Respons terhadap Anugerah Tuhan

Sun, 26 Oct 2014 05:09:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Tema: Respons terhadap Anugerah Tuhan

Nats: Efesus 2:8-10

 

Alkitab memberitahukan kepada kita Allah itu Allah yang memberi. Dan pada waktu Allah memberi, Allah memberi dengan generous, Allah memberi semata-mata demi penerima pemberianNya. Betapa berbeda dengan kita manusia yang memberi ‘in order to benefit ourselves.’ Sejujurnya, itulah yang seringkali memotivasi tindakan kita memberi, bukan? Kita menahan tangan kita untuk memberi kalau kita pikir pemberian itu tidak akan mendatangkan keuntungan bagi diri kita. Kita mungkin memberi bukan karena simpati atau melihat apa yang menjadi kesulitan dan kebutuhan orang lain, tetapi karena ujung-ujungnya dengan pemberian itu bisa mendatangkan suatu image untuk dilihat orang kita adalah seorang yang generous.

Filipi 2:8-9 mungkin sudah begitu familiar dan mungkin sudah kita hafal luar kepala, tetapi Tuhan membukakan kembali makna yang lebih dalam dari ayat ini kepada saya luar biasa mengejutkan. Ayat ini berkata, “Karena kasih karunia kita diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu tetapi pemberian Allah; itu bukan hasil pekerjaanmu…” kita tahu dan kita mengerti keselamatan itu kita peroleh sebagai anugerah pemberian Tuhan yang sama sekali tidak ada usaha dan jasa dari pihak kita manusia. Tetapi saya disentakkan dengan kalimat yang selanjutnya: jangan ada orang yang memegahkan diri.

Secara logis dan umum saat kita menerima suatu pemberian, dan kita tahu itu adalah suatu pemberian yang secara generous diberikan seseorang kepada kita tanpa kita melakukan sesuatu untuknya, saya percaya seumur hidup kita akan menghargai pemberian itu dan tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang patut dan layak kita sombongkan, bukan? Kita mengerti penuh, itu adalah sebuah pemberian. Tetapi mengapa firman Tuhan mengingatkan kita dengan warning yang serius, jangan sombong akan hal itu. Berarti jelas meskipun kita adalah orang-orang yang telah menerima penebusan dari Tuhan, yang mengerti akan kasih karunia Tuhan, kita tahu sifat dan benih dosa itu pasti akan senantiasa menyelinap keluar untuk berusaha meracuni apa yang menjadi pemberian Allah yang baik di dalam hidup kita. Berarti ketika gift demi gift diberikan oleh Tuhan kepada kita bisa menyebabkan kita menganggap itu adalah hak kita dan kita menyombongkannya sebagai sesuatu yang memang sepatutnya menjadi milik kita. Itulah sebabnya firman Tuhan ini memberi warning itu.

Pada waktu Paulus mengatakan bahwa kita adalah orang-orang berdosa yang patut menerima murka Allah, seringkali kita melihat dosa itu dari sisi action sehingga kita membayangkan dosa adalah tindakan membunuh, mencuri, berzinah, dsb. Pada saat itulah kita berpikir kita tidak seburuk dan sejahat itu. Tetapi sifat dosa bukan hanya itu, karena justru ada sifat dosa yang menjadi akar dari segala dosa yaitu kesombongan, selfishness dan ingin setara dengan Tuhan. Itulah dosa yang memegahkan diri sehingga Paulus pada waktu berbicara grace demi grace, pemberian itu semata-mata anugerah Tuhan, itu bukan hasil usaha kita, Tuhan memerintahkan dia menulis kalimat ini: jangan ada orang yang memegahkan diri!

Dalam buku “Desperately Wicked” berbicara mengenai isi hati manusia yang terdalam, filsuf Yunani kuno bernama Plato sudah pernah menyatakan hal ini: are we really good? Apakah kita sungguh-sungguh orang baik? Plato mengangkat kisah berjudul “The ring of Gyges” yaitu sebuah cincin yang kalau dikenakan oleh seseorang maka dia akan menjadi invisible. Seandainya kita menemukan cincin itu dan benar saat kita pakai di jari tangan kita, orang tidak bisa melihat diri kita. Saat kita mengenakan cincin itu, dari kelihatan kita menjadi tidak kelihatan, tetapi seluruh desire kita tetap ada di dalamnya. Maka apa kira-kira yang akan kita lakukan ketika kita tahu tidak ada orang yang bisa melihat kita? Merampok bank? Makan semua kue-kue yang enak dari toko? Ketok kepala orang yang paling menjengkelkanmu? Menarik sekali, are we really good? Itu adalah pertanyaan penting.

Banyak sekali orang sebenarnya bukan mau berubah menjadi orang baik, tetapi hanya mau bagaimana orang melihat dia orang baik. Sehingga pada waktu kita menjadi invisible, di situlah baru kita tahu seluruh wild desire yang tidak kelihatan itu menjadi muncul di dalam hidup kita. Kedua, banyak orang sebenarnya bukan mau berubah menjadi orang baik, tetapi dia hanya mau hal-hal yang baik memenuhi kita sehingga kelihatanlah kita baik. Kekayaan, kepintaran, karir, kesuksesan memberi gambaran bahwa kita orang baik. Pada dasarnya kita bukan mau menjadi baik tetapi pada dasarnya kita mau orang lain lihat kita itu orang baik.

Betapa jauh berbeda dengan sifat Tuhan kita, betapa agung dan mulia Dia. Tuhan kita itu tidak kelihatan adanya. Tuhan kita yang invisible itu menciptakan segala sesuatu, dan di tengah Dia menciptakan segala sesuatu, Tuhan itu tidak berteriak-teriak dengan suara yang lantang mengatakan bahwa Dia ada. Bahkan Dia adalah Tuhan yang dengan generous memberi kepada kita tanpa membuat tuntutan kita untuk mengakui Dia. Betapa berbeda dengan sifat manusia. Pada waktu manusia itu bisa invisible, manusia cenderung melakukan segala sesuatu terutama yang terlarang dan melanggar hukum. Tetapi herannya, setelah manusia melanggar tetap dia ingin orang lain mengetahui perbuatannya. Bagi mereka yang bekerja dalam bidang kriminal tahu inilah penyebab kejatuhan dari para pembunuh serial killer, yang meskipun begitu canggih membunuh orang tanpa ketahuan, tetap tergoda untuk menaruh satu ‘signature’ pada diri korbannya untuk menunjukkan dia pelakunya.

Dalam Kejadian 3, pada waktu Hawa memakan buah pohon pengetahuan baik dan jahat, apa yang dilakukannya? Dia memperlihatkan perbuatannya kepada Adam. Hawa dengan arogan show off kepada Adam, menunjukkan dia sudah makan buah itu dan ternyata tidak mati seperti yang Tuhan bilang.

Itu sebab firman Tuhan mengingatkan, keselamatan kita adalah pemberian Tuhan, jangan ada orang yang memegahkan diri. Kalimat itu senantiasa mengingatkan kita bagaimana sinful nature selalu ingin keluar meracuni dan mengotori pemberian Allah yang baik dalam hidup kita. Selfishness dan pride yang ingin ditekankan oleh firman Tuhan ini supaya kita tidak boleh berespons seperti itu terhadap anugerah Tuhan.

Menikmati rasa senang bisa memberi, itu tidak salah. Merasa puas karena bisa memberi sesuatu, itu tidak salah. Menikmati dari apa yang kita kerjakan, itu tidak salah. Enjoy dan satisfy terhadap apa yang kita lakukan, itu tidak salah. Tetapi adore, memuji diri atas apa yang kita beri, menyombongkan apa yang kita lakukan, itu yang salah. Tuhan memberi kita berkat, lalu pada waktu sebagian dari berkat itu kita salurkan, hati kita puas terhadap apa yang kita lakukan, tidak ada yang salah di situ. Salahlah kita kalau kita menjadi congkak dan berkata “Aku yang memberi kepadamu, aku patut menerima pujian dan terima kasihmu. Tanpa pemberianku kamu tidak dapat hidup!” Di situlah sifat dosa yang egois, sombong dan congkak masuk meracuni konsep pemberian itu. Karena di situlah kita ambil semua credit dari apa yang sebenarnya kita terima dari Tuhan dan menganggap bahwa itu semua adalah milik dan usaha kita semata-mata.

Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengingatkan kita, “Jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka; apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu supaya dipuji orang; janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu” (Matius 6:1-4). Point ini menjadi penting dan indah, pada waktu kita menjadi anak-anak Tuhan kita senantiasa harus belajar bagaimana menghargai Tuhan sebagai Pemberi dan Dia adalah satu-satunya sumber hidup kita dan pada waktu kita menerima pemberianNya kita tidak boleh meletakkan sedikit apapun dari keinginan kita untuk mendapatkan hormat, mulia, pujian di dalam setiap pemberian itu.

Inilah point pertama dari bagaimana kita berespons terhadap grace Tuhan yaitu dengan kita belajar memberi, kita menyatakan sikap hati kita yang dengan rendah hati dan murah hati boleh terus memberi karena kita menyadari bukan kita sumbernya, kita hanya menjadi saluran berkat belaka.

Efesus 2:10 adalah ayat yang penting sekali yang selalu mengingatkan kita, hidup kita untuk menjadi “the giver” dan “the receiver” selalu harus berpola segitiga. Umumnya waktu kita menjadi “the giver” pasti akan ada “the receiver” sehingga di situ kita menemukan ada arus dua arah. Kita tidak akan bisa menjadi seorang pemberi kalau tidak ada penerimanya. Relasinya harus begitu. Kita manusia terbatas, sehingga di dalam keterbatasan itu mengapa kadang-kadang ada orang berhenti di dalam memberi, oleh sebab merasa diperalat, merasa tidak ada hasilnya, merasa kenapa harus terus memberi, merasa dirugikan, merasa banyak kehilangan.

The fear of loss itu yang bikin hati kita kadang-kadang tidak bisa lapang dan luas. Kenapa kita menjadi takut dan tidak berani memberi? Kenapa hidup kita tidak pernah menjadi berkat bagi orang lain? Karena the fear of loss itu lebih menakutkan. Kita mungkin lebih takut dari memiliki mobil mewah berubah menjadi lebih sederhana; kita mungkin lebih takut dari memiliki rumah yang besar menjadi rumah yang kecil; kita takut apa yang kita miliki sekarang tidak kita miliki lagi.

Efesus 2:10 mengatakan, engkau diciptakan oleh Allah sebagai buatan tangan Allah, diciptakan di dalam Yesus Kristus. Allah telah mempersiapkan segala sesuatu di dalam Yesus Kristus bagi hidupmu untuk melakukan pekerjaan baik. Ayat itu mengingatkan kepada kita, kita perlu menaruh segitiga. Saya memberi, ada penerima pemberian itu, tetapi hal itu bisa terjadi karena ada “The Ultimate Giver” yang di atas menjadikannya indah. Kita tidak perlu takut loss karena itu memang bukan hak kita. Kita tidak takut kehilangan karena apa yang kita miliki itu bukan sesuatu yang kita “possess.” Kita sering mengatakan itu hidup kita, itu hasil kerja kita, I earned. Tetapi apa yang kita earned tidak boleh membuat kita berpikir semua itu lalu kita possess. Kita tidak perlu takut itu hilang begitu saja, tetapi bukan menjadi motivasi kita gain something dari perbuatan kita itu. Semua yang pernah kita lakukan tidak akan pernah hilang karena Yang Di atas tidak pernah menghilangkannya, karena itu juga dari Dia. Dia yang mempersiapkan, Dia yang memberikan, sehingga kita bisa menjadi saluran berkat, supaya apa yang kita salurkan itu tidak akan pernah hilang karena Allah mengingatnya. Itu yang membuat kita menjadi orang yang indah dan stabil di dalam hidup ini. Itulah sebabnya kita menempatkan grace is grace, gift is gift, karena Ia mempersiapkannya bagi kita.

2 Korintus 9:10 mengatakan, “Ia yang menyediakan benih bagi penabur dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipat-gandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu.”

Gereja-gereja Injili seperti kita harus digugah hatinya sebab gereja-gereja Injili terlalu sering mengkritik gereja-gereja Liberal bahwa mereka tidak setia di dalam kebenaran firman Tuhan, mereka tidak menganggap Alkitab adalah firman Tuhan, dsb. Tetapi dalam percakapan kami dengan Pdt. Buby Ticoalu, beliau mengatakan termasuk di Indonesia, tidak banyak gereja-gereja Injili yang memperhatikan kesejahteraan sosial seperti gereja-gereja Liberal. Pelayanan mereka kepada anak-anak yatim, orang miskin dan pelayanan bagi mereka yang tidak akan pernah bisa membalas balik, semua itu dikerjakan dengan setia bukan sekedar satu dua kali datang mengunjungi.

Sedihlah gereja kalau gereja masih memakai perhitungan buat apa memberi kalau tidak ada benefit bagi diri, buat apa membantu kalau tidak bisa mendapat balasan dan kalau kita terjebak dan jatuh kepada motif seperti ini, pergi ke satu tempat, berfoto memperlihatkan kita memberi sumbangan, memperlihatkan image yang kita bawa bagi diri sendiri lagi, saya sudah bantu. Akhirnya kita ambil credit untuk diri kita lagi. Semua itu harus kita evaluasi dan introspeksi lagi, sebab firman Tuhan ini berbicara luar biasa. Kenapa firman Tuhan menuliskan kalimat itu? It is grace from God, it is a gift from God, kita menerimanya dengan iman, tanpa ada jasa dan usaha diri, lalu bagaimana kemudian kita bersombong diri karenanya? Di dalam kita menjadi “the giver” memberikan berkat Tuhan bagi orang kita harus selalu ingat akan segitiga itu, saya memberi, ada penerima pemberian itu, sebab ada the ultimate Giver. Kita tidak akan cape, kita tidak akan jemu dan kita tidak akan merasa bahwa kita layak menerima hormat dan pujian pada waktu kita melakukan sesuatu kepada orang yang kekurangan, dan kita tidak boleh tergoda mengatakan itu semua karena saya tetapi karena kita mempunyai Tuhan yang memberi.

Selain itu kita juga harus malu karena ada orang-orang yang tidak percaya Tuhan bisa memberi dan berkorban jauh lebih daripada orang Kristen. Salah satu penerima Noble Peace Prize tahun ini adalah Kailash Sartyarthi seorang bapak dari India yang selama 30 tahun berjuang menyelamatkan anak-anak perempuan dan gadis-gadis muda dari kerja paksa dan sex trafficking. Tidak jarang dia dipukuli dengan balok dan besi, dihajar habis-habisan, tetapi dia terus melakukan semua itu. Yang satu lagi adalah Malala Yousafzai gadis Pakistan, yang di tengah opressi dari satu culture yang tidak mengijinkan anak-anak perempuan mengecap pendidikan formal, dia ditembak oleh kelompok Taliban karena perjuangannya.

Pada saat yang sama kita sebagai manusia juga menghargai orang-orang yang sangat kaya raya, yang dengan generous memberikan sebagian besar uang yang dimilikinya untuk menolong orang yang miskin dan kekurangan meskipun mereka bukan orang Kristen. Uang mereka menolong memberantas malaria, menyediakan air bersih, dan berbagai hal lain untuk mensejahterakan orang yang di bawah garis kemiskinan. Philanthrophist besar seperti Bill Gates dan Warren Buffett memberikan uang billion of dollars bagi kesejahteraan orang miskin, tidak menjadi orang yang membesar-besarkan diri atas kemurahan hati mereka.

Paulus dalam 2 Korintus 9:10 mengatakan engkau bisa memberi kepada orang lain sebab Allahlah yang memberi benih itu sehingga benih itu bertumbuh menjadi buah-buah kebenaran. Kita memberi sesuatu yang tidak akan pernah hilang; kita memberi bukan karena kita mengharapkan sesuatu dari pemberian kita. Tetapi kita memberi karena mengerti Allah yang memberikan siklus itu adalah Allah yang tidak pernah menjadikan apa yang terjadi dalam dunia ini sia-sia adanya.

Kita coba membayangkan, kita punya satu gelas air lalu air itu kita berikan kepada seorang bapak yang sedang sangat kehausan. Waktu dia meminumnya, hausnya hilang dan dia mendapat kekuatan untuk melanjutkannya bekerja dengan baik. Setelah dia bekerja dengan baik, dia bisa memperoleh uang untuk menyekolahkan anaknya. Anaknya lalu menjadi besar dan menjadi seorang dokter. Lalu anak itu menjumpai sdr dan mengatakan, “Terima kasih untuk segelas air yang engkau telah berikan kepada ayah saya sehingga saya bisa menjadi seorang dokter.” Mendengar hal itu kita mungkin menjadi bingung, bagaimana mungkin satu gelas air pemberian yang begitu sederhana bisa menghasilkan hal seperti itu?

Maka kita bisa mengerti siklus yang terjadi pada waktu Allah memberi kita benih dan dari benih itu menghasilkan roti dan setelah itu menghasilkan buah-buah kebenaran yang tidak akan sirna dan lenyap begitu saja. Siklus itu tidak boleh kita putuskan. Itu sebab dalam bagian ini Paulus bilang, kita adalah buatan Allah, kita diciptakan oleh Allah, kita dipersiapkan olehNya untuk melakukan pekerjaan baik yang sudah Tuhan persiapkan bagi kita. Kita bisa melakukan itu karena Allah sudah siapkan. Di situlah sikap kita bersyukur kepada Tuhan.

Selain memasukkan Allah di dalam segitiga itu, ayat ini juga memberikan paling sedikit 3 perspektif perubahan bagi konsep kita yang lama. Pertama, merubah sikap kita kepada harta milik. Kedua, merubah sikap kita kepada orang lain. Ketiga, merubah sikap kita kepada diri kita sendiri. Merubah sikap kita kepada milik, kita tidak boleh taruh di dalam hidup kita bahwa apa yang kita earned itu, apa yang kita dapat itu merupakan hak bagi kita. Kalau itu adalah hak penuh bagi kita maka kita pasti memiliki hard times bagi diri untuk menyimpan sebanyak-banyaknya bagi diri sendiri dan kita akan sulit bisa menjadi orang yang belajar untuk generous memberi dalam hidup ini. Merubah perspektif kita kepada orang. Jangan pernah melihat lagi kalau kita tahu hidup kita itu adalah anugerah pemberian Tuhan kepada kita, kita ubah perspektif kita, kita tidak boleh lihat orang itu sebagai competitor bagi hidup kita. Kalau saya dapat, dia tidak boleh dapat. Kita harus ubah sikap itu sebagai anak-anak Tuhan. Perspektif kita harus berubah, apa yang bisa saya lakukan bagimu, bukan apa yang saya harus matikan dari hidupmu. Kita lihat pelayanan orang lain, kita lihat gereja-gereja yang lebih kecil, kita lihat kebutuhan hamba-hamba Tuhan yang hidup dalam kekurangan. Mari kita senantiasa memiliki perspektif seperti itu, apa yang bisa kita bantu sama-sama di dalam pelayanan.

Demikian juga dalam hidup kita sehari-hari, kita tidak boleh memiliki sikap orang itu competitor saingan kita. Kita harus punya sikap orang itu harus diberkati oleh kehadiran kita, melalui hidup kita.

Jangan lagi ketakutan bahwa kita akan kehilangan sesuatu; jangan lagi ketakutan bahwa kita rugi dan akhirnya menghambat kita untuk belajar menjadi murah hati. Karena semua yang ada sudah disiapkan Tuhan bagi kita dan Dia mau kita hidup di dalamnya. Hidup di dalamnya itu berarti di situ kita menikmati kepuasan hidup, bukan karena kita mendapatkan lebih banyak daripada orang lain, tetapi karena saya tahu apa yang saya miliki ini tidak akan bisa saya bawa pergi dari dunia ini, dan sekaligus kita juga senantiasa ingat yang kita miliki itu akan menghasilka buah-buah kebenaran yang tidak akan pernah hilang begitu saja.(kz)