak bisa menemukan karena bukan demikian prinsipnya. Tetapi kita juga tidak bisa bilang karena Alkitab tidak menyelesaikan masalahku, buat apa saya baca? Toh setelah saya membaca Alkitab, persoalan saya tetap ada? Buat apa saya berdoa sama Tuhan, berdoa sampai jungkir balik sekalipun, toh saya tetap menghadapi kesulitan yang sama? Kita sudah keliru di situ, sebab kita hanya melihat firman dan doa itu seperti sebuah “sim salabim” atau seperti resep ajaib yang langsung menyelesaikan kebutuhan kita. Waktu sakit, minta kesembuhan. Waktu di-phk, minta pekerjaan. Waktu bankrut, minta Tuhan beri kita uang.

Tetapi pada waktu kita membaca Alkitab, di situ kita mengalami firman Tuhan betul-betul menjadi firman yang menyelesaikan persoalan hati kita karena melalui firman kita dituntun bagaimana dengan benar menyelesaikan persoalan hidup kita. Dengan firman yang kita baca kita akan dituntun mengenal Allah dengan benar. Dengan firman yang kita baca kita akan dikoreksi jikalau di dalam kita menjalankan hidup ini ada hal yang patut Tuhan koreksi dengan firmanNya. Itulah sebabnya mengapa firman ini harus menjadi otoritas yang tertinggi, menjadi standar yang paling mutlak memimpin hidup kita, dan yang lebih utama adalah firman Tuhan membawa kita lebih mengenal siapa Tuhan yang kita percaya itu.

Bagaimana kita mengenal Allah yang benar dan bagaimana kita berespons kepada firmanNya dengan benar? Ibrani 3:7-9 firman Tuhan yang indah luar biasa. Penulis Ibrani mengutip Mazmur 95, yang kira-kira ditulis sekitar 700 tahun sebelumnya. Mazmur 95 sendiri bicara mengutip peristiwa yang juga kira-kira sekitar 700 tahun sebelumnya terjadi pada bangsa Israel di Masa dan Meriba sebagai peristiwa sejarah yang dicatat oleh Alkitab. Namun pada waktu kita baca, itu bukan peristiwa ribuan tahun yang lalu, firman itu berbicara “hari ini.” Kata “hari ini” penting luar biasa. Ini bukan firman Tuhan yang kuno, irrelevant, peristiwa masa lampau yang tidak punya arti dan makna lagi. Dia tetap berbicara dan dia senantiasa relevan kepada kita pada hari ini. Hari ini engkau mendengar firman Tuhan, engkau harus berespons kepadanya. Bagi kita yang menjadi hamba Tuhan yang memberitakan Injil, kata ini membuat kita tidak menjadi lemah, kecewa dan takut sebab kita tahu Tuhan bekerja dan berkarya di baliknya.

Mazmur 95 ditulis tidak ada kalimat tambahan bahwa Roh Kudus di belakangnya dalam Mazmur ini menginspirasikan penulisan itu. Tetapi dalam Ibrani 3 muncul kalimat ini “sebab itu seperti dikatakan Roh Kudus…” Mengapa firman Tuhan tetap relevan hari ini? Sebab ada Roh Kudus. Mengapa firman Tuhan itu tetap berbicara kepada setiap kita hari ini? Sebab ada Roh Kudus yang membicarakan firman itu ke dalam hati kita. Sekaligus memberitahukan kepada kita penulis Ibrani mengakui mazmur 95 meskipun itu adalah satu syair puisi yang mungkin waktu ditulis tidak menyadari secara penuh bagaimana Roh Kudus membimbingnya, tetapi penulis Ibrani mengatakan yang menulis itu adalah Roh Kudus dan itu adalah firman Allah. Itu bukan tulisan sejarah belaka, itu bukan puisi bahasa manusia yang boleh dibaca untuk membuat kita feel good menikmatinya. Itu adalah firman dari Allah. Dan karena itu adalah firman Allah, hal selanjutnya adalah bagaimana kita bereaksi terhadapnya “pada hari ini ketika engkau mendengarkan suaraNya”? Jangan keraskan hatimu. Adanya Roh Kudus yang memimpin pewahyuan firman Allah membawa kita kepada respons yang benar, mengerti apa artinya Sola Scriptura, apa artinya prinsip “hanya Alkitab” itu.

Perjuangan Reformasi Protestan adalah perjuangan yang menegakkan Alkitab adalah firman Allah satu-satunya yang  menjadi standar hidup setiap orang percaya. Paus bisa salah, tradisi gereja bisa salah, sinode gereja bisa salah, dan mereka hanya bisa dikoreksi oleh kebenaran firman Tuhan. Itulah semangat dari Reformasi, yaitu orang-orang percaya harus menjadikan Alkitab firman Tuhan yang memimpin dan menjadi otoritas tertinggi dalam hidup mereka.

Saya tidak ingin kita terlalu concern kalau kita masih memiliki kekurangan di dalam pelayanan. Kita tidak usah terlalu concern kalau ada hal-hal yang tidak cocok di dalam relasi kita, kalau cara dan style yang tidak terlalu mirip di antara kita. Hal-hal seperti itu tidak perlu terlalu menjadi concern kita. Kita mungkin masih kurang berbagian di dalam pelayanan misi, kita mungkin masih kurang di dalam pelayanan diakonia gerejawi, di dalam pelayanan kepada anak-anak, di dalam pelayanan musik, dsb pelan-pelan kita bisa perbaiki dan tingkatkan. Kita tidak perlu terlalu concern akan hal itu. Yang paling kita perlu concern dengan serius adalah apabila mimbar tidak lagi memberitakan firman Tuhan dengan baik dan benar; apabila mimbar menjadi ajang menjelek-jelekkan orang atau gereja lain; apabila mimbar menjadi tempat membesarkan prestasi diri. Kita perlu concern.

Kita tahu firman Tuhan itu relevan dan firman itu harus berbicara kepada setiap umat Tuhan, itulah sebabnya kita berdiri di mimbar, kita menyampaikan firman, kita mengajak orang datang berbakti ke rumah Tuhan supaya mereka mendengar firman dan bersentuhan dengan pekerjaan Roh Kudus.

Yang kedua, kalau Alkitab mengatakan hari ini jangan keraskan hatimu karena Roh Kudus berbicara melalui firmanNya, dengan demikian berarti semua pelayan Tuhan juga harus tahu bagaimana  berespons kepada firman Tuhan. Paulus mengingatkan setiap pelayan Tuhan bagi pelayanan Injil sampai kapanpun dia hanyalah bejana dari tanah liat adanya (band. 2 Korintus 4:7). “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami…” Bejana itu rapuh, mudah retak. Tetapi pada waktu dibanting tidak pecah, itu bukan karena bejana itu hebat tetapi karena kekuatan itu datangnya dari Allah. Bejana itu hanya dari tanah liat yang tidak berharga, tetapi menjadi berharga bukan karena bejananya, bejana itu berharga karena isinya. Seorang hamba Tuhan sehebat apapun tetap harus ingat dia hanya sebuah bejana tanah liat yang Tuhan pakai sehingga dia tidak menjadi sombong dan arogan.

Pdt. Simon Manchester dalam khotbah di radio beberapa waktu yang lalu membahas kalimat Yohanes Pembaptis, “Aku membaptis dengan air, tetapi Dia yang akan membaptis dengan Roh Kudus, membuka tali kasutNya pun aku tidak layak…” (Yohanes 1:26, 33). Tugas dari seorang budak pada waktu tuannya masuk rumah adalah membuka tali sepatunya, mencuci kakinya dan mengeringkannya. Yohanes ingin mengatakan menjadi budak Tuhan seperti itu pun dia merasa tidak layak. Kedua, Yohanes membaptis dengan air berarti, sebagai pelayan Tuhan yang saya bisa lakukan hanyalah “the outer ministry,” yang di luar tok. Tetapi yang di dalam “inner” orang itu berubah, yang melakukannya bukan saya, melainkan Roh Kudus. Jadi, saat aku melayani, orang itu mendengar firman, orang itu mengenal Tuhan, orang itu akhirnya bertobat, yang aku lakukan hanya sampai di situ. Aku hanya membaptis dia dengan air, tetapi bukan aku yang merubah hatinya.

Atau ilustrasi saya, waktu seseorang sakit saya hanya bisa melakukan yang bagian luar saja, saya datang melawatnya, menghiburnya, menguatkan hatinya, berdoa baginya, mengelap badannya yang luka berdarah, memberinya minum obat, dsb. Tetapi waktu orang itu sembuh, saya tidak boleh mengatakan dia sembuh karena saya datang melawatnya. Saya tidak boleh mengatakan dia sembuh karena doa saya. Saya tidak boleh mengatakan dia sembuh karena saya memberinya minum obat. Orang itu sembuh karena Tuhan memberi kesembuhan kepadanya.

Kalimat ini harus memberi kekuatan kepada setiap kita yang melayani dan sekaligus menjadi satu tanda awas. Tidak akan boleh dan tidak bisa saya mengatakan orang itu percaya Tuhan karena pelayananku. Jangan keluarkan kalimat seperti itu dari mulut kita. Dan jangan sebagai orang Kristen kita bilang saya menjadi Kristen karena Pa E itu bapak rohaniku. Saya rasa kalimat itu tidak terlalu tepat dan benar karena pelayan Tuhan hanya bisa mengerjakan hal-hal yang di luar, orang itu percaya Tuhan, orang itu hatinya berubah, itu Tuhan sendiri yang melakukan melalui karya Roh Kudus. Dengan demikian kita menjadi orang yang berespons dengan benar kepada firman Tuhan, yang menyadari kita hanyalah pelayan yang menyalurkan firman Tuhan belaka. Yang membuat khotbah yang merubah hati orang adalah karya Roh Kudus.

Paulus berkata, siapa itu Paulus? Siapa itu Petrus? Siapa itu Apolos? Kita semua hanya pelayan. Bukan diriku yang kuberitakan melainkan Kristus. Aku hanya bejana tanah liat. Dengan demikian, waktu kita menginjili orang untuk mengenal dan percaya Tuhan, kita hanya sampai kepada titik membawa mereka ke hadapan Tuhan, karena hanya Tuhan yang merubah hati orang. Karena hanya Tuhan yang merubah hati orang, engkau dan saya tidak perlu takut dan kuatir karena merasa kita kurang fasih lidah dan tidak bisa meyakinkan orang. Sebaliknya, kita tidak boleh takabur mengatakan karena saya fasih lidah dan gampang meyakinkan orang untuk percaya Tuhan, saya bikin mereka bertobat percaya Tuhan. Kita tidak bisa memakai kehebatan berlogika, kefasihan berkata-kata, kemampuan berorasi, untuk bisa merubah hati orang. Jangan kita berespons dengan cara seperti itu. Karena di balik dari penyampaian firman itu kita tahu Roh Kudus bekerja di dalamnya.

Hari ini pada waktu firman Tuhan disampaikan dan kita dengar, bagaimana kita sepatutnya berespons? Ketika kita datang, adakah kita haus dan dahaga? Adakah kita duduk di hadapan Tuhan dan menantikan apa yang Tuhan ingin berikan dan sampaikan kepadamu hari ini? Pada waktu kita sedang menghadapi banyak kesulitan dan persoalan, maukah kita menerima firman yang meneguhkan hati kita? Pada waktu kita mendengar firman, kita dihiburkan dengan kebaikan Tuhan, kita dikuatkan akan pemeliharaan Tuhan yang tidak pernah berubah. Kita bawa janji dan kepastian ini di dalam hidup kita.

Penulis Ibrani memanggil kita melakukan dua respons ini: jangan keraskan hati, jangan muncul ketidak-percayaan dalam hatimu. Mari kita bertobat, mari kita berubah, biar kiranya firman Tuhan kembali mengarahkan hati kita kembali lagi kepada Dia.

Pdt. John Piper mengatakan kita sudah hidup dalam satu budaya dimana idola utama kita adalah diri, pengajaran yang paling utama kita adalah maunya kita sendiri, dan centre act of worship kita adalah being entertained. Bagian ini mengingatkan kita sekali lagi, apa artinya bertobat? Bertobat berarti saya tidak jadikan diriku sebagai tolok ukur tetapi menempatkan firman Tuhan menjadi prinsip yang memimpin hidupku. Kalau engkau sudah mendengar firman yang sedang mengoreksi desire kita, ada keinginan hati kita yang keras dan tidak mau berubah itu, itulah saatnya kita harus bertobat.

Ada pertobatan palsu yang dicatat di Alkitab, yaitu pertobatan raja Saul yang hanya sekedar penyesalan belaka. Di situlah kita menemukan perbedaat mencolok antara pertobatan raja Daud dan penyesalan raja Saul. Waktu Daud berzinah dengan Batsyeba sehingga Batsyeba hamil dan selanjutnya dengan cara yang sangat licik mengatur Uria supaya mati di medan perang, tidak banyak orang yang tahu. Di luar orang hanya tahu bayi di kandungan Batsyeba adalah benih dari almarhum suaminya Uria. Maka waktu Daud mengambil Batsyeba menjadi isterinya, orang luar melihat itu sebagai tindakan kebaikan hati Daud yang luar biasa menerima janda seorang pahlawan yang mati di medan perang. Tetapi Tuhan tahu semua perbuatan Daud dan semua hal itu adalah jahat di mata Tuhan. Di situlah nabi Natan kemudian datang menegur Daud dengan keras. Maka menangislah Daud dan bertobat mengakui dosanya di hadapan Tuhan (2 Samuel 11:26 – 12:14, band. Mazmur 51). Berbeda dengan raja Saul, waktu Samuel menegurnya, Saul berkata, “Aku telah berdosa tetapi tunjukkankah juga hormatmu kepadaku sekarang di depan orang-orang…” Dia mengaku diri berdosa dan menyesal tetapi tidak mau memperbaiki diri (1 Samuel 15:17-30).

Maka ayat ini menjadi hal yang penting penulis Ibrani mengingatkan ketika firman datang, suara Roh Kudus berkata-kata, apa yang kita lakukan? Jangan tegarkan hati, rela mengoreksi hidup kita dan biar firman Tuhan itu memberi kekuatan. Jangan ada ketidak-percayaan menguasai hati kita, jangan biarkan ada sedikitpun hati yang tidak yakin bahwa Tuhan itu baik adanya. Ia selalu baik, Ia senantiasa memelihara dan memimpin hidupmu. Meskipun tidak semua hal yang engkau inginkan, engkau doakan, engkau harapkan akhirnya tidak terjadi, senantiasa ingat Tuhan tetap Tuhan yang baik dan indah dan kita percaya maksud dan rencanaNya berbeda di situ. Sehingga pada waktu kita membaca Alkitab, kita menghampirinya dengan sikap kita mau mengenal Allah dengan benar dan pada waktu kita membaca Alkitab, kita membacanya dengan sikap hati yang seperti itu. Karena kita tahu ini bukan firman manusia, ini adalah suara dari Tuhan dan Roh Kudus terus bekerja sampai pada hari ini. Kiranya Tuhan memimpin dan memberkati setiap kita masing-masing.

Saya harap aplikasi praktis yang paling perlu kita ambil pada hari ini adalah memiliki hati yang receptive dan responsive, bagaimana Alkitab itu bukan saja kita baca dan renungkan, tetapi berespons dengan terbuka dan taat kepada setiap firman yang berbicara ke dalam hidup kita hari ini.

Orang pergi ke gereja, orang datang ke rumah Tuhan untuk mencari firman. Doakanlah supaya mimbar ini menjadi mimbar yang setia memberitakan firman dan pada waktu firman Tuhan disampaikan kita senantiasa tahu bahwa hanya Roh Kudus yang sanggup bisa merubah hati orang. Maka pada waktu itulah dari awal, pertengahan sampai akhir kita menjadikan Tuhan yang paling utama di dalam ibadah kita.

Allah adalah Pencipta yang berdaulat, Allah yang menjadi Gembala yang memelihara hidupmu, Allah adalah Perencana yang agung, Allah yang adil, suci dan kudus adanya. Yesus yang kita sembah adalah Tuhan yang penuh dengan kasih, pengampunan dan rahmat. FirmanNya tidak pernah menipu kita, firmanNya adalah firman yang membebaskan kita, menuntun kita, membuat kita makin mengenal Tuhan yang kita percaya. Hari ini jikalau firman Tuhan berbicara kepadamu, memanggil engkau menghargai dan mencintai firman itu, jadikanlah firman Tuhan menjadi otoritas yang memimpin hidupmu, memimpin gerejamu, memimpin mimbar ini.

Tuhan tuntun kita dengan suara firmanNya, pelihara hidup kita di dalam kebenaran firmanNya, sehingga firman Tuhan yang kita baca, renungkan dan sampaikan dengan indah bekerja dan berkarya di dalam hidup kita oleh Roh Kudus yang tinggal di dalam hati setiap kita. Biar setiap kita tetap berdiri tegak dan teguh karena kita mencintai dan menghargai firman Tuhan dengan benar. Bersyukur untuk perjuangan anak-anak Tuhan yang setia sepanjang masa berdiri teguh menyatakan suara, memberikan koreksi tatkala kebenaran firman Tuhan telah dilenceng dari kemurniannya. Kita berdoa untuk hamba-hamba Tuhan yang berdiri di mimbar melayani supaya mereka melayani Tuhan membawa mutiara dan harta yang berharga keluar dari bejana hidupnya.(kz)


Other Sermons